Cinta tak terungkap

Published Juni 4, 2008 by pembawacerita

Sore lusa kemarin ada seorang teman dekat yang datang ke kosku. Rupanya ia sudah membaca blog-ku tentang “bidadariku, aku menjemputmu”. Ia mengutarakan komentarnya betapa kasihannya aku. Padahal menurutku biasa saja. Aku tak pernah merasa menyesal. Pun juga tak pernah ragu akan kepastian itu. Lantas ia bertanya mengapa aku tidak memilih salah satu dari banyak pilihan. Tak ragu dia menyebutkan satu persatu. “Py, kamu tuh punya banyak pilihan. Lihat saja adik-adik kelasmu di kampus. Banyak sekali mereka. Ada yang tingkat 3, tingkat 2 atau tingkat 1. Tinggal kamu pilih salah satu saja. Aku yakin pasti diantara mereka sudah tahu banyak mengenai sepak terjangmu di kampus. Atau kamu pilih saja mahasiswamu, atau mantan mahasiswamu. Tidak sedikit pula diantara mereka yang cantik-cantik. Yakin lah Py, masa mantan mahasiswamu meragukan Kakak Dosennya sendiri. Atau juga trainee-trainee-mu. Mereka malah sudah mapan, sudah bekerja, tinggal menunggu waktu saja. Kenapa kamu ga berani mengatakan cinta! Lihat juga teman-teman kantormu. Tak sedikit kan pilihan diantara mereka. Kamu itu aneh. Kamu mau disebutin kriteria yang apa lagi? Janganlah terlalu berlebihan menetapkan kriteria, Py.”

Aku hanya tersenyum melihat komentar temanku. Aku kira yang aneh justru dia. Ada setan apa yang hinggap dibenaknya hingga ia bisa melakukan penelitian-penelitian yang ga begitu ilmiah sehingga dia berhasil mengklasifikasikan kriteria-kriteria perempuan disekelilingku. Enteng saja aku menjawabnya. “Aku tidak mau milih sendirian, kawan.” Betapa terkejutnya dia mendengar jawabanku yang singkat, padat, lugas, tegas, namun sedikit tidak ia percayai. Aku melihat raut wajahnya berubah. Seolah ia baru mengenalku. “Py, boleh tanya sedikit ga? Tapi kamu jangan marah ya?”. Oh, tentu saja aku tersenyum. Aku tak bisa marah sama kawanku itu. Baik sekali dia. “Py, kamu normal ga sih?”. Astaga naga, apa maksud pertanyaannya. “Maksudku, kamu pernah punya perasaan mencintai perempuan ga sih?”. Ouw, kalau masalah itu pasti ada kawan. Hanya saja aku tak mau mengungkapkannya. “Goblok!”, entah iblis apa yang mendorongnya menghardikku. “Py, hare gene ga berani katakan cinta! Basi Py! Kamu ternyata pengecut! Muna’ banget sama diri kamu sendiri. Kalau seperti itu menyesal aku mengasihanimu setelah membaca blog-mu kemarin. Ternyata kamu sendiri penakut.” O…O…kenapa jadi dia yang emosi. Begini kawan, aku punya beberapa penjelasan, jangan emosi dulu. Begitu kira-kira aku dingin menanggapinya.

Aku mulai menjelaskan sedikit yang aku tahu kepada temanku. Pernikahan itu memang memiliki banyak tujuan mulia. Ada yang bilang mengikuti sunnah Rasul. Ada juga yang mengatakan untuk menjaga kesucian dan menahan pandangan. Tukang biologi ikut beropini bahwa menikah itu untuk menjaga kelestarian jenis (emang mau punah?). Mereka bilang dengan menikah bisa mengembalikan semangat kepemudaan dan tempat sedekah yang paling enak di dunia. Tukang bisnis bilang kalau menikah itu adalah jalan pintas membuka pintu rejeki. Nah masalahnya aku adalah tukang akuntansi, yang terus terang masih bingung membedakan apakah menikah itu termasuk kategori assets, liabilities, equities, revenues, atau kah expense. Hm…aku kira tidak sekedar itu saja. Ada cita-cita mulia kemasyarakatan disana. Menikah itu menyatukan dua keluarga besar. Memasukkan elemen keluarga lain ke dalam keluarga kita itu tidak mudah. Oleh karena itulah dibutuhkan perhatian untuk mengkondisikan keluarga kita sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, baru go to your own choice.

Aku mengakui masalah mengkondisikan keluarga sendiri ini masih dalam proses yang benyak tantangan. Aku tak mau menyebutnya hambatan, karena menurutku hambatan justru malah menyiutkan visiku. Kawanku baru sadar akan tantangan itu. Dan tiba-tiba ia membanting arah pembicaraan mengenai keluarga. Yah, mungkin sekedar basa-basi dan untuk mencairkan suasana. Dan ternyata perkiraanku tepat. Setelah ia kehabisan bahan basa-basi, ia kembali ke topik permasalahan. “Py, jika kamu pernah mempunyai perasaan suka kepada perempuan, bagaimana kamu mengungkapkannya?”. Jedug! Dag dig dug…dag dig dug…mm…kasih tau ga ya?

Tak ragu aku kemudian menunjuk cermin dibelakang temanku. Aku suruh dia berdiri menghadap cermin. Kemudian aku dikte ia untuk mengatakan cinta. “Dik, aku tidak memungkiri bahwa selama ini aku cinta banget sama kamu.” Lagi-lagi setan katrok meracuni otaknya. “Oh, jadi selama ini kamu suka sama Sidik ya Py?”. Ah…sinting benar temanku itu. Begini saja, aku peragakan dan ia melihat dengan khidmat. Aku tatap cermin di depanku lantas aku mulai bersandiwara. “Wahai bidadariku. Kau adalah bidadari yang mendatangi mimpi-mimpiku. Kau adalah madu manis yang menyelimuti hatiku. Kau adalah bunga mekar yang menghiasi taman cintaku. Bidadariku, lihatlah aku yang terbuai dalam mimpi. Bidadariku, jika kau adalah bidadari mimpiku, maka aku ingin selalu terjaga agar tidak terlena dalam mimpi yang fana.” Dan benar, terbukti temanku itu mengindap penyakit sinting. Ia memberikan applaus kecil, lantas menunjukkan mimik terharu, kemudian mengakhiri aksi sintingnya dengan mengusap mata dengan ujung bajunya lantas memeras-meras kainnya itu seolah-olah air matanya tumpah sebaskom.

Dalam hati aku bergumam, seandainya saja yang didepanku itu bukan cermin, tapi benar-benar bidadariku. Ah betapa indahnya. Ctug! Tiba-tiba jari kecil memukulku lembut, “Goblok banget sih! Kenapa ga ngomong langsung begitu itu sama bidadarimu. Py, katakan cinta Py!”. Ah temanku itu mungkin lupa. Aku ga perlu mengatakan cinta sekarang. Nanti saja kalau sudah resmi jadi istri mau bilang cinta sampai berbusa-busa itu baru sah-sah saja. Sekarang, cukup Tuhan saja yang tahu bahwa aku mencintainya. Mencintai bidadariku. Dan aku bepikir mudah saja menjelaskan prinsip ini kepada temanku. Cukup kubuka notebook, lantas aku klik icon digital qur’an.exe, kemudian aku cari sebuah tulisan Al-Baqarah(2):235. Aku minta ia membacanya dengan nada merdu dan terdengar jelas.

Aku akui kemerduan suara temanku itu mirip-mirip Bang Haji Roma Irama kalo sedang membaca ayat Al-Qur’an. Dia meneruskan membaca terjemahnya, “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. dan Ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. Setelah membaca keseluruhan ayat itu, terlihat kerut dahinya menunjukkan ia berpikir.

Aku kemudian menjelaskan pendapatku mengenai ayat itu kepada temanku. Bagiku sangat wajar jika aku menyebut-nyebut nama perempuan yang aku cintai. Itu memang sudah menjadi fitrah manusia. Menyukai lawan jenis. Apalagi kalau sudah tertarik pada seseorang yang spesifik. Wajar banget jika seorang manusia yang dilanda asmara itu perasaannya melanglang buana sambil menyebut-nyebut nama yang dicintainya. Allah sudah tahu itu. Dan Allah mengetahui benar apa yang aku ucapkan ataupun yang tersembunyi dalam hati. Namun cukup aku pribadi dan Allah saja yang tahu. Tak perlu orang lain atau bahkan perempuan yang aku cintai itu tahu hingga ada kesiapan dan keteguhan hati atau untuk keperluan musyawarah dengan orang yang lebih bijak. Aku tidak perlu mengungkapkan kata cinta itu secara langsung kepada yang bersangkutan sekarang. Lagipula sensasi menyembunyikan cinta itu rasanya indah sekali. Setidaknya aku bisa memanjakan menikmati keindahan sendiri.

Aku tak mau membayangkan kejadian buruk dan memalukan menimpaku. Misalnya saja aku sudah menyebut-nyebut namanya, lantas mengharapkan ia menjadi milikku, kemudian mengatakan cinta padanya padahal tantangan kemasyarakatan belum diselesaikan, lalu si perempuan menjawab, “Maaf ya mas yang ga ganteng tapi cukup membuat cowo ganteng didekatnya minder, baik hati namun agak tidak tahu diri, aku tidak bisa menerima cintamu karena aku lebih mencintai Allah dan Rasul panutanku”. Pasti suasana menjadi mencekam seperti menonton film horor hantu blau di bioskop kumal yang banyak kecoaknya. Apa ga sakit banget rasanya. Sudah terbang tinggi, menikmati pemandangan indah, tapi tak lama kemudian jatuh tersungkur ke bumi, tertimpa tangga lagi. Cukup sudah penderitaan itu. Coba kalau aku sembunyikan perasaan itu. Cukup aku dan Allah saja yang tahu dan mungkin cermin sandiwara yang melihatnya. Setidaknya aku bisa terbang tinggi, melihat pemandangan indah, terus agak lama karena tidak jatuh-jatuh. Berarti bisa meminimalisir risiko kehilangan pemandangan indah lebih cepat. Apalagi jika nanti ketika turun dari terbang tinggi aku bisa menjumpai mimpi itu menjadi kenyataan. Waow…betapa indahnya.

Satu lagi yang bisa memperindah impian. Tentu ini masih menurutku. Aku bisa merasakan sensasi bagaimana denyut jantung berdetak tidak jelas iramanya ketika berhubungan dengan perempuan yang ada perasaan cintaku padanya. Cukup interaksi dengan perkataan atau sindiran yang baik saja. Itu masih boleh dalam koridor ketentuan 2:235 di atas. Nah, untuk menjaga perkataan atau sindiran yang baik ini juga butuh perencanaan. Misalnya, aku menulis draft pertanyaan dan pernyataan yang akan aku utarakan. Persis seperti wartawan yang mempersiapkan diri mewawancarai narasumber. Itu penting banget, jika tidak hati-hati bisa ngomong tidak teratur, meracau kesana kemari, timbul sindrom keringat dingin akut yang tiba-tiba membasahi badan, persendian tubuh menjadi lesu, lemah dan lunglai, proses pencernaan terganggu dengan timbul gejala mulas atau perut terasa melilit-lilit, dan berbagai gejala keanehan biologis serta psikologis lainnya.

Setelah cerita panjang lebar seperti itu, aku baru sadar bahwa terjadi gejala abnormal pada temanku. Ia melongo, dengan mulut terbuka, mata terbelalak dan produksi air liur yang melimpah memenuhi ujung bibirnya. Dan…ups…benar, tumpahlah membasahi bajunya. Kontan aku terpingkal-pingkal melihat kejadian lucu itu. Temanku itu memang aneh. Tapi dia sungguh baik hati. Hanya memang tingkah-tingkahnya yang tak terduga itu terkadang di luar batas kepala manusia.

Entah mimpi apa aku semalam. Perjumpaanku dengan temanku itu seolah-olah sebelas dua belas antara apa yang aku pikirkan dengan apa yang ia lakukan. Baru saja aku mengenang tingkah-tingkah gilanya, tak lama kemudian ia berdiri mengelilingi kamar kos ku yang hanya sembilan meter persegi itu. Padahal dengan memutar bola matanya saja ia bisa menjelajah semua isi kamarku. Langkahnya kemudian terhenti di depan sterofoam yang aku tempel di dinding. Matanya melotot melihat secarik kertas bertuliskan spidol merah. Getting married. Dan benar, tidak wajar tingkahnya. Sudah berdiri tepat didepan objek pandangnya, ditambah memperlebar kelopak matanya seolah-olah bola penglihatan itu hendak tumpah, ia masih mendekatkan wajahnya lebih dekat ke arah tulisan itu. Tangannya mulai gerilya. Dilepasnya pines yang menempelkan kertas bertuliskan getting married. Kemudian ia tersenyum puas seperti baru menemukan harta karun. “Ha…kamu menyembunyikan sesuatu ya”, ucapnya. Belum sempat aku jawab, muncul lagi tingkah anehnya. Menggaruk-garuk kepala seolah bingung dengan makna harta karun yang ia temukan. Lantas membaca harta karunnya itu, “Rabb jika Kau mampu menyatukan satu dua air dalam satu laut, maka aku yakin Kau mampu menyatukan dua hati dalam satu hidup”. Aku tersenyum melihatnya.
“Maksudnya apa Py?”. Ah tidak penting itu kawan. Aku lantas menunjukkan tulisan yang lebih penting dari yang ia baca. Aku memintanya membaca tulisan yang lebih kecil di bawah kalimat yang barusan ia baca. “Barang siapa jauh cinta, lalu menyembunyikan cinta, menahan diri, bersabar, lalu mati, maka ia mati syahid-Al Hadits”. Dahinya berkerut, sepertinya ia berpikir keras. “Itu hadits shahih ga Py?”. Wah, maaf kawan aku bukan ahli hadits. Jika ditanya shahih atau tidaknya susah bagiku untuk menjawabnya. Namun aku sudah mengantisipasi kelemahan itu. Kubuka dompetku kemudian aku cari secarik kertas kecil yang sudah lusuh. Suwaid bin Sa’id Al Hadatsany diberitahu Ali Mushir dari Abu Yahya Al Qabtat, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas ra, dari Nabi SAW. Aku bacakan sanad hadits itu untuknya. Aku menulis hadits itu tulis beberapa tahun yang lalu dan menyembunyikan di dalam dompetku, agar aku bisa membacanya setiap saat jika aku sedang kasmaran. Lalu aku minta temanku untuk menyimpulkan apakah hadits itu shahih apa tidak. Ia hanya terdiam.
Sebelum ia bertindak aneh lagi, aku minta ia duduk di depanku. Kupandang matanya dan aku bertanya padanya mengenai sebuah syair Allah tujuan hidup kami, Muhammad tauladan kami, Al Qur’an penuntun kami, jihad jalan kami, dan syahid di jalan Allah cita kami tertinggi. Kawanku, aku percaya dengan semangat yang diungkapkan syair itu. Dan Tuhanku begitu Maha Pemurah karena telah memberiku jalan pintas untuk mencapai cita-cita tertinggi. Cukup sederhana, menyembunyikan cinta ketika aku sedang dalam kasmaran yang luar biasa. Dan cara yang paling efektif untuk menyembunyikan cinta adalah curhat kepada Tuhan. Aku ungkapkan saja semuanya, dan cukup aku dan Rabb-ku yang tahu. Ketika aku merasa dekat dengan Rabb-ku melebihi kedekatan urat leherku, maka firman-Nya pada 2:235 di atas menjadi tuntunan yang menunjukkanku jalan kebenaran dan sebagai pemantik semangat yang menggelora melebihi gejolak asmara yang aku rasakan. Lebih dari itu, Muhammad pun sebagai tauladan telah memberi petunjuk teknis mengelola asmara pemuda seperti aku. Aku lakukan sesuai urutan prosedurnya, yaitu jatuh cinta, menyembunyikan, menahan, dan sabar. Dan bukankah perang yang paling besar di muka bumi ini adalah perang melawan nafsu pribadi? Maka tinggal menunggu waktu saja, jika sewaktu-waktu aku mati dalam kondisi kasmaran seperti itu, maka syahid telah menantiku. Aku menyebutnya sebagai the power of unexpressed love. Kekuatan cinta yang tak terungkap. Cukup sederhana, mudah, tepat sasaran, dan tidak diragukan.
Kali ini aku tidak melihat ekspresi abnormal pada temanku. Aku hanya melihatnya menunduk lesu. Mungkin dia sedang memikirkan apa yang telah aku katakan. Dia memang terbiasa diam agak lama jika memikirkan sesuatu. Hanya saja ekspresi berpikir dia kali ini agak janggal. Hingga tiba-tiba aku sadar setelah melihat…astaga air liurnya kembali tumpah. Kurang ajar benar. Jadi aku bicara sampai berbusa-busa tadi hanya menjadi dongeng pengantar tidur saja. Hwaa…….

3 comments on “Cinta tak terungkap

  • Nah masalahnya aku adalah tukang akuntansi, yang terus terang masih bingung membedakan apakah menikah itu termasuk kategori assets, liabilities, equities, revenues, atau kah expense.

    dasar tukang akuntansi. segalanya diitung2. emang bisa ngitung salah orang?

    (^_^)v

    mau ketemu bidadari, mas? masuk surga aja sono. di dunia ga da bidadari soalnya.

    (^_^)v

    tulisan yg bagus. terus terang, lom baca penuh. kepanjangan. hwehe…

    ayo semangat nulis!

  • hehehe baru tau sisi lain seseorang yang dengan anehnya menyerahkan sejumlah uang ke Media Center dengan alasan ga mau jadi free rider.
    Semoga segera ketemu bidadarinya mas!

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: