Up, Up, Up: Harga Naik?

Published Mei 20, 2019 by pembawacerita

Sudah pertengahan bulan Ramadhan. Apakah kita termasuk yang mengeluhkan harga barang naik? Sepertinya kita harus introspeksi diri, berkontemplasi mencari hikmah Ramadhan.

Memang ketika Ramadhan dan Lebaran Idul Fithri harga-harga naik. Itu wajar. Cyclical pricing katanya. Hal ini diulas beberapa waktu lalu melalui tulisan istri saya yang dimuat di Koran Lokal. Sederhana, hanya membahas harga bawang merah dan bawang putih yang naik saat Ramadhan.

Apakah ini buruk? Tunggu dulu. Kenaikan harga di bulan Ramadhan jangan langsung dihakimi dengan dalih keserakahan dengan cara mengeneralisir kesalahan saat berbuka semuanya dimakan. Mari kita coba lihat sisi positifnya. Jangan-jangan kita yang tidak pandai mengambil hikmah.

Bagaimana jika berpikir sebaliknya? Pada bulan Ramadhan orang banyak belanja kemudian disedekahkan kepada yang lain. Ramadhan menjadi bulan sedekah. Memberi buka orang yang berpuasa bahkan diganjar pahala yang sama dengan orang yang diberi makan itu. Jadi seseorang bisa saja hanya berpuasa 30 hari, tetapi mendapat pahala sebanyak 150 hari, tergantung berapa jumlah orang yang diberi buka puasa sehingga pahalanya bisa lebih besar lagi.

Belum lagi balasan berlipat ganda dengan sedekah di bulan Ramadhan. Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri menambah intensitas sedekah di bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan dalah shahihain sebagai berikut.

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, kenaikan harga pada bulan Ramadhan dan Lebaran jangan langsung divonis keburukan. Justru pada bulan ini perekonomian bergerak cepat sehingga membawa keberkahan bagi orang banyak. Karena keberkahan dalam ekonomi bukanlah besarnya nilai moneter yang menumpuk pada kantong-kantong pribadi, rekening-rekening organisasi, kotak amal masjid, dan sejenisnya. Keberkahan ekonomi adalah semakin banyaknya makhluk yang menikmati sumber daya perekonomian.

Dalam sudut pandang perseorangan, justru Ramadhan saatnya untuk hidup sederhana. Turut berempati sebagaimana orang yang belum seberuntung kita merasakan perjuangan hidupnya.

Dalam percakapan kearifan lokal di jawa, bisa digambarkan dengan ungkapan berikut.

Senadyan ora dhuwur sing penting iyup.
Senadyan ora padhang sing penting urup.
Senadyan ora akeh sing penting cukup.

(Walaupun [rumahnya] tidak tinggi yang penting teduh, walaupun tidak terang yang penting menyala, walaupun tidak banyak yang penting cukup)

*KRL Depok-Karet

Iklan

Sarapan Filsafat dari Anak: Tuhan yang Bisa Bikin Rumah

Published Mei 13, 2019 by pembawacerita

Dalam langkah kembali ke rumah dari shubuh berjama’ah di Masjid AtTaubah, Hisbah-5 tahun bertanya, “Abi, tuhan, tuhan apa yang bisa bikin rumah?”. Hyak….gimana jawabnya?

“Lho, Tuhan kan hanya Allah. Memang ada Tuhan yang lain?”, saya bertanya. “Ada. Ada yang bisa bikin rumah”, begitu sahut anak kedua saya. “Lhaaa…ada gitu? Memangnya Tuhan apa?”, saya tanya balik. “Ada. Namanya Musa dan Iblis”, jawabnya.

Walah, ini nuansanya langsung menusuk ke aqidah dan filsafat. Saya memutar memori sambil terus mengklarifikasi.

“Lho, Musa kan Nabi, bukan Tuhan”
“Nabi itu tuhan juga, Abii”
“Nabi kan utusan Tuhan, jadi bukan Tuhan”
“Utusan Tuhan itu Tuhan juga, Abii”

Hyak…ketemu ingatannya. Hisbah kemarin baru nonton God Prophets di Trans 7 yang mengisahkan Iblis menghasut Qabil membunuh Habil. Semalam Hisbah juga menonton Kisah Nabi Musa mencari pelajaran kepada Nabi Khidir. Jadi nanti penjelasan saya tidak jauh-jauh dari itu. Yang saya perlukan adalah bridging.

“Coba Abi tanya”, saya sengaja menggunakan nada Ilham si Bocah Ngapa(k), acara di Trans 7 “Jajal, siki tak takon”.
“Kemarin mas Hisbah dimintai tolong Ummi untuk mengantarkan kurma ke Budhe. Nah, mas Hisbah itu jadi Ummi bukan?”
“Bukan”
“Lha iya. Mas Hisbah jadi utusannya Ummi, kan?”
“Iya”
“Apakah mas Hisbah sama dengan Ummi?”
“Enggak”
“Ya sama begitu juga dengan Nabi. Nabi itu diutus Allah untuk mengajar manusia. Jadi Nabi adalah utusan Tuhan, bukan Tuhan”
“Kalo Nabi Musa?”
“Ya Nabi Musa diutus Allah untuk Bani Israil. Jadi Nabi Musa adalah utusan Tuhan, utusan Allah”
“Kalau begitu, yang tuhan Iblis dong?”
“Iblis juga bukan Tuhan. Iblis kan suka mengganggu. Mana ada Tuhan yang suka mengganggu? Tuhan kan suka menolong.”
“Oo..begitu.”

Dan kami sampai di rumah. Hisbah kemudian nonton Kisah Nabi Daud melawan Jalut.

Pelajaran pagi ini yang saya dapatkan adalah tentang bagaimana memasukkan informasi filosofis kepada anak. Pernyataan anak di awal memang terkesan mengagetkan, bahkan berbeda dengan pemahaman kita. Meskipun demikian, jangan langsung menghakimi bahwa dia salah. Perlu dilakukan langkah pertama yaitu, klarifikasi.

Kita perlu mendapatkan informasi yang lebih jelas maksud anak. Sebagaimana kaidah klarifikasi, kita perlu menjaga agar tidak sok tahu walaupun kita benar-nenar lebih tahu. Kita perlu memberi kesempatan kepada anak untuk menjelaskan, walaupun penjelasannya pun tidak benar. Jadi, langkah pertama adalah klarifikasi.

Langkah kedua adalah mengetahui latar belakang pertanyaan. Latar belakang pemahaman anak pun perlu kita ketahui, agar penjelasan kita dapat mudah diterima anak. Menjelaskan tidak berangkat dari informasi awal yang dimiliki anak berisiko menjadikan anak tambah bingung. Oleh karena itu lah saya mengingat dari mana Hisbah mendapatkan informasi tentang Nabi Musa dan Iblis.

Langkah ketiga, buat jembatan pemahaman. Saya gunakan metafora hisbah sebagai utusan ummi dan Nabi Musa sebagai utusan Tuhan. Jembatan pemahaman ini yang berfungsi untuk menghubungkan latar belakan informasi yang dimilili anak dengan substansi penjelasan yang akan kita berikan.

Langkah keempat, buat penjelasan sesederhana mungkin. Tidak perlu mencari definisi rumit ataupun istilah langitan yang seolah-olah keren tetapi tidak mudah dimengerti.

Semoga empat langkah tadi bermanfaat untuk mendidik anak-anak kita. (1) Klarifikasi- (2) Latar Belakang- (3) Jembatan Pemahaman- (4) Penjelasan Sederhana.

Gardenia-Depok.
Mari berangkat bekerja

Hadirnya Institusi pada Keluarga

Published April 27, 2019 by pembawacerita

Seingat saya dulu saat masih muda (dan berarti sekarang saya sudah tua…penegasan), ibu-bapak, mbah uti-mbah kakung, budhe-pakdhe, bulik-paklik, tetangga-tetangga tidak pernah ikut seminar parenting. Tapi mendidik anak itu mudah rasanya. Memang hasilnya berbeda-beda, tetapi mudah menerima perbedaan tanpa ribut gontok-gontokan. Meskipun tidak pernah mengikuti edukasi menjadi orang tua, orang-orang terdahulu memiliki keyakinan dan cara pandang terhadap pendidikan keluarga

Cerita ini benar terjadi di kampung, saya menjumpai seorang tetangga. Menurut saya orang ini luar biasa kacaunya. Minum-minuman keras menjadi kebiasaan. Di sisi lain orang tua dan keluarganya tidak bisa mencegah. Namun sisi positifnya, dia tidak pernah mabuk dengan “uang haram”, misalnya hasil malak, mencuri, dan sebagainya. Dia mabuk dengan uang hasil kerjanya. Ya sekerja-kerjanya saja, daripada tidak bekerja. Itupun sehari-hari dia lebih banyak tidak bekerja.

Akan tetapi sebenarnya masih ada secercah harapan. Saya mendengar orang tuanya yang sudah tidak bisa mempengaruhi anaknya tersebut sering memohon doa kepada siapapun yang dikenalnya. Mereka sendiri juga rajin berdoa di Masjid dekat rumahnya.

Hingga suatu saat si pemabuk ini mendapat peringatan luar biasa. Over dosis. Koma kurang lebih sebulan. Alhamdulillahnya masih diberi kesempatan oleh Tuhan. Orang-orang kampung pun heran, bagaimana bisa si pemabuk yang dari bentuk fisik tubuhnya saat over dosis itu tipis kemungkinan bisa bertahan hidup, sudah mau mati, kemudian dia bisa sehat seperti sedia kala.

Rupanya peringatan kematian itu membuat si pemabuk insyaf. Dia bertobat dan tidak pernah lagi mengulangi kebiasaan mabuknya. Lebih dari itu, dia memutuskan untuk menjadi marbot masjid dekat rumahnya. Banyak orang kampung yang empati padanya. Banyak juga yang salut dengan kegigihan orang tuanya walau hanya bisa mengubah anak melalui doa.

Sampai pada cerita itu, saya tidak menjumpai peran Pemerintah untuk mengatasi masalah sosial itu. Walaupun demikian, masalahnya selesai dan happy ending. Penyelesaiannya pun tidak melibatkan institusi, melainkan lebih pada proses self-fulfilling prophecy.

Ingatan masa lalu saya itu yang muncul saat melihat banner di Kantor Kecamatan Cinere. Pemerintah turut hadir dalam permasalahan keluarga. Beragam problematika pendidikan anak maupun pasangan suami istri menjadi perhatian institusi Pemerintah. Bahkan pemerintah menyediakan layanan tersebut secara gratis.

Mengapa sampai institusi turut hadir pada rumah-rumah yang sebenarnya lebih privat? Padahal dahulu tidak ada kebijakan seperti itu. Ditengah hujan deras ini saya terpikir, setidaknya ada dua hal yang perlu dipikirkan. Pertama, self-fulfilling prophecy di kalangan masyarakat sudah mulai luntur. Orang tidak begitu yakin dengan kehebatan doa meramalkan dan untuk mengubah masa depan. Solusi dari langit itu ada dan perlu keyakinan yang kuat. Mirisnya, saya justru sering menemui pernyataan-pernyataan dari orang-orang hebat di negeri ini bahwa solusi itu tidak datang dari langit. Ah, saya tarik kembali pernyataan saya bahwa mereka orang-orang hebat.

Kedua, kegagalan privat akan berdampak pada kegagalan publik. Kehancuran keluarga dalam jumlah yang semakin besar juga akan menghancurkan organisasi atau bahkan negara. Dan sebaliknya, keberhasilan privat akan membawa keberhasilan publik. Kita bisa melihat secara sederhana, keberhasilan atlit meraih medali emas dalam kejuaraan internasional, maka yang dianggap berhasil bukan hanya atlitnya melainkan juga negaranya.

Apakah akan ada kebijakan lebih lanjut membawa institusi untuk mengatasi permasalahan privat? Atau sebaliknya, apakah para individu menyambut baik kebijakan hadirnya institusi dalam kehidupan privat?

“As institutions influence behavior and incentives in real life, they forge the success or failure of nations”. (Daren Acemoglu dan James A. Robinson, 2012)

*H-2 #BPKmengaji

*Sesloki Kopi Bali di tengah hujan deras

Waktunya Tambah Nama

Published April 18, 2019 by pembawacerita

Pemilu telah usai, bagi kami, eh saya yang pemilih murni. Namun bisa jadi pemilu belum usai bagi petugas pemungutan suara, saksi, paslon, caleg, buzzer, cebong, kampret, jangkrik, asu, celeng, dan sebagainya (abaikan 5 jenis terakhir, karena hewan tak ikut pemilu).

Hingar bingar media sosial, pro kontra hasil quick count, berantem yang berkesinambungan alias sustainability fighting (biar ga hanya fiskal saja yang sustinable) masih berlanjut, setidaknya sampai nanti jam 10.38 WIB. Kalaupun lebih lama dari itu, ya itulah kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.

Hal yang menarik di luar pro kontra mainstream hasil pemilu 2019 adalah dampak electoral threshold. Menurut perkiraan ada 7 partai yang tidak sampai senayan, mungkin sudah putar balik di Pejompongan.

Jika saya seorang ketua partai, justru saya akan mencari exit strategy agar bisa exist (bukan UK’S). Salah satu caranya adalah ganti eh…tambah nama. Jika disimulasikan dengan cara yang tidak lazim, mungkin saya akan mengusulkan pengubahan nama partai yang saya pimpin sebagai berikut.

1. Partai Garuda Di Dadaku (Parudi)
2. Partai Berkarya dan Bersahaja (Prakarsa)
3. Persatuan Indonesia Selamanya (PIS)
4. Partai Solidaritas Indonesia Sesungguhnya (PSIS)
5. Hati Nurani Rakyat Biasa (Hanurabi)
6. Partai Gemerlap Bulan Bintang (PGBB)
7. Partai Idaman Keadilan dan Persatuan Indonesia (PIKPI)

*Selamat Pagi, jangan lupa presensi ditutup 5 menit lagi

Jangan Repot, Pilih Sesuai Perasaan

Published April 17, 2019 by pembawacerita

Barangkali masih ada yang masih berpandangan konservatif dalam memilih presiden atau wakil rakyat, coba bertanya kembali dalam hati. Ada yang berpendapat ketika memilih lihatlah visi dan misi ke depannya serta program yang akan diusung. Nah, pendapat seperti ini yang menurut saya konservatif. Apakah yang berpendapat seperti ini salah? Tentu tidak. Itu suka-suka saja.

Hanya saja perlu dilihat pada kenyataannya rakyat tidak repot dengan melihat visi, misi, program, janji politik dan sebagainya. Melihat variabel-variabel tersebut kelamaan alias ribet. Belum lagi permasalahan asymmetric information antar individu. Informasi yang diterima setiap orang berbeda-beda dan tidak mungkin seimbang. Apakah seseorang mengetahui informasi sepenuhnya tentang pasangan Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi secara seimbang? Saya ga yakin. Intinya, memikirkan pilihan siapa yang mau dicoblos dengan pertimbangan rasional itu merepotkan.

Lantas bagaimana? Menurut saya pilih saja sesuai perasaan. Mana yang dirasa baik silakan dicoblos. Sesederhana itu. Ga perlu ribet mencari data-data dan mempertimbangkan visi-misi calon presiden/calon wakil presiden.

Apakah saya anti teori atau anti mainstream? Silakan justifikasi dan itu halal-halal saja. Saya setuju dengan pendapat Yuval Noah Garari bahwa “Referendum and election is about human feelings, not about human rationality”. Pada paragraf selanjutnya penulis buku “21 Lessons for 21st Century” itu menekankan kembali bahwa “However, for better or worse, elections and referendums are not about what we think. They are about what we feel”. Jadi, kalau suka, pilihlah. Jika tidak suka, tak perlu dipilih. Asal jangan golput.

Apakah pendapat Yuval Noah Harari tersebut layak disebut teori? Saya tidak peduli. Toh teori bukan kitab suci. Seperti contohnya ungkapan Yuval Noah Harari bahwa “Feelings are’nt based on intuition, inspiration or freedom-they are based on calculation”. Ini yang saya kurang sepakat. Menurut saya justru perasaan manusia itu kompleks. Bisa ada inspirasinya, intuisinya, keyakinannya, atau bahkan perhitungannya juga. Pertimbangan-pertimbangan beragam itu dalam agama Islam diakomodir.

Sebagai contoh tentang mengambil keputusan berinfak sesuai dengan perasaannya bisa dipengaruhi karena faktor kalkulasi. Allah SWT berfirman:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَا بِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَا للّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ  ۗ وَا للّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261)

Setelah membaca ayat suci di atas, tentu sah-sah saja orang membuat pertimbangan matematis. Namun ada juga yang tidak perlu membuat pertimbangan hitung-hitungan cost-benefit analysis. Contohnya karena keikhlasan karena Allah, sebagaimana ada di ayat ini.

لَـيْسَ عَلَى الضُّعَفَآءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضٰى وَلَا عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ مَا يُنْفِقُوْنَ حَرَجٌ اِذَا نَصَحُوْا لِلّٰهِ وَ رَسُوْلِهٖ ۗ مَا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ مِنْ سَبِيْلٍ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۙ

“Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) atas orang yang lemah, orang yang sakit, dan orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada alasan apa pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,” (QS. At-Taubah 9: Ayat 91)

Jadi, pada pemilihan umum kali ini, mari memilih yang dirasa baik. Hanya tinggal beberapa menit lagi pencoblosan akan dimulai. Jika masih memperdebatkan visi, misi, program, strategi, janji, jumlah serangan fajar, dan sebagainya, itu kelamaan. Kata Cinta…basi! Madingnya udah siap terbit!

Selamat mencoblos. Jangan Golput. Karena Golput adalah Golongan Pengecut.

#IndonesiaMemilih

Ga Repot

Published April 13, 2019 by pembawacerita

Inget dengan ungkapan Presiden Abdurrahman Wahid? Gitu aja kok repot. Nah, saya ketemu buku yang kira-kira mirip seperti itu semangatnya. Daniel Coyle, saya ga tahu siapa dia, tapi yang jelas saya beli buku itu karena ada stikernya “NEW” di sampul plastiknya. Buku baru dan kebetulan di rak tinggal satu. “Wah, buku masih baru kok tinggal satu, jangan-jangan bagus nih”, begitu dalam hati saya.

Coyle mengawali tulisannya dengan menceritakan eksperiment sosial antara grup anak TK dan grup Business Student…deh…bahasa jawanya yang tepat apa ya? Hmmm…anak SMEA…gitu kali ya. Mereka diberi tugas. Pada akhir eksperimen, Coyle menyatakan bahwa pekerjaan Grup TK justru lebih bagus dari Grup SMEA. Padahal di awal yang Grup SMEA itu mengawali tugas dengan perencanaan, diskusi strategis, membagi tugas ini dan itu, beradu ide, dan seterusnya. Beda banget dengan Grup TK. Bocah-bocah kecil itu mengerjakan langsung. Tidak terorganisir, tidak strategis babar blas, tidak ada penentuan visi. Mereka hanya gaduh…ditaruh sini! sambil membawa barang eksperimennya…enggak, disini saja, sambil dibawa lagi. Riuh rame. Pada akhir penilaian, pekerjaan Grup TK ternyata dinilai lebih efektif dan efisien daripada Grup SMEA.

Lha itu kan anak TK dan anak SMEA? Disinilah keunikan Coyle. Dia membawa kisah-kisah nyata sebelum diambil pelajarannya, mulai dari Popovich-San Antonio Spurs coach sampai kisah peperangan. Bahkan ada juga cerita tentang crew pesawat menghadapi cathastropic failure yang saya baca justru saat berada di dalam pesawat yang masih mengudara. Jadi kalau ada pertanyaan “seberapa greget anda?”, saya bisa jawab beneran, terbayang situasi cathastropic failure karena membaca ceritanya sambil menikmati jus apel di dalam pesawat yang masih terbang. Hahaha…

Jadi isi bukunya apa? Nah ini yang membuat saya betah dan membaca buku ini dengan cepat. Saat saya sedang mendapat tugas perencanaan strategis, justru buku ini menegasikan perencanaan. Seperti eksperimen anak TK, Coyle menuliskan “The action of kindergartners appear disorganized on the surface. But when you view them as a single entity, their behavior is efficient and effective”. Dalam beberapa pelajaran yang bisa diambil, mudahnya pengungkapan kira-kira seperti ini, mengapa ribet-ribet merencanakan dengan segudang metodologi rumit, berdebat cara yang terbaik, dan segala macamnya yang justru membuat pekerjaan besarnya repot. Lakukan saja, seperti slogan Nike-Just do it- begitu sederhananya. Karena pada saat mengerjakannya bersama-sama seperti anak-anak TK itu sebenarnya bukan bekerja sendirian atau individualis, tetapi sedang menjalin sinergi dan harmoni ibarat grup musik jazz.

Coyle memberikan 3 kunci pokok, yaitu: build safety, share vulnerability, dan establish purpose.

Build safety, saya resumekan dengan singkat seperti ungkapan Dominic Toretto di Fast Furious-I don’t have friends, I have family. Karena keluarga yang saling membawa keamanan dan kenyamanan antar sesama, maka tidak penting lagi mengkritisi atau bahkan men-challenge ide anggota keluarga. Nah, ini yang sering terjadi dalam proses perencanaan menurut saya. Apalagi sampai menunjukkan kehebatan individu dibandingkan anggota yang lain dengan cara mengkritisi ide atau bahkan terkesan memaksakan kehendak.

Share vulnerability, enaknya menjelaskan adalah kelemahanmu ungkapkan saja biar diketahui orang lain. Dari situ akan membawa keterbukaan pikiran untuk menerima saran orang lain. Tak perlu pula jaim bahwa membutuhkan pertolongan orang lain. Share vulnerability menjauhkan dari jebakan individu dalam kegagahan kemampuan individualisnya. Justru ketika individu memiliki kemampuan di lingkungan yang sudah sharing vulnerability, maka ungkapan yang ada adalah apa yang bisa saya bantu.

Establish purpose, sederhananya ketika sudah merasa satu keluarga, memahami segala kekurangan, mari bergerak bersama dari tempat kita berada menuju satu tujuan bersama. Nah saat bergerak bersama itu, pasti kita melakukan kesalahan, tidak ada yang sempurna, disitulah perbaikan-perbaikan bersama dilakukan. Ini seperti ajaran Nabi bahwa orang yang baik bukanlah orang yang tidak berbuat kesalahan, melainkan orang yang bertaubat setelah melakukan kesalahan. Hmmm…nyess di hati. Nah, apakah tujuan bersama itu beda dengan visi? Menurut saya beda, kalau menurut orang lain sama ya tidak apa-apa, gitu aja kok repot.

Saat membaca buku ini, saya seperti nonton Mission Impossible III-ghost protocol, no plan, no back up, no choice. Jika tidak sepakat tentu boleh-boleh saja. Kalau menurut saya, kesederhanaan dalam perencanaan sangat relevan saat ini. Terutama dalam menghadapi disruptive era (ciyeee oleh-oleh dari IAI international conference), organisasi butuh agility. Perencanaan justru tidak boleh menjadi belenggu sehingga tidak fleksibel dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat. Dan rupanya pelajaran yang saya dapat dari buku ini diafirmasi senior-senior teladan saya dalam perjalanan menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai kemarin sore.

*catatan pasca International Conference IAI 12 Maret 2019

Rapor, Report, Laporan: Gitu doang?

Published Desember 21, 2018 by pembawacerita

Pagi ini saya ke sekolah Zein untuk mengambil rapor-nya. Sesampainya dikelas, saya orang ketiga yang antri. Kebetulan dua orang di depan saya adalah bapak-bapak tanpa didampingi istrinya. Disitu saya bersyukur, alhamdulillah saya bisa bersama-sama istri mengambil rapor anak.

Bapak yang pertama. Tak banyak bicara. Mendengarkan beberapa penjelasan dari dua ibu guru. Saya terus mengamati diamnya Sang Bapak. Hal yang paling mengagetkan saya adalah ketika Sang Bapak bertanya kepada dua ibu guru, “Adalagi bu?”. Ibu guru menjelaskan sedikit. Belum usai kekagetan saya, muncul keheranan. “Adalagi bu?”, untuk kedua kalinya Sang Bapak bertanya kepada ibu guru. Kali ini ibu guru tidak memberikan penjelasan. Sang Bapak pun membawa rapor anaknya keluar ruangan.

Bapak kedua kemudian giliran mendapat penjelasan rapor anaknya. Saya tentu setia mengamati. Hingga ketika Sang Bapak ini memberikan umpan balik mengenai anaknya, kira-kira muncul percakapan seperti ini. “Anak saya bahasa inggrisnya tidak bagus nilainya bu. Padahal sebelumnya saya mengajari dia konsep-konsep bahasa inggris. Tapi ternyata nilainya tidak sesuai harapan. Berarti kan dia tidak memahami konsep bahasa inggris. Apakah berbeda konsep yang diajarkan di sekolah?”. Disini saya merasa cengok. Merasa tidak paham dengan konsep-konsep, beuh konsep…seperti penjelasan Sang Bapak. Ribet banget itu dunia. Duh betapa bodohnya saya. Disisi lain, ibu guru memberikan penjelasan, yang menurut saya hanya penjelasan agar Sang Bapak ini tetap woles dan tidak putus asa mendidik anaknya.

Pagi ini saya belajar banyak menjadi bapak dari anak-anak saya. Momentumnya sederhana, hanya mengambil rapor. Tapi disitulah saya belajar banyak.

Kata “rapor” memang diadopsi dari kata “report” yang berarti laporan. Artinya ketika menerima rapor anaknya, orang tua menerima laporan hasil belajar anak selama di sekolah.

Mungkin makna “laporan” itu yang ada di benak Sang Bapak pertama. Ibu guru harus melaporkan hasil belajar anaknya kepada Sang Bapak selaku orang tua. Laporan pun bisa saja hanya dimaknai dalam bentuk tertulis, baik itu berupa numerik maupun deskriptif. Laporan berupa penjelasan lisan mungkin dianggap memiliki validitas rendah sehingga tidak diperlukan. Itu makanya saya kaget dan heran ketika Sang Bapak ini bertanya, “Adalagi bu?”. Dua kali bahkan. Bisa saja Sang Bapak ini memiliki waktu terbatas untuk mengambil “laporan” hasil belajar anaknya. Namun tidak seperti itu juga menurut saya. Saya berpikir, apakah Bapak ini tidak membutuhkan laporan lisan mengenai anaknya dari ibu guru? Apakah bapak ini memandang memang laporan itu kewajiban guru dan hak orang tua per se? Ah…benak saya ngombroworo kesana kemari. Sudah, ini pelajaran bagi saya, bukan seperti itu yang saya harapkan.

Pun Bapak kedua. Berkebalikan dari Bapak pertama yang result based, Bapak kedua ini lebih process based. Sebentar, memang sedikit mirip dengan pendekatan performance audit, apalagi ditambah problem based. Hehehe… Bapak kedua ini lebih menanyakan keseriusan, atau kesahihan metode pengajaran di sekolah. Insting saya menyimpulkan bahwa hasil ujian bahasa inggris anaknya tentu bernilai bagus apabila mengikuti konsep yang Bapak itu ajarkan. Pada level yang lebih tinggi, ada pelajaran yang menarik bagi saya. Hati-hati karena perilaku seperti itu menunjukkan arogansi. “Metode saya lebih baik daripada metode yang lain”, kira-kira seperti itu. Atau bahkan lebih gila-nya akan menghasilkan ungkapan kecongkakan, “saya lebih baik daripada yang lain karena saya yang paling benar dan yang lain salah”. Pantas saja suasana pengambilan rapor oleh Bapak yang kedua ini lebih mencekam.

Sedikit memanggil memori, agar tidak hilang tentunya, pengalaman mengamati kedua Bapak pagi ini mengingatkan saya pada agency theory. Teori tersohor dalam dunia akuntansi yang dicetuskan oleh Jensen Meckling. Teori ini menjelaskan adanya dikotomi kekuatan antara principal atau pemilik modal dan agent atau manajemen yang menjalankan bisnis. Principal akan mendapatkan keuntungan dari modal yang dibisniskan, baik berupa deviden, bunga, atau pembagian laba. Agent akan mendapatkan keuntungan berupa gaji dan bonus atas pekerjaannya dalam menjalankan bisnis.

Nah pada fragmen hidup pagi ini, saya mengibaratkan dua Bapak itu sebagai principal karena telah membayar biaya pendidikan anaknya. Disisi lain, ibu guru sebagai agent karena menerima gaji yang diambil dari biaya pendidikan dari pembayaran wali murid, termasuk dua bapak itu.

Oleh karenanya, interaksi bapak-bapak dan ibu guru itu mirip sekali dengan interaksi pemilik modal dengan pelaku bisnis. Sang Bapak minta laporan, kemudian mengevaluasi kinerja ibu guru. Disisi lain, ibu guru harus menjelaskan laporan dan memiliki kewajiban memperbaiki kinerja sesuai harapan wali murid, dalam hal ini sang bapak tadi. Praktik ini, jika terus dianalisis, sangat mungkin akan menghasilkan positive accounting theory-nya Watts and Zimerman. Hadeuh…lieur

Lantas bagaimana dengan saya?

*tulisan di KRL. Karena sudah sampai, saya hentikan. Hehehe.