Lawu…I’m in Love, edelweis untuk Bidadariku

Published Juli 1, 2008 by pembawacerita

Bidadariku, hatiku gundah ketika hendak pulang kampung Kamis 19 Juni 2008 yang lalu. Banyak pikiran yang aku tinggalkan begitu saja di kamar kos nomor 5 Pondok Muslim. Masih banyak target bacaan yang belum dibaca. Masih kepikiran pula mimpi nomor 1, nomor 2, dan nomor 3 yang aku tempel di sterofoam. Juga keinginan mendaki Semeru yang tertunda karena saai ini Semeru berstatus siaga. Rencana pengalihan pendakian ke Arjuno-Welirang pun batal karena beberapa hari yang lalu aku “diistirahatkan” oleh Rabb Yang Maha Kuasa. Dan masih banyak pikiran-pikiran lain. Pulang kampung dengan gundah.

Bidadariku, kusempatkan mampir Posko STAPALA sebelum aku pulang kampung. Karena memang aku ada janji dengan Irwansyah Setya Negara aka Gatot797 untuk menyetorkan aplikasi Sistem Akuntansi STAPALA. Dan benar Bidadariku, hiburan itu datang ketika kulihat papan kegiatan STAPALA. Lawu…I’m in Love. Tertulis jelas akan dilaksanakan 20-22 Juni 2008. Segera kuhubungi Sigit Luhur Pambudi aka Asigeboy828 untuk koordinasi keberangkatan. Alhasil aku berangkat dari Trenggalek dan teman-teman STAPALA berangkat dari Jakarta.

Bidadariku, Sabtu 21 Juni 2008 itu aku awali hari dini sekali. Mungkin kamu sudah tahu apa alasannya. Benar bidadariku. Pertandingan bola Kroasia vs Turki. Yang sebagian besar pengamat berpendapat Kroasia mampu mengalahkan Turki. Tapi hasilnya Turki yang lolos ke Semi Final dengan mengalahkan Kroasia melalui adu pinalti. Bidadariku, ada keajaiban yang harus kita percaya. Seperti pemain Turki yang pantang menyerah hingga keajaiban itu datang. Ketika Klasnic, pemain Kroasia mencetak gol di menit-menit terakhir, Semih Senturk, pemain Turki dengan kepercayaan akan keajaiban ia berhasil membalas pada injury time. Kita pun seharusnya seperti mereka. Percaya akan keajaiban yang dianugerahkan Sang Rabb Al Izzati.

Selesainya pertandingan bola itu, kumulai memanjatkan doa. Untukmu bidadariku. Untuk kita. Juga untuk perjalanan ke Gunung Lawu. Hingga Shubuh pun memanggil dan membawa kakiku melangkah ke Darun Nadwah. Segar sekali udara pagi itu bidadariku. Semoga kita bisa menghirup kesegarannya bersama-sama nanti berdua. Apalagi ditambah diiringi dengan syahdunya Al Ma’tsurat yang terlantun dari bibirmu. Ah itu masih nanti bidadariku. Ketika perbekalan menuju Gunung Lawu sudah selesai aku siapakan, lantas aku sungkem pada Bapak dan Ibu. Memohon doa agar lancar dalam perjalanan, sampai puncak dan selamat sampai di rumah. Dalam hatiku pun berkata, doakan aku pula, bidadariku.

Bidadariku, di sepanjang jalan banyak orang menuju pasar melihatku dengan tas carrier yang lebih besar dari tubuhku menggelayut manja di punggungku. Dan mereka bertanya aku hendak kemana. Ketika aku menjawab hendak mendaki gunung Lawu, sebagian besar mereka berpesan, hati-hati di jalan karena di gunung Lawu banyak hal-hal mistis. Tapi tenang saja bidadariku, aku gigit erat akidah ini dengan gigi gerahamku. Tak akan ku biarkan saja akidahku tergadaikan di gunung Lawu. Dan aku semakin yakin bahwa dengan akidah ini pula Rabb-ku akan mempertemukanku denganmu, bidadariku.

Bidadariku, perjalanan dengan bus pun aku mulai menuju Ponorogo. Selanjutnya disambung menuju Madiun. Diperjalanan menuju Madiun aku bertemu seseorang. Tiba-tiba dia bertanya, “Mau kemana mas? Kok bawa carrier?”. Simpel saja aku jawab hendak ke Gunung Lawu. “Gunung Lawu itu banyak mistisnya lho mas. Memangnya mau ngapain mas ke gunung Lawu?”. Kemudian aku jelaskan bahwa hobby-ku yang mendorong mendaki Gunung Lawu. Lagi pula naik gunung itu nyedhake ati mring Gusti (mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi). Tentu dengan bahasa Jawa notok biar lebih bisa diterima orang itu. “Oh, begitu ya mas. Aku jadi inget waktu masih suka touring dan kebut-kebutan. Sebenarnya waktu ngebut itu hanya satu mas yang aku ingat. Mati. Dan ingatan itulah yang membawaku seolah begitu dekat dengan Sing Makarya Jagad (Sang Pencipta Alam). Tapi ya itu tadi, ingatnya hanya saat mau ngebut saja. Ya sekarang aku heran, mengapa dulu setelah menang balapan kembali minuman keras yang masuk ke mulutku ini. Tapi sekarang alhamdulillah sudah enggak lagi mas. Wah apalagi setelah ketemu sampeyan yang mau naik gunung ini. Bener kata sampeyan mas. Kalau sudah di hutan itu tak ada lagi ciptaan manusia. Adanya hanya ciptaanSing Makarya JagadMatur nuwun (terima kasih) mas. Perjumpaan singkat ini sudah cukup mengingatkan aku untuk tidak macam-macam melawan titah Sing makarya Jagad”. Alhamdulillah, aku ga menyangka bidadariku. Ternyata perjumpaan singkat itu begitu berkesan.

Tak ada yang spesial dalam perjalanan Madiun-Magetan, bidadariku. Memang suasana lagi sepi. Jadi agak kasihan dengan awak bus yang aku naiki. Semoga nanti mereka mendapat penumpang yang banyak sehingga rejeki mereka bisa bermanfaat buat keluarga mereka. Sampai di terminal Magetan, aku harus naik angkot sayur. Duh bidadariku, lama sekali nunggunya. Sopir angkot itu benar-benar menunggu hingga angkotnya penuh. Di dalam angkot itu aku bertemu sebuah keluarga yang berlibur. Sepasang suami istri dengan seorang putra dan seorang putri yang seumuran SD dan satu anak lagi masih digendong ibunya. Indah sekali, bidadariku. Berlibur bersama sekeluarga. Semoga kita kelak bisa bahagia, sejahtera, sakinah, mawaddah wa rahmah, setidaknya seperti gambaran keluarga itu.

Di sepanjang jalan angkot itu sibuk menaik-turunkan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar menjual sayur. Bahkan begitu sabarnya, sopir angkot itu rela untuk menunggu calon penumpangnya padahal si penumpang masih membereskan peralatan dagangnya. Di dalam angkot itu mereka ngerumpi. Topiknya khas ibu-ibu baru pulang dari pasar. Apalagi kalau bukan seputar bumbu dapur. Mereka merasakan benar bagaimana segalanyanya menjadi mahal sekarang. Seru sekali rupanya pembicaraan mereka. Seru seperti perebutan kursi gubernur Jawa Timur. Ada lima pasangan calon, yaitu: Soenaryo-Ali Maschan, Soekarwo-Saiful, Khofifah-Mudjiono, Achmady-Ichsan, Sutjipto-Ridwan. Namun bagi ibu-ibu seperti mereka perebutan jabatan itu tidaklah sepenting asap dapur mereka biar terus mengepul. Mereka hanya butuh ketenangan bekerja dan kesejahteraan hidup, siapapun pemimpinnya.

Aku stag di Sarangan lebih dari 30 menit, bidadariku. Sarangan-Cemoro Sewu tak ada angkot. Akhirnya aku nebeng truk sayur. Jalan menuju Cemoro Sewu berliku-liku seperti cerita hidup sopir dan kenek truk sayur yang aku tumpangi itu. Kami bertiga ngobrol disepanjang perjalanan. Si kenek cerita bahwa dia juga pernah kuliah, tapi hanya bertahan selama tiga semester. Karena waktu kuliah dia tidak bisa disambi dengan aktivitas mengangkut sayuran. Begitu tertusuk hati ini, bidadariku. Di satu sisi aku bisa kuliah gratis selama empat tahun lebih dan bakal lima setengah tahun, di sisi lain ada yang tidak bisa kuliah karena tidak match antara jadual kuliah dengan jadual mencari biaya kuliahnya. Juga sopir truk yang bercerita banyak bagaimana ia selalu dikejar-kejar waktu dalam bekerja. Menjadi sopir truk sayur itu hidupnya di kejar waktu. Mereka harus tiba tepat waktu agar sayur yang akan dijual masih segar. Jika membawa mobil dengan lambat, mereka bakal jualan sampah. Bayangkan saja bagaimana dia menginjak kombinasi gas, rem, kopling dan memindah gear agar bisa melaju cepat selama berkeliling kota-kota tujuan pemasaran sayur. Dari Magetan menuju Surakarta, atau Madiun, Ponorogo, Ngawi, Pacitan, Kediri, hingga Blitar.

Akhirnya aku sampai di Cemoro Sewu, bidadariku. Tak lupa kuucapkan terima kasih kepada sopir truk sayur atas tumpangannya. Masjid Cemoro Sewu adalah tempat yang pertama aku tuju. Kuletakkan carrier dan segera ku ambil air wudhu untuk menunaikan dhuhur. Rupanya sudah satu shaf akhwat di masjid itu menungguku untuk menjadi imam shalat mereka. Setelah mereka membuka mukena, baru tahu aku bahwa mereka adalah pelajar-pelajar SMA yang baru mendaki gunung Lawu. “Wah sudah malas aku kalau disuruh naik gunung begini lagi”. Salah satu dari mereka berpendapat.

Aku masih menunggu teman-teman dari Jakarta tiba sambil makan nasi pecel dan wedang jahe. Rasanya nikmat sekali. Dan sehabis itu aku tertidur di pos pendakian Cemoro Sewu. Hingga tiba-tiba ada sosok berdehem-dehem di depanku. Ah rupanya Sigit baru datang. Dan disampingku membujur Bian yang mungkin sudah agak lama menemaniku tidur. Di Masjid Cemoro Sewu terlihat teman-teman yang lain Daris, Hilman, Nurhaeni, Slamet, Syani, Luat, dan Wisnu. Hanya Syani yang perempuan. Lainnya laki-laki tulen, tidak ada yang banci.

Bidadariku, kami bersepuluh memulai perjalanan pukul 15.30 setelah shalat asar. Beban berat di carrier-ku ditambah jalan menanjak cukup untuk membasahi pakaianku dengan keringat walau baru berjalan beberapa menit. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di Pos 1, Wesen-Wesen. Di Pos itu aku mengeluarkan kue Wajik yang dibawakan Mbok Yah. Hilman tertawa, “Pantesan pak lambat banget. Rupanya dibebani wajik tiga kilo ya. Sini dikurangi saja sambil menambah tenaga”. Hm…lumayan bebancarrier-ku berkurang satu kilo.

Tak lama kami istirahat di Pos 1, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2. Jalan masih menanjak. Nafasku tersengal-sengal dan sesekali batuk. Tak terasa hidungku sudah mulai berair akibat udara dingin. Hingga akhirnya kami sampai di Pos 2, Watu Gedhek. Bidadariku, disana kami shalat Maghrib dan Isya. Astaghfirullah, keringat yang membasahi kaosku menjelma menjadi balok es yang menimpa punggungku saat aku rukuk. Sejurus pikiranku teringat sejarah. Masih beruntung terasa seperti balok es. Bibirku pun bergetar hebat saat membaca ayat-ayat Al Qur’an. Bibirku bergetar seperti hatiku bergetar setiap ayat-ayat Al Qur’an dilantunkan. Bidadariku, kau mungkin bisa membayangkan bagaimana jika kotoran yang ditimpakan seperti di punggung Rasulullah SAW. Bagaimana pula jika benar-benar batu besar yang ditimpakan seperti yang dialami Bilal bin Rabah.

Selesai shalat aku mengeluarkan berbagai penghangat. Mulai dari minyak kayu putih yang aku oleskan ke tubuh hingga koyo cabe yang tak terasa hangat walau sudah aku tempelkan di kedua kaki dan punggungku. Kaus tangan, balaclava, dan rain coat pun lengkap membungkus tubuhku. Dingin luar biasa. Setelah perlengkapan lengkap, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, Watu Gede. Medan semakin berat, bidadariku. Hingga di tengah jalan kaki kananku kram. Untung Ada Slamet. Ia meluruskan dan memijit-mijit kakiku. “Kita istirahat sejenak”, begitu kata Daris. “Nyantai aja pak jalannya”, Nurhaeni menambahkan. Bidadariku, rupanya aku, Slamet, Daris, dan Nurhaeni sudah terpisah jauh dari anggota yang lain. Bidadariku, dari kejadian itu kau bisa mengetahui betapa aku sangat tergantung pada orang lain. Wajar jika kau menganggapnya itu adalah kelemahan. Tapi jujur aku padamu, aku selalu berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain.

Setelah sabar dan ikhlas dengan kondisiku saat itu, akhirnya aku dan tiga temanku itu bergabung dengan enam orang anggota lain yang sudah lama menunggu di Watu Gede, Pos 3. Menuju Pos 4, kaki kiriku kram. Masih untung ada Slamet lagi. Malam itu aku benar-benar bersyukur banget karena ada Daris, Nurhaeni dan Slamet. Setelah istirahat sebentar untuk meluruskan kaki, kami melanjutkan perjalanan. Terasa lama sekali dan tidak menjumpai Pos 4. Aku menjadi ragu, jangan-jangan aku salah jalan. Menurut Nurhaeni, aku dan dia masih berada pada jalur pendakian. Saat itu Daris dan Slamet sudah tidak kelihatan dari pandanganku. Berkali-kali aku minta istirahat. Rupanya Nurhaeni kasihan melihatku. Kami berganti carrier. Daypack Nurhaeni terasa ringan sekali. Katanya hanya berisi sleeping bag saja. Dan dia pun bertanya,”Bawa apa aja mas, kok carrier-nya lumayan berat?” Aku memang membawa banyak makanan saat itu, lengkap dengan peralatan masak termasuk nesting dan kompor. Kata Nurhaeni sebenarnya aku tidak perlu membawa peralatan lengkap seperti itu, karena teman-teman sudah membawa peralatan dari kampus. Yang penting makanannya saja. Tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur dibawa.

Kami berjalan lebih santai hingga akhirnya kami melewati bangunan yang tinggal pondasinya. Aku mengira itu adalah Pos 4. Setelah melewati bangunan itu menyusuri jalan datar yang jarang jarang ditumbuhi pohon. Cahaya bulan begitu terang. Cahaya putih senterku kalah terang. Aku tak butuh senterku saat itu. Cukup cahaya bulan saja. Ada awan yang bergumpal-gumpal indah sekali. Seperti lautan kapuk. Jika pernah nonton Doraemon yang membekukan awan, atau film Peterpan yang bemain-main di atas awan. Sangat indah. Benar-benar takjub aku dibuatnya. Allah menunjukkan kuasanya menciptakan dan memperlihatkan bintang-bintang yang begitu banyak di langit Gunung Lawu. Hingga semakin yakin setan pun takut dengan kuasa Rabb-ku melihat begitu banyak bintang-bintang pelempar setan itu di langit.

Bidadariku, ditengah pemandangan indah itu, aku masih merasa belum menjumpai Pos 4. Aku tidak begitu yakin bahwa Pos 4 adalah bangunan pondasi tadi. Namun tak lama aku berjalan, Aku dan Nurhaeni bertemu dengan Bian dan Wisnu. Aku bertanya dimana Daris, Slamet dan teman-teman yang lain. Kata mereka, kami sudah ditunggu lama di Sendang Drajat. Berarti perjalananku dari Pos 3 tidak sadar melewati Pos 4 dan Pos 5. Menurut Bian dan Wisnu, Pos 5 adalah bangunan yang tinggal pondasinya tadi. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan kepuasan hati melihat pemandangan malam yang begitu indah. Hingga kami lengkap sepuluh orang bertemu di Sendang Drajat. Ditempat itu sudah banyak para pendaki lain yang nge-camp.

Tak lama setelah berbasa-basi dengan pendaki lain, kami segera menuju Hargo Dalem. Ditempat itu tinggal seorang perempuan yang akrab dipanggil Mbok Yem. Tepat pukul 22.00 kami sudah berada dalam istana batu Mbok Yem. Persiapan tidur pun dimulai. Kami makan makanan siap makan yang kami bawa. Benar-benar dingin malam itu. Jadi teringat data yang disajikan di pos pendakian Cemoro sewu, bahwa suhu di puncak mencapai 4-5 derajat Celcius. Tak banyak pembicaraan saat itu, kecuali dimana makanan, dimanasleeping bag, dimana akan mendirikan tenda. Semuanya bergerak dalam dingin. Hingga suasana menjadi senyap setelah tidur mengistirahatkan kami. Bidadariku, setiap jam aku terjaga. Dan tiap kali terjaga kuucapkan syukur bahwa aku masih diberi kesempatan hidup. Tidak mati dalam dingin hipotermia. Setidaknya harapan untuk bertemu denganmu dalam suasana penuh berkah itu masih bisa kurasakan.

Pagi hari kuawali dengan Sholat Shubuh berjama’ah dengan Syani. Setelah selesai menjalankan kewajiban aku keluar dari istana batu Mbok Yem. Dan sun rise pun menyambutku indah. Bidadariku, rasa lelah, kram, dingin dan rintangan yang ada sepanjang jalan kemarin seolah terbayar lunas dengan pemandangan pagi itu. Ahad pagi itu seolah Allah telah menuliskan “sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan” di langit timur Gunung Lawu. Hamparan emas menghiasi gumpalan awan. Lantas jauh di langit barat terlihat rembulan manis yang masih enggan untuk menyembunyikan diri dari langit. Bahkan ketika sang mentari dengan wajah bulat penuh menyapa kami rembulan itu ada seolah menyambutnya datang. Setelah puas mengambil gambar, kami menyiapkan makan pagi. Tentu sambil menikmati wajah emas mentari yang bulat tanpa cela seolah mengumbar senyumnya.

Setelah kenyang makan dan puas minum kopi, susu, dan wedang jahe kami menuju puncak Hargo Dumilah. Disepanjang jalur menuju puncak, kami dimanjakan dengan edelweis yang begitu manis. Ada yang berwarna putih, dan ada pula yang berwarna ungu. Indah sekali bidadariku. Dan setelah berjalan setengah jam kami menjumpai tugu kokoh berdiri bertuliskan “PUNCAK LAWU (HARGO DUMILAH) 3265 DPL”. Aku bersujud syukur di ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut itu. Lantas kuucapkan doa, doa yang kupanjatkan pula setiap hari. “Alhamdulillah ya Allah, Kau anugerahi aku IP minimal 3,7, agar aku bisa membuktikan kepada ibuku bahwa menikah itu tidak menghambat proses menuntut ilmu. Alhamdulillah ya Allah, Kau bukakan pintu rejeki lagi untukku, agar ibuku tahu bahwa justru dengan menikah kau akan membuat kaya dengan karunia-Mu. Alhamdulillah ya Allah kau mengijinkanku menikah tahun ini dan menganugerahiku istri yang sholihah, agar aku bisa menjaga pandangan, agar aku bisa menjaga kehormatan, agar aku bisa mengikuti sunnah Rasul yang Kau muliakan, agar aku bisa memenuhi agama yang Kau sempurnakan. Amin.” Bidadariku, dimanapun aku berdoa, aku yakin Allah akan memberikannya, karena Allah sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Dan aku pun berharap kaupun berdoa untuk pertemuan kita yang penuh berkah. Doa yang begitu indah, seindah kumpulan edelweis yang aku persembahkan ceritanya untukmu. Cukup ceritanya saja dan biarkan edelweis itu tetap tumbuh dan senantiasa berdzikir di tempatnya berada.

Setelah puas dengan pemandangan Puncak Hargo Dumilah, kami turun melalui jalur Cemoro Kandang. Beginilah naik gunung bidadariku. Jika kita sudah mencapai puncak, maka tidak ada jalan lain kecuali turun. Semoga aku, kau, orang yang membaca cerita ini, dan para pemimpin yang sudah terlalu lama berkuasa dapat mencerna esensi filosofisnya. Jalur turun melalui Cemoro Kandang memang lebih landai. Tapi itu justru makan waktu lama. Sehingga kami memotong jalur dengan melewati bekas aliran air. Ketika naik dengan mengerahkan segala tenaga, maka pada saat turun ini pun aku merasakan perjuangan berat.

Bidadariku, dalam perjalanan turun itu aku terlepas dari kelompok. Seingatku di depan ada Sigit, aku berusaha mengejarnya, tapi tak kuasa. Dia terlalu jauh. Akibatnya pula, aku terpisah dengan yang dibelakangku, Hilman, Syani dan Wisnu. Dan seperti ini mungkin kita hidup. Tidak bisa sendirian. Pasti membutuhkan orang lain. Seumpama domba yang terpisah dari kelompoknya maka ia sangat rawan diterkam serigala. Aku pun begitu. Tak bisa sendiri dan harus membebaskan diri dari kesendirian. Seperti Rabb-ku yang memberiku sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan, dan sepasang kaki namun hanya memberiku satu hati. Agar aku menemukan pasangan hatiku ditempat lain. Di hatimu bidadariku.

Hingga akhirnya aku beruntung ada sekelompok pendaki. Mereka sekelompok ikhwah muslim. Kita tidak bicara banyak. Suasana hening. Hanya beberapa kata saja yang terucap. Mereka nampak sangat kelelahan. Berkali-kali mereka beristirahat. Jika dilihat dari wajahnya mereka kelihatan lebih tua dari umurku. Aku tak memungkiri kaki ini juga lelah melangkah. Lantas kuistirahatkan mereka. Sampai aku melihat Hilman, Syani, dan Wisnu kembali. Kami pun berjalan kembali. Hingga kami merasa begitu lelah sampai Pos 1 Taman Sari Bawah. Di Pos itu ada sebuah warung bapak setengah baya. Ia menjual beberapa jenis kue dan minuman. Tiba-tiba dia bertanya, ”Hanya istirahat saja disini mas?”. Mendengar pertanyaan itu aku sungguh tak tega, bidadariku. Aku pesan minuman, juga untuk ketiga temanku. Dan menikmati kue yang disajikan. Rupanya bapak pemilik warung itu seharihari hidup di Pos itu. Dan warung kecilnya adalah alat mengais rejeki baginya. Aku kembali bersyukur, Allah telah memberiku pintu rejeki yang mungkin lebih mudah dibanding bapak pemilik warung di Pos Taman Sari Bawah itu.

Akhirnya aku sampai di Pos Pendakian Cemoro Kandang. Terlihat Daris menikmati sisa minuman karbonasi. Juga Bian yang sibuk mengais-ngais roti. Beberrapa teman lainnya tidak terlihat. Ada yang masih shalat Dhuhur dan Asar. Ada pula yang masih mandi. Kuistirahatkan semua tubuhku sejenak. Lantas kutegakkan kembali tiang agamaku sebelum aku meninggalkan Pos Pendakian Gunung Lawu. Sore itu begitu melelahkan. Namun sangat berkesan. Aku, Sigit, dan Bian berpisah dengan teman-teman lainnya. Kami hendak ke rumah Sigit di Ngawi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Sedangkan mereka sebagian besar akan kembali ke Jakarta. Aku, Sigit, dan Bian jalan mencari tumpangan ke Cemoro Sewu. Alhamdulillah dapat tumpangan pick up sampai Sarangan. Roda-roda pun silih berputar hingga sampai di rumah Sigit.

Bidadariku, malam harinya kami dijamu sayur bayam yang sangat lezat buatan ibunya Sigit. Padahal selama naik gunung kemarin aku seolah tidak bisa membedakan rasa makanan. Yang ada hanyalah makan untuk tetap hidup. Masalah rasa, nomor dua. Malam itu segar serat-serat daun bayam seperti membelai sepanjang jalur pencernaanku. Lezat sekali. Dan Senin paginya kami masih dimanjakan ibunya Sigit dengan nasi pecel. Luar biasa nikmat. “Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”. Pagi yang cerah itu menutup perjumpaanku dan Bian, dengan keluarga Sigit. Aku pulang ke Trenggalek. Sedangkan Bian ke Malang. Deg…!! Di terminal Madiun aku dikagetkan seseorang yang memanggilku masuk ke bus jurusan Ponorogo. Kondektur bus itu…adalah orang bertemu orang yang ngobrol denganku kemarin waktu di perjalanan Ponorogo-Madiun. Belum aku menyapa dia sudah berkata,“Wah, alhamdulillah ketemu lagi mas. Gimana pendakiannya? Bagus tenan to Gunung Lawu? Yo wis dinikmati aja perjalanannya. Aku mau ngejar setoran dulu.”

4 comments on “Lawu…I’m in Love, edelweis untuk Bidadariku

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: