Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘tarbiyah’

Hikmah Kereta…Pulang ke Trenggalek

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 11, 2009

Nah kalo cerita ini beda dengan perjalanan kembali ke Jakarta. Kami ga jadi naik Bengawan ke Solo karena tempat duduk habis. Akhirnya kami naik Progo ke Lempuyangan, Yogjakarta. Dengan harapan sampai di Lempuyangan, Kereta Api Sri Tanjung jurusan Yogja-Banyuwangi masih keburu. Dan Alhamdulillah benar2 keburu hingga kami bisa sampai Madiun.

Di atas Kereta Progo, saia dan istri terlelap. nyenyak sekali. apalagi istri yang seharian survei. tak ada cerita spesial di Kereta Progo. kecuali tidur pulas.

Turun di Stasiun Lempuyangan, kami langsung menuju loket untuk membeli tiket Sri Tanjung. Information Desk di Stasiun Lempuyangan tak henti-henti mengingatkan kepada penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan ke Solo-Madiun-Banyuwangi agar segera membeli tiket Kereta Sri Tanjung. 17ribu per orang untuk sampai Madiun.

Kami langsung mencari tempat duduk yang kosong di atas Kereta Sri Tanjung. maklum, tiketnya tetulis tiket bebas. maka siapa cepat dia yang dapat. tapi ga khawatir, karena penumpang belum banyak.

Di depan kami ada ibu setengah baya duduk sendirian. “Beruntung mas dapat tiketnya”, tiba2 ia berkata. “Sri Tanjung bidhalipun rak nggih ngrantos Progo dugi to bu? kersanipun pikantuk penumpang” [Sri Tanjung berangkat bukannya nunggu Progo nyampe ya bu? biar dapet penumpang], saia menanggapi. “Enggak mas, biasanya memang berangkat tepat waktu, ya setengah delapan, beruntung ini tadi Progonya ga terlambat”, dengan bahasa Indonesia medhok si ibu menjelaskan.“Ibu badhe tindak pundi?” [ibu mau kemana?], istri saia bertanya. “Saya mau ke Klaten”, masih dengan logat medhok. tak lama kemudian si ibu mengeluarkan dua buah kardus berisi bakpia pathok. lantas dia mengambil beberapa dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. dia kemudia memindahi kardus2 bawaannya. Oh rupanya dia seorang wiraniaga di atas kereta. Hebat ya ibu itu…

Sepeninggal ibu itu, tempat duduknya tiba2 diduduki seorang bapak setengah tua. tadinya ia duduk dibangku sebelah. tapi ia kindah ke bangku depan kami, ya…mungkin mencari tempat yang longgar. Tapi mukanya sayu. terpancar kesedihan mendalam di wajahnya. Saia pun membuka pembicaraan, “Badhe tindak pundi pak?” [mau ke mana pak?]. “Solo”. “Bapak nyambut wonten Solo?”, tanya saia. “Gimana dek?”. ups…kok nadanya seperti logat sunda, begitu batin saia. Saia ulangi pertanyaan saia, “Bapak nyambut wonten Solo?”. “Maaf dek, saya tidak bisa bahasa jawa”. “Oh…maaf…maaf…pak. Bapak bekerja di Solo?”. “Ini dek saia mau cari dagangan, kunyit kuning yang kecil-kecil itu loh”. “Buat jamu ya pak”. “Bukan, buat pewarna tahu. Kan sekarang teh ga boleh pake pewarna buatan yah. suka dicekal petugas kalo tetap pake pewarna buatan”.

“Tapi namanya juga musibah ya dek ya”, tiba2 air mata si bapak menetes. “Bapak dicopet”, iapun berdiri sambil menunjukkan saku celananya yang koyak. “Tadi bapak ketiduran. waktu bangun orang disamping bapak sudah tak ada”. “Terus bapak jadi beli kunyitnya? kembali ke Bandungnya gimana nanti pak”, tanya saia. “Ini nanti bapak berhenti di Purwosari, semoga disana nanti bapak nemu truk yang ke Bandung, biar bapak bisa numpang pulang”. Saia dan istri berpandangan. Masya Allah…kami tak boleh hanya diam tak membantu. “Bapak Bandungnya dimana pak? saia pernah ke Bandung, ke Cicaheum, trus makan bakso di Padasuka, minum yoghurt di Cisangkuy, main juga ke ITB, ke Masjid Salman”, cerita saia untuk sekedar mengalihkan perhatian bapak dari air matanya. “Bapak di Cibaduyut dek. Iya…di Padasuka itu enak baksonya. terkenal sampai kemana-mana. Bapak juga sering main ke Masjid Salman. Aduh dek…adeeemmm rasanya kali masuk masjid itu. anaknya muda-muda, santun-santun, seneeenngg bapak kalo melihat pemuda-pemuda seperti itu. sudah pinter bisa kuliah di ITB, ngajinya rajin pula”. Perbincangan pun berlanjut karena si Bapak begitu semangat menceritakan pengajian dan interaksinya dengan Masjid Salman. Saia dan istri berulang kali berpandangan, banyak juga tsaqofah bapak ini dengan pergerakan dakwah.

Diantara cerita2 si bapak, tiba2 datang pedagang asongan bakpia pathok. seolah begitu kenal dekat dengan si bapak. bapak pedagang asongan ini ‘nggrapyaki’ [ngobrol ramah] dengan si bapak. lantas si bapak pedagang asongan cerita kepada kami, bagaimana ia bertemu si bapak sunda itu di stasiun. hingga akhirnya mereka dekat seperti saudara sendiri.

“Kalo mas naik kereta ke Yogja, tanya saja sama pedagang asongan bakpia, kenal sama pak Toha. pasti banyak mereka yang kenal. wong umur saia ini sudah tujuh puluh tahun dan pekerjaan saia sehari-hari adalah ngasong begini. Rak yo harus banyak bersyukur, dene bapak umure wis ngluwihi Rasulullah….” Tiba-tiba istri saia meremas erat lengan saia. “Lha iya to, Rasulullah itu umurnya 63 tahun. Lha bapak diberi untung 7 tahun, kok ga bersyukur gimana. alhamdulillah dengan ngasong begini dik, bapak bisa menyekolahkan anak bapak. Empat orang sudah sarjana semua. ya untung lagi to, wong bapak dulu cuma medhot [putus] kelas 3 SR [Sekolah Rakyat], tapi anaknya sarjana semua. Orang tua itu merasa untung dik, kalo anaknya melebihi orang tuanya. jangan sampai anaknya sama atau bahkan lebih buruk dibanding bapaknya”. Saia menyimak hikmat pidato Pak Toha, yang menurut saia saat ini jauh lebih indah dibanding janji-janji politisi muda yg hanya mencari kerja dengan magang jadi Caleg. “Alhamdulillah lagi, dengan ngasong begini bapak bisa naik haji pada tahun 2004. trus umrah tahun 2006″. Saia terbelalak dengan cerita Pak Toha. Masya Allah, luar biasa bapak ini.

Setelah cerita tentang dirinya, Pak Toha kembali membuka pembicaraan dengan si Bapak Sunda. “Lha terus nanti kembali ke Bandung naik apa pak?”, tanya Pak Toha. “Cari tumpangan di Pasar Purwosari pak”. “Terus buat makan sudah ada?” sergah Pak Toha. Si Bapak Sunda hanya diam tak menjawab. “Pak Toha lantas mengeluarkan uang 20 ribu kemudian diberikan ke Bapak Sunda. Binar wajahnya kontan berubah, air matanya bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata syukur dan bahagia, “Jazakallahu khairan katsir, ya pak”. Istri saia kembali meremas lengan saia. Saia sendiri merasakan haru biru seperti ditengah samudera. istri saia berbisik, “Mas…Jazakallah khairan katsir, katanya”. iya…saya pun mendengarnya persis seperti itu.

“Pak Toha ini sudah seperti saudara sendiri dek. Hanya saya belum sempat main ke rumah. InsyaAllah saya dan istri main ke rumah pak Toha ya Pak. Dek sebentar lagi sudah Purwosari. Kalo adek main ke Bandung mampir Cibaduyut ya, cari saja pak Cecep. atau tanya saja orang disana Pak Haji Cecep Nikmat, insya Allah semua orang tahu kok”. Masya Allah…bapak sunda ini…pantesan obrolan dengan bapak sunda ini sarat dengan tsaqofah Islam. rupanya Allah telah memberikan hikmah di atas Sri Tanjung ini. Ketika Sri Tanjung memasuki Stasiun Purwosari, Pak Haji Cecep Nikmat bergegas pamitan pada Pak Toha, saia, dan istri. Pertemuan kami begitu mengesankan seolah saia tak rela untuk meninggalkannya. Saia kejar Pak Haji Cecep Nikmat dan saia bisikkan, “Semoga Allah mempertemukan kita kembali pak”. Kembali air mata Pak Haji Cecep Nikmat menetes, sambil berkata “Jazakallahu khairan katsir, ya dek”.

Sepeninggal Pak Haji Cecep Nikmat, saia dan istri masih melanjutkan perbincangan dengan Pak Toha. hingga akhirnya pak Toha memberikan pesan kepada kami, “Kalian ini masih pengantin baru, harus titi gemi [hati-hati dan hemat]. Jangan noleh kemana-mana, sebelum kamu punya satu hal. RUMAH. pokoknya sebelum punya rumah jangan punya keinginan lain. Pak Toha ini orang kuno, tapi ya begini hasilnya”. Saia pun manggut-manggut sepakat, karena saia sepikiran dengan Pak Toha. “Doakan kami ya Pak Toha”. “Iya, Pak Toha ini bisanya ya berpesa dan mendoakan begitu. Tapi itu jangan dianggap sepele. Seperti pedagang asongan begini. jangan disepelekan. bapak ngasong begini bis menyekolahkan anak, menghidupi keluarga tanpa kekurangan, bisa naik haji dan umrah, terus bisa punya kos-kosan yang sekarang banyak disewa mahasiswa. Ngasong itu ‘ngaso nggo mangan’ [istirahat buat makan]. tapi ya jangan menuntut lebih. adanya nasi sama rempeyek, ya dimakan itu saja. nanti makan enaknya di rumah saja, jangan diluar. Orang ngasong itu penyakitnya tiga lho dik. Mendem [mabok], main [judi], dan medok [zina]. Kalo tiga penyakit itu bisa dihindari, terus ditambah titi gemi, insya Allah berhasil”. Saia semakin curiga, bapak ini pasti bukan pedagang asongan biasa.

Dan benar. “Pak Toha ini kerjaannya ya ngasong begini. daripada jalan-jalan saja di rumah ga dapat apa-apa, lebih baik jalan2 di kereta tapi dapat uang belanja to dik? Ya kalo di kereta panggil saja Pak Toha. Walau ngasong begini, tapi kalo di rumah bapak ini sering dipanggil orang2 buat ngisi pengajian. Mereka tahunya Pak Haji Muhammad Toha”. “Masya Allah”, spontan saia dan istri ucapkan. “Ini tadi Pak Kyai Haji to”. “Ya itu kalo di rumah dik. kalo di kereta, panggil saja saya, Pak Toha”.

Ditulis dalam Kemanusiaan | Bertanda: , , | 8 Komentar »

Hikmah Kereta…Balik ke Jakarta

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 11, 2009

Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali menikmati udara pagi di Depok yang segar. Yah…tak beda jauh dengan udara pagi di kampung Trenggalek.

Kemarin pagi menjelang siang, saia dan istri sudah kembali di Depok setelah dag dig dug semalaman di KA Brantas. Ekonomi lagi Ekonomi lagi! Lagi-lagi Ekonomi! Ga masalah, toh saudara saia yg sekarang di ostrali menempatkan KA Brantas sebagai angkutan favoritnya, mpe saia bilang dia masinis Brantas (pis yo Mil…hehehe). Kenapa Dag…Dig…Dug…
Rupanya perjalanan menuju Jakarta kali ini Allah memberikan hikmah dengan cara yang berbeda. Beda dengan waktu pulkam ke Trenggalek hari Kamis lalu. Hari Senin yang mendebarkan.

Saia membawa satu keril penuh berisi barang2 dari Trenggalek, ditambah satu kardus di tangan. Adapun istri saia punggungnya dibebani  backpack, di tangan kanannya menenteng satu kardus juga, dan tangan kirinya membawa sebesek keripik tempe khas Trenggalek. Ketika Brantas sampai di Stasiun Madiun, kami segera menuju Gerbong 6 dengan nomor tempat duduk 10D dan 10E. Tak banyak bicara, saia naikkan semua barang2 yang berisi oleh2 dan dagangan saia ke ‘kabin’ Brantas. Setelah itu saia duduk dan merasakan kekhawatiran.

Mengapa khawatir? rupanya yang membuat saia khawatir adalah orang yang duduk di depan saia. Bukan bermaksud menjustifikasi atau menduga2 tanpa alasan. Jika di depan anda ada seorang laki2 kurus memakai anting di sebelah telinganya, memakai kalung rantai, menggunakan cincin di ibu jari kirinya, ditangan kanan juga nampak cincin di jari tengahnya, kuku-kukunya terlihat kutek warna  biru baik yang masih utuh memenuhi permukaan kukunya atau yang sudah rusak, tubuhnya dibalut jaket buluk lengan panjang dimana lengannya tidak dikancingkan namun dia tarik2 sepnjang jalan untuk menutupi tangannya, lantas salah satu tangannya menggenggam korek gas dan sesekali menggigil dengan nafas yang berat sambil mengusap2 lubang hidungnya,…kira2 apa yang anda pikirkan? menurut anda siapa orang ini sebenarnya?

Di tengah ke khawatiran saia tiba2 laki2 itu bertanya,“Tanah Abang karo Jatinegara iku dhisikan endi?” [Tanah Abang dan Jatinegara duluan mana?]. “Jatinegara mas”, dalam hati saya mengira bahwa laki2 ini belum pernah ke Jakarta. Dia kemudian diam, saia tak berani menatap wajahnya. Istri saia rupanya takut juga, hingga ia semakin mendekatkan dirinya ke tubuh saia. Saia berusaha menenangkan diri, namun kembali khawatir ketika laki2 itu kembali bertanya,  “Sakdurunge Tanah Abang lewat Bogor yo?” [Sebelum Tanah Abang lewat Bogor ya?]. “Enggak lewat Bogor mas, lewat Bekasi”. “Mudun Tanah Abang utowo Jatinegara mbayare podho yo?” [Turun Tanah Abang atau Jatinegara bayarnya sama ya?]. “Iya mas”. Saia pun semakin yakin bahwa laki2 ini belum pernah ke Jakarta.

“Panjenengan nyambut damel wonten Jakarta mas?” [Kamu bekerja di Jakarta, mas?], saia berusaha mencairkan suasana sambil berusaha menutupi kekhawatiran saia. “Enggak! Aku nganggur”. Saia diam. hening lama.

“Wonten Jakarta sampun kagungan jujukan, mas?” [Di Jakarta sudah punya tempat yang dituju, mas?]. Saia semakin berani mengorek informasi dari laki2 ga jelas itu. “Wis. Neng nggone kancaku?” [Sudah. Ditempat temanku]. hening lama.

Saia masih dag dig dug ga karuan. apalagi ketika melihat laki2 itu menggigil, dengan nafas berat, meremas-remas korek gas sambil menarik-narik lengan jaketnya untuk menutupi tangannya, lantas mengusap lubang hidung dengan ibu jarinya beberapa kali. Persis dengan orang yang lagi sakaw.

Saia sadar bahwa saia harus tetap waspada. akhirnya merancang rencana jaga diri dengan istri saia. tentu dengan bahasa yg saia dan istri saia ngerti tapi laki2 tu ga ngerti. of course, in english. kami memutuskan untuk berjaga gantian. waktu istri saia tidur, saia yang jaga. dan sebaliknya, waktu saia tidur, istri yang jaga. dan keputusan untuk waspada sepanjang jalan itu semakin bulat setelah saia dengan tidak sengaja melihat salah satu tangan laki2 itu penuh dengan belas luka sayatan. pantesan dari tadi ia berusaha menarik-narik lengan jaketnya untuk menutupi tangannya.

Ditengah jalan ia meminta ijin kepada saia untuk merokok. setengah takut saia bilang, “Monggo mas, tapi yen pas sepure mlaku yo, soale yen pas sepure mandek, beluke rokok ga metu ko gerbong, mesakne bojoku mas” [Silakan mas, tapi kalo pas keretanya jalan ya, sebab kalo pas kereta berhenti, asap rokoknya ga keluar gerbong, kasihan istri saia mas]. Ia pun menghisap rokok dengan nafas berat dan cepat. hingga tak lama kemudian batang rokoknya habis.

Demikian seterusnya di sepanjang jalan, laki-laki itu telah memberikan pelajaran kepada saia dan istri saia, bagaimana caranya waspada disepanjang jalan

Ditulis dalam Kemanusiaan | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Ga Syariah Sori Ah!

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 5, 2009

Kemarin saia nekat ke Festival Ekonomi Syariah. kenapa kok nekat? karena awalnya motor masih dipakai istri untuk ke kantor, dan baru siang banget mendekati sore saia baru bisa cabut dari Depok menuju Bintaro. ada agenda singkat di sana. hingga sudah pukul 16.30 saia akhirnya nekad untuk ke FES di JCC. padahal malamnya saia ada pertemuan dan janji untuk membekam seorang kawan. tujuan utamanya adalah mencari pembiayaan KPR yang lebih berkah dibanding perbankan konvensional. plus upaya yang begitu hati2 untuk menentukan bank syariahnya. soalnya kemarin BI menemukan ada bank syariah yang bisnis derivatif, padahal produk itu haram. {Kalo saia jadi gubernur BI, bank syariah ini langsung saia bekukan operasinya, karena merusak citra syariah}

Kalo dulu saia pernah menulis dan berpendapat bahwa praktek perbankan syariah itu masih separuh syariah. tapi saia menjadi sangat memaklumi kondisi yang separuh itu. karena dulu para ulama berdebat apakah bunga bank haram atau tidak. hingga akhirnya daripada berdebat terus, mendingan MUI mendirikan bank syariah {Bank Muamalat}. hingga akhirnya waktu terus berjalan, perkembangan bank syariah pun melejit laksana roket yg diluncurkan Hamas ke Israel [laknatullah]. maka MUI pun mengeluarkan fatwa haram terhadap bunga bank. saia pun memahami bahwa akad ijab qabul itu menjadi bagian yang sangat penting dalam transaksi perbankan. juga kebijakan syariah yang tidak bergerak di sektor derivatif. OK…hingga disini saia sepakat. Ga Syariah Sori Ah!!!

terus terang, dengan berkembang pesatnya perbankan syariah, saia begitu bangga. bangga memiliki din yang rahmatallil’alamin. sehingga membawa berkah bagi kehidupan. namun disisi lain saia khawatir, atau lebih tepatnya tidak rela akuntansi dan ekonomi syariah dikotori atau hanya dimanfaatkan oleh oknum2 yg ga syariah untuk memperoleh keuntungan pribadi. dengan kata lain oknum itu hanya mendompleng nama syariah saja, tapi prakteknya ga syariah dan ga mau menyempurnakan sistem syariahnya. sekali lagi, saia memang begitu posesif dengan syariah. ga rela kalo sistem syariah dikotori. kalo pun usaha untuk menegakkan syariah hingga saat ini masih terus berjalan, OK, saia semakin bangga, berarti ada upaya untuk semakin memurnikan syariah. tapi untuk yang oknum tadi….ga rela saia…ga rela syariah saia dikotori. sekali lagi Ga Syariah Sori Ah!

Nah…kemarin saia mengumpulkan informasi mengenai KPR syariah dari berbagai bank syariah yang buka stand di FES. Hampir setiap stand bank syariah saia sambangi. muter2 hingga lutut lunglai. mpe ada SPG yang hafal nama saia dan masih membujuk saia untuk menabung di bank-nya, padahal stand itu sudah saia tinggalkan sejak lama dan bahkan saia sudah beranjak pulang.

Hasil dari informasi yang saia kumpulkan…..

sementara ini saia belum bisa menuliskan disini. karena masih ada dispute antara persepsi, asumsi, dan perhitungan saia dengan praktek di bank2 syariah. saia berencana untuk mempelajari, menghitung2 ulang, dan mengkaitkan informasi yang saia dapat kemarin dengan filosofi syariah. mungkin perhitungan awal saia masih belum tepat. atau beda asumsi. atau kurang pas dalam mengaitkan filosofi syariah dalam perhitungan saia. jadi….saia masih punya PR mengotak-atik Excel lagi, mengingat-ingat manajemen keuangan lagi, dan banyak belajar lagi……Belajar untuk tetap istiqomah ‘Ga Syariah Sori Ah!

Wallahu’alam…

Ditulis dalam Finansial | Bertanda: , , | 8 Komentar »

Bukti kami khairu ummah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 8, 2009

Pagi itu, 9 Muharram 1430 H pas banget sama hari Selasa, 6 Januari 2008, berangkat tiga orang penghuni Pondok Muslim ke Kampus STAN. Bukan untuk kuliah, tapi berkumpul mau berangkat ke UI, Depok. Henderi, Apri & Wipy menuju gerbang Bintaro Kampus STAN. Disana sudah menunggu Wayan. Tak lama kemudian datanglah Haris. Lantas orang terakhir yang ditunggu akhirnya datang jua, Puput. Kami berenam adalah dua tim dari STAN yang akan mengikuti lomba perpajakan di UI, Depok. Tim STAN pertama (suer…ini tim yang diunggulkan, karena persiapannya yang lebih matang dibanding tim satunya) terdiri dari formasi mantap: Henderi, Wayan, Puput. Dan Tim STAN kedua, alias tim Bolodupak, iya…bolodupak, karena tim ini terbentuk H-1 dan persiapan masing-masing yang apa adanya, terdiri dari: Apri, Haris, Wipy.

Kita berenam datang terlalu pagi di UI Depok. Acara baru dimulai pukul 08.30, kami sudah tiba pukul 07.00. Entah terlalu bersemangat atau salah jadual, yah…beda tipis lah. Waktu luang itu, alhamdulillah, kami (tepatnya aku) gunakan untuk mengurangi rasa nervous sebelum lomba. Henderi, Apri, Haris, dan saia sendiri menuju musholla di FISIP UI. Kami menunaikan shalat dhuha.

Bagiku sendiri, dhuha kali itu diwarnai penuh harap. Harapan untuk membuktikan sebagai khairu ummah. Umat Terbaik. Selesai salam pun tak terasa doa demi doa aku panjatkan dengan berkali-kali membaca Ali Imran ayat 110. Firman itu benar-benar menjadi motivasi dan petunjuk bagi kami. Hingga tangan ini tak terasa terangkat mengharap “Ya Allah, sungguh janji-Mu adalah benar. wa’dallahi haqqo. Maka ijinkan kami menjadi agen pembuktian. kuntum khairu ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billahi. Aku yakin, Engkau tidak akan menomorduakan ummat ini, Ya Allah. wa’dallahi haqqo, wa’dallahi haqqo, wa’dallahi haqqo”.

Setelah registrasi ulang, tim STAN sudah berkumpul sesuai timnya masing-masing. Aku hanya bisa merasakan nuansa perjuangan bersama timku. Tim STAN A alias Tim Bolodupak. Penyisihan Lomba kami lalui dengan penuh keyakinan. Hingga akhirnya diumumkan, kedua tim STAN lolos masuk ke Semi Final.

Tim Bolodupak berhadapan dengan Tim UI dan Tim Tri Sakti di Semi Final. Tim STAN kejar mengejar nilai dengan Tim UI. Hingga disaat-saat terakhir Tim STAN ketinggalan angka dengan Tim UI. Kekesalan sempat menghinggapi kami karena berbagai masalah materi. Kami merasa terdholimi. Namun hingga detik itu, aku, kami masih yakin wa’dallahi haqqo. Kami yakin tidak akan menjadi nomor dua. Karena Allah menciptakan kami sebagai khairu ummah. Benar. wa’dallahi haqqo. Di moment terakhir, tim UI menjawab pertanyaan…dan…salah. Sehingga Tim Bolodupak pun melenggang ke Final. Masya Allah. Sejurus kemudian meluncur SMS balasan dari Aceh, istriku tercinta, turut memberikan motivasi dan doa. antum khairu ummah, ukhrijat linnaas.

Tak lama kemudian, manajer kami, Hendra Destiawan, muncul dengan berbunga-bunga. Tim STAN dua-duanya lolos ke Final. Alhamdulillah…aku begitu bahagia. Namun kami sadar, kebahagiaan itu tak boleh melenakan kami. Apalagi pengalaman sempat terdholimi. Kami harus mempersiapkan strategi.

Babak Final merupakan pertempuran tiga tim. Tim STAN A (Tim Bolodupak), Tim Untar, dan Tim STAN B. Ketika MC memandu waktu berdoa, aku, kami masih tetap berpegang teguh. kuntum khairu ummah. Babak Final rupanya menjadi ajang pertempuran sengit bagi kedua Tim STAN. Hingga Tim STAN B terus unggul sedari Babak pertama berakhir. Namun, benar, wa’dallahi haqqo. Pada moment menentukan, Apri menjawab pertanyaan bernilai 300. Menjawab dengan runtutan perhitungan, namun belum ketemu berapa angka pastinya. Refleks tak bisa dihentikan, salah satu tangan meraih kalkulator, tangan yang lain memencet-mencet tombolnya, lantas mulut bertanya, “berapa bulan Pri?”. sepersekian detik kemudian, “lima”. dua jari bergerak begitu cepat memencet tombol angka “5″ dan “exe”. “10 juta, Pri”. Dan nilai Tim Bolodupak pun menjadi paling tinggi. wa’dallahi haqqo. kuntum khairu ummah.

Pengumuman pemenang lomba menunjukkan Tim STAN A, Tim STAN B, dan Tim Untar menjadi juara 1, 2, dan 3 secara berurutan.

Untar - STAN B - STAN A

Untar - STAN B - STAN A

dan inilah formasi Tim STAN A…alias…Tim Bolodupak

Apri - Haris - Wipy

Apri - Haris - Wipy

Terima kasih dan selamat juga atas kerjasama dan perjuangan Tim STAN B.

Puput - Wayan - Henderi

Puput - Wayan - Henderi

Terima kasih juga buat Manajer kami…Hendra Destiawan.

Hendra Destiawan

Hendra Destiawan

Ditulis dalam Kuliah, Uncategorized | Bertanda: , , | 3 Komentar »

Dari Cinta hingga Munashoroh Palestina

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 30, 2008

Suatu saat ketika saia baru turun dari Gunung Kencana, bukan dalam rangka “ngasah kasekten” ato memburu si butak dari gua hantu, tapi hanya ingin mendekatkan diri dan belajar langsung dari alam yang Allah ciptakan, tiba-tiba ponselku bergetar hebat. Saking hebatnya dapat meluluh lantakkan sendi-sendi cinta saia. Lha iya…wong yang sms itu pacar saia. Iya…pacar tercinta yang sekarang mendampingi hidup saia dalam suka dan duka. Maklum di atas gunung tidak ada sinyal. Jadinya pas turun trus ketiban sinyal…diberondong SMS bertubi-tubi. Mayoritas dari istri saia. Itu dia yang membuat saia luluh lantak.
Salah satu SMSnya begini “Terbersit hari ini, ketika mas lagi naik gunung, kapan kita bisa naik gunung bersama? Cintamu ini jadi pengen coba :) . kapan kita bisa DS bersama, munasharah di HI, Monas, Al-Azhar…pasti seru!!!”
Terus terang saat itu saia speechless. Seolah ingin mempercepat langkah turun gunung. tapi apa daya, istri saia masih di Aceh. Cepat atau lambat saia turun gunung tetap aja ga ngaruh.

Lantas malam, ba’da maghrib ini, dapat SMS dari mas’ul
“Munashoroh Palestina untuk kader, simpatisan, dan warga Jabodetabek, Jumat 2 Januari 2009. Kumpul di Bundaran HI pukul 13.00. Atribut Pendekar Kebenaran Sejati dan Bendera Merah Putih. Infaq “one man one dollar”

Tanpa pikir panjang, saia langsung mem-forward SMS itu ke istri saia. Beberapa detik kemudian ponsel saia teriak ‘Sukarno berkata…aku bukan budak Moskow, bukan pula budak Amerika, aku adalah budak bagi rakyatku sendiri…Bangkit Pemimpin Muda…Untuk Indonesia Sejahtera’. Ada SMS masuk bergambar perempuan anggun dan cantik sekali menyusuri Pantai Loknga, Aceh.
“Ikuuuutt..! Anis mau ikuuutt..!!”

Istri saia pengen banget ikut munashoroh. Tadi sore dia telepon, cintaku itu membaca eramuslim.com dan alikhwan.net sambil menangis tersedu. Tak rela Palestina dibombardir Israel.

Teruntuk Cintaku. Kamu masih di Banda Aceh, Cinta. Kamu masih harus menunggu SK mutasi itu terbit hingga kita bisa tinggal bersama. Kalo sudah di Jakarta, kamu mau ikut munashoroh, ayo aku ada di sampingmu. Kamu pengen ikut dzikir nasional, ayo aku temani. Sekarang kamu masih harus bersabar dulu ya sayang.

Tulisan ini pertama kali diketik diatas keyboar sambil melototin monitor yang nampilin multiplyku.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , | 3 Komentar »

Asal usul SITU GINTUNG

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 29, 2008

ini cerita muncul setelah secara iseng aku bertanya via multiply pada Pak AMin Yadi. ga taunya dijawab beneran (beneran iseng maksudnya). tapi bagus loh. begini asal usul Situ Gintung versi Pak Amin Yadi:

Pada zaman dahulu ada aktivis dirampok di dekat sebuah situ (danau).

Aktivis itu ‘terpaksa’ melawan secara fisik, setelah berbagai upaya lisan dan hati tidak berhasil meng-inqilab (membalik persepsi) preman itu.

Singkat cerita tidak sampai 3 jurus 7 preman itu keok semua.

Aktivis itu bilang, “GINi-gini Tarbiyah bUNG!”

Akhirnya 7 preman itu minta liqo dan mereka ber-8 ( D E L A P A N ) dikenal sebagai Pendekar Kebenaran Sejati.

Markaz mereka kemudian dinamai Situ Gini-gini tarbiyah bung yang disingkat…?

Walah…walah…walah…Pak Amin…ada-ada saja

oiya..trus tu aktivis kecapekan hingga tertidur di Situ Gintung.

tertidur-di-situ-gintung

He…he…he…enggak kok. ini foto pas latihan OlahRaga Arus Deras (ORAD) bersama STAPALA.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: | Leave a Comment »

Melihat Calon Bidadariku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008

Selama proses menuju pernikahan, baru kemarin aku melihat calon istriku. Memang sudah disarankan oleh Rasulullah untuk melihat calon istri. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Hurairah r.a. mengatakan, “Aku berada di sisi Nabi SAW ketika datang seseorang yang mengabarkan bahwa dia akan menikahi seorang wanita dari kalangan Anshar. Rasulullah berkata, ”Apakah engkau telah melihat wanita yang engkau nikahi?” Dia mengatakan,”Belum”. Maka Rasuullah mengatakan, ”Pergilah engkau dan lihat wanita yang akan engkau nikahi, karena pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu”.

Ada juga hadits yang diriwayatkan Abu Dawud bahwa Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ketika seorang meminang perempuan, jika memungkinkan, hendaknya ia memandang perempuan itu untuk melihat sesuatu yang dapat memotivasi dirinya untuk menikah dengannya”. Jabir berkata, “Ketika aku ingin meminang seorang perempuan dari bani Salmah, aku bersembunyi mengendap-endap untuk dapat melihatnya, sehingga aku menemukan sesuatu yang memotivasiku untuk menikahinya.

(Aku menghela nafas panjang) Hhhhheeehh….rupanya jantung ini serasa lepas dari tempatnya. Ini bukan hiperbolis loh. Cuma melukiskan biar sedikit dramatis gitu. Aku benar-benar ga punya nyali untuk melihatnya scara langsung. Bahkan malah kikuk ga karuan. Ketika bicara padanya aku hanya bisa melempar pandangan ke arah kakaknya. Ga punya nyali aku. Malu. Benar-benar malu menatapnya saat itu. Walau hanya sekilas. Malu banget. (Malu kok cerita-cerita di blog)…[biarin, wong malunya sama calon istri kok, bukan sama pembaca blog]

Setengah bego aku mengetik SMS ba’da shubuh tadi pagi (setelh kemarin sore kaya orang liglung) di Masjid Nur Al-Askar. “Assalamu’alaikum wrwb. Ukhti, ana ada permintaan ke anti. Nanti pas akad, ana harap anti tidak duduk disamping, dibelakang ato disekitar ana yang memungkinkan ana bisa melihat anti. Terserah anti mau ada dimana yang penting ana ga melihat anti sebelum ijab qabul. Pengalaman kemarin, ternyata ana tidak punya cukup hati untuk melihat anti. Khawatir kalo sebelum jab qabul ana melihat anti, malah grogi, deg-degan, bisa mati kata ana ntar. Ya usahakan ana baru bisa melihat anti setelah ijab qabul aja deh. Beda rasanya melihat foto anti & melihat anti secara langsung. Jazakillah”. Tu SMS yg begono panjangnyo lantas aku send ke calon istriku.

Tuh kan keliatan groginya. Waduh…semoga nanti saat ijab qabul tidak segrogi saat melihatnya….Ya Allah, gimme composure when I get married. Amin.

Catatan:

Ana = aku

Anti = kamu (perempuan)

Referensi : Fiqih Sunnah, karya Sayyid Sabiq

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 3 Komentar »