Kata-kata yang Membunuh

Published September 5, 2018 by pembawacerita

Terkesan seram memang judulnya. Namun saya akan menguraikannya lebih detail agar bisa mengambil hikmahnya. Terutama saya pribadi dan semoga bermanfaat bagi yang membaca.

Jika detik ini pula saya buka timeline facebook, saya akan membaca berbagai status dan tulisan yang tidak enak dibaca, tidak enak didengar, atau bahkan tidak layak dituliskan. Beberapa waktu lalu saya tuliskan status, gara-gara beda pilihan saja sampai menulis tak pancal raimu segala. Itu ungkapan bahasa Jawa, yang artinya kurang lebih saya tendang wajahmu. Bagi saya, yang orang Jawa Timur ini, bisa saja ini jadi kalimat guyonan. Namun pastinya sangat terbatas pada kalangan tertentu. Bukan di umbar di jagat facebook. Ini hanya salah satu contoh saja. Tentu banyak lagi contoh serupa.

Saya tidak peduli apakah itu dari haters ataukah dari lovers. Namun saya pahami itu adalah polarisasi masyarakat menjadi berbagai kutub yang berseberangan karena pada kenyataannya haters di satu kutub menjadi lovers di kutub lain, vice versa.

Sangat mungkin ada pihak yang justru memanfaatkan fenomena ini sebagai ajang peperangan. Apapun sebutannya. Cyber army kah, jihad medsos kah, buzzers kah, pada intinya sama. Belum lagi kubu-kubu yang berseberangan ini dihadirkan dalam acara talkshow yang dilihat jutaan orang melalui televisi dan laman internet. Terjadi perdebatan sengit bahkan caci maki. Dan pastinya tujuan jangka pendeknya adalah motif ekonomi, preferensi dukungan pada kubunya, atau anggapan aktualisasi diri-ala Maslow. Belum lagi medsos yang lain, whatsapp, telegram, milist, dan sebagainya.

Sebagian (besar) orang berpendapat maklum karena kita berada pada tahun politik. Tahun ketika suhu politik memanas karena masyarakat ini akan dihadapkan pada hajat besar pemilihan pemimpin-Wakil Rakyat dan Presiden/Wakil Presiden. Suhu politik yang sempat dingin sementara saat Hanifan-Atlit Pencak Silat Asian Games 2018- menunjukkan respon luar biasa melebihi prestasi medali yang diraihnya. Namun kini suhu mulai memanas lagi dengan segala macam pemicunya.

Rupanya kata-kata yang tidak layak bukan hanya ada didunia maya. Di dunia nyata pun ada. Tak sedikit saya menjumpai perkataan yang tak enak didengar, sepat dibaca, dan berbagai perdebatan di lintas lingkungan. Di perumahan, antar perumahan, organisasi, perkantoran, perkumpulan, dan sebagainya.

Benar kata ulama. Jaman ini sudah tua. Padahal Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan sejak 15 abad yang lalu.
“Sungguh akan terjadi suatu fitnah yang akan membinasakan bangsa Arab; orang-orang terbunuh (dalam fitnah ini) berada di neraka. Serangan lisan saat itu lebih tajam dari sabetan pedang.” (HR. Abu Dawud IV/4265 dan Ibnu Majah II/3967). Hadits ini di-dhaif-kan oleh Al-Albani. Namun saya tidak akan membahas aspek mengapa dhoif. Saya tahu diri bahwa ilmu mustholah hadits saya belum seberapa, pun dengan pembaca tulisan ini juga sangat beragam. Namun yang pasti, ulama sehebat Imam Ibnu Katsir memasukkan dalam bukunya. Tentu ada hikmah besar yang penting dipahami pembacanya. Lagipula perihal lisan yang tajam itu juga diperkuat dengan hadits yang lain. “Akan terjadi fitnah, orang tidak lagi dapat mendengar, bisu dan tuli dari kebenaran. Barang siapa mencoba untuk mendekati fitnah tersebut, maka ia akan tertarik ke dalamnya. Dan ikut serta dalam mengumbar lisan di dalamnya lebih dahsyat daripada sayatan pedang.” (HR Abu Dawud IV/4264)

Menurut saya, hadits ini sangat relevan dengan situasi saat ini. Dahulu orang membunuh dengan pedangnya. Tapi kini orang bisa membuat luka dengan kata-katanya, baik yang terucap maupun yang tertulis. Tak jarang pula pembunuhan karakter juga terjadi dengan kata-kata. Sadar atau tidak.

Sebagai contoh, ada tersangka korupsi kemudian diberitakan dengan masif. Lantas dikomentari dengan pedas oleh publik yang tentu saja tidak semuanya memiliki pemahaman hukum. Komentar terus berkembang hingga justru menjadi ajang penghakiman. Padahal ada asas praduga tak bersalah yang menyatakan bahwa seseorang tidak dapat dikatakan bersalah dalam hukum hingga pengadilan memutuskan.

Jika dijelaskan mengenai asas praduga tak bersalah, kemudian muncul argumen yang menyatakan bahwa publik tak sepenuhnya salah. Sampai menjadi tersabgka saja sudah melukai hati publik. Maka kebenaran akan dilihat dari sudut pandang publik yang melihat bahwa sampai status tersangka pun sudah layak untuk dihakimi bersalah.

Saya tidak akan menyalahkan atau membenarkan argumen tersebut. Namun saya berharap pada yang sepakat dengan saya saja bahwa kebenaran mutlak itu milik Tuhan dan Nabi-Nya. Oleh karenanya penting bagi kita untuk melihat kebenaran dari sudut pandang ketuhanan dan kenabian. Itu pun masih akan ada banyak perbedaan, apalagi jika menggunakan cara pandang yang berbeda. Belum lagi proses membentuk cara pandang ketuhanan dan kenabian ini yang membutuhkan proses panjang.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak membentuk persepsi ilahiyah melalui satu langkah awal yang sederhana. Yaitu kembali ke rumah ibadah. Sudah menjadi keniscayaan orang-orang Islam harus rajin ke masjid atau musholla. Beribadah dan mengingat Tuhan disana. Agar hati ini menjadi tenteram. Agar tidak mudah tersulut dalam peperangan kata-kata yang sejatinya nir makna. Agar terjaga dari fitnah tajamnya kata-kata.

*ditulis dalam 2 kali perjalanan KRL ditengah himpitan publik (secara fisik)

Iklan

Pendidikan Anak: Pekerjaan Lintas Generasi

Published Juni 14, 2018 by pembawacerita

Saya sadar betul bahwa saya bukanlah siapa-siapa dalam peradaban ini. Pun saya paham benar bahwa saya bukanlah orang terpilih untuk memperbaiki kondisi global yang sering kali menjadi bahan perseteruan, dikotomi, dan perpecahan.

Namun boleh kan saya memiliki harapan? Entah generasi keberapa, entah dari keluarga yang mana, boleh lah saya berharap para pemimpin dan pembangkit peradaban lahir dari anak-anak kita.

Saya meyakini, perbaikan negeri, pembangkit peradaban, dan segala bentuknya merupakan pekerjaan lintas generasi. Beberapa waktu lalu saya menulis rangkaian keturunan luar biasa Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang lahirnya tidak dapat dilepaskan dari kehebatan kakek buyutnya, Umar bin Khaththab. Ini pekerjaan lintas generasi.

Ada lagi sejarah nyata yang abadi, keluarga yang bukan siapa-siapa. Bukan nabi, bukan khalifah, bukan pemimpin, bukan pejabat. Keluarga biasa saja. Hanya memang keluarga ini menjaga keshalihannya. Keluarga ini sangat concern dengan pendidikan anak-anaknya. Keluarga Imran yang diabadikan dalam nama surat Ali Imran. Imran memiliki anak perempuan yang diberi guru terbaik oleh keluarganya. Anak perempuan bernama Maryam yang menjadi murid Nabi Zakariya. Murid yang luar biasa dan Guru yang tulus ikhlas.

Perkembangan selanjutnya, Maryam bukan hanya menjadi murid yang berbakti dan sholihah, lebih dari itu ia bisa memberikan solusi kepada problem gurunya. Maryam menemukan tempat yang mustajabah untuk berdoa, yaitu mihrab. Dari mihrab itu Maryam berdoa dan beribadah hingga seluruh kebutuhannya dicukupi oleh Tuhan tanpa perlu meninggalkan tempatnya. Kemudian Nabi Zakariya meniru apa yang dilakukan Maryam untuk berdoa mendapatkan anak. Disitulah ada keajaiban, seorang yang tua, mandul, menopause, kemudian dianugerahi anak setelah berdoa tak kenal jemu di mihrabnya. Lebih dari itu, anak yang lahir sudah diberi nama oleh Tuhan dan pada dewasanya diangkat menjadi nabi, dialah Nabi Yahya.

Kembali pada Maryam binti Imran, perempuan yang lahir dari keluarga biasa saja. Dengan keimanan keluarganya, perhatian terhadap pendidikan Maryam, menghasilkan keshalihahan luar biasa, maka Allah pun memilih Maryam menjadi perempuan yang rahimnya terpilih untuk mengandung janin calon pemimpin peradaban, yaitu Nabi Isa.

Dalam sudut pandang keluarga Imran, tentu mereka tidak tahu bagaimana skenario dan keputusan Allah. Tapi jelas, mereka concern sekali pada pendidikan anaknya. Tentu dengan harapan agar lahir dari keturunan mereka orang-orang yang sholih dan akan membawa perbaikan. Ini adalah pekerjaan lintas generasi.

Berkaca dari best practice itu, harapan saya membumbung tinggi. Bukan saya yang akan menjadi pemimpin, pun bukan saya pula yang akan membangkitkan peradaban. Tetapi saya berharap dari anak-anak, entah itu anak biologis saya, entah itu anak ideologis saya, ataupun anak dari orang-orang yang sholih, akan lahir pemimpin peradaban dunia.

Adapun saya, hanya ingin turut bergabung dalam secuil proses saja. Dengan memperhatikan benar pendidikan anak, bukan hanya anak biologis saya tentunya, tetapi juga anak-anak yang membentuk lingkungan anak biologis saya. Saya ingin membersamai pendidikan mereka. Dengan harapan akan muncul karakter-karakter hebat yang membawa kebaikan di lingkungan dan dimanapun mereka berada.

Rasanya, belum lama membersamai anak-anak kecil dalam pawai obor Ramadhan. Kini Ramadhan sudah ada dipenghujungnya. Saya sedih disatu sisi, walau kesedihan saya tentu tidak seberapa dibandingkan kesedihan para sahabat nabi dan generasi terbaik. Namun disisi lain, saya benar-benar berharap agar Ramadhan-ramadhan yang diikuti, bukan sekedar dilalui, oleh anak-anak adalah ramadhan yang berkualitas, ramadhan yang menanamkan memori permanen dalam alam bawah sadarnya hingga kelak akan bangkit dan berkembang serta menjadikan mereka pemimpin peradaban.

*Tanah Gardenia, Kota Depok 29 Ramadhan 1439H

Dilema: Terbaik atau Terterima

Published Mei 1, 2018 by pembawacerita

Beberapa hari lalu saya searching lagu Kangen-nya Dewa 19 di youtube. Kangen dengan apa dan siapa? Nanti dulu, saya tidak sedang ingin membahas kangen dengan siapa dan apa. Saya justru mendapat inspirasi lain setelah saya menemukan Kangen yang dinyanyikan Ghea Indonesian Idol. Saya sepakat dengan Ari Lasso bahwa Ghea berhasil menghadirkan sesuatu yang lama menjadi sesuatu yang baru dan tak kalah menarik. Hal yang juga mengena adalah perbedaan persepsi dalam menyajikan suatu lagu. Ari Lasso mengatakan dulu Ahmad Dhani menulis lagu itu dengan menggebu-gebu dan Ari pun menyanyikan dengan rasa kangen yang menggebu-gebu juga. Namun Ghea bisa menghadirkan lagu yang sudah berumur 26 tahun, yang notabene lebih tua dari umur Ghea sendiri, dengan persepsi anak baru gede yang malu-malu untuk mengungkapkan rasa kangennya. Persepsi, sudut pandang, dan sentuhan yang berbeda untuk menghadirkan keindahan.

Saya sebenarnya tidak pernah mengikuti acara Indonesian Idol ini. Pun saya tidak terlibat dalam dukung mendukung finalis ajang pencarian bakat itu. Seperti cerita awal saya, searching lagu Kangen dan ketemu dengan versi Ghea.

Pertanyaan selanjutnya, apakah performa Ghea itu menjadi yang terbaik? Ternyata tidak. Pada kenyataannya pemenang Indonesian Idol 2018 adalah Maria. Tidak dapat dipungkiri memang secara teknik menyanyi, Maria memiliki kelebihan dibandingkan finalis yang lain. Sangat wajar jika Maria menjadi pemenang.

Namun, secara pribadi ketika membandingkan dengan para pemenang Indonesian Idol, pada umumnya mereka adalah penyanyi-penyanyi dengan teknik tinggi dan powerfull. Saya menjadi bertanya apakah memang pattern pemenang Indonesian Idol adalah seperti itu? Entah kenapa kemudian saya terpikir mencari persepsi yang lain. Saya search Indonesian Idol di youtube, kemudian saya urutkan dengan jumlah tayangan. Ternyata justru bukan Maria yang memiliki view tertinggi. Jika diambil cut-off penampilan yang dihadiri penonton (bukan hanya juri), ternyata Ghea memiliki view tertinggi. View tertinggi ketika konser Indonesian Idol 2018 adalah Ghea saat menyanyikan lagu Akad ditonton 13,5 juta kali kemudian baru Maria ditonton 12,2 juta kali saat menyanyikan lagu Never Enough. Ketika saya scroll ke bawah, Maria saat menyanyikan lagu Kecewa ditonton 10,5 juta kali dan Ghea ditonton 9,7 juta kali saat menyanyikan lagu Kangen.

Yes, saya mendapatkan satu insight baru. Terterima. Data statistik perbandingan jumlah view di youtube antara Ghea dan Maria dua lagu teratas jelas menunjukkan Ghea lebih banyak dengan total 24,2 juta kali itu lebih banyak 1,5 juta kali dibandingkan Maria sebanyak 22,7 juta kali. Setidaknya dari data statistik tersebut menunjukkan ada perspektif lain, yaitu terterima.

Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa sesuatu yang terbaik belum tentu terterima, vice versa. Fakta Ghea dan Maria ini mengingatkan saya pada stand up comedy, Dodit Mulyanto. Secara statistik, Dodit memiliki follower twitter 558K. Nilai ini jauh lebih besar bahkan empat kali lipatnya jumlah follower David Nurbianto yang notabene pemenang SUCI 4 dengan jumlah follower twitter 130K. Tak jarang Dodit menggunakan data statistik follower twitter ini menjadi materi stand up comedy-nya dengan mengutip lirik lagu “malaikat juga tahu, siapa yang menjadi juaranya”.

Terbaik dan terterima. Idealnya memang sesuatu yang terbaik juga terterima. Namun fakta yang terjadi tidak seideal yang diharapkan itu. Ada dikotomi terbaik dan terterima. Pun saya kira sumber daya dan strategi untuk menghadirkan yang terbaik dan terterima adalah berbeda. Mungkin perkiraan saya ini salah. Tapi kira-kira untuk menghadirkan yang terbaik, seseorang memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendesain, merencanakan, dan menghasilkan produk yang terbaik. Seseorang mungkin lebih banyak meramu produknya secara mandiri dengan pertimbangan-pertimbangan literatur yang memadai agar hasilnya memang terbaik. Disisi lain, menghadirkan sesuatu yang terterima mungkin tidak membutuhkan sumber daya atau materi yang sama untuk menjadi yang terbaik. Namun jelas, produk terterima tidak bisa hanya dikerjakan secara mandiri melainkan melibatkan banyak pihak.

Perkiraan saya yang jelas tidak selalu benar karena hanya didasarkan pada keterbatasan fakta Indonesian Idol dan Stand Up Comedy ini dalam beberapa hal mungkin bisa terjadi dalam organisasi. Terbaik atau kah terterima. Dua hal yang harus dipilih salah satu karena sangat berat untuk menghadirkan keduanya secara bersamaan. Strategi menghadirkan agar dapat menghadirkan yang terbaik ataukah strategi untuk memperoleh yang terterima, keduanya menjadi pilihan. Tentu saja ini menjadi dilema. Kira-kira, jika pembaca menjadi pelaku atau bahkan pimpinan di suatu organisasi, akan memilih terbaik ataukan terterima?

La Seine et La Marne

Published Oktober 22, 2017 by pembawacerita


Nicolas Coustou membuat patung ini untuk menggambarkan kesejahteraan rakyat Perancis diantara dua sungai. Sungai Seine dan Sungai Marne menjadi sumber kehidupan. Ini terlihat dari dayung yang dipegang sosok ayah pada patung itu. Hanya dengan berbekal dayung, perahu, dan jala untuk mengeksploitasi kekayaan sungai, Sang Ayah sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Nafkah lahir dan batin untuk istrinya dan kebahagiaan untuk dua anaknya seperti yang ingin diungkapkan Coustou pada karyanya yang diterpampang di Jardin des Tuileries.
Ada makna positif jika hendak menelisik lebih dalam. Pertama, Perancis sangat menghargai karya anak adam. Karya Nicolas Coustou lainnya juga terpampang di tempat yang sama. Coustou sendiri terkenal sebagai pematung dengan makna-makna humanisme. 
Kedua, pemahaman akan kekayaan alam suatu negara penting untuk diabadikan dan terus-menerus disampaikan lintas generasi. Ini menjadi bagian dari kebanggaan sekaligus optimisme. Bangga memiliki kekayaan alam yang sudah cukup, sekali lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kebutuhan hidup dan keluarga sudah terpenuhi, lantas apalagi yang akan dicari. Selain itu juga memberikan nilai optimisme bahwa sudah cukup makmur dan bahagia dengan kekayaan alam yang ada berarti kemandirian. Tak tergantung dengan negara lain karena mampu mengoptimalkan kekayaan yang dimiliki negara.
Ketiga, begitu berharganya alam maka menjadi keniscayaan untuk menjaganya. Karya Coustou yang mengangkat nilai humanisme ekonomi tersebut memberikan makna positif pula agar sumber kehidupan harus dijaga. Sungai Seine dan Sunga Marne harus tetap dijaga agar tidak tercemar sehingga bisa bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
*tulisan di Kereta Maastricht-Amsterdam

Kepada siapa kita minta tolong menghindari riba?

Published September 14, 2017 by pembawacerita

*Wipy (Bendahara LaaRiba BPK)

Retorika. Semua juga tahu bahwa jawabannya adalah Allah.⁠⁠⁠⁠ Oleh karena retorika saja, dan semua juga sudah tahu bahwa jawabannya sama, yaitu Allah, maka langkah yang paling prinsipil dalam memohon pertolongan dari Allah adalah menguatkan TAUHID.

Teoritis? Tidak. Komitmen terucap menjadi langkah kesungguhan. Keyakinan hati menjadi kunci. Perwujudan tindakan menjadi realisasi keyakinan.

Kita semua tahu, bahwa insyaAllah semua anggota LaaRiba BPK ini memiliki komitmen baik tertulis maupun terlisan akan menghindari riba, menyelesaikan permasalahan riba, dan tidak berhubungan dengan riba kembali. Secara pribadi saya tidak menyangsikan lagi.

Lantas untuk apa saya menulis ini? Saya berharap tulisan ini bisa membantu memperkuat keyakinan hati dan menumbuhkan keinginan mewujudkan tindakan untuk meminta pertolongan Allah.

Pertama, jika kita meminta pertolongan dari Allah untuk memusuhi riba, itu sudah benar sekali. Saya perlu mengingatkan kembali bahwa riba memang berdampak besar, penyakit peradaban sejak jaman Nabi Sulaiman, dan membawa bencana bagi kehidupan manusia, baik pribadi maupun lingkup besar kemasyarakatan. Maka dari itu, Allah dan Rasul-Nya langsung yang akan memerangi riba. Ini mensyaratkan kepada kita bahwa tanpa pertolongan Allah, tidak mungkin kita bisa melawan Riba. Mari kita ingat kembali firman Allah SWT:

فَاِنْ  لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ۚ  وَاِنْ تُبْتُمْ  فَلَـكُمْ رُءُوْسُ اَمْوَالِكُمْ ۚ  لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ

“Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 279)

Masihkah kita berpikir dua kali untuk menggantungkan diri pada manusia agar menolong kita dari bencana riba? Jika masih berpikiran seperti itu, kita harus introspeksi diri, seberapa besar keyakinan kita kepada Allah. Termasuk keinginan kepada komunitas Laariba juga. Adalah tidak tepat jika harapan mendapat pertolongan dari komunitas ini menjadi tujuan utama. Maka kita harus kembali meluruskan niat, bahwa pertolongan hanyalah dari Allah karena hanya Allah yang mampu mengalahkan peperangan melawan Riba.

Kedua, lantas langkah apa yang harus kita wujudkan agar mendapat pertolongan?
Langkah pertama adalah Sholat. Perbanyak sholat. Tingkatkan kualitas sholat. Begitu tingginya sholat, sampai Allah memberitahu Rasulullah dalam hadits qudsi…

qasamtush sholata bayni wa bayna ‘abdi nishfain … Aku membagi sholat antara aku dan hamba-Ku dua bagian

fanishfuha lii …sebagian untukku

fanishfuha li ‘abdi …sebagian lagi untuk hamba-Ku

wa li ‘abdi maa sa ala …dan untuk hamba-Ku apa-apa yang ia minta

Maka pada saat kita sholat mengucapkan:
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 5)

Allah mengatakan hadza bayni wa bayna ‘abdi, wa li ‘abdi maa sa ala … ini antara Aku dan hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa-apa yang ia minta.

Bayangkan, kita belum selesai sholat, bahkan kita baru mulai sholat, masih berdiri, dan Allah sudah mengetahui hasrat keinginan kita. Lebih dari itu, Allah berjanji mengabulkan semua permintaan kita. Atau jangan-jangan diantara kita sudah pernah merasakan Allah telah memberi sebelum kita minta? _Wa’dallahi haqqa_…Janji Allah adalah benar.

Langkah kedua adalah sabar. Langkah ini sangat penting untuk mendapat pertolongan Allah. Karena itulah Al Qur-an menggandengkan sabar dan sholat agar kita mendapat pertolongan Allah.

Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 153)

Mudah ya? Memang mudah. Tapi kita harus waspada jika masih merasa berat.

Allah SWT berfirman:
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ  وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 45)

Jika bertindak sabar masih dirasa berat, maka kita harus kembali memperbaiki sholat kita agar lebih khusyuk. Lagi-lagi kuantitas dan kualitas sholat harus ditingkatkan.

Masih berat juga? Sudah berniat menghindari riba, ternyata setelah berhenti justru tanggungan semakin berat. Didenda bank lah, anak merengek minta jajan disaat uang jajannya kita kurangi lah, istri/suami protes karena kurang piknik, gelisah, takut, antrian qardh dari Laariba tak kunjung dekat, rasanya mau marah. Wajar. Kita harus berkhusnuzhon kepada Allah. Ini bagian dari keputusan Allah untuk membersihkan kita dari dosa-dosa riba akibat keputusan kita bertransaksi riba. Berat? Wajar jika berat. Bukankan dosa riba yang paling ringan adalah setara dengan menzinai ibu kandungnya sendiri?

Maka sabar menjadi kunci pertolongan Allah. Percayalah, kombinasi sabar dan sholat akan mendatangkan rejeki langsung dari Allah. Dan ingat, Jangan bersabar sendirian saja. Jangan sholat sendirian saja. Mari kita ajak keluarga kita. Mari kita libatkan keluarga kita untuk turut bersabar dan mendirikan sholat. Bangunkan istri/suami kita untuk qiyamul lail. Hingga ketentuan Allah datang.

Bukankah Allah SWT berfirman:
وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا   ۗ  لَا نَسْــئَلُكَ رِزْقًا   ۗ  نَحْنُ نَرْزُقُكَ   ۗ  وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan sholat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 132)

Langkah ketiga adalah berdakwah atau menolong agama Islam. Sholat sudah, sabar sudah, tapi pertolongan belum jua datang. Apa yang harus kita lakukan?

Coba datang ke masjid. Lihat sekelilingnya. Mungkin masjid perlu disapu, dipel, dibersihkan, maka mari kita ambil peran dakwah itu. Kita lihat lingkungan disekitar kita, anak-anak terlalu banyak bermain dan tidak mengaji, maka mari kita ambil peranan dakwah mengajari anak-anak mengaji. Kita lihat musholla di kantor, mukena dan sajadah lecek belum dicuci, maka mari kita ambil peran dakwah mencuci mukena dan sajadah. Termasuk kita semua tertib membayar wadi’ah kepada komunitas LaaRiba BPK agar bisa dimanfaatkan sebagai qardh bagi saudara-saudara anggota komunitas yang membutuhkan bantuan membebaskan diri dari riba. Dan lain upaya menolong agama Allah lainnya. Sesungguhnya ladang dakwah sangatlah luas. Hingga Allah menurunkan pertolongannya sebagaimana firman-Nya:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad 47: Ayat 7)

Sholat sudah, sabar sudah, nyuci karpet masjid sudah, menolong umat islam sudah, eh…giliran mau mendapat bantuan dari Laariba justru ada anggota lain yang memerlukan.

Sebel? Tidak transparan? Tidak akuntabel?

Mari sejenak kita ingat bagaimana kaum Anshar dan Muhajirin. wa laa yajiduna fii shudurihim hajatan mimma uutu, wayu’tsiruna ‘ala anfusihim walau kaana bihim khashashah (Surat Al Hasyr) dan tidak ada keinginan dalam dada mereka untuk merepotkan antar mereka, mereka saling mengutamakan saudaranya yang lain walaupun secara pribadi membutuhkan.

Kaifa ant? …bagaimana anda? (eh…kita)

Alkisah Sepeda Basah

Published September 7, 2017 by pembawacerita

Pada suatu hari, ada huru-hara di kantor pademangan.

Penyiduk     : Sodara Basah, anda terbukti tertangkap basah sedang mencuri sepeda berikut asesorisnya helm dan jersey. Anda kami tangkap dan kami tetapkan sebagai tersangka.

Basah          : Pak, ada apa pak? kok tiba-tiba saya ditangkap dan ditersangkakan.salah saya apa?

Penyiduk     : Seperti yang kami bilang tadi. anda tertangkap basah mencuri sepeda, helm dan jersey-nya.

Basah          : Saya tidak mencuri pak. Itu bukan sepeda saya.

Penyiduk     : Kami punya bukti anda melihat-lihat sepeda tersebut, memegang-megangnya, mengendarainya, kemudiam anda bawa sepeda itu.

Basah          : Pak, itu sepeda bukan punya saya. Saya ga tau itu sepeda siapa.

Penyiduk     : Saat ini anda hanya bisa mengklaim diri anda tidak bersalah. Menurut pengamatan kami anda tertangkap mencuri sepeda. Anda kami tahan dan kami tetapkan sebagai tersangka.

 

….krek…diborgol…

 

Togog          : Duh, Pak Demang Basah ditangkap penyiduk. Ditetapkan pula sebagai tersangka. Terus ini nanti yang memimpin pelaksanaan tugas di pademangan siapa?

Bilung          : Oalah Gog, Togog. ya gampang saja to. pilih orang lain buat gantiin.

Togog          : Lha kok seenaknya saja kamu bilang begitu. ini dampaknya besar Lung. bukan sekedar ganti demang.

Bilung          : Memangnya apa? lha masalahnya kan cuma Demang Basah ditangkap basah mencuri. gitu aja to? ya sudah ganti saja.

Togog          : Lung, nih kamu buka kelepon selularmu ya. Tertangkapnya Pak Demang Basah ini sudah menjadi berita dan tersebar di seluruh Negeri Antapraja. Lihat juga komentar-komentarnya. Pademangan Wijayamantri rusak namanya.

Bilung          : Halah Gog, Togog…ya dibuktikan saja dipengadilan bahwa Pak Demang tidak mencuri. Kalo bersih kenapa musti risih gitu lho Gog?!

Togog          : Kamu bener Lung. kalo bersih ya harus berani. tetapi itu kamu mikirnya sendiri. kamu tidak mikir bagaimana kelanjutan program kerja Pademangan Wijayamantri ini. Pasti terganggu dan tidak berjalan sesuai rencana karena demangnya diciduk. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk pemilihan demang baru. Belum juga opini liar di media yang beredar sejagad Antapraja.

Bilung          : Mikirmu ribet Gog.

 

…tak lama kemudian…

 

Bagong        : heh… heh… heh…

Togog          : Ada apa Gong? kok terengah-engah begitu.

Bagong        : sepedaku ketinggalan tadi di depan kantor pademangan.

Togog          : Semprul. itu sepeda sekarang jadi barang bukti di Penyiduk karena menangkap Pak Demang Basah dengan sangkaan mencuri sepeda.

Bagong        : embuh… gimana caranya agar sepeda saya mbalik?

Bilung          : Ya kamu ke kantor penyiduk sana. bilang bahwa itu sepedamu ketinggalan.

 

….mak nyuk kemudian sampai di kantor penyiduk..

 

Bagong        : Pak Penyiduk… Pak Penyiduk… itu sepeda saya pak. yang bapak jadikan barang bukti pada penangkapan Demang Basah itu sepeda saya pak.

Penyiduk     : kok bisa? buktinya apa?

Bagong        : coba bapak cek di-frame-nya. ada stiker tulisan Punakawan pakai aksara jawa. Di-fork bawah ada baret melintang sekitar 2 cm. Itu baret pas saya pake Tour de Pinggiran Jawa. Trus sadel bagian bawah ada bekas seperti terbakar. Itu gara-gara teman saya, Gareng, naruh rokok di rangka sadel trus tidak sengaja nyunyuk sadelnya itu. Itu sepeda saya pak. kalo ga percaya nanti saya siap hadirkan Gareng dan Petruk. Petruk ini asisten saya yang nyopir ambulan mendampingi saya pas Tour de Pinggiran Jawa.

Penyiduk     : Baik. hasil keterangan yang kami peroleh sesuai dengan pengakuan anda. Sepeda ini kami kembalikan kepada anda.

Bagong        : Syukur ing ngarsaning Gusti. terima kasih ya pak Penyiduk. saya mohon pamit.

 

….tak lama kemudian di kantor penyiduk…

 

Penyiduk     : sepeda barang bukti sudah kami kembalikan kepada pemiliknya. bagaimana bisa anda berhubungan dengan sepeda itu?

Basah          : pak penyiduk, itu sepeda tiba-tiba ada di depan kantor Pademangan. sepedanya menarik. saya belum pernah lihat dan mencobanya. makanya saya lihat-lihat. kemydian saya pegang-pegang. kemudian saya coba naiki muter halaman kantor pademangan. nah belum dapat satu putaran Bapak sudah menangkap saya.

Penyiduk     : baik. dengan demikian sulit dibuktikan anda melakukan pidana pencurian.

Basah          : Wah…saya bisa bebas ya pak?

Penyiduk     : Oo…belum. Itu kan baru sepedanya. Lha helm dan jersey itu belum ada penjelasan dari anda.

Basah          : pak, helm dan jersey itu baru saya beli di pasar kaget samping kantor pademangan.

Penyiduk     : Kenapa anda tidak laporkan di Laporan Harta dan Kekayaan Penyelenggara Pademangan?

Basah          : Ya nanti saya perbaiki laporannya pak.mohon maaf ada kesalahan. lagipula helm dan jersey ini baru kok.

Penyiduk     : Wah tidak bisa. Jadi anda selama ini melakukan penipuan. Penipuan karena mengisi Laporan Harta tidak sesuai keadaan. Anda kami tersangkakan dengan tindak pidana penipuan.

Basah          : Ampun Gusti. Saya harus bagaimana hidup di negeri ini?

 

Begitulah kisah sepeda dan Demang Basah. Kini Demang Basah masih meringkuk di tahanan penyiduk.

 

Togog pun bertanya-tanya. Lantas buat apa kegiatan penangkapan basah Demang Basah yang lalu? Logikanya bagaimana kegiatan membuktikan suatu tindak pidana kemudian sulit dibuktikan kemudian ganti menjadi tindak pidana lain? Lantas bagaimana pula dampak kekisruhan di Pademangan Wijayamantri?

 

…ah sudah lah, waktunya Togog, Bilung, Bagong kembali beraktivitas pagi.

 

 

Dua Hal Pemicu Azab

Published Februari 20, 2017 by pembawacerita

 

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana telah terjadi. Mari kita renungkan, apakah bencana itu merupakan ujian atau kah azab. Jika ujian, tentu kondisi yang ada sudah baik penuh keimanan dan ketakwaan. Lantas Allah memberi ujian agar naik level keimanan dan ketakwaan kita.

Tapi jika kondisi disuatu daerah masih jauh dari keimanan dan ketakwaan, maka kita harus waspada. Jangan-jangan bencana yang terjadi ini merupakan azab ‘kecil’ dari Allah.

Mari kita lihat di lingkungan kita. Apakah zina dan riba telah merajalela? Mungkin ada diantara pemimpin kita yang tetap mengijinkan aktivitas perzinaan. Atau bahkan memfasilitasi dengan membuat komplek tertentu. Lantas diantara kita tak ada yang mencegahnya melalui “nahi munkar”. Maka perzinaan pun menjadi hal yang biasa.

Ada juga sudut pandang oknum perempuan seperti ini, “Daripada suami gue poligami, mending dia jajan aja”. Naudzubillah. Bahkan seorang oknum istri telah hilang rasa cemburunya kepada suami. Ini juga memicu merajalelanya perzinaan. Mungkin banyak contoh dan pemicu lainnya. Namun, inti permasalahannya adalah perzinaan. Apapun pemicunya, perzinaan akan mendatangkan azab. Bukan hanya kepada pelakunya, tetapi juga kepada masyarakat di sekitarnya.

Riba. Ini jauh lebih berat lagi. Dosa teringan riba itu seperti menzinai ibu kandungnya sendiri. Naudzubillah min dzalik. Maka jelas sangat logis jika dosa riba dapat berdampak pada turunnya azab.

Sekarang mari kita lihat kondisi di sekeliling kita. Berapa banyak tawaran kredit dengan bunga tanpa akad syari’ah? Mobil, motor, peralatan elektronik, sampai perlengkapan dapur juga tersedia fasilitas ribawi. Lembaga-lembaga keuangan yang terdaftar semakin banyak menawarkan produk-produk riba. Bahkan tidak sedikit praktik rentenir di kalangan masyarakat.

Dalam kondisi perekonomian yang semakin berat dan kebutuhan hidup yang semakin mahal, seseorang sangat mungkin tidak kuasa lagi meneguhkan kesabarannya dalam menjauhi riba. Padahal kesabaran untuk tetap teguh menjaga diri dari riba itu jauh lebih utama. Menjauhi riba berarti menjaga kehalalan rejeki kita. Mengkonsumsi rejeki yang haram justru akan membawa musibah dan menghalangi terkabulnya doa. Demikian pula dengan riba. Secara personal, riba membawa dosa besar bagi pelakunya, menghalangi terkabulnya doa, dan memancing musobah bagi dirinya. Tidak berhenti sampai di situ, riba membawa bencana bagi masyarakat. Semakin banyak praktik riba di suatu masyarakat, maka Allah akan mendatangkan azab kepada masyarakat itu. Dan ketika azab telah datang, yang dirugikan bukan hanya pelaku riba, tetapi juga warga masyarakat lain yang tidak melakukan.

Mari kita jauhi segala bentuk perzinaan dan riba. Agar Allah menjaga kita dari azab-Nya.

*tulisan pagi di KRL Depok-Jakarta