Timun Godhog dan Hasil Bumi Mbokdhe Tun

Published Oktober 13, 2018 by pembawacerita

Berkeliling silaturahmi dan bermaaf-maafan pada Hari Raya Idul Fithri keliling kampung dari pagi sampai siang hari memang benar-benar menghabiskan energi. Apalagi jika musimnya kemarau, berpanas-panas jalan kaki, kemudian siang harinya berpindah tempat ke kampung lain naik motor alat transportasi andalan di keluarga saya.

Biasanya siang hari kami ada di Ngetal, rumah Mbokdhe Tun, salah satu kakak perempuan Bapak. Dalam kondisi lelah, panas, penuh keringat, sejenak setelah duduk, kami langsung mendapatkan hidangan khas. Timun godhog (mentimun rebus), gambas godhog (oyong rebus), aneka ragam ubi rebus (dari ubi jalar, ganyong sampai uwi…duh…apa bahasa indonesianya ya?). Dan pastinya sudah dapat diterka. Saya adalah yang paling banyak menghabiskan timun godhog dan gambas godhog. Coba kita bayangkan, panas terik, haus dahaga, kemudian menggigit timun godhog yang dingin alami dan saat digigit, airnya pecah di dalam mulut. Belum lagi saat ditelan rasa dinginnya terasa mengalir dari kerongkongan sampai lambung.

Begitu seterusnya dari tahun ke tahun. Setiap Hari Raya Idul Fithri, suasana di rumah Mbokdhe Tun selalu seperti itu. Ada kalanya Mbokdhe menyuguhkan opak gadhung. Gadhung adalah sejenis ubi yang kalau mentah gatalnya luar biasa. Tapi ketika sudah diolah, rasanya ga bisa berhenti makan. Begitupun saya. Kalau sudah di rumah Mbokdhe Tun, satu kaleng kongguan bulat bisa saya habiskan sendiri opak gadhung hasil kebun sendiri dan diolah sendiri oleh Mbokdhe Tun. Ah…namanya juga saya. Sering pula kelewatan makan opak gadhung kebanyakan. Wal hasil sampai rumah langsung pusing dan mual. Itu artinya mendem gadhung.

Begitu sampai Mbokdhe jarang mengolah kebun karena faktor usia. Tapi tetap saja ada yang disuguhkan khas cita rasa Mbokdhe Tun. Tapi ketan hitam yang manis. Kalau minuman bersoda sekelas kolakoka kalah jauh dibanding tape ketan hitam Mbokdhe Tun.

Sangat memorable. Hingga dalam perjalanan saya semalam dari Surabaya ke Trenggalek, tiba-tiba ponsel saya bergetar. Ibu telepon. “Le tekang ngendi? Mudhun Ngetal ae yo, mengko dipapag neng protelon. Mbokdhe Tun seda” (Nak, sampai mana? Turung Ngetal saja ya, nanti dijemput di pertigaan. Mbokdhe Tun meninggal). Dini hari saya baru sampai Tulungagung. Ibu telepon kembali. Agar saya pulang ke rumah saja karena Ibu dan Bapak juga pulang untuk istirahat.

Pagi hari ini, Ibu, Bapak, dan saya ke Ngetal. Berkumpul dengan keluarga besar Mbokdhe Tun. Rupanya kemarau tahun ini cukup bisa membuat tanah Trenggalek menjadi keras sehingga perlu wakti lebih lama untuk menggali liang lahat. Hingga siang hari jenazah Mbokdhe Tun baru dimakamkan.

Sekembalinya dari makam, rasanya de javu. Panas kemarau, lelah, keringat, berkumpul semua keluarga besar. Namun ada yang kurang, yaitu timun godhog Mbokdhe Tun.

Saya menjadi saksi, dan keluarga kami menjadi saksi, betapa kebaikan Mbokdhe Tun mengalir terus menerus hingga ajal menjemput. Tak henti-hentinya ibu bercerita selama Mbokdhe Tun dirawat tak lepas dari dzikir dan sholat. Bahkan hingga suaranya habis tak terdengar, bibirnya tak henti-henti berdzikir.

Semoga Allah berikan surga untuk Mbokdhe Tun. Dan semoga nanti saya bisa berjumpa Mbokdhe Tun di surga untuk menikmati timun godhog dan gambas godhog.

Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha.

*Ngetal-Trenggalek, Sabtu, 13 Oktober 2018

**foto: keranda jenazah Mbokdhe Tun, pohon mangga depan rumah Mbokdhe Tun, nisan Mbokdhe Tun, dan sebagian para pelayat.

Iklan

Sold Out, Tapi….Berkah

Published Oktober 8, 2018 by pembawacerita

Sebenarnya isu tiket sold out tapi bangku penonton banyak yang kosong sudah ada sejak Asian Games yang lalu. Saya memang tidak membuktikan ke spot-nya. Hanya mantengin timeline saja. Nah sama dengab Asian Para Games. Ada informasi di timeline kalau tiket sudah sold out. Tapi ya itu tadi…bangku penonton kosong.

Sudah cukup. Ini sebagai pembuka saja. Saya tidak dalam rangka mengkritisi Asian Games atau Asian Para Games. Daripada daripada ada tuduhan yang macam-macam, mendingan mendingan saya tidak menulisnya. Toh ga ada manfaatnya.

Dari sini saya ingin mengawali dari berpikiran positif dahulu. Bisa jadi tiket yang habis tersebut sudah diborong orang kaya kemudian dibagi-bagikan untuk berbagi kebahagiaan. Seperti trickle down effect begitu. Kalaupun hasilnya penonton yang hadir hanya sedikit, bisa jadi belum selesai membagi-bagikan atau yang sudah menerima berhalangan hadir.

Trickle down effect dalam sejarah yang saya pelajari memang memiliki dampak mulia. Dampak filantropis yang bahkan bisa berkelanjutan lintas generasi. Sebagai contoh, mungkin diantara kita atau orang tua kita yang menyekolahkan anak kurang mampu hingga berhasil menjalani kehidupan mandiri. Ini bukan saja menyelesaikan problem pendidikan satu orang, tetapi lebih dari itu, permasalahan ekonomi bahkan menjadi berkembang bisa menjadi bekal hidup satu keluarga setelah sang anak ini menikah dan berkeluarga.

Ada contoh lagi yang lebih keren. Tentang kisah Utsman bin Affan yang membeli sumur dan menginfaqkan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat. Jelas ini menyelesaikan problem publik melalui kemampuan pribadi. Trickle down effect seperti ini dampaknya bukan hanya duniawi, tapi sampai ke surga.

Dalam lingkup yang lebih transenden lagi, kebiasaan memulai trickle down effect ini akan sangat berharga apabila dilakukan secara konsisten. Konsistensi memiliki nilai yang lebih berharga daripada nilai filantropi yang dikeluarkan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

‘Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah (harta) orang yang kikir.’” [HR. Bukhari dan Muslim]

Jadi, jika tidak kebagian tiket Asian Games atau Asian Para Games dengan penjelasan sudah sold out, jangan langsung kecewa. Tapi marilah lebih banyak berintrospeksi diri dan bertanya ‘kapan bisa membahagiakan orang lain?’. Selanjutnya jangan lupa untuk menutup segala kesedihan dan kekecewaan dengan kebahagiaan yang bermakna. Diantaranya dengan berolah raga bersama keluarga dan kawan-kawan dekat.

Mengutip presentasi di slide terakhir saya “Karena hidup pasti ada RINTANGAN, kalau banyak RANTANGAN itu namanya catering- Jangan Lupa Bahagia”.

*Senyum Senin Pagi di KRL

Temon dan Pengubahan

Published Oktober 4, 2018 by pembawacerita

Temon. Siapa Temon? Generasi jaman old mungkin akan teringat dengan sosok bocah ingusan di Film Serangan Fajar. Namun saat ini saya tidak sedang melihat Temon si pemeran film. Saya melihat fenomena temon lainnya. Temon holic.

Bermula pada penasaran pada dangdut koplo, jenis musik yang hampir selalu menjadi hiburan saat naik bus Jakarta-malang atau Jakarta-Trenggalek. Apapun lagunya, musiknya dangdut koplo. Ambillah contoh lagu Surat Cinta Untuk Starla dari Virgoun yang nada aslinya sendu dengan beat akustik bisa disulap menjadi hingar bingar dangdut koplo saat dinyanyikan Via Vallen. Satu lagi, Akad dari Payung Teduh yang aslinya berasa nge-jazz juga tak luput dari dangdut koplo. Bahkan di Malang saya pernah lewat di kondangan yang hiburannya adalah shalawatan dengan aransemen musik dangdut koplo. Jika dilihat tingkah penontonnya, semakin ramai saat irama “ha…e…ha..e…ha..e…ha..e” sambil menggerakkan tangan ke depan ke belakang sambil sedikit “headbang”.

Pada suatu kesempatan saya melihat video dangdut koplo yang seperti menyulap orang satu lapangan secara bersamaan berjoget dan menggerakkan tangannya saat “ha…e…ha…e…ha…e…ha…e”. Saya penasaran, apakah lagu-lagu dan irama dangdut koplo memang begitu magis sehingga menyulap perilaku orang satu lapangan. Hingga perhatian saya jatuh pada satu orang begitu menonjol karena berjoget di satu tempat khusus. Setiap gerakannya diikuti oleh penonton. Dia lah Temon. Sumber dari hasil googling, Temon memilik nama asli Muchtar Setyo Wibowo. Saya lebih nyaman menggunakan istilah Temon dari pada dance leader. Jelas ini karena lidah saya yang njawani dan ndeso.

Dalam desain musik dangdut koplo, saya yakin Temon tidak terlibat. Tidak turut menyusun nadanya pun liriknya, tidak turut menyanyi dengan mic di tangan, tidak turut mengatur beat, tidak bermain gitar, kendang, suling dan alatmusik lainnya. Temon mungkin juga tidak terlibat dalam latihan-latihan maraton sebelum konser dangdut dilaksanakan. Temon juga bukan pemilik modal yang mendanai desain dan kontestasi dangdut koplo. Singkat kata, Temon adalah nothing dalam desain musik dangdut koplo.

Namun dalam menyajikan musik dangdut koplo yang menyerap massa, ternyata peran Temon sangat berarti. Gerakan-gerakannya diikuti oleh banyak penonton dengan spontan. Dan memang keunikan Temon adalah spontanitas. Satu lagu dangdut koplo, gerakan Temon tidak standar alias berubah-ubah. Walaupun demikian, gerakannya tetap diikuti orang banyak. Temon -yang tadinya nothing- berhasil menggerakkan massa dalam suatu konser dangdut koplo. Temon telah mengubah suasana yang tadinya tidak serempak menjadi lebih bergerak.

Dari fenomena ini, saya ingin mencoba menggarisbawahi bagaimana Temon -yang nothing itu- berhasil lebih menghingarbingarkan konser dandut koplo. Temon berhasil mengubah penonton yang tadinya hanya menonton menjadi turut berjoget. Temon berhasil mengubah penonton yang tidak mengerti cara menyesuaikan gerakan joget dengan irama dangdut koplo yang ternyata tidak selalu dengan gerakan beritme cepat sehingga menghabiskan tenaga. Temon berhasil mengubah penonton yang telah berjoget menjadi lebih bersemangat. Bahkan Temon berhasil menjadikan saya aware dengan perannya dalam konser dangdut koplo.

Fenomena Temon ini mengajarkan saya yang masih miskin literatur ini bahwa untuk mengubah sesuatu, menggerakkan orang banyak, atau merasakan aura kebersamaan ternyata bisa dilakukan oleh seseorang yang nothing. Temon bukan pimpinan konser. Temon bukan penyanyi cantik yang menarik perhatian penonton. Dengan kata lain, pengubahan yang ingin melibatkan banyak pihak ternyata tidak harus dikomandani oleh seorang pimpinan yang memiliki kekuasaan. Pada kenyataannya Temon lah yang menggerakkan masa dalam konser dangdut, bukan EO konser, bukan pula pemimpin orkes. Temon berhasil melakukan pengubahan.

Ternyata fenomena “Temon” ini diadopsi oleh acara-acara televisi untuk mengubah konsep acara. Acara joget, ada yang menjadi “Temon”. Acara musik outdoor ada “Temon”. Talkshow pun ada “Temon”. “Temon” memliki peran untuk mengubah massa yang beku menjadi bergerak bersama-sama.

Apakah bisa pengubahan dalam organisasi dilakukan ala “Temon”?

*lintasan pikiran maghrib, dan ternyata sudah malam, waktunya sepedaan pulang…mengutip satu lirik lagu…kuat dilakoni yen ra kuat ditinggal ngopi..
**Selamat berakhir pekan

***tulisan lawan pernah diposting di FB 6 April 2018

Menara Gading dan Ketaatan

Published September 27, 2018 by pembawacerita

Tak jarang saya bertemu dengan orang-orang hebat dan pandai. Rupanya kehebatan dan kepandaian juga menjadikan keragaman sikap. Sedikit curcol, tak jarang kehebatan dan kepandaian memenjarakan pada mercusuar yang tinggi tapi sendiri.

Saya menelisik kembali sirah nabi. Karena saya paham dan yakin benar bahwa nabi adalah teladan terbaik. Nabi Muhammad SAW adalah orang terhebat dan terpandai di muka bumi ini. Beliau ahli strategi, menempatkan sesuatu dan melaksanakan tugas dengan sangat cermat.

Sebagai contoh pada Perang Uhud. Nabi Muhammad SAW menugaskan Abdullah bin Zubair r.a. untuk memimpin pasukan pemanah dan menempatkannya pada Jabal Rumat. Jabal Rumat adalah tempat tertingging diantara lembah disekitar Pegunungan Uhud. Mungkin karena tempat yang tinggi itulah pada sebelum Perang Uhud, Jabal Rumat lebih dikenal dengan Jabal ‘Ainain yaitu bukit tempat dua mata memandang (‘ainain). Sejak Rasulullah SAW menempatkan pasukan pemanah disitu, kini lebih terkenal namanya menjadi Jabal Rumat yaitu bukit tempat pemanah.

Dalam kisah Perang Uhud, kaum kafir Quraisy tidak pernah bisa memenangkan peperangan selama pasukan pemanah masih tetap berada di Jabal Rumat. Inilah strategi Nabi SAW agar peperangan tetap terjaga satu arah dan menutup kemungkinan serangan dari arah lain. Upaya musuh untuk menyerang dari arah lain tidak dapat dilakukan karena area selain medan tempur dikuasai pasukan pemanah.

Hingga saat peperangan hampir usai karena musuh banyak yang mundur, pasukan pemanah tergiur dengan harta dunia, yaitu harta rampasan perang. Hal itu membuat pasukan pemanah lupa dengan pesan Rasulullah SAW agar tidak meninggalkan Jabal Rumat dalam kondisi apapun. Kondisi itu dimanfaatkan Khalid bin Walid, pemimpin pasukan berkuda kafir Quraisy (saat itu Khalid belum masuk Islam), untuk bergerak memutari p
Pegunungan Uhud dan menyerang dari arah belakang. Khalid dan pasukannya bisa menyerang lebih leluasa karena area steril sudah tidak dikuasai pasukan pemanah lagi.

Disitulah awal kekalahan kaum muslim dalam Perang Uhud. Rasulullah SAW mundur dari medan tempur dan dilindungi oleh sahabat Thalham bin Ubaidillah r.a. Dalam sirah, gigi geraham Nabi SAW sampai tanggal dalam upaya mengamankan pasulam dari keterdesakan medan perang. Lebih dari itu, luka parah juga dialami Thalhah bin Ubaidillah. Berbagai sabetan pedang dan panah menandai tubuh Thalhah untuk melindungi Nabi SAW.

Sampai pada posisi yang aman dan pasukan muslim berkumpul kembali, Rasulullah SAW sudah mengatur strategi. Nabi Muhammad SAW menugaskan Zubair bin Awwam dan Abi Bakar untuk memimpin pasukam berangkat kembali ke medan Uhud untuk menghalau musuh. Strategi itu berhasil. Kaum lafir Quraisy mengira bahwa umat Islam kedatangan bala bantuan. Disisi laim mereka sudah sangat letih karena peperangan. Akhirnya mereka mundur dan menghindari kontak fisik dengan pasukan Zubair bin Awwam.

Hikmah dari sirah ini adalah sehebat dam sepandai apapun Nabi Muhammad SAW, ternyata beliau tidak menempatkan diri sebagai menara gading yang menjulang tinggi terlihat sementara yang lainnya rendah tak terjangkau pandang. Nabi Muhammad SAW yang ahli strategi itu tetap turut ikut berperang, memimpin peperangan secara langsung di medan tempur. Nabi Muhammad SAW berada bersama pasukan, tidak menyendiri dalam kenyamanan sedangkan pasukan berjibaku dalam peperangan. Nabi Muhammad SAW memberikan keteladanan (leadership) bahwa kehebatan dan kepandaian tidak menjadikannya terpenjara dalam menara gading.

Entah berapa orang hebat nan pandai yang pernah saya temui atau berada di lingkungan tempat saya hidup yang menempatkan dirinya sebagai menara gading. Namun saya berharap, agar saya terhindar dari hal itu. Tetap bersama lingkungan tentu akan lebih bermanfaat.

Lebih dari itu, sebagai orang hebat dan pandai, bahkan sebagai pemimpin Nabi Muhammad SAW tidak menghukum pasukan pemanah yang tergoda harta dunia sehingga menjadi pemicu kekalahan. Jangankan Nabi Muhammad SAW, bahkan Allah pun-sebanyak literatur yang saya tahu-tidak menegur kesalaha n pasukan pemanah. Ini merupakan pelajaran besar alan humanisme yang heterogen. Memang kondisi, kompetensi, tingkat keimanan individu pasukan tidak sama. Ada yang memang masih berada pada level mencintai dunia. Dan itu sangat manusiawi. Singkat ekspresi, mengumpulkan pasukan dan mereka turut berjibaku dalam peperangan itu sudah pencapaian luar biasa. Jangan sampai prestasi besar itu runtuh hanya karena satu kesalahan kedisiplinan yang sebenarnya juga dimaklumi dalam sudut pandang manusiawi.

Ini juga pelajaran bagi saya. Sekalipun strategi atau standar tidak benar-benar terpenuhi sesuai harapan, jangan lah mudah menghakimi kekurangan orang lain. Bisa jadi keterlibatan dalam suatu strategi yang sudah kita susun itu saja sudah cukup menjadi pencapaiannya. Memang levelnya ada pada itu. Atau bisa juga ada kondisi yang kita tidak tahu sehingga orang yang turut bergabung dalam strategi tidak dapat menyelesaikan sesuai harapan kita. Toh kita bukanlah orang segala tahu hingga sedetil-detilnya.

Hikmah selanjutnya bisa kita lihat dari para sahabat seperti Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam radhiyallahuanhuma. Thalhah mengorbankan dirinya dan Zubair taat menjalankan tugas walaupun belum usai lelah dari medan peperangan. Dan saya pun harus berkaca, sudah berapa banyak yang saya korbankan, misalnya untuk organisasi tempat saya berada? Pasti belum sebanding dengan pengorbanan Thalhah yang sudah jelas dijamin surga. Jauh dibandingkan saya yang dhoif, naif, surga belum pasti, iman naik turun. Pun, seberapa level ketaatan kepada pemimpin atau atasan? Ah, sangat jauh jika ketaatan saya dibandingkan dengan ketaayan Zubair yang sudah dijamin surga. Jauh dibandingkan saya yang dhoif, naif, surga belum pasti, iman naik turun. Namun tentu boleh saya berharap bisa meneladani para sahabat nabi itu kan? Pun saya juga boleh berharap agar kita, sehebat dan sepandai apapun kita, tidak meninggalkan ketaatan kepada pemimpin atau atasan. Tentu ini dalam perspektif yang luas. Bisa pada lingkup RT, RW, komplek perumahan, desa/kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi, negara/pemerintahan, organisasi, kantor tempat kita bekerja, dan perspektif luas lainnya. Jangan tinggalkan ketaatan, selama itu bukan ketaatan untuk bermaksiat kepada Allah. Jika sekedar ketaatan untuk menjalankan tugas yang sebenarnya itu hanya pendekatan dan kesepakatan, tentu itu bukanlah termasuk ketaatan kepada kemaksiatan.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mnmengajak pada diri dan orang yang sepakat dengan saya saja, jangan pernah menempatkan diri dalam penjara menara gading walau sehebat dan sepandai apapun kita. Pun jangan pernah meninggalkan ketaatan kepada pimpinan, dalam perspektif luas dimana kita berada.

*foto diambil dari Facebook mbak Nannie Martini

Kata-kata yang Membunuh

Published September 5, 2018 by pembawacerita

Terkesan seram memang judulnya. Namun saya akan menguraikannya lebih detail agar bisa mengambil hikmahnya. Terutama saya pribadi dan semoga bermanfaat bagi yang membaca.

Jika detik ini pula saya buka timeline facebook, saya akan membaca berbagai status dan tulisan yang tidak enak dibaca, tidak enak didengar, atau bahkan tidak layak dituliskan. Beberapa waktu lalu saya tuliskan status, gara-gara beda pilihan saja sampai menulis tak pancal raimu segala. Itu ungkapan bahasa Jawa, yang artinya kurang lebih saya tendang wajahmu. Bagi saya, yang orang Jawa Timur ini, bisa saja ini jadi kalimat guyonan. Namun pastinya sangat terbatas pada kalangan tertentu. Bukan di umbar di jagat facebook. Ini hanya salah satu contoh saja. Tentu banyak lagi contoh serupa.

Saya tidak peduli apakah itu dari haters ataukah dari lovers. Namun saya pahami itu adalah polarisasi masyarakat menjadi berbagai kutub yang berseberangan karena pada kenyataannya haters di satu kutub menjadi lovers di kutub lain, vice versa.

Sangat mungkin ada pihak yang justru memanfaatkan fenomena ini sebagai ajang peperangan. Apapun sebutannya. Cyber army kah, jihad medsos kah, buzzers kah, pada intinya sama. Belum lagi kubu-kubu yang berseberangan ini dihadirkan dalam acara talkshow yang dilihat jutaan orang melalui televisi dan laman internet. Terjadi perdebatan sengit bahkan caci maki. Dan pastinya tujuan jangka pendeknya adalah motif ekonomi, preferensi dukungan pada kubunya, atau anggapan aktualisasi diri-ala Maslow. Belum lagi medsos yang lain, whatsapp, telegram, milist, dan sebagainya.

Sebagian (besar) orang berpendapat maklum karena kita berada pada tahun politik. Tahun ketika suhu politik memanas karena masyarakat ini akan dihadapkan pada hajat besar pemilihan pemimpin-Wakil Rakyat dan Presiden/Wakil Presiden. Suhu politik yang sempat dingin sementara saat Hanifan-Atlit Pencak Silat Asian Games 2018- menunjukkan respon luar biasa melebihi prestasi medali yang diraihnya. Namun kini suhu mulai memanas lagi dengan segala macam pemicunya.

Rupanya kata-kata yang tidak layak bukan hanya ada didunia maya. Di dunia nyata pun ada. Tak sedikit saya menjumpai perkataan yang tak enak didengar, sepat dibaca, dan berbagai perdebatan di lintas lingkungan. Di perumahan, antar perumahan, organisasi, perkantoran, perkumpulan, dan sebagainya.

Benar kata ulama. Jaman ini sudah tua. Padahal Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan sejak 15 abad yang lalu.
“Sungguh akan terjadi suatu fitnah yang akan membinasakan bangsa Arab; orang-orang terbunuh (dalam fitnah ini) berada di neraka. Serangan lisan saat itu lebih tajam dari sabetan pedang.” (HR. Abu Dawud IV/4265 dan Ibnu Majah II/3967). Hadits ini di-dhaif-kan oleh Al-Albani. Namun saya tidak akan membahas aspek mengapa dhoif. Saya tahu diri bahwa ilmu mustholah hadits saya belum seberapa, pun dengan pembaca tulisan ini juga sangat beragam. Namun yang pasti, ulama sehebat Imam Ibnu Katsir memasukkan dalam bukunya. Tentu ada hikmah besar yang penting dipahami pembacanya. Lagipula perihal lisan yang tajam itu juga diperkuat dengan hadits yang lain. “Akan terjadi fitnah, orang tidak lagi dapat mendengar, bisu dan tuli dari kebenaran. Barang siapa mencoba untuk mendekati fitnah tersebut, maka ia akan tertarik ke dalamnya. Dan ikut serta dalam mengumbar lisan di dalamnya lebih dahsyat daripada sayatan pedang.” (HR Abu Dawud IV/4264)

Menurut saya, hadits ini sangat relevan dengan situasi saat ini. Dahulu orang membunuh dengan pedangnya. Tapi kini orang bisa membuat luka dengan kata-katanya, baik yang terucap maupun yang tertulis. Tak jarang pula pembunuhan karakter juga terjadi dengan kata-kata. Sadar atau tidak.

Sebagai contoh, ada tersangka korupsi kemudian diberitakan dengan masif. Lantas dikomentari dengan pedas oleh publik yang tentu saja tidak semuanya memiliki pemahaman hukum. Komentar terus berkembang hingga justru menjadi ajang penghakiman. Padahal ada asas praduga tak bersalah yang menyatakan bahwa seseorang tidak dapat dikatakan bersalah dalam hukum hingga pengadilan memutuskan.

Jika dijelaskan mengenai asas praduga tak bersalah, kemudian muncul argumen yang menyatakan bahwa publik tak sepenuhnya salah. Sampai menjadi tersabgka saja sudah melukai hati publik. Maka kebenaran akan dilihat dari sudut pandang publik yang melihat bahwa sampai status tersangka pun sudah layak untuk dihakimi bersalah.

Saya tidak akan menyalahkan atau membenarkan argumen tersebut. Namun saya berharap pada yang sepakat dengan saya saja bahwa kebenaran mutlak itu milik Tuhan dan Nabi-Nya. Oleh karenanya penting bagi kita untuk melihat kebenaran dari sudut pandang ketuhanan dan kenabian. Itu pun masih akan ada banyak perbedaan, apalagi jika menggunakan cara pandang yang berbeda. Belum lagi proses membentuk cara pandang ketuhanan dan kenabian ini yang membutuhkan proses panjang.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak membentuk persepsi ilahiyah melalui satu langkah awal yang sederhana. Yaitu kembali ke rumah ibadah. Sudah menjadi keniscayaan orang-orang Islam harus rajin ke masjid atau musholla. Beribadah dan mengingat Tuhan disana. Agar hati ini menjadi tenteram. Agar tidak mudah tersulut dalam peperangan kata-kata yang sejatinya nir makna. Agar terjaga dari fitnah tajamnya kata-kata.

*ditulis dalam 2 kali perjalanan KRL ditengah himpitan publik (secara fisik)

Pendidikan Anak: Pekerjaan Lintas Generasi

Published Juni 14, 2018 by pembawacerita

Saya sadar betul bahwa saya bukanlah siapa-siapa dalam peradaban ini. Pun saya paham benar bahwa saya bukanlah orang terpilih untuk memperbaiki kondisi global yang sering kali menjadi bahan perseteruan, dikotomi, dan perpecahan.

Namun boleh kan saya memiliki harapan? Entah generasi keberapa, entah dari keluarga yang mana, boleh lah saya berharap para pemimpin dan pembangkit peradaban lahir dari anak-anak kita.

Saya meyakini, perbaikan negeri, pembangkit peradaban, dan segala bentuknya merupakan pekerjaan lintas generasi. Beberapa waktu lalu saya menulis rangkaian keturunan luar biasa Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang lahirnya tidak dapat dilepaskan dari kehebatan kakek buyutnya, Umar bin Khaththab. Ini pekerjaan lintas generasi.

Ada lagi sejarah nyata yang abadi, keluarga yang bukan siapa-siapa. Bukan nabi, bukan khalifah, bukan pemimpin, bukan pejabat. Keluarga biasa saja. Hanya memang keluarga ini menjaga keshalihannya. Keluarga ini sangat concern dengan pendidikan anak-anaknya. Keluarga Imran yang diabadikan dalam nama surat Ali Imran. Imran memiliki anak perempuan yang diberi guru terbaik oleh keluarganya. Anak perempuan bernama Maryam yang menjadi murid Nabi Zakariya. Murid yang luar biasa dan Guru yang tulus ikhlas.

Perkembangan selanjutnya, Maryam bukan hanya menjadi murid yang berbakti dan sholihah, lebih dari itu ia bisa memberikan solusi kepada problem gurunya. Maryam menemukan tempat yang mustajabah untuk berdoa, yaitu mihrab. Dari mihrab itu Maryam berdoa dan beribadah hingga seluruh kebutuhannya dicukupi oleh Tuhan tanpa perlu meninggalkan tempatnya. Kemudian Nabi Zakariya meniru apa yang dilakukan Maryam untuk berdoa mendapatkan anak. Disitulah ada keajaiban, seorang yang tua, mandul, menopause, kemudian dianugerahi anak setelah berdoa tak kenal jemu di mihrabnya. Lebih dari itu, anak yang lahir sudah diberi nama oleh Tuhan dan pada dewasanya diangkat menjadi nabi, dialah Nabi Yahya.

Kembali pada Maryam binti Imran, perempuan yang lahir dari keluarga biasa saja. Dengan keimanan keluarganya, perhatian terhadap pendidikan Maryam, menghasilkan keshalihahan luar biasa, maka Allah pun memilih Maryam menjadi perempuan yang rahimnya terpilih untuk mengandung janin calon pemimpin peradaban, yaitu Nabi Isa.

Dalam sudut pandang keluarga Imran, tentu mereka tidak tahu bagaimana skenario dan keputusan Allah. Tapi jelas, mereka concern sekali pada pendidikan anaknya. Tentu dengan harapan agar lahir dari keturunan mereka orang-orang yang sholih dan akan membawa perbaikan. Ini adalah pekerjaan lintas generasi.

Berkaca dari best practice itu, harapan saya membumbung tinggi. Bukan saya yang akan menjadi pemimpin, pun bukan saya pula yang akan membangkitkan peradaban. Tetapi saya berharap dari anak-anak, entah itu anak biologis saya, entah itu anak ideologis saya, ataupun anak dari orang-orang yang sholih, akan lahir pemimpin peradaban dunia.

Adapun saya, hanya ingin turut bergabung dalam secuil proses saja. Dengan memperhatikan benar pendidikan anak, bukan hanya anak biologis saya tentunya, tetapi juga anak-anak yang membentuk lingkungan anak biologis saya. Saya ingin membersamai pendidikan mereka. Dengan harapan akan muncul karakter-karakter hebat yang membawa kebaikan di lingkungan dan dimanapun mereka berada.

Rasanya, belum lama membersamai anak-anak kecil dalam pawai obor Ramadhan. Kini Ramadhan sudah ada dipenghujungnya. Saya sedih disatu sisi, walau kesedihan saya tentu tidak seberapa dibandingkan kesedihan para sahabat nabi dan generasi terbaik. Namun disisi lain, saya benar-benar berharap agar Ramadhan-ramadhan yang diikuti, bukan sekedar dilalui, oleh anak-anak adalah ramadhan yang berkualitas, ramadhan yang menanamkan memori permanen dalam alam bawah sadarnya hingga kelak akan bangkit dan berkembang serta menjadikan mereka pemimpin peradaban.

*Tanah Gardenia, Kota Depok 29 Ramadhan 1439H

Dilema: Terbaik atau Terterima

Published Mei 1, 2018 by pembawacerita

Beberapa hari lalu saya searching lagu Kangen-nya Dewa 19 di youtube. Kangen dengan apa dan siapa? Nanti dulu, saya tidak sedang ingin membahas kangen dengan siapa dan apa. Saya justru mendapat inspirasi lain setelah saya menemukan Kangen yang dinyanyikan Ghea Indonesian Idol. Saya sepakat dengan Ari Lasso bahwa Ghea berhasil menghadirkan sesuatu yang lama menjadi sesuatu yang baru dan tak kalah menarik. Hal yang juga mengena adalah perbedaan persepsi dalam menyajikan suatu lagu. Ari Lasso mengatakan dulu Ahmad Dhani menulis lagu itu dengan menggebu-gebu dan Ari pun menyanyikan dengan rasa kangen yang menggebu-gebu juga. Namun Ghea bisa menghadirkan lagu yang sudah berumur 26 tahun, yang notabene lebih tua dari umur Ghea sendiri, dengan persepsi anak baru gede yang malu-malu untuk mengungkapkan rasa kangennya. Persepsi, sudut pandang, dan sentuhan yang berbeda untuk menghadirkan keindahan.

Saya sebenarnya tidak pernah mengikuti acara Indonesian Idol ini. Pun saya tidak terlibat dalam dukung mendukung finalis ajang pencarian bakat itu. Seperti cerita awal saya, searching lagu Kangen dan ketemu dengan versi Ghea.

Pertanyaan selanjutnya, apakah performa Ghea itu menjadi yang terbaik? Ternyata tidak. Pada kenyataannya pemenang Indonesian Idol 2018 adalah Maria. Tidak dapat dipungkiri memang secara teknik menyanyi, Maria memiliki kelebihan dibandingkan finalis yang lain. Sangat wajar jika Maria menjadi pemenang.

Namun, secara pribadi ketika membandingkan dengan para pemenang Indonesian Idol, pada umumnya mereka adalah penyanyi-penyanyi dengan teknik tinggi dan powerfull. Saya menjadi bertanya apakah memang pattern pemenang Indonesian Idol adalah seperti itu? Entah kenapa kemudian saya terpikir mencari persepsi yang lain. Saya search Indonesian Idol di youtube, kemudian saya urutkan dengan jumlah tayangan. Ternyata justru bukan Maria yang memiliki view tertinggi. Jika diambil cut-off penampilan yang dihadiri penonton (bukan hanya juri), ternyata Ghea memiliki view tertinggi. View tertinggi ketika konser Indonesian Idol 2018 adalah Ghea saat menyanyikan lagu Akad ditonton 13,5 juta kali kemudian baru Maria ditonton 12,2 juta kali saat menyanyikan lagu Never Enough. Ketika saya scroll ke bawah, Maria saat menyanyikan lagu Kecewa ditonton 10,5 juta kali dan Ghea ditonton 9,7 juta kali saat menyanyikan lagu Kangen.

Yes, saya mendapatkan satu insight baru. Terterima. Data statistik perbandingan jumlah view di youtube antara Ghea dan Maria dua lagu teratas jelas menunjukkan Ghea lebih banyak dengan total 24,2 juta kali itu lebih banyak 1,5 juta kali dibandingkan Maria sebanyak 22,7 juta kali. Setidaknya dari data statistik tersebut menunjukkan ada perspektif lain, yaitu terterima.

Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa sesuatu yang terbaik belum tentu terterima, vice versa. Fakta Ghea dan Maria ini mengingatkan saya pada stand up comedy, Dodit Mulyanto. Secara statistik, Dodit memiliki follower twitter 558K. Nilai ini jauh lebih besar bahkan empat kali lipatnya jumlah follower David Nurbianto yang notabene pemenang SUCI 4 dengan jumlah follower twitter 130K. Tak jarang Dodit menggunakan data statistik follower twitter ini menjadi materi stand up comedy-nya dengan mengutip lirik lagu “malaikat juga tahu, siapa yang menjadi juaranya”.

Terbaik dan terterima. Idealnya memang sesuatu yang terbaik juga terterima. Namun fakta yang terjadi tidak seideal yang diharapkan itu. Ada dikotomi terbaik dan terterima. Pun saya kira sumber daya dan strategi untuk menghadirkan yang terbaik dan terterima adalah berbeda. Mungkin perkiraan saya ini salah. Tapi kira-kira untuk menghadirkan yang terbaik, seseorang memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendesain, merencanakan, dan menghasilkan produk yang terbaik. Seseorang mungkin lebih banyak meramu produknya secara mandiri dengan pertimbangan-pertimbangan literatur yang memadai agar hasilnya memang terbaik. Disisi lain, menghadirkan sesuatu yang terterima mungkin tidak membutuhkan sumber daya atau materi yang sama untuk menjadi yang terbaik. Namun jelas, produk terterima tidak bisa hanya dikerjakan secara mandiri melainkan melibatkan banyak pihak.

Perkiraan saya yang jelas tidak selalu benar karena hanya didasarkan pada keterbatasan fakta Indonesian Idol dan Stand Up Comedy ini dalam beberapa hal mungkin bisa terjadi dalam organisasi. Terbaik atau kah terterima. Dua hal yang harus dipilih salah satu karena sangat berat untuk menghadirkan keduanya secara bersamaan. Strategi menghadirkan agar dapat menghadirkan yang terbaik ataukah strategi untuk memperoleh yang terterima, keduanya menjadi pilihan. Tentu saja ini menjadi dilema. Kira-kira, jika pembaca menjadi pelaku atau bahkan pimpinan di suatu organisasi, akan memilih terbaik ataukan terterima?