Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Arsip untuk ‘Siapkan Pernikahan’ Kategori

Doa-doa Pernikahan

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 22, 2009

Kemarin ngobrol sama adik kelas yang hendak menikah.

“Mas, redaksi ijab qabul bagaimana sih?” Wah, kalo redaksi itu, sudah aku tulis di blog ini di “Lafaz Ijab Qabul”. tapi kali itu aku membahas dengan lebih nyantai. Lantas aku tanya apakah sudah hafal doa-doa pernikahan? We..e..ee.. rupanya dia belum hafal. kemudian memintaku untuk menuliskan dan mengirimkan lewat email. nah, nanggung kalo cuma lewat email, sekalian aja diposting di blog. semoga bermanfaat.

Berikut ini doa-doa dalam rangka pernikahan:

1. Doa pada saat pertama kali mendatangi pengantin perempuan:

Ada hadits dari Rasulullah SAW:

“Apabila salah seorang dari kamu mengawini seorang perempuan atau membeli seorang budak, maka hendaklah ia memegang bagian depan kepalanya (ubun-ubun) dan hendaklah membaca basmalah dan mendoakan keberkahan serta membaca “Allohumma inni as aluka min khoirihaa wa khoiri maa jabaltahaa ‘alaih, wa a’udzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaih” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan dan kebaikan yang telah Engkau takdirkan kepadanya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan dan kejahatan yang telah Engkau takdirkan kepadanya)”

2. Doa setelah shalat sunnah berjamaah dua rakaat

Disunnahkan bagi suami istri yang baru menikah mengerjakan shalat sunnah dua rakaat berjama’ah, berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

“Telah datang seorang laki-laki bernama Abu Huraiz, ia berkata, ‘Saya telah mengawini seorang wanita jariyah yang masih muda dan saya khawatir ia akan membangkitkan amarah saya. Maka Abdullah (yang dimaksud adalah Ibnu Mas’ud) menjawab, ‘Kerukunan itu datangnya dari Allah dan kemarahan itu datangnya dari syetan. Ia (syetan) menginginkan kamu membenci apa yang dihalalkan oleh Allah kepadamu. Maka kalau istrimu datang menghampirimu, perintahkan ia shalat dua rakaat dibelakangmu’. Dalam riwayat lain dai Ibnu Mas’ud ditambahkan, katakanlah “Allohumma baariklii fii ahlii, wa baariklahum fiy, Allohummajma’ bainanaa maa jama’ta bikhoir, wa farriq bainanaa ilaa khoir” (Ya Alla, berkan keberkahan kepadaku (anak istriku) dan berikan keberkahan kepada mereka dalam diriku. Ya Allah, persatukan kami selama persatuan itu mengandung kebajikan dan pisahkan kami jika perpisahan itu menuju kebaikan).

3. Doa sebelum jima’

Ketika melakukan hubungan suami istri disunnahkan kepada pasangan suami istri itu membaca doa:

“Bismillah, Allohumma jannibnasy syaithoona, wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa” (Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkan kami dari syetan, dan jauhkanlah syetan dari anugerah yang akan engkau berikan kepada kami)

Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Apabila Allah mentakdirkan keduanya memperoleh anak, maka anak itu tidak akan mendapat kemudharatan dari syetan selamanya.”

Semoga berkah bagi yang membaca, dan mengamalkannya.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Siapkan Pernikahan | Bertanda: , | 1 Komentar »

Blog Baruku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 20, 2008

Ada cerita juga dari dunia maya yang lain

Tentu yang cerita masih aku.

ada di http://tentangceritacinta.blogspot.com/

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Menikah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 3, 2008

Maha Suci Allah SWT yang menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Dengan lantunan puji syukur atas anugerah Allah SWT, kami mohon doa restu atas pernikahan kami:

ANIS DYAH RAHMAWATI
dan
WIRAWAN PURWA YUWANA

Akad Nikah: 5 Syawal 1429H/5 Oktober 2008
Walimatul Ursy: 12 Syawal 1429H/12 Oktober 2008, di RT 06, RW 02, Desa Nglongsor, Kec. Tugu, Kab. Trenggalek, Jatim

Atas doa-doa yang diberikan kepada kami, kami ucapkan jazakumullahu khairan katsir.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Lafaz Ijab Qabul

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008

Ijab Qabul dalam akad nikah itu kata-kata kesepakatan antara kedua pihak yang bersepakat (wali dan mempelai laki-laki). Ijab adalah kalimat yang berisi ajakan dan keinginan untuk menjalin sebuah ikatan pernikahan (biasanya diucapkan wali). Qabul merupakan ungkapan kerelaan dan persetujuan atas ajakan itu (biasanya diucapkan mempelai laki-laki).

Nah yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana sih lafaz alias redaksional ijab dan qabul dalam pernikahanku nanti. Kalo di Fiqih Sunnah (karya Sayyid Sabiq) sih yang penting ijab dan qabul itu menggambarkan kesepakatan untuk menikah (dengan bahasa yang dipahami oleh kedua pihak yang melakukan akad nikah), serta dengan bahasa yang jelas, dengan tujuan untuj menghindari kesalahpahaman.

Hmm…kalimat sakral yang aku tunggu “Wirawan Purwa Yuwana bin Imam Supandi, anda saya nikahkan dengan saudara saya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin Kitab Tafsir Fidzilalil Qur’an, Kitab Fiqih Sunnah dan sebuah cincin, tunai”. Kalo sudah kalimat ijab diucapkan begitu, gimana coba jawabnya?

“Saya terima nikahnya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin yang telah disebutkan di atas tunai”. Ato mau pakai bahasa Arab? “Qabiltu nikaha watzwijaha linasfi bi mahril madzkur haalan” (versi Ayat-Ayat Cinta ditambah ‘ala manhaji kitabillah wa sunnati rasulillah). Ato pakai bahasa Inggris? I approve the marriage with Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat by bide price that have been mentioned at that very moment. Apakah harus seperti itu?

Gimana kalo jawabnya singkat, padat dan jelas. Misalnya “Tunai!”, “Siap!”, “Setuju!”, “Baiklah!”, “Na’am”, “Oke!”, “Yes!”, ato “Absolutely!”. Gimana tuh? Ada yang bisa ngasih pendapat ga?

Ah namanya juga masih belajar. Dan masih pertama kali lagi….

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 7 Komentar »

Melihat Calon Bidadariku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008

Selama proses menuju pernikahan, baru kemarin aku melihat calon istriku. Memang sudah disarankan oleh Rasulullah untuk melihat calon istri. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Hurairah r.a. mengatakan, “Aku berada di sisi Nabi SAW ketika datang seseorang yang mengabarkan bahwa dia akan menikahi seorang wanita dari kalangan Anshar. Rasulullah berkata, ”Apakah engkau telah melihat wanita yang engkau nikahi?” Dia mengatakan,”Belum”. Maka Rasuullah mengatakan, ”Pergilah engkau dan lihat wanita yang akan engkau nikahi, karena pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu”.

Ada juga hadits yang diriwayatkan Abu Dawud bahwa Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ketika seorang meminang perempuan, jika memungkinkan, hendaknya ia memandang perempuan itu untuk melihat sesuatu yang dapat memotivasi dirinya untuk menikah dengannya”. Jabir berkata, “Ketika aku ingin meminang seorang perempuan dari bani Salmah, aku bersembunyi mengendap-endap untuk dapat melihatnya, sehingga aku menemukan sesuatu yang memotivasiku untuk menikahinya.

(Aku menghela nafas panjang) Hhhhheeehh….rupanya jantung ini serasa lepas dari tempatnya. Ini bukan hiperbolis loh. Cuma melukiskan biar sedikit dramatis gitu. Aku benar-benar ga punya nyali untuk melihatnya scara langsung. Bahkan malah kikuk ga karuan. Ketika bicara padanya aku hanya bisa melempar pandangan ke arah kakaknya. Ga punya nyali aku. Malu. Benar-benar malu menatapnya saat itu. Walau hanya sekilas. Malu banget. (Malu kok cerita-cerita di blog)…[biarin, wong malunya sama calon istri kok, bukan sama pembaca blog]

Setengah bego aku mengetik SMS ba’da shubuh tadi pagi (setelh kemarin sore kaya orang liglung) di Masjid Nur Al-Askar. “Assalamu’alaikum wrwb. Ukhti, ana ada permintaan ke anti. Nanti pas akad, ana harap anti tidak duduk disamping, dibelakang ato disekitar ana yang memungkinkan ana bisa melihat anti. Terserah anti mau ada dimana yang penting ana ga melihat anti sebelum ijab qabul. Pengalaman kemarin, ternyata ana tidak punya cukup hati untuk melihat anti. Khawatir kalo sebelum jab qabul ana melihat anti, malah grogi, deg-degan, bisa mati kata ana ntar. Ya usahakan ana baru bisa melihat anti setelah ijab qabul aja deh. Beda rasanya melihat foto anti & melihat anti secara langsung. Jazakillah”. Tu SMS yg begono panjangnyo lantas aku send ke calon istriku.

Tuh kan keliatan groginya. Waduh…semoga nanti saat ijab qabul tidak segrogi saat melihatnya….Ya Allah, gimme composure when I get married. Amin.

Catatan:

Ana = aku

Anti = kamu (perempuan)

Referensi : Fiqih Sunnah, karya Sayyid Sabiq

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 3 Komentar »

Mudik Bertemu Grup Nasyid Issiz

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 19, 2008

Hm…mudik naik Harjay kali ini. Pas ditengah malam bertemu Grup Nasyid Issiz. Ingat ya Issiz, bukan Izzis. Kalo Izzis kan Izzatul Islam. Nah, kalo Issiz itu berasal dari bahasa Jawa, artinya adem. Itu lho kalo lagi panas keringetan terus ada angin berhembus…hm…issiz atawa adem rasanya. Grup nasyid Issiz ini punya nasyid yang nadanya sama dengan “Hai Mujahid Muda”-nya Izzis. Begini

Hai para pemuda yang masih bujangan

Tidakkah kau lihat indahnya pernikahan

Mendapatkan istri untuk menjaga pandangan

Bermanfaat jua pelihara kesucian

Kuatkan tekadmu jangan ragu-ragu

Siapkan dirimu tanpa pernah jemu

Ada bidadari yang cantik serasa di surga

Menunggu dirimu kenapa tak datang jua

Majulah wahai para pemuda

Dalam satu cita raih pernikahan

Singkirkan gundah jangan diam saja

Bidadari cantik segera datang

Setelah Grup Nasyid Issiz itu selesai menyanyikan nasyidnya, fuih…aku tersadar bahwa sekarang sudah sampai Alas Roban.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »

Generasi Pernikahan

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 18, 2008

Rupanya si oknum (yang mau bertanggung jawab) asih belum puas ‘mengacak-acak’ lirik nasyid-nya Shoutul Harokah. Kini ganti Izzatul Islam yang menjadi korban. Lirik nasyid ‘Generasi Harapan’ diotak-atik menjadi ‘Generasi Pernikahan’. Hm…coba dengarkan lagu aslinya. Kemudian turutlah bernyanyi dengan lirik ‘Generasi Pernikahan’. Rasakan sensasinya….

Generasi Pernikahan

Dimana dicari akhwat sejati

Yang berani menikah diusia dini

Dimana jua si ikhwan gagah berani

Yang menanti kehadiran sang bidadari

Hati pun gundah ditengah malam

Makan tak enak tidur tak tenang

Tersiksa dengan cinta terpendam

Menikah saja maka kan senang

Mengapa tetap saja kau ragu

Hingga resah terus menjadi belenggu

Gelisah, berangan dan tersiksa

Dan kamu hanya diam tanpa kata-kata

Bangkitlah akhi, jangan berdiam diri

Menggapai impian meraih pernikahan

Bangkitlah ukhti, ayo bersiap diri

Tanpa keraguan menjadi istri dambaan

Wajah mereka kini tak lagi muram

Bahagia telah bertemu

Hiduplah mereka kini berdua

Menjadi pengantin baru

Dimana jua si akhwat sejati

Yang berani menikah diusia dini

Dimana jua si ikhwan berani

Yang siap hidup bersama seorang istri

Generasi Harapan

Dimana dicari pemuda kahfi

Terasing demi kebenaran hakiki

Dimana jiwa pasukan Badar berani

Menoreh nama mulia perkasa abadi

Umat melolong digelap kelam

Tiada pelita penyinar terang

Penunjuk jalan kini membungkam

Lalu kapankah fajar kan datang

Mengapa kau patahkan pedangmu

Hingga musuh mampu mmbobol bentengmu

Menjarah menindas dan menyiksa

Dan kita hanya diam sekedar terpana

Bangkitkan negeri lahirkan generasi

Pemuda harapan tumbangkan kedhaliman

Bangkitkan negeri lahirkan generasi

Pemuda harapan tumbangkan kedhaliman

Wajah dunia Islam kini memburam

Cerahkan dengan darahmu

Panji Islam telah lama terkulai

Menanti bangkit kepalmu

Dimana jua pasukan berani

Terasing demi kebenaran hakiki

Dimana jua pasukan berani

Menoreh nama mulia perkasa abadi

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Gelombang Pernikahan

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 18, 2008

Mohon maaf sebesar-besarnya kepada Shoutul Harokah dan para fans-nya. Pada postingan kali ini ada oknum (yang mau bertanggung jawab), karena telah ‘mengorat-arit’ lirik nasyidnya. Judul aslinya sih ‘Gelombang Keadilan’. Nasyid yang nge-beat banget terutama yang versi Album Masih Ada Harapan. Ya gara-gara oknum tersebut lirik nasyid itu menjadi ‘diplesetkan’ menjadi ‘Gelombang Pernikahan’. Begini hasilnya:

Gelombang Keadilan

Kan melangkah kaki dengan pasti

Menerobos segala onak duri

Generasi baru yang telah dinanti

Tak takut dicaci tak gentar mati

Bagai gelombang terus menerjang

Kutumbangkan segala kedhaliman

Dengan tulus ikhlas untuk keadilan

Hingga pertiwi gapai sejahtera

Reffrein:

Tak kan surut walau selangkah

Takkan henti walau sejenak

Cita kami hidup mulia

Atau syahid mendapat surga

Gelombang Pernikahan

Kan melangkah kaki dengan pasti

Tuk penuhi panggilan Illahi

Generasi baru yang pemberani

Tak takut menikah diusia dini

Bagai gelombang terus menerjang

Bagai semangat dihati sang bujang

Dengan penuh tekad untuk pernikahan

Membangun keluarga sejahtera

Reffrein:

Takkan surut walau selangkah

Merindukan kehidupan indah

Cita kami segera menikah

Tuk mereguk nikmatnya ibadah

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Wanita Cantik

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 18, 2008

Wanita cantik melukis kekuatan lewat masalah..

Tersenyum saat tertekan,

Tertawa disaat hati menangis,

Tabah saat terhina,

Mempesona karena memaafkan..

Wanita cantik mengasihi tanpa pamrih & bertambah kuat dalam doa & pengharapan..

Pesan ini khusus untuk setiap wanita cantik kepunyaan Allah

NB: Mas, ini buat calon istrinya lho, he2

itu puisi yang bikin adik tingkat di STAN pas dalam kondisi spaneng akibat Komprehensif tertulis hari pertama dan masih harus menghadapi hari keduanya. tu adek tingkat namanya… #d* #n#…lulus tahun ini. IPK sebelum komprehensif tertulis kemarin 3,46. InsyaALlah tanggal 14 Okt di wisuda. sepertinya ni adik tingkatku ingin segera mencari PH. ga sekedar PW yg cuma dibawa ke JCC.

ctt: PH=Pendamping Hidup; PW=Pendamping Wisuda; JCC=Jakarta Konvensyen Senter

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »

Ceramah Pak RT

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 16, 2008

Beberapa malam lalu, Pak RT, Ustadz Adjma Ibnu Udja (hm..katanya sih udah pengen diganti. Bocorannya sih kandidat penggantinya Pak T#sr*p*n) dapat jadual ceramah di As Sa’adah. Benar-benar isi ceramah yang banyak menyindir. Seperti penutup ceramahnya, “Kalo ga menyindir, bukan ceramah namanya”. Seperti aku yang tersindir saat itu. Tiga kali setidaknya beberapa pasang mata melihatku.

Pertama, Ramadhan itu bulan tarbiyah, bulan pendidikan. Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk belajar agama ini. Bukan sekedar belajar sendirian, tapi banyak sekali kesempatan yang mendorong tambahan pengetahuan dan pemahaman. Nah selagi kesempatan emas ini masih ada (kata Sang Murabbi “Selagi apinya masih mareng”) disegerakan saja improvement-nya. Yang tadinya ga bisa shalat, cepatlah belajar shalat. Yang tadinya ga bisa ngaji, segera saja belajar mengaji. Yang ga paham fikih, segera belajar fikih. Yang ga ngerti kehidupan Rasulullah, segera baca sirah nabawiyah. Yang belum menikah, cepetan menikah…setidaknya belajar munakahat. Saat Pak RT bilang begitu, spontan beberapa pasang mata melihatku.

Hm…dari sebelah kiri setidaknya ada GunGun, YanYan, dan segerombolan anak2 ga jelas lainnya. Dari sebelah kanan ada TomTom yang mencari dukungan dari bapak2 disekitarnya. Dari depan ada adik2 kelas sambil mengumbar senyum ga jelas. Dari belakang…ga tahu wong udah barisannya ibu2.

Kedua, Ramadhan adalah bulan peningkatan. Masih ingat kan ayat favorit ketika Ramadhan? Bahkan anak belum baligh pun udah dikit2 hafal dengan ‘ayat kutiba’ itu. Tujuan puasa memang untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Sekali lagi menuju derajat takwa. Dari yang biasa-biasa saja menjadi lebih bertakwa. Dari ulat menjadi kupu-kupu. Dari ga bisa shalat menjadi bisa shalat. Dari ga bisa ngaji jadi bisa ngaji. Dari bujangan menjadi menikah.

Hm…lagi-lagi beberapa pasang mata melihatku. Kali ini termasuk pandangan Pak RT yang berhenti di depan mukaku.

Ketiga, Ramadhan adalah bulan jihad. Jihad itu artinya sungguh-sungguh. Ada hadits yang menyatakan bahwa banyak orang yang puasa hanya dapat lapar dan dahaga. Ya karena puasanya ga sungguh-sungguh. Makanya setelah Ramadhan diharapkan setiap orang memiliki semangat jihad, semangat bersungguh-sungguh alias tidak main-main dalam melakukan kebaikan. Kalo shalat ya yang sungguh-sungguh tuma’ninah, jangan pikirannya melayang ga jelas. Kalo ngaji ya jangan asal-asalan, ngaji yang bener, paling enggak bener tajwid dan makhraj-nya. Begitu juga kalo nyari mantu. Nyari mantu jangan asal-asalan. Cari yang bener2 sholeh. Jangan sekedar ganteng ato kaya. Nah…itu kan banyak anak2 STAN yang baik2 dan sholeh2. Jadiin mantu aja.

Kali ini jama’ah tarawih ga melayangkan pandangnya ke wajah2 muda dan culun punya khas anak STAN. Sedangkan orang disekelilingku malah tambah menjadi2 ngecenginnya. Ah..Pak RT ini mentang2 mantunya lulusan STAN trus promosi begitu. Tapi gapapa juga sih…hayo syapa yang mau sama anak STAN? Hubungi Pak RT.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 3 Komentar »

Biru Laut dan Biru Langit

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 11, 2008

Biru Laut & Biru Langit

Biru Laut & Biru Langit

Saat resah bergulung laksana ombak pantai

Pasir Ujong Batee pun berisik mengusik hati

Ketika gundah menapaki gunung tinggi

Biru langit Puncak Lawu pun menjadi saksi

Saat Laut Ujong Batee berwarna biru

Saat Langit Puncak Lawu cerah membiru

Allah menakdirkan dua hati bertemu

Bersatu dalam ikatan suci nan padu

Ikatan bersama menggapai cita

Ikatan bersama menyempurnakan agama

Ikatan bersama menjaga kesucian

Ikatan bersama melanjutkan perjuangan

Dengan penuh tekad

Dengan mengharap berkah dan rahmat

Demi kemanfaatan bagi umat

Kami ikrarkan kehidupan dengan semangat

Allah adalah tujuan kami

Rasulullah teladan kami

Al Qur’an pedoman hidup kami

Jihad adalah jalan juang kami

Syahid di jalan Allah cita kami tertinggi

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 6 Komentar »

0 – 3.265 mdpl

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 11, 2008

Kemarin bertemu seorang adik tingkat. Seperti biasa obrolan ngalor ngidul pun mengalir begitu saja. Hingga akhirnya menyentuh current issue mengenai diriku saat ini. “Kok bisa mas dari puncak gunung bisa mendapatkan bidadari yang ada di pantai?”. Aku hanya tersenyum. “Bayangin coba, dari 0 mdpl (meter di atas permukaan laut) kok kelihatan dari 3.265 mdpl. Bagaimana caranya?”.

Aku tak bisa menjelaskan tanpa dimulai cerita yang sebenarnya. Dan kisah pun aku ceritakan untuknya. Terus terang, pada saat berada di Puncak Gunung Lawu di ketinggian 3.265 mdpl aku memanjatkan doa yang agak panjang. Dan kebetulan teman-teman sesama pendaki saat itu mengamini doaku. Aku pernah menuliskan di blog ini juga. Tapi khusus untuk menikah, ada tambahannya. “Ya Allah, alhamdulillah hari ini aku bisa memandang keindahan yang Kau ciptakan dari puncak ketinggian. Aku bisa melihat hamparan langit biru yang luas. Aku bisa melihat hijau bumi yang indah. Aku bisa memandang gumpalan awan yang menawan. Oleh karena itu ya Allah, tajamkanlah pandanganku untuk menemukan bidadari yang akan Kau anugerahkan dalam hidupku. Aku yakin Kau akan mendatangkan bidadariku dari arah mana saja yang Engkau inginkan. Kau bisa mendatangkan bidadari dari ujung langit. Kau pun mudah memunculkan bidadariku dari dalam laut. Kau bisa memperlihatkan bidadari itu dari perut bumi. Kau bisa menerbangkannya dari arah barat, barat laut, utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, atau pun barat laut. Kau bisa mendatangkan dari mana saja yang Engkau suka. Sekali lagi aku mohon pada-Mu, ya Allah. Siapkan hati ini untuk memandang luas seluas pandanganku di puncak gunung ini. Agar aku bisa segera menemukan bidadariku. Bidadari terbaik yang Kau anugerahkan untukku. Amin”.

Ibarat pepatah ‘asam di gunung garam di laut bertemu di panci’. Tentu ada faktor yang mengakibatkan pertemuan asam dan garam itu. Maka dapat dianalogikan ada faktor asam, garam, panci, dan koki yang mempertemukan keduanya. Faktor asam dan garam dapat diibaratkan sebagai kesiapan perempuan dan laki-laki untuk menikah. Jika salah satu dari keduanya tidak siap menikah, maka asam dan garam itu akan susah bertemu. Selanjutnya adalah faktor panci, yaitu wadah yang mempertemukan asam dan garam. Panci ini diibaratkan sebagai lingkungan di sekitar asam dan garam. Lingkungan sangat berpengaruh dalam menentukan pertemuan itu. Jika lingkungan asam sangat berbeda dengan lingkungan garam, maka akan sulit keduanya bertemu. Alhamdulillah lingkungan asam dan garam ini tidak jauh berbeda. Terutama keduanya yang sama-sama menikmati pergerakan dakwah bersama tarbiyah. Dan terakhir adalah faktor Koki yang mempertemukan asam dan garam. Aku sendiri meyakini bahwa aku dan bidadariku bertemu karena Allah dan nanti akan berpisah karena Allah pula. Oleh karena itu, agar asam dan garam ini bisa bertemu, maka dekatilah Sang Koki. Semakin dekat denga Sang Koki maka semakin mudah pula harapan mempertemukan asam dan garam menjadi kenyataan.

Seperti itulah pendapatku dalam menjawab bagaimana bisa dari 0 – 3.265 mdpl bisa bertemu. Aku sendiri, yang diibaratkan asam di gunung, berniat dan mempersiapkan diri untuk menikah. Aku tak tahu apakah sang garam pun juga melakukannya, karena itu bukan wilayahku. Yang jelas, aku menyiapkan diri, mengkondisikan dan memilih panci yang baik untuk mempertemukan asam dan garam ini, dan mendekat kepada Sang Koki.

Tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Tak ada kebetulan bagi Allah. Jika Allah berkehendak mempertemukan, walau aku di puncak gunung 3.265 mdpl dan bidadariku di ujung pantai 0 mdpl, maka bertemulah asam dan garam atas kehendak-Nya.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Kamu ga adil Kak!

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 9, 2008

Kak,aq pengen ketemu skrg.plis penting bgt ni”.

Tiba-tiba ada SMS masuk. Walau nomor si pengirim SMS itu ga ad di ponbuk HPku, tapi melihat nama di bawah tulisan SMSnya, aku tahu dia adalah mantan mahasiswaku. Sebut saja Bunga, tentu bukan nama sebenarnya. Kebetulan saja aku ada di kampus tempatku mengajar saat itu. Dan mungkin dia tahu aku ada di kampus sekarang. Dulu aku memang menyuruh mahasiswa untuk tidak memanggilku ‘bapak’. Rasanya jadi tua. Lagipula juga belum punya istri. Oleh karena itulah mantan mahasiswaku masih memanggil dengan ‘Kak’. Hm…kalo sekarang, tentu lain.

Kok tau sy dikampus?OK,qta ktmu,tp dit4 yg rame.di atrium aja.2jam lagi.sy msh mau ngajar”

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

***

Setelah membalas SMS itu, aku kembali ke kelas. Dan tak membuka SMS apapun yg masuk. Belajar jadi pengajar yg profesional. Aku melarang mahasiswa berSMS waktu kuliah, maka aku juga tak akan menyentuh SMS. Aku menyuruh mahasiswa men-silent HPnya selama kuliah, maka aku juga pakai modus diam. Hanya jika menerima telepon saja yang dibolehkan, tapi harus keluar kelas terlebih dahulu. Proses perkuliahan pun berjalan lancar.

***

Aku melihat sesosok perempuan berbaju pink dengan jilbab putih duduk di meja atrium. Itu pasti si Bunga. Aku pun segera mengambil tempat duduk di depannya. Ia tak mendengar salam yang aku ucapkan karena mungkin kupingnya tertutup earphone.

Eh Kakak. Biasanya salam dulu. Kok tiba-tiba duduk gitu aja.” Benar, ia kemudian melepas earphone-nya

Gimana kamu mau dengar salam saya kalo kupingmu ga bolong gitu. Ni diulangi lagi, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”

Jawab salamnya yang bener dong! Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, begitu!”

Iya…iya…kurang ‘mus’ gitu aja disalahin”

Udah sekarang ada yang penting apa? Masalah nilai? Kurang nilainya? Tugasnya kebanyakan? Apa?”

Ih…bukan itu ya. Masak ngomongin kuliah terus. Bosen ah.”

Ya udah…berarti ga ada yang penting dong. Kalo gitu saya pulang aja”

Eh…tunggu dulu. Aku mau protes sama Kakak. Aku baca blog kakak. Terutama yang menyembunyikan cinta. Itu kan untuk cowo. Yang untuk cewe kaya aku gimana. Memangnya cowo doang yang bisa jatuh cinta.”

Lho, bukannya cewe lebih bisa menjaga rahasia hatinya. Kan lebih mudah untuk menyembunyikan cinta bagi cewe.”

Justru itu yang jadi masalah. Cowo enak bisa memendam cintanya. Kalo cewe yang diincer ternyata jadi sama orang lain, ia bisa milih-milih lagi. Nah kalo cewe? Ga bisa seperti itu, Kak. Kan katanya cewe menang jawaban, sedangkan cowo menang milih. Kalo cowo yang diincer cewe ternyata jadi sama cewe lain, udah ga bisa milih lagi, Kak. Ga adil. Bagi itu sudah eksekusi dua pilihan yang sama-sama menyakitkan seperti yang kamu katakan. Kalo ga menyesal ya cemburu. Padahal tu cewe memendam cinta pada tu cowo. Sakit banget rasanya, Kak. Sakit banget.”

Sebenarnya ingin aku cuek aja dan ga ngasih pendapat apa-apa. Aku pernah baca buku, kalo perempuan curhat itu yang dibutuhkan adalah ia didengarkan. Bukan solusinya bagaimana. Tapi kok ga tega juga aku diamkan ni anak. Heh…jadi inget Dian Sastro pas jadi Cinta, “Kalo lo ngerasain sakit gitu, trus salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?”. Yah, tapi bukan saatnya bercanda deh. Aku hanya butuh materi aja buat bridging. Kalo langsung ditembak pakai Al Bqarah 235 bisa langsung mental ni anak.

Kamu pernah dengar lagu ‘Selamanya Cinta’?” Dia hanya mengangguk.

Coba perhatikan lirik reff-nya. Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku. Hingga membuat kau percaya. Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku selamanya. Selamanya.

Kamu mudah aja menyanyikan. Nah, anggap aja merasakan makna lirik itu sama mudahnya dengan menyanyikan. Kenyataannya sekarang kamu memang tidak dapat mengungkapkan perasaanmu kan? Tak perlu kamu ungkapkan. Tapi buatlah dia percaya. Namun jangan kamu berikan rasa cintamu seutuhnya selamanya. Karena emang kenyataannya kamu tak bisa mengungkapkan cinta. Apalagi tak ada perjanjian cinta hitam diatas putih diantara kalian. Kamu tahu bagaimana caranya membuat dia percaya?”

Ga ngerti? Membuat dia percaya tapi tanpa memberikan cinta seutuhnya apa bisa?”

Hm…kamu hafal lagu ‘Selamanya Cinta’ itu? Kalo hafal, coba nyanyikan. Lirih aja. Biar orang ga ngira kamu ngamen di depanku.” Ia pun menyanyikan lagu ‘Selamanya Cinta’ dari awal.

Sudah dapat jawabannya belum?” Ia menggelengkan kepala.

Perhatikan lirik Biar awan pun gelisah daun2 jatuh berguguran. Namun cintamu kasih terbit laksana bintang. Yang bersinar cerah menerangi jiwaku.

Ya…pertama akui pada dirimu sendiri bahwa kamu menyukainya. Biarkan cintamu itu berguguran seperti daun. Tapi ga perlu kamu mengumumkan bahwa daun-daun itu jatuh. Sudah ada yang tahu kok kalo daun-daun itu berguguran walau tidak kamu umumkan.”

Kedua…anggap aja dia juga suka sama kamu. Anggap cintanya terbit laksana bintang. Biar kamu ga capek-capek ngejar cintanya. Ingat ya….ANGGAP. Pura-pura kamu juga dicintainya. Kalo kamu punya anggapan begitu, setidaknya kamu punya daya tawar. Pura-pura dicintainya. Biar kamu tidak dibilang cewe murahan.”

Ketiga…jadikan cintanya itu memicu semangatmu untuk menjadi lebih baik. Kamu suka cowo yang pinter? Maka jadikan pinter sebagai acuan. Kejarlah acuan itu. Jangan diam saja. Kamu juga harus membuktikan bahwa kamu juga pinter. Kamu suka cowo sehat dan gagah? Maka kamu juga harus sehat dan rajin olah raga. Asal jangan jadi tomboy. Karena kamu perempuan. Kamu suka cowo pinter ngaji? Ya kamu harus bisa ngaji. Pokoknya jadikan kriteria yang kamu tetapkan itu jadi acuanmu sendiri. Ingat, cintanya terbit laksana bintang. Bintang akan tetap dilangit. Kamu tidak akan bisa menggapainya jika tidak beranjak ke langit. Paham?”

Nah dia kan tetep belum tahu, Kak. Trus kalo dia jadian sama cewe lain gimana?”

Kamu sudah mengejar kriteria yang kamu tetapkan? Misalnya kamu lihat tu cowo pinter ngaji. Trus kamu sudah ngaji dengan baik. Udah khatam berkali-kali. Tapi dia malah ga melihatmu. Ya berarti kamu berhasil mengejar kriteria yang kamu tetapkan tapi kenyataannya tu cowo ga sesuai dengan kriteriamu itu. Dengan kata lain, kamu memenangkan ‘lomba ngaji’ sama dia. Artinya tu cowo ga pantas buat kamu. Karena kamu akan dapat cowo yang lebih baik dari dia. So, nyantai aja kalee…”

Nah kalo aku belum berhasil mengejar kriterianya, gimana?”

Sori ni ya kalo rada jahat…Hm…kalo kondisinya seperti itu, itu kamu yang bermasalah. Masak mendambakan cowo yang pinter ngaji tapi kamu ga bisa ngaji. Ngaca dong, ngaca!”

Iiiihhhhhhh….Kakak jahat banget sih”

Eiitt…jangan sentuh saya!”

Iya…iya…ntar calon istri Kakak marah kalo tahu aku menyentuh Kakak”

Nah, sudahkan curhatnya? Udah sana segera pulang. Terus ngaji. Terus dibuka Surat Al Baqarah ayat 235. Dibaca juga terjemahnya. Begitulah cara mengejar cinta. Di pendam saja.”

Kak…boleh tanya lagi ga? Gimana sih rasanya menunggu tanggal pernikahan? Deg-degan ya? Khawatir ini itu ya? Takut kalo ada masalah ya?”

Halah…ni bocah pengen tau aja. Nanti kalo sudah waktunya kamu menikah, juga bakal merasakan. Sudah sana belajar yang rajin. Ga usah mikirin cowo mulu. Dikejar aja kriterianya. Sekali-kali jadi sok egois gitu lho. Jangan mikir bagaimana caranya punya pacar mulu. Ga usah pacaran lah. Masak kamu belajar akuntansi ga bisa memaknai benefit greater than cost mengenai cinta.”

Sudah, aku mau pulang. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”

Begitulah obrolan santai sore itu. Mungkin ada yang protes, mana ada dosen deket sama mahasiswanya sampe curhat-curhatan gitu. Nah, ini nih yg jadi masalah. Perlu dipertimbangkan lagi paradigma yang ada bahwa dosen hanya sekedar menyampaikan materi kuliah. Bagiku, dosen bukan hanya berperan seperti itu. Peran pendidikan jauh lebih penting. Materi kuliah itu bisa digeber dengan cepat. Bahkan kalo mau cuek, bodo amat mahasiswa ngerti ato kagak. Yang penting semua sudah disampaikan. Tapi pendidikan untuk membentuk karakter, heh…itu yang butuh waktu tidak sebentar. Pembentukan karakter juga butuh kepercayaan. Dalam hal ini dosen menjadi objek yang dipercayai. Maka jangan salah kalau mahasiswa akan sangat memperhatikan dosennya, baik di dalam atau diluar kelas. Ketika mereka melihat dosennya tetap berjalan diatas rel karakter yang baik, mereka akan mengikutinya. Tapi sekali saja mereka menjumpai penyimpangan pembangunan karakter, hapuslah kepercayaan dan harapan yang mereka kepada si dosen.l

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 3 Komentar »

Buah Kejujuran

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 3, 2008

“Py, kamu tahu kan? Bahwa Allah akan memperlihatkan isi hati seseorang melalui mukanya?”

Tiba-tiba suara perempuan yang aku kenal menusuk lubang pendengaranku pagi ini. Aku masih diam. Menerka-nerka apa yang akan dia katakan berikutnya.

“Ada apa Py? Ada masalah apa? Ada masalah dengan pernikahanmu nanti?”

“Ga apa-apa kok mbak”

“Satu lagi yang harus kamu tahu Py. Bahwa perempuan itu lebih bisa merasakan ada yang tidak beres ketika melihat muka-muka bermasalah seperti kamu”

“Maaf mbak. Terlalu cengeng bagi seorang laki-laki untuk menceritakannya”

“IYA! Dan laki-laki seperti kamu juga terlalu SOMBONG untuk mengakui bahwa kamu cengeng padahal siapapun yang melihat akan tahu bahwa matamu berkaca-kaca! Kamu tak cerita juga ga apa-apa bagiku! Yang jelas jika kamu tak bersuara lagi, aku jadi tahu bahwa kamu bukanlah Wipy yang aku tahu selama ini.”

Si Mbak tiba-tiba ketus dan tegas sambil membuka kelopak matanya lebar-lebar.

“Mbak, kamu tahu apa buah dari kejujuran? Kamu tahu bagaimana rasanya buah dari kejujuran?”

Si Mbak hanya terdiam.

“Kenapa diam mbak? Bagaimana rasanya mbak! Ayo di jawab! Apakah pahit! Manis! Asam! Atau asin!”

Si Mbak masih terdiam.

“Kenapa mbak masih terdiam? Ga bisa jawab? Dan aku ga butuh jawabanmu mbak. Apapun rasanya buah kejujuran, entah itu pahit, entah itu manis, apakah itu asam, ataukah itu asin, akan aku memakannya mbak!”

Sekarang ganti Si Mbak yang berkaca-kaca matanya

“Mbak masih diam juga? Apa kurang jelas? Sekali lagi mbak, akan aku memakannya!”

Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut si Mbak

Lantas aku tinggalkan si Mbak begitu saja. Aku rindu bangunan megah di jalan Kaca Piring itu. Begitu sejuk dan damai di dalamnya. Setelah tugas kuliah ini selesai, aku akan menuju kesana…

Bismillah…Ya Allah ampuni aku…Ya Allah maafkan aku…Ya Allah, hanya Engkau yang aku tahu Maha Pengampun dosa….Astaghfirullah

Terima kasih buat si Mbak yang telah membaca raut mukaku.

Adakah yang bersedia memberiku nasehat? Bukan hanya diam seperti si Mbak

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »

Ramadhan terakhir si Bujang

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 1, 2008

Semalam sepulang dari As Sa’adah aku jalan bareng sama Hasta #16.

“Wah mas Wipy ini Ramadhan terakhirmu ya?”

“Apa maksudnya tu Hast?” jadi deg-degan aku tiba-tiba ia bilang begitu.

“Maksudnya terakhir di statusmu yang akan berakhir ini lho”

“Oalah, kiran apa. Ya semoga Ramadhan tahun depan benar-benar lebih indah ya Hast…he…he…”

“Aku juga pengen mas. Tapi kok mungkin baru bisa dimulai tahun depan ya”

“Lho kenapa harus nunggu tahun depan. Kalo bisa nikah bulan depan, ya nikah aja to”

“Maksudku tuh baru masuk kuliah D4 tahun depan”

“Halah kamu ini bisa aja ngelesnya”

*****

Kemarin pagi juga dibahas masalah yang sama. Malah aku jadi bulan-bulanan teman-teman Pajak STAN 2004 sebelum Futsal dalam rangka Tarhib Ramadhan dimulai.

“Wah denger-denger kamu mau meletakkan jabatan dari Sekjen IJO BOSOK ya Py?

“Insya Allah, alhamdulillah. Iya nih lagi nyari kader yang siap dicaci maki he…he… Kamu mau daftar?”

IJO BOSOK adalah Ikatan JOmblo ndoBOS lan omong thOK. Merupakan kumpulan segelintir oknum berpengaruh yang berstatus Jomblo bin bujang. Hanya nasib saja yang belum membawa mereka bertemu jodoh. Sebenarnya orang-orang di dalamnya sudah sangat siap menikah. Tapi ya itu tadi. Nasib. Makanya mereka dibilang ndoBOS lan omong thOK (banyak bicara dan omong doang) karena teori pernikahannya sudah mature dan tinggal dipraktikkan. Sayangnya belum ada kesempatan.

“Jadinya kapan Py?”

“Tunggu lah, undangannya masih dicetak tuh”

“Ngemeng-ngemeng kamu beruntung dapat akhwat mana Py?

“Eh, bukan beruntung, tapi tu akhwat yang khilaf deh kayaknya”

Belum juga dijawab, eman-teman sudah pada ngakak ga karuan dan tak henti-hentinya memploncoku.

“Wah kamu seneng banget dong Py”

“Iya, Wipy seneng. Akhwatnya yang senep. Kasihan banet tuh akhwat”

Haduuuuhhh….belum sempat ambil nafas udah klenger dihabisin nih

“Eh tapi jangan khawatir Py, insya Allah kalian berdua nanti masuk surga”

“Amiin”

Alhamdulillah, akhirnya ngomong juga

“Iya, Wipy masuk surga karena banyak bersyukur. Nah si akhwat masuk surga juga karena banyak bersabar”

Aaarrrrggghhh…

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 4 Komentar »

Nama cakram kilat-ku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 1, 2008

Kemarin aku dikritik sama sobat dekatku. Sobatku yang satu ini memang kritis banget. Inisialnya “H”. Belakangnya “endra”. Lho?! Gara-garanya aku ngopy file di komputernya pakai flesdis alias cakram kilat.

“Py, kok nama flesdis-mu masih tetep sih? Ga optimis banget!”

“Diganti apa Ndra?”

“Ya jangan tetep ‘kapan NIKAH’. Ganti aja jadi ‘i4WI NIKAH’ gitu lho!”

“Lagian juga udah menghitung hari gitu kok!”

“Iya…iya…optimis deh..”

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | Leave a Comment »

Sang Murabbi

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 20, 2008

Hari Selasa kemarin (19 Agustus 2008) benar-benar menjadi hari film bagiku. Pada siang hari aku menonton film favorit Pemberantasan G30S/PKI. Malam harinya aku disuguhi film Sang Murabbi. Adalah Apriyanto Setiawan yang menjadikan malam itu lebih panjang. Bukan sekedar bergadang, tapi mengambil hikmah perjuangan.

Aku tak bisa menggambarkan kekagumanku terhadap perjuangan Ustadz Ahmad Abdullah. Sesosok manusia yang menjadi fokus cerita film itu. Terlalu detil film itu untuk diambil hikmahsnya setiap menit berlalu. Kesederhanaan, bakti kepada ibu, kecintaan terhadap keluarga, dakwah yang dijalankan, adalah fragmen-fragmen yang tak putus untuk diambil pelajaran. Aku berniat untuk menjadikannya koleksi filmku.

Lihat pula sosok sang istri. Bagaimana ia memahami aktivitas sang suami. Bagaimana ia setia menjaga keluarga ketika sang suami tidak di rumah. Bagaimana ia merelakan persediaan bahan makanan yang sudah tipis untuk disedekahkan kepada orang yang lebih membutuhkan. Memang seorang sosok istri idaman. Suami mana yang akan meninggalkan? Hanya maut lah yang bisa memisahkan. Dan itupun hanya sementara. Luar biasa.

Menyesal pemuda yang ga menonton film ini.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Setelah menanti 11 tahun

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 20, 2008

Setelah menanti kurang lebih sebelas tahun, akhirnya aku kemarin bisa menonton kembali Film sejarah Indonesia, Pemberantasan G 30 S/PKI. Terima kasih aku ucapkan untuk mas Fakhrudi Daharianto yang telah meminjamiku film favoritku itu. Seingatku setelah 1997 film itu sudah tidak diputar lagi di TVRI. Perubahan yang sangat mencolok, karena sebelum meledak reformasi film itu diputer setia tanggal 30 September. Rupanya pergeseran platform politik di Indonesia membawa dampak yang begitu massif hingga film-film sejarah pun semakin dikesampingkan dari penyiaran.

Aku prihatin dengan negeri ini. Terus terang selama bulan Agustus tahun ini aku menunggu film-film sejarah perjuangan Indonesia. Tapi aku tak menjumpainya di televisi. Rindu aku dengan flm-film perjuangan negeri ini. Film-film yang membangun semangat juang. Bukan sinetron-sinetron kejar tayang. Film-film yang menyuntikkan pendidikan melalui sinema yang bermutu. Bukan film horor penuh tahayul dan hantu blau.

Kasihan sekali film-film perjuangan itu. Termakan gelombang poitik praktis yang terlalu deras. Itu pun jika tak keberatan untuk disebut kebablasan. Aku semakin tidak mengerti dengan politik di negeri ini. Apalagi ditambah kasus-kasus politisi papan atas yang terjerat korupsi. Seolah-olah politik itu kotor. Seakan-akan politik itu hanya sekedar partai dan kekuasaan.

Padahal menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah, politik itu bersih, politik itu suci, politik itu setu level di bawah kenabian. Ini lah kacamata pandang politik yang lebih bijak. Bukan sebatas kekuasaan menjabat. Tapi lebih memikirkan kemaslahatan umat. Bukan sekedar membesarkan partai. Tapi lebih untuk memajukan negeri. Politik adalah mengelola publik. Memikirkan politik adalah memikirkan masalah umat. Untuk umat, bukan untk kekuasaan.

Kembali ke film G 30 S/PKI. Dulu setiap tahun aku menonton film ini, maka setiap kali mennton itu pula meletup-letup semangat perjuangan. Walau saat itu hanya sebatas impian anak-anak. Dan ketika aku menikmatinya kembali kemarin, letupan-letupan semangat itu masih dapat aku rasakan. Termasuk perjuangan para perempuan. Istri-istri jenderal yang dihasut sebagai Dewan Jenderal. Mungkin kondisiku saat ini yang paling berpengaruh untuk mengetahui bagimana perempuan. Aku tak tahu banyak dengan perempuan. Karena itulah aku berusaha mencari tahu seperti apa makhluk yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok itu.

Coba simak apa yang dilakukan istri Jenderal Nasution ketika pasukan Cakrabirawa mengobrak-abrik rumahnya. Ia menahan pintu kamar dengan tubuhnya padahal dari balik pintu pasukan Cakrabirawa memberondong dengan peluru. Dengan kondisi mempertaruhkan nyawanya, ia masih sempat meminta suaminya, Jenderal Nasution, untuk segera melarikan diri. Dan ketika Jenderal Nasution berhasil melompati pagar rumah, ia setia menjaga dan memeluk buah hatinya tercinta, Ade Irma Suryani, yang tengah tertembak peluru Cakrabirawa. Ini adalah naluri ibu. Demi sang anak, dalam kondisi apapun, ia tetap memeluk dengan penuh kasih sayang. Dengan tangan bersimbah darah anaknya ia berusaha menyelamatkan buah hatinya di tengah ancaman pasukan Cakrabirawa.

Hatiku luluh lantak ketika menyimak dialognya dengan pasukan Cakrabirawa pada saat ia perusaha meraih telepon untuk mencari bantuan. Di depan todongan senjata pasukan Cakrabirawa yang menghentikan tindakannya, ia menjawab pertanyaan pasukan Cakrabirawa dengan tegas, “Pak Nasution pergi ke Bandung. Sudah tiga hari beliau di Bandung. Kalian kesini hanya untuk membunuh anak saya!”. Tangannya masih menyangga tubuh Ade Irma dan berusaha menutup aliran darah yang mengalir. Walaupun tetap saja darah Ade Irma bersimbah ke lantai. Ia tidak bicara lagi dengan pasukan Cakrabirawa. Tapi cukuplah kakinya yang berbicara dengan menunjukkan darah Ade Irma yang bercucuran di lantai di depan pasukan Cakrabirawa.

Seperti inikah ibu idaman anak-anaknya? Seperti inikah istri yang menjadikan suami tak akan berpaling cintanya?

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 4 Komentar »

Syawal

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 6, 2008

Ya Rabbi, sungguh indah sekali cara-Mu memberikan ilmu padaku. Beberapa waktu yang lalu aku agak terkejut ketika tiba-tiba ditanya, “Kira-kira kamu kapan menyelenggarakan akad nikah?”. Saat itu aku tidak menyangka bahwa perjalanan ini begitu cepat. Hingga tak menyangka bahwa awal kehidupan ini akan segera dimulai. Ya Rabbi beruntung sekali aku Kau dekatkan dengan orang-orang shalih sehingga bisa membahas pertanyaan yang hingga kini belum bisa aku jawab.

Ya Rabbi, betapa diri ini bergetar ketika membuka lembar demi lembar hikmah yang ditulis orang-orang shalih. Aku menjumpai petunjuk bahwa ‘Aisyah menuturkan, “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan tinggal bersamaku pada bulan Syawal. Lalu adakah diantara isteri Rasulullah SAW yang lebih beruntung di sisi beliau daripada aku.” Selanjutnya pada dijelaskan pula bahwa An-Nawawi rahimullah berkata, “Hadits ini berisi anjuran menikah di bulan Syawal. ‘Aisyah bermaksud, dengan ucapannya ini, untuk menolak tradisi jahiliah dan anggapan mereka bahwa menikah pada bulan Syawal tidak baik. Ini adalah bathil yang tidak memiliki dasar. Mereka meramalkan demikian, karena kata Syawal mengandung arti menanjak dan tinggi…

Ya Rabbi, beruntung sekali aku Kau dekatkan dengan orang-orang shalih yang pemahamannya lebih baik dariku. Suatu ketika aku berdiskusi dengan seorang shalih mengenai hadits ‘Aisyah di atas. Pemahaman tekstual menyatakan bahwa sangat dianjurkan untuk menikah di bulan Syawal sebagaimana yang telah di contohkan Rasulullah dengan ‘Aisyah. Dan para salafus shalih pun sangat menganjurkan untuk mengikuti sunnah Rasul, yaitu menikah di bulan Syawal. Betapa bahagianya aku jika bisa mengikuti teladan para salafus shalih itu. Dari segi sosiologis, di Indonesia terutama, keluarga biasanya berkumpul pada bulan Syawal. Dan tentu akan sangat bahagia jika menyatukan tali silaturahim diantara mereka dalam suatu prosesi walimah. Baik itu dalam pandangan sosiologis atau pun pemahaman tekstual, pernikahan di bulan Syawal sungguh membahagiakan.

Ya Rabbi, di lain kesempatan Kau mempertemukanku dengan orang shalih lainnya untuk berdiskusi masalah yang sama. Ia lebih memandang secara kontekstual sebagaimana tambahan penjelasan dari An-Nawawi. Pernikahan Rasulullah dengan ‘Aisyah merupakan sebuah perjuangan untuk memutus rantai kejahiliyahan. Yaitu kebodohan kaum terdahulu yang melarang menikah pada bulan Syawal. Maka nilai perjuangan itu pun sebenarnya dapat diambil untuk tradisi masyarakat yang masih jahiliyah di Indonesia ini. Misalnya anggapan masyarakat di daerah tertentu bahwa menikah di bulan Suro (Muharram) itu tidak baik. Anggapan ini perlu dipupus dengan pengorbanan menikah pada bulan Muharram sehingga bisa meluruskan pandangan yang salah. Begitu pula hari-hari yang ditetapkan perhitungan para dukun, entah itu Kamis Pahing, Jumat Kliwon, Sabtu Legi, atau hari apa pun yang ditentukan tanpa dasar syar’i. Tradisi jahiliyah itu haru dipupus dengan perjuangan. Dan perjuangan butuh pengorbanan. Sungguh aku yakin bahwa keberkahan itu datang dari Allah dan bukan pada waktu-waktu yang ditetapkan manusia seperti itu.

Ya Rabbi, aku memang tidak bisa memutuskan sendiri kapan akad nikahku akan terjadi. Ya Rabbi, dalam benakku masih begitu kuat terpatri bahwa menikah itu bukan sekedar untuk diriku sendiri dan istriku nanti. Tapi lebih dari itu, kami akan menyatukan dua keluarga besar dalam ikatan pernikahan. Oleh karena itulah musyawarah antar keluarga sangat dibutuhkan untuk menentukan berbagai hal mengenai prosesi pernikahan. Ya Rabbi yang membolak-balikkan hati, ijinkan aku untuk menaati kedua orang tuaku sebagaimana aku taat kepada perintah-Mu. Ya Rabbi, tenangkan hati ini dalam menunggu kepastian hasil musyawarah antar keluarga kami. Apapun hasilnya, aku mohon keridhoan-Mu. Aku Mohon keberkahan dari-Mu. Aku mohon kelancaran dari-Mu. Ya Rabbi, ijinkan aku menikmati kebahagiaan dalam mengikuti sunnah Rasul-Mu. Kapan dan dimana pun aku.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 13 Komentar »

Ba’ah apaan sih?…Canda 300708

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 2, 2008

Bidadariku, dunia ini kabur dalam pandanganku. Ketika tugas kuliah minta dikebut, kemarin aku malah mendapat problem tambahan. Aku tertidur di kamar Kang Agus #1. Begitu melelahkan setelah pulang dari Senayan mengawasi orang-orang tes CPNS. Dan ketika terbangun aku menjumpai kacamataku patah. Aduh biyung…layar monitor pun kabur. Tulisan di buku terlihat bias. Jadi tambah malas membaca. Padahal aku ga boleh malas membaca. Karena membaca adalah bagian dari mempersiapkan kehidupan. Akhirnya dengan susah payah pun menyempatkan diri untuk meniti lembar demi lembar pengetahuan.

Bidadariku, kamu ingin tahu apa yang aku baca? Sedikit saja ya…sebuah petunjuk di Isyratun nisa’ minal alif ilal yaa. Mengenai sabda Rasulullah, yaa ma’syarasy syabaab, manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj. Fainnahu aghadhdhu lil bashari wa ahshanu lil farji, wa manlam yastathi’ fa’alayhi bish shaum, fainnahu lahu wijaa’. Hadits ini memanggil pemuda sepertiku bidadariku. Dalam buku itu diterjemahkan, “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; sebab berpuasa dapat menekan syahwatnya”.

Terus saja terngiang-ngiang panggilan itu dibenakku. Hingga sering bibir ini bergerak-gerak mengucapkan lafaz-nya berkali-kali. Dan ditengah perjalanan menuju As Sa’adah, aku kepergok Gun-gun#20. “Waduh mas, dari tadi ngucapin qala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang itu terus”. Ya sudah, sekalian aja si Gun-gun#20 ini aku jadikan ajang percobaan. “Gun, ada yang manggil tuh. Kamu ngerasa ga?”. Lantas ku tepuk-tepuk punggungnya, “yaa ma’syarasy syabaab”. Dengan senyum tersungging, ia melirikku. Tak ada kata terucap. Hanya melirik saja seperti di film India. Dan aku lanjutkan, ”manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj”. Rupanya ia mulai bosan,”Aduh mas, dari tadi ituu….terus”.

Sepulang dari As Sa’adah pun masih saja menyebut-nyebut lafaz hadits itu. “Artinya apa sih mas?”, tiba-tiba Prian#14 nyeletuk. Iyap, ini dia, aku dapat satu korban lagi. “Itu panggilan buatmu Yan”. Ia bengong. Ku tunjuk-tunjuk si Prian#14, “yaa ma’syarasy syabaab”. Terlukis tanda tanya kecil di atas kepalanya. ”manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj”. Dan kemudian tanda tanya kecil itu tumbuh besar di atas kepalanya. “A R T I N Y A ?”, pertanyaan keluar dari mulut Prian#14 dengan nada seperti anak SD membaca teks Pancasila…satu…dua…tiga…empat…lima.

Belum juga aku menjawab pertanyaan Prian#14, tiba-tiba Hatfi#13 memanggilku. “Mas, ini nih lihat. Pasti suka deh”. Dalam hati agak bingung juga, apa maksud ustadz-nya Pondok Muslim ini. Ia menunjukkanku tulisan arab gundul di monitor laptopnya. “Waduh Fi, mana bisa aku membacanya. Apalagi mengartikannya”. Dia tertawa terkekeh,”Ini sarah Bulughul Maram, Mas. Kamu dari tadi nyebut-nyebut hadits itu terus. Tahu maksudnya ba’ah ga?”. Dengan polos aku memenggal makna terjemahannya, ”Mampu menikah, Fi”. Dia terkekeh lagi,”Ada yang menarik nih. Disini menurut Imam Shon’ani dalam kitabnya Subulus Salam disebutkan bahwa yang dimaksud ba’ah itu kira-kira sama dengan jima’. Ini coba lihat teksnya. Jadi hadits itu bisa dikatakan manistatho’a minkumul jima’. Nah menarikkan?”. Dalam hati aku bergumam, seandainya para pemuda mengetahui dan memahami petunjuk itu, tentu mereka berbondong-bondong memenuhi panggilan ini.

Waduh, namanya juga kumpulan laki-laki yang haus kasih sayang dan telah terdoktrin untuk menyembunyikan cinta, mendengar topik menarik, langsung melirik. “Artinya apa tadi, Mas?”, Si Prian#14 masih minta penjelasan. Nah, ketika disebutkan terjemahnya, malah semakin tertarik dia. “Nah lho Pam, kamu sudah ba’ah belum?”, aku lempar pertanyaan ke arah Papam#12. “Pasteehh!”, ia mengangkat tangannya tinggi lalu menariknya kebawah. “Kok ga ada tanda-tanda yatazawwaj?”. “Waduh mas, bentar dulu napa. Bidadariku kan baru saja terbang. Sayapku ini belum kuat untuk mengejarnya”. Gun-gun#20 senyum-senyum saja dari tadi sambil berdiri. “Kalo Pak Pres ini sudah mampu belum?”, si Papam#12 me-rebound pertanyaan ke Gun-gun#20. “Ya pastilah”, jawabnya lugas. “Masih kecil gitu sudah mampu?”, tambahan Papam#12 setengah menghina si kecil Gun-gun#20. “Ndak papo Pam, yang penting jadi idola banyak perempuan di kampus kito”, dengan nada Sriwijaya-an si Gun-gun#20 malah membusungkan dada. Lantas kubelokkan pandanganku ke Prian#14,“Kalo kamu Yan, sudah ba’ah belum?”. Melotot dia,”Ya sudah lah mas. Masa ya sudah dong. Bacaannya aja majalah, bukan majadong”. “Buktinya mana?”, seperti dikomando dirigen, Papam#12 dan Hatfi#13 mengucapkan pertanyaan yang sama. “Ya, entar lah. Masa dipaksa sekarang”, kata Prian#14 dengan nada tinggi. “Kalo dipaksa sekarang, jadi kasus Ryan dong!”. Dan tawa pun meledak ditengah diskusi itu.

Tiba-tiba Tegwan#17 tergopoh-gopoh dengan perut buncitnya menghampiri forum yang tengah terbahak-bahak. “Apaan sih? Bahas apaan sih? Ulangi dari awal dwonk”. Waduh Teg, kalo dari awal ya capcay deh…….

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »

Alhamdulillah….

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 26, 2008

Alhamdulllah ya Allah…

jalan ini semakin lebar…

jalan ini semakin jelas…

tujuan ini semakin dekat…

maka sampaikan aku pada kesempurnaan Dien-Mu…

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 4 Komentar »

‘Isykariiman aumut syahiidan

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 26, 2008

‘Isykariiman aumut syahiidan

Hidup mulia atau mati syahid

Bidadariku, tidakkah kamu melihatku sekarang? Berdiri kokoh mengenakan jaket hitam seragam MBM dengan tulisan meyakinkan dibagian belakang. ‘Isykariiman aumut syahiidan. Bidadariku, ini lah jalanku. Dan sekarang lihatlah api perjuangan itu membakar hebat hidup ini.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Kamu ingat kisah Ka’ab bin Malik, Bidadariku? Ka’ab yang diboikot hidupnya selama 50 hari karena tidak bergabung dengan Rasulullah dan mujahid lainnya di medan jihad. Ka’ab yang menderita karena Rasulullah tidak bergeming ketika dia mengucapkan salam. Ka’ab yang merana karena tak ada tegur sapa baginya pada saat ia ke masjid menunaikan shalat jama’ah. Kesunyian yang ia rasakan ditengah hingar-bingar dakwah masjid saat itu membuatnya malu. Dan ia pun hanya menunaikan shalat di rumah. Lantas rumahnya pun mengalirkan bencana. Istri tercintanya diminta Rasulullah untuk meninggalkannya dan tidak memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Itu lah Ka’ab yang menderita dalam kesendirian ditengah kobaran semangat dakwah dan perjuangan Rasulullah. Ka’ab yang dikucilkan karena tidak segera menyambut panggilan jihad. Ka’ab sebenarna sudah menyiapkan segalanya untuk melangkah ke medan perang. Ka’ab sudah menyiapkan harta dan dirinya. Ka’ab tinggal melangkah menuju medan perang. Namun hanya masalah tidak segera menyambut. Sekali lagi hanya karena tidak responsif. Sehingga Ka’ab tertinggal dari jama’ah jihad Rasulullah. Dan Ka’ab bukan lah sahabat Rasulullah yang remeh temeh. Ditengah hukuman pemboikotan itu, ia di tawari suaka politik oleh Raja Romawi. Bayangkan, ketika tidak ada kawan dan saudara yang bisa diajak bertegur sapa, Ka’ab ditawari jabatan dan suaka politik di negara lain. Namun Ka’ab menolak tawaran itu. Ia lebih memilih Allah dan Rasul-nya serta menikmati hukuman yang ditimpanya. Itulah keteguhan hatinya.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Bidadariku, satu lagi kisah sahabat Rasul yang hendak berjuang ke medan jihad. Sahabat itu tidak memiliki apa-apa. Ia tidak memiliki pedang atau pun baju perang. Ia hanya memiliki tubuh. Dan dengan apa yang ia miliki itu saja ia berangkat ke medan perang. Ia membawa panji Islam di tangan kanannya. Di tengah sengit peperangan tangan kanannya di tebas pedang oleh musuh Islam. Biarlah tangan kanan itu lepas, namun panji Islam harus tetap tegak dan jelas. Lantas ia memegang panji Islam dengan tangan kirinya. Tak lama kemudian ganti tangan kirinya itu yang putus tak kuasa menahan pedang terhunus. Ia tidak lagi memiliki kedua tangan yang utuh. Namun semangat menegakkan panji Islam telah membara. Ia merengkuh panji Islam dengan kedua sisa tangannya. Hingga syahid menjemputnya.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Ini lah jalan yang aku pilih, Bidadariku. Jalan perjuangan. Jalan jihad. Jalan dakwah. Penuh onak dan duri. Penuh tantangan dan rintangan. Namun tak gentar hati ini demi kejayaan Islam.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Sekarang lihatlah umat ini, Bidadariku. Kondisi yang memprihatinkan. Aqidah yang lemah. Lihat saja bagaimana bid’ah, khurafat, dan tahayul merajalela merusak kehidupan bangsa. Bukan hanya tayangan film dan televisi yang memberikan cerita hantu blau dan tak bermutu. Berapa banyak pers mistik yang justru tidak mencerahkan umat. Praktek perdukunan telah menambah kelam kehidupan. Tidak kah kamu lihat kematian Mak Erot yang di ekspos habis-habisan di media, Bidadariku? Tidak kah kamu perhatikan maraknya iklan SMS ramalan perdukunan. Apakah kamu tidak melihat ini adalah ladang jihad, Bidadariku?

‘Isykariiman aumut syahiidan

Bidadariku, tidakkah kamu melihat kebodohan telah merusak pendidikan umat ini? Sudahkah kamu menghitung berapa banyak anak-anak yang putus sekolah karena tidak memiliki biaya? Sudahkan kamu mendapatkan angka statistik berapa pemuda yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena tak mampu membayar uang gedung, uang sumbangan pendidikan, dan pungutan lainnya? Tidakkah kamu melihat bagaimana pemuda-pemuda yang ada dikampus kesulitan memahami mata kuliah dan akhirnya menyerah ditangan Drop Out? Apakah kamu tidak melihat ini adalah ladang dakwah yang luas?

‘Isykariiman aumut syahiidan

Bidadariku, lihatlah akhlak bangsa ini. Jikalau cerminan akhlak bangsa ini adalah para pemimpinnya, maka kamu akan memandang betapa bejat akhlak bangsa ini. Pergilah ke Senayan. Lantas hitung berapa koruptor yang menjelma sebagai pembuat undang-undang. Pergilah keliling Sudirman-Thamrin. Tanyalah penguasa gedung pemerintahan, seberapa banyak kecurangan keuangan yang mereka sembunyikan. Pergilah mengamati pemilihan kepala daerah di negeri ini. Lihat bagaimana mereka menghambur-hamburkan uang demi jabatan sedangkan di tempat lain banyak rakyat yang kelaparan. Atau datanglah ke penjara yang semakin penuh sesak dengan pelaku dosa. Tidakkah kamu berpikir mengenai dampak korupsi, wahai Bidadariku? Jika kamu berpikir zina, kumpul kebo, atau free sex adalah dosa besar, maka bandingkan dengan korupsi. Free sex hanya melibatkan segelintir pelaku. Paling-paling jika pelakunya beruntung, mendapatkan penyakit AIDS biar mereka sadar dan bertaubat kembali ke jalan yang benar. Bandingkan dengan koruptor. Ia tidak hanya harus bertaubat menghadap Rabb Al Izzati. Tapi dosa besarnya harus ditembus dengan meminta maaf kepada seluruh rakyat di negeri ini. Bagaimana caranya, wahai Bidadariku? Aku tak bisa diam tidak segera merespon melihat medan peperangan ini, Bidadariku.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Tentu masih banyak bidang bidang dakwah yang menjadi tugas umat Islam. Lihatlah betapa luasnya medan jihad ini. Janganlah kamu memintaku menyebutkan satu per satu. Aku tak kuasa. Lebih baik kamu sekalian menceburkan diri dalam lautan dakwah ini. Lantas jika kamu atau aku sudah meniti satu bidang dakwah apakah kamu atau aku merasa hebat? Meremehkan? Pengkultusan? Serampangan? Egois? Berpecah? Parsial? Asal-asalan? Tidak betanggung jawab? Tidak memiliki dasar? Saling bertentangan? Itulah penyakit umat dalam dakwah. Itulah penyakit yang tidak akan membawa perubahan.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Bidadariku, aku tidak ingin seperti Ka’ab bin Malik yang tidak segera merespon panggilan jihad. Aku pun tidak perlu menunggu mendapatkan pedang untuk berperang. Cukup seperti sahabat Rasul yang mengibarkan panji Islam. Ini lah aku adanya dan aku persembahkan untuk perjuangan Islam. Ini jihadku. Ini risikoku. Wahai Bidadariku, jika kamu tidak berani menghadapi risiko jalan jihad ini, maka aku tidak membutuhkanmu. Sekali lagi Bidadariku, jika kamu hanya setengah-setengah dalam meniti jalan dakwah ini, maka aku tak butuh kamu berada di sisi hidupku. Dan camkan Bidadariku, bahkan jikalau tidak ada seorang pun bidadari di dunia ini yang siap menghadapi risiko ini bersamaku, maka bagiku cukup Allah dan Rasul-Nya saja yang menjagaku. Cukup Allah dan Rasul-Nya saja yang mengobarkan api jihad ini di hatiku. Biarlah Allah membeli diri dan hartaku dengan surga. Insya Allah, Allah telah menyediakan 60 bidadari di surga. Allahu Akbar…!!!

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Jangan Patah Hati Sobat!

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 25, 2008

Bidadariku, kali ini aku menulis untuk seorang sobat dekatku. Semoga Allah memberinya kesabaran yang melimpah ruah. Bidadadariku, cerita ini berawal dari sebuah SMS yang aku terima kemarin, Kamis, 24 Juli 2008, pukul 18.16, tepat esaat sebelum kakiku melangkah ke As Sa’adah.

“Allahu Akbar!

Jelang pulang kantor ada email masuk!

Akhwat yg sedang berproses denganku memutuskan mundur dr proses ta’aruf tanpa alasan yg jelas.

Ini ta’aruf ke-4ku!

Tertolak lagi

Hayo Wip ke Rinjani saja”

Teruntuk sobatku, SMS yang kamu kirimkan kemarin adalah cerminan Bilal bin Rabah era perjuangan milenium keislaman. Aku akan membagi kisahnya agar kamu dan aku bisa mengambil hikmah perjuangan dan kesabarannya.

Kamu tentu tahu sobatku, bahwa Bilal bin Rabah adalah seorang budak hitam. Namun status sosial dan warna kulitnya tidak menghalangi kemantapan hati untuk menjadi As Sabiqunal Awwalun. Suatu saat Bilal menjatuhkan pilihan hatinya kepada seorang gadis bernama Hind. Bilal tidak menunggu lama untuk melamar gadis impiannya. Keluarga Hind yang tidak mengetahui siapa Bilal lantas melayangkan pertanyaan, “Siapakan Anda? Apa maksud kedatangan Anda?”.

Sobatku, tahukah kamu bagaimana jawaban Bilal? Merinding aku membaca kisahnya, Sobat. Dengan rendah hati Bilal menjawab,”Aku Bilal bin Rabah. Seorang sahabat Rasulullah. Dulu aku orang yang sesat, tetapi Allah telah menuntunku. Dahulu aku seorang budak dari Habasyah, tetapi Allah telah membebaskanku. Kedatanganku kemari ingin melamar seorang gadis berama Hind.” Bilal lantas melanjutkan perkataannya,”Jika lamaranku diterima aku akan katakan Alhamdulillah, tetapi jika lamaranku ditolak, aku akan mengatakan ALLAHU AKBAR!”.

Dan rupanya semangat itu telah menyusup dalam lubuk hati dan aliran darahmu, wahai Sobatku. Kamu telah dengan lantang meneriakkan pekikan jihad, ALLAHU AKBAR! Maka aku ucapkan selamat bagimu karena terbebas dari belenggu nafsu. Aku yakin kamu sepakat dengan itu. Bukan nafsu, tapi perasaan yang wajar dan lumrah bagi manusia. Tentu kau ingat pelajaran yang disampaikan Ali bin Abi Thalib:

jika mencintai seseorang, mencintailah wajar-wajar saja,

sebab kau tak tahu kapan kau balik membencinya,

jika membenci seseorang, membencilah wajar-wajar saja,

sebab kau tak tahu kapan balik membencinya.

Sobatku, merapatlah, aku akan membisikkan sesuatu untukmu. Lirih saja, biar hatiku juga mendengarnya. Sobatku, adalah lumrah dan wajar jika di dalam hatimu tumbuh rasa cinta terhadap gadis yang kamu sangka akan menjadi pasangan perjalananmu. Namun sabarlah wahai Sobatku, jangan terburu-buru. Bisa jadi lamaranmu ditolak gadis itu atau orang tuanya. Tapi yang lebih penting lagi, jangan patah hati bila itu terjadi. Patah hati hanya akan menjerembabkanmu ke dalam jurang keterpurukan. Patah hati tidak memberikan solusi. Patah hati hanya akan mengotori hati.

Sobatku, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu. Lepaskan bebanmu sejenak. Serahkan kepada Rabb Sang Penguasa Kehidupan. Biarkan semesta menunjukkanmu calon bidadari yang menyejukkan hatimu. Dan bersiaplah untuk menjemputnya. Siapkan dirimu untuk menerima kehadirannya. Tak perlu bersusah payah mengejarnya dengan segala daya. Cukup memperbaiki diri yang ada. Lantas biarkan akhwat yang telah menolak lamaranmu hanya memiliki dua pilihan. Pertama, ia menyesal telah menolakmu dan kembali mempertimbangkan untuk menerimamu sebagai pendamping hidupnya. Atau kedua, biarkan dia cemburu karena ada bidadari yang lebih baik telah beruntung memilihmu dengan segala kebaikanmu.

Sobatku, ingat kembali kisah Bilal bin Rabah yang menunggu jawaban dari keluarga Hind. Keluarga Hind menunda memberikan jawaban atas lamaran Bilal. Keluarga Hind mencari infomasi mengenai Bilal kepada Rasulullah. Dan kuncup-kuncup bunga cinta mulai tumbuh ketika Rasulullah memberikan gambaran secara gamblang,”Siapa kalian yang ingin menanyakan kepribadian Bilal? Mengapa kamu memandang rendah kepada seorang bekas budak berkulit hitam legam, padahal Allah menyebutnya sebagai ahli surga?”. Sobatku, kuncup-kuncup cinta itu semakin merekah menyambut Bilal dan Hind menikah. Pernikahan yang bahagia dan keduanya saling mencinta.

Sobatku, biarkan kelebihan diri membumbung tinggi. Tak perlu kau ungkapkan itu. Biarkan saja semesta yang menunjukkannya kepada calon bidadarimu. Cukup mempersiapkan dan memperbaiki diri. Seperti kebaikan Bilal yang dia sendiri tidak mengungkapkan, tapi Rasulullah yang memberi keluarga Hind penjelasan. Seperti ajakanmu mendaki Rinjani. Biarkan rinjani itu tetap tinggi. Dan kita yang mempersiapkan menggapai ketinggiannya. Karena sejatinya bukan Rinjani yang kita taklukkan, tapi diri kita. It is not the mountain we conquer, but ourselves (Sir Edmund Hillary, the first people who reached top of Everest in 1953)

(Lebaran hikmah menemaniku menulis, Untukmu yang akan dan telah menikah [Syaikh Fuad Shalih], Bilal bin Rabah sahabat terkemuka Rasullah [M. Abdul-Rauf], Jejak Sang Petualang [Harry Wijaya dan Christian Wijaya]. Semoga Allah melimpahkan berkah untuk mereka)

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 10 Komentar »

menunggu

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 23, 2008

kemarin aku ngenet menunggu kabar gembira

hari ini aku ngenet menunggu kabar gembira

tapi belum datang jua

tentu lah sabar yang menjadi solusinya

tentu semua terasa bahagia

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »

Sms dari orang tak dikenal

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 15, 2008

Bidadariku, semalam aku mendapatkan sms dari orang yang tak dikenal. Tadi malam aku baru saja selesai membantu beberapa pekerjaan Bapak. Tiba-tiba pada pukul 22:50 HPku berbunyi, ada sms dari nomor +6285731596628. Nomor itu tidak dikenal phone book-ku. Apakah kau tahu ini nomor siapa bidadariku? Bunyi sms-nya seperti ini:

“Mgkn aq slama ini salah menilai, apa pentingnya pernikahan bg laki2 yg bgtu ambisi dg karir krn keegoannya”

Aku agak bingung dengan maksud sms itu. Tanda tanya besar tergambar dalam benakku. Apa maksud pengirim sms itu? Siapakah dia? Lantas aku balas sms itu dengan menanyakan identitasnya dan memberikan penjelasan singkat bahwa menikah untuk mendapatkan separuh agama itu jauh lebih berharga dibandingkan apa yang dia sms-kan.

Beberapa menit berselang, tepat pukul 23:00,pengirim sms misterius itu kembali memberiku pesan singkat.

“itu klu km.tp ktk ambisi karir mjd prioritas,mnkh adlh plengkap sj mgkn bs jd hny renc tnp tau kpn tlaksana.aq lelah,aq hmpir tdk memiliki kata2 lg.”

Membaca sms itu, aku mengira bahwa pengirimnya laki-laki. Dan mungkin ia tidak sependapat denganku. Tak masalah bagitu ia berbeda pendapat. Toh itu adalah pilihannya. Tapi kewajibanku adalah mengingatkan. Itu saja. Dengan harapan dia seorang muslim, aku lantas membalas sms padanya dengan memberi saran agar percaya kepada Muhammad, bahwa kebutuhan laki-laki itu sebenarnya hanya tiga, yaitu: kendaraan yang bisa dibawa kemana saja, rumah yang lapang, dan istri yang shalihah. Aku juga masih menanyakan identitasnya dan menutup sms dengan saran untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sembilan menit kemudian ia mengirim sms padaku.

“itu teori yg mengapung bgny. Tdk slamany laki2 angkuh itu kuat,bs jd sbnarny itu adlh cara traman utk mnyembunyikn kerapuhany,hny laki2 pengecut yg tdk brani mengambil kptsan”

Bidadariku, terus terang aku agak geram saat itu. Aku merasa ada nuansa penghinaan kepada Muhammad. Bahwa teori Muhammad itu hanyalah teori yang mengapung padahal menurutku apa yang disampaikan Muhammad adalah tuntunan agung. Dengan merasakan ganjalan di hati, aku membalas sms itu dengan memberinya beberapa pertanyaan. Lantas apa dasar dia mengambil keputusan? Teori agung Muhammad yang menurutnya mengapung, ataukah keangkuhannya? Siapa pula yang pengecut? Padahal dia menyebut nama saja tidak berani.

Lama dia tidak menjawab pertanyaan di sms-ku. Aku membiarkannya saja sembari menonton J-TV, televisi lokal Jawa Timur yang saat itu sedang menayangkan kampanye para calon gubernur Jawa Timur. Hingga aku tak sadar mataku menutup tak tahan kantuk. Tiba-tiba Hpku berbunyi kembali tepat tiga menit sebelum ganti hari. Ada sms dari si misterius.

“Kptsn apa?rasanya satu2ny kptsn bodohku adlh mntup telinga ktk ada yg mberi saran atas taarufku”

Aku tak membalasnya. Mataku sudah tak tahan untuk diistirahatkan. Namun terbersit kecurigaan bahwa si misterius ini kemungkinan adalah perempuan. Siapakah dia? Aku lebih memilih tidur daripada mencari jawabannya. Pikirku, besuk pagi saja aku telepon dia.

Pagi ini masih tersas dingin seperti hari-hari kemarin. Rutinitas ibadah telah membawa ketenangan hatiku. Teringat aku dengan sms semalam. Dan aku coba menelepon si misterius dengan nomor lain. Agak lama si misterius itu mengangkat HP-nya. Hingga terdengar suara yang tidak jelas dengan nuansa agak bermalas-malas memulai pembicaraan. Benar kecurigaanku. Ternyata dia perempuan. Mungkin ia baru bangun tidur. Suaranya masih serak, tak jelas aku mendengarnya. Aku pun berkali-kali melayangkan pertanyaan padanya. Kira-kira separuh nyawanya belum menyatu. Ia tidak bisa menangkap sepenuhnya pertanyaanku. Tak lama durasi telepon itu. Rupanya ia tersadar bahwa yang meneleponnya adalah orang yang dia sms semalam. Tuuutt…..telepon pun ditutup. Dasar misterius. Lantas aku sms dia

“Asw.Maaf mbak,km siapa?Aq akan brtrimakasih bgt klo mbak brknan mjelaskn mksd sms k aq smalam”

Tak lama kemudia ia membalas sms-ku:

“Tdk penting,yg penting aq sdh blg ke kamu,sdh cukup,tdk perlu telf aku”

Semakin tidak jelas arah komunikasinya. Sekali lagi aku sms. Jika hasilnya tidak positif, sudah tak ada yang perlu dilanjutkan. Lebih banyak kesia-siaannya.

“Maaf aq kira kamu semalam laki2.tnyt prmpuan ya.aq ga ngerti maksud & alasan sms km smlm.klo ga mau ditelp, tlg dijelaskan walau dg sms.trims”

Benar. Bukan balasan positif yang aku dapatkan. Sepotong pengakuan dari sms-nya yang aku masih tidak bisa mengerti apa maksudnya.

“Tdk ada yg perlu djlaskn,smua sdh jelas.

Dl aq tdk pnh bpndpat bgt kpd laki2,tp tnyt msh ada laki2 yg spt itu.

Trmksh sdah mjd tmanku bbagi.hny Allah yg bs mblasnya.”

Bidadariku, apakah kamu tahu apa maksud pengirim sms itu? Apakah itu peringatan bagiku yang tidak segera mengambil keputusan? Padahal menurutku aku sudah mengambil keputusan. Aku hanya butuh jawaban siapakah dan dimanakah kamu wahai bidadariku. Ah, semoga perjalanan kembali ke kampus selama lebih dari 15 jam nanti aku tidak menjumpai hal-hal yang misterius seperti ini.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Menjelang Maghrib bersama Mbok Yah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 15, 2008

Bidadariku, kali ini aku akan menceritakan sesuatu untukmu.

Memang dari dulu tak banyak yang berubah dengan rumah Mboh Yah. Seperti sore kemarin pun pohon-pohon turi yang baru memproduksi sedikit bunga nampak riang menyambut petang. Udara dingin mulai mencubit genit kulit keriput Mbok Yah sebagai ungkapan kegembiraan bahwa mentari sebentar lagi meninggalkan siang. Sepiring umbi rebus menemani perbincangan kami. Aku tak tahu jenis umbi apa itu. Kata Mbok Yah itu umbi katak. Umbi empuk itu begitu lembut di mulut. Tak perlu susah-susah menguyah. Diamkan saja beberapa detik didalam mulut, maka sejurus kemudian kepyar butiran tepungnya yang terasa sedikit manis karena saripatinya mengendap menjadi glukosa.

Begini lah di desa. Tanahnya begitu subur. Tak ribut dengan kampanye anti global warming. Karena disini tanaman menjadi sumber makanan dan pepohonan menjadi bahan papan. Setelah tanaman diambil umbi, buah, atau batangnya sebagai bahan makanan, tanaman itu ditancapkan lagi dan tumbuh berkembang untuk menghasilkan bahan makanan lagi. Maka tak susah mendapatkan berbagai macam tanaman yang bisa dimakan di desa. Benar kata Koes Plus, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Begitu pula dengan pepohonannya. Walau tidak selebat dahulu, tapi menanam pohon kembali sudah menjadi tradisi. Tapi memang tidak dapat dipungkiri, beberapa oknum pencuri kayu hutan yang bekerja seperti kelelawar sering luput dari perhatian. Begini lah desa. Aku suka suasananya.

Aku masih menikmati butiran tepung umbi bercampur beberapa molekul glukosa di dalamnya. Aku dan Mbok Yah larut dalam obrolan dalam bahasa Jawa. “Le, Wan, kamu apa belum berminat punya gendhongan seperti Paklik-mu Yanto itu?”. Tiba-tiba Mbok Yah membuka topik pembicaraan baru.

“Ya pengen lah Mbok”

“Lantas pilihanmu yang seperti apa?”

“Ga ribet kok Mbok, yang penting paham agama”

“Jangan lupa diperhatikan bibit, bobot, bebet-nya yo le”

“Kalo itu bukan tugasku Mbok. Ada orang lain yang menilai ketiga hal itu”

“Lho kok malah dipasrahkan sama orang lain. Ga khawatir salah pilih?”

“Ya enggak lah Mbok. Kan dilihat dulu siapa yang memberikan pilihan. Kalau aku sudah yakin dengan keshalihan atau keshalihahan orang yang memberikan pilihan itu, ya aku percaya.”

“Ya itu kalau keseharian di rumah lho Le. Kalau perempuan itu ada di tempat lain, bagaimana kamu bisa tahu pergaulannya?”

“Ya aku lihat teman-temannya Mbok. Kalau teman-temannya mayoritas baik-baik, insya Allah perempuan itu juga baik”

“He, yo wis kalau begitu. Yang Mbok kuatirkan itu kamu grusa-grusu mencari pasangan. Jangan lupa rembugan sama orang tua yo Le. Kalau Mbok-mu ini sudah ga bisa lagi mencarikan pasangan yang pantas buatmu. Mbok hanya bisa berpesan, sing sabar lan sing longgar. Bersabarlah dalam menjalani usaha mencari pasangan hidupmu. Dan longgarno (lapangkan) hatimu dalam menghadapi perbedaan dan masalah. Semuanya bisa diselesaikan dengan musyawarah kok Le”

Begitulah pesan Mbok Yah. Mbok Yah memang bukan orang tua yang berpendidikan formal. Tapi umurlah yang menjadikan Mbok Yah matang. Pengalaman hidupnya adalah sari pati perjuangan.

Bidadariku, jika kita sudah bertemu nanti, aku ingin mengajakmu ke rumah Mboh Yah. Melihat kesederhanaan dan keindahan berbagi walau hanya beberapa butir padi.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »

Pernikahan Sahabatku Revany Febrianto

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 12, 2008

Bidadariku, setelah aku pulang dari kuburan Mbah Sarji kemarin, aku bersama ibu dan bapak menghadiri walimah Revany Febrianto. Dia adalah sobat karibku semasa SMA. Kebetulan pula ayahnya adalah teman dekat bapakku. Dalam perjalanan menuju tempat walimah, kami menghampiri keluarga lain yang akan menghadiri acara itu pula. Hingga akhirnya mesin kotak bapakku terisi tujuh orang. Bu Nurul Badriyah, Pak Rohmat dan istrinya, Bu Sukartini, ibuku, bapakku, dan aku sendiri.

Disepanjang jalan tak henti-hentinya orang-orang tua itu bercanda. Dan sebagian besar topiknya adalah menyerang keberanianku. “Wan, setelah Revany menikah denger-denger terus kamu. Kapan, Le?”, Bu Rohmat melempar bahan pembicaraan. “InsyaAllah tahun ini Bu”, begitu aku jawab sambil melirik ekspresi bapak yang hanya tersenyum. “Lha calonnya orang mana, Wan?”, Bu Sukartini menimpali. “Rahasia”, enteng saja aku menjawabnya. “Halah Wan, sama mboke dhewe aja kok pakai rahasia-rahasia segala”, Bu Sukartini agak kecewa. “Ya begitu itu lho Bu anak model baru. Pengennya ngasih kejutan. Sama seperti mbaknya. Si Lia (putri bu Nurul) itu juga begitu. Tahu-tahu bilang ada yang ingin kenalan. Tak lama kemudian lamaran”, begitu bu Nurul berkomentar. Memang antara keluargaku dan keluarga Pak Eddy Yusuf (alm) suami bu Nurul Badriyah itu sudah seperti tahu sama tempe. Sama-sama terbuat dari kedelai. Alias tak jauh beda.

Sesampainya di walimah Revany, aku disambut Renu. Adik kandung Revany itu nampak kaget melihat kedatanganku. “Lho, kok kebetulan pulang mas?”. Tentu dalam rangka menghadiri walimah sobat karibku itu aku pulang kampung. Hm…sekalian menyusun agenda bersama orang tua. Ketika naik ke pelaminan, kaget pula ayah dan ibunya Revany. “Biyuh…biyuh…Mas Wirawan to ini tadi. Hayo mas sekarang tinggal nunggu undangan mas Wirawan. Sudah ada calonnya belum?”, seloroh ibunya Revany samil menampar-nampar sayang pipiku. Aku hanya membalas dengan senyuman. “Hiiiihhh…ini bocah tetep aja dari dulu. Sama ibu’e dhewe pakai rahasia-rahasiaan segala”, gemes ibunya Revany melihat ekspresiku hingga tangannya tak tahan nguyek kepalaku. Hingga didepan Revany, “Wis saiki giliranmu!”, dalam pelukannya ia tak banyak membisikkan kata. Aku balas dengan mulut menganga. Dia pu geleng-geleng kepala.

Tak lama kami berada di walimah itu. Setelah menikmati hidangan, rombongan kami segera meninggalkan tempat. Di sepanjang jalan masih saja aku dijadikan bahan ejekan. Yang pemalu lah. Cowok cemen ga pemberani lah. Hingga masih dibilang mbok-mboken. Ah, biarlah apa mereka kata. Yang penting berjalan dan berdoa. Nanti semesta juga akan membantuku. Dan Allah pun menganugerahkan aku bidadari yang sholihah untukku.

Bidadariku, siapa bilang aku tidak ingin segera menikah denganmu!

Bidadariku, aku hanya butuh jawaban siapakah dan dimanakah kamu.

Bidadariku, benar kata Revany, ini giliranku. Aku akan menjemputmu.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 3 Komentar »

13 Juli 2008 Harapan Dini hariku untuk Bidadariku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 12, 2008

Tahukah kau tengah malam ini aku menyebut-nyebutmu bidadariku? Terbangun dalam kegelisahan. Menunggumu dalam kecemasan. Beruntung keresahan ini tak terbaca oleh adikku yang sedang tidur pulas disampingku. Aku sekarang ada dirumah, bidadariku. Di rumah orang tuaku yang semuanya mengakui bahwa yang paling cantik di rumah adalah ibuku. Mungkin perempuan seperti ibuku mampu merasakan bagaimana kecemasan, harapan dan gundah menyerangku.

Dua hari yang lalu ketika aku sampai di rumah, malam harinya semua anggota keluarga makan malam di luar. Rupanya ibuku sudah mempersiapkan acara itu, bidadariku. “Nanti mampir toko baju dulu”. Begitu ibuku berkata. Aku mengira kedua adikku yang sebentar lagi mulai menyelesaikan liburan sekolahnya akan dibelikan baju seragam. Namun bukan itu maksud ibuku, bidadariku. “Bagaimana bidadarimu akan menghampirimu jika penampilanmu tetap seperti ini!ibu akan membelikan baju untukmu. Biar kamu tidak asal-asalan berpenampilan”. Luluh lantak hati ini, bidadariku. Aku mengaku tak bisa memilih pakaian yang cocok, bahkan untuk diriku sendiri. Asal menutup aurat. Itu saja yang selama ini dalam benakku. Beruntung aku punya ibu yang pandai memilihkanku pakaian. Dan memang selama ini adalah ibuku yang memilihkanku baju.

Nyaris aku tak pernah membeli baju. Beberapa waktu yang lalu ketika ibuku bertanya masalah baju, aku bisa menjawabnya karena aku diberi hadiah baju oleh adik kelasku. Ucapan terima kasih katanya. Mungkin adik kelasku itu juga prihatin bagaimana aku berpenampilan memprihatinkan. Baju itu-itu saja yang aku pakai. Juga pada saat aku mendapatkan hadiah dari teman-temanku setahun yang lalu. Ucapan terima kasih juga kata mereka. Dan mereka sangat terharu ketika aku ceritakan bahwa sehari sebelum mereka datang membawa hadiah aku mendapatkan musibah. Beberapa bajuku diambil orang tanpa ijin. Mungkin orang itu sudah sangat membutuhkan sehingga hanya terpikir pilihan itu.

Pagi kemarin aku hendak memakai baju baru pemberian ibu untuk takziyah. Mbah Sarji tetanggaku dipanggil Allah. Tapi ibu melarang memakai baju baru itu. “Memangnya kamu hanya akan diam dan duduk-duduk saja sambil ngobrol tak jelas di tempat jenazah? Mbah Sarji itu orang miskin, Le. Nanti kamu pasti akan banyak bergerak. Kasihan bajumu kena keringat dan kotor. Pakai kaus ini saja”. Tak banyak bicara aku iyakan saja apa kata ibu. Dan benar keadaannya, bidadariku. Hanya segelintir orang yang takziyah ke rumah Mbah Sarji. Tepat pula apa kata ibuku,sebagian besar mereka hanya duduk-duduk dan ngobrol tak jelas apa yang dibicarakan.

Benar pula apa kata ibuku. Di pagi hari saat mentari sedang semangat menunjukkan kedigdayaannya itu aku bergumul dengan keringat dan debu. Hanya sedikit anak muda yang datang di rumah duka Mbah Sarji. Dan lebih parahnya lagi yang membawa keranda ke kuburan hanya delapan orang. Yang mengantar jenazah Mbah Sarji jauh lebih sedikit dibandingkan semua pelayat yang tak lebih dari lima puluh orang. Di depan keranda adikku mulai resah dengan nisan yang dipanggulnya. Maklum jarak antara rumah Mbah Sarji dengan kuburan menuntut jalan kaki kurang lebih tiga kilo meter. Dan aku masih setia dengan pikulan keranda sebelah kiri belakang bergantian dengan seorang familiku. Tak lebih dari lima belas orang yang mengantarkan jenazah hingga kuburan. Aku heran pada pelayat (atau penduduk yang tidak melayat) yang lain. Apakah mereka tidak menyadari ada pahala sebesar Gunung Uhud disetiap aktivitas mengurusi jenazah?

Belum selesai keherananku dengan pembawa keranda, di kuburan aku dihadapkan pula pada adat kejahiliyahan. Pak Modin men-talkin (istilah dari Bapakku) jenazah yang dikuburkan. Kira-kira perkataan talkin Pak Modin kepada jenazah seperti ini, “Mbah Sarji sebentar lagi mbah akan didatangi malaikat Munkar dan Nakir. Nanti kedua malaikat itu akan menanyakan beberapa hal kepada Mbah Sarji. Jika ditanya siapa Tuhanmu, jawablah Allah. Jika ditanya siapa Rasulmu, jawablah Muhammad SAW. Jika ditanya apa kitabmu, Jawablah AlQur’an. Jika ditanya apa kiblatmu, jawablah ka’bah”. Ketika Pak Modin ‘berkomunikasi’ dengan jenazah Mbah Sarji itu, aku melempar senyum kepada adikku yang jongkok di samping Pak Modin. Hingga dia berbisik, “Kok malah ketawa kenapa mas?”. Enteng saja aku balas,”Orang mati kok diajak ngomong!”. Dia lantas pindah tempat ke belakang sambil menutupi mulutnya menahan tawa.

Begitulah model kejahiliyahan di jaman modern, Bidadariku. Aku harap setelah kau menjadi bagian dari keluargaku, kau pun akan menjadi bagian dari misi dakwah kita. Apapun risikonya. Walaupun itu pahit seperti yang pernah kami rasakan pada saat nenekku meninggal dulu. Kami tak ingin mengotori akidah yang murni ini dengan bid’ah, churafat dan takhayul. Dan keluargaku yang berusaha menunjukkan bagaimana mengurus jenazah sesuai dengan syari’at. Dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan. Tanpa embel-embel menyembelih ternak. Tanpa tambahan adzan dan iqomat di liang lahat. Tanpa talkin-talkinan. Dan reaksi negatif pun mengalir deras. “Keluarga yang aneh karena tidak ikut adat”. Kami pun membiarkan apa kata mereka yang tidak tahu. Justru seperti itulah kami mendakwahkan bagaimana mengurus jenazah yang benar. Sekali-lagi bidadariku, aku berharap kau akan menjadi bagian dari amunisi dakwah kami.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 2 Komentar »

Kafa’ah…kafa’ah…kafa’ah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 8, 2008

Ya Rabbi, betapa tubuh ini menggigil karena malu. Malu melihat kerendahan diriku. Malam itu tak nyenyak tidurku. Tubuhku lunglai, mataku terpejam, namun pikirku melayang. Adalah kafa’ah yang menumpuk di benakku. Malu aku ya Rabbi. Kubuka kembali halaman 177 buku Isyratun Nisaa’ minal alif ilal yaa’, kubaca kembali, dan maih tetap seperti yang aku baca dahulu kala. Kafa’ah…ya Allah…kafa’ah. Malu aku ya Allah…

Saat aku membaca halaman demi halaman buku itu, aku semakin malu ya Rabbi. Ialah pertimbangan kafa’ah dalam pernikahan, yaitu suami sebanding dengan wanita dalam hal kedudukannya, agamanya, nasabnya, rumahnya dan selainnya. Ya Allah…Engkau menguatkan dalam firman-Mu “wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah bua wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…AnNuur:26”. Beruntung aku bahwa kafa’ah itu bukan syarat sahnya pernikahan. Semoga beruntung pula aku tidak termasuk orang-orang musyrik sehingga berlaku syarat kafa’ah itu demi sahnya pernikahan. Namun setiap kali persoalan kerelaan wanita dan wali perihal kedudukan, nasab dan harta dipermasalahkan, aku tak berkutik dibuatnya. Malu aku ya Allah…

Lantas siapa diriku? Seorang laki-laki yang merasa jauh dari kesetaraan dengan bidadari itu. Seorang yang pengetahuan agamanya tak lebih dari setetes embun di tengah samudra. Seorang yang miskin dan papa yang berusaha untuk bisa berbagi dengan sesama manusia fakir lainnya. Seorang bekas penjaja makanan ringan untuk menyambung ilmunya. Seorang bodoh yang membanting hidupnya untuk menghapus kebodohannya. Seorang yang berlatar belakang penuh kejahiliyahan. Seorang yang hanya memiliki semangat, sabar dan doa. Malu aku ya Allah…

Maka kepada siapa lagi aku bertaubat selain kepada-Mu ya Allah. Taubatku atas segala dosa akibat kebodohanku, kejahilyahanku, kesombonganku, ketergelinciranku, dan dosa-dosa lainnya. Betapa aku berharap Engkau, ya Rabbi, menutupi kesalahan-kesalahanku dan memasukkanku ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Engkau, ya Allah, tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia. Ya Rabbi, sempurnakan bagiku cahayaku dan ampunilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Maka siapa lagi yang akan menutupi semua kesalahan-kesalahanku yang menggunung ini selain Engkau Ya Rabbi. Dengan sepenuh hati aku mohon masukkan aku kedalam golongan orang-orang yang beruntung. Dengan segenap jiwa aku mohon anugerahkan semangat untuk terus memperbaiki diri ini. Betapa menyesalnya aku jika Engkau masukkan aku ke dalam golongan orang yang tidak baik sehingga mendapatkan wanita yang tidak baik pula. Oleh karena itu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang baik.

Malu aku ya Allah…

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »

Doakan aku Bidadariku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 3, 2008

Rabb, dengan perantara syair pujangga ini, kutundukkan hatiku dihadapan kemuliaan wajah-Mu

“wahai yang mengeluh rindu karena lama tak bertemu

Bersabarlah, siapa tahu esok kau bertemu kekasihmu

Hampirilah dia dengan membawa api kerinduan

Agar memberi petunjuk untuk pertemuan yang menyenangkan”

Rabb, jadikan hari-hariku menjadi jalan mencari syahid sebagaimana sabda Rasul-Mu

“Suwaid bin Sa’id Al Hadatsny diberitahu Ali Mushir dari Abu Yahya Al Qabtat, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas RA, dari Nabi SAW:

Barang siapa jatuh cinta, lalu menyembunyikan cinta, menahan diri, bersabar, lalu meninggal dunia, maka ia mati syahid.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 12 Komentar »

28 Juni Dini Hari, Apa kabarmu Bidadariku?

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 1, 2008

Apa kabarmu bidadariku? Tengah malam ini aku tak bisa memejamkan mataku. Bukan karena pertandingan bola EURO 2008. Bukan pula dinginnya suhu Hargo Dalem di Puncak Gunung Lawu yang menusuk-nusuk tulangku. Tapi aku terjaga karena memikirkanmu. Apakah kau masih setia menungguku sebagaimana aku mengharapkan pertemuan kita yang penuh berkah?

Bidadariku, aku sedang berusaha mempersiapkan segalanya untuk pertemuan kita yang penuh berkah. Termasuk usaha untuk sekedar membeli seekor kambing untuk kita. Sebagaimana Rasulullah memberi contoh agar mengadakan walimah walau hanya dengan seekor kambing. Dan alhamdulillah aku bisa menyiapkan untuk keperluan itu. Tapi aku mohon maaf padamu bidadariku.

Bukan maksudku untuk mengesampingkan persiapan itu. Tapi aku memandang ada yang lebih penting. 1 Juli ini ibuku genap berusia 51 tahun. Aku merasa sangat penting untuk memberinya hadiah. Hadiah secantik dan sebaik mungkin untuk ibuku, walau tak seberapa nilainya dibanding kasih sayang yang beliau curahkan untukku. Engkau pasti sudah paham, bidadariku. Betapa Rasulullah mengajarkan untuk memuliakan ibu…ibu…ibu. Aku harap Engkau tidak bersilang pendapat untuk keputusanku ini.

Aku berharap Engkau turut berdoa, semoga sisa waktu yang semakin dekat dengan pertemuan kita yang penuh berkah itu, Allah akan memperlancar persiapan kita. Persiapan segalanya. Dan terima kasihku untukmu bidadariku, yang setia menungguku sebagaimana aku mengharapkan untuk segera menemukanmu.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Lawu…I’m in Love, edelweis untuk Bidadariku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 1, 2008

Bidadariku, hatiku gundah ketika hendak pulang kampung Kamis 19 Juni 2008 yang lalu. Banyak pikiran yang aku tinggalkan begitu saja di kamar kos nomor 5 Pondok Muslim. Masih banyak target bacaan yang belum dibaca. Masih kepikiran pula mimpi nomor 1, nomor 2, dan nomor 3 yang aku tempel di sterofoam. Juga keinginan mendaki Semeru yang tertunda karena saai ini Semeru berstatus siaga. Rencana pengalihan pendakian ke Arjuno-Welirang pun batal karena beberapa hari yang lalu aku “diistirahatkan” oleh Rabb Yang Maha Kuasa. Dan masih banyak pikiran-pikiran lain. Pulang kampung dengan gundah.

Bidadariku, kusempatkan mampir Posko STAPALA sebelum aku pulang kampung. Karena memang aku ada janji dengan Irwansyah Setya Negara aka Gatot797 untuk menyetorkan aplikasi Sistem Akuntansi STAPALA. Dan benar Bidadariku, hiburan itu datang ketika kulihat papan kegiatan STAPALA. Lawu…I’m in Love. Tertulis jelas akan dilaksanakan 20-22 Juni 2008. Segera kuhubungi Sigit Luhur Pambudi aka Asigeboy828 untuk koordinasi keberangkatan. Alhasil aku berangkat dari Trenggalek dan teman-teman STAPALA berangkat dari Jakarta.

Bidadariku, Sabtu 21 Juni 2008 itu aku awali hari dini sekali. Mungkin kamu sudah tahu apa alasannya. Benar bidadariku. Pertandingan bola Kroasia vs Turki. Yang sebagian besar pengamat berpendapat Kroasia mampu mengalahkan Turki. Tapi hasilnya Turki yang lolos ke Semi Final dengan mengalahkan Kroasia melalui adu pinalti. Bidadariku, ada keajaiban yang harus kita percaya. Seperti pemain Turki yang pantang menyerah hingga keajaiban itu datang. Ketika Klasnic, pemain Kroasia mencetak gol di menit-menit terakhir, Semih Senturk, pemain Turki dengan kepercayaan akan keajaiban ia berhasil membalas pada injury time. Kita pun seharusnya seperti mereka. Percaya akan keajaiban yang dianugerahkan Sang Rabb Al Izzati.

Selesainya pertandingan bola itu, kumulai memanjatkan doa. Untukmu bidadariku. Untuk kita. Juga untuk perjalanan ke Gunung Lawu. Hingga Shubuh pun memanggil dan membawa kakiku melangkah ke Darun Nadwah. Segar sekali udara pagi itu bidadariku. Semoga kita bisa menghirup kesegarannya bersama-sama nanti berdua. Apalagi ditambah diiringi dengan syahdunya Al Ma’tsurat yang terlantun dari bibirmu. Ah itu masih nanti bidadariku. Ketika perbekalan menuju Gunung Lawu sudah selesai aku siapakan, lantas aku sungkem pada Bapak dan Ibu. Memohon doa agar lancar dalam perjalanan, sampai puncak dan selamat sampai di rumah. Dalam hatiku pun berkata, doakan aku pula, bidadariku.

Bidadariku, di sepanjang jalan banyak orang menuju pasar melihatku dengan tas carrier yang lebih besar dari tubuhku menggelayut manja di punggungku. Dan mereka bertanya aku hendak kemana. Ketika aku menjawab hendak mendaki gunung Lawu, sebagian besar mereka berpesan, hati-hati di jalan karena di gunung Lawu banyak hal-hal mistis. Tapi tenang saja bidadariku, aku gigit erat akidah ini dengan gigi gerahamku. Tak akan ku biarkan saja akidahku tergadaikan di gunung Lawu. Dan aku semakin yakin bahwa dengan akidah ini pula Rabb-ku akan mempertemukanku denganmu, bidadariku.

Bidadariku, perjalanan dengan bus pun aku mulai menuju Ponorogo. Selanjutnya disambung menuju Madiun. Diperjalanan menuju Madiun aku bertemu seseorang. Tiba-tiba dia bertanya, “Mau kemana mas? Kok bawa carrier?”. Simpel saja aku jawab hendak ke Gunung Lawu. “Gunung Lawu itu banyak mistisnya lho mas. Memangnya mau ngapain mas ke gunung Lawu?”. Kemudian aku jelaskan bahwa hobby-ku yang mendorong mendaki Gunung Lawu. Lagi pula naik gunung itu nyedhake ati mring Gusti (mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi). Tentu dengan bahasa Jawa notok biar lebih bisa diterima orang itu. “Oh, begitu ya mas. Aku jadi inget waktu masih suka touring dan kebut-kebutan. Sebenarnya waktu ngebut itu hanya satu mas yang aku ingat. Mati. Dan ingatan itulah yang membawaku seolah begitu dekat dengan Sing Makarya Jagad (Sang Pencipta Alam). Tapi ya itu tadi, ingatnya hanya saat mau ngebut saja. Ya sekarang aku heran, mengapa dulu setelah menang balapan kembali minuman keras yang masuk ke mulutku ini. Tapi sekarang alhamdulillah sudah enggak lagi mas. Wah apalagi setelah ketemu sampeyan yang mau naik gunung ini. Bener kata sampeyan mas. Kalau sudah di hutan itu tak ada lagi ciptaan manusia. Adanya hanya ciptaan Sing Makarya Jagad. Matur nuwun (terima kasih) mas. Perjumpaan singkat ini sudah cukup mengingatkan aku untuk tidak macam-macam melawan titah Sing makarya Jagad”. Alhamdulillah, aku ga menyangka bidadariku. Ternyata perjumpaan singkat itu begitu berkesan.

Tak ada yang spesial dalam perjalanan Madiun-Magetan, bidadariku. Memang suasana lagi sepi. Jadi agak kasihan dengan awak bus yang aku naiki. Semoga nanti mereka mendapat penumpang yang banyak sehingga rejeki mereka bisa bermanfaat buat keluarga mereka. Sampai di terminal Magetan, aku harus naik angkot sayur. Duh bidadariku, lama sekali nunggunya. Sopir angkot itu benar-benar menunggu hingga angkotnya penuh. Di dalam angkot itu aku bertemu sebuah keluarga yang berlibur. Sepasang suami istri dengan seorang putra dan seorang putri yang seumuran SD dan satu anak lagi masih digendong ibunya. Indah sekali, bidadariku. Berlibur bersama sekeluarga. Semoga kita kelak bisa bahagia, sejahtera, sakinah, mawaddah wa rahmah, setidaknya seperti gambaran keluarga itu.

Di sepanjang jalan angkot itu sibuk menaik-turunkan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar menjual sayur. Bahkan begitu sabarnya, sopir angkot itu rela untuk menunggu calon penumpangnya padahal si penumpang masih membereskan peralatan dagangnya. Di dalam angkot itu mereka ngerumpi. Topiknya khas ibu-ibu baru pulang dari pasar. Apalagi kalau bukan seputar bumbu dapur. Mereka merasakan benar bagaimana segalanyanya menjadi mahal sekarang. Seru sekali rupanya pembicaraan mereka. Seru seperti perebutan kursi gubernur Jawa Timur. Ada lima pasangan calon, yaitu: Soenaryo-Ali Maschan, Soekarwo-Saiful, Khofifah-Mudjiono, Achmady-Ichsan, Sutjipto-Ridwan. Namun bagi ibu-ibu seperti mereka perebutan jabatan itu tidaklah sepenting asap dapur mereka biar terus mengepul. Mereka hanya butuh ketenangan bekerja dan kesejahteraan hidup, siapapun pemimpinnya.

Aku stag di Sarangan lebih dari 30 menit, bidadariku. Sarangan-Cemoro Sewu tak ada angkot. Akhirnya aku nebeng truk sayur. Jalan menuju Cemoro Sewu berliku-liku seperti cerita hidup sopir dan kenek truk sayur yang aku tumpangi itu. Kami bertiga ngobrol disepanjang perjalanan. Si kenek cerita bahwa dia juga pernah kuliah, tapi hanya bertahan selama tiga semester. Karena waktu kuliah dia tidak bisa disambi dengan aktivitas mengangkut sayuran. Begitu tertusuk hati ini, bidadariku. Di satu sisi aku bisa kuliah gratis selama empat tahun lebih dan bakal lima setengah tahun, di sisi lain ada yang tidak bisa kuliah karena tidak match antara jadual kuliah dengan jadual mencari biaya kuliahnya. Juga sopir truk yang bercerita banyak bagaimana ia selalu dikejar-kejar waktu dalam bekerja. Menjadi sopir truk sayur itu hidupnya di kejar waktu. Mereka harus tiba tepat waktu agar sayur yang akan dijual masih segar. Jika membawa mobil dengan lambat, mereka bakal jualan sampah. Bayangkan saja bagaimana dia menginjak kombinasi gas, rem, kopling dan memindah gear agar bisa melaju cepat selama berkeliling kota-kota tujuan pemasaran sayur. Dari Magetan menuju Surakarta, atau Madiun, Ponorogo, Ngawi, Pacitan, Kediri, hingga Blitar.

Akhirnya aku sampai di Cemoro Sewu, bidadariku. Tak lupa kuucapkan terima kasih kepada sopir truk sayur atas tumpangannya. Masjid Cemoro Sewu adalah tempat yang pertama aku tuju. Kuletakkan carrier dan segera ku ambil air wudhu untuk menunaikan dhuhur. Rupanya sudah satu shaf akhwat di masjid itu menungguku untuk menjadi imam shalat mereka. Setelah mereka membuka mukena, baru tahu aku bahwa mereka adalah pelajar-pelajar SMA yang baru mendaki gunung Lawu. “Wah sudah malas aku kalau disuruh naik gunung begini lagi”. Salah satu dari mereka berpendapat.

Aku masih menunggu teman-teman dari Jakarta tiba sambil makan nasi pecel dan wedang jahe. Rasanya nikmat sekali. Dan sehabis itu aku tertidur di pos pendakian Cemoro Sewu. Hingga tiba-tiba ada sosok berdehem-dehem di depanku. Ah rupanya Sigit baru datang. Dan disampingku membujur Bian yang mungkin sudah agak lama menemaniku tidur. Di Masjid Cemoro Sewu terlihat teman-teman yang lain Daris, Hilman, Nurhaeni, Slamet, Syani, Luat, dan Wisnu. Hanya Syani yang perempuan. Lainnya laki-laki tulen, tidak ada yang banci.

Bidadariku, kami bersepuluh memulai perjalanan pukul 15.30 setelah shalat asar. Beban berat di carrier-ku ditambah jalan menanjak cukup untuk membasahi pakaianku dengan keringat walau baru berjalan beberapa menit. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di Pos 1, Wesen-Wesen. Di Pos itu aku mengeluarkan kue Wajik yang dibawakan Mbok Yah. Hilman tertawa, “Pantesan pak lambat banget. Rupanya dibebani wajik tiga kilo ya. Sini dikurangi saja sambil menambah tenaga”. Hm…lumayan beban carrier-ku berkurang satu kilo.

Tak lama kami istirahat di Pos 1, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2. Jalan masih menanjak. Nafasku tersengal-sengal dan sesekali batuk. Tak terasa hidungku sudah mulai berair akibat udara dingin. Hingga akhirnya kami sampai di Pos 2, Watu Gedhek. Bidadariku, disana kami shalat Maghrib dan Isya. Astaghfirullah, keringat yang membasahi kaosku menjelma menjadi balok es yang menimpa punggungku saat aku rukuk. Sejurus pikiranku teringat sejarah. Masih beruntung terasa seperti balok es. Bibirku pun bergetar hebat saat membaca ayat-ayat Al Qur’an. Bibirku bergetar seperti hatiku bergetar setiap ayat-ayat Al Qur’an dilantunkan. Bidadariku, kau mungkin bisa membayangkan bagaimana jika kotoran yang ditimpakan seperti di punggung Rasulullah SAW. Bagaimana pula jika benar-benar batu besar yang ditimpakan seperti yang dialami Bilal bin Rabah.

Selesai shalat aku mengeluarkan berbagai penghangat. Mulai dari minyak kayu putih yang aku oleskan ke tubuh hingga koyo cabe yang tak terasa hangat walau sudah aku tempelkan di kedua kaki dan punggungku. Kaus tangan, balaclava, dan rain coat pun lengkap membungkus tubuhku. Dingin luar biasa. Setelah perlengkapan lengkap, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, Watu Gede. Medan semakin berat, bidadariku. Hingga di tengah jalan kaki kananku kram. Untung Ada Slamet. Ia meluruskan dan memijit-mijit kakiku. “Kita istirahat sejenak”, begitu kata Daris. “Nyantai aja pak jalannya”, Nurhaeni menambahkan. Bidadariku, rupanya aku, Slamet, Daris, dan Nurhaeni sudah terpisah jauh dari anggota yang lain. Bidadariku, dari kejadian itu kau bisa mengetahui betapa aku sangat tergantung pada orang lain. Wajar jika kau menganggapnya itu adalah kelemahan. Tapi jujur aku padamu, aku selalu berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain.

Setelah sabar dan ikhlas dengan kondisiku saat itu, akhirnya aku dan tiga temanku itu bergabung dengan enam orang anggota lain yang sudah lama menunggu di Watu Gede, Pos 3. Menuju Pos 4, kaki kiriku kram. Masih untung ada Slamet lagi. Malam itu aku benar-benar bersyukur banget karena ada Daris, Nurhaeni dan Slamet. Setelah istirahat sebentar untuk meluruskan kaki, kami melanjutkan perjalanan. Terasa lama sekali dan tidak menjumpai Pos 4. Aku menjadi ragu, jangan-jangan aku salah jalan. Menurut Nurhaeni, aku dan dia masih berada pada jalur pendakian. Saat itu Daris dan Slamet sudah tidak kelihatan dari pandanganku. Berkali-kali aku minta istirahat. Rupanya Nurhaeni kasihan melihatku. Kami berganti carrier. Daypack Nurhaeni terasa ringan sekali. Katanya hanya berisi sleeping bag saja. Dan dia pun bertanya,”Bawa apa aja mas, kok carrier-nya lumayan berat?” Aku memang membawa banyak makanan saat itu, lengkap dengan peralatan masak termasuk nesting dan kompor. Kata Nurhaeni sebenarnya aku tidak perlu membawa peralatan lengkap seperti itu, karena teman-teman sudah membawa peralatan dari kampus. Yang penting makanannya saja. Tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur dibawa.

Kami berjalan lebih santai hingga akhirnya kami melewati bangunan yang tinggal pondasinya. Aku mengira itu adalah Pos 4. Setelah melewati bangunan itu menyusuri jalan datar yang jarang jarang ditumbuhi pohon. Cahaya bulan begitu terang. Cahaya putih senterku kalah terang. Aku tak butuh senterku saat itu. Cukup cahaya bulan saja. Ada awan yang bergumpal-gumpal indah sekali. Seperti lautan kapuk. Jika pernah nonton Doraemon yang membekukan awan, atau film Peterpan yang bemain-main di atas awan. Sangat indah. Benar-benar takjub aku dibuatnya. Allah menunjukkan kuasanya menciptakan dan memperlihatkan bintang-bintang yang begitu banyak di langit Gunung Lawu. Hingga semakin yakin setan pun takut dengan kuasa Rabb-ku melihat begitu banyak bintang-bintang pelempar setan itu di langit.

Bidadariku, ditengah pemandangan indah itu, aku masih merasa belum menjumpai Pos 4. Aku tidak begitu yakin bahwa Pos 4 adalah bangunan pondasi tadi. Namun tak lama aku berjalan, Aku dan Nurhaeni bertemu dengan Bian dan Wisnu. Aku bertanya dimana Daris, Slamet dan teman-teman yang lain. Kata mereka, kami sudah ditunggu lama di Sendang Drajat. Berarti perjalananku dari Pos 3 tidak sadar melewati Pos 4 dan Pos 5. Menurut Bian dan Wisnu, Pos 5 adalah bangunan yang tinggal pondasinya tadi. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan kepuasan hati melihat pemandangan malam yang begitu indah. Hingga kami lengkap sepuluh orang bertemu di Sendang Drajat. Ditempat itu sudah banyak para pendaki lain yang nge-camp.

Tak lama setelah berbasa-basi dengan pendaki lain, kami segera menuju Hargo Dalem. Ditempat itu tinggal seorang perempuan yang akrab dipanggil Mbok Yem. Tepat pukul 22.00 kami sudah berada dalam istana batu Mbok Yem. Persiapan tidur pun dimulai. Kami makan makanan siap makan yang kami bawa. Benar-benar dingin malam itu. Jadi teringat data yang disajikan di pos pendakian Cemoro sewu, bahwa suhu di puncak mencapai 4-5 derajat Celcius. Tak banyak pembicaraan saat itu, kecuali dimana makanan, dimana sleeping bag, dimana akan mendirikan tenda. Semuanya bergerak dalam dingin. Hingga suasana menjadi senyap setelah tidur mengistirahatkan kami. Bidadariku, setiap jam aku terjaga. Dan tiap kali terjaga kuucapkan syukur bahwa aku masih diberi kesempatan hidup. Tidak mati dalam dingin hipotermia. Setidaknya harapan untuk bertemu denganmu dalam suasana penuh berkah itu masih bisa kurasakan.

Pagi hari kuawali dengan Sholat Shubuh berjama’ah dengan Syani. Setelah selesai menjalankan kewajiban aku keluar dari istana batu Mbok Yem. Dan sun rise pun menyambutku indah. Bidadariku, rasa lelah, kram, dingin dan rintangan yang ada sepanjang jalan kemarin seolah terbayar lunas dengan pemandangan pagi itu. Ahad pagi itu seolah Allah telah menuliskan “sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan” di langit timur Gunung Lawu. Hamparan emas menghiasi gumpalan awan. Lantas jauh di langit barat terlihat rembulan manis yang masih enggan untuk menyembunyikan diri dari langit. Bahkan ketika sang mentari dengan wajah bulat penuh menyapa kami rembulan itu ada seolah menyambutnya datang. Setelah puas mengambil gambar, kami menyiapkan makan pagi. Tentu sambil menikmati wajah emas mentari yang bulat tanpa cela seolah mengumbar senyumnya.

Setelah kenyang makan dan puas minum kopi, susu, dan wedang jahe kami menuju puncak Hargo Dumilah. Disepanjang jalur menuju puncak, kami dimanjakan dengan edelweis yang begitu manis. Ada yang berwarna putih, dan ada pula yang berwarna ungu. Indah sekali bidadariku. Dan setelah berjalan setengah jam kami menjumpai tugu kokoh berdiri bertuliskan “PUNCAK LAWU (HARGO DUMILAH) 3265 DPL”. Aku bersujud syukur di ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut itu. Lantas kuucapkan doa, doa yang kupanjatkan pula setiap hari. “Alhamdulillah ya Allah, Kau anugerahi aku IP minimal 3,7, agar aku bisa membuktikan kepada ibuku bahwa menikah itu tidak menghambat proses menuntut ilmu. Alhamdulillah ya Allah, Kau bukakan pintu rejeki lagi untukku, agar ibuku tahu bahwa justru dengan menikah kau akan membuat kaya dengan karunia-Mu. Alhamdulillah ya Allah kau mengijinkanku menikah tahun ini dan menganugerahiku istri yang sholihah, agar aku bisa menjaga pandangan, agar aku bisa menjaga kehormatan, agar aku bisa mengikuti sunnah Rasul yang Kau muliakan, agar aku bisa memenuhi agama yang Kau sempurnakan. Amin.” Bidadariku, dimanapun aku berdoa, aku yakin Allah akan memberikannya, karena Allah sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Dan aku pun berharap kaupun berdoa untuk pertemuan kita yang penuh berkah. Doa yang begitu indah, seindah kumpulan edelweis yang aku persembahkan ceritanya untukmu. Cukup ceritanya saja dan biarkan edelweis itu tetap tumbuh dan senantiasa berdzikir di tempatnya berada.

Setelah puas dengan pemandangan Puncak Hargo Dumilah, kami turun melalui jalur Cemoro Kandang. Beginilah naik gunung bidadariku. Jika kita sudah mencapai puncak, maka tidak ada jalan lain kecuali turun. Semoga aku, kau, orang yang membaca cerita ini, dan para pemimpin yang sudah terlalu lama berkuasa dapat mencerna esensi filosofisnya. Jalur turun melalui Cemoro Kandang memang lebih landai. Tapi itu justru makan waktu lama. Sehingga kami memotong jalur dengan melewati bekas aliran air. Ketika naik dengan mengerahkan segala tenaga, maka pada saat turun ini pun aku merasakan perjuangan berat.

Bidadariku, dalam perjalanan turun itu aku terlepas dari kelompok. Seingatku di depan ada Sigit, aku berusaha mengejarnya, tapi tak kuasa. Dia terlalu jauh. Akibatnya pula, aku terpisah dengan yang dibelakangku, Hilman, Syani dan Wisnu. Dan seperti ini mungkin kita hidup. Tidak bisa sendirian. Pasti membutuhkan orang lain. Seumpama domba yang terpisah dari kelompoknya maka ia sangat rawan diterkam serigala. Aku pun begitu. Tak bisa sendiri dan harus membebaskan diri dari kesendirian. Seperti Rabb-ku yang memberiku sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan, dan sepasang kaki namun hanya memberiku satu hati. Agar aku menemukan pasangan hatiku ditempat lain. Di hatimu bidadariku.

Hingga akhirnya aku beruntung ada sekelompok pendaki. Mereka sekelompok ikhwah muslim. Kita tidak bicara banyak. Suasana hening. Hanya beberapa kata saja yang terucap. Mereka nampak sangat kelelahan. Berkali-kali mereka beristirahat. Jika dilihat dari wajahnya mereka kelihatan lebih tua dari umurku. Aku tak memungkiri kaki ini juga lelah melangkah. Lantas kuistirahatkan mereka. Sampai aku melihat Hilman, Syani, dan Wisnu kembali. Kami pun berjalan kembali. Hingga kami merasa begitu lelah sampai Pos 1 Taman Sari Bawah. Di Pos itu ada sebuah warung bapak setengah baya. Ia menjual beberapa jenis kue dan minuman. Tiba-tiba dia bertanya, ”Hanya istirahat saja disini mas?”. Mendengar pertanyaan itu aku sungguh tak tega, bidadariku. Aku pesan minuman, juga untuk ketiga temanku. Dan menikmati kue yang disajikan. Rupanya bapak pemilik warung itu seharihari hidup di Pos itu. Dan warung kecilnya adalah alat mengais rejeki baginya. Aku kembali bersyukur, Allah telah memberiku pintu rejeki yang mungkin lebih mudah dibanding bapak pemilik warung di Pos Taman Sari Bawah itu.

Akhirnya aku sampai di Pos Pendakian Cemoro Kandang. Terlihat Daris menikmati sisa minuman karbonasi. Juga Bian yang sibuk mengais-ngais roti. Beberrapa teman lainnya tidak terlihat. Ada yang masih shalat Dhuhur dan Asar. Ada pula yang masih mandi. Kuistirahatkan semua tubuhku sejenak. Lantas kutegakkan kembali tiang agamaku sebelum aku meninggalkan Pos Pendakian Gunung Lawu. Sore itu begitu melelahkan. Namun sangat berkesan. Aku, Sigit, dan Bian berpisah dengan teman-teman lainnya. Kami hendak ke rumah Sigit di Ngawi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Sedangkan mereka sebagian besar akan kembali ke Jakarta. Aku, Sigit, dan Bian jalan mencari tumpangan ke Cemoro Sewu. Alhamdulillah dapat tumpangan pick up sampai Sarangan. Roda-roda pun silih berputar hingga sampai di rumah Sigit.

Bidadariku, malam harinya kami dijamu sayur bayam yang sangat lezat buatan ibunya Sigit. Padahal selama naik gunung kemarin aku seolah tidak bisa membedakan rasa makanan. Yang ada hanyalah makan untuk tetap hidup. Masalah rasa, nomor dua. Malam itu segar serat-serat daun bayam seperti membelai sepanjang jalur pencernaanku. Lezat sekali. Dan Senin paginya kami masih dimanjakan ibunya Sigit dengan nasi pecel. Luar biasa nikmat. “Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”. Pagi yang cerah itu menutup perjumpaanku dan Bian, dengan keluarga Sigit. Aku pulang ke Trenggalek. Sedangkan Bian ke Malang. Deg…!! Di terminal Madiun aku dikagetkan seseorang yang memanggilku masuk ke bus jurusan Ponorogo. Kondektur bus itu…adalah orang bertemu orang yang ngobrol denganku kemarin waktu di perjalanan Ponorogo-Madiun. Belum aku menyapa dia sudah berkata,“Wah, alhamdulillah ketemu lagi mas. Gimana pendakiannya? Bagus tenan to Gunung Lawu? Yo wis dinikmati aja perjalanannya. Aku mau ngejar setoran dulu.”

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »

Cinta tak terungkap

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juni 4, 2008

Sore lusa kemarin ada seorang teman dekat yang datang ke kosku. Rupanya ia sudah membaca blog-ku tentang “bidadariku, aku menjemputmu”. Ia mengutarakan komentarnya betapa kasihannya aku. Padahal menurutku biasa saja. Aku tak pernah merasa menyesal. Pun juga tak pernah ragu akan kepastian itu. Lantas ia bertanya mengapa aku tidak memilih salah satu dari banyak pilihan. Tak ragu dia menyebutkan satu persatu. “Py, kamu tuh punya banyak pilihan. Lihat saja adik-adik kelasmu di kampus. Banyak sekali mereka. Ada yang tingkat 3, tingkat 2 atau tingkat 1. Tinggal kamu pilih salah satu saja. Aku yakin pasti diantara mereka sudah tahu banyak mengenai sepak terjangmu di kampus. Atau kamu pilih saja mahasiswamu, atau mantan mahasiswamu. Tidak sedikit pula diantara mereka yang cantik-cantik. Yakin lah Py, masa mantan mahasiswamu meragukan Kakak Dosennya sendiri. Atau juga trainee-trainee-mu. Mereka malah sudah mapan, sudah bekerja, tinggal menunggu waktu saja. Kenapa kamu ga berani mengatakan cinta! Lihat juga teman-teman kantormu. Tak sedikit kan pilihan diantara mereka. Kamu itu aneh. Kamu mau disebutin kriteria yang apa lagi? Janganlah terlalu berlebihan menetapkan kriteria, Py.”

Aku hanya tersenyum melihat komentar temanku. Aku kira yang aneh justru dia. Ada setan apa yang hinggap dibenaknya hingga ia bisa melakukan penelitian-penelitian yang ga begitu ilmiah sehingga dia berhasil mengklasifikasikan kriteria-kriteria perempuan disekelilingku. Enteng saja aku menjawabnya. “Aku tidak mau milih sendirian, kawan.” Betapa terkejutnya dia mendengar jawabanku yang singkat, padat, lugas, tegas, namun sedikit tidak ia percayai. Aku melihat raut wajahnya berubah. Seolah ia baru mengenalku. “Py, boleh tanya sedikit ga? Tapi kamu jangan marah ya?”. Oh, tentu saja aku tersenyum. Aku tak bisa marah sama kawanku itu. Baik sekali dia. “Py, kamu normal ga sih?”. Astaga naga, apa maksud pertanyaannya. “Maksudku, kamu pernah punya perasaan mencintai perempuan ga sih?”. Ouw, kalau masalah itu pasti ada kawan. Hanya saja aku tak mau mengungkapkannya. “Goblok!”, entah iblis apa yang mendorongnya menghardikku. “Py, hare gene ga berani katakan cinta! Basi Py! Kamu ternyata pengecut! Muna’ banget sama diri kamu sendiri. Kalau seperti itu menyesal aku mengasihanimu setelah membaca blog-mu kemarin. Ternyata kamu sendiri penakut.” O…O…kenapa jadi dia yang emosi. Begini kawan, aku punya beberapa penjelasan, jangan emosi dulu. Begitu kira-kira aku dingin menanggapinya.

Aku mulai menjelaskan sedikit yang aku tahu kepada temanku. Pernikahan itu memang memiliki banyak tujuan mulia. Ada yang bilang mengikuti sunnah Rasul. Ada juga yang mengatakan untuk menjaga kesucian dan menahan pandangan. Tukang biologi ikut beropini bahwa menikah itu untuk menjaga kelestarian jenis (emang mau punah?). Mereka bilang dengan menikah bisa mengembalikan semangat kepemudaan dan tempat sedekah yang paling enak di dunia. Tukang bisnis bilang kalau menikah itu adalah jalan pintas membuka pintu rejeki. Nah masalahnya aku adalah tukang akuntansi, yang terus terang masih bingung membedakan apakah menikah itu termasuk kategori assets, liabilities, equities, revenues, atau kah expense. Hm…aku kira tidak sekedar itu saja. Ada cita-cita mulia kemasyarakatan disana. Menikah itu menyatukan dua keluarga besar. Memasukkan elemen keluarga lain ke dalam keluarga kita itu tidak mudah. Oleh karena itulah dibutuhkan perhatian untuk mengkondisikan keluarga kita sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, baru go to your own choice.

Aku mengakui masalah mengkondisikan keluarga sendiri ini masih dalam proses yang benyak tantangan. Aku tak mau menyebutnya hambatan, karena menurutku hambatan justru malah menyiutkan visiku. Kawanku baru sadar akan tantangan itu. Dan tiba-tiba ia membanting arah pembicaraan mengenai keluarga. Yah, mungkin sekedar basa-basi dan untuk mencairkan suasana. Dan ternyata perkiraanku tepat. Setelah ia kehabisan bahan basa-basi, ia kembali ke topik permasalahan. “Py, jika kamu pernah mempunyai perasaan suka kepada perempuan, bagaimana kamu mengungkapkannya?”. Jedug! Dag dig dug…dag dig dug…mm…kasih tau ga ya?

Tak ragu aku kemudian menunjuk cermin dibelakang temanku. Aku suruh dia berdiri menghadap cermin. Kemudian aku dikte ia untuk mengatakan cinta. “Dik, aku tidak memungkiri bahwa selama ini aku cinta banget sama kamu.” Lagi-lagi setan katrok meracuni otaknya. “Oh, jadi selama ini kamu suka sama Sidik ya Py?”. Ah…sinting benar temanku itu. Begini saja, aku peragakan dan ia melihat dengan khidmat. Aku tatap cermin di depanku lantas aku mulai bersandiwara. “Wahai bidadariku. Kau adalah bidadari yang mendatangi mimpi-mimpiku. Kau adalah madu manis yang menyelimuti hatiku. Kau adalah bunga mekar yang menghiasi taman cintaku. Bidadariku, lihatlah aku yang terbuai dalam mimpi. Bidadariku, jika kau adalah bidadari mimpiku, maka aku ingin selalu terjaga agar tidak terlena dalam mimpi yang fana.” Dan benar, terbukti temanku itu mengindap penyakit sinting. Ia memberikan applaus kecil, lantas menunjukkan mimik terharu, kemudian mengakhiri aksi sintingnya dengan mengusap mata dengan ujung bajunya lantas memeras-meras kainnya itu seolah-olah air matanya tumpah sebaskom.

Dalam hati aku bergumam, seandainya saja yang didepanku itu bukan cermin, tapi benar-benar bidadariku. Ah betapa indahnya. Ctug! Tiba-tiba jari kecil memukulku lembut, “Goblok banget sih! Kenapa ga ngomong langsung begitu itu sama bidadarimu. Py, katakan cinta Py!”. Ah temanku itu mungkin lupa. Aku ga perlu mengatakan cinta sekarang. Nanti saja kalau sudah resmi jadi istri mau bilang cinta sampai berbusa-busa itu baru sah-sah saja. Sekarang, cukup Tuhan saja yang tahu bahwa aku mencintainya. Mencintai bidadariku. Dan aku bepikir mudah saja menjelaskan prinsip ini kepada temanku. Cukup kubuka notebook, lantas aku klik icon digital qur’an.exe, kemudian aku cari sebuah tulisan Al-Baqarah(2):235. Aku minta ia membacanya dengan nada merdu dan terdengar jelas.

Aku akui kemerduan suara temanku itu mirip-mirip Bang Haji Roma Irama kalo sedang membaca ayat Al-Qur’an. Dia meneruskan membaca terjemahnya, “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. dan Ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. Setelah membaca keseluruhan ayat itu, terlihat kerut dahinya menunjukkan ia berpikir.

Aku kemudian menjelaskan pendapatku mengenai ayat itu kepada temanku. Bagiku sangat wajar jika aku menyebut-nyebut nama perempuan yang aku cintai. Itu memang sudah menjadi fitrah manusia. Menyukai lawan jenis. Apalagi kalau sudah tertarik pada seseorang yang spesifik. Wajar banget jika seorang manusia yang dilanda asmara itu perasaannya melanglang buana sambil menyebut-nyebut nama yang dicintainya. Allah sudah tahu itu. Dan Allah mengetahui benar apa yang aku ucapkan ataupun yang tersembunyi dalam hati. Namun cukup aku pribadi dan Allah saja yang tahu. Tak perlu orang lain atau bahkan perempuan yang aku cintai itu tahu hingga ada kesiapan dan keteguhan hati atau untuk keperluan musyawarah dengan orang yang lebih bijak. Aku tidak perlu mengungkapkan kata cinta itu secara langsung kepada yang bersangkutan sekarang. Lagipula sensasi menyembunyikan cinta itu rasanya indah sekali. Setidaknya aku bisa memanjakan menikmati keindahan sendiri.

Aku tak mau membayangkan kejadian buruk dan memalukan menimpaku. Misalnya saja aku sudah menyebut-nyebut namanya, lantas mengharapkan ia menjadi milikku, kemudian mengatakan cinta padanya padahal tantangan kemasyarakatan belum diselesaikan, lalu si perempuan menjawab, “Maaf ya mas yang ga ganteng tapi cukup membuat cowo ganteng didekatnya minder, baik hati namun agak tidak tahu diri, aku tidak bisa menerima cintamu karena aku lebih mencintai Allah dan Rasul panutanku”. Pasti suasana menjadi mencekam seperti menonton film horor hantu blau di bioskop kumal yang banyak kecoaknya. Apa ga sakit banget rasanya. Sudah terbang tinggi, menikmati pemandangan indah, tapi tak lama kemudian jatuh tersungkur ke bumi, tertimpa tangga lagi. Cukup sudah penderitaan itu. Coba kalau aku sembunyikan perasaan itu. Cukup aku dan Allah saja yang tahu dan mungkin cermin sandiwara yang melihatnya. Setidaknya aku bisa terbang tinggi, melihat pemandangan indah, terus agak lama karena tidak jatuh-jatuh. Berarti bisa meminimalisir risiko kehilangan pemandangan indah lebih cepat. Apalagi jika nanti ketika turun dari terbang tinggi aku bisa menjumpai mimpi itu menjadi kenyataan. Waow…betapa indahnya.

Satu lagi yang bisa memperindah impian. Tentu ini masih menurutku. Aku bisa merasakan sensasi bagaimana denyut jantung berdetak tidak jelas iramanya ketika berhubungan dengan perempuan yang ada perasaan cintaku padanya. Cukup interaksi dengan perkataan atau sindiran yang baik saja. Itu masih boleh dalam koridor ketentuan 2:235 di atas. Nah, untuk menjaga perkataan atau sindiran yang baik ini juga butuh perencanaan. Misalnya, aku menulis draft pertanyaan dan pernyataan yang akan aku utarakan. Persis seperti wartawan yang mempersiapkan diri mewawancarai narasumber. Itu penting banget, jika tidak hati-hati bisa ngomong tidak teratur, meracau kesana kemari, timbul sindrom keringat dingin akut yang tiba-tiba membasahi badan, persendian tubuh menjadi lesu, lemah dan lunglai, proses pencernaan terganggu dengan timbul gejala mulas atau perut terasa melilit-lilit, dan berbagai gejala keanehan biologis serta psikologis lainnya.

Setelah cerita panjang lebar seperti itu, aku baru sadar bahwa terjadi gejala abnormal pada temanku. Ia melongo, dengan mulut terbuka, mata terbelalak dan produksi air liur yang melimpah memenuhi ujung bibirnya. Dan…ups…benar, tumpahlah membasahi bajunya. Kontan aku terpingkal-pingkal melihat kejadian lucu itu. Temanku itu memang aneh. Tapi dia sungguh baik hati. Hanya memang tingkah-tingkahnya yang tak terduga itu terkadang di luar batas kepala manusia.

Entah mimpi apa aku semalam. Perjumpaanku dengan temanku itu seolah-olah sebelas dua belas antara apa yang aku pikirkan dengan apa yang ia lakukan. Baru saja aku mengenang tingkah-tingkah gilanya, tak lama kemudian ia berdiri mengelilingi kamar kos ku yang hanya sembilan meter persegi itu. Padahal dengan memutar bola matanya saja ia bisa menjelajah semua isi kamarku. Langkahnya kemudian terhenti di depan sterofoam yang aku tempel di dinding. Matanya melotot melihat secarik kertas bertuliskan spidol merah. Getting married. Dan benar, tidak wajar tingkahnya. Sudah berdiri tepat didepan objek pandangnya, ditambah memperlebar kelopak matanya seolah-olah bola penglihatan itu hendak tumpah, ia masih mendekatkan wajahnya lebih dekat ke arah tulisan itu. Tangannya mulai gerilya. Dilepasnya pines yang menempelkan kertas bertuliskan getting married. Kemudian ia tersenyum puas seperti baru menemukan harta karun. “Ha…kamu menyembunyikan sesuatu ya”, ucapnya. Belum sempat aku jawab, muncul lagi tingkah anehnya. Menggaruk-garuk kepala seolah bingung dengan makna harta karun yang ia temukan. Lantas membaca harta karunnya itu, “Rabb jika Kau mampu menyatukan satu dua air dalam satu laut, maka aku yakin Kau mampu menyatukan dua hati dalam satu hidup”. Aku tersenyum melihatnya.
“Maksudnya apa Py?”. Ah tidak penting itu kawan. Aku lantas menunjukkan tulisan yang lebih penting dari yang ia baca. Aku memintanya membaca tulisan yang lebih kecil di bawah kalimat yang barusan ia baca. “Barang siapa jauh cinta, lalu menyembunyikan cinta, menahan diri, bersabar, lalu mati, maka ia mati syahid-Al Hadits”. Dahinya berkerut, sepertinya ia berpikir keras. “Itu hadits shahih ga Py?”. Wah, maaf kawan aku bukan ahli hadits. Jika ditanya shahih atau tidaknya susah bagiku untuk menjawabnya. Namun aku sudah mengantisipasi kelemahan itu. Kubuka dompetku kemudian aku cari secarik kertas kecil yang sudah lusuh. Suwaid bin Sa’id Al Hadatsany diberitahu Ali Mushir dari Abu Yahya Al Qabtat, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas ra, dari Nabi SAW. Aku bacakan sanad hadits itu untuknya. Aku menulis hadits itu tulis beberapa tahun yang lalu dan menyembunyikan di dalam dompetku, agar aku bisa membacanya setiap saat jika aku sedang kasmaran. Lalu aku minta temanku untuk menyimpulkan apakah hadits itu shahih apa tidak. Ia hanya terdiam.
Sebelum ia bertindak aneh lagi, aku minta ia duduk di depanku. Kupandang matanya dan aku bertanya padanya mengenai sebuah syair Allah tujuan hidup kami, Muhammad tauladan kami, Al Qur’an penuntun kami, jihad jalan kami, dan syahid di jalan Allah cita kami tertinggi. Kawanku, aku percaya dengan semangat yang diungkapkan syair itu. Dan Tuhanku begitu Maha Pemurah karena telah memberiku jalan pintas untuk mencapai cita-cita tertinggi. Cukup sederhana, menyembunyikan cinta ketika aku sedang dalam kasmaran yang luar biasa. Dan cara yang paling efektif untuk menyembunyikan cinta adalah curhat kepada Tuhan. Aku ungkapkan saja semuanya, dan cukup aku dan Rabb-ku yang tahu. Ketika aku merasa dekat dengan Rabb-ku melebihi kedekatan urat leherku, maka firman-Nya pada 2:235 di atas menjadi tuntunan yang menunjukkanku jalan kebenaran dan sebagai pemantik semangat yang menggelora melebihi gejolak asmara yang aku rasakan. Lebih dari itu, Muhammad pun sebagai tauladan telah memberi petunjuk teknis mengelola asmara pemuda seperti aku. Aku lakukan sesuai urutan prosedurnya, yaitu jatuh cinta, menyembunyikan, menahan, dan sabar. Dan bukankah perang yang paling besar di muka bumi ini adalah perang melawan nafsu pribadi? Maka tinggal menunggu waktu saja, jika sewaktu-waktu aku mati dalam kondisi kasmaran seperti itu, maka syahid telah menantiku. Aku menyebutnya sebagai the power of unexpressed love. Kekuatan cinta yang tak terungkap. Cukup sederhana, mudah, tepat sasaran, dan tidak diragukan.
Kali ini aku tidak melihat ekspresi abnormal pada temanku. Aku hanya melihatnya menunduk lesu. Mungkin dia sedang memikirkan apa yang telah aku katakan. Dia memang terbiasa diam agak lama jika memikirkan sesuatu. Hanya saja ekspresi berpikir dia kali ini agak janggal. Hingga tiba-tiba aku sadar setelah melihat…astaga air liurnya kembali tumpah. Kurang ajar benar. Jadi aku bicara sampai berbusa-busa tadi hanya menjadi dongeng pengantar tidur saja. Hwaa…….

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 2 Komentar »

Bidadariku, aku menjemputmu

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Mei 31, 2008

Sepulang dari As Sa’adah pagi ini, aku berniat untuk ke MBM setengah jam lagi. Namun tak dapat ku pungkiri betapa kantuk itu menyerangku begitu dahsyatnya. Kurebahkan diriku, kupasang headphone-ku, kunyalakan media player, dan sepersekian saat pun aku terlelap hingga tak sadar apa yang kudengar. Tiba-tiba aku terbangun dan angka di pojok kanan bawah monitorku menunjukkan 7:33. Artinya terlambat parah satu jam dan mungkin acara di MBM sudah selesai. Menyesal aku memasang headphone yang menutup telingaku hingga membawaku terlelap begitu dahsyat selama satu setengah jam.

Akhirnya aku raba-raba si touchpad, mencari-cari MP3 apa yang aku dengarkan pagi itu. Bodohnya lagi, aku masih belum sadar benar apa yang aku dengarkan. Ternyata sebuah nasyid. Nasyid yang lama tidak aku dengarkan. Aku putar ulang nasyid itu. Sekali aku dengarkan, terasa jantungku berdetak tak normal. Dan ku dengarkan lagi Epicentrum berdendang…

Bila yakin telah tiba teguh di dalam jiwa
Kesabaran menjadi bunga
Sementara waktu berlalu penantian tak berarti sia-sia
Saat perjalanan adalah pencarian diri

Ya seperti itulah yang aku rasakan saat ini. Aku menantikan suatu fase besar dalam hidupku. Aku adalah laki-laki yang tiga hari lagi memasuki gerbang dua puluh lima. Angka dua puluh lima yang selalu muncul dalam benakku. Dua puluh lima ketika Muhammad memasuki fase besar hidupnya. Dan itu yang aku harapkan. Memasuki fase besar seperti Muhammad. Aku menantikan fase itu, mempersiapkan diri untuk menghadapinya, dan yakin, benar-benar yakin, akan menghadapinya tahun ini. Getting married. Aku menuliskan dan menempelkan di sterofoam. Aku juga mensetting tulisan itu di wallpaper HPku. Aku tuliskan pula di diary STAPALA. Aku beri tahu teman-teman kosku. Aku juga memberi tahu beberapa teman di D4. Macam-macam tanggapan mereka. Ada yang mengamini. Ada pula yang tertawa. Ada yang balik bertanya, “Calonnya siapa mas?”. Tak ragu aku menjawab, “Kalau sekarang ya aku jawab belum ada la. Masa aku jawab belum ada dong. Fauzi aja Badila, bukan Badidong”. Dan tentu saja yang bertanya itu tertawa ngakak lantas nyeletuk. “Mas…mas, kamu tu aneh, wong belum ada calonnya kok mau nikah!”.

Laksana Zulaikha jalani hari, sabar menanti Yusuf sang tambatan hati
Di penantian mencari diri, memohonkan ampunan, dipertemukan

Aku memang tak setampan Yusuf. Hm…jadi ingat kata Agus Ringgo, Gue emang ga ganteng, tapi cowo ganteng deket gue, Minder!. Ya wajar jika tidak ada wanita secantik Zulaikha yang terpesona padaku. Tapi kalau diberi yang secantik Zulaikha masa menolaknya. Tapi bukan itu kebutuhan utamanya. Tentu aku masih ingat benar bahwa kebutuhan laki-laki itu sebenarnya hanya tiga, kendaraan yang bisa dibawa kemana-mana, rumah yang lapang, dan istri yang shalihah. Aku sudah punya salah satu diantaranya, yaitu kendaraan. Sebenarnya aku juga pengen beli rumah bulan depan. Tapi aku bingung, nanti kalau aku punya rumah bulan depan, masa hanya sendirian di rumah. Lagipula duitnya sekarang juga ga ada. Oleh karena itulah aku harus punya teman serumah dulu, yaitu pemenuhan kebutuhan ketiga. Istri yang shalihah. Itulah kriteria utamanya. Kalaupun nanti Allah menganugerahi aku istri yang lebih dari shalihah, tentu saja alhamdulillah. Misalnya ia juga cantik, ya alhamdulillah, setidaknya aku bisa berlama-lama melihat waah istriku yang cantik itu nantinya. Atau ia juga pintar, ya Alhamdulillah, setidaknya aku ga perlu fotokopi buku-buku tebal. Ga papa juga jika ia pintar masak, setidaknya aku ga mengulangi kebodohan menggoreng kacang sampai gosong yang hingga kini masih terpampang jelas di atas rak bukuku karena tak tega aku melihat lidahku meringis merasakan pahitnya. Yakin saja lah, pasti akan dipertemukan.

Segera kan ku jemput engkau bidadari
Bila tiba waktu ku temukan aku
Ya Illahi robbi, terus ku mencari diri sepenuh hati
Teguhkan lah ku dilangkah ini, di pencarian hakikat diri
Dan izinkan ku jemput bidadari
Tuk bersama menuju-Mu mengisi hari

Ya Allah…kepada siapa lagi aku memohon selain kepada-Mu. Engkau mematangkan kehidupan Muhammad mulai umur 25 tahun, maka aku memohon sepenuhnya pada-Mu, matangkan pula hidupku mulai tahun ini. Ya Allah…kepada siapa lagi aku meminta selain kepada-Mu. Aku tidak ingin mataku ini disiksa di neraka karena aku tak mampu menjaganya. Aku juga tidak ingin kehormatanku terjajah terhina tanpa terjaga hingga tak pantas bagiku dihadapan siapa saja, termasuk dihadapan-Mu. Aku juga tidak ingin hidup dibawah setengah agama-Mu. Entah apa jadinya aku jika memenuhi separuh agama saja tidak bisa, padahal Engkau menciptakan agama ini sempurna. Ya Tuhan…hanya pada-Mu lah aku memelas, pertemukan aku dengan bidadariku, agar aku bisa menjaga kehormatanku, agar aku bisa mengikuti sunnah Rasul-Mu, agar aku bisa menyempurnakan agamaku.

Ya Allah…sujud demi sujud, doa demi doa kulayangkan pada-Mu. Apakah Engkau akan membiarkan aku menghadap menuju-Mu sendiri? Aku yakin Engkau tidak akan membiarkan aku sendiri karena Engkau menciptakan manusia berpasang-pasangan. Ya Allah, tunjukkan aku jalan menuju kesempurnaan. Aku yakin Engkau tidak akan membiarkan aku meniti jalan yang Engkau murkai atau pun jalan yang sesat. Ya Allah, Engkau tentu melihat aku merasakan jalan yang penuh onak dan duri menghiasi titianku menjemput bidadariku. Maka jadikan aku menikmati jalan ini sebagaimana aku meniti tanjakan Ciremai. Ya Allah, mantapkan langkah ini, teguhkan hati ini, karena aku akan segera menjemput bidadari. Ya Rabbi, ampunilah aku karena meminta pada-Mu untuk menghantarkan bidadariku padaku entah bagaimanapun cara-Mu. Ya Rabbi, ridhoi aku menjemput bidadariku sebagaimana aku rela dengan Engkau sebagai Tuhanku.

Kini yakin telah tiba, teguh di dalam jiwa
Kesabaran adalah permata
Dan waktu berlalu, penantian tak berarti sia-sia
Saat perjalanan adalah pencarian diri

Tak pernah aku merasakan optimisme luar biasa seperti sekarang. Ujian kuliah sudah kulalui separuh jalan dengan keyakinan keberhasilan luar biasa. Kebahagiaan yang tak terputus atas rejeki dari Allah yang mengalir terus. Keyakinan tiada tara menerbangkanku menuju langit kesempurnaan. Bidadariku ada disana. Dan aku harus terbang menjemputnya. Bidadariku, aku tak akan membiarkan engkau sendiri menemuiku. Aku akan menjemputmu. Bidadariku, tak kubiarkan engkau merasakan hidup tanpa kesempurnaan. Aku akan mengisi kehidupanmu hingga kita bisa meraih kesempurnaan itu berdua. Bidadariku, yakinlah padaku sebagaimana engkau melihat aku yang begitu yakin bisa menjemputmu. Bidadariku, bersiaplah untuk mengisi relung hatiku sebagaimana aku bersiap mengisi relung hatimu.

Laksana Adam dan Hawa, turun ke bumi terpisah jarak waktu
Di penantian mencari diri, memohonkan ampunan, dipertemukan

Rabb, lagi-lagi aku memohon pada-Mu demi bidadariku. Rabb, lihatlah bidadariku sedang bersujud pada-Mu. Ia berdoa agar bisa menemukan aku. Apakah Engkau akan membiarkan begitu saja ia terbuai dalam sujudnya? Aku yakin Engkau Yang Maha Memberi akan mengabulkan permintaanya untuk bertemu denganku. Ya Rabb, lihatlah bidadariku menangis menumpahkan air mata kerinduannya padaku. Apakah Engkau akan membiarkan air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang lembut? Aku yakin Engkau akan mengalirkan air mata kebahagian padanya dengan mempertemukan kami berdua. Ya Rabb, lihatlah bidadariku bersedih menunggu kedatanganku. Apakah Engkau akan membiarkan kami terpisah jarak dan waktu? Aku yakin Engkau akan mengganti kesedihannya dengan kesenangan dan keberkahan ketika kami berdua Engkau pertemukan.

Bidadari telah menyentuh hati, teduhkan nurani,
Bidadari telah menyapa jiwa, memberikan makna

Bidadariku, lihatlah Allah sedang mengantarkanmu padaku, dan tunggulah, aku menjemputmu.

taxwipy@yahoo.com
also enjoy at http://wipy.blogs.friendster.com/my_blog/

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 2 Komentar »