La Seine et La Marne

Published Oktober 22, 2017 by pembawacerita


Nicolas Coustou membuat patung ini untuk menggambarkan kesejahteraan rakyat Perancis diantara dua sungai. Sungai Seine dan Sungai Marne menjadi sumber kehidupan. Ini terlihat dari dayung yang dipegang sosok ayah pada patung itu. Hanya dengan berbekal dayung, perahu, dan jala untuk mengeksploitasi kekayaan sungai, Sang Ayah sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Nafkah lahir dan batin untuk istrinya dan kebahagiaan untuk dua anaknya seperti yang ingin diungkapkan Coustou pada karyanya yang diterpampang di Jardin des Tuileries.
Ada makna positif jika hendak menelisik lebih dalam. Pertama, Perancis sangat menghargai karya anak adam. Karya Nicolas Coustou lainnya juga terpampang di tempat yang sama. Coustou sendiri terkenal sebagai pematung dengan makna-makna humanisme. 
Kedua, pemahaman akan kekayaan alam suatu negara penting untuk diabadikan dan terus-menerus disampaikan lintas generasi. Ini menjadi bagian dari kebanggaan sekaligus optimisme. Bangga memiliki kekayaan alam yang sudah cukup, sekali lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kebutuhan hidup dan keluarga sudah terpenuhi, lantas apalagi yang akan dicari. Selain itu juga memberikan nilai optimisme bahwa sudah cukup makmur dan bahagia dengan kekayaan alam yang ada berarti kemandirian. Tak tergantung dengan negara lain karena mampu mengoptimalkan kekayaan yang dimiliki negara.
Ketiga, begitu berharganya alam maka menjadi keniscayaan untuk menjaganya. Karya Coustou yang mengangkat nilai humanisme ekonomi tersebut memberikan makna positif pula agar sumber kehidupan harus dijaga. Sungai Seine dan Sunga Marne harus tetap dijaga agar tidak tercemar sehingga bisa bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
*tulisan di Kereta Maastricht-Amsterdam

Iklan

Kepada siapa kita minta tolong menghindari riba?

Published September 14, 2017 by pembawacerita

*Wipy (Bendahara LaaRiba BPK)

Retorika. Semua juga tahu bahwa jawabannya adalah Allah.⁠⁠⁠⁠ Oleh karena retorika saja, dan semua juga sudah tahu bahwa jawabannya sama, yaitu Allah, maka langkah yang paling prinsipil dalam memohon pertolongan dari Allah adalah menguatkan TAUHID.

Teoritis? Tidak. Komitmen terucap menjadi langkah kesungguhan. Keyakinan hati menjadi kunci. Perwujudan tindakan menjadi realisasi keyakinan.

Kita semua tahu, bahwa insyaAllah semua anggota LaaRiba BPK ini memiliki komitmen baik tertulis maupun terlisan akan menghindari riba, menyelesaikan permasalahan riba, dan tidak berhubungan dengan riba kembali. Secara pribadi saya tidak menyangsikan lagi.

Lantas untuk apa saya menulis ini? Saya berharap tulisan ini bisa membantu memperkuat keyakinan hati dan menumbuhkan keinginan mewujudkan tindakan untuk meminta pertolongan Allah.

Pertama, jika kita meminta pertolongan dari Allah untuk memusuhi riba, itu sudah benar sekali. Saya perlu mengingatkan kembali bahwa riba memang berdampak besar, penyakit peradaban sejak jaman Nabi Sulaiman, dan membawa bencana bagi kehidupan manusia, baik pribadi maupun lingkup besar kemasyarakatan. Maka dari itu, Allah dan Rasul-Nya langsung yang akan memerangi riba. Ini mensyaratkan kepada kita bahwa tanpa pertolongan Allah, tidak mungkin kita bisa melawan Riba. Mari kita ingat kembali firman Allah SWT:

فَاِنْ  لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ۚ  وَاِنْ تُبْتُمْ  فَلَـكُمْ رُءُوْسُ اَمْوَالِكُمْ ۚ  لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ

“Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 279)

Masihkah kita berpikir dua kali untuk menggantungkan diri pada manusia agar menolong kita dari bencana riba? Jika masih berpikiran seperti itu, kita harus introspeksi diri, seberapa besar keyakinan kita kepada Allah. Termasuk keinginan kepada komunitas Laariba juga. Adalah tidak tepat jika harapan mendapat pertolongan dari komunitas ini menjadi tujuan utama. Maka kita harus kembali meluruskan niat, bahwa pertolongan hanyalah dari Allah karena hanya Allah yang mampu mengalahkan peperangan melawan Riba.

Kedua, lantas langkah apa yang harus kita wujudkan agar mendapat pertolongan?
Langkah pertama adalah Sholat. Perbanyak sholat. Tingkatkan kualitas sholat. Begitu tingginya sholat, sampai Allah memberitahu Rasulullah dalam hadits qudsi…

qasamtush sholata bayni wa bayna ‘abdi nishfain … Aku membagi sholat antara aku dan hamba-Ku dua bagian

fanishfuha lii …sebagian untukku

fanishfuha li ‘abdi …sebagian lagi untuk hamba-Ku

wa li ‘abdi maa sa ala …dan untuk hamba-Ku apa-apa yang ia minta

Maka pada saat kita sholat mengucapkan:
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 5)

Allah mengatakan hadza bayni wa bayna ‘abdi, wa li ‘abdi maa sa ala … ini antara Aku dan hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa-apa yang ia minta.

Bayangkan, kita belum selesai sholat, bahkan kita baru mulai sholat, masih berdiri, dan Allah sudah mengetahui hasrat keinginan kita. Lebih dari itu, Allah berjanji mengabulkan semua permintaan kita. Atau jangan-jangan diantara kita sudah pernah merasakan Allah telah memberi sebelum kita minta? _Wa’dallahi haqqa_…Janji Allah adalah benar.

Langkah kedua adalah sabar. Langkah ini sangat penting untuk mendapat pertolongan Allah. Karena itulah Al Qur-an menggandengkan sabar dan sholat agar kita mendapat pertolongan Allah.

Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 153)

Mudah ya? Memang mudah. Tapi kita harus waspada jika masih merasa berat.

Allah SWT berfirman:
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ  وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 45)

Jika bertindak sabar masih dirasa berat, maka kita harus kembali memperbaiki sholat kita agar lebih khusyuk. Lagi-lagi kuantitas dan kualitas sholat harus ditingkatkan.

Masih berat juga? Sudah berniat menghindari riba, ternyata setelah berhenti justru tanggungan semakin berat. Didenda bank lah, anak merengek minta jajan disaat uang jajannya kita kurangi lah, istri/suami protes karena kurang piknik, gelisah, takut, antrian qardh dari Laariba tak kunjung dekat, rasanya mau marah. Wajar. Kita harus berkhusnuzhon kepada Allah. Ini bagian dari keputusan Allah untuk membersihkan kita dari dosa-dosa riba akibat keputusan kita bertransaksi riba. Berat? Wajar jika berat. Bukankan dosa riba yang paling ringan adalah setara dengan menzinai ibu kandungnya sendiri?

Maka sabar menjadi kunci pertolongan Allah. Percayalah, kombinasi sabar dan sholat akan mendatangkan rejeki langsung dari Allah. Dan ingat, Jangan bersabar sendirian saja. Jangan sholat sendirian saja. Mari kita ajak keluarga kita. Mari kita libatkan keluarga kita untuk turut bersabar dan mendirikan sholat. Bangunkan istri/suami kita untuk qiyamul lail. Hingga ketentuan Allah datang.

Bukankah Allah SWT berfirman:
وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا   ۗ  لَا نَسْــئَلُكَ رِزْقًا   ۗ  نَحْنُ نَرْزُقُكَ   ۗ  وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan sholat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 132)

Langkah ketiga adalah berdakwah atau menolong agama Islam. Sholat sudah, sabar sudah, tapi pertolongan belum jua datang. Apa yang harus kita lakukan?

Coba datang ke masjid. Lihat sekelilingnya. Mungkin masjid perlu disapu, dipel, dibersihkan, maka mari kita ambil peran dakwah itu. Kita lihat lingkungan disekitar kita, anak-anak terlalu banyak bermain dan tidak mengaji, maka mari kita ambil peranan dakwah mengajari anak-anak mengaji. Kita lihat musholla di kantor, mukena dan sajadah lecek belum dicuci, maka mari kita ambil peran dakwah mencuci mukena dan sajadah. Termasuk kita semua tertib membayar wadi’ah kepada komunitas LaaRiba BPK agar bisa dimanfaatkan sebagai qardh bagi saudara-saudara anggota komunitas yang membutuhkan bantuan membebaskan diri dari riba. Dan lain upaya menolong agama Allah lainnya. Sesungguhnya ladang dakwah sangatlah luas. Hingga Allah menurunkan pertolongannya sebagaimana firman-Nya:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad 47: Ayat 7)

Sholat sudah, sabar sudah, nyuci karpet masjid sudah, menolong umat islam sudah, eh…giliran mau mendapat bantuan dari Laariba justru ada anggota lain yang memerlukan.

Sebel? Tidak transparan? Tidak akuntabel?

Mari sejenak kita ingat bagaimana kaum Anshar dan Muhajirin. wa laa yajiduna fii shudurihim hajatan mimma uutu, wayu’tsiruna ‘ala anfusihim walau kaana bihim khashashah (Surat Al Hasyr) dan tidak ada keinginan dalam dada mereka untuk merepotkan antar mereka, mereka saling mengutamakan saudaranya yang lain walaupun secara pribadi membutuhkan.

Kaifa ant? …bagaimana anda? (eh…kita)

Alkisah Sepeda Basah

Published September 7, 2017 by pembawacerita

Pada suatu hari, ada huru-hara di kantor pademangan.

Penyiduk     : Sodara Basah, anda terbukti tertangkap basah sedang mencuri sepeda berikut asesorisnya helm dan jersey. Anda kami tangkap dan kami tetapkan sebagai tersangka.

Basah          : Pak, ada apa pak? kok tiba-tiba saya ditangkap dan ditersangkakan.salah saya apa?

Penyiduk     : Seperti yang kami bilang tadi. anda tertangkap basah mencuri sepeda, helm dan jersey-nya.

Basah          : Saya tidak mencuri pak. Itu bukan sepeda saya.

Penyiduk     : Kami punya bukti anda melihat-lihat sepeda tersebut, memegang-megangnya, mengendarainya, kemudiam anda bawa sepeda itu.

Basah          : Pak, itu sepeda bukan punya saya. Saya ga tau itu sepeda siapa.

Penyiduk     : Saat ini anda hanya bisa mengklaim diri anda tidak bersalah. Menurut pengamatan kami anda tertangkap mencuri sepeda. Anda kami tahan dan kami tetapkan sebagai tersangka.

 

….krek…diborgol…

 

Togog          : Duh, Pak Demang Basah ditangkap penyiduk. Ditetapkan pula sebagai tersangka. Terus ini nanti yang memimpin pelaksanaan tugas di pademangan siapa?

Bilung          : Oalah Gog, Togog. ya gampang saja to. pilih orang lain buat gantiin.

Togog          : Lha kok seenaknya saja kamu bilang begitu. ini dampaknya besar Lung. bukan sekedar ganti demang.

Bilung          : Memangnya apa? lha masalahnya kan cuma Demang Basah ditangkap basah mencuri. gitu aja to? ya sudah ganti saja.

Togog          : Lung, nih kamu buka kelepon selularmu ya. Tertangkapnya Pak Demang Basah ini sudah menjadi berita dan tersebar di seluruh Negeri Antapraja. Lihat juga komentar-komentarnya. Pademangan Wijayamantri rusak namanya.

Bilung          : Halah Gog, Togog…ya dibuktikan saja dipengadilan bahwa Pak Demang tidak mencuri. Kalo bersih kenapa musti risih gitu lho Gog?!

Togog          : Kamu bener Lung. kalo bersih ya harus berani. tetapi itu kamu mikirnya sendiri. kamu tidak mikir bagaimana kelanjutan program kerja Pademangan Wijayamantri ini. Pasti terganggu dan tidak berjalan sesuai rencana karena demangnya diciduk. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk pemilihan demang baru. Belum juga opini liar di media yang beredar sejagad Antapraja.

Bilung          : Mikirmu ribet Gog.

 

…tak lama kemudian…

 

Bagong        : heh… heh… heh…

Togog          : Ada apa Gong? kok terengah-engah begitu.

Bagong        : sepedaku ketinggalan tadi di depan kantor pademangan.

Togog          : Semprul. itu sepeda sekarang jadi barang bukti di Penyiduk karena menangkap Pak Demang Basah dengan sangkaan mencuri sepeda.

Bagong        : embuh… gimana caranya agar sepeda saya mbalik?

Bilung          : Ya kamu ke kantor penyiduk sana. bilang bahwa itu sepedamu ketinggalan.

 

….mak nyuk kemudian sampai di kantor penyiduk..

 

Bagong        : Pak Penyiduk… Pak Penyiduk… itu sepeda saya pak. yang bapak jadikan barang bukti pada penangkapan Demang Basah itu sepeda saya pak.

Penyiduk     : kok bisa? buktinya apa?

Bagong        : coba bapak cek di-frame-nya. ada stiker tulisan Punakawan pakai aksara jawa. Di-fork bawah ada baret melintang sekitar 2 cm. Itu baret pas saya pake Tour de Pinggiran Jawa. Trus sadel bagian bawah ada bekas seperti terbakar. Itu gara-gara teman saya, Gareng, naruh rokok di rangka sadel trus tidak sengaja nyunyuk sadelnya itu. Itu sepeda saya pak. kalo ga percaya nanti saya siap hadirkan Gareng dan Petruk. Petruk ini asisten saya yang nyopir ambulan mendampingi saya pas Tour de Pinggiran Jawa.

Penyiduk     : Baik. hasil keterangan yang kami peroleh sesuai dengan pengakuan anda. Sepeda ini kami kembalikan kepada anda.

Bagong        : Syukur ing ngarsaning Gusti. terima kasih ya pak Penyiduk. saya mohon pamit.

 

….tak lama kemudian di kantor penyiduk…

 

Penyiduk     : sepeda barang bukti sudah kami kembalikan kepada pemiliknya. bagaimana bisa anda berhubungan dengan sepeda itu?

Basah          : pak penyiduk, itu sepeda tiba-tiba ada di depan kantor Pademangan. sepedanya menarik. saya belum pernah lihat dan mencobanya. makanya saya lihat-lihat. kemydian saya pegang-pegang. kemudian saya coba naiki muter halaman kantor pademangan. nah belum dapat satu putaran Bapak sudah menangkap saya.

Penyiduk     : baik. dengan demikian sulit dibuktikan anda melakukan pidana pencurian.

Basah          : Wah…saya bisa bebas ya pak?

Penyiduk     : Oo…belum. Itu kan baru sepedanya. Lha helm dan jersey itu belum ada penjelasan dari anda.

Basah          : pak, helm dan jersey itu baru saya beli di pasar kaget samping kantor pademangan.

Penyiduk     : Kenapa anda tidak laporkan di Laporan Harta dan Kekayaan Penyelenggara Pademangan?

Basah          : Ya nanti saya perbaiki laporannya pak.mohon maaf ada kesalahan. lagipula helm dan jersey ini baru kok.

Penyiduk     : Wah tidak bisa. Jadi anda selama ini melakukan penipuan. Penipuan karena mengisi Laporan Harta tidak sesuai keadaan. Anda kami tersangkakan dengan tindak pidana penipuan.

Basah          : Ampun Gusti. Saya harus bagaimana hidup di negeri ini?

 

Begitulah kisah sepeda dan Demang Basah. Kini Demang Basah masih meringkuk di tahanan penyiduk.

 

Togog pun bertanya-tanya. Lantas buat apa kegiatan penangkapan basah Demang Basah yang lalu? Logikanya bagaimana kegiatan membuktikan suatu tindak pidana kemudian sulit dibuktikan kemudian ganti menjadi tindak pidana lain? Lantas bagaimana pula dampak kekisruhan di Pademangan Wijayamantri?

 

…ah sudah lah, waktunya Togog, Bilung, Bagong kembali beraktivitas pagi.

 

 

Dua Hal Pemicu Azab

Published Februari 20, 2017 by pembawacerita

 

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana telah terjadi. Mari kita renungkan, apakah bencana itu merupakan ujian atau kah azab. Jika ujian, tentu kondisi yang ada sudah baik penuh keimanan dan ketakwaan. Lantas Allah memberi ujian agar naik level keimanan dan ketakwaan kita.

Tapi jika kondisi disuatu daerah masih jauh dari keimanan dan ketakwaan, maka kita harus waspada. Jangan-jangan bencana yang terjadi ini merupakan azab ‘kecil’ dari Allah.

Mari kita lihat di lingkungan kita. Apakah zina dan riba telah merajalela? Mungkin ada diantara pemimpin kita yang tetap mengijinkan aktivitas perzinaan. Atau bahkan memfasilitasi dengan membuat komplek tertentu. Lantas diantara kita tak ada yang mencegahnya melalui “nahi munkar”. Maka perzinaan pun menjadi hal yang biasa.

Ada juga sudut pandang oknum perempuan seperti ini, “Daripada suami gue poligami, mending dia jajan aja”. Naudzubillah. Bahkan seorang oknum istri telah hilang rasa cemburunya kepada suami. Ini juga memicu merajalelanya perzinaan. Mungkin banyak contoh dan pemicu lainnya. Namun, inti permasalahannya adalah perzinaan. Apapun pemicunya, perzinaan akan mendatangkan azab. Bukan hanya kepada pelakunya, tetapi juga kepada masyarakat di sekitarnya.

Riba. Ini jauh lebih berat lagi. Dosa teringan riba itu seperti menzinai ibu kandungnya sendiri. Naudzubillah min dzalik. Maka jelas sangat logis jika dosa riba dapat berdampak pada turunnya azab.

Sekarang mari kita lihat kondisi di sekeliling kita. Berapa banyak tawaran kredit dengan bunga tanpa akad syari’ah? Mobil, motor, peralatan elektronik, sampai perlengkapan dapur juga tersedia fasilitas ribawi. Lembaga-lembaga keuangan yang terdaftar semakin banyak menawarkan produk-produk riba. Bahkan tidak sedikit praktik rentenir di kalangan masyarakat.

Dalam kondisi perekonomian yang semakin berat dan kebutuhan hidup yang semakin mahal, seseorang sangat mungkin tidak kuasa lagi meneguhkan kesabarannya dalam menjauhi riba. Padahal kesabaran untuk tetap teguh menjaga diri dari riba itu jauh lebih utama. Menjauhi riba berarti menjaga kehalalan rejeki kita. Mengkonsumsi rejeki yang haram justru akan membawa musibah dan menghalangi terkabulnya doa. Demikian pula dengan riba. Secara personal, riba membawa dosa besar bagi pelakunya, menghalangi terkabulnya doa, dan memancing musobah bagi dirinya. Tidak berhenti sampai di situ, riba membawa bencana bagi masyarakat. Semakin banyak praktik riba di suatu masyarakat, maka Allah akan mendatangkan azab kepada masyarakat itu. Dan ketika azab telah datang, yang dirugikan bukan hanya pelaku riba, tetapi juga warga masyarakat lain yang tidak melakukan.

Mari kita jauhi segala bentuk perzinaan dan riba. Agar Allah menjaga kita dari azab-Nya.

*tulisan pagi di KRL Depok-Jakarta

Perubahan yang (tidak) Memberi Tambahan

Published Desember 7, 2016 by pembawacerita

Akhirnya saya memberanikan diri menulis sebentuk keresahan. Pengalaman naik “ojek online” malam ini cukup menjadi pemicunya. Saya merasakan kecukupan keberanian untuk menulis. Tentu saja ini hanya tulisam dari suatu sudut pandang yang memiliki kelemahan untum digeneralisir. Memang pada kenyataannya saya tidak sedang bermain statistik parametrik.
Hampir setiap naik “ojek online” saya selalu ngobrol dengan “driver”-nya. “Driver”? Ah, saya sedang terjebak dalam ameliorasi bahasa. Seperti ayam goreng dihargai 5 ribu rupiah, tapi kalau fried chicken menjadi 15 ribu rupiah. Begitu juga “Driver” yang kini dianggap lebih nyaman di telinga walau substansinya sama-sama “tukang ojek”. Tentu fenomena ini bukan ujug-ujug, melainkan _socially constructed_.
Kembali pada obrolan saya dengan “driver”. 

Saya (S) : Tinggal dimana pak?

Driver (D) : Situ, Pejompongan. Nyang deket rusun tuh.

S : Sudah lama bawa ojek pak?

D : Ya saya kerjaannye emang ngojek

S : Kalau begitu lama juga dong pakai aplikasi “ojek online” ini _(maaf nama ojek online tidak disebut, rahasia penulis. Tidak pula ditulis pakai bintang-bintang, biar tidak tendensius)_

D : Belum, baru dua bulan

S : Gimana rasanya pakai “ojek online” pak?

D : Rasanya pigimana?

S : _(merasa dudul karena membuat pertanyaan ga jelas)_ Maksudnya ada bedanya ga pakai online sama sebelum pakai?

D : Beda apanya nih? Penumpangnya?

S : _(haisyah)_ iya, kalau penumpangnya tambah banyak pak?

D : Ga mesti. Sekarang banyak saingan. Pada online semua. Langganan pas mangkal _(maksudnya: jadi ojek pangkalan{Sok nafsirin})_ pada pindah online.

S : Itu jadi pertimbangan bapak buat ikut “ojek online”

D : Ya mau ga mau. Mereka pada pindah semua.

S : Kalau dari hasil yang bapak dapet, banyakan mana pak sesudah pakai online dengan saat masih mangkal?

D : Sama aja sekarang mah. Ga beda jauh. Malah kadang dapetnya sama, tapi nariknya lebih sering.
Yap, sampai disini saja saya nulis percakapannya. Saya sudah dapat informasi kuncinya. Percakapan itu sering saya lakukan dengan “driver ojek online”. Informasi kunci yang ingin saya dapat adalah apakah ada perubahan berupa tambahan penghasilan sesudah menggunakan aplikasi online dibandingkan saat masih mangkal. Sebagian besar “driver” yang mantan “tukang ojek pangkalan” menyatakan hal yang sama. Sekali lagi, ini hanya pengalaman saya dan bukan dalam rangka generalisir. Proses menentukan perbedaan penhasilan sebelum dan sesudah juga didasarkan pada informasi kualitatif. Jadi jangan harap saya akan menggunakan analisis _t-test_ ya.
Hasil wawancara, maksud saya hasil ngobrol itumemang menunjukkan tidak banyak tambahan yang diperoleh “driver” setelah memakai aplikasi online. Perubahan jelas ada, mereka berubah dari ojek pangkalan jadi “ojek online”. Tetapi hasilnya tidak memberikan tambahan. 
Mereka bermigrasi menjadi “online” lebih dalam rangka _survival of the fittest_, demikian istilah yang dipakai Charles Darwin. Mereka jelas sudah kehilangan pelanggan yang telah _ngonline_. Daripada bertahan dengan cara mangkal sehingga tidak mendapatkan penghasilan seperti dahulu, mau tidak mau mereka harus bermigrasi.
Dalam konteks cerita ini, teknologi memang berhasil mengubah budaya. Semuanya ada di tangan. Dahulu orang mencari ojek harus jalan ke pangkalan. Sekarang cukup jempol menari, ojek pun datang.
Selain budaya, teknologi juga berhasil menyisipkan satu aktor ekonomi. Dahulu konsumen ojek langsung berhubungan dengan produsennya. Sekarang setelah online, diantara konsumen dan produsen itu bertambah satu aktor lagi, yaitu distributor jasa ojek. Aktor distribusi ini lah yang disebut sebagai manajemen “ojek online”. Dan yang harus dipahami adalah penambahan aktor ekonomi menunjukkan adanya kepentingan ekonomi yang ingin diperoleh aktor baru. Jika ditelisik lebih dalam lagi, distributor jasa ojek ini nanti akan sampai pada kepentingan pemegang sahamnya.
***

KRL saya sudah sampai Pondok Cina. Saya harus segera menyelesaikan cerita ini.

***
Keresahan saya membawa pada beragam pertanyaan. Apakah benar kecanggihan teknologi ini memberikan tambahan perbaikan? Bagi pelanggan “ojek online” saya perkirakan akan menjawab iya. Tapi bagi “driver” ini belum tentu. Ini seperti cerita yang saya sampaikan sebelumnya. Lebih lanjut, siapa yang sebenarnya menikmati adanya tambahan ekonomi dengan adanya “ojek online”?
Ah…KRL saya sudah sampai Stasiun Depok. Waktunya saya turun dan menyisakan satu pertanyaan lagi, untuk siapa perubahan jika tidak membawa kemanfaatan yang lebih besar?
Selamat malam indonesia, semoga timnas AFF menang melawan Vietnam malam ini

Keresahan Membawa Kerukunan

Published Oktober 23, 2016 by pembawacerita

Kisah ini adalah sejarah yang benar-benar terjadi. Karena tidak mungkin kisah ini hanya fiktif belaka jika sampai ditanyakan lintas generasi dan ditulis, dihafal, diingat, dijaga hingga abadi.
Alkisah berkumpul lah suatu kaum, para ahli tafsir menyebutkan bahwa itu adalah kaum Romawi. Pada masa perkumpulan itu, mereka menyembelih hewan bukan atas nama Allah SWT. Mereka juga bersujud bukan kepada Allah SWT. 
Saat itu memang belum datang cahaya Islam. Belum hadir pula Isa Al Masih putra Maryam di dunia. Maka sangat wajar jika menegakkan tauhid itu merupakan perjuangan yang jauh lebih berat daripada sekarang ketika cahaya Islam telah menerangi timur dan barat.
Namun demikian, bukan berarti tidak ada keresahan hati melihat praktik kesyirikan itu. Seorang pemuda, konon dia adalah anak Sang Raja, gelisah melihat kelakuan kaumnya itu. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri, dia tidak memiliki daya untuk mengingatkannya. Akhirnya pemuda itu memisahkan diri dari kaumnya kemudian menuju sebuah pohon. Dia bukan berdoa atau beribadah di pohon itu. Keresahan hati akan praktik kesyirikan tidak mungkin membawa dirinya untuk mempraktikan kesyirikan lain. Dia merenung memikirkan kejahiliyahan kaumnya itu.
Ternyata diluar dimensi tubuh Sang Pemuda, ada sosok lain merasakan hal yang sama. Pemuda putra bangsawan Romawi juga memisahkan diri dari ritual jahil kaumnya. Dia juga menuju pohon dan merenungkan praktik jahiliyah kaumnya itu. Demikian selanjutnya, ada beberapa pemuda lain yang hatinya resah meemisahkan diri dari kaumnya. Hingga jumlah mereka genap tujuh orang berteduh nerenung di bawah pohon.
Ketujuh pemuda ith tidak saling kenal. Awalnya mereka saling diam. Tak ada percakapan. Senyap. Hingga salah seorang dari mereka membuka percakapan. Dia menanyakan motivasi masing-masing pemuda, mengapa mereka meninggalkan kaumnya. Singkat cerita, akhirnya mereka sama-sama mengetahui bahwa ternyata mereka memiliki keresahan yang sama sehingga meninggalkan kaumnya. Dengan dasar kesamaan keyakinan tersebut, ketujuh pemuda itu kemudian membuat tempat ibadah sendiri yang benar-benar menjaga keesaan Tuhan, menegakkan ketauhidan Allah SWT.
Kisah sejarah ini setidaknya memberi dua pelajaran bagi kita. Pertama adalah rasa resah akan kebatilan. Kedua adalah sumber kerukunan yang membawa semengat dqn menggerakkan pada kebaikan yang lebih besar.
Pelajaran 1

Sudahkan kita merasakan keresahan atas kondisi-kondisi buruk yang ada di lingkungan kita?

Jika kita tenang-tenang saja dengan kondisi kebatilan yang ada, perlu dipertanyakan, dimana letak hati kita? Seberapa besar kesadaran kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan makhluk sosial?

Sungguh kebatilan yang dibiarkan saja bisa membawa bencana yang lebih besar. Oleh karena itulah keresahan hati diperlukan untuk merespon bentuk-bentuk kebatilan. 

Kisah tujuh pemuda di atas menjelaskan bahwa kita sebenarnya akan menghadapi keresahan-keresahan dalam bentuk lain. Misalnya lingkungan yang kotor, kumuh, dan problematika sampah. Apakah kita sudah merasa resah dengan kondisi ini? 

Kondisi lain, seperti lingkungan yang berkurang tingkat keamanannya. Apakah kita sudah merasa resah dengan kondisi ini?

Jika tidak merasakan keresahan apapun, maka patut dipertanyakan berada dimana posisi kita? Apakah posisi kita sama seperti tujuh pemuda itu, ataukah seperti kaum yang jahil melakukan praktik kesyirikan?
Maka bersyukurlah bagi kita yang masih merasakan keresahan akan kondisi-kondisi batil, buruk, jahil, dan kondisi negatif lainnya. Keresahan hati merupakan awal upaya perbaikan. Hal ini berarti berhenti pada keresahan semata tidak akan menyelesaikan masalah, tidak bisa menghindarkan kita dari ancaman akibat kondisi kebatilan tersebut. Oleh karenanya, pelajaran kedua pada kisah tujuh pemuda itu juga sangat penting untuk dipahami.
Pelajaran 2

Kerukunan ini akan muncul dengan adanya pertemuan dan pengenalan. Itulah kondisi yang terjadi pada tujuh pemuda. Pertemuan mereka yang didasari pada keresahan yang sama, walau pada mulanya mereka tidak saling mengenal, mereka kemudian saling berkenalan. Interaksi mereka menimbulkan kerukunan diantara mereka. Kemudian kerukunan itu membawa langkah perbaikan yang lebih besar. Perihal kerukunan melalui pertemuan dan perkenalan ini ditekankan kembali oleh Nabi Muhammad SAW.
” _Ruh-ruh itu ibarat bala tentara, apabila saling mengenal, maka akan rukun. Dan apabila tidak saling mengenal, maka akan berselisih_” (HR Bukhari-Muslim)
Benar mungkin diantara kita sudah merasa resah dengan kondisi yang perlu perbaikan. Tetapi jika kita diam saja, tentu tidak akan membawa perubahan yang signifikan. Bukan hanya itu, banyak sekali permasalahan dalam hidup ini yang sifatnya jama’i (publik). Oleh karenanya masalah seperti itu sulit atau bahkan tidak bisa diselesaikan secara pribadi. 
Sebagai contoh, problematika sampah lingkungan. Jelas ini merupakan masalah bersama. Satu orang saja yang berupaya menyelesaikan problematika ini tidak cukup untuk melakukannya. Satu orang itu kungkin hanya bisa menyelesaikan problem sampah di rumahnya, tetapi tidak bisa di lingkungannya.
Contoh lain tentang keamanan lingkungan. Benar mungkin satu orang bisa mengamankan rumahnya. Namun mustahil dia bisa mengamankan satu komplek perumahan sendirian. Bukan hanya itu, upaya pengamanan untuk pribadinya sangat mungkin menjadi tidak bermakna jika tidak ada komitmen keamanan dilingkungannya.
Berkaca dari kisah tujuh pemuda itu, perbaikan dan pembangunan untuk menyelesaikan masalah jama’i (publik) terbukti efektif jika ada kerukunan antar sesama. Tujuh pemuda itu berhasil membangun tempat ibadah yang mengesakan Tuhan berkat adanya kerukunan diantara mereka. Selanjutnya kerukunan bisa terbentuk jika ada perkenalan antar sesama. Ini seperti perkenalan dan ‘saling curhat’ atas masing-masing keresahan dari tujuh pemuda di atas. Kemudian saling kenal ini bisa terjadi dan terbukti efektif jika ada pertemuan dengan tatap muka langsung. Hal ini dapat dilihat dari pertemuan tujuh pemuda pada suatu pohon ketika mereka memisahkan diri dari kaumnya yang jahil.
Kisah tujuh pemuda tersebut memberikan rumus cara membangun kebaikan jama’i (publik). “Tak ada pembangunan kebaikan tanpa perkenalan, tak ada perkenalan tanpa pertemuan langsung”.
Dalam sudut pandang umat islam, pertemuan langsung itu jelas dapat dilihat dari kebersamaan ibadah shalat berjama’ah di masjid. Dalam konteks hidup dalam lingkungan yang beragam, nilai universal dari kisah ini dapat didesain dengan membuat kegiatan yang mempertemukan antar sesama secara langsung melalui tatap muka.
Selamat berakhir pekan, semoga bermanfaat.

*belajar di atas _hammock_ diantara rintik hujan di Gardenia

*secuplik kisah Ashabul Kahfi (referensi: Al Qur-an Surat Kahfi dan Tafsir Ibnu Katsir)

​Cerita (Pendidikan) Bapak

Published Agustus 11, 2016 by pembawacerita

Aku ingat ketika masih SD, Bapak mengantarkanku beli buku Bahasa Indonesia di kota. Iya, pada tahun 1990an, Trenggalek adalah kota sedangkan aku tinggal di desa 7 kilo meter dari pusat kota. Tak lama setelah berangkat baru saja keluar rumah, tiba-tiba hujan deras. Bapak kemudian memutuskan untuk berteduh di rumah Pakdhe, tak jauh dari air hujan pertama kali turun. Hujan semakin deras dan kami ditemani teh hangat yang diseduh Budhe. Bapak ngobrol kesana kemari dengan Pakdhe.
Aku tak tahu apa yang diobrolkan karena aku sebel dengan suasana itu. Hujan deras. Dan aku kemungkinan ga jadi dapat buku bacaan. Sebelnya seorang bocah. Kira-kira seperti itu.
Tapi aku langsung sumringah ketika Bapak memutuskan untuk melanjutkan membeli buku setelah hujan reda. Kami melanjutkan perjalanan naik motor malam itu. Hingga sampai Cengkong (nama daerah kurang lebih 1 km sebelum masuk kota), hujan deras kembali mengguyur. Kami basah kuyup. Aku bilang kepada Bapak, “Pak, kita berhenti saja. Ngiyup (berteduh)”. Bapak menolaknya, “Sudah terlanjur basah, kamu harus dapat bukunya. Jangan sampai toko bukunya tutup sebelum kita datang”.
Bapak berhasil membelikanku buku tepat ketika pegawai mau menutup tokonya. Aku semakin merasa bersalah. Bapak diam saja dan kami pulang dalam kedinginan. “Nanti kamu akan tahu”, begitu kata Bapak. Tapi aku tetap tak mengerti, hanya merasa bersalah saja.
‘Clue’ dari Bapak itu mulai terbuka ketika aku daftar SMP. Dari SD-ku, hanya aku yang daftar di SMP N 1 Trenggalek. Bapak juga yang mengantarku daftar ke SMP.
Sepulang dari daftar sekolah itu, Bapak cerita. Dulu Bapak susah mau sekolah. Bapak sudah yatim sejak SD. Bapak ingin bekerja saja. Cari kayu di hutan kemudian di jual di pasar. Tapi mbah putri tetap bertahan untuk menyekolahkan anaknya yang ada delapan itu. Sepertinya mbah putri menaruh harapan besar untuk menyekolahkan Bapak bersama Pakpuh Miftah (Allahuyyarhum).
Kondisi yang sangat sulit. Tapi toh Bapak dan Pakpuh tetap dipaksa mbah putri untuk sekolah. Begitu seterusnya sampai bapak kuliah di IKIP Malang, lulus, kemudian membantu mbah putri menyekolahkan Paklik dan Bulik (adiknya Bapak). Bahkan menurut ibuku, Pakpuh Miftah (Allahuyyarhum) rela menikah diumur yang sudah tua untuk membiayai sekolah adik-adiknya dan membantu mbah putri.
Dari situlah aku memahami bahwa karakter mbah putri itu yang membentuk karakter Bapak. Hingga Bapak rela menembus dingin hujan malam hari hanya untuk sebuah buku Bahasa Indonesia buatku.
Itu cerita Bapak. Cerita yang justru membuatku prihatin dengan kondisi sekarang. Beberapa waktu lalu seorang kawan bercerita bahwa anak-anak dan orang tuanya mengancam akan berhenti sekolah jika kebijakan full day school diberlakukan Pemerintah. Alasannya, anak-anak itu harus membantu orang tuanya cari rumput untuk makan ternak. Sederhana sekali alasannya. 
Mungkin orang-orang seperti itu perlu sosok mbah putri di rumahnya. Aku pun berusaha berbaik sangka, semoga temanku itu justru tidak membakar kondisi hanya karena tidak suka dengan wacana full day school.
Sungguh ironi menurutku. Hanya karena tidam setuju dan alasan himpitan ekonomi, lantas membuang kesempatan mendapat ilmu dari sekolah. Beda sekali dengan mbah putri. Beliau tidak peduli dengan kebijakan Pemerintah, yang penting anak-anaknya semua harus sekolah bagaimana pun caranya. Apakah himpitan ekonomi sebagai single parent dengan delapan anak masih kurang menantang bagi orang jaman sekarang? Ataukah memang orang-orang jaman sekarang itu rendah adversity quotient-nya?
Semoga pendidikan di Indonesia tidak pupus hanya karena opini dan ketidaksukaan. Apalagi hanya sekedar kompor yang akan redup ketika tak lagi cukup bahan bakarnya. Semoga semakin banyak sosok-sosok sadar pendidikan seperti mbah putri di kemudian hari.
*ditulis di KRL Tanah Abang-Depok 11 Agustus 2016 dan diselesaikan pukul 20.57 WIB.