Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Islam’

Ga Syariah Sori Ah!

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 5, 2009

Kemarin saia nekat ke Festival Ekonomi Syariah. kenapa kok nekat? karena awalnya motor masih dipakai istri untuk ke kantor, dan baru siang banget mendekati sore saia baru bisa cabut dari Depok menuju Bintaro. ada agenda singkat di sana. hingga sudah pukul 16.30 saia akhirnya nekad untuk ke FES di JCC. padahal malamnya saia ada pertemuan dan janji untuk membekam seorang kawan. tujuan utamanya adalah mencari pembiayaan KPR yang lebih berkah dibanding perbankan konvensional. plus upaya yang begitu hati2 untuk menentukan bank syariahnya. soalnya kemarin BI menemukan ada bank syariah yang bisnis derivatif, padahal produk itu haram. {Kalo saia jadi gubernur BI, bank syariah ini langsung saia bekukan operasinya, karena merusak citra syariah}

Kalo dulu saia pernah menulis dan berpendapat bahwa praktek perbankan syariah itu masih separuh syariah. tapi saia menjadi sangat memaklumi kondisi yang separuh itu. karena dulu para ulama berdebat apakah bunga bank haram atau tidak. hingga akhirnya daripada berdebat terus, mendingan MUI mendirikan bank syariah {Bank Muamalat}. hingga akhirnya waktu terus berjalan, perkembangan bank syariah pun melejit laksana roket yg diluncurkan Hamas ke Israel [laknatullah]. maka MUI pun mengeluarkan fatwa haram terhadap bunga bank. saia pun memahami bahwa akad ijab qabul itu menjadi bagian yang sangat penting dalam transaksi perbankan. juga kebijakan syariah yang tidak bergerak di sektor derivatif. OK…hingga disini saia sepakat. Ga Syariah Sori Ah!!!

terus terang, dengan berkembang pesatnya perbankan syariah, saia begitu bangga. bangga memiliki din yang rahmatallil’alamin. sehingga membawa berkah bagi kehidupan. namun disisi lain saia khawatir, atau lebih tepatnya tidak rela akuntansi dan ekonomi syariah dikotori atau hanya dimanfaatkan oleh oknum2 yg ga syariah untuk memperoleh keuntungan pribadi. dengan kata lain oknum itu hanya mendompleng nama syariah saja, tapi prakteknya ga syariah dan ga mau menyempurnakan sistem syariahnya. sekali lagi, saia memang begitu posesif dengan syariah. ga rela kalo sistem syariah dikotori. kalo pun usaha untuk menegakkan syariah hingga saat ini masih terus berjalan, OK, saia semakin bangga, berarti ada upaya untuk semakin memurnikan syariah. tapi untuk yang oknum tadi….ga rela saia…ga rela syariah saia dikotori. sekali lagi Ga Syariah Sori Ah!

Nah…kemarin saia mengumpulkan informasi mengenai KPR syariah dari berbagai bank syariah yang buka stand di FES. Hampir setiap stand bank syariah saia sambangi. muter2 hingga lutut lunglai. mpe ada SPG yang hafal nama saia dan masih membujuk saia untuk menabung di bank-nya, padahal stand itu sudah saia tinggalkan sejak lama dan bahkan saia sudah beranjak pulang.

Hasil dari informasi yang saia kumpulkan…..

sementara ini saia belum bisa menuliskan disini. karena masih ada dispute antara persepsi, asumsi, dan perhitungan saia dengan praktek di bank2 syariah. saia berencana untuk mempelajari, menghitung2 ulang, dan mengkaitkan informasi yang saia dapat kemarin dengan filosofi syariah. mungkin perhitungan awal saia masih belum tepat. atau beda asumsi. atau kurang pas dalam mengaitkan filosofi syariah dalam perhitungan saia. jadi….saia masih punya PR mengotak-atik Excel lagi, mengingat-ingat manajemen keuangan lagi, dan banyak belajar lagi……Belajar untuk tetap istiqomah ‘Ga Syariah Sori Ah!

Wallahu’alam…

Ditulis dalam Finansial | Bertanda: , , | 8 Komentar »

We will not go down in Gaza tonight

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 15, 2009

This evening I still focus my attention in the sadistic Israel through Palestine. More than thousand people dead, or ‘syahid’ I said. And my heart get beat with sadness after find a Song that composed and performed by Michael Heart. This song dedicated to Palestine people. But I think it more appropriate to slap countries around Palestine, United Nation, and Israel itself. Here the lyric:

A blinding flash of white light

Lit up the sky over Gaza tonight

People running for cover

Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes

With ravaging fiery flames

And nothing remains

Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down

In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

Women and children alike

Murdered and massacred night after night

While the so-called leaders of countries afar

Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain

And the bombs fell down like acid rain

But through the tears and the blood and the pain

You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down

In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

Yes…Palestine and Moslem spirits and powers will never die even though our last breath has to be sacrificed through Intifadha. Allahu Akbar…!!!

Ditulis dalam Kemanusiaan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 8 Komentar »

Bukti kami khairu ummah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 8, 2009

Pagi itu, 9 Muharram 1430 H pas banget sama hari Selasa, 6 Januari 2008, berangkat tiga orang penghuni Pondok Muslim ke Kampus STAN. Bukan untuk kuliah, tapi berkumpul mau berangkat ke UI, Depok. Henderi, Apri & Wipy menuju gerbang Bintaro Kampus STAN. Disana sudah menunggu Wayan. Tak lama kemudian datanglah Haris. Lantas orang terakhir yang ditunggu akhirnya datang jua, Puput. Kami berenam adalah dua tim dari STAN yang akan mengikuti lomba perpajakan di UI, Depok. Tim STAN pertama (suer…ini tim yang diunggulkan, karena persiapannya yang lebih matang dibanding tim satunya) terdiri dari formasi mantap: Henderi, Wayan, Puput. Dan Tim STAN kedua, alias tim Bolodupak, iya…bolodupak, karena tim ini terbentuk H-1 dan persiapan masing-masing yang apa adanya, terdiri dari: Apri, Haris, Wipy.

Kita berenam datang terlalu pagi di UI Depok. Acara baru dimulai pukul 08.30, kami sudah tiba pukul 07.00. Entah terlalu bersemangat atau salah jadual, yah…beda tipis lah. Waktu luang itu, alhamdulillah, kami (tepatnya aku) gunakan untuk mengurangi rasa nervous sebelum lomba. Henderi, Apri, Haris, dan saia sendiri menuju musholla di FISIP UI. Kami menunaikan shalat dhuha.

Bagiku sendiri, dhuha kali itu diwarnai penuh harap. Harapan untuk membuktikan sebagai khairu ummah. Umat Terbaik. Selesai salam pun tak terasa doa demi doa aku panjatkan dengan berkali-kali membaca Ali Imran ayat 110. Firman itu benar-benar menjadi motivasi dan petunjuk bagi kami. Hingga tangan ini tak terasa terangkat mengharap “Ya Allah, sungguh janji-Mu adalah benar. wa’dallahi haqqo. Maka ijinkan kami menjadi agen pembuktian. kuntum khairu ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billahi. Aku yakin, Engkau tidak akan menomorduakan ummat ini, Ya Allah. wa’dallahi haqqo, wa’dallahi haqqo, wa’dallahi haqqo”.

Setelah registrasi ulang, tim STAN sudah berkumpul sesuai timnya masing-masing. Aku hanya bisa merasakan nuansa perjuangan bersama timku. Tim STAN A alias Tim Bolodupak. Penyisihan Lomba kami lalui dengan penuh keyakinan. Hingga akhirnya diumumkan, kedua tim STAN lolos masuk ke Semi Final.

Tim Bolodupak berhadapan dengan Tim UI dan Tim Tri Sakti di Semi Final. Tim STAN kejar mengejar nilai dengan Tim UI. Hingga disaat-saat terakhir Tim STAN ketinggalan angka dengan Tim UI. Kekesalan sempat menghinggapi kami karena berbagai masalah materi. Kami merasa terdholimi. Namun hingga detik itu, aku, kami masih yakin wa’dallahi haqqo. Kami yakin tidak akan menjadi nomor dua. Karena Allah menciptakan kami sebagai khairu ummah. Benar. wa’dallahi haqqo. Di moment terakhir, tim UI menjawab pertanyaan…dan…salah. Sehingga Tim Bolodupak pun melenggang ke Final. Masya Allah. Sejurus kemudian meluncur SMS balasan dari Aceh, istriku tercinta, turut memberikan motivasi dan doa. antum khairu ummah, ukhrijat linnaas.

Tak lama kemudian, manajer kami, Hendra Destiawan, muncul dengan berbunga-bunga. Tim STAN dua-duanya lolos ke Final. Alhamdulillah…aku begitu bahagia. Namun kami sadar, kebahagiaan itu tak boleh melenakan kami. Apalagi pengalaman sempat terdholimi. Kami harus mempersiapkan strategi.

Babak Final merupakan pertempuran tiga tim. Tim STAN A (Tim Bolodupak), Tim Untar, dan Tim STAN B. Ketika MC memandu waktu berdoa, aku, kami masih tetap berpegang teguh. kuntum khairu ummah. Babak Final rupanya menjadi ajang pertempuran sengit bagi kedua Tim STAN. Hingga Tim STAN B terus unggul sedari Babak pertama berakhir. Namun, benar, wa’dallahi haqqo. Pada moment menentukan, Apri menjawab pertanyaan bernilai 300. Menjawab dengan runtutan perhitungan, namun belum ketemu berapa angka pastinya. Refleks tak bisa dihentikan, salah satu tangan meraih kalkulator, tangan yang lain memencet-mencet tombolnya, lantas mulut bertanya, “berapa bulan Pri?”. sepersekian detik kemudian, “lima”. dua jari bergerak begitu cepat memencet tombol angka “5″ dan “exe”. “10 juta, Pri”. Dan nilai Tim Bolodupak pun menjadi paling tinggi. wa’dallahi haqqo. kuntum khairu ummah.

Pengumuman pemenang lomba menunjukkan Tim STAN A, Tim STAN B, dan Tim Untar menjadi juara 1, 2, dan 3 secara berurutan.

Untar - STAN B - STAN A

Untar - STAN B - STAN A

dan inilah formasi Tim STAN A…alias…Tim Bolodupak

Apri - Haris - Wipy

Apri - Haris - Wipy

Terima kasih dan selamat juga atas kerjasama dan perjuangan Tim STAN B.

Puput - Wayan - Henderi

Puput - Wayan - Henderi

Terima kasih juga buat Manajer kami…Hendra Destiawan.

Hendra Destiawan

Hendra Destiawan

Ditulis dalam Kuliah, Uncategorized | Bertanda: , , | 2 Komentar »

Saatnya Indonesia bayar hutang dukungan ke Palestina

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 8, 2009

File sejarah ini saia dapatkan dri milist STAPALA. Bang Difai yang meng-up loadnya. dan saia pikir, sejarah ini sangat penting untuk kita ketahui bersama.

*****

Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?

Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.

Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.

Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:

“.., pada 6 September 1944 [sic!], Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut- turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..”

Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

Dukungan Mengalir Setelah Itu

Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur- Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.

Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih – tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:

“Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita..(Ada bukti foto bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti Palestina, dan pemimpin Mesir supaya kita kenal wajah wajah dari tokoh pembela Indonesia ini)

Statement Tokoh dalam buku ini:

Dr. Moh. Hatta

“Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.”

A.H. Nasution

“Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ‘45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

“Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

*****

Allahu Akbar…!!!

Ditulis dalam Kemanusiaan, Kenegaraan, Uncategorized | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »

Infaq Untuk Palestina

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 31, 2008

Demi saudara kita di Palestina, mari kita infaqkan untuk perjuangan

Bebaskan Palestina
“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku Tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, niscaya Allah Mengampuni dosa-dosamu dan Memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung”.

QS. Ash-Shaff : 10-12

Ditulis dalam Kemanusiaan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 2 Komentar »

Khutbah Idul Adha 1429H di Majid Baiturrahman, Banda Aceh

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 28, 2008

IBADAH HAJI SIMBOL KEMENANGAN ORANG MUKMIN[i]

Prof. DR. TGK. H. Nazir Azis, SE, MBA[ii]

Puji dan syukur kita persembahkan ke hadhirat Allah Swt yang telah memberikan kepada kita berupa nikmat Islam, memuliakan kita dengan seruan haji, menjalankan segala syiarnya yang agung sehingga menjadikan kita terpilih menjadi ummat terbaik untuk manusia. Salawat dan salam marilah kita sanjungkan ke pangkuan junjungan ‘alam Nabi Besar Muhammad Saw, keluarga dan sahabatnya sekalian yang telah berkorban demi perjuangan Rasulullah Saw dalam memperbaiki akhlak manusia dan memerangi taghut.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin Kaum Muslimin Sidang Jamaah Idhul Adha yang Dirahmati Allah SWT

Di pagi yang berbahagia ini, ummat Islam di seluruh pelosok dunia sedang merayakan dan mengagungkan asma Allah Swt. Mereka berduyun-duyun menuju masjid-masjid, surau-surau, ataupun pergi ke tempat-tempat ibadah dengan satu tujuan yaitu mengucakan talbiyah, menyebut asma Allah, mengabdikan diri kepada-Nya, membesarkan Allah sebagai Pencipta, Pelindung, Penyelamat dunia dan akhirat.

Dalam tradisi Islam, hari raya haji disebut juga dengan hari raya qurban. Disebut hari raya qurban, ini tidak terlepas dari sejarah awal dalam sebuah peristiwa besar yang terjadi pada diri Nabi Ibrahim as ketika diperintahkan Allah untuk mengurbankan puteranya Nabi Ismail as. Pada masa Islam, peristiwa ini menjadi bahagian penting untuk diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan kaum muslimin melalui tradisi kurban.

Hakikat dari ibadah haji sesungguhnya pengabdian diri hamba yang direalisasikan dalam bentuk kegiatan penuh dengan simbol-simbol yang sangat protokoler. Tapi, kedalaman maknanya itu juga tergantung pada pribadi-pribdi orang mukmin itu sendiri. Kita akan menangkap makna-makna yang terkandung dalam ibadah haji. Prosesi haji dimulai dari miqat dengan menanggalkan pakaian berjahit dan berganti dengan pakaian ihram. Maka sejak itu pula seorang mukmin harus menanggalkan pakaian kemewahan, simbol-simbol duniawi, pangkat dan jabatan berganti dengan pakaian ketaqwaan berupa kesabaran, ketabahan, keikhlasan, tawadhuk, tunduk, patuh dengan menafikan sifat-sifat sombong dan arogan.

Selesai miqat dan berpakaian ihram, lalu menuju ke Mekkah untuk melakukan tawaf yang dimulai dari garis lurus dengan hajar aswad. Saat akan tawaf kita mengangkat tangan sambil berucap “Allahu Akbar”. Mengangkat tangan sebagai simbol kita berjabat tangan dengan Allah, yang mengisyaratkan bahwa kita berjanji akan mematuhi apa yang telah diperintahkan dan digariskan oleh Allah menyangkut aturan-aturan dalam hidup ini. Ini seperti halnya kita berjabat tangan setelah selesai dari penandatanganan kesepahaman (MoU) dengan pihak lain, yang juga mengisyaratkan bahwa kedua belah pihak akan berjanji dengan sepenuh hati melaksanakan apa yang termuat dalam perjanjian itu. Tapi, mengapa orang-orang yang telah berikrar itu, masih saja melanggar janjinya. Itu berarti ia belum bertawaf.

Ketika tawaf seseorang melingkari Ka’bah dari empat arah sebanyak tujuh kali. Ini bermakna bahwa kaum muslimin dan muslimat dalam mendekati Tuhannya bisa dilakukan dari berbagai arah. Tetapi tetap tidak boleh mengi’tiqadkan/menganggap bahwa Tuhan itu ada di sana. Karena anggapan itu dapat mengancam aqidah seseorang membawa kepada syirik; Allah dalam keyakinan orang-orang muslim tidak mengambil tempat dan bentuk seperti yang terlintas dalam pikiran manusia.

Hadirin yang Dimuliakan Allah SWT

Secara lebih luas tawaf melingkari Ka’bah bersimbolkan hidup dan kehidupan seseorang mukmin tidak boleh keluar dari jalur yang telah ditentukan oleh syariat, kemanapun ia berputar menjalani hidup dan kehidupan ini. Kehidupan itu sendiri adalah silih berganti, ada yang baru hadir dan ada yang berada di tengah perjalanan serta ada pula yang tinggal di ujung kehidupan. Walaupun demikian, yang nampak bagi kita adalah bahwa mereka berada dalam suatu arena yang sama, yakni dalam lingkaran Ka’bah. Bertawaf mengelilingi Ka’bah dari keberagaman suku bangsa, perbedaan warna kulit dengan suasana berdesak-desakan, dapat memberi arti bahwa untuk menggapai tujuan hidup haruslah berani bersaing dengan bangsa-bangsa dan suku-suku. Meskipun harus menjalani hidup dengan persaingan, tapi, tetap saja tidak dibenarkan bermain di luar jalur, apalagi sampai merampas hak-hak orang lain. Tida boleh sedikitpun menyakiti dan mendhalimi orang lain. Jalan hidup ini sesuai aturan main yang telah digariskan Allah Swt. Jangan melanggar garis “hijir Ismail” saat melaksanakan tawaf.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT

Selesai melaksanakan tawaf dilanjutkan dengan sa’i. Sa’i dalam konteks ibadah haji berarti lari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah. Dalam konteks yang lebih luas, sa’i dapat berarti berusaha mencari kehidupan baru. Prosesi ini mengenang kembali usaha keras yang dilakukan ibunda Ismail as, Siti Hajar, saat mencari air untuk kelangsungan hidup puteranya. Dalam menjalani hidup harus dimulai dengan jalan yang bersih dan insya Allah akan memperoleh keberkahan. Ketika Siti Hajar mengakhiri sa’i di bukit Marwah berarti menggambarkan kesejahteraan dan kedamaian. Makna ini dapat dipahami bahwa seorang muslim dalam berusaha haruslah dengan cara-cara yang bersih, halal, tidak menyakiti orang lain, dan jika pun ada persaingan maka persaingan dilakukan dengan sehat, dan jujur sehingga hasil usaha yang diperoleh akan berdampak untuk kesejahteraan dan kedamaian.

Ibadah sa’i juga memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan muslim dalam mencari nafkah, di samping titah Allah untuk menunjukkan kepada ummat muslim bahwa alam semesta ini berjalan sesuai dengan hukum alam (sunnatullah). Ini bermakna meskipun Siti Hajar sudah tahu dan paham benar situasi dan kondisi alam di sekelilingnya, namun ikhtiar sebagai manusiawi tetap ia lakukan sa’I agar memperoleh seteguk air. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak pernah putus asa; terus berjuang sampai menggapai tujuan.

Kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail as, telah mengajarkan ketauhidan kepada kita bahwa ada karunia Allah yang diberikan melalui sebab musabab, dan ada pula yang tidak. Dalam sejarah, diriwayatkan bahwa di tempat yang gersang lagi tandus Nabi Ibrahim as meninggalkan Siti Hajar dan Ismail yang sedang bayi. Ketika Ibrahim hendak bergegas pergi meninggalkan mereka berdua, Hajar bertanya, apakah kami akan engkau ditinggalkan pergi di lembah ini? Hatinya di relung sedih karena harus meninggalkan keluarganya di lembah yag tandus. Nabi Ibrahim as tidak dapat menjawab atas pertanyaan isterinya itu. Lalu Hajar mengulang bertanya, “Kepada siapa engkau titipkan dan tinggalkan kami di lembah ini? Adakah Allah telah memerintahkanmu?”. Ibrahim masih saja diam seribu bahasa, dia belum dapat memberikan jawaban, namun yang terlihat seakan sinar matanya redup dan berkaca-kaca, sesekali ia menatap ke langit. Setelah ia mendapatkan hidayah, barulah ia menjawab pertanyaan isterinya dengan anggukan kepala sebagai isyarat membenarkan bahwa apa yang dilakukan itu adalah perintah Allah Swt. Isyarat itu telah melegakan hati Siti Hajar dan ia menyambutnya dengan penuh keimanan dan ketabahan. Karena Siti Hajar yakin Allah Yang Maha Kuasa lagi Pemurah pasti tidak akan mengabaikan dan meninggalkannya seorang diri.

Gambaran hidup bermitra sedemikian kuat dan besar pengaruhnya terhadap tugas-tugas suami, dengan catatan keimanan tetap harus kokoh agar jangan ada pihak-pihak yang nampaknya membantu, tapi pada hakikatnya menjerumuskan. Inilah hikmah sa’I yang telah disyariatkan kepada kita dalam rangkaian menyelesaikan ritus-ritus ibadah haji. Ada saat-saat harus melakukan usaha maksimal dan ada pula saat-saat kita harus melakukan kepasrahan secara total kepada Allah Swt. Dengan demikian Islam tidak pernah menawarkan jalan pintas, jalan cepat untuk sukses tanpa usaha, apalagi dengan jalan merampas hak-hak orang lain agar kelihatan “wah” di mata manusia, tetapit erburuk di mata Allah Swt. Islam menawarkan cara-cara alamiah, agar mudah ditiru dan bisa dilakukan oleh siapapun.

Allah Swt melalu ritus ini ingin menyempurnakan tahap demi tahap yang harus dilakukan manusia ketika menginginkan sesuatu kesuksesan, sekaligus untuk memberikan pemahaman, pelajaran dan hikmah kepada kita tentang masalah yang alami, yakni apabila kita sudah menempuh berbagai ikhtiar dan ternyata menemui jalan buntu, maka seorang mukmin dilarang untuk berpatah semangat apalagi putus asa karena Allah selalu memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya. Prinsip ini dijelaskan dalam Al Quran dalam surah An-Naml, “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang ang dalam kesulitan apabila ia ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya”. (QS. An-Naml (27):62)

Perhatian dewasa ini, gaya hidup putus asa dianggap bentuk perarian yang mujarrabah, lewat pergi ke tempat-tempat unkar, narkoba, heroin, gantung diri, dan lain-lain ikut telah mewarnai kehiduan masyarakat. Tidakkah kita renungkan dan belajar dari perilaku Siti Hajar bersama anaknya Ismail ketika susahnya mendapat seteguk air? Sedangkan kita hidup ditengah alam dengan lahan yang subur, di tengah-tengah keramaian dan di era transportasi yang tinggal pilih. Apa yang membuat kita harus berputus asa? Jawabannya adalah kita ingin dapat cepat dan ingin lewat jalan pintas. Kita sangat ambisius menguasai alam dengan cara yang salah, lihat saja hutan sudah gundul, penebangan tanpa batas, sehingga menyebabkan banjir, tanah longsor dan berbagai kejadian yang serupa terjadi di mana-mana. Kenapa kita serakah menguasai seluruh sumber kehidupan tanpa peduli yang halal dan haram. Jika demikian, dimana letak makna sa’I dan makna tawaf yang telah diajarkan kepada kita dalam ibadah haji itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT

Wukuf di Arafah merupakan ritual haji yang sarat nilai dan tak kalah pentingnya bagi manusia. Arafah secara bahasa berasal dari kata ‘arafa yang berarti mengenali atau mengetahui. Arafah dapat dipahami sebagaimana mengenal pribadi masing-masing mengenai dari mana kita berasal, dan hendak kemana kita akan kembali. Pengenalan terhadap jati diri manusia sangat penting agar perjalanan hidup yang tidak gratis melainkan harus dengan pertanggungjawaban ini dapat terkontrol.

Tanpa pengenalan atas jati diri, seseorang sering kali terjerumus ke dalam sifat-sifat tercela seperti sombong, egois, dan lain-lain. Ketika sifat-sifat itu sirna dari diri manusia maka ia akan menemukan kembali jati dirinya sehingga dengan mudah memahami siapakah Tuhannya. Al Aqqad dalam kitabnya “Manusia dalam Al-Quran” mengemukakan bahwa setiap muslim penting sekali mengenali dirinya. Ia menyatakan “Kanali siapa dirimu”. Amanah ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh baginda Rasulullah Saw bahwa barang siapa yang mengenali dirinya pasti ia akan mengenali siapa Tuhannya.

Training untuk mengenali jati diri lewat media wukuf di Padang Arafah itu harus mampu mengantarkan kita kepada perubahan sikap setiap saat mengenang makna hidup secara hakiki. Seringkali kita sulit mengajak hati untuk berdialog dengan diri, karena tertutupi oleh hawa nafsu dan kemauan hawa nafsu syatainiyah. Akan tetapi semua orang saat wukuf di Arafah kebekuan hawa nafsu iitu bisa mencair dengan karena rahmat Allah SWT. Itu sebabnya kegiatan ritual wukuf di Arafah menjadi rukun haji yang pelaksanaannya tidak bisa diwakilahkan kepada orang lain walaupun seseorang harus ditandu karena sakit atau alasan lainnya. Kecuali itu waktu untuk pelaksanaan wukuf sangat khsus dan terbatas. Artinya tidak bisa orang melaksanakan di sembarang waktu. Ketentuannya sangat jelas kapan ia harus berada disana dan kapan pula harus meninggalkan Arafah. Wukuf dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, mulai ba’da zawal (setelah matahari tergelincir) hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Demikian pentingnya wukuf sampai-sampai Rasul SAW bersabda, “Alhajju Arafah” artinya haji itu adalah arafah.

Dilihat secara historis, wukuf di Padang Arafah merupakan renungan kembali tentang beberapa peristiwa besar yang pernah terjadi antara lain:

1. Bertempat di Jabal Rahmah, Padang Arafah, pertemuan kembai dua manusia pertama yaitu Nabi Adam as dan Siti Hawa yang pernah terpisah dalam waktu yang sangat lama setelah Allah menurunkan mereka berdua dari surga;

2. Mengenang kembali peristiwa Nabi Ibrahim as ketika mendapatkan perintah dari Allah untuk mengorbankan puteranya Ismail as. Saat itu Ismail baru tumbuh remaja dan tumpuan harapan, bagaimana perasaan kedua orang tuanya di satu pihak dan bagaimana harus mentaato perintah Allah di pihak lainnya. Inilah ujian keimanan yang harus dialami oleh Nabi Ibrahim as di Padang Arafah. Suatu ujian yang membuktikan bahwa Allah SWT baginya merupakan satu-satunya Dzat yang telah dipilih dan paling dicintai melebihi yang lain, tidak hanya dengan kata-kata melainkan juga telah dibuktikan dengan perbuatan. Dalam proses akan dilaksanakan perintah itu, Nabi Ibrahim as tidak ingin membuat kejutan psikologis kepada puteranya, melainkan ia mengajak bicara dengan meminta pendapat dan pandangannya tentang keputusan yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Manajemen pengambilan keputusan lewat dialogis ini diabadikan Allah di dalam Al-Quran surah As-Shaffat, 102, “Maka tatkla anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia menjawab : Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat: 102)

3. Mengenang perjalanan Rasulullah SAW ketika saat-saat akhir menerima risalahnya ditandai dengan turunnya wahyu terakhir Surat Al Maidah ayat 3 sebagai isyarat penyempurnaan risalah Islam;

4. Ibadah ritual Arafah adalah gladi resik peristiwa akbar bagi ummat manusia di Padang Mahsyar; hari kebangkitan kembali manusia dari kubur. Itulah sebabnya ritus Arafah begitu penting agar kita dapat mempersiapkan bekal untuk menjalani hidup di akhirat yang sifatnya kekal abadi.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Perenungan yang menjadi esensi ritus wukuf itu diharapkan dapat mengantar manusia menjalani sisa-sisa hidup yang lebih baik dan bermakna. Siapapun akan menyadari bahwa hidup ini sangat singkat, terbatas dan harus secara produktif diisi dengan hal yang baik, yang berkaitan dengan hablumminallah dan hablumminannas. Sesungguhnya apa yang ingin disimbolkan dalam wukuf di Arafah ini adalah peringatan terhadap awal dan akhir dari kehidupan ini.

Peringatan kehidupan awal yang ditandai pertemuan antara Nabi Adam as dan Siti Hawa, sementara kehidupan akhir ditandai dengan wahyu terakhir serta haji pamitan dimana Rasulullah SAW pamit dengan kaum muslimin dan para pengikutnya. Ritual ini sekaligus mengajak ummat manusia untuk merasakan suatu gladi resik, bagaimana seluruh manusia dihamparkan dalam kehidupan setelah mati. Semua manusia yang berwukuf memakai pakaian putih tanpa jahitan, seakan0akan situasi ini mengantarkan kita ke dalam kebangkitan kembali. Oleh karena itu, ritus wukuf adalah proses penyadaran diri tentang akan adanya kehidupan sesudah mati dan kehidupan itu harus berbekal ketaqwaan untuk keabadian.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT

Selesai wukuf di Arafah melanjutkan perjalanan ke Mina dengan terlebih dahulu mabit (singgah) di Musdhalifah utnuk memulihkan kembali kekuatan fisik sambil memungut batu-batu kecil sebagai persiapan melempar jamarah. Lempar jamarah setelah melaksanakan pertobatan di Arafah merupakan manifestasi untuk menyingkirkan syeitan-syeitan penggoda. Lemparan syeitan berulang kali dilakukan, ini menandakan syeitan menjadi musuh manusia di setiap masa. Sikap ini mengingatkan kita untuk kembali merenungkan peristiwa Nabi Ibrahim as dan Ismail as, saat melempar syeitan yang mencoba menggoda mereka berdua agar ingkar terhadap perintah Allah SWT. Sejak hari itu Nabi Ibrahim as telah meninggalkan pesan kepada puteranya dan orang-orang yang hidup setelah mereka bahwa sampai kapanpun syeitan-syeitan itu adalah musuh nyata bagi ummat manusia yang selalu harus diingat, dimusuhi dan diperangi.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT

Di akhir khutbah ini, khatib ingin mengajak kita semua untuk merenungi kembali peristiwa nabiyullah Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail as. Ketika nilai-nilai sejarah itu dapat diambil hikmah dan dimaknai dalam kehidupan masyarakat kita saat ini maka pastilah akan menemukan kedamaian dan ketenteraman diri sehingga akan memberi manfaat dan pengaruh yang besar dalam mengisi pembangunan bangsa.


[i] Disampaikan pada Khutbah Idul Adha pada 10 Dzulhijjah 1429H (8 Desember 2008) di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam

[ii] Direktur Program Magister Manajemen Universitas Syiah Kuala dan Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kualan, Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , , | 12 Komentar »

Memoar Aceh (3)

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 26, 2008


Hari ketiga di Aceh. Hari di saat istriku harus sendiri tanpa kehadiranku disisinya esok pagi. Hari ketika aku harus sendiri tanpa ada bidadari disisi. Siang itu aku akan kembali ke Jakarta. I want to be by your side in everything that you do-Firehouse.

Setelah pamitan ke pegawai di kantor istriku, kami menuju Baiturrahman. Bus menuju bandara parker di sana. Sambil memanfaatkan waktu sebelum bus berangkat, kami kembali mengambil gambar di depan masjid indah itu.

di depan Masjid Baiturrahman

di depan Masjid Baiturrahman

Perjalanan bus Damri ke bandara itu hanya berisi tiga orang. Sopir, aku, dan istriku. Tak lepas tangan bunga cintaku itu kugenggam. When I look into your eyes, I can see how much I love you and make me realize-Firehouse.

Istriku…tabahkan hatimu. Percayalah aku pun selalu rindu. Yakinlah…kita akan segera bersama lagi. Biarlah Rabb yang menyaksikan bulir-bulir air mata kita menetes mengemis kemurahan-Nya. Memohon dengan penuh harap agar kita selalu bersama dalam kebaikan. Seperti doa yang kita ucapkan sehabis shalat sunnah setelah akad nikah. Wahai Alah, satukanlah kami bila hendak Engkau persatukan dalam kebaikan; dan pisahkanlah kami bila hendak Engkau pisahkan dalam kebaikan. Aku yakin istriku…Allah tahu bahwa kita memilih yang pertama. Maka yakinlah perpisahan ini adalah kebaikan yang Allah berikan kepada kita. Hingga kebaikan pula yang akan menyatukan kita dalam kebersamaan. Kebersamaan dalam meniti perjuangan yang tak lekang oleh kecongkakan zaman. Anggaplah perpisahan ini hanyalah sebuah latihan sebagai ghuraba, orang-orang yang berada dalam keterasingan, yang sedang berjuang mengadakan perbaikan di tengah kerusakan manusia.

Rembulan dilangit hatiku. Menyalalah engkau selalu. Temani kemana mesti ku pergi. Mencari tempat kita tuju. (Seismic)

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »

Lafaz Ijab Qabul

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008

Ijab Qabul dalam akad nikah itu kata-kata kesepakatan antara kedua pihak yang bersepakat (wali dan mempelai laki-laki). Ijab adalah kalimat yang berisi ajakan dan keinginan untuk menjalin sebuah ikatan pernikahan (biasanya diucapkan wali). Qabul merupakan ungkapan kerelaan dan persetujuan atas ajakan itu (biasanya diucapkan mempelai laki-laki).

Nah yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana sih lafaz alias redaksional ijab dan qabul dalam pernikahanku nanti. Kalo di Fiqih Sunnah (karya Sayyid Sabiq) sih yang penting ijab dan qabul itu menggambarkan kesepakatan untuk menikah (dengan bahasa yang dipahami oleh kedua pihak yang melakukan akad nikah), serta dengan bahasa yang jelas, dengan tujuan untuj menghindari kesalahpahaman.

Hmm…kalimat sakral yang aku tunggu “Wirawan Purwa Yuwana bin Imam Supandi, anda saya nikahkan dengan saudara saya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin Kitab Tafsir Fidzilalil Qur’an, Kitab Fiqih Sunnah dan sebuah cincin, tunai”. Kalo sudah kalimat ijab diucapkan begitu, gimana coba jawabnya?

“Saya terima nikahnya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin yang telah disebutkan di atas tunai”. Ato mau pakai bahasa Arab? “Qabiltu nikaha watzwijaha linasfi bi mahril madzkur haalan” (versi Ayat-Ayat Cinta ditambah ‘ala manhaji kitabillah wa sunnati rasulillah). Ato pakai bahasa Inggris? I approve the marriage with Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat by bide price that have been mentioned at that very moment. Apakah harus seperti itu?

Gimana kalo jawabnya singkat, padat dan jelas. Misalnya “Tunai!”, “Siap!”, “Setuju!”, “Baiklah!”, “Na’am”, “Oke!”, “Yes!”, ato “Absolutely!”. Gimana tuh? Ada yang bisa ngasih pendapat ga?

Ah namanya juga masih belajar. Dan masih pertama kali lagi….

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 7 Komentar »