Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Arsip untuk ‘Alhamdulillah Menikah’ Kategori

Doa-doa Pernikahan

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 22, 2009

Kemarin ngobrol sama adik kelas yang hendak menikah.

“Mas, redaksi ijab qabul bagaimana sih?” Wah, kalo redaksi itu, sudah aku tulis di blog ini di “Lafaz Ijab Qabul”. tapi kali itu aku membahas dengan lebih nyantai. Lantas aku tanya apakah sudah hafal doa-doa pernikahan? We..e..ee.. rupanya dia belum hafal. kemudian memintaku untuk menuliskan dan mengirimkan lewat email. nah, nanggung kalo cuma lewat email, sekalian aja diposting di blog. semoga bermanfaat.

Berikut ini doa-doa dalam rangka pernikahan:

1. Doa pada saat pertama kali mendatangi pengantin perempuan:

Ada hadits dari Rasulullah SAW:

“Apabila salah seorang dari kamu mengawini seorang perempuan atau membeli seorang budak, maka hendaklah ia memegang bagian depan kepalanya (ubun-ubun) dan hendaklah membaca basmalah dan mendoakan keberkahan serta membaca “Allohumma inni as aluka min khoirihaa wa khoiri maa jabaltahaa ‘alaih, wa a’udzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaih” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan dan kebaikan yang telah Engkau takdirkan kepadanya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan dan kejahatan yang telah Engkau takdirkan kepadanya)”

2. Doa setelah shalat sunnah berjamaah dua rakaat

Disunnahkan bagi suami istri yang baru menikah mengerjakan shalat sunnah dua rakaat berjama’ah, berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

“Telah datang seorang laki-laki bernama Abu Huraiz, ia berkata, ‘Saya telah mengawini seorang wanita jariyah yang masih muda dan saya khawatir ia akan membangkitkan amarah saya. Maka Abdullah (yang dimaksud adalah Ibnu Mas’ud) menjawab, ‘Kerukunan itu datangnya dari Allah dan kemarahan itu datangnya dari syetan. Ia (syetan) menginginkan kamu membenci apa yang dihalalkan oleh Allah kepadamu. Maka kalau istrimu datang menghampirimu, perintahkan ia shalat dua rakaat dibelakangmu’. Dalam riwayat lain dai Ibnu Mas’ud ditambahkan, katakanlah “Allohumma baariklii fii ahlii, wa baariklahum fiy, Allohummajma’ bainanaa maa jama’ta bikhoir, wa farriq bainanaa ilaa khoir” (Ya Alla, berkan keberkahan kepadaku (anak istriku) dan berikan keberkahan kepada mereka dalam diriku. Ya Allah, persatukan kami selama persatuan itu mengandung kebajikan dan pisahkan kami jika perpisahan itu menuju kebaikan).

3. Doa sebelum jima’

Ketika melakukan hubungan suami istri disunnahkan kepada pasangan suami istri itu membaca doa:

“Bismillah, Allohumma jannibnasy syaithoona, wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa” (Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkan kami dari syetan, dan jauhkanlah syetan dari anugerah yang akan engkau berikan kepada kami)

Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Apabila Allah mentakdirkan keduanya memperoleh anak, maka anak itu tidak akan mendapat kemudharatan dari syetan selamanya.”

Semoga berkah bagi yang membaca, dan mengamalkannya.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Siapkan Pernikahan | Bertanda: , | 1 Komentar »

Dua Strip Merah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 18, 2009

Kemarin saia berangkat shalat subuh ke musholla Baiturrahman, musholla di RT saia yg baru saja berdiri & alhamdulillah kalau sekedar shalat berjamaah masih bisa diguakan, diselimuti tanda tanya. Pasalnya setelah saia wudhu dan bersiap ke musholla, istri saia masuk kamar mandi lamaaa bangget. dia bilang sih ga apa-apa.

Setelah selesai menikmati suasana subuh di musholla, saia segera kembali ke rumah. kreeeeeeeetttt…pintu saia buka dan tiba2 saya terkejut ada makhluk putih2 berdiri didepan saia. Makhluk itu menggerak2kan kepalanya seolah mencari lubang diujung kain putihnya. DOENG…DENG…DONG…muncullah muka istri saia dari mukena yg sedang ia pakai.

Saia masih terbelalak, namun sebaliknya saia melihat istri saia berseri-seri. ada apa gerangan dirinya? “Mas…mas…let see…I’ll show you something…”, tiba2 tanganku ditariknya. Istriku lantas menunjukkan sebuah batang kecil seperti lidi.

“Lihat, mas”. tanpa kata tanpa tunda, saia pelototi barang sekecil lidi itu. nampak pada batangnya dua strip merah kecil. Alhamdulillah…alhamdulillah…alhamdulillah…istri saia hamil.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah | Bertanda: , , | 8 Komentar »

lil bit strange

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 4, 2009

who's chat

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 7 Komentar »

Pilhan Acara Pergantian Tahun

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 31, 2008

Di negeri Ramah Insan, konon hidup seorang pemimpin negeri. Jambu Kopyor namanya. Namanya juga pemimpin, dia sibuk sekali harus mondar-mandir kesana kemari. Mulai dari menghadiri acara peningkatan produksi pertanian hingga acara partai. Jadualnya begitu padat bahkan tahun sudah akan brakhir pun masih harus keliling negeri.

Wal hasil…si Jambu Kopyor ini kelelahan dan ingin refreshing. Nah kebetulan di Pulau Dewala Bati pada setiap pergantian tahun ada acara hiburan yang meriah. Si Jambu Kopyor ingin merayakan pergantian tahun di pulau itu. Gosipnya sih salah satu lokasinya di Istana Tampak Serong.

Jauh dari tempat Si Jambu Kopyor hendak merayakan pergantian tahun ada acara lain di sebuah masjid. Masjid yang terletak di Indonesia. Masjid At Tin, di Taman Mini Indonesia Indah. Ada agenda:

“Doa dan Dzikirku untuk Bangsaku” Memperingati Tahun Baru Hijriah 1430 dan Menyambut Tahun Baru 2009, Rabu, 31 Desember 2008 pukul 18.00-24.00 WIB.

Dzikir Nasional itu akan dihadiri:

Ustadz M. Arifin Ilham (Pimpinan Majelis Dzikir Az-Zikra),

DR. H. Hidayat Nur Wahid MA (Ketua MPR-RI) [apa calon presiden juga ya],

H. A Riawan Amin, MSc (PResdir PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk)

Habiburrahman El Shirazy (Novelis)

DR. H. Adhyaksa Dault, SH. MSi (Menpora)

KH. Zaenuddin MZ (Ulama)

Nah…Mau pilih yang mana? Ikut si Jambu Kopyor apa Dzikir Nazional?

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: | 2 Komentar »

Dari Cinta hingga Munashoroh Palestina

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 30, 2008

Suatu saat ketika saia baru turun dari Gunung Kencana, bukan dalam rangka “ngasah kasekten” ato memburu si butak dari gua hantu, tapi hanya ingin mendekatkan diri dan belajar langsung dari alam yang Allah ciptakan, tiba-tiba ponselku bergetar hebat. Saking hebatnya dapat meluluh lantakkan sendi-sendi cinta saia. Lha iya…wong yang sms itu pacar saia. Iya…pacar tercinta yang sekarang mendampingi hidup saia dalam suka dan duka. Maklum di atas gunung tidak ada sinyal. Jadinya pas turun trus ketiban sinyal…diberondong SMS bertubi-tubi. Mayoritas dari istri saia. Itu dia yang membuat saia luluh lantak.
Salah satu SMSnya begini “Terbersit hari ini, ketika mas lagi naik gunung, kapan kita bisa naik gunung bersama? Cintamu ini jadi pengen coba :) . kapan kita bisa DS bersama, munasharah di HI, Monas, Al-Azhar…pasti seru!!!”
Terus terang saat itu saia speechless. Seolah ingin mempercepat langkah turun gunung. tapi apa daya, istri saia masih di Aceh. Cepat atau lambat saia turun gunung tetap aja ga ngaruh.

Lantas malam, ba’da maghrib ini, dapat SMS dari mas’ul
“Munashoroh Palestina untuk kader, simpatisan, dan warga Jabodetabek, Jumat 2 Januari 2009. Kumpul di Bundaran HI pukul 13.00. Atribut Pendekar Kebenaran Sejati dan Bendera Merah Putih. Infaq “one man one dollar”

Tanpa pikir panjang, saia langsung mem-forward SMS itu ke istri saia. Beberapa detik kemudian ponsel saia teriak ‘Sukarno berkata…aku bukan budak Moskow, bukan pula budak Amerika, aku adalah budak bagi rakyatku sendiri…Bangkit Pemimpin Muda…Untuk Indonesia Sejahtera’. Ada SMS masuk bergambar perempuan anggun dan cantik sekali menyusuri Pantai Loknga, Aceh.
“Ikuuuutt..! Anis mau ikuuutt..!!”

Istri saia pengen banget ikut munashoroh. Tadi sore dia telepon, cintaku itu membaca eramuslim.com dan alikhwan.net sambil menangis tersedu. Tak rela Palestina dibombardir Israel.

Teruntuk Cintaku. Kamu masih di Banda Aceh, Cinta. Kamu masih harus menunggu SK mutasi itu terbit hingga kita bisa tinggal bersama. Kalo sudah di Jakarta, kamu mau ikut munashoroh, ayo aku ada di sampingmu. Kamu pengen ikut dzikir nasional, ayo aku temani. Sekarang kamu masih harus bersabar dulu ya sayang.

Tulisan ini pertama kali diketik diatas keyboar sambil melototin monitor yang nampilin multiplyku.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , | 3 Komentar »

Asal usul SITU GINTUNG

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 29, 2008

ini cerita muncul setelah secara iseng aku bertanya via multiply pada Pak AMin Yadi. ga taunya dijawab beneran (beneran iseng maksudnya). tapi bagus loh. begini asal usul Situ Gintung versi Pak Amin Yadi:

Pada zaman dahulu ada aktivis dirampok di dekat sebuah situ (danau).

Aktivis itu ‘terpaksa’ melawan secara fisik, setelah berbagai upaya lisan dan hati tidak berhasil meng-inqilab (membalik persepsi) preman itu.

Singkat cerita tidak sampai 3 jurus 7 preman itu keok semua.

Aktivis itu bilang, “GINi-gini Tarbiyah bUNG!”

Akhirnya 7 preman itu minta liqo dan mereka ber-8 ( D E L A P A N ) dikenal sebagai Pendekar Kebenaran Sejati.

Markaz mereka kemudian dinamai Situ Gini-gini tarbiyah bung yang disingkat…?

Walah…walah…walah…Pak Amin…ada-ada saja

oiya..trus tu aktivis kecapekan hingga tertidur di Situ Gintung.

tertidur-di-situ-gintung

He…he…he…enggak kok. ini foto pas latihan OlahRaga Arus Deras (ORAD) bersama STAPALA.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: | Leave a Comment »

My best achievement was…

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 29, 2008

Tepat tengah malam tadi istriku sms. “Yang, udah tidur? Semoga Allah member kita kekuatan untuk merangkai hari-hari di tahun ini menjadi lebih bermanfaat, lebih indah, lebih berkah, dll. Met tahun baru sayang…our first new year :)

Aku masih belum tidur saat menerima sms itu. Sejurus ingatanku menembus gelapnya malam menuju 5 Syawal 1429H atau 5 Oktober 2008. Pada saat itulah aku menancapkan tonggak pencapaian tertinggiku. The day when I get my best achievement. Aku telah mendapatkan separuh agamaku. Allah telah menganugerahi aku bidadari terbaik untukku. Allah memberiku pendamping hidup yang menemaniku menggapai ridho-Nya. Anis Dyah Rahmawati. Perempuan tempat aku menumpahkan rasa cinta dan rinduku. Perempuan yang menjadi pelindung pandangan dan kehormatanku.

Pada momen tahun baru 1 Muharram 1430H ini, aku berusaha menghitung-hitung pencapaianku. Dan aku tak bisa berhenti bersyukur, karena telah mendapatkan separuh agama. Selanjutnya aku tinggal bertakwa kepada Allah. Itu pun dibantu dengan seorang bidadari terbaik untukku. Seperti kalimat terakhir yang diucapkan Rasulullah SAW dalam hadits arba’in nomor 25, “Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa? Maka demikian pula apabila ia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala” (HR Muslim).

Istriku…kamu adalah ladang pencapaian ketakwaan kepada Allah. And you’re the best achievement I ever get.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah | Bertanda: , , , , , | 4 Komentar »

Ibu Kos pulang dari Haji

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 28, 2008

Dua hari kemarin ibu kos datang dari Baitullah. Para tetangga silaturahim ke rumah. Kos-ku jadi ramai. Padahal teman2 kos banyak yang pulang kampung. Aku sendiri tidak mudik. Tetap saja di kos, terbayang bersama istriku.

Melihat tetangga yang silaturahim dan kedatangan ibu kos, jad teringat waktu shalat idul adha di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Pagi itu langit Banda Aceh menyapa dengan rintik-rintik gerimis. Aku dan istriku nekad untuk jala kaki ke Baiturrahman. Ga jauh kok, hanya 30 menit jaan kaki dari Kampung Keuramat, tempat istriku kos. Hingga Baiturrahman, kami masih kebagian duduk di dalam masjid. Aku malah mendapat shaf kedua. Tak lama kemudian, ruangan masjid penuh. Lihat saja gambarnya.

inside-baiturrahman-idul-adha-1429h

Yang lebih hebatnya lagi, ketika shalat ID di mulai, hujan semain deras. Namun tidak membuat jamaah surut. mereka rela hujan-hujanan di luar masjid.

Setelah itu, jamaah khidmat menyimak khutbah Idul Adha. Aku meng-upload khutbah yang disampaikan Prof. DR. TGK. H. Nazir Azis, SE, MBA.  Ketika ibu kos datang aku membaca lagi khutbah itu dan membayangkan seolah-olah aku mengikuti prosesi haji. Isi khutbah itu ada di bawah post ini.

Setelah selesai rangkaian shalat ID, luar biasa…lautan manusia membanjiri Baiturrahman. Jika melihat mereka, aku yakin, musuh-musuh Islam akan gentar.

outside-baiturrahman-idul-adha-1429h


Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 2 Komentar »

Khutbah Idul Adha 1429H di Majid Baiturrahman, Banda Aceh

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 28, 2008

IBADAH HAJI SIMBOL KEMENANGAN ORANG MUKMIN[i]

Prof. DR. TGK. H. Nazir Azis, SE, MBA[ii]

Puji dan syukur kita persembahkan ke hadhirat Allah Swt yang telah memberikan kepada kita berupa nikmat Islam, memuliakan kita dengan seruan haji, menjalankan segala syiarnya yang agung sehingga menjadikan kita terpilih menjadi ummat terbaik untuk manusia. Salawat dan salam marilah kita sanjungkan ke pangkuan junjungan ‘alam Nabi Besar Muhammad Saw, keluarga dan sahabatnya sekalian yang telah berkorban demi perjuangan Rasulullah Saw dalam memperbaiki akhlak manusia dan memerangi taghut.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin Kaum Muslimin Sidang Jamaah Idhul Adha yang Dirahmati Allah SWT

Di pagi yang berbahagia ini, ummat Islam di seluruh pelosok dunia sedang merayakan dan mengagungkan asma Allah Swt. Mereka berduyun-duyun menuju masjid-masjid, surau-surau, ataupun pergi ke tempat-tempat ibadah dengan satu tujuan yaitu mengucakan talbiyah, menyebut asma Allah, mengabdikan diri kepada-Nya, membesarkan Allah sebagai Pencipta, Pelindung, Penyelamat dunia dan akhirat.

Dalam tradisi Islam, hari raya haji disebut juga dengan hari raya qurban. Disebut hari raya qurban, ini tidak terlepas dari sejarah awal dalam sebuah peristiwa besar yang terjadi pada diri Nabi Ibrahim as ketika diperintahkan Allah untuk mengurbankan puteranya Nabi Ismail as. Pada masa Islam, peristiwa ini menjadi bahagian penting untuk diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan kaum muslimin melalui tradisi kurban.

Hakikat dari ibadah haji sesungguhnya pengabdian diri hamba yang direalisasikan dalam bentuk kegiatan penuh dengan simbol-simbol yang sangat protokoler. Tapi, kedalaman maknanya itu juga tergantung pada pribadi-pribdi orang mukmin itu sendiri. Kita akan menangkap makna-makna yang terkandung dalam ibadah haji. Prosesi haji dimulai dari miqat dengan menanggalkan pakaian berjahit dan berganti dengan pakaian ihram. Maka sejak itu pula seorang mukmin harus menanggalkan pakaian kemewahan, simbol-simbol duniawi, pangkat dan jabatan berganti dengan pakaian ketaqwaan berupa kesabaran, ketabahan, keikhlasan, tawadhuk, tunduk, patuh dengan menafikan sifat-sifat sombong dan arogan.

Selesai miqat dan berpakaian ihram, lalu menuju ke Mekkah untuk melakukan tawaf yang dimulai dari garis lurus dengan hajar aswad. Saat akan tawaf kita mengangkat tangan sambil berucap “Allahu Akbar”. Mengangkat tangan sebagai simbol kita berjabat tangan dengan Allah, yang mengisyaratkan bahwa kita berjanji akan mematuhi apa yang telah diperintahkan dan digariskan oleh Allah menyangkut aturan-aturan dalam hidup ini. Ini seperti halnya kita berjabat tangan setelah selesai dari penandatanganan kesepahaman (MoU) dengan pihak lain, yang juga mengisyaratkan bahwa kedua belah pihak akan berjanji dengan sepenuh hati melaksanakan apa yang termuat dalam perjanjian itu. Tapi, mengapa orang-orang yang telah berikrar itu, masih saja melanggar janjinya. Itu berarti ia belum bertawaf.

Ketika tawaf seseorang melingkari Ka’bah dari empat arah sebanyak tujuh kali. Ini bermakna bahwa kaum muslimin dan muslimat dalam mendekati Tuhannya bisa dilakukan dari berbagai arah. Tetapi tetap tidak boleh mengi’tiqadkan/menganggap bahwa Tuhan itu ada di sana. Karena anggapan itu dapat mengancam aqidah seseorang membawa kepada syirik; Allah dalam keyakinan orang-orang muslim tidak mengambil tempat dan bentuk seperti yang terlintas dalam pikiran manusia.

Hadirin yang Dimuliakan Allah SWT

Secara lebih luas tawaf melingkari Ka’bah bersimbolkan hidup dan kehidupan seseorang mukmin tidak boleh keluar dari jalur yang telah ditentukan oleh syariat, kemanapun ia berputar menjalani hidup dan kehidupan ini. Kehidupan itu sendiri adalah silih berganti, ada yang baru hadir dan ada yang berada di tengah perjalanan serta ada pula yang tinggal di ujung kehidupan. Walaupun demikian, yang nampak bagi kita adalah bahwa mereka berada dalam suatu arena yang sama, yakni dalam lingkaran Ka’bah. Bertawaf mengelilingi Ka’bah dari keberagaman suku bangsa, perbedaan warna kulit dengan suasana berdesak-desakan, dapat memberi arti bahwa untuk menggapai tujuan hidup haruslah berani bersaing dengan bangsa-bangsa dan suku-suku. Meskipun harus menjalani hidup dengan persaingan, tapi, tetap saja tidak dibenarkan bermain di luar jalur, apalagi sampai merampas hak-hak orang lain. Tida boleh sedikitpun menyakiti dan mendhalimi orang lain. Jalan hidup ini sesuai aturan main yang telah digariskan Allah Swt. Jangan melanggar garis “hijir Ismail” saat melaksanakan tawaf.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT

Selesai melaksanakan tawaf dilanjutkan dengan sa’i. Sa’i dalam konteks ibadah haji berarti lari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah. Dalam konteks yang lebih luas, sa’i dapat berarti berusaha mencari kehidupan baru. Prosesi ini mengenang kembali usaha keras yang dilakukan ibunda Ismail as, Siti Hajar, saat mencari air untuk kelangsungan hidup puteranya. Dalam menjalani hidup harus dimulai dengan jalan yang bersih dan insya Allah akan memperoleh keberkahan. Ketika Siti Hajar mengakhiri sa’i di bukit Marwah berarti menggambarkan kesejahteraan dan kedamaian. Makna ini dapat dipahami bahwa seorang muslim dalam berusaha haruslah dengan cara-cara yang bersih, halal, tidak menyakiti orang lain, dan jika pun ada persaingan maka persaingan dilakukan dengan sehat, dan jujur sehingga hasil usaha yang diperoleh akan berdampak untuk kesejahteraan dan kedamaian.

Ibadah sa’i juga memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan muslim dalam mencari nafkah, di samping titah Allah untuk menunjukkan kepada ummat muslim bahwa alam semesta ini berjalan sesuai dengan hukum alam (sunnatullah). Ini bermakna meskipun Siti Hajar sudah tahu dan paham benar situasi dan kondisi alam di sekelilingnya, namun ikhtiar sebagai manusiawi tetap ia lakukan sa’I agar memperoleh seteguk air. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak pernah putus asa; terus berjuang sampai menggapai tujuan.

Kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail as, telah mengajarkan ketauhidan kepada kita bahwa ada karunia Allah yang diberikan melalui sebab musabab, dan ada pula yang tidak. Dalam sejarah, diriwayatkan bahwa di tempat yang gersang lagi tandus Nabi Ibrahim as meninggalkan Siti Hajar dan Ismail yang sedang bayi. Ketika Ibrahim hendak bergegas pergi meninggalkan mereka berdua, Hajar bertanya, apakah kami akan engkau ditinggalkan pergi di lembah ini? Hatinya di relung sedih karena harus meninggalkan keluarganya di lembah yag tandus. Nabi Ibrahim as tidak dapat menjawab atas pertanyaan isterinya itu. Lalu Hajar mengulang bertanya, “Kepada siapa engkau titipkan dan tinggalkan kami di lembah ini? Adakah Allah telah memerintahkanmu?”. Ibrahim masih saja diam seribu bahasa, dia belum dapat memberikan jawaban, namun yang terlihat seakan sinar matanya redup dan berkaca-kaca, sesekali ia menatap ke langit. Setelah ia mendapatkan hidayah, barulah ia menjawab pertanyaan isterinya dengan anggukan kepala sebagai isyarat membenarkan bahwa apa yang dilakukan itu adalah perintah Allah Swt. Isyarat itu telah melegakan hati Siti Hajar dan ia menyambutnya dengan penuh keimanan dan ketabahan. Karena Siti Hajar yakin Allah Yang Maha Kuasa lagi Pemurah pasti tidak akan mengabaikan dan meninggalkannya seorang diri.

Gambaran hidup bermitra sedemikian kuat dan besar pengaruhnya terhadap tugas-tugas suami, dengan catatan keimanan tetap harus kokoh agar jangan ada pihak-pihak yang nampaknya membantu, tapi pada hakikatnya menjerumuskan. Inilah hikmah sa’I yang telah disyariatkan kepada kita dalam rangkaian menyelesaikan ritus-ritus ibadah haji. Ada saat-saat harus melakukan usaha maksimal dan ada pula saat-saat kita harus melakukan kepasrahan secara total kepada Allah Swt. Dengan demikian Islam tidak pernah menawarkan jalan pintas, jalan cepat untuk sukses tanpa usaha, apalagi dengan jalan merampas hak-hak orang lain agar kelihatan “wah” di mata manusia, tetapit erburuk di mata Allah Swt. Islam menawarkan cara-cara alamiah, agar mudah ditiru dan bisa dilakukan oleh siapapun.

Allah Swt melalu ritus ini ingin menyempurnakan tahap demi tahap yang harus dilakukan manusia ketika menginginkan sesuatu kesuksesan, sekaligus untuk memberikan pemahaman, pelajaran dan hikmah kepada kita tentang masalah yang alami, yakni apabila kita sudah menempuh berbagai ikhtiar dan ternyata menemui jalan buntu, maka seorang mukmin dilarang untuk berpatah semangat apalagi putus asa karena Allah selalu memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya. Prinsip ini dijelaskan dalam Al Quran dalam surah An-Naml, “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang ang dalam kesulitan apabila ia ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya”. (QS. An-Naml (27):62)

Perhatian dewasa ini, gaya hidup putus asa dianggap bentuk perarian yang mujarrabah, lewat pergi ke tempat-tempat unkar, narkoba, heroin, gantung diri, dan lain-lain ikut telah mewarnai kehiduan masyarakat. Tidakkah kita renungkan dan belajar dari perilaku Siti Hajar bersama anaknya Ismail ketika susahnya mendapat seteguk air? Sedangkan kita hidup ditengah alam dengan lahan yang subur, di tengah-tengah keramaian dan di era transportasi yang tinggal pilih. Apa yang membuat kita harus berputus asa? Jawabannya adalah kita ingin dapat cepat dan ingin lewat jalan pintas. Kita sangat ambisius menguasai alam dengan cara yang salah, lihat saja hutan sudah gundul, penebangan tanpa batas, sehingga menyebabkan banjir, tanah longsor dan berbagai kejadian yang serupa terjadi di mana-mana. Kenapa kita serakah menguasai seluruh sumber kehidupan tanpa peduli yang halal dan haram. Jika demikian, dimana letak makna sa’I dan makna tawaf yang telah diajarkan kepada kita dalam ibadah haji itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT

Wukuf di Arafah merupakan ritual haji yang sarat nilai dan tak kalah pentingnya bagi manusia. Arafah secara bahasa berasal dari kata ‘arafa yang berarti mengenali atau mengetahui. Arafah dapat dipahami sebagaimana mengenal pribadi masing-masing mengenai dari mana kita berasal, dan hendak kemana kita akan kembali. Pengenalan terhadap jati diri manusia sangat penting agar perjalanan hidup yang tidak gratis melainkan harus dengan pertanggungjawaban ini dapat terkontrol.

Tanpa pengenalan atas jati diri, seseorang sering kali terjerumus ke dalam sifat-sifat tercela seperti sombong, egois, dan lain-lain. Ketika sifat-sifat itu sirna dari diri manusia maka ia akan menemukan kembali jati dirinya sehingga dengan mudah memahami siapakah Tuhannya. Al Aqqad dalam kitabnya “Manusia dalam Al-Quran” mengemukakan bahwa setiap muslim penting sekali mengenali dirinya. Ia menyatakan “Kanali siapa dirimu”. Amanah ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh baginda Rasulullah Saw bahwa barang siapa yang mengenali dirinya pasti ia akan mengenali siapa Tuhannya.

Training untuk mengenali jati diri lewat media wukuf di Padang Arafah itu harus mampu mengantarkan kita kepada perubahan sikap setiap saat mengenang makna hidup secara hakiki. Seringkali kita sulit mengajak hati untuk berdialog dengan diri, karena tertutupi oleh hawa nafsu dan kemauan hawa nafsu syatainiyah. Akan tetapi semua orang saat wukuf di Arafah kebekuan hawa nafsu iitu bisa mencair dengan karena rahmat Allah SWT. Itu sebabnya kegiatan ritual wukuf di Arafah menjadi rukun haji yang pelaksanaannya tidak bisa diwakilahkan kepada orang lain walaupun seseorang harus ditandu karena sakit atau alasan lainnya. Kecuali itu waktu untuk pelaksanaan wukuf sangat khsus dan terbatas. Artinya tidak bisa orang melaksanakan di sembarang waktu. Ketentuannya sangat jelas kapan ia harus berada disana dan kapan pula harus meninggalkan Arafah. Wukuf dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, mulai ba’da zawal (setelah matahari tergelincir) hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Demikian pentingnya wukuf sampai-sampai Rasul SAW bersabda, “Alhajju Arafah” artinya haji itu adalah arafah.

Dilihat secara historis, wukuf di Padang Arafah merupakan renungan kembali tentang beberapa peristiwa besar yang pernah terjadi antara lain:

1. Bertempat di Jabal Rahmah, Padang Arafah, pertemuan kembai dua manusia pertama yaitu Nabi Adam as dan Siti Hawa yang pernah terpisah dalam waktu yang sangat lama setelah Allah menurunkan mereka berdua dari surga;

2. Mengenang kembali peristiwa Nabi Ibrahim as ketika mendapatkan perintah dari Allah untuk mengorbankan puteranya Ismail as. Saat itu Ismail baru tumbuh remaja dan tumpuan harapan, bagaimana perasaan kedua orang tuanya di satu pihak dan bagaimana harus mentaato perintah Allah di pihak lainnya. Inilah ujian keimanan yang harus dialami oleh Nabi Ibrahim as di Padang Arafah. Suatu ujian yang membuktikan bahwa Allah SWT baginya merupakan satu-satunya Dzat yang telah dipilih dan paling dicintai melebihi yang lain, tidak hanya dengan kata-kata melainkan juga telah dibuktikan dengan perbuatan. Dalam proses akan dilaksanakan perintah itu, Nabi Ibrahim as tidak ingin membuat kejutan psikologis kepada puteranya, melainkan ia mengajak bicara dengan meminta pendapat dan pandangannya tentang keputusan yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Manajemen pengambilan keputusan lewat dialogis ini diabadikan Allah di dalam Al-Quran surah As-Shaffat, 102, “Maka tatkla anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia menjawab : Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat: 102)

3. Mengenang perjalanan Rasulullah SAW ketika saat-saat akhir menerima risalahnya ditandai dengan turunnya wahyu terakhir Surat Al Maidah ayat 3 sebagai isyarat penyempurnaan risalah Islam;

4. Ibadah ritual Arafah adalah gladi resik peristiwa akbar bagi ummat manusia di Padang Mahsyar; hari kebangkitan kembali manusia dari kubur. Itulah sebabnya ritus Arafah begitu penting agar kita dapat mempersiapkan bekal untuk menjalani hidup di akhirat yang sifatnya kekal abadi.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Perenungan yang menjadi esensi ritus wukuf itu diharapkan dapat mengantar manusia menjalani sisa-sisa hidup yang lebih baik dan bermakna. Siapapun akan menyadari bahwa hidup ini sangat singkat, terbatas dan harus secara produktif diisi dengan hal yang baik, yang berkaitan dengan hablumminallah dan hablumminannas. Sesungguhnya apa yang ingin disimbolkan dalam wukuf di Arafah ini adalah peringatan terhadap awal dan akhir dari kehidupan ini.

Peringatan kehidupan awal yang ditandai pertemuan antara Nabi Adam as dan Siti Hawa, sementara kehidupan akhir ditandai dengan wahyu terakhir serta haji pamitan dimana Rasulullah SAW pamit dengan kaum muslimin dan para pengikutnya. Ritual ini sekaligus mengajak ummat manusia untuk merasakan suatu gladi resik, bagaimana seluruh manusia dihamparkan dalam kehidupan setelah mati. Semua manusia yang berwukuf memakai pakaian putih tanpa jahitan, seakan0akan situasi ini mengantarkan kita ke dalam kebangkitan kembali. Oleh karena itu, ritus wukuf adalah proses penyadaran diri tentang akan adanya kehidupan sesudah mati dan kehidupan itu harus berbekal ketaqwaan untuk keabadian.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT

Selesai wukuf di Arafah melanjutkan perjalanan ke Mina dengan terlebih dahulu mabit (singgah) di Musdhalifah utnuk memulihkan kembali kekuatan fisik sambil memungut batu-batu kecil sebagai persiapan melempar jamarah. Lempar jamarah setelah melaksanakan pertobatan di Arafah merupakan manifestasi untuk menyingkirkan syeitan-syeitan penggoda. Lemparan syeitan berulang kali dilakukan, ini menandakan syeitan menjadi musuh manusia di setiap masa. Sikap ini mengingatkan kita untuk kembali merenungkan peristiwa Nabi Ibrahim as dan Ismail as, saat melempar syeitan yang mencoba menggoda mereka berdua agar ingkar terhadap perintah Allah SWT. Sejak hari itu Nabi Ibrahim as telah meninggalkan pesan kepada puteranya dan orang-orang yang hidup setelah mereka bahwa sampai kapanpun syeitan-syeitan itu adalah musuh nyata bagi ummat manusia yang selalu harus diingat, dimusuhi dan diperangi.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Hadirin yang Dirahmati Allah SWT

Di akhir khutbah ini, khatib ingin mengajak kita semua untuk merenungi kembali peristiwa nabiyullah Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail as. Ketika nilai-nilai sejarah itu dapat diambil hikmah dan dimaknai dalam kehidupan masyarakat kita saat ini maka pastilah akan menemukan kedamaian dan ketenteraman diri sehingga akan memberi manfaat dan pengaruh yang besar dalam mengisi pembangunan bangsa.


[i] Disampaikan pada Khutbah Idul Adha pada 10 Dzulhijjah 1429H (8 Desember 2008) di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam

[ii] Direktur Program Magister Manajemen Universitas Syiah Kuala dan Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kualan, Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , , | 12 Komentar »

Karakter rumah muslim

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 26, 2008

Jujur, sungguh berat sangat menahan rasa rindu pada istriku. Tapi kerinduan ini seharusnya tidak membuatku futur. Aku harus bangkit. Aku harus mengisi waktu-waktu kerinduan ini dengan aktivitas yang memberikan kebaikan. Seperti pagi ba’da shubuh ini. Di As Sa’adah, rutin setiap Sabtu pagi, ada ta’lim. Yang mengisi kali ini adalah Ustadz Saman.

Pada kesempatan ini dijelaskan mengenia karakteristik rumah seorang muslim sehubungan dengan syi’ar. Setidaknya ada tiga karakter rumah syi’ar itu:

1. Dihiasi dzikir dan shalawat

Rasulullah pernah mengumpamakan rumah yang dihiasi dzikir dan tanpa hiasan dzikir laksana manusia dengan nyawa dan tanpa nyawa. Masya Allah, jauh sekali bedanya ya…antara hidup dan mati.

2. Tempat melakukan ibadah shalat

Rasulullah juga menuntunkan untuk menjadikan rumah sebagai tempat shalat, sehingga tidak seperti kuburan. Namun perlu diketahui, shalat yang dimaksud adalah shalat sunnah. Adapun shalat wajib itu lebih utama di masjid. Ini sesuai dengan kaidah bahwa ibadah yang wajib itu selayaknya diumumkan, sedangkan yang sunnah disembunyikan. Seperti halnya zakat yang dilakukan secara terbuka sehingga setiap orang bisa mengetahuinya. Lain halnya dengan sedekah. Ibarat tangan kanan member, tangan kiri tidak mengetahui.

3. Membaca Al Quran

Membaca Al Quran di rumah bukan sekedar sebagai sarana syi’ar. Tapi juga memiliki faedah untuk mengusir setan. Karena ketika dibacakan Al Quran maka setan akan kocar-kacir.

Hm…alangkah indahnya rumah seperti itu. Aku mengharapkannya. Dan ingin segera menghiasinya bersama istriku. Membaca Al Ma’tsurat, qiyamullail berdua, dan saling tasmi’ tilawah.

Bismillah…aku akan segera mendapatkannya. Amin.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Leave a Comment »

Pemuda Islam Pecinta Alam

Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 26, 2008

Bahagianya mereka…

Mengetahui seorang Akhwat berjilbab berhasil mendapatkan juara 2 dunia kompetisi panjat dinding dunia.

Alangkah senangnya mereka…

Melihat para pemuda mencintai alam ciptaan Rabb-nya

Alangkah gembiranya mereka…

Para pemuda yang menjaga staminanya hingga siap untuk jihad kapan dan dimana saja

Alangkah beruntungnya mereka…

Para pemuda yang mendaki gunung, mengarungi jeram, menyusuri gua…tapi tak lupa dengan kebutuhan shalatnya

Tulisan ini dibuat setelah melihat penghargaan kepada 8 pemuda yang menjadi sumber inspirasi.

Setidaknya ada cita-cita bahwa Islam itu dekat dengan alam. Jadi jangan pisahkan alam dari pengelolaan berdasarkan Islam. Siapa bilang pecinta alam jauh dari Islam. Aku akan berteriak tidak. Aku adalah pemuda Islam yang mencintai alam.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 2 Komentar »

Mau Tes Kok tetep Mabit

Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 22, 2008

Semalam aku bertemu teman dekat. Nampak raut mukanya penuh tanda tanya.

“Py, katanya besuk (23 Nov 08.red) kamu mau tes beasiswa S2? Kok sekarang masih sempat-sempatnya mabit disini?”

“Apa kamu tidak mendengarkan tausiyah Ustadz KH Abdul Hasib Hasan Lc tadi? InsyaAllah beasiswa yang aku dapat kan nanti berkah dan dirahmati Allah. Coba bayangkan. Aku selalu berharap dan berdoa. Lantas pada kesempatan malam ini doaku diamini oleh malaikat-malaikat. Ini adalah moment ketika aku mendapatkan doa dari para malaikat karena malam ini aku mengikuti kajian yang didalamnya aku membaca AlQuran, dibacakan AlQuran, berusaha memahami AlQuran, dan mendapatkan tausiyah berupa kajian ayat-ayat AlQuran. Bayangkan, yang mendoakan itu para malaikat. Lantas Allah memberikan rahmat-Nya. Aku yakin. Ini adalah awal dari keberkahan yang aku harapkan itu.”

“Ya…ya…ya…ngerti deh yang tausiyahnya masih hangat-hangat dipikiran. Lha terus persiapan tes-mu gimana?”

La takhof akhi (jangan kawatir saudaraku.red). Aku sudah merasakan seolah-olah beasiswa S2 itu dalam genggaman tanganku. Persiapan tetap akan aku lakukan. Tapi sekarag waktunya melanjutkan menyimak tausiyah Ustadz KH Abdul Hasib Hasan Lc itu. Yang jelas, aku yakin. Akan segera datang berkah dan rahmat dari Allah. Tak ragu lagi.”

Pembicaraan pun dihentikan. Dan kami kembali menyimak tausiyah di Malam Bina Iman dan Taqwa (mabit) kali ini.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 6 Komentar »

Terbaik

Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 21, 2008

Ya Allah…pagi ini hamba-Mu ini akan meretas perjalanan untuk menambah amunisi jihad

Aku membutuhkannya, aku yakin akan kedatangannya, dan aku merasakan kehadirannya saat ini pula

Engkau tentu tahu apa yang aku harapkan

Engkau tentu tahu isi hati istriku

Engkau tentu tahu harapan orang tuaku

Engkau tentu tahu doa orang-orang disekitarku

Jika jalan ini adalah yang terbaik Ya Allah

maka mudahkanlah, lancarkanlah, ringankanlah, dan kabulkanlah

Namun jika Engkau menakdirkan ini bukan yang terbaik

Aku yakin, Engkau pasti akan memberikan yang lebih baik dan terbaik bagiku, keluargaku, dan umat ini

Amiin….

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 2 Komentar »

Tes Beasiswa S2

Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 21, 2008

Kemarin waktu aku ke kampus Mercu Buana langkahku terhenti setelah ada seseorang memanggil. Rupanya dia adalah salah satu Ketua Jurusan di Univ Mercu Buana.

“Wan, kamu sudah S2 apa belum?”
“belum, bu”
“kamu cepetan S2-nya, biar saya rekomendasikan jadi dosen tetap. lagi butuh tenaga pengajar kayak kamu ni”
“InsyaAllah bu. Saya mau tes beasiswa S2 tanggal 22-23 November besuk”
“Ouw, ya bagus kalo sudah di-planning. ibu khawatir kamu S2-nya nunggu-nunggu. kalo perlu kamu S2-nya disini saja. sambil jalan nanti dosen tetapnya saya urus”
“Wah, terima kasih banyak bu. Doakan saya dapat beasiswa S2 itu ya bu”
“Iya…semoga nanti kamu berhasil dan mendapatkan yang terbaik”
“Amiin”

Tak lama memang pembicaraan itu. karena kami harus segera masuk kelas masing2. kami harus ngajar, bertatap muka dengan mahasiswa. hobby-ku yang aku selalu enjoy melakukannya. alhamdulillah bapak dan ibuku mendukung. dan sekarang aku mendapat dukungan pula dari istriku.
Subhanallah…betapa senangnya sore itu. Memang nikmat yang diberikan Allah itu tak terputus. Dan kini pun aku masih terus berharap untuk mendapatkan yang terbaik untuk meraih beasiswa S2. Bukan cuma untukku. tapi untuk keluargaku. untuk pendidikan di Indonesia. untuk masyarakat. dan untuk kejayaan umat tentunya…
Bismillah…siap-siap menerima beasiswa S2…..

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 3 Komentar »

Blog Baruku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 20, 2008

Ada cerita juga dari dunia maya yang lain

Tentu yang cerita masih aku.

ada di http://tentangceritacinta.blogspot.com/

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Curhat Adik Tingkat tentang Munakahat

Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 19, 2008

Sore menjelang maghrib ini ada adik tingkat yang sudah lulus STAN mengirim message padaku:

> Mas mo nanya, persiapan diri untuk nikah apa aja ya??

> Kalo jarak antara khitbah dan ijab qabul rada lama gpp?? tapi sebaiknya disegerakan ya???

Aku jawab begini:

Persiapan yang sebenarnya adalah kesiapan untuk mengucapkan “perjanjian suci (mitsaqan ghalidha)“. Itu butuh ketenangan yang luar biasa.

Kalo cuma persiapan teknis misalnya maharnya apa saja, itu sih gampang. Tinggal tanya aja calon pengantin perempuan mau minta mahar apa. Atau kostum pernikahan, itu bisa dimusyawarahkan.

Yang penting juga adalah usaha untuk meminimalisir perbedaan. Karena perbedaan pada saat-saat menjelang nikah itu bisa menimbulkan keraguan. Keraguan itu datangnya dari setan. Logikanya, kamu mau menikah itu untuk mendapatkan separuh agama. Sedangkan setan tujuannya menjerumuskan manusia. Tentu setan tak akan rela begitu saja manusia menyempurnakan agamanya. So, minimalisir perbedaan dan tetap menjaga emosi biar tetap stabil itu sangat penting.

Sabar. Itu sangat berat. Tapi harus dilakukan. Agar tidak terjerumus ke dalam marital failure. Kalo ada perbedaan, sabar dan musyawarah adalah kuncinya.

Tenang dan perbanyak ibadah. Banyak sekali godaan menjelang pernikahan. Termasuk rasa gelisah yang sebenarnya kita tidak tahu apa penyebab kegelisahan itu. Makanya harus diisi dengan banyak ibadah.

Guys, fase terberat menuju pernikahan adalah diantara khitbah menuju nikah. Semakin dekat insyaAllah semakin membawa berkah dan rahmat. Karena mempersempit time gap itu bisa meminimalisir risiko godaan-godaan yang bisa mengurangi keberkahan pernikahanmu.

So…jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.

——****——

Nah, kira-kira jawabanku itu gimana ya? Ada tanggapan? Mungkin ada yang lebih baik jawabannya? Mohon di-share ya? Terima kasih…

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 1 Komentar »

Si Kecil & Batu Dagangan

Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 10, 2008

Malam ini aku senang sekali. Alhamdulillah aku ditraktir makan teman baikku. Ia sedang merayakan milad-nya yang ke-26. Hm…semoga umurmu yang telah lalu berkah ya kawan. Semoga umurmu ke depan semakin bermanfaat bagi umat. Semoga bidadarimu segera mendekat hingga kamu bisa mendekapnya erat di dalam perjanjian yang kuat. Amin…

Lantas ada pemandangan yang membuat hatiku ini luluh lantak. Aku baru saja makan enak. Ketika aku menuju parkir motor mataku tertuju pada seorang anak. Ia memikul beban berat di pundak. Menjajakan dagangan yang sangat berguna bagi ibu-ibu untuk memasak. Anak seumuran SMP atau bahkan SD itu masih mengais rejeki padahal malam telah beranjak.

Tak tega aku melihatnya. Lemper dan ulekan batu itu masih tinggi membebani pikulannya. Aku datangi dia, dan kuberikan selembar uang. Ketika menyentuh tangannya, pikiranku buyar. Yang tadinya ingin menyapanya, mengajaknya berbicara, bertukar cerita, tapi itu semua menjadi sirna. Lenyap seolah tersapu keringat yang mengembun di tangan kasarnya.

Di sepanjang jalan pulang aku berharap. Adik kecil, semoga Allah memberimu rejeki yang berkah atas segala perjuanganmu. Semoga Allah menghapus dosa-dosamu dan memberikan kebaikan disetiap langkahmu untuk mencari rejeki yang halal bagimu dan keluargamu. Adik kecil, semoga akan semakin banyak orang-orang yang tertampar melihat perjuanganmu. Bagiku, kamu adalah pahlawan untuk keluargamu. Kamu adalah pahlawan yang memperjuangkan kehidupan dari kehalalan. Bagiku, kamu adalah pejuang bangsa. Yang memberikan pelajaran bagi setiap manusia dengan perjalanan nyata.

Adik kecil…kamu jauh lebih layak untuk merayakan hari pahlawan 10 November…

Catatan untuk istriku:

Bunga hatiku, ceritakan kisah-kisah perjuangan adik kecil ini kepada jundi-jundi kita kelak. Agar mereka menjadi generasi yang peka dengan perjuangan.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Leave a Comment »

Memoar Aceh (1)

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 26, 2008

Baru dua pekan kami melangsungkan pernikahan. Seolah baru kemarin walimah di Trenggalek dilangsungkan. Begitu sekejap rasanya ketika kami menangis berdua dalam beberapa kesempatan setelah shalat berjama’ah. Tapi kami harus terpisah jarak. Istriku tercinta harus ke Aceh sedangkan aku di Jakarta.

Begitu cintaku padanya, tak rela melepas kepergiannya sendirian. Walau realisasi transportation cost mengalami over-budget, tapi tak masalah, selama aku bisa memegang tangannya lebih lama. “Just listen my lovely wife, I am here for you honey…when you need a shoulder to cry on, someone to rely on, I am here for you, when you need a someone to hold you, remember I told you, I am here for you (Firehouse)”. Tak kulepas genggaman tanganku hingga mendarat di Aceh. Dan kubiarkan kepalanya bersandar di bahuku hingga suasana Serambi Mekah membangunkan lelapnya.

Ba’da dhuhur hari pertama aku di Aceh hujan turun membasahi kebersamaan kami. Seolah alam menyapa kami berdua untuk tidak keluar rumah. Cukup berdua dan menikmati keberduaan yang penuh berkah. Hingga Asar menggaung indah, kami baru melangkah keluar rumah setelah menunaikan sujud ibadah. Mendapatkan pinjaman sepeda motor dari Bang One berkeliling-keliling Banda Aceh. Menikmati udara sejuk dan sesekali bintik hujan menyapa tubuh kami. Hingga rintik hujan semakin lebat, dan Maghrib pun memanggil. Kami melangkah menuju Baiturrahman. Masjid mewah di pusat kota Banda Aceh. Indah dan megah. Ribuan burung walet berterbangan menghiraukan hujan hanya untuk berdzikir dan menghiasi langit Baiturrahman petang itu.

Hujan kembali mengguyur Banda Aceh selepas maghrib. Kesempatan di dalam masjid megah itu kami manfaatkan untuk mengabadikan keindahannya. Hingga Isya memanggil, hujan masih menguyur mesara bumi Serambi Mekah. Hujan mulai reda ketika shalat Isya rampung. Dan kami pun bergegas memburu makan malam. Sepiring berdua begitu mesra. Walaupun toh akhirnya nambah juga, tapi tetap saja suasana indah dan panggilan lapar menjadikan makan malam itu begitu lezat.

sehabis shalat maghrib berjama'ah di masjid Baiturrahman, Banda Aceh

sehabis shalat maghrib berjama

Rintik-rintik hujan masih malu-malu meninggalkan kami. Kami bergegas ke rumah Ujang Hamdani. Saudara seperjuangan di STAN. Kebetulan istrinya akrab dengan istriku. Hhuff…sambil menahan dingin, tubuhku mulai basah. Walau hanya titik-titik gerimis, tapi jika terus menempa tubuhku, akhirnya tebus juga jaketku. Basah kuyup hingga sampai di rumah Ujang. Dan dihangatkan secangkir kopi Ulee Kareng buatan istri Ujang. Begitu nikmat sambil berkelakar. Trima kasih ya Jang….

Malam semakin pekat, dan kami harus segera kembali ke kontrakan Bang One. Dialah yang menyediakan fasilitas mobilitas dan stabilitas selama aku di Banda Aceh. Bang One terima kasih banyak…

Malam itu dingin, sejuk dan indah. Seindah qiyamul lail pertama di tanah sumatera…

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , | 7 Komentar »

Memoar Aceh (2)

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 26, 2008


Pagi sejuk hari kedua di Banda Aceh dihiasi dengan keramahan seorang jama’ah masjid yang memboncengku mencari tempat ibadah Shubuh. Waktu terus berlalu dengan tagan istriku yang lekat dalam genggamanku.

Maman, teman mengadu idealisme di kampus STAN dulu, memanggil. Dikerjain abis aku. Ngopi Ulee Kareng hanya dengan hanya kostum celana kolor dan jaket tidur yang melekat di tubuh. Cuci muka saja belum. Tapi ta apa, banyak juga pelanggan kopi yang hanya sarungan. Begitulah kebiasaan orang Aceh, ngopi. Kopinya mungkin hanya secangkir, tapi bahan pembicaraannya segudang. Mulai dari masalah politik, partai lokal, pemerintahan, olah raga, kemasyarakatan, pendidikan, dan segala hal topik lainnya. Aku, Maman, dan Ujang tak bias berlama-lama di kedai kopi itu. Teman-teman ku itu harus segera ke kantor. Dan aku juga harus silaturahmi ke kantor istriku.

Badan Pusat Statistik, Kanwil Banda Aceh. Di gedung itulah istriku memperjuangkan ilmu dan idealismenya. Cerita-ceritanya tentang perjuangannya itu semakin membuatku cinta. Aku merindukanmu istriku. May be my love will come back some day, only heavens know-Rick Price.

Acara silaturahmi itu berlangsung hingga siang hari. Hingga sore harinya sengaja akan kami habiskan untuk jalan-jalan di Banda Aceh. Tentu ditemani dua teman baik kami, Bang One dan Ely. Kami makan siang dengan menu Ayam Tangkap di sebuah restoran di depan tanah yang sedang dibangun gedung BPK Perwakilan Banda Aceh. Hm…maknyuss rasanya.

Sasaran pertama adalah Kapal Apung di Ulee Lheue. Kapal besar itu adalah pembangkit listrik tenaga diesel yang pada mulanya berada di tengah lautan. Namun tsunami telah menyeretnya hingga ke daratan. Begitu besar dan kokoh. Berdasarkan informasi yang aku dapat, hingga saat ini pembangkit listriknya masih beroperasi.

diatas kapal apung yg terseret ombak ke daratan

diatas kapal apung yg terseret ombak ke daratan

Perjalanan selanjutnya menuju pekuburan masal, masih di Ulee Lheue. Perjalanan ke pekuburan itu menuntut perhatian ekstra. Karena jalan-jalan sedang dibangun sehingga banyak material di sekitarnya. Masih di Ulee Lheuu, kami menuju pelabuhan ferry yang menghubungkan pulau Sumatera dengan Pulau Sabang. Sabang…kota tempat Ely akan bertugas. Dia dimutasi dari Kanwil BPS Banda Aceh. Praktis, ia tidak sekamar lagi dengan istriku. Dialah perempuan yang begitu setia menemani istriku ketika sedih dan senang selama istriku di Banda Aceh. Semoga Ely mendapatkan keberkahan yang berlipat ganda. Trima kasih ya Ely…

Dari Pelabuhan, aku di bawa Bang One ke Masjid Teuku Umar. Masjid yang khas, karena hanya satu di Banda Aceh masjid dengan kubah seperti topi Teuku Umar. Tidak seperti masjid lain yang berkubah bulat. Masjid itu masih sedang direnovasi. Bekas-bekas bencana masih terlihat jelas di area masjid itu. Semoga menjadi masjid yang dimakmurkan oleh masyarakat dan menjadi basis kebangkitan umat.

Sore menjelang. Kini saatnya perjalanan berdua saja. Aku dan istriku. Melihat keindahan Baiturrahman ketika mentari masih bersinar, lantas ke pantai Ujong Batee. Pantai yang gambarnya bersatu dengan puncak Gunung Lawu di undangan pernikahan kami. Hamparan pasir luas itu mementuk ukiran gelomban karena pasirnya tak kuasa menahan hembusan angin. Tapi sang angin tetap tak kuasa menghempaskan bebatuan yang berkumpul kokoh. Semoga jiwa-jiwa kami sekokoh bebatuan itu.

Malam mulai menjelang, dan kami pun segera pulang. Istriku…dengarkan…You are all I need beside me girl; you are all I need to turn my world-White Lion.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , , , | 1 Komentar »

Memoar Aceh (3)

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 26, 2008


Hari ketiga di Aceh. Hari di saat istriku harus sendiri tanpa kehadiranku disisinya esok pagi. Hari ketika aku harus sendiri tanpa ada bidadari disisi. Siang itu aku akan kembali ke Jakarta. I want to be by your side in everything that you do-Firehouse.

Setelah pamitan ke pegawai di kantor istriku, kami menuju Baiturrahman. Bus menuju bandara parker di sana. Sambil memanfaatkan waktu sebelum bus berangkat, kami kembali mengambil gambar di depan masjid indah itu.

di depan Masjid Baiturrahman

di depan Masjid Baiturrahman

Perjalanan bus Damri ke bandara itu hanya berisi tiga orang. Sopir, aku, dan istriku. Tak lepas tangan bunga cintaku itu kugenggam. When I look into your eyes, I can see how much I love you and make me realize-Firehouse.

Istriku…tabahkan hatimu. Percayalah aku pun selalu rindu. Yakinlah…kita akan segera bersama lagi. Biarlah Rabb yang menyaksikan bulir-bulir air mata kita menetes mengemis kemurahan-Nya. Memohon dengan penuh harap agar kita selalu bersama dalam kebaikan. Seperti doa yang kita ucapkan sehabis shalat sunnah setelah akad nikah. Wahai Alah, satukanlah kami bila hendak Engkau persatukan dalam kebaikan; dan pisahkanlah kami bila hendak Engkau pisahkan dalam kebaikan. Aku yakin istriku…Allah tahu bahwa kita memilih yang pertama. Maka yakinlah perpisahan ini adalah kebaikan yang Allah berikan kepada kita. Hingga kebaikan pula yang akan menyatukan kita dalam kebersamaan. Kebersamaan dalam meniti perjuangan yang tak lekang oleh kecongkakan zaman. Anggaplah perpisahan ini hanyalah sebuah latihan sebagai ghuraba, orang-orang yang berada dalam keterasingan, yang sedang berjuang mengadakan perbaikan di tengah kerusakan manusia.

Rembulan dilangit hatiku. Menyalalah engkau selalu. Temani kemana mesti ku pergi. Mencari tempat kita tuju. (Seismic)

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »