Syarat menikah kok aktif di partai

Published Juli 2, 2008 by pembawacerita

Aku mendapat email dari seorang teman. Ia sudah beberapa kali berusaha merintis jalan menuju pernikahan. Namun hingga saat aku menulis selalu mengalami kegagalan. Padahal aku tak melihat kekurangan pada temanku itu. Seorang yang shalih, tinggi badannya, bagus postur tubuhnya dan berkecukupan rejekinya. Tapi memang jika dibanding David Beckham ketampanannya masih jauh, sejauh bola yang ditendang pemain Inggris itu. Atau jika disandingkan dengan kegantengan Keanu Reeves, selisih perbedannya seperti terpisah sepersekian detik dari pergerakan sentinel yang begitu cepat di Matrix. Namun setahuku, berdasarkan beberapa literatur yang aku baca, ketampanan wajah itu bukan hal utama. Ada substitusi atas kelemahan wajah.

Temanku menjelaskan beberapa alasan kegagalan proses ta’arufnya. Mayoritas penjelasan itu adalah tidak sekufu, atau lebih enaknya tidak balance (dalam bahasa akuntansi) persepsi sang ikhwan dan akhwat. Selanjutnya dipicu pula tidak adanya toleransi menyikapi perbedaan itu. Temanku bilang, ia dituntut banyak. Dan ia pun berusaha untuk memenuhi esensi tuntutan itu. Ketika ia membalikkan esensi tuntutan kepada sang akhwat, sang akhwat tidak bisa menjawabnya. Komunikasi terhenti sampai disini.

Sah-sah saja menurutku seorang akhwat menetapkan kriteria calon suaminya. Dan sebaliknya ikhwan bisa menetapkan kriteria calon istri. Tapi menurutku ada hal-hal yang tidak mutlak harus dipenuhi sepenuh-penuhnya. Pasti akan ada negosiasi atau adjustment atas kriteria-kriteria itu. Ya mungkin ini pendapatku sebagai orang yang belajar akuntansi dan audit. Pengaruh asumsi suatu keadaan bisa saja menjadikan perlakuan berbeda pada suatu transaksi atau kejadian ekonomi.

Yang aku tak habis pikir adalah salah satu kriteria yang ditetapkan seorang akhwat bagi temanku itu. Temanku harus aktif di salah satu partai. Aduh, rupanya euforia tidak hanya terjadi karena ada kometisi EURO 2008 atau Perebutan Piala Thomas dan Uber. Tapi juga terkait dengan politik praktis. Bukan aku tidak setuju dengan aktivitas partai atau kegiatan politik. Hanya aneh saja mendengar kriteria seperti itu. Nge-fans sama partai politik tertentu sih silakan saja. Tapi jika menjadikannya sebagai kriteria untuk calon suami, sungguh (kata bang Rhoma)…terlalu.

Mungkin persepsi sang akhwat adalah mengharapkan calon suami yang bermanfaat bagi umat. Jika memang seperti itu, aku sepakat. Namun, aku kira untuk bermanfaat bagi umat tidak sekedar melalui jalan partai politik. Masih banyak cara yang lain untuk menyalurkan nilai manfaat kita untuk umat. Aku sih tidak terpengaruh dengan usaha beberapa politikus yang mulai mencari nama dengan menunjukkan bahwa dirinya bermanfaat bagi umat. Baik itu melalui iklan, sok-sokan menjadi reporter televisi padahal ia tidak memahami profesi jurnalistik dan bidang yang diliputnya, atau pun memasang jargon-jargon dipinggir-pinggir jalan. Tak perlu bagiku terpengaruh dengan politik popularitas seperti itu.

Jangan hanya mengkritik, tapi berikan solusi. Boleh-boleh saja itu diteriakkan disamping telingaku keras-keras. Mungkin yang membaca tulisan ini juga ada yang kupingnya panas. Tak perlu bingung, naik saja kereta api jurusan Tanah Abang-Serpong. Jika ingin bicara statistik, hitung saja berapa orang yang klesotan mencari makan. Atau naik kereta api ekonomi Brantas, Matarmaja atau Bengawan. Jangan kaget jika tengah malam ada ibu-ibu tua yang menawarkan nasi pecel. Atau lihat bagaimana kondisi mahasiswa sekarang. Termasuk yang demo anti kenaikan BBM. Berlaku anarkis, merusak lingkungan, bahkan memamerkan pantatnya di depan kamera. Lantas dimana letak intelektualitas dan gerakan moralitas mahasiswa seperti itu. Atau kapan-kapan ikut aku menjaga ujian tengah atau akhir semester mahasiswa. Lihat bagaimana mereka berbuat curang, mulai dari cara klasik catatan kecil, contek kanan kiri hingga memanfaatkan teknologi. Lihat juga warung-warung di pinggir jalan yang sekarang mengalami penurunan omzet (baca: sepi pengunjung) karena harga gas naik. Alasan klasik pun diutarakan yaitu imbas kenaikan harga gas dunia, padahal mereka sudah berbondong-bondong mengikuti kebijakan konversi minyak tanah. Semoga permainan kebijakan itu bukan salah satu bentuk strategi kemunafikan. Atau butuh ladang yang lain? Lakukan saja sendiri, lihat saja yang paling dekat, jangan-jangan di depan pintu kamar tidur kita sudah ada yang menunggu manfaat yang bisa kita berikan.

Apakah kurang ladang menebar benih manfaat? Padahal kemiskinan semakin memprihatinkan. Kebodohan merajalela. Kemunafikan menjadi penyakit masyarakan yang semakin kronis untuk disembuhkan. Politik praktis saja tidak cukup peka mengatasinya. Itulah sebabnya mengapa aku heran ada syarat menikah kok pakai aktif di partai politik segala. Mana substansinya….

6 comments on “Syarat menikah kok aktif di partai

  • @ Ntom…
    Ya ditawar dulu Ntom. Kalo jadi syarat mutlak. Maaf, tinggalkan saja. Chose one chair. Serahkan pada ahlinya, jangan sekedar ikut-ikutan.

    @ Shavaat…
    Kalo syaratnya bergabung dengan mapala…hm…aku jawab gunung tinggi kan ku daki, lautan luas kan ku seberangi, jeram sungai kan ku arungi, lorong gua kan ku susuri, halaahh…asal ga salah ngitung bilangan prima aja.

    @ Akupetta…
    Masalahnya kalo makan pecel dini hari dengan sambal yang semi basi gimana? Waduh bu’e, asam bu’e…

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: