Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘cinta’

Cinta Karena Apa?

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Maret 22, 2009

dalam sebuah talkshow, seorang presenter bertanya kepada sang suami
presenter: “anda dulu mengharap menikah dengan istri anda sekarang ga?”
sang suami: “hm…dulu iya”
presenter: “pernah ada usaha mengungkapkan cinta?”
sang suami: “pernah”
presenter: “diterima?”
sang suami: “ditolak”
presenter: “kenapa?”
sang suami: “katanya ada cinta tertinggi dalam hidupnya”
presenter: “cinta kepada siapa?”
sang suami: “cinta kepada Allah”
presenter: “anda kecewa?”
sang suami: “enggak”
presenter: “anda putus asa?
sang suami: “enggak”
presenter: “apa yang anda rasakan”
sang suami: “aku makin cinta”
presenter: “kaya’ lagu aja”
sang suami: “he…he…he…”
presenter: “cinta karena apa?”
sang istri: “cinta karena ada cinta yang melebihi cinta saya”

tak lama kemudian, si presenter memanggil sang istri
presenter: “anda cinta dengan suami anda?”
sang istri: “iya cinta”
presenter: “dulu sebelum jadi suami anda, anda tahu kalau dia mencintai anda?”
sang istri: “iya”
presenter: “saat itu anda juga cinta?”
sang istri: “enggak”
presenter: “benci?”
sang istri: “iya”
presenter: “sekarang menyesal ga menikahi dia?”
sang istri: “enggak”
presenter: “lantas apa yang menyebabkan anda menerima pinangannya?”
sang istri: “emm…”
presenter: “anda kasihan lantas menerima dia?”
sang istri: “enggak”
presenter: “karena tak ada pilihan lain?”
sang istri: “enggak juga”
presenter: “lantas cinta karena apa?”
sang istri: “karena cinta-Nya datang tepat pada waktunya”

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | 4 Komentar »

Dua Strip Merah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 18, 2009

Kemarin saia berangkat shalat subuh ke musholla Baiturrahman, musholla di RT saia yg baru saja berdiri & alhamdulillah kalau sekedar shalat berjamaah masih bisa diguakan, diselimuti tanda tanya. Pasalnya setelah saia wudhu dan bersiap ke musholla, istri saia masuk kamar mandi lamaaa bangget. dia bilang sih ga apa-apa.

Setelah selesai menikmati suasana subuh di musholla, saia segera kembali ke rumah. kreeeeeeeetttt…pintu saia buka dan tiba2 saya terkejut ada makhluk putih2 berdiri didepan saia. Makhluk itu menggerak2kan kepalanya seolah mencari lubang diujung kain putihnya. DOENG…DENG…DONG…muncullah muka istri saia dari mukena yg sedang ia pakai.

Saia masih terbelalak, namun sebaliknya saia melihat istri saia berseri-seri. ada apa gerangan dirinya? “Mas…mas…let see…I’ll show you something…”, tiba2 tanganku ditariknya. Istriku lantas menunjukkan sebuah batang kecil seperti lidi.

“Lihat, mas”. tanpa kata tanpa tunda, saia pelototi barang sekecil lidi itu. nampak pada batangnya dua strip merah kecil. Alhamdulillah…alhamdulillah…alhamdulillah…istri saia hamil.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah | Bertanda: , , | 8 Komentar »

My best achievement was…

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 29, 2008

Tepat tengah malam tadi istriku sms. “Yang, udah tidur? Semoga Allah member kita kekuatan untuk merangkai hari-hari di tahun ini menjadi lebih bermanfaat, lebih indah, lebih berkah, dll. Met tahun baru sayang…our first new year :)

Aku masih belum tidur saat menerima sms itu. Sejurus ingatanku menembus gelapnya malam menuju 5 Syawal 1429H atau 5 Oktober 2008. Pada saat itulah aku menancapkan tonggak pencapaian tertinggiku. The day when I get my best achievement. Aku telah mendapatkan separuh agamaku. Allah telah menganugerahi aku bidadari terbaik untukku. Allah memberiku pendamping hidup yang menemaniku menggapai ridho-Nya. Anis Dyah Rahmawati. Perempuan tempat aku menumpahkan rasa cinta dan rinduku. Perempuan yang menjadi pelindung pandangan dan kehormatanku.

Pada momen tahun baru 1 Muharram 1430H ini, aku berusaha menghitung-hitung pencapaianku. Dan aku tak bisa berhenti bersyukur, karena telah mendapatkan separuh agama. Selanjutnya aku tinggal bertakwa kepada Allah. Itu pun dibantu dengan seorang bidadari terbaik untukku. Seperti kalimat terakhir yang diucapkan Rasulullah SAW dalam hadits arba’in nomor 25, “Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa? Maka demikian pula apabila ia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala” (HR Muslim).

Istriku…kamu adalah ladang pencapaian ketakwaan kepada Allah. And you’re the best achievement I ever get.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah | Bertanda: , , , , , | 4 Komentar »

Memoar Aceh (2)

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 26, 2008


Pagi sejuk hari kedua di Banda Aceh dihiasi dengan keramahan seorang jama’ah masjid yang memboncengku mencari tempat ibadah Shubuh. Waktu terus berlalu dengan tagan istriku yang lekat dalam genggamanku.

Maman, teman mengadu idealisme di kampus STAN dulu, memanggil. Dikerjain abis aku. Ngopi Ulee Kareng hanya dengan hanya kostum celana kolor dan jaket tidur yang melekat di tubuh. Cuci muka saja belum. Tapi ta apa, banyak juga pelanggan kopi yang hanya sarungan. Begitulah kebiasaan orang Aceh, ngopi. Kopinya mungkin hanya secangkir, tapi bahan pembicaraannya segudang. Mulai dari masalah politik, partai lokal, pemerintahan, olah raga, kemasyarakatan, pendidikan, dan segala hal topik lainnya. Aku, Maman, dan Ujang tak bias berlama-lama di kedai kopi itu. Teman-teman ku itu harus segera ke kantor. Dan aku juga harus silaturahmi ke kantor istriku.

Badan Pusat Statistik, Kanwil Banda Aceh. Di gedung itulah istriku memperjuangkan ilmu dan idealismenya. Cerita-ceritanya tentang perjuangannya itu semakin membuatku cinta. Aku merindukanmu istriku. May be my love will come back some day, only heavens know-Rick Price.

Acara silaturahmi itu berlangsung hingga siang hari. Hingga sore harinya sengaja akan kami habiskan untuk jalan-jalan di Banda Aceh. Tentu ditemani dua teman baik kami, Bang One dan Ely. Kami makan siang dengan menu Ayam Tangkap di sebuah restoran di depan tanah yang sedang dibangun gedung BPK Perwakilan Banda Aceh. Hm…maknyuss rasanya.

Sasaran pertama adalah Kapal Apung di Ulee Lheue. Kapal besar itu adalah pembangkit listrik tenaga diesel yang pada mulanya berada di tengah lautan. Namun tsunami telah menyeretnya hingga ke daratan. Begitu besar dan kokoh. Berdasarkan informasi yang aku dapat, hingga saat ini pembangkit listriknya masih beroperasi.

diatas kapal apung yg terseret ombak ke daratan

diatas kapal apung yg terseret ombak ke daratan

Perjalanan selanjutnya menuju pekuburan masal, masih di Ulee Lheue. Perjalanan ke pekuburan itu menuntut perhatian ekstra. Karena jalan-jalan sedang dibangun sehingga banyak material di sekitarnya. Masih di Ulee Lheuu, kami menuju pelabuhan ferry yang menghubungkan pulau Sumatera dengan Pulau Sabang. Sabang…kota tempat Ely akan bertugas. Dia dimutasi dari Kanwil BPS Banda Aceh. Praktis, ia tidak sekamar lagi dengan istriku. Dialah perempuan yang begitu setia menemani istriku ketika sedih dan senang selama istriku di Banda Aceh. Semoga Ely mendapatkan keberkahan yang berlipat ganda. Trima kasih ya Ely…

Dari Pelabuhan, aku di bawa Bang One ke Masjid Teuku Umar. Masjid yang khas, karena hanya satu di Banda Aceh masjid dengan kubah seperti topi Teuku Umar. Tidak seperti masjid lain yang berkubah bulat. Masjid itu masih sedang direnovasi. Bekas-bekas bencana masih terlihat jelas di area masjid itu. Semoga menjadi masjid yang dimakmurkan oleh masyarakat dan menjadi basis kebangkitan umat.

Sore menjelang. Kini saatnya perjalanan berdua saja. Aku dan istriku. Melihat keindahan Baiturrahman ketika mentari masih bersinar, lantas ke pantai Ujong Batee. Pantai yang gambarnya bersatu dengan puncak Gunung Lawu di undangan pernikahan kami. Hamparan pasir luas itu mementuk ukiran gelomban karena pasirnya tak kuasa menahan hembusan angin. Tapi sang angin tetap tak kuasa menghempaskan bebatuan yang berkumpul kokoh. Semoga jiwa-jiwa kami sekokoh bebatuan itu.

Malam mulai menjelang, dan kami pun segera pulang. Istriku…dengarkan…You are all I need beside me girl; you are all I need to turn my world-White Lion.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , , , | 1 Komentar »

Memoar Aceh (3)

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 26, 2008


Hari ketiga di Aceh. Hari di saat istriku harus sendiri tanpa kehadiranku disisinya esok pagi. Hari ketika aku harus sendiri tanpa ada bidadari disisi. Siang itu aku akan kembali ke Jakarta. I want to be by your side in everything that you do-Firehouse.

Setelah pamitan ke pegawai di kantor istriku, kami menuju Baiturrahman. Bus menuju bandara parker di sana. Sambil memanfaatkan waktu sebelum bus berangkat, kami kembali mengambil gambar di depan masjid indah itu.

di depan Masjid Baiturrahman

di depan Masjid Baiturrahman

Perjalanan bus Damri ke bandara itu hanya berisi tiga orang. Sopir, aku, dan istriku. Tak lepas tangan bunga cintaku itu kugenggam. When I look into your eyes, I can see how much I love you and make me realize-Firehouse.

Istriku…tabahkan hatimu. Percayalah aku pun selalu rindu. Yakinlah…kita akan segera bersama lagi. Biarlah Rabb yang menyaksikan bulir-bulir air mata kita menetes mengemis kemurahan-Nya. Memohon dengan penuh harap agar kita selalu bersama dalam kebaikan. Seperti doa yang kita ucapkan sehabis shalat sunnah setelah akad nikah. Wahai Alah, satukanlah kami bila hendak Engkau persatukan dalam kebaikan; dan pisahkanlah kami bila hendak Engkau pisahkan dalam kebaikan. Aku yakin istriku…Allah tahu bahwa kita memilih yang pertama. Maka yakinlah perpisahan ini adalah kebaikan yang Allah berikan kepada kita. Hingga kebaikan pula yang akan menyatukan kita dalam kebersamaan. Kebersamaan dalam meniti perjuangan yang tak lekang oleh kecongkakan zaman. Anggaplah perpisahan ini hanyalah sebuah latihan sebagai ghuraba, orang-orang yang berada dalam keterasingan, yang sedang berjuang mengadakan perbaikan di tengah kerusakan manusia.

Rembulan dilangit hatiku. Menyalalah engkau selalu. Temani kemana mesti ku pergi. Mencari tempat kita tuju. (Seismic)

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »

Lafaz Ijab Qabul

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008

Ijab Qabul dalam akad nikah itu kata-kata kesepakatan antara kedua pihak yang bersepakat (wali dan mempelai laki-laki). Ijab adalah kalimat yang berisi ajakan dan keinginan untuk menjalin sebuah ikatan pernikahan (biasanya diucapkan wali). Qabul merupakan ungkapan kerelaan dan persetujuan atas ajakan itu (biasanya diucapkan mempelai laki-laki).

Nah yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana sih lafaz alias redaksional ijab dan qabul dalam pernikahanku nanti. Kalo di Fiqih Sunnah (karya Sayyid Sabiq) sih yang penting ijab dan qabul itu menggambarkan kesepakatan untuk menikah (dengan bahasa yang dipahami oleh kedua pihak yang melakukan akad nikah), serta dengan bahasa yang jelas, dengan tujuan untuj menghindari kesalahpahaman.

Hmm…kalimat sakral yang aku tunggu “Wirawan Purwa Yuwana bin Imam Supandi, anda saya nikahkan dengan saudara saya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin Kitab Tafsir Fidzilalil Qur’an, Kitab Fiqih Sunnah dan sebuah cincin, tunai”. Kalo sudah kalimat ijab diucapkan begitu, gimana coba jawabnya?

“Saya terima nikahnya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin yang telah disebutkan di atas tunai”. Ato mau pakai bahasa Arab? “Qabiltu nikaha watzwijaha linasfi bi mahril madzkur haalan” (versi Ayat-Ayat Cinta ditambah ‘ala manhaji kitabillah wa sunnati rasulillah). Ato pakai bahasa Inggris? I approve the marriage with Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat by bide price that have been mentioned at that very moment. Apakah harus seperti itu?

Gimana kalo jawabnya singkat, padat dan jelas. Misalnya “Tunai!”, “Siap!”, “Setuju!”, “Baiklah!”, “Na’am”, “Oke!”, “Yes!”, ato “Absolutely!”. Gimana tuh? Ada yang bisa ngasih pendapat ga?

Ah namanya juga masih belajar. Dan masih pertama kali lagi….

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 7 Komentar »