Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 26, 2008
Jujur, sungguh berat sangat menahan rasa rindu pada istriku. Tapi kerinduan ini seharusnya tidak membuatku futur. Aku harus bangkit. Aku harus mengisi waktu-waktu kerinduan ini dengan aktivitas yang memberikan kebaikan. Seperti pagi ba’da shubuh ini. Di As Sa’adah, rutin setiap Sabtu pagi, ada ta’lim. Yang mengisi kali ini adalah Ustadz Saman.
Pada kesempatan ini dijelaskan mengenia karakteristik rumah seorang muslim sehubungan dengan syi’ar. Setidaknya ada tiga karakter rumah syi’ar itu:
1. Dihiasi dzikir dan shalawat
Rasulullah pernah mengumpamakan rumah yang dihiasi dzikir dan tanpa hiasan dzikir laksana manusia dengan nyawa dan tanpa nyawa. Masya Allah, jauh sekali bedanya ya…antara hidup dan mati.
2. Tempat melakukan ibadah shalat
Rasulullah juga menuntunkan untuk menjadikan rumah sebagai tempat shalat, sehingga tidak seperti kuburan. Namun perlu diketahui, shalat yang dimaksud adalah shalat sunnah. Adapun shalat wajib itu lebih utama di masjid. Ini sesuai dengan kaidah bahwa ibadah yang wajib itu selayaknya diumumkan, sedangkan yang sunnah disembunyikan. Seperti halnya zakat yang dilakukan secara terbuka sehingga setiap orang bisa mengetahuinya. Lain halnya dengan sedekah. Ibarat tangan kanan member, tangan kiri tidak mengetahui.
3. Membaca Al Quran
Membaca Al Quran di rumah bukan sekedar sebagai sarana syi’ar. Tapi juga memiliki faedah untuk mengusir setan. Karena ketika dibacakan Al Quran maka setan akan kocar-kacir.
Hm…alangkah indahnya rumah seperti itu. Aku mengharapkannya. Dan ingin segera menghiasinya bersama istriku. Membaca Al Ma’tsurat, qiyamullail berdua, dan saling tasmi’ tilawah.
Bismillah…aku akan segera mendapatkannya. Amin.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Leave a Comment »
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 26, 2008
Cintaku…
Sore ini aku masih belum beranjak dari depan layar monitor. Aku begitu merindukanmu. Melihat foto-foto kita. Hingga tiba-tiba berhenti ketika foto kita bermain ayunan di Pantai Gapang, Pulau Weh. Saat itu seolah tak ada kesedihan yang tersirat diantara kita. Seolah kebersamaan untuk selamanya. Dan kini suasana itu melayang. Berganti kesedihan karena kerinduan yang mendalam.
Cintaku…tak berhenti harapan-harapan ini mengayuh dayung agar segera sampai pada pulau indah bernama kebersamaan.
Sore ini…aku begitu merindukanmu…

Teruntuk istriku yang tak pernah lekang mengikutkan doa setelah ba’da shalat demi berkumpulnya kami kembali oleh Allah.
Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: Aceh, Anis Dyah Rahmawati | Leave a Comment »
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 26, 2008
Pagi ini aku membuka kotak chattingku. tak kulihat nama istriku aktif disana. aku sangat merindukannya. padahal beberapa menit yang lalu percakapan kami dihentikan oleh kecongkakan pulsa.
Wipy Yuwana: cintaku…
Wipy Yuwana: aku melihat butiran2 daun cinta itu turun di kotak chat ini
Wipy Yuwana: tak ada habisnya
Wipy Yuwana: seperti cintaku padamu sayang
Wipy Yuwana: diam tanpa kata pun aku bisa merasakannya
Wipy Yuwana: begitu indah
Wipy Yuwana: dan terkadang menyiksa jika sadar kau tak dekat ada
Wipy Yuwana: seperti ini kah cinta sayangku
Wipy Yuwana: tak cinta jika tak merasakan tersiksa
Wipy Yuwana: maka cinta dan pahatan2 meyiksa inilah yang menemaniku
Wipy Yuwana: mengingatmu dalam kerinduan
Wipy Yuwana: dalam kesyahduan
Wipy Yuwana: hingga menantikan kebersamaan
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »