Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘empati’

risih

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 13, 2009

hampir sepekan saia kembali menjadi roker (rombongan kereta.red). dan kemarin sore (eh…malam ding) adalah titik waktu cerita yang akan tulis disini.

saia pulang malam lagi kemarin. tapi tenang saja, Bojong Express masih setia pada jadualnya. saia turun di Stasiun Depok Lama. lantas pas banget setelah turun, di depan saia berjalan seorang perempuan. iya perempuan deh kaya’nya (lho kok?!). dandanan bajunya full press body (kaya’ mobil colt ajah). bajunya berawal dari atas dan berhenti tidak jauh dari sepuluh senti di atas lututnya. ampun dah. wah…emang waktunya menundukkan pandangan nih. malu lah…secara dulu jadi panitia Dinamika sering maksa mahasiswa baru buat nunduk pas mahasiswi baru lewat.

Jger…! samber bledek…sumpeh deh nunduk. tapi pas nunduk malah ngeliat kakinya yg setengah ngambang mirip kuntilanak. eh ga ngambang2 amat sih…cuma jinjit aja. karena pake high hill (bukan ding…high heel kok) setingga kurang lebih 10 senti. ih…tinggi amat sih. tau ah, namanya juga kira2.

waduh…waduh…berhenti aja deh. karena bingung nyari kegiatan akhirnya tanya penjual perkakas. “Bang harga palu ini berapa ya?”. “enam ribu mas”. trus ngeliat-liat tu palu dengan seksama. “hm…semua palu harganya sama ya bang?”. “enggak mas, yang sebelah sana tuh 20 ribu”. trus diliat lagi palu yg 20 ribu. masih dengan cara saksama tapi tidak dalam tempo yg sesingkat2nya.

Eh…udah jauh tuh perempuan. hm…lumayan bisa melihat jalan di depan tanpa ada gangguan bukit tinggi (high hill? bukan! high heel tau!). jyah…ganti sekarang. rupanya pedagang2 di sepanjang rel stasiun itu juga memperhatikan tu perempuan. biyuh…biyuh…suit-suitan ra karu-karuan. ada juga yg bisikin teman seperjuangan di sampingnya sambil nunjuk2 ke arah tu perempuan. ampuunn….

haduh…kok ga risih ya tu perempuan? saia aja risih.

segera saia keluar dari stasiun tanpa mempedulikan perempuan yg berhenti mau jajan buah2an di tengah suit2an orang2 di dalam stasiun. tak lama kemudian datang tukang ojek saia. weit ngawur…itu istri saia yang setia menjemput saia di stasiun Depok Lama. di sepanjang jalan Kota Kembang menuju rumah, saia menceritakan kisah perempuan itu.

tanggapan istri saia.

“enakan jadi akhwat berjilbab yah”.

“kenapa emang? ga disuitin gitu yak?”.

“ah…paling banter kalo melintas di depan preman-preman gitu, godainnya pake salam. assalamu’alaykum bu haji. gitu!”.

“trus di jawab ga?”.

“ya dijawab aja. wa’alaykumussalam. nah…ntar tuh preman bilang ‘alhamdulillah…salam gue dijawab oeiy!’. gitu!”

“trus?”

“ya…kan malah memancing tu preman untuk mengingat Alloh”

duuh…apa perempuan itu ga risih ya? “tingkat kerisihan orang kan beda2 bi” kata istri saia. ya kalo ada penampakan seperti itu benar2 balik lagi ke yang melihat nih. sumpeh deh…ini dari sisi laki2, terutama pendapat saia. berusaha menundukkan pandangan. iya kalo laki2nya pas bener. kalo pas dapet laki2 yg fujur ancur plus pelaku kriminal, trus terjadi pemerkosaan, apa masih mau nyalahin polisi dengan alasan ga bisa menjaga keamanan? eh…ga nyambung sama polisi ya? ya begitulah intinya. bener kata bang napi deh. kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. dan kesempatan itu berupa perempuan yg dandan menor mobolong2 yang menjadikan rel kereta api sebagai cat walk.

mabok…mabok…!!

diposting juga di http://wipyyuwana.multiply.com/journal/item/79

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , | 8 Komentar »

We will not go down in Gaza tonight

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 15, 2009

This evening I still focus my attention in the sadistic Israel through Palestine. More than thousand people dead, or ‘syahid’ I said. And my heart get beat with sadness after find a Song that composed and performed by Michael Heart. This song dedicated to Palestine people. But I think it more appropriate to slap countries around Palestine, United Nation, and Israel itself. Here the lyric:

A blinding flash of white light

Lit up the sky over Gaza tonight

People running for cover

Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes

With ravaging fiery flames

And nothing remains

Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down

In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

Women and children alike

Murdered and massacred night after night

While the so-called leaders of countries afar

Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain

And the bombs fell down like acid rain

But through the tears and the blood and the pain

You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down

In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

Yes…Palestine and Moslem spirits and powers will never die even though our last breath has to be sacrificed through Intifadha. Allahu Akbar…!!!

Ditulis dalam Kemanusiaan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 8 Komentar »

Saatnya Indonesia bayar hutang dukungan ke Palestina

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 8, 2009

File sejarah ini saia dapatkan dri milist STAPALA. Bang Difai yang meng-up loadnya. dan saia pikir, sejarah ini sangat penting untuk kita ketahui bersama.

*****

Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?

Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.

Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.

Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:

“.., pada 6 September 1944 [sic!], Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut- turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..”

Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

Dukungan Mengalir Setelah Itu

Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur- Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.

Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih – tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:

“Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita..(Ada bukti foto bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti Palestina, dan pemimpin Mesir supaya kita kenal wajah wajah dari tokoh pembela Indonesia ini)

Statement Tokoh dalam buku ini:

Dr. Moh. Hatta

“Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.”

A.H. Nasution

“Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ‘45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

“Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

*****

Allahu Akbar…!!!

Ditulis dalam Kemanusiaan, Kenegaraan, Uncategorized | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »

Infaq Untuk Palestina

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 31, 2008

Demi saudara kita di Palestina, mari kita infaqkan untuk perjuangan

Bebaskan Palestina
“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku Tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, niscaya Allah Mengampuni dosa-dosamu dan Memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung”.

QS. Ash-Shaff : 10-12

Ditulis dalam Kemanusiaan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 2 Komentar »

Dari Cinta hingga Munashoroh Palestina

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 30, 2008

Suatu saat ketika saia baru turun dari Gunung Kencana, bukan dalam rangka “ngasah kasekten” ato memburu si butak dari gua hantu, tapi hanya ingin mendekatkan diri dan belajar langsung dari alam yang Allah ciptakan, tiba-tiba ponselku bergetar hebat. Saking hebatnya dapat meluluh lantakkan sendi-sendi cinta saia. Lha iya…wong yang sms itu pacar saia. Iya…pacar tercinta yang sekarang mendampingi hidup saia dalam suka dan duka. Maklum di atas gunung tidak ada sinyal. Jadinya pas turun trus ketiban sinyal…diberondong SMS bertubi-tubi. Mayoritas dari istri saia. Itu dia yang membuat saia luluh lantak.
Salah satu SMSnya begini “Terbersit hari ini, ketika mas lagi naik gunung, kapan kita bisa naik gunung bersama? Cintamu ini jadi pengen coba :) . kapan kita bisa DS bersama, munasharah di HI, Monas, Al-Azhar…pasti seru!!!”
Terus terang saat itu saia speechless. Seolah ingin mempercepat langkah turun gunung. tapi apa daya, istri saia masih di Aceh. Cepat atau lambat saia turun gunung tetap aja ga ngaruh.

Lantas malam, ba’da maghrib ini, dapat SMS dari mas’ul
“Munashoroh Palestina untuk kader, simpatisan, dan warga Jabodetabek, Jumat 2 Januari 2009. Kumpul di Bundaran HI pukul 13.00. Atribut Pendekar Kebenaran Sejati dan Bendera Merah Putih. Infaq “one man one dollar”

Tanpa pikir panjang, saia langsung mem-forward SMS itu ke istri saia. Beberapa detik kemudian ponsel saia teriak ‘Sukarno berkata…aku bukan budak Moskow, bukan pula budak Amerika, aku adalah budak bagi rakyatku sendiri…Bangkit Pemimpin Muda…Untuk Indonesia Sejahtera’. Ada SMS masuk bergambar perempuan anggun dan cantik sekali menyusuri Pantai Loknga, Aceh.
“Ikuuuutt..! Anis mau ikuuutt..!!”

Istri saia pengen banget ikut munashoroh. Tadi sore dia telepon, cintaku itu membaca eramuslim.com dan alikhwan.net sambil menangis tersedu. Tak rela Palestina dibombardir Israel.

Teruntuk Cintaku. Kamu masih di Banda Aceh, Cinta. Kamu masih harus menunggu SK mutasi itu terbit hingga kita bisa tinggal bersama. Kalo sudah di Jakarta, kamu mau ikut munashoroh, ayo aku ada di sampingmu. Kamu pengen ikut dzikir nasional, ayo aku temani. Sekarang kamu masih harus bersabar dulu ya sayang.

Tulisan ini pertama kali diketik diatas keyboar sambil melototin monitor yang nampilin multiplyku.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , | 3 Komentar »