Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘tsaqofah’

Hikmah Kereta…Pulang ke Trenggalek

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 11, 2009

Nah kalo cerita ini beda dengan perjalanan kembali ke Jakarta. Kami ga jadi naik Bengawan ke Solo karena tempat duduk habis. Akhirnya kami naik Progo ke Lempuyangan, Yogjakarta. Dengan harapan sampai di Lempuyangan, Kereta Api Sri Tanjung jurusan Yogja-Banyuwangi masih keburu. Dan Alhamdulillah benar2 keburu hingga kami bisa sampai Madiun.

Di atas Kereta Progo, saia dan istri terlelap. nyenyak sekali. apalagi istri yang seharian survei. tak ada cerita spesial di Kereta Progo. kecuali tidur pulas.

Turun di Stasiun Lempuyangan, kami langsung menuju loket untuk membeli tiket Sri Tanjung. Information Desk di Stasiun Lempuyangan tak henti-henti mengingatkan kepada penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan ke Solo-Madiun-Banyuwangi agar segera membeli tiket Kereta Sri Tanjung. 17ribu per orang untuk sampai Madiun.

Kami langsung mencari tempat duduk yang kosong di atas Kereta Sri Tanjung. maklum, tiketnya tetulis tiket bebas. maka siapa cepat dia yang dapat. tapi ga khawatir, karena penumpang belum banyak.

Di depan kami ada ibu setengah baya duduk sendirian. “Beruntung mas dapat tiketnya”, tiba2 ia berkata. “Sri Tanjung bidhalipun rak nggih ngrantos Progo dugi to bu? kersanipun pikantuk penumpang” [Sri Tanjung berangkat bukannya nunggu Progo nyampe ya bu? biar dapet penumpang], saia menanggapi. “Enggak mas, biasanya memang berangkat tepat waktu, ya setengah delapan, beruntung ini tadi Progonya ga terlambat”, dengan bahasa Indonesia medhok si ibu menjelaskan.“Ibu badhe tindak pundi?” [ibu mau kemana?], istri saia bertanya. “Saya mau ke Klaten”, masih dengan logat medhok. tak lama kemudian si ibu mengeluarkan dua buah kardus berisi bakpia pathok. lantas dia mengambil beberapa dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. dia kemudia memindahi kardus2 bawaannya. Oh rupanya dia seorang wiraniaga di atas kereta. Hebat ya ibu itu…

Sepeninggal ibu itu, tempat duduknya tiba2 diduduki seorang bapak setengah tua. tadinya ia duduk dibangku sebelah. tapi ia kindah ke bangku depan kami, ya…mungkin mencari tempat yang longgar. Tapi mukanya sayu. terpancar kesedihan mendalam di wajahnya. Saia pun membuka pembicaraan, “Badhe tindak pundi pak?” [mau ke mana pak?]. “Solo”. “Bapak nyambut wonten Solo?”, tanya saia. “Gimana dek?”. ups…kok nadanya seperti logat sunda, begitu batin saia. Saia ulangi pertanyaan saia, “Bapak nyambut wonten Solo?”. “Maaf dek, saya tidak bisa bahasa jawa”. “Oh…maaf…maaf…pak. Bapak bekerja di Solo?”. “Ini dek saia mau cari dagangan, kunyit kuning yang kecil-kecil itu loh”. “Buat jamu ya pak”. “Bukan, buat pewarna tahu. Kan sekarang teh ga boleh pake pewarna buatan yah. suka dicekal petugas kalo tetap pake pewarna buatan”.

“Tapi namanya juga musibah ya dek ya”, tiba2 air mata si bapak menetes. “Bapak dicopet”, iapun berdiri sambil menunjukkan saku celananya yang koyak. “Tadi bapak ketiduran. waktu bangun orang disamping bapak sudah tak ada”. “Terus bapak jadi beli kunyitnya? kembali ke Bandungnya gimana nanti pak”, tanya saia. “Ini nanti bapak berhenti di Purwosari, semoga disana nanti bapak nemu truk yang ke Bandung, biar bapak bisa numpang pulang”. Saia dan istri berpandangan. Masya Allah…kami tak boleh hanya diam tak membantu. “Bapak Bandungnya dimana pak? saia pernah ke Bandung, ke Cicaheum, trus makan bakso di Padasuka, minum yoghurt di Cisangkuy, main juga ke ITB, ke Masjid Salman”, cerita saia untuk sekedar mengalihkan perhatian bapak dari air matanya. “Bapak di Cibaduyut dek. Iya…di Padasuka itu enak baksonya. terkenal sampai kemana-mana. Bapak juga sering main ke Masjid Salman. Aduh dek…adeeemmm rasanya kali masuk masjid itu. anaknya muda-muda, santun-santun, seneeenngg bapak kalo melihat pemuda-pemuda seperti itu. sudah pinter bisa kuliah di ITB, ngajinya rajin pula”. Perbincangan pun berlanjut karena si Bapak begitu semangat menceritakan pengajian dan interaksinya dengan Masjid Salman. Saia dan istri berulang kali berpandangan, banyak juga tsaqofah bapak ini dengan pergerakan dakwah.

Diantara cerita2 si bapak, tiba2 datang pedagang asongan bakpia pathok. seolah begitu kenal dekat dengan si bapak. bapak pedagang asongan ini ‘nggrapyaki’ [ngobrol ramah] dengan si bapak. lantas si bapak pedagang asongan cerita kepada kami, bagaimana ia bertemu si bapak sunda itu di stasiun. hingga akhirnya mereka dekat seperti saudara sendiri.

“Kalo mas naik kereta ke Yogja, tanya saja sama pedagang asongan bakpia, kenal sama pak Toha. pasti banyak mereka yang kenal. wong umur saia ini sudah tujuh puluh tahun dan pekerjaan saia sehari-hari adalah ngasong begini. Rak yo harus banyak bersyukur, dene bapak umure wis ngluwihi Rasulullah….” Tiba-tiba istri saia meremas erat lengan saia. “Lha iya to, Rasulullah itu umurnya 63 tahun. Lha bapak diberi untung 7 tahun, kok ga bersyukur gimana. alhamdulillah dengan ngasong begini dik, bapak bisa menyekolahkan anak bapak. Empat orang sudah sarjana semua. ya untung lagi to, wong bapak dulu cuma medhot [putus] kelas 3 SR [Sekolah Rakyat], tapi anaknya sarjana semua. Orang tua itu merasa untung dik, kalo anaknya melebihi orang tuanya. jangan sampai anaknya sama atau bahkan lebih buruk dibanding bapaknya”. Saia menyimak hikmat pidato Pak Toha, yang menurut saia saat ini jauh lebih indah dibanding janji-janji politisi muda yg hanya mencari kerja dengan magang jadi Caleg. “Alhamdulillah lagi, dengan ngasong begini bapak bisa naik haji pada tahun 2004. trus umrah tahun 2006″. Saia terbelalak dengan cerita Pak Toha. Masya Allah, luar biasa bapak ini.

Setelah cerita tentang dirinya, Pak Toha kembali membuka pembicaraan dengan si Bapak Sunda. “Lha terus nanti kembali ke Bandung naik apa pak?”, tanya Pak Toha. “Cari tumpangan di Pasar Purwosari pak”. “Terus buat makan sudah ada?” sergah Pak Toha. Si Bapak Sunda hanya diam tak menjawab. “Pak Toha lantas mengeluarkan uang 20 ribu kemudian diberikan ke Bapak Sunda. Binar wajahnya kontan berubah, air matanya bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata syukur dan bahagia, “Jazakallahu khairan katsir, ya pak”. Istri saia kembali meremas lengan saia. Saia sendiri merasakan haru biru seperti ditengah samudera. istri saia berbisik, “Mas…Jazakallah khairan katsir, katanya”. iya…saya pun mendengarnya persis seperti itu.

“Pak Toha ini sudah seperti saudara sendiri dek. Hanya saya belum sempat main ke rumah. InsyaAllah saya dan istri main ke rumah pak Toha ya Pak. Dek sebentar lagi sudah Purwosari. Kalo adek main ke Bandung mampir Cibaduyut ya, cari saja pak Cecep. atau tanya saja orang disana Pak Haji Cecep Nikmat, insya Allah semua orang tahu kok”. Masya Allah…bapak sunda ini…pantesan obrolan dengan bapak sunda ini sarat dengan tsaqofah Islam. rupanya Allah telah memberikan hikmah di atas Sri Tanjung ini. Ketika Sri Tanjung memasuki Stasiun Purwosari, Pak Haji Cecep Nikmat bergegas pamitan pada Pak Toha, saia, dan istri. Pertemuan kami begitu mengesankan seolah saia tak rela untuk meninggalkannya. Saia kejar Pak Haji Cecep Nikmat dan saia bisikkan, “Semoga Allah mempertemukan kita kembali pak”. Kembali air mata Pak Haji Cecep Nikmat menetes, sambil berkata “Jazakallahu khairan katsir, ya dek”.

Sepeninggal Pak Haji Cecep Nikmat, saia dan istri masih melanjutkan perbincangan dengan Pak Toha. hingga akhirnya pak Toha memberikan pesan kepada kami, “Kalian ini masih pengantin baru, harus titi gemi [hati-hati dan hemat]. Jangan noleh kemana-mana, sebelum kamu punya satu hal. RUMAH. pokoknya sebelum punya rumah jangan punya keinginan lain. Pak Toha ini orang kuno, tapi ya begini hasilnya”. Saia pun manggut-manggut sepakat, karena saia sepikiran dengan Pak Toha. “Doakan kami ya Pak Toha”. “Iya, Pak Toha ini bisanya ya berpesa dan mendoakan begitu. Tapi itu jangan dianggap sepele. Seperti pedagang asongan begini. jangan disepelekan. bapak ngasong begini bis menyekolahkan anak, menghidupi keluarga tanpa kekurangan, bisa naik haji dan umrah, terus bisa punya kos-kosan yang sekarang banyak disewa mahasiswa. Ngasong itu ‘ngaso nggo mangan’ [istirahat buat makan]. tapi ya jangan menuntut lebih. adanya nasi sama rempeyek, ya dimakan itu saja. nanti makan enaknya di rumah saja, jangan diluar. Orang ngasong itu penyakitnya tiga lho dik. Mendem [mabok], main [judi], dan medok [zina]. Kalo tiga penyakit itu bisa dihindari, terus ditambah titi gemi, insya Allah berhasil”. Saia semakin curiga, bapak ini pasti bukan pedagang asongan biasa.

Dan benar. “Pak Toha ini kerjaannya ya ngasong begini. daripada jalan-jalan saja di rumah ga dapat apa-apa, lebih baik jalan2 di kereta tapi dapat uang belanja to dik? Ya kalo di kereta panggil saja Pak Toha. Walau ngasong begini, tapi kalo di rumah bapak ini sering dipanggil orang2 buat ngisi pengajian. Mereka tahunya Pak Haji Muhammad Toha”. “Masya Allah”, spontan saia dan istri ucapkan. “Ini tadi Pak Kyai Haji to”. “Ya itu kalo di rumah dik. kalo di kereta, panggil saja saya, Pak Toha”.

Ditulis dalam Kemanusiaan | Bertanda: , , | 8 Komentar »

Hikmah Kereta…Balik ke Jakarta

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 11, 2009

Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali menikmati udara pagi di Depok yang segar. Yah…tak beda jauh dengan udara pagi di kampung Trenggalek.

Kemarin pagi menjelang siang, saia dan istri sudah kembali di Depok setelah dag dig dug semalaman di KA Brantas. Ekonomi lagi Ekonomi lagi! Lagi-lagi Ekonomi! Ga masalah, toh saudara saia yg sekarang di ostrali menempatkan KA Brantas sebagai angkutan favoritnya, mpe saia bilang dia masinis Brantas (pis yo Mil…hehehe). Kenapa Dag…Dig…Dug…
Rupanya perjalanan menuju Jakarta kali ini Allah memberikan hikmah dengan cara yang berbeda. Beda dengan waktu pulkam ke Trenggalek hari Kamis lalu. Hari Senin yang mendebarkan.

Saia membawa satu keril penuh berisi barang2 dari Trenggalek, ditambah satu kardus di tangan. Adapun istri saia punggungnya dibebani  backpack, di tangan kanannya menenteng satu kardus juga, dan tangan kirinya membawa sebesek keripik tempe khas Trenggalek. Ketika Brantas sampai di Stasiun Madiun, kami segera menuju Gerbong 6 dengan nomor tempat duduk 10D dan 10E. Tak banyak bicara, saia naikkan semua barang2 yang berisi oleh2 dan dagangan saia ke ‘kabin’ Brantas. Setelah itu saia duduk dan merasakan kekhawatiran.

Mengapa khawatir? rupanya yang membuat saia khawatir adalah orang yang duduk di depan saia. Bukan bermaksud menjustifikasi atau menduga2 tanpa alasan. Jika di depan anda ada seorang laki2 kurus memakai anting di sebelah telinganya, memakai kalung rantai, menggunakan cincin di ibu jari kirinya, ditangan kanan juga nampak cincin di jari tengahnya, kuku-kukunya terlihat kutek warna  biru baik yang masih utuh memenuhi permukaan kukunya atau yang sudah rusak, tubuhnya dibalut jaket buluk lengan panjang dimana lengannya tidak dikancingkan namun dia tarik2 sepnjang jalan untuk menutupi tangannya, lantas salah satu tangannya menggenggam korek gas dan sesekali menggigil dengan nafas yang berat sambil mengusap2 lubang hidungnya,…kira2 apa yang anda pikirkan? menurut anda siapa orang ini sebenarnya?

Di tengah ke khawatiran saia tiba2 laki2 itu bertanya,“Tanah Abang karo Jatinegara iku dhisikan endi?” [Tanah Abang dan Jatinegara duluan mana?]. “Jatinegara mas”, dalam hati saya mengira bahwa laki2 ini belum pernah ke Jakarta. Dia kemudian diam, saia tak berani menatap wajahnya. Istri saia rupanya takut juga, hingga ia semakin mendekatkan dirinya ke tubuh saia. Saia berusaha menenangkan diri, namun kembali khawatir ketika laki2 itu kembali bertanya,  “Sakdurunge Tanah Abang lewat Bogor yo?” [Sebelum Tanah Abang lewat Bogor ya?]. “Enggak lewat Bogor mas, lewat Bekasi”. “Mudun Tanah Abang utowo Jatinegara mbayare podho yo?” [Turun Tanah Abang atau Jatinegara bayarnya sama ya?]. “Iya mas”. Saia pun semakin yakin bahwa laki2 ini belum pernah ke Jakarta.

“Panjenengan nyambut damel wonten Jakarta mas?” [Kamu bekerja di Jakarta, mas?], saia berusaha mencairkan suasana sambil berusaha menutupi kekhawatiran saia. “Enggak! Aku nganggur”. Saia diam. hening lama.

“Wonten Jakarta sampun kagungan jujukan, mas?” [Di Jakarta sudah punya tempat yang dituju, mas?]. Saia semakin berani mengorek informasi dari laki2 ga jelas itu. “Wis. Neng nggone kancaku?” [Sudah. Ditempat temanku]. hening lama.

Saia masih dag dig dug ga karuan. apalagi ketika melihat laki2 itu menggigil, dengan nafas berat, meremas-remas korek gas sambil menarik-narik lengan jaketnya untuk menutupi tangannya, lantas mengusap lubang hidung dengan ibu jarinya beberapa kali. Persis dengan orang yang lagi sakaw.

Saia sadar bahwa saia harus tetap waspada. akhirnya merancang rencana jaga diri dengan istri saia. tentu dengan bahasa yg saia dan istri saia ngerti tapi laki2 tu ga ngerti. of course, in english. kami memutuskan untuk berjaga gantian. waktu istri saia tidur, saia yang jaga. dan sebaliknya, waktu saia tidur, istri yang jaga. dan keputusan untuk waspada sepanjang jalan itu semakin bulat setelah saia dengan tidak sengaja melihat salah satu tangan laki2 itu penuh dengan belas luka sayatan. pantesan dari tadi ia berusaha menarik-narik lengan jaketnya untuk menutupi tangannya.

Ditengah jalan ia meminta ijin kepada saia untuk merokok. setengah takut saia bilang, “Monggo mas, tapi yen pas sepure mlaku yo, soale yen pas sepure mandek, beluke rokok ga metu ko gerbong, mesakne bojoku mas” [Silakan mas, tapi kalo pas keretanya jalan ya, sebab kalo pas kereta berhenti, asap rokoknya ga keluar gerbong, kasihan istri saia mas]. Ia pun menghisap rokok dengan nafas berat dan cepat. hingga tak lama kemudian batang rokoknya habis.

Demikian seterusnya di sepanjang jalan, laki-laki itu telah memberikan pelajaran kepada saia dan istri saia, bagaimana caranya waspada disepanjang jalan

Ditulis dalam Kemanusiaan | Bertanda: , , | Leave a Comment »

We will not go down in Gaza tonight

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 15, 2009

This evening I still focus my attention in the sadistic Israel through Palestine. More than thousand people dead, or ‘syahid’ I said. And my heart get beat with sadness after find a Song that composed and performed by Michael Heart. This song dedicated to Palestine people. But I think it more appropriate to slap countries around Palestine, United Nation, and Israel itself. Here the lyric:

A blinding flash of white light

Lit up the sky over Gaza tonight

People running for cover

Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes

With ravaging fiery flames

And nothing remains

Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down

In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

Women and children alike

Murdered and massacred night after night

While the so-called leaders of countries afar

Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain

And the bombs fell down like acid rain

But through the tears and the blood and the pain

You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down

In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

Yes…Palestine and Moslem spirits and powers will never die even though our last breath has to be sacrificed through Intifadha. Allahu Akbar…!!!

Ditulis dalam Kemanusiaan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 8 Komentar »

Saatnya Indonesia bayar hutang dukungan ke Palestina

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 8, 2009

File sejarah ini saia dapatkan dri milist STAPALA. Bang Difai yang meng-up loadnya. dan saia pikir, sejarah ini sangat penting untuk kita ketahui bersama.

*****

Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?

Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.

Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.

Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:

“.., pada 6 September 1944 [sic!], Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut- turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..”

Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

Dukungan Mengalir Setelah Itu

Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur- Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.

Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih – tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:

“Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita..(Ada bukti foto bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti Palestina, dan pemimpin Mesir supaya kita kenal wajah wajah dari tokoh pembela Indonesia ini)

Statement Tokoh dalam buku ini:

Dr. Moh. Hatta

“Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.”

A.H. Nasution

“Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ‘45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

“Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

*****

Allahu Akbar…!!!

Ditulis dalam Kemanusiaan, Kenegaraan, Uncategorized | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »