Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘nikah’

Doa-doa Pernikahan

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 22, 2009

Kemarin ngobrol sama adik kelas yang hendak menikah.

“Mas, redaksi ijab qabul bagaimana sih?” Wah, kalo redaksi itu, sudah aku tulis di blog ini di “Lafaz Ijab Qabul”. tapi kali itu aku membahas dengan lebih nyantai. Lantas aku tanya apakah sudah hafal doa-doa pernikahan? We..e..ee.. rupanya dia belum hafal. kemudian memintaku untuk menuliskan dan mengirimkan lewat email. nah, nanggung kalo cuma lewat email, sekalian aja diposting di blog. semoga bermanfaat.

Berikut ini doa-doa dalam rangka pernikahan:

1. Doa pada saat pertama kali mendatangi pengantin perempuan:

Ada hadits dari Rasulullah SAW:

“Apabila salah seorang dari kamu mengawini seorang perempuan atau membeli seorang budak, maka hendaklah ia memegang bagian depan kepalanya (ubun-ubun) dan hendaklah membaca basmalah dan mendoakan keberkahan serta membaca “Allohumma inni as aluka min khoirihaa wa khoiri maa jabaltahaa ‘alaih, wa a’udzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaih” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan dan kebaikan yang telah Engkau takdirkan kepadanya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan dan kejahatan yang telah Engkau takdirkan kepadanya)”

2. Doa setelah shalat sunnah berjamaah dua rakaat

Disunnahkan bagi suami istri yang baru menikah mengerjakan shalat sunnah dua rakaat berjama’ah, berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

“Telah datang seorang laki-laki bernama Abu Huraiz, ia berkata, ‘Saya telah mengawini seorang wanita jariyah yang masih muda dan saya khawatir ia akan membangkitkan amarah saya. Maka Abdullah (yang dimaksud adalah Ibnu Mas’ud) menjawab, ‘Kerukunan itu datangnya dari Allah dan kemarahan itu datangnya dari syetan. Ia (syetan) menginginkan kamu membenci apa yang dihalalkan oleh Allah kepadamu. Maka kalau istrimu datang menghampirimu, perintahkan ia shalat dua rakaat dibelakangmu’. Dalam riwayat lain dai Ibnu Mas’ud ditambahkan, katakanlah “Allohumma baariklii fii ahlii, wa baariklahum fiy, Allohummajma’ bainanaa maa jama’ta bikhoir, wa farriq bainanaa ilaa khoir” (Ya Alla, berkan keberkahan kepadaku (anak istriku) dan berikan keberkahan kepada mereka dalam diriku. Ya Allah, persatukan kami selama persatuan itu mengandung kebajikan dan pisahkan kami jika perpisahan itu menuju kebaikan).

3. Doa sebelum jima’

Ketika melakukan hubungan suami istri disunnahkan kepada pasangan suami istri itu membaca doa:

“Bismillah, Allohumma jannibnasy syaithoona, wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa” (Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkan kami dari syetan, dan jauhkanlah syetan dari anugerah yang akan engkau berikan kepada kami)

Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Apabila Allah mentakdirkan keduanya memperoleh anak, maka anak itu tidak akan mendapat kemudharatan dari syetan selamanya.”

Semoga berkah bagi yang membaca, dan mengamalkannya.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Siapkan Pernikahan | Bertanda: , | 1 Komentar »

Dua Strip Merah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 18, 2009

Kemarin saia berangkat shalat subuh ke musholla Baiturrahman, musholla di RT saia yg baru saja berdiri & alhamdulillah kalau sekedar shalat berjamaah masih bisa diguakan, diselimuti tanda tanya. Pasalnya setelah saia wudhu dan bersiap ke musholla, istri saia masuk kamar mandi lamaaa bangget. dia bilang sih ga apa-apa.

Setelah selesai menikmati suasana subuh di musholla, saia segera kembali ke rumah. kreeeeeeeetttt…pintu saia buka dan tiba2 saya terkejut ada makhluk putih2 berdiri didepan saia. Makhluk itu menggerak2kan kepalanya seolah mencari lubang diujung kain putihnya. DOENG…DENG…DONG…muncullah muka istri saia dari mukena yg sedang ia pakai.

Saia masih terbelalak, namun sebaliknya saia melihat istri saia berseri-seri. ada apa gerangan dirinya? “Mas…mas…let see…I’ll show you something…”, tiba2 tanganku ditariknya. Istriku lantas menunjukkan sebuah batang kecil seperti lidi.

“Lihat, mas”. tanpa kata tanpa tunda, saia pelototi barang sekecil lidi itu. nampak pada batangnya dua strip merah kecil. Alhamdulillah…alhamdulillah…alhamdulillah…istri saia hamil.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah | Bertanda: , , | 8 Komentar »

My best achievement was…

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 29, 2008

Tepat tengah malam tadi istriku sms. “Yang, udah tidur? Semoga Allah member kita kekuatan untuk merangkai hari-hari di tahun ini menjadi lebih bermanfaat, lebih indah, lebih berkah, dll. Met tahun baru sayang…our first new year :)

Aku masih belum tidur saat menerima sms itu. Sejurus ingatanku menembus gelapnya malam menuju 5 Syawal 1429H atau 5 Oktober 2008. Pada saat itulah aku menancapkan tonggak pencapaian tertinggiku. The day when I get my best achievement. Aku telah mendapatkan separuh agamaku. Allah telah menganugerahi aku bidadari terbaik untukku. Allah memberiku pendamping hidup yang menemaniku menggapai ridho-Nya. Anis Dyah Rahmawati. Perempuan tempat aku menumpahkan rasa cinta dan rinduku. Perempuan yang menjadi pelindung pandangan dan kehormatanku.

Pada momen tahun baru 1 Muharram 1430H ini, aku berusaha menghitung-hitung pencapaianku. Dan aku tak bisa berhenti bersyukur, karena telah mendapatkan separuh agama. Selanjutnya aku tinggal bertakwa kepada Allah. Itu pun dibantu dengan seorang bidadari terbaik untukku. Seperti kalimat terakhir yang diucapkan Rasulullah SAW dalam hadits arba’in nomor 25, “Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa? Maka demikian pula apabila ia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala” (HR Muslim).

Istriku…kamu adalah ladang pencapaian ketakwaan kepada Allah. And you’re the best achievement I ever get.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah | Bertanda: , , , , , | 4 Komentar »

Memoar Aceh (2)

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 26, 2008


Pagi sejuk hari kedua di Banda Aceh dihiasi dengan keramahan seorang jama’ah masjid yang memboncengku mencari tempat ibadah Shubuh. Waktu terus berlalu dengan tagan istriku yang lekat dalam genggamanku.

Maman, teman mengadu idealisme di kampus STAN dulu, memanggil. Dikerjain abis aku. Ngopi Ulee Kareng hanya dengan hanya kostum celana kolor dan jaket tidur yang melekat di tubuh. Cuci muka saja belum. Tapi ta apa, banyak juga pelanggan kopi yang hanya sarungan. Begitulah kebiasaan orang Aceh, ngopi. Kopinya mungkin hanya secangkir, tapi bahan pembicaraannya segudang. Mulai dari masalah politik, partai lokal, pemerintahan, olah raga, kemasyarakatan, pendidikan, dan segala hal topik lainnya. Aku, Maman, dan Ujang tak bias berlama-lama di kedai kopi itu. Teman-teman ku itu harus segera ke kantor. Dan aku juga harus silaturahmi ke kantor istriku.

Badan Pusat Statistik, Kanwil Banda Aceh. Di gedung itulah istriku memperjuangkan ilmu dan idealismenya. Cerita-ceritanya tentang perjuangannya itu semakin membuatku cinta. Aku merindukanmu istriku. May be my love will come back some day, only heavens know-Rick Price.

Acara silaturahmi itu berlangsung hingga siang hari. Hingga sore harinya sengaja akan kami habiskan untuk jalan-jalan di Banda Aceh. Tentu ditemani dua teman baik kami, Bang One dan Ely. Kami makan siang dengan menu Ayam Tangkap di sebuah restoran di depan tanah yang sedang dibangun gedung BPK Perwakilan Banda Aceh. Hm…maknyuss rasanya.

Sasaran pertama adalah Kapal Apung di Ulee Lheue. Kapal besar itu adalah pembangkit listrik tenaga diesel yang pada mulanya berada di tengah lautan. Namun tsunami telah menyeretnya hingga ke daratan. Begitu besar dan kokoh. Berdasarkan informasi yang aku dapat, hingga saat ini pembangkit listriknya masih beroperasi.

diatas kapal apung yg terseret ombak ke daratan

diatas kapal apung yg terseret ombak ke daratan

Perjalanan selanjutnya menuju pekuburan masal, masih di Ulee Lheue. Perjalanan ke pekuburan itu menuntut perhatian ekstra. Karena jalan-jalan sedang dibangun sehingga banyak material di sekitarnya. Masih di Ulee Lheuu, kami menuju pelabuhan ferry yang menghubungkan pulau Sumatera dengan Pulau Sabang. Sabang…kota tempat Ely akan bertugas. Dia dimutasi dari Kanwil BPS Banda Aceh. Praktis, ia tidak sekamar lagi dengan istriku. Dialah perempuan yang begitu setia menemani istriku ketika sedih dan senang selama istriku di Banda Aceh. Semoga Ely mendapatkan keberkahan yang berlipat ganda. Trima kasih ya Ely…

Dari Pelabuhan, aku di bawa Bang One ke Masjid Teuku Umar. Masjid yang khas, karena hanya satu di Banda Aceh masjid dengan kubah seperti topi Teuku Umar. Tidak seperti masjid lain yang berkubah bulat. Masjid itu masih sedang direnovasi. Bekas-bekas bencana masih terlihat jelas di area masjid itu. Semoga menjadi masjid yang dimakmurkan oleh masyarakat dan menjadi basis kebangkitan umat.

Sore menjelang. Kini saatnya perjalanan berdua saja. Aku dan istriku. Melihat keindahan Baiturrahman ketika mentari masih bersinar, lantas ke pantai Ujong Batee. Pantai yang gambarnya bersatu dengan puncak Gunung Lawu di undangan pernikahan kami. Hamparan pasir luas itu mementuk ukiran gelomban karena pasirnya tak kuasa menahan hembusan angin. Tapi sang angin tetap tak kuasa menghempaskan bebatuan yang berkumpul kokoh. Semoga jiwa-jiwa kami sekokoh bebatuan itu.

Malam mulai menjelang, dan kami pun segera pulang. Istriku…dengarkan…You are all I need beside me girl; you are all I need to turn my world-White Lion.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , , , | 1 Komentar »

Lafaz Ijab Qabul

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008

Ijab Qabul dalam akad nikah itu kata-kata kesepakatan antara kedua pihak yang bersepakat (wali dan mempelai laki-laki). Ijab adalah kalimat yang berisi ajakan dan keinginan untuk menjalin sebuah ikatan pernikahan (biasanya diucapkan wali). Qabul merupakan ungkapan kerelaan dan persetujuan atas ajakan itu (biasanya diucapkan mempelai laki-laki).

Nah yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana sih lafaz alias redaksional ijab dan qabul dalam pernikahanku nanti. Kalo di Fiqih Sunnah (karya Sayyid Sabiq) sih yang penting ijab dan qabul itu menggambarkan kesepakatan untuk menikah (dengan bahasa yang dipahami oleh kedua pihak yang melakukan akad nikah), serta dengan bahasa yang jelas, dengan tujuan untuj menghindari kesalahpahaman.

Hmm…kalimat sakral yang aku tunggu “Wirawan Purwa Yuwana bin Imam Supandi, anda saya nikahkan dengan saudara saya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin Kitab Tafsir Fidzilalil Qur’an, Kitab Fiqih Sunnah dan sebuah cincin, tunai”. Kalo sudah kalimat ijab diucapkan begitu, gimana coba jawabnya?

“Saya terima nikahnya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin yang telah disebutkan di atas tunai”. Ato mau pakai bahasa Arab? “Qabiltu nikaha watzwijaha linasfi bi mahril madzkur haalan” (versi Ayat-Ayat Cinta ditambah ‘ala manhaji kitabillah wa sunnati rasulillah). Ato pakai bahasa Inggris? I approve the marriage with Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat by bide price that have been mentioned at that very moment. Apakah harus seperti itu?

Gimana kalo jawabnya singkat, padat dan jelas. Misalnya “Tunai!”, “Siap!”, “Setuju!”, “Baiklah!”, “Na’am”, “Oke!”, “Yes!”, ato “Absolutely!”. Gimana tuh? Ada yang bisa ngasih pendapat ga?

Ah namanya juga masih belajar. Dan masih pertama kali lagi….

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 7 Komentar »

Melihat Calon Bidadariku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008

Selama proses menuju pernikahan, baru kemarin aku melihat calon istriku. Memang sudah disarankan oleh Rasulullah untuk melihat calon istri. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Hurairah r.a. mengatakan, “Aku berada di sisi Nabi SAW ketika datang seseorang yang mengabarkan bahwa dia akan menikahi seorang wanita dari kalangan Anshar. Rasulullah berkata, ”Apakah engkau telah melihat wanita yang engkau nikahi?” Dia mengatakan,”Belum”. Maka Rasuullah mengatakan, ”Pergilah engkau dan lihat wanita yang akan engkau nikahi, karena pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu”.

Ada juga hadits yang diriwayatkan Abu Dawud bahwa Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ketika seorang meminang perempuan, jika memungkinkan, hendaknya ia memandang perempuan itu untuk melihat sesuatu yang dapat memotivasi dirinya untuk menikah dengannya”. Jabir berkata, “Ketika aku ingin meminang seorang perempuan dari bani Salmah, aku bersembunyi mengendap-endap untuk dapat melihatnya, sehingga aku menemukan sesuatu yang memotivasiku untuk menikahinya.

(Aku menghela nafas panjang) Hhhhheeehh….rupanya jantung ini serasa lepas dari tempatnya. Ini bukan hiperbolis loh. Cuma melukiskan biar sedikit dramatis gitu. Aku benar-benar ga punya nyali untuk melihatnya scara langsung. Bahkan malah kikuk ga karuan. Ketika bicara padanya aku hanya bisa melempar pandangan ke arah kakaknya. Ga punya nyali aku. Malu. Benar-benar malu menatapnya saat itu. Walau hanya sekilas. Malu banget. (Malu kok cerita-cerita di blog)…[biarin, wong malunya sama calon istri kok, bukan sama pembaca blog]

Setengah bego aku mengetik SMS ba’da shubuh tadi pagi (setelh kemarin sore kaya orang liglung) di Masjid Nur Al-Askar. “Assalamu’alaikum wrwb. Ukhti, ana ada permintaan ke anti. Nanti pas akad, ana harap anti tidak duduk disamping, dibelakang ato disekitar ana yang memungkinkan ana bisa melihat anti. Terserah anti mau ada dimana yang penting ana ga melihat anti sebelum ijab qabul. Pengalaman kemarin, ternyata ana tidak punya cukup hati untuk melihat anti. Khawatir kalo sebelum jab qabul ana melihat anti, malah grogi, deg-degan, bisa mati kata ana ntar. Ya usahakan ana baru bisa melihat anti setelah ijab qabul aja deh. Beda rasanya melihat foto anti & melihat anti secara langsung. Jazakillah”. Tu SMS yg begono panjangnyo lantas aku send ke calon istriku.

Tuh kan keliatan groginya. Waduh…semoga nanti saat ijab qabul tidak segrogi saat melihatnya….Ya Allah, gimme composure when I get married. Amin.

Catatan:

Ana = aku

Anti = kamu (perempuan)

Referensi : Fiqih Sunnah, karya Sayyid Sabiq

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 3 Komentar »