​Cerita (Pendidikan) Bapak

Published Agustus 11, 2016 by pembawacerita

Aku ingat ketika masih SD, Bapak mengantarkanku beli buku Bahasa Indonesia di kota. Iya, pada tahun 1990an, Trenggalek adalah kota sedangkan aku tinggal di desa 7 kilo meter dari pusat kota. Tak lama setelah berangkat baru saja keluar rumah, tiba-tiba hujan deras. Bapak kemudian memutuskan untuk berteduh di rumah Pakdhe, tak jauh dari air hujan pertama kali turun. Hujan semakin deras dan kami ditemani teh hangat yang diseduh Budhe. Bapak ngobrol kesana kemari dengan Pakdhe.
Aku tak tahu apa yang diobrolkan karena aku sebel dengan suasana itu. Hujan deras. Dan aku kemungkinan ga jadi dapat buku bacaan. Sebelnya seorang bocah. Kira-kira seperti itu.
Tapi aku langsung sumringah ketika Bapak memutuskan untuk melanjutkan membeli buku setelah hujan reda. Kami melanjutkan perjalanan naik motor malam itu. Hingga sampai Cengkong (nama daerah kurang lebih 1 km sebelum masuk kota), hujan deras kembali mengguyur. Kami basah kuyup. Aku bilang kepada Bapak, “Pak, kita berhenti saja. Ngiyup (berteduh)”. Bapak menolaknya, “Sudah terlanjur basah, kamu harus dapat bukunya. Jangan sampai toko bukunya tutup sebelum kita datang”.
Bapak berhasil membelikanku buku tepat ketika pegawai mau menutup tokonya. Aku semakin merasa bersalah. Bapak diam saja dan kami pulang dalam kedinginan. “Nanti kamu akan tahu”, begitu kata Bapak. Tapi aku tetap tak mengerti, hanya merasa bersalah saja.
‘Clue’ dari Bapak itu mulai terbuka ketika aku daftar SMP. Dari SD-ku, hanya aku yang daftar di SMP N 1 Trenggalek. Bapak juga yang mengantarku daftar ke SMP.
Sepulang dari daftar sekolah itu, Bapak cerita. Dulu Bapak susah mau sekolah. Bapak sudah yatim sejak SD. Bapak ingin bekerja saja. Cari kayu di hutan kemudian di jual di pasar. Tapi mbah putri tetap bertahan untuk menyekolahkan anaknya yang ada delapan itu. Sepertinya mbah putri menaruh harapan besar untuk menyekolahkan Bapak bersama Pakpuh Miftah (Allahuyyarhum).
Kondisi yang sangat sulit. Tapi toh Bapak dan Pakpuh tetap dipaksa mbah putri untuk sekolah. Begitu seterusnya sampai bapak kuliah di IKIP Malang, lulus, kemudian membantu mbah putri menyekolahkan Paklik dan Bulik (adiknya Bapak). Bahkan menurut ibuku, Pakpuh Miftah (Allahuyyarhum) rela menikah diumur yang sudah tua untuk membiayai sekolah adik-adiknya dan membantu mbah putri.
Dari situlah aku memahami bahwa karakter mbah putri itu yang membentuk karakter Bapak. Hingga Bapak rela menembus dingin hujan malam hari hanya untuk sebuah buku Bahasa Indonesia buatku.
Itu cerita Bapak. Cerita yang justru membuatku prihatin dengan kondisi sekarang. Beberapa waktu lalu seorang kawan bercerita bahwa anak-anak dan orang tuanya mengancam akan berhenti sekolah jika kebijakan full day school diberlakukan Pemerintah. Alasannya, anak-anak itu harus membantu orang tuanya cari rumput untuk makan ternak. Sederhana sekali alasannya. 
Mungkin orang-orang seperti itu perlu sosok mbah putri di rumahnya. Aku pun berusaha berbaik sangka, semoga temanku itu justru tidak membakar kondisi hanya karena tidak suka dengan wacana full day school.
Sungguh ironi menurutku. Hanya karena tidam setuju dan alasan himpitan ekonomi, lantas membuang kesempatan mendapat ilmu dari sekolah. Beda sekali dengan mbah putri. Beliau tidak peduli dengan kebijakan Pemerintah, yang penting anak-anaknya semua harus sekolah bagaimana pun caranya. Apakah himpitan ekonomi sebagai single parent dengan delapan anak masih kurang menantang bagi orang jaman sekarang? Ataukah memang orang-orang jaman sekarang itu rendah adversity quotient-nya?
Semoga pendidikan di Indonesia tidak pupus hanya karena opini dan ketidaksukaan. Apalagi hanya sekedar kompor yang akan redup ketika tak lagi cukup bahan bakarnya. Semoga semakin banyak sosok-sosok sadar pendidikan seperti mbah putri di kemudian hari.
*ditulis di KRL Tanah Abang-Depok 11 Agustus 2016 dan diselesaikan pukul 20.57 WIB.

​Mem-full day school-kan Diri

Published Agustus 9, 2016 by pembawacerita

Ramai sekali di linimasa kontra full day school yang masih diwacanakan Pak Muhadjir Effendi. Berbagai alasan diargumenkan. Anak kelelahan. Anak butuh bermain. Anak butuh istirahat. (Jadi yang benar mana? Main apa istirahat?). 
Baiklah. Saya ingin cerita saja. Cerita masa remaja yang suram (duuuh…sedihnyaa). Cerita anak lelaki yang tiap kali tertarik kepada teman lawan jenis hanya berani ngomong kepada Tuhan. “Tuhan, aku naksir dia”. Namun semakin dia berdoa, semakin menjauh dambaan hatinya. Itulah saya kala itu, lelaki remaja yang tak pernah pacaran. Bukan karena ga naksir perempuan. Tetapi karena memang tak ada yang mau.
Setiap hari, saya, remaja jomblo ngenes ini, dulu selallu mengayuh sepeda pulang pergi sekolah dg jarak kurang lebih 7 km dari rumah. Memang ada bus angkutan umum. Tetapi saya lebih memilih bersepeda. Alasannya, bersepeda seringkali lebih cepat daripada naik bus. Sederhana, bus dan awaknya perlu duit sehingga harus ngetem beberapa kali di tempat-tempat strategis. Sedangkan saya ga butuh duit. Fokus hanya ingin ke sekolah dan menghabiskan dagangan kripik singkong yang setiap hari saya jual ke teman-teman sekolah. Lhaa…katanya ga butuh duit? Iya…itu alasan sok sip aja sih. Tapi yang jelas, statistik membuktikan, saya lebih sering sampai sekolah lebih cepat naik sepeda daripada naik bus.
Disisi lain, panas terik melanda ketika pulang sekolah siang hari. Bahkan setiap tiga hari sepekan saya sampai di rumah hanya untuk makan siang, istirahat sebentar, kemudian berangkat bimbel. Ciyeee bimbel…biar kekinian nih yee. Ketika berangkat bimbel, saya ga sepedaan lagi. Saya naik Vespa keliling kota sampai binariaaa….ups…itu lagunya Naif. Iya, naik vespanya Bapak karena bapak sudah sampai di rumah pula.
Hingga suatu waktu, saya ga bisa pulang sekolah karena hujan di siang hari. Daripada kuyup, lebih baik saya bertahan di sekolah. Disitulah saya bisa ngobrol dengan pakdhe dan mbokdhe di kantin. Kalau ngantuk, tidur di Musholla Nurul Iman. Apakah saya mengerjakan PR di musholla itu? Ooo…tidak, saya tidak serajin itu kawan. Cukup tidur saja. Kalau tidak begitu, ngobrol dengan teman-teman SKI. 
Walhasil, ini menjadi kebiasaan saya. Bahkan sampai kelas 3 SMU (kalau konteks sekarang berarti kelas 12), saat mata pelajaran olah raga dijadwalkan sore hari, ya saya tetep enjoy bertahan di sekolah. Tepatnya di musholla. Begitu seterusnya hingga saya sering pulang sore sampai rumah.
Cerita ini mengingatkan saya pada masa lalu yang kebijakan pendidikannya masih setengah hari sekolah. Tapi kenyataannya saya sering pulang sore sampai rumah. 
Saya saat itu hanya mengikuti ritme yang paling mudah saja. Namun belakangan saya menyadari. Keputusan mem-full day school-kan diri yang saya lakukan itu membawa berkah. Setidaknya telah mengikatkan hati saya sejak remaja (yang konon ngenes itu) dengan tempat ibadah. Padahal bukan untuk beribadah pada mulanya. Hanya sedikit waktu untuk shalat, kemudian tidur atau ngobrol dengan kawan-kawan. 
Apakah keputusan saya mem-full day school-kan diri itu salah? Justru menurut perasaan saya ga salah. Ini tepat banget. Justru seperti itu ternyata pendidikan karakter terbentuk. Weit…kok pakai perasaan? Lah…memangnya ga boleh mengukur pencapaian atau kepuasan dengan rasa? Ah, saya tidak ingin berdebat tentang rasa.
Kembali ke kebijakan full day school. Saya justru khawatir dengan mereka yang kontra atau menghujat full day school itu sebenarnya tidak tahu dengan konsepnya. Apa saja kegiatan anak di sekolah? Bagaimana mendesain kondisi pendidikannya? Bagaimana konsep manajemen kurikulumnya? Bagaimana manajemen tenaga pendidik dan kependidikannya? Bagaimana manajemen layanan khususnya, seperti kantin, catering dan sejenisnya? Yaaa…begini-begini walau pernah jadi jomblo ngenes waktu remaja, saya pernah belajar tentang manajemen pendidikan kok. 
Saya khawatir, para khalayak terjebak dalam “argumentum ad ignoratiam”. Berargumen seolah pendapatnya paling benar tanpa mengetahui terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi sehingga pendapat lain yang berbeda selalu dianggap salah.
Ah…kereta saya sudah sampai Stasiun Depok. Selamat malam para khalayak.
*Tulisan daripada nganggur di KRL

Kecintaan Bapak dan Dilema Kehidupan

Published Mei 31, 2016 by pembawacerita

image

Kedua jarum arloji saya membentuk sudut yang semakin lancip dengan salah satunya menunjuk angka 12. Sebentar lagi ganti hari. Saya melangkahkan kaki di Stasiun Gondangdia selepas ada acara untuk almamater. Sejurus kemudian pandangan saya tertuju pada pemandangan penuh haru. Seorang Bapak dengan dua anak kecil disamping kanan kirinya. Ada apa gerangan bocah kecil masih menyertai Bapaknya di waktu bocah seumuran dia sedang terlelap?

Saya menyempatkan ngobrol dengan si Bapak.
“Putranya pak?”
“Iya”
“Ikut kerja ya pak?”
“Iya”
Cukup. Berhenti dulu saya bertanya. Jawaban penuh kelelahan yang saya dapat. Satu kata yang hanya terdiri dari tiga huruf terucap lirih, pelan, dan sendu.

“Adik sekolah kelas berapa?”
Saya bertanya kepada anak  yang lebih kecil. Berharap mendapatkan jawaban yang lebih segar.
“Dia belum sekolah”
Si Bapak menjawab dan anak kecil yang tetap diam.

“Setiap hari dia ikut Bapak kerja ya?”
“Ya kalo dia pengen ikut aja ga bisa dilarang”
Masih dengan nada lemas.
“Kalo abangnya itu sudah sekolah pak?”
“Sudah. Kelas tiga. Tapi dia ga mau sekolah. Badung. Sebenarnya kalau badungnya sih saya maklum. Wajar lah ya bocah segini badung. Yang saya ga habis pikir itu dia ga mau sekolah itu lho. Ibarat kata, ga apa-apa Bapaknya bersusah-susah begini tapi dianya mau sekolah. Eh…ini malah ga mau sekolah. Di kasih uang jajan, buat main di warnet. Ikutan teman-temannya. Dibilangin alus (maksudnya dinasehati.red), ga dianggep. Dikerasin, ngambek. Sayanya yang repot ya. Saya kan ga mungkin hanya ngurusin dia. Ada kakaknya dan adik-adiknya yang lain. Anak saya  lima. Sehari-hari ya begini.”
Hufh…pertama, akhirnya keluar juga omongan dari si Bapak. Kedua, semua yang dibicarakan menggambarkan betapa berat beban hidupnya. Ketiga, si Bapak tidak tahu memulai mencari solusi dari mana. Keempat, nada lelah masih mendominasi kata-katanya.

“Bapak coba anaknya didoakan ya pak”
Ekspresinya dingin. Tidak jelas dia mengangguk setuju atau kah memang lemas raganya karena letih seharian bekerja. Dan KRL pun datang sekian detik kemudian.

Para penumpang menawarkan tempat duduk untuk si Bapak dan dua anaknya. Tapi tak ada yang mau menerima tawaran itu. Saya bujuk si bocah, tetap saja tak mau.

Hingga sampai Stasiun Manggarai, si bocah besar merasa lelah kemudian duduk di bangku prioritas. Si Bapak pun masih tetap berdiri menyandarkan dahinya diatas lengan yang menempel di pintu KRL. Betapa lelah si Bapak ini, saya hanya membatin.

Sepanjang perjalanan saya terbayang bagaimana rasa cinta seorang bapak kepada anaknya. Hingga sang anak ingin selalu merasakan dekat dengannya. Pemandangan ini mengingatkan saya pada kisah hubungan bapak dan anak yang terbaik dan diabadikan dalam Al Qur-an. Anak memanggil bapaknya dengan ‘abati’ bukan ‘abi’ dan bapak memanggil anak dengan panggilan ‘bunay’ bukan ‘ibn’. Panggilan ‘abati’ yg diabadikan itu pada umumnya digunakan oleh anak yang kangen dengan bapaknya karena sang bapak jauh darinya. Demikian pula panggilan ‘bunay’ oleh sang bapak kepada anaknya. Tapi panggilan itu tetap digunakan dalam kisah abadi walaupun bapak dan anak sedang dalam interaksi langsung, face to face. Ini menunjukkan betapa dekat hubungan cinta antara bapak dan anak. Walaupun mereka sedang bersama, mereka tetap saling rindu dan ingin selalu bersama.

Namun tidak dipungkiri juga bahwa pemandangan itu tersurat kegalauan si Bapak akan masa depan anaknya. Bukan jumlah anaknya yang banyak yang dirisaukan. Tapi bagaimana dia memotivasi anaknya agar mau bersekolah. Kini dia menjumpai fakta demotivasi  sekolah pada anaknya.

Saya sebenarnya ingin memberikan beberapa saran kepada si Bapak. Namun saya mengurungkannya karena memahami bahwa di sisi lain si Bapak harus bekerja keras untuk memberi nafkah keluarga. Pikiran saya dikacaukan dengan perhitungan berapa keuntungan menjual tisu di jalan sabang dari siang hingga malam. Itulah kegiatan si Bapak sehari-hari. Itu pun masih harus dikurangi hitungan transport Citayam-Jakarta.

Di satu sisi, saya berharap besar si Bapak ini tidak hanya mendapatkan ‘ikan’ dari orang lain. Namun di sisi lain, jika si Bapak diberi ‘kail’ itu juga memerlukan proses, waktu, bimbingan, dan pengawasan dalam menggunakan ‘kail’ itu.

Sampai menjelang Stasiun Depok, saya masih bingung menentukan ending olah rasa ini.  Namun akhirnya saya tetap memilih ending cerita yang tak sesuai dengan harapan ideal saya.

Setiap kita memiliki peran untuk lebih bermanfaat. Bukan hanya untuk diri pribadi, tapi juga semakin bertambah spektrumnya meliputi lapisan keluarga, kemudian sesama, dan lingkup besar kenegaraan. Spektrum ini berkembang natural. Tidak mungkin seseorang ingin memberi manfaat kepada negara jika belum selesai dan berkelanjutan spektrum manfaatnya untuk keluarga dan sesama.

Inilah nilai Dharma Kasatriyan yang saya pelajari dari budaya yang lahir di bumi nusantara ini. “Memayu hayuning jiwa, memayu hayuning kulawarga, memayu hayuning sasama, lan memayu hayuning bawana”.

Profesionalisme Cinta dan Gagal Move On

Published Mei 5, 2016 by pembawacerita

Kemarin gue berkelakar dengan senior. Ceritanya doi baru nonton AADC 2. Hehehe…biar kekinian gituh.  Gue ga ceritain senior gue itu ya guys. Gue pengen cerita tentang Cinta. Ciyeee…gokil.

Hingga pembahasan kami sampai pada adegan yang momentum, intonasi, makhrajul huruf, dan hukum saktah-nya paaaas banget. “Rangga, apa yang kamu lakukan itu…..jahat!”. Bagi yang belum tahu saktah, saktah itu hukum bacaan Al Qur-an dengan menghentikan bacaan sejenak tanpa mengambil nafas dan tidak boleh kempis-kempis. Tempatnya hanya ada empat di dalam Al Qur-an. Jangan tanya Cinta ya, gue ga yakin dia tahu dimana letak saktah. Tapi dia berhasil mengatakan “jahat” itu pas banget. Kalo dikira-kira Cinta itu berhenti di saktah “jahat” itu tepat dua harakat tak kurang dan tak lebih.

Padahal menurut gue seharusnya yang berkata “jahat” itu bukan Cinta, tapi indraguna. Dulu sebelum menikahi Cinta, indraguna ini sudah dapat bekas bibirnya Rangga. Eh, sekarang sudah menikahi Cinta, kok bibirnya Cinta cium Rangga kok diam saja. Dua kali pula. Ditonton orang banyak pula. Sudah kayak begitu kok tidak cemburu.

“Oh…itu kan profesionalisme sebagai aktris dan aktor bro! Please deh ga usah baper gitu. Lo-nya aja yang mupeng pengen nyium Cinta tapi ga kesampaian kan?”

Walah, ini namanya jaka sembung uber-uberan, sok nyambung akal-akalan. Jujur ya, lelaki manapun pasti seneng kalo dicium Cinta. Tapi lelaki kayak gue ini tau diri kok. Masalahnya guys, bukan sekedar seneng atau ga seneng, ini masalah prinsipil. Ini masalah kepribadian. Ingat kata Rangga dulu waktu masih pake putih abu-abu. “Apa namanya kalau bukan tak punya kepribadian? Mengorbankan untuk sesuatu yang tidak prinsipil”.

Kalo gue nih, nikahin perempuan itu perjuangan banget. Apalagi Cinta. Eh, giliran sudah dinikahi kok malah dicium orang lain. Menurut gue ini prinsipil banget. Ini prinsipil di dunia. Dan jangan lupa, di akherat juga prinsipil. Lo ga percaya?

Nih gue kasih tau ada hadits “Tiga golongan yang tidak akan masuk syurga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan dayuts.” (HR. Nasa’i 5 :80-81; Hakim 1: 72, 4 : 146, Baihaqi 10 : 226 dan Ahmad 2 : 134). Kata para ulama, dayuts itu lelaki yang tak punya rasa cemburu.

Nal lho…kebayang kan, apa sih enaknya? Dulu dapat second, setelah dimiliki masih dipake atau disewa orang lain. Lo kate bini lo angkot! Sudah ga enak di dunia, di akherat diancam tak masuk surga. Lengkap sudah penderitaan lo guys!

Nah, kalo lo bilang itu profesionalisme sebagai aktris, sekarang gue tanya, profesionalisme sebagai istrinya mana? Jadi istri juga harus profesional, guys. Kalo sudah teken kontrak jadi istri orang, ya harus sonsistem eh…sonsisten dong. Profesional sama suami dan mematuhi kontrak. Ini kontraknya disaksikan seluruh malaikat di langit lho. Jadi jangan gampangin melanggar kontrak. Apalagi sampe orang lain bebas keluar masuk. Lo kate bini lo angkot! Nih gue ulang sekali lagi biar kerasa.

Itu si Rangga juga ga jelas. Orang ga jelas gitu lo bilang profesional sebagai aktor. Profesional dari hongkong! Ga move on itu baru bener. Itu kalo baper beneran ya. Gini ya guys, kalo statusnya sudah jadi istri orang, janur kuning sudang melengkung, kalo lo masih ga move on, tunggu bendera kuning ya. Keburu tua lo ga kawin-kawin.

Itu kalo aktornya baper. Tapi kalo ga baper, ya syukur lah eh…kurang ajar lah. Masa’ nyium istri orang. Apa namanya kalo ga kurang ajar. Apalagi kalo sampe tangannya grepe-grepe. Udah mirip copet angkot kan?

Jadi profesionalisme seperti apa yang lo maksud? Profesionalisme kerjasama copet angkot sama angkotnya?

Please ya guys. Move on ya, jangan terjebak dalam pemahaman yang dangkal tentang profesionalisme. Ingat ya guys, pendidikan itu berawal dari rumah. Termasuk pendidikan profesionalisme.

Ini cerita gue, gue Wipy, bukan Borne mantannya Cinta.

Pendidikan dan Kepercayaan

Published Mei 2, 2016 by pembawacerita

Konon jaman yang tak begitu dahulu, saya menyampaikan hasil ujian catur wulan matematika SD kepada ibu. Ibu membaca jawaban saya yang salah. Ibu kemudian berkata, “Lho, jawabanmu ini kan benar? Kok disalahkan sama Bu Guru?”. Sebagai anak yang masih bau kencur, saya tidak tahu mengapa jawaban itu disalahkan. “Ga tahu, buk”, jawab saya sambil ganti baju seragam. Kebiasaan yang ditanamkan ibu adalah segera ganti seragam sekolah setelah sampai rumah.

 

Ibu kemudian membuat catatan di selembar kertas yabg isinya menerangkan jawaban soal ujian catur wulan matematika itu. “Ini ibu sudah buat catatan, kalo kamu mau, kamu kembali ke sekolah sekarang dan sampaikan ke Bu Guru kalo jawabanmu benar. Ini penjelasan dari ibu”. Ibu saya itu guru matematika SMP. Jadi guru matematika SD saya percaya dengan ibu dalam beberapa kali penjelasan sebelumnya.

 

Saya memakai baju seragam sekolah lagi kemudian bergegas kembali ke sekolah. Saya menyampaikan catatan dari ibu kepada Bu Guru. Setelah membacanya, Bu Guru menulis catatan balasan untuk ibu. “Mas Wirawan, ibu guru sudah benarkan jawabannya yaa. Selamat yaa, nilainya sempurna. Terus ini ibu guru nitip buat ibu yaa”. Saya senang sekali dan pulang kembali dengan wajah berseri-seri.

 

“Gimana hasilnya?”, tanya ibu yang sudang menunggu di depan pintu. “Yeaaiiiy…dibenerin sama Bu Guru”, saya mennyampaikan hasilnya setengah berlari. Kombinasi yang komplit antara senang dengan hasil ujian dan buru-buru ganti baju karena mau main sehingga saya hanya menyerahkan begitu saja catatan Bu Guru kepada ibu.

 

“Bu, aku main yaaaa…”. “Eiiit…tunggu dulu”, tetiba ibu menghentikan langkah saya. “Coba ini surat Bu Guru dibaca”. Saya membaca dan tidak mengerti. Ibu kemudian menjelaskan, “Waktu ujian, ibu guru membuat pengumuman ralat soal. Diantara dua angka itu seharusnya ada tanda kurungnya. Nah, kamu pasti tidak mendengarkan pengumuman itu. Makanya jawabanmu disalahkan sama Bu Guru”. Ibu kemudian menjelaskan perhitungan jika menggunakan soal yang sudah diralat. Hasilnya memang berbeda. Jawaban saya salah. “Besok, di sekolah, minta maaf sama Bu Guru ya”.

 

Sekarang ketika sudah beranak istri, saya baru menyedari betapa interaksi antara ibu saya dengan Bu Guru itu adalah interaksi kepercayaan dalam pendidikan. Ibu mempercayakan pendidikan saya kepada guru. Ibu juga melakukan pengawasan atas hasil pendidikan saya. Ibu juga berkomunikasi dengan guru-guru saya. Demikian pula Bu Guru mempercayai ibu saya, bukan hanya sebagai wali murid tetapi juga respek sesama profesi guru. Karena itu lah jawaban saya yang salah itu dibenarkan oleh Bu Guru. Mungkin dalam hati Bu Guru bergumam, apalah arti nilai dibandingkan kepercayaan yang sudah terjalin rapi.

 

Cerita saya ini cerita nyata. Sangat indah jika saya mengingatnya. Jauh dibanding kisah fiktif pendidikan yang diangkat ke layar lebar atau sinema rumahan. Di sebuah sinema elektronik, ada cerita sekolah yang isinya hanya kepala sekolah dan guru yang sama-sama dandan seksi. Di latar yang sama, cerita dibumbui dengan petugas sekolah (baca: school officer atau OB-nya sekolah) yang ganteng dan naksir Bu Guru. Ditambah sega keruwetan murid-murid yang manja, centil hingga menyebalkan. Pemain sengaja dipilih yang muda, cantik, dan ganteng serta pakai rok mini. Kemudian dibumbui cerita asmara tak bermakna dengan penuh konflik drama yang tak berkesudahan.

 

Tak kalah di film layar lebar, saya ambil contoh “Catatan Akhir Sekolah”. Cerita yang di-setting konflik permusuhan antara guru dan murid. Murid yang tak lagi percaya kepada Guru dan merekam ada penyuapan yang dilakukan oknum wali murid kepada guru. Cerita sampah yang disajikan kepada publik yang sebenarnya dahaga dengan kisah teladan.

 

Cerita sinema dan film itu memang hanya fiktif belaka. Di ungkapkan pula di sinema itu penegasan di awal sebelum diputar dengan layar hitam dan tulisan putih bahwa cerita ini adalah fiktif belaka, kesamaan nama dan kharakter hanya kebetulan dan tidak disengaja. Menurut saya ini pembodohan sistematis. Dikiranya manusia itu hanya otak saja. Jika sudah dijelaskan itu cerita fiktif, lantas manusia pasti akan otomatis bisa memisahkan dengan kenyataan kehidupan. Padahal, cerita rekayasa itu diputar setiap hari, dihadapan publik, hingga menjadi pembiasaan. Ini yang diserang kebiasaan. Agar pemirsanya, terutama anak-anak itu dari alam bawah sadarnya berbuat seperti kebiasaan di cerita fiktif itu.

 

Saya lebay? Tidak. Ini ada teorinya. Lihat saja bagaimana Pavlov mengubah kebiasaan anjing yang tadinya hanya mengeluarkan air liur ketika diperlihatkan makanan. Dengan kebiasaan yang bertahap, intensif, dan memerlukan waktu, kebiasaan anjing itu berubah menjadi mengeluarkan air liur ketika dibunyikan lonceng walau tak ada makanan. Teori ini dikenal dengan teori behaviorisme dalam psikologi pendidikan.

 

Saya tidak dalam mengkritisi kebijakan pendidikan itu. Namun, saya perlu menyampaikan ada ancaman distorsi pendidikan dari lingkungan, diantara contohnya adalah pembodohan masal melalui sinema fiktif yang dikemas berlatar pendidikan yang saya ceritakan tadi.

 

Mungkin insan pendidikan sudah berupaya keras memikirkan pendidikan. Tapi bagaimana menghadapi lingkungan distortif seperti itu? Saya memilih mengembalikan kepada ontologi kewajiban pendidikan, darimana asal pendidikan itu berasal. Pada agama yang saya anut, Islam, Allah lah pemilik segala ilmu. Allah-lah yang akan menurunkan ilmu. Karena itulah hukum dasar Allah yang saya pilih dalam mengembalikan kewajiban pendidikan ini.

 

Dalam Al Qur-an, keluarga merupakan entitas pemilik kewajiban pelaksanaan pendidikan. Hanya karena kondisi yang berkembang saja kemudian ditunjuk satu profesi guru dan entitas khusus bernama sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan. Karena perkembangan distorsi pendidikan juga semakin kuat, maka pengembalian kewajiban kepada entitas pemiliknya menjadi sangat penting.

 

Keluarga lah tempat mendidik anak. Karena itu penting bagi orang tua berinteraksi etes to eyes, skin to skin, dan laugh to laugh. Oleh Karena itulah keluarga saya berusaha sebaik mungkin ketika sampai di rumah itu melakukan kegiatan yang sifatnya interaksi langsung. Ini pendidikan nyata. Bukan fiktif belaka seperti di karangan cerita. Mungkin suatu saat nanti, anak-anak saya baru menyadari, seperti halnya saya menyadari bagaimana ibu berinteraksi dengan guru saya, bahwa pendidikan itu bukan hanya di sekolah. Tetapi justru yang utama adalah di rumah.

 

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016

Dari seorang lulusan Manajemen Pendidikan UM 2015

 

*Dibuat selama mengantri di Kantor Imigrasi Depok dan perjalanan KRL Depok-Karet.

 

 

Trickle down effect (Pegawai) Pajak

Published April 25, 2016 by pembawacerita

Ketika kita berbicara tentang trickle down effect, kita akan diingatkan pada suatu teori ekonomi bahwa kemakmuran orang kaya memiliki dampak ikutan yaitu menyejahterakan kalangan bawah. Saya melihat teori ini dilandasi oleh sifat dasar manusia yang tidak dapat hidup sendiri karena manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial. Selain itu, manusia memiliki kecenderungan konsumtif atas apa yang mereka miliki. Namun, perkembangan teori ini diidentikkan dengan pendekatan kapitalisme karena tidak sedikit persepsi yang terbentuk seperti lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama, “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”.

Sudah cukup sampai disini saja pembukaannya. Saya tidak dalam rencana membuat artikel perkuliahan ekonomi. Saya hanya ingin sharing pengalaman tentang trickle down effect pada diri saya sendiri. Dan saya sengaja memililih judul trickle down effect ini dihubungkan dengan pegawai pajak. Bukan tanpa sebab. Saya masih meyakini sebagai mantan calon pegawai pajak. Saya adalah lulusan STAN yang tidak jadi memilih Direktorat Jenderal Pajak sebagai tempat saya bekerja.

Setelah lulus STAN, saya memilih untuk masuk ke BPK. Instansi yang tidak banyak dipilih saat itu. Salah satu sebabnya adalah faktor take home pay pegawai BPK yang rendah. Namun entah petunjuk Tuhan atau kah keinginan pribadi, saya nyaris tak bisa membedakan, saya justru memilih instansi itu.

Pada awal di BPK, saya mengalami kesulitan finansial karena gengsi. Saya sudah lulus kuliah, pantang untuk minta kepada orang tua lagi. Malu rasanya. Oleh karena itu, saya berusaha untuk menyembunyikan segala kebutuhan hidup saya dari orang tua. Akibatnya, saya harus bersusah-susah menghemat honor sebagai anak magang di BPK.

Ketika sudah diangkat menjadi CPNS pun, take home pay dari BPK persis hanya bisa mencukupi untuk saya hidup tak meminta-minta. Hingga suatu ketika muncul keinginan menggebu-gebu untuk melanjutkan kuliah S1. Saya mencari informasi perguruan tinggi. Bukan bonafide atau kualitas perguruan tingginya yang saya cari. Tapi perguruan tinggi yang cara membayarnya memudahkan saya. Akhirnya ketemulah saya dengan pilihan Universitas Mercu Buana. Biaya kuliah relatif bisa diangsur tiap bulan. Ini yang tidak mengganggu cach flow pribadi saya.

Namun, saya ragu apakah saya bisa masuk ke S1 Akuntansi UMB? Saat itu biaya ujian masuk dan sebagainya menuntut saya untuk memiliki uang Rp1,5 juta. Dan saya tidak punya uang sebesar itu. Hingga seorang sahabat luar biasa, saya sebut saja namanya, Yulianto Teguh Nugroho, meyakinkan saya. Jika mau kuliah, kuliah saja. Biaya bisa menggunakan dana angkatan.

Angkatan kami memiliki dana angkatan untuk mengurus berbagai administrasi kepegawaian seluruh kawan seangkatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Kebetulan sebelum saya definitif masuk BPK, saya dipercaya kawan-kawan untuk menjadi Bendahara Angkatan. Jadi saya yang memegang dana angkatan kami. Nah, Yulianto menyarankan saya untuk memakai dana angkatan itu. Nanti setelah punya uang baru saya kembalikan ke dana angkatan lagi.

Saya menerima dengan senang hati usulan Yulianto. Saya sampaikan juga ke beberapa kawan pajak saya. Mereka tidak keberatan. Mereka justru mendukung saya untuk melanjutkan kuliah. Akhirnya, saya memakai dana angkatan itu untuk pendaftaran kuliah di UMB.

Pada mulanya, saya memperkirakan bisa mengembalikan uang Rp1,5 juta itu dalam waktu cepat. Tapi ternyata saya salah. Kuliah membutuhkan banyak pengeluaran. Termauk diantaranya adalah belanja buku. Maklum, selama saya kuliah di STAN, belanja buku saya sangat sedikit karena literatur utama sudah disediakan kampus. Wal hasil, saya tidak bisa mengembalikan dana angkatan dalam waktu cepat.

Setelah hampir satu semester, saya baru bisa mengumpulkan uang Rp1,5 juta. Kemudian saya sampaikan uang itu ke kawan-kawan pajak saya. Kebetulan saat itu kami semua sedang ada acara futsal bareng. Kemudian dengan santainya mereka berkelakar, “Oalah Wip, uang cuma segitu aja kamu balikin. Wis kami ikhlas kok”. Sekali lagi, ini nadanya berkelakar ya. Bukan sombong. Saya memahami itu. Lagipula saat itu kawan-kawan saya baru saja dapat rapelan yang nilainya tidak sedikit. Jadi wajar kalau nilai Rp1,5 juta itu mau diikhlaskan karena tidak material. Tapi lagi-lagi saya gengsi. Malu jika tidak mengembalikan. Akhirnya saya serahkan kembali uang angkatan Rp1,5 juta itu kepada kawan-kawan saya.

Cerita ini hanya skelumit kisah saja. Bahwa trickle down effect itu bukan permasalahan kapitalis, sosialis, atau paradigma ekonomi jumud yang justru memecah persatuan dan persaudaraan. Dari kisah itu pula saya belajar bahwa trickle down effect itu terasa benar bagi saya yang posisinya lebih miskin daripada kawan-kawan saya di Pajak. Apakah saya iri? Justru pengalaman trickle down effect ini yang meyakinkan saya bahwa saya memiliki banyak kawan-kawan di Direktorat Jenderal Pajak yang baik dan suka berbagi.

Menurut saya, permasalahan utamanya bukan pada paradigma trickle down effect-nya, tapi manusia yang memandangnya. Jika kita memandang, trickledown effect merupakan salah satu bentuk keberkahan rejeki, maka itu pula yang kita dapatkan. Perseis seperti kisah saya itu. Namun jika ada orang yang melihat trickle down effect itu hanya hipokrisi, mungkin orang itu kurang piknik. Dia mungkin tidak memiliki kawan-kawan dekat dan baik hatinya. Dia mungkin terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan memandang dunia ini sangat sempit. Kasihan yaa orang seperti itu.

Karena itulah saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang meratapi take home pay dari kantor-nya yang dianggapnya tidak banyak. Dia kemudian membanding-bandingkan dengan kantor lain ibarat melihat rumput tetangga lebih hijau dari rumput halamannya. Dia mungkin juga menghina, menyalahkan, dan menebar sakit hati dengan instansi lain hanya karena perbedaan take home pay. Sudah lah, hidup ini indah dan Tuhan itu Maha Kaya. Tidak mungkin Tuhan menciptakan kita, makhluk yang paling sempurna dari makhluk yang lain ini dengan beban hidup yang harus diratapi apalagi dicaci maki.

Pada akhir cerita ini, saya ingat kata-kata indah dari Imam Hasan Al Bashri….“Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, kerana itulah hati-ku selalu tenang”.

 

Ditulis ditengah keresahan dan dalam rangka rehat dari penyusunan “Transparansi Fiskal” @CrownePlazaHotel 25.04.2016

 

Kekayaan Tanpa Keberkahan

Published Februari 26, 2016 by pembawacerita

Alhamdulillah pagi ini hujan di Depok. Alhamdulillah lagi, hujan reda ketika saya berangkat kerja. Seperti biasa ketika hujan, pertigaan GDC selalu macet. Istri dan sekaligus ojek cinta saya bertanya “kenapa kalau hujan selalu macet di sini ya, bi?”

Pasti ada genangan air di jalan. Dan sekecil apapun genangan berdampak pada pengendara akan mengurangi kecepatannya. Sebab lain, hujan menjadi alasan orang yang memiliki mobil untuk mengeluarkan mobilnya, baik untuk bekerja atau pun hanya mengantar anggota keluarganya ke kantor, stasiun, atau ke sekolah.

Kemacetan semakin parah di jalan akses Stasiun Depok. Ratusan motor dan pejalan kaki mengantri. Saya melihat di depan ada mobil ikut mengantri juga.

Saya menghentikan motor di ujung jalan dan istri saya kembali tanpa sampai di depan stasiun. Saya kemudian berjalan menuju stasiun. Jalan akses yang lebarnya pas untuk dua mobil itu sangan sesak. Terlihat tidak ada selusin mobil di depan. Saya memutuskan untuk memberi pelajaran kepada mereka.

Saya mempercepat langkah. Ketika berpapasan dengan mobil, saya berhenti di depannya dan saya lihat muka pengemudinya. Saya menyusup diantara celah dua mobil yang berpapasan. Alhamdulillah badan saya muat. Saya pukul kedua mobil itu. Sejauh itu tak ada respon. Kedua pengemudi tetap di dalam mobil.

Demikian seterusnya, saya memukul mobil-mobil di jalan akses Stasiun Depok. Sesekali terdengar suara pejalan kali, “yang lebih keras pak”. Tapi tak mungkin lebih keras lagi. Saya lebih sayang tangan saya daripada body mobil orang lain. Lagi pula tujuan saya hanya untuk memberi pelajaran, bukan untum merusak.

Hingga sampai ujung jalan di depan stasiun, saya pukul dua mobil yang berpapasan. Salah satu pengemudinya membuka kaca dan berteriak keras, “Woeiy, mas! Jangan pukul-pukul mobil dong! Saya juga tak mau ada di sini!”. Awalnya tak saya hiraukan. Dia tetap berteriak-teriak. “Woeiy! Woeiy!”. Saya pandang dia, “Lo tu biangnya macet!”. Lantas saya bergegas masuk stasiun.
Saya tak tahu apa yang dia lakukan kemudian. Yang jelas dia tak mungkin mengejar saya. Bagaimana mungkin, keluar mobil saja tak mungkin karena begitu sesaknya jalan.

Lagi, saya tidak melihat dari sisi peraturan. Memang tak ada rambu mobil dilarang masuk ke jalan akses stasiun. Tapi ini masalah rasa hati.

Rasa yang peka dengan kondisi di sekitarnya. Semua juga tahu hujan baru saja reda. Semua pengguna moda transportasi KRL juga tak ingin kehujanan sebelum berangkat kerja. Semuanya sama.

Pembedannya adalah oknum yang tak ada selusin orang membawa mobil masuk ke jalan akses stasiun. Benar mereka memiliki kekayaan berupa mobil. Beberapa bahkan mobil mahal dan berkelas. Tapi keberadaan mobil yang tak sampai selusin itu menghambat perjalanan ratusan orang yang sama-sama ingin mencari nafkah untuk keluarganya.

Saya meragukan kejernihan pikiran dan perasaan oknum-oknum itu. Semua tahu kalau naik mobil akan terhindar dari hujan. Tapi oknum-oknum ini pemalas. Tak mau mencari cara bagaimana terhindar dari basah air hujan tanpa menyusahkan orang banyak. Sebenarnya kalau rasa mereka masih jernih dan pikiran mereka masih waras, mereka bisa mencari cara sederhana. Misalnya oknum pengemudi mengantar sampai ujung depan jalan akses, kemudian yang diantarkan jalan berlindung payung atau jas hujan menuju stasiun. Mereka mampu membeli mobil,sehingga saya yakin mereka mampu juga membeli payung. Ini memang bukan alasan kemampuan, tapi kemauan. Mereka malas untuk berjalan. Ini bahasa halus kalau mereka tak mau dibilang lumpuh kemauan kakinya.

Benar mereka punya mobil sebagai kekayaan mereka. Tapi melihat fenomena egosentris seperti itu, saya percaya kekayaan yang mereka miliki itu tidak membawa keberkahan. Kekayaan mereka justru mempersulit orang lain. Maka jangan kaget jika suatu saat mereka akan dipersulit kekayaannya itu. Fenomena pagi ini adalah fenomena yang menunjukkan kekayaan tanpa keberkahan. Kekayaan tanpa makna. Benar kekayaan itu ada, tetapi keberadaannya tidak membawa manfaat yang lebih besar.

Semoga saya dan keluarga terhindar dari kekayaan tanpa keberkahan.

*di dalam KRL Depok-Tanah Abang