Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Arsip untuk September, 2008

Lafaz Ijab Qabul

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008

Ijab Qabul dalam akad nikah itu kata-kata kesepakatan antara kedua pihak yang bersepakat (wali dan mempelai laki-laki). Ijab adalah kalimat yang berisi ajakan dan keinginan untuk menjalin sebuah ikatan pernikahan (biasanya diucapkan wali). Qabul merupakan ungkapan kerelaan dan persetujuan atas ajakan itu (biasanya diucapkan mempelai laki-laki).

Nah yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana sih lafaz alias redaksional ijab dan qabul dalam pernikahanku nanti. Kalo di Fiqih Sunnah (karya Sayyid Sabiq) sih yang penting ijab dan qabul itu menggambarkan kesepakatan untuk menikah (dengan bahasa yang dipahami oleh kedua pihak yang melakukan akad nikah), serta dengan bahasa yang jelas, dengan tujuan untuj menghindari kesalahpahaman.

Hmm…kalimat sakral yang aku tunggu “Wirawan Purwa Yuwana bin Imam Supandi, anda saya nikahkan dengan saudara saya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin Kitab Tafsir Fidzilalil Qur’an, Kitab Fiqih Sunnah dan sebuah cincin, tunai”. Kalo sudah kalimat ijab diucapkan begitu, gimana coba jawabnya?

“Saya terima nikahnya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin yang telah disebutkan di atas tunai”. Ato mau pakai bahasa Arab? “Qabiltu nikaha watzwijaha linasfi bi mahril madzkur haalan” (versi Ayat-Ayat Cinta ditambah ‘ala manhaji kitabillah wa sunnati rasulillah). Ato pakai bahasa Inggris? I approve the marriage with Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat by bide price that have been mentioned at that very moment. Apakah harus seperti itu?

Gimana kalo jawabnya singkat, padat dan jelas. Misalnya “Tunai!”, “Siap!”, “Setuju!”, “Baiklah!”, “Na’am”, “Oke!”, “Yes!”, ato “Absolutely!”. Gimana tuh? Ada yang bisa ngasih pendapat ga?

Ah namanya juga masih belajar. Dan masih pertama kali lagi….

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 7 Komentar »

Melihat Calon Bidadariku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008

Selama proses menuju pernikahan, baru kemarin aku melihat calon istriku. Memang sudah disarankan oleh Rasulullah untuk melihat calon istri. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Hurairah r.a. mengatakan, “Aku berada di sisi Nabi SAW ketika datang seseorang yang mengabarkan bahwa dia akan menikahi seorang wanita dari kalangan Anshar. Rasulullah berkata, ”Apakah engkau telah melihat wanita yang engkau nikahi?” Dia mengatakan,”Belum”. Maka Rasuullah mengatakan, ”Pergilah engkau dan lihat wanita yang akan engkau nikahi, karena pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu”.

Ada juga hadits yang diriwayatkan Abu Dawud bahwa Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ketika seorang meminang perempuan, jika memungkinkan, hendaknya ia memandang perempuan itu untuk melihat sesuatu yang dapat memotivasi dirinya untuk menikah dengannya”. Jabir berkata, “Ketika aku ingin meminang seorang perempuan dari bani Salmah, aku bersembunyi mengendap-endap untuk dapat melihatnya, sehingga aku menemukan sesuatu yang memotivasiku untuk menikahinya.

(Aku menghela nafas panjang) Hhhhheeehh….rupanya jantung ini serasa lepas dari tempatnya. Ini bukan hiperbolis loh. Cuma melukiskan biar sedikit dramatis gitu. Aku benar-benar ga punya nyali untuk melihatnya scara langsung. Bahkan malah kikuk ga karuan. Ketika bicara padanya aku hanya bisa melempar pandangan ke arah kakaknya. Ga punya nyali aku. Malu. Benar-benar malu menatapnya saat itu. Walau hanya sekilas. Malu banget. (Malu kok cerita-cerita di blog)…[biarin, wong malunya sama calon istri kok, bukan sama pembaca blog]

Setengah bego aku mengetik SMS ba’da shubuh tadi pagi (setelh kemarin sore kaya orang liglung) di Masjid Nur Al-Askar. “Assalamu’alaikum wrwb. Ukhti, ana ada permintaan ke anti. Nanti pas akad, ana harap anti tidak duduk disamping, dibelakang ato disekitar ana yang memungkinkan ana bisa melihat anti. Terserah anti mau ada dimana yang penting ana ga melihat anti sebelum ijab qabul. Pengalaman kemarin, ternyata ana tidak punya cukup hati untuk melihat anti. Khawatir kalo sebelum jab qabul ana melihat anti, malah grogi, deg-degan, bisa mati kata ana ntar. Ya usahakan ana baru bisa melihat anti setelah ijab qabul aja deh. Beda rasanya melihat foto anti & melihat anti secara langsung. Jazakillah”. Tu SMS yg begono panjangnyo lantas aku send ke calon istriku.

Tuh kan keliatan groginya. Waduh…semoga nanti saat ijab qabul tidak segrogi saat melihatnya….Ya Allah, gimme composure when I get married. Amin.

Catatan:

Ana = aku

Anti = kamu (perempuan)

Referensi : Fiqih Sunnah, karya Sayyid Sabiq

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: , , , | 3 Komentar »

Mudik Bertemu Grup Nasyid Issiz

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 19, 2008

Hm…mudik naik Harjay kali ini. Pas ditengah malam bertemu Grup Nasyid Issiz. Ingat ya Issiz, bukan Izzis. Kalo Izzis kan Izzatul Islam. Nah, kalo Issiz itu berasal dari bahasa Jawa, artinya adem. Itu lho kalo lagi panas keringetan terus ada angin berhembus…hm…issiz atawa adem rasanya. Grup nasyid Issiz ini punya nasyid yang nadanya sama dengan “Hai Mujahid Muda”-nya Izzis. Begini

Hai para pemuda yang masih bujangan

Tidakkah kau lihat indahnya pernikahan

Mendapatkan istri untuk menjaga pandangan

Bermanfaat jua pelihara kesucian

Kuatkan tekadmu jangan ragu-ragu

Siapkan dirimu tanpa pernah jemu

Ada bidadari yang cantik serasa di surga

Menunggu dirimu kenapa tak datang jua

Majulah wahai para pemuda

Dalam satu cita raih pernikahan

Singkirkan gundah jangan diam saja

Bidadari cantik segera datang

Setelah Grup Nasyid Issiz itu selesai menyanyikan nasyidnya, fuih…aku tersadar bahwa sekarang sudah sampai Alas Roban.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »

Kemana Masjid di Pemadam Kebakaran Lebak Bulus?

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 19, 2008

Kemarin aku berangkat mudik naik Harjay dari Lebak Bulus. Berangkatnya sih pkl.13.00. Yup, perkiraanku setelah shalat Jumat selesai. Berarti aku harus nyari masjid terdekat dengan Lebak Bulus. Dan tentu tak asing bagiku Masjid di Pemadam Kebakaran depan terminal persis. Memang sih masjidnya di belakang gedung pemadam kebakaran. Tapi cukup nyaman untuk beribadah. Tidak berisik dengan bising kendaraan, cukup luas dan sarana wudhu yang memadai. Maka wajar jika calon penumpang angkutan umum dari Lebak Bulus sering memanfaatkan masjid ini. Termasuk aku yang hampir selalu mampir ke masjid ini kalau ke Lebak Bulus. Tentu saja memilih masjid ini dibanding musholla kecil di pojok terminal.

Namun betapa kagetnya diriku ketika tak menjumpai masjid di belaang gedung Pemadam Kebakaran itu. Bangunan itu telah rata dengan tanah. Ada apa gerangan? Kemana masjid itu? Segera aku tanya kepada petugas yang ada. “Pak, seingat saya dulu ada masjid disini deh. Kok sekarang ga ada pak”. “Iya mas, sudah dibongkar. Kalo mau shalat Jumat ke lantai tiga aja”. Mendadak fokus ke lantai tiga. Carrierku? Daypack notebookku? Ah…dibawa saja.

Aku titi tiap anak tangga menuju lantai tiga. Sampai di lantai dua ada petugas pemadam kebakaran yang menyapa. “Yakin mas kuat sampai lantai tiga? Bawaannya gede banget”. Aku hanya melempar senyum padanya. Lumayan sambil berhenti mengatur nafas. Dalam hati aku berkata, pak-bapak gunung tinggi saja berhasil kudaki, apalagi sekedar gedung tiga lantai. He…he…jadi inget Dompu, adik kelas di STAN yang STAPALA juga. Dia mengkritik perumpamaan ‘asam di gunung garam di laut bertemu di panci’. “Mas, yang lebih romantis dan heroik napa. Masak remeh begitu”. Rupanya salah materi aku waktu menjelaskan perumpamaan itu padanya. Seharusnya aku menjelaskan padanya, demi pernikahan, kegelapan gua kan ku susuri, jeram sungai kan ku arungi, tebing curam kan ku panjati, gunung tinggi kan ku daki. Hm…khas pecinta alam banget.

Balik ke shalat Jumat di Pemadam Kebakaran. Lantai tiga itu adalah ruangan luas seperti auditorium yang baru jadi. Belum finishing bahkan. Dan tentu bisa ditebak, siapa saja yang shalat Jumat disitu. Yup, hanya ingkungan internal pegawai Pemadam Kebakaran (kecuali aku). Padahal dulu sewaktu masjidnya masih ada, tu masjid pasti rame. Bukan hanya pegawai pemadam kebakaran, tapi masyarakat sekitar dan calon penumpang angkutan pun turut shalat Jumat. Aduh, jadi merasa kehilangan suasana itu.

Mari kita doakan saja, semoga akan dibangun masjid yang lebih megah dan nyaman untuk beribadah di situ. Memang ada masjid kecil disamping terminal Lebak Bulus, itupun masih in process pembangunan, tapi kan bising kendaraan ga bisa dipungkiri cukup mengganggu. Sejauh ini memang tempat ibadah (baca: masjid) memang agak susah dijumpai di tempat-tempat umum seperti itu. Halah, semoga pemerintah bisa menyediakan masjid yang representatif di dekat terminal-terminal, pasar-pasar dan tempat umum lainnya. Kalo mengandalkan penduduk sekitar, sepertinya agak susah ya, namanya saja tempat umum.

Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »

Generasi Pernikahan

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 18, 2008

Rupanya si oknum (yang mau bertanggung jawab) asih belum puas ‘mengacak-acak’ lirik nasyid-nya Shoutul Harokah. Kini ganti Izzatul Islam yang menjadi korban. Lirik nasyid ‘Generasi Harapan’ diotak-atik menjadi ‘Generasi Pernikahan’. Hm…coba dengarkan lagu aslinya. Kemudian turutlah bernyanyi dengan lirik ‘Generasi Pernikahan’. Rasakan sensasinya….

Generasi Pernikahan

Dimana dicari akhwat sejati

Yang berani menikah diusia dini

Dimana jua si ikhwan gagah berani

Yang menanti kehadiran sang bidadari

Hati pun gundah ditengah malam

Makan tak enak tidur tak tenang

Tersiksa dengan cinta terpendam

Menikah saja maka kan senang

Mengapa tetap saja kau ragu

Hingga resah terus menjadi belenggu

Gelisah, berangan dan tersiksa

Dan kamu hanya diam tanpa kata-kata

Bangkitlah akhi, jangan berdiam diri

Menggapai impian meraih pernikahan

Bangkitlah ukhti, ayo bersiap diri

Tanpa keraguan menjadi istri dambaan

Wajah mereka kini tak lagi muram

Bahagia telah bertemu

Hiduplah mereka kini berdua

Menjadi pengantin baru

Dimana jua si akhwat sejati

Yang berani menikah diusia dini

Dimana jua si ikhwan berani

Yang siap hidup bersama seorang istri

Generasi Harapan

Dimana dicari pemuda kahfi

Terasing demi kebenaran hakiki

Dimana jiwa pasukan Badar berani

Menoreh nama mulia perkasa abadi

Umat melolong digelap kelam

Tiada pelita penyinar terang

Penunjuk jalan kini membungkam

Lalu kapankah fajar kan datang

Mengapa kau patahkan pedangmu

Hingga musuh mampu mmbobol bentengmu

Menjarah menindas dan menyiksa

Dan kita hanya diam sekedar terpana

Bangkitkan negeri lahirkan generasi

Pemuda harapan tumbangkan kedhaliman

Bangkitkan negeri lahirkan generasi

Pemuda harapan tumbangkan kedhaliman

Wajah dunia Islam kini memburam

Cerahkan dengan darahmu

Panji Islam telah lama terkulai

Menanti bangkit kepalmu

Dimana jua pasukan berani

Terasing demi kebenaran hakiki

Dimana jua pasukan berani

Menoreh nama mulia perkasa abadi

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Gelombang Pernikahan

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 18, 2008

Mohon maaf sebesar-besarnya kepada Shoutul Harokah dan para fans-nya. Pada postingan kali ini ada oknum (yang mau bertanggung jawab), karena telah ‘mengorat-arit’ lirik nasyidnya. Judul aslinya sih ‘Gelombang Keadilan’. Nasyid yang nge-beat banget terutama yang versi Album Masih Ada Harapan. Ya gara-gara oknum tersebut lirik nasyid itu menjadi ‘diplesetkan’ menjadi ‘Gelombang Pernikahan’. Begini hasilnya:

Gelombang Keadilan

Kan melangkah kaki dengan pasti

Menerobos segala onak duri

Generasi baru yang telah dinanti

Tak takut dicaci tak gentar mati

Bagai gelombang terus menerjang

Kutumbangkan segala kedhaliman

Dengan tulus ikhlas untuk keadilan

Hingga pertiwi gapai sejahtera

Reffrein:

Tak kan surut walau selangkah

Takkan henti walau sejenak

Cita kami hidup mulia

Atau syahid mendapat surga

Gelombang Pernikahan

Kan melangkah kaki dengan pasti

Tuk penuhi panggilan Illahi

Generasi baru yang pemberani

Tak takut menikah diusia dini

Bagai gelombang terus menerjang

Bagai semangat dihati sang bujang

Dengan penuh tekad untuk pernikahan

Membangun keluarga sejahtera

Reffrein:

Takkan surut walau selangkah

Merindukan kehidupan indah

Cita kami segera menikah

Tuk mereguk nikmatnya ibadah

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Wanita Cantik

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 18, 2008

Wanita cantik melukis kekuatan lewat masalah..

Tersenyum saat tertekan,

Tertawa disaat hati menangis,

Tabah saat terhina,

Mempesona karena memaafkan..

Wanita cantik mengasihi tanpa pamrih & bertambah kuat dalam doa & pengharapan..

Pesan ini khusus untuk setiap wanita cantik kepunyaan Allah

NB: Mas, ini buat calon istrinya lho, he2

itu puisi yang bikin adik tingkat di STAN pas dalam kondisi spaneng akibat Komprehensif tertulis hari pertama dan masih harus menghadapi hari keduanya. tu adek tingkat namanya… #d* #n#…lulus tahun ini. IPK sebelum komprehensif tertulis kemarin 3,46. InsyaALlah tanggal 14 Okt di wisuda. sepertinya ni adik tingkatku ingin segera mencari PH. ga sekedar PW yg cuma dibawa ke JCC.

ctt: PH=Pendamping Hidup; PW=Pendamping Wisuda; JCC=Jakarta Konvensyen Senter

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »

Untuk Adik2 Tingkatku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 17, 2008

Tulisan ini aku tujuan untuk adik2 tingkatku yang hari ini dan besuk menghadapi komprehensif tertulis

Ingat! Kalian adalah umat terbaik

maka janagn biarkan umat ini terpuruk dalam jurang kebodohan dan kenistaan

bangkit dan songsonglah kemenangan umat ini dengan perjuangan kalian

Ingat! turut berjuang atau tidak pun jiwa kalian tetap akan binasa

tinggal kalian pilih yang mana

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Ceramah Pak RT

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 16, 2008

Beberapa malam lalu, Pak RT, Ustadz Adjma Ibnu Udja (hm..katanya sih udah pengen diganti. Bocorannya sih kandidat penggantinya Pak T#sr*p*n) dapat jadual ceramah di As Sa’adah. Benar-benar isi ceramah yang banyak menyindir. Seperti penutup ceramahnya, “Kalo ga menyindir, bukan ceramah namanya”. Seperti aku yang tersindir saat itu. Tiga kali setidaknya beberapa pasang mata melihatku.

Pertama, Ramadhan itu bulan tarbiyah, bulan pendidikan. Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk belajar agama ini. Bukan sekedar belajar sendirian, tapi banyak sekali kesempatan yang mendorong tambahan pengetahuan dan pemahaman. Nah selagi kesempatan emas ini masih ada (kata Sang Murabbi “Selagi apinya masih mareng”) disegerakan saja improvement-nya. Yang tadinya ga bisa shalat, cepatlah belajar shalat. Yang tadinya ga bisa ngaji, segera saja belajar mengaji. Yang ga paham fikih, segera belajar fikih. Yang ga ngerti kehidupan Rasulullah, segera baca sirah nabawiyah. Yang belum menikah, cepetan menikah…setidaknya belajar munakahat. Saat Pak RT bilang begitu, spontan beberapa pasang mata melihatku.

Hm…dari sebelah kiri setidaknya ada GunGun, YanYan, dan segerombolan anak2 ga jelas lainnya. Dari sebelah kanan ada TomTom yang mencari dukungan dari bapak2 disekitarnya. Dari depan ada adik2 kelas sambil mengumbar senyum ga jelas. Dari belakang…ga tahu wong udah barisannya ibu2.

Kedua, Ramadhan adalah bulan peningkatan. Masih ingat kan ayat favorit ketika Ramadhan? Bahkan anak belum baligh pun udah dikit2 hafal dengan ‘ayat kutiba’ itu. Tujuan puasa memang untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Sekali lagi menuju derajat takwa. Dari yang biasa-biasa saja menjadi lebih bertakwa. Dari ulat menjadi kupu-kupu. Dari ga bisa shalat menjadi bisa shalat. Dari ga bisa ngaji jadi bisa ngaji. Dari bujangan menjadi menikah.

Hm…lagi-lagi beberapa pasang mata melihatku. Kali ini termasuk pandangan Pak RT yang berhenti di depan mukaku.

Ketiga, Ramadhan adalah bulan jihad. Jihad itu artinya sungguh-sungguh. Ada hadits yang menyatakan bahwa banyak orang yang puasa hanya dapat lapar dan dahaga. Ya karena puasanya ga sungguh-sungguh. Makanya setelah Ramadhan diharapkan setiap orang memiliki semangat jihad, semangat bersungguh-sungguh alias tidak main-main dalam melakukan kebaikan. Kalo shalat ya yang sungguh-sungguh tuma’ninah, jangan pikirannya melayang ga jelas. Kalo ngaji ya jangan asal-asalan, ngaji yang bener, paling enggak bener tajwid dan makhraj-nya. Begitu juga kalo nyari mantu. Nyari mantu jangan asal-asalan. Cari yang bener2 sholeh. Jangan sekedar ganteng ato kaya. Nah…itu kan banyak anak2 STAN yang baik2 dan sholeh2. Jadiin mantu aja.

Kali ini jama’ah tarawih ga melayangkan pandangnya ke wajah2 muda dan culun punya khas anak STAN. Sedangkan orang disekelilingku malah tambah menjadi2 ngecenginnya. Ah..Pak RT ini mentang2 mantunya lulusan STAN trus promosi begitu. Tapi gapapa juga sih…hayo syapa yang mau sama anak STAN? Hubungi Pak RT.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 3 Komentar »

Biru Laut dan Biru Langit

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 11, 2008

Biru Laut & Biru Langit

Biru Laut & Biru Langit

Saat resah bergulung laksana ombak pantai

Pasir Ujong Batee pun berisik mengusik hati

Ketika gundah menapaki gunung tinggi

Biru langit Puncak Lawu pun menjadi saksi

Saat Laut Ujong Batee berwarna biru

Saat Langit Puncak Lawu cerah membiru

Allah menakdirkan dua hati bertemu

Bersatu dalam ikatan suci nan padu

Ikatan bersama menggapai cita

Ikatan bersama menyempurnakan agama

Ikatan bersama menjaga kesucian

Ikatan bersama melanjutkan perjuangan

Dengan penuh tekad

Dengan mengharap berkah dan rahmat

Demi kemanfaatan bagi umat

Kami ikrarkan kehidupan dengan semangat

Allah adalah tujuan kami

Rasulullah teladan kami

Al Qur’an pedoman hidup kami

Jihad adalah jalan juang kami

Syahid di jalan Allah cita kami tertinggi

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 6 Komentar »

0 – 3.265 mdpl

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 11, 2008

Kemarin bertemu seorang adik tingkat. Seperti biasa obrolan ngalor ngidul pun mengalir begitu saja. Hingga akhirnya menyentuh current issue mengenai diriku saat ini. “Kok bisa mas dari puncak gunung bisa mendapatkan bidadari yang ada di pantai?”. Aku hanya tersenyum. “Bayangin coba, dari 0 mdpl (meter di atas permukaan laut) kok kelihatan dari 3.265 mdpl. Bagaimana caranya?”.

Aku tak bisa menjelaskan tanpa dimulai cerita yang sebenarnya. Dan kisah pun aku ceritakan untuknya. Terus terang, pada saat berada di Puncak Gunung Lawu di ketinggian 3.265 mdpl aku memanjatkan doa yang agak panjang. Dan kebetulan teman-teman sesama pendaki saat itu mengamini doaku. Aku pernah menuliskan di blog ini juga. Tapi khusus untuk menikah, ada tambahannya. “Ya Allah, alhamdulillah hari ini aku bisa memandang keindahan yang Kau ciptakan dari puncak ketinggian. Aku bisa melihat hamparan langit biru yang luas. Aku bisa melihat hijau bumi yang indah. Aku bisa memandang gumpalan awan yang menawan. Oleh karena itu ya Allah, tajamkanlah pandanganku untuk menemukan bidadari yang akan Kau anugerahkan dalam hidupku. Aku yakin Kau akan mendatangkan bidadariku dari arah mana saja yang Engkau inginkan. Kau bisa mendatangkan bidadari dari ujung langit. Kau pun mudah memunculkan bidadariku dari dalam laut. Kau bisa memperlihatkan bidadari itu dari perut bumi. Kau bisa menerbangkannya dari arah barat, barat laut, utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, atau pun barat laut. Kau bisa mendatangkan dari mana saja yang Engkau suka. Sekali lagi aku mohon pada-Mu, ya Allah. Siapkan hati ini untuk memandang luas seluas pandanganku di puncak gunung ini. Agar aku bisa segera menemukan bidadariku. Bidadari terbaik yang Kau anugerahkan untukku. Amin”.

Ibarat pepatah ‘asam di gunung garam di laut bertemu di panci’. Tentu ada faktor yang mengakibatkan pertemuan asam dan garam itu. Maka dapat dianalogikan ada faktor asam, garam, panci, dan koki yang mempertemukan keduanya. Faktor asam dan garam dapat diibaratkan sebagai kesiapan perempuan dan laki-laki untuk menikah. Jika salah satu dari keduanya tidak siap menikah, maka asam dan garam itu akan susah bertemu. Selanjutnya adalah faktor panci, yaitu wadah yang mempertemukan asam dan garam. Panci ini diibaratkan sebagai lingkungan di sekitar asam dan garam. Lingkungan sangat berpengaruh dalam menentukan pertemuan itu. Jika lingkungan asam sangat berbeda dengan lingkungan garam, maka akan sulit keduanya bertemu. Alhamdulillah lingkungan asam dan garam ini tidak jauh berbeda. Terutama keduanya yang sama-sama menikmati pergerakan dakwah bersama tarbiyah. Dan terakhir adalah faktor Koki yang mempertemukan asam dan garam. Aku sendiri meyakini bahwa aku dan bidadariku bertemu karena Allah dan nanti akan berpisah karena Allah pula. Oleh karena itu, agar asam dan garam ini bisa bertemu, maka dekatilah Sang Koki. Semakin dekat denga Sang Koki maka semakin mudah pula harapan mempertemukan asam dan garam menjadi kenyataan.

Seperti itulah pendapatku dalam menjawab bagaimana bisa dari 0 – 3.265 mdpl bisa bertemu. Aku sendiri, yang diibaratkan asam di gunung, berniat dan mempersiapkan diri untuk menikah. Aku tak tahu apakah sang garam pun juga melakukannya, karena itu bukan wilayahku. Yang jelas, aku menyiapkan diri, mengkondisikan dan memilih panci yang baik untuk mempertemukan asam dan garam ini, dan mendekat kepada Sang Koki.

Tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Tak ada kebetulan bagi Allah. Jika Allah berkehendak mempertemukan, walau aku di puncak gunung 3.265 mdpl dan bidadariku di ujung pantai 0 mdpl, maka bertemulah asam dan garam atas kehendak-Nya.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Kamu ga adil Kak!

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 9, 2008

Kak,aq pengen ketemu skrg.plis penting bgt ni”.

Tiba-tiba ada SMS masuk. Walau nomor si pengirim SMS itu ga ad di ponbuk HPku, tapi melihat nama di bawah tulisan SMSnya, aku tahu dia adalah mantan mahasiswaku. Sebut saja Bunga, tentu bukan nama sebenarnya. Kebetulan saja aku ada di kampus tempatku mengajar saat itu. Dan mungkin dia tahu aku ada di kampus sekarang. Dulu aku memang menyuruh mahasiswa untuk tidak memanggilku ‘bapak’. Rasanya jadi tua. Lagipula juga belum punya istri. Oleh karena itulah mantan mahasiswaku masih memanggil dengan ‘Kak’. Hm…kalo sekarang, tentu lain.

Kok tau sy dikampus?OK,qta ktmu,tp dit4 yg rame.di atrium aja.2jam lagi.sy msh mau ngajar”

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

***

Setelah membalas SMS itu, aku kembali ke kelas. Dan tak membuka SMS apapun yg masuk. Belajar jadi pengajar yg profesional. Aku melarang mahasiswa berSMS waktu kuliah, maka aku juga tak akan menyentuh SMS. Aku menyuruh mahasiswa men-silent HPnya selama kuliah, maka aku juga pakai modus diam. Hanya jika menerima telepon saja yang dibolehkan, tapi harus keluar kelas terlebih dahulu. Proses perkuliahan pun berjalan lancar.

***

Aku melihat sesosok perempuan berbaju pink dengan jilbab putih duduk di meja atrium. Itu pasti si Bunga. Aku pun segera mengambil tempat duduk di depannya. Ia tak mendengar salam yang aku ucapkan karena mungkin kupingnya tertutup earphone.

Eh Kakak. Biasanya salam dulu. Kok tiba-tiba duduk gitu aja.” Benar, ia kemudian melepas earphone-nya

Gimana kamu mau dengar salam saya kalo kupingmu ga bolong gitu. Ni diulangi lagi, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”

Jawab salamnya yang bener dong! Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, begitu!”

Iya…iya…kurang ‘mus’ gitu aja disalahin”

Udah sekarang ada yang penting apa? Masalah nilai? Kurang nilainya? Tugasnya kebanyakan? Apa?”

Ih…bukan itu ya. Masak ngomongin kuliah terus. Bosen ah.”

Ya udah…berarti ga ada yang penting dong. Kalo gitu saya pulang aja”

Eh…tunggu dulu. Aku mau protes sama Kakak. Aku baca blog kakak. Terutama yang menyembunyikan cinta. Itu kan untuk cowo. Yang untuk cewe kaya aku gimana. Memangnya cowo doang yang bisa jatuh cinta.”

Lho, bukannya cewe lebih bisa menjaga rahasia hatinya. Kan lebih mudah untuk menyembunyikan cinta bagi cewe.”

Justru itu yang jadi masalah. Cowo enak bisa memendam cintanya. Kalo cewe yang diincer ternyata jadi sama orang lain, ia bisa milih-milih lagi. Nah kalo cewe? Ga bisa seperti itu, Kak. Kan katanya cewe menang jawaban, sedangkan cowo menang milih. Kalo cowo yang diincer cewe ternyata jadi sama cewe lain, udah ga bisa milih lagi, Kak. Ga adil. Bagi itu sudah eksekusi dua pilihan yang sama-sama menyakitkan seperti yang kamu katakan. Kalo ga menyesal ya cemburu. Padahal tu cewe memendam cinta pada tu cowo. Sakit banget rasanya, Kak. Sakit banget.”

Sebenarnya ingin aku cuek aja dan ga ngasih pendapat apa-apa. Aku pernah baca buku, kalo perempuan curhat itu yang dibutuhkan adalah ia didengarkan. Bukan solusinya bagaimana. Tapi kok ga tega juga aku diamkan ni anak. Heh…jadi inget Dian Sastro pas jadi Cinta, “Kalo lo ngerasain sakit gitu, trus salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?”. Yah, tapi bukan saatnya bercanda deh. Aku hanya butuh materi aja buat bridging. Kalo langsung ditembak pakai Al Bqarah 235 bisa langsung mental ni anak.

Kamu pernah dengar lagu ‘Selamanya Cinta’?” Dia hanya mengangguk.

Coba perhatikan lirik reff-nya. Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku. Hingga membuat kau percaya. Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku selamanya. Selamanya.

Kamu mudah aja menyanyikan. Nah, anggap aja merasakan makna lirik itu sama mudahnya dengan menyanyikan. Kenyataannya sekarang kamu memang tidak dapat mengungkapkan perasaanmu kan? Tak perlu kamu ungkapkan. Tapi buatlah dia percaya. Namun jangan kamu berikan rasa cintamu seutuhnya selamanya. Karena emang kenyataannya kamu tak bisa mengungkapkan cinta. Apalagi tak ada perjanjian cinta hitam diatas putih diantara kalian. Kamu tahu bagaimana caranya membuat dia percaya?”

Ga ngerti? Membuat dia percaya tapi tanpa memberikan cinta seutuhnya apa bisa?”

Hm…kamu hafal lagu ‘Selamanya Cinta’ itu? Kalo hafal, coba nyanyikan. Lirih aja. Biar orang ga ngira kamu ngamen di depanku.” Ia pun menyanyikan lagu ‘Selamanya Cinta’ dari awal.

Sudah dapat jawabannya belum?” Ia menggelengkan kepala.

Perhatikan lirik Biar awan pun gelisah daun2 jatuh berguguran. Namun cintamu kasih terbit laksana bintang. Yang bersinar cerah menerangi jiwaku.

Ya…pertama akui pada dirimu sendiri bahwa kamu menyukainya. Biarkan cintamu itu berguguran seperti daun. Tapi ga perlu kamu mengumumkan bahwa daun-daun itu jatuh. Sudah ada yang tahu kok kalo daun-daun itu berguguran walau tidak kamu umumkan.”

Kedua…anggap aja dia juga suka sama kamu. Anggap cintanya terbit laksana bintang. Biar kamu ga capek-capek ngejar cintanya. Ingat ya….ANGGAP. Pura-pura kamu juga dicintainya. Kalo kamu punya anggapan begitu, setidaknya kamu punya daya tawar. Pura-pura dicintainya. Biar kamu tidak dibilang cewe murahan.”

Ketiga…jadikan cintanya itu memicu semangatmu untuk menjadi lebih baik. Kamu suka cowo yang pinter? Maka jadikan pinter sebagai acuan. Kejarlah acuan itu. Jangan diam saja. Kamu juga harus membuktikan bahwa kamu juga pinter. Kamu suka cowo sehat dan gagah? Maka kamu juga harus sehat dan rajin olah raga. Asal jangan jadi tomboy. Karena kamu perempuan. Kamu suka cowo pinter ngaji? Ya kamu harus bisa ngaji. Pokoknya jadikan kriteria yang kamu tetapkan itu jadi acuanmu sendiri. Ingat, cintanya terbit laksana bintang. Bintang akan tetap dilangit. Kamu tidak akan bisa menggapainya jika tidak beranjak ke langit. Paham?”

Nah dia kan tetep belum tahu, Kak. Trus kalo dia jadian sama cewe lain gimana?”

Kamu sudah mengejar kriteria yang kamu tetapkan? Misalnya kamu lihat tu cowo pinter ngaji. Trus kamu sudah ngaji dengan baik. Udah khatam berkali-kali. Tapi dia malah ga melihatmu. Ya berarti kamu berhasil mengejar kriteria yang kamu tetapkan tapi kenyataannya tu cowo ga sesuai dengan kriteriamu itu. Dengan kata lain, kamu memenangkan ‘lomba ngaji’ sama dia. Artinya tu cowo ga pantas buat kamu. Karena kamu akan dapat cowo yang lebih baik dari dia. So, nyantai aja kalee…”

Nah kalo aku belum berhasil mengejar kriterianya, gimana?”

Sori ni ya kalo rada jahat…Hm…kalo kondisinya seperti itu, itu kamu yang bermasalah. Masak mendambakan cowo yang pinter ngaji tapi kamu ga bisa ngaji. Ngaca dong, ngaca!”

Iiiihhhhhhh….Kakak jahat banget sih”

Eiitt…jangan sentuh saya!”

Iya…iya…ntar calon istri Kakak marah kalo tahu aku menyentuh Kakak”

Nah, sudahkan curhatnya? Udah sana segera pulang. Terus ngaji. Terus dibuka Surat Al Baqarah ayat 235. Dibaca juga terjemahnya. Begitulah cara mengejar cinta. Di pendam saja.”

Kak…boleh tanya lagi ga? Gimana sih rasanya menunggu tanggal pernikahan? Deg-degan ya? Khawatir ini itu ya? Takut kalo ada masalah ya?”

Halah…ni bocah pengen tau aja. Nanti kalo sudah waktunya kamu menikah, juga bakal merasakan. Sudah sana belajar yang rajin. Ga usah mikirin cowo mulu. Dikejar aja kriterianya. Sekali-kali jadi sok egois gitu lho. Jangan mikir bagaimana caranya punya pacar mulu. Ga usah pacaran lah. Masak kamu belajar akuntansi ga bisa memaknai benefit greater than cost mengenai cinta.”

Sudah, aku mau pulang. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”

Begitulah obrolan santai sore itu. Mungkin ada yang protes, mana ada dosen deket sama mahasiswanya sampe curhat-curhatan gitu. Nah, ini nih yg jadi masalah. Perlu dipertimbangkan lagi paradigma yang ada bahwa dosen hanya sekedar menyampaikan materi kuliah. Bagiku, dosen bukan hanya berperan seperti itu. Peran pendidikan jauh lebih penting. Materi kuliah itu bisa digeber dengan cepat. Bahkan kalo mau cuek, bodo amat mahasiswa ngerti ato kagak. Yang penting semua sudah disampaikan. Tapi pendidikan untuk membentuk karakter, heh…itu yang butuh waktu tidak sebentar. Pembentukan karakter juga butuh kepercayaan. Dalam hal ini dosen menjadi objek yang dipercayai. Maka jangan salah kalau mahasiswa akan sangat memperhatikan dosennya, baik di dalam atau diluar kelas. Ketika mereka melihat dosennya tetap berjalan diatas rel karakter yang baik, mereka akan mengikutinya. Tapi sekali saja mereka menjumpai penyimpangan pembangunan karakter, hapuslah kepercayaan dan harapan yang mereka kepada si dosen.l

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 3 Komentar »

Buah Kejujuran

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 3, 2008

“Py, kamu tahu kan? Bahwa Allah akan memperlihatkan isi hati seseorang melalui mukanya?”

Tiba-tiba suara perempuan yang aku kenal menusuk lubang pendengaranku pagi ini. Aku masih diam. Menerka-nerka apa yang akan dia katakan berikutnya.

“Ada apa Py? Ada masalah apa? Ada masalah dengan pernikahanmu nanti?”

“Ga apa-apa kok mbak”

“Satu lagi yang harus kamu tahu Py. Bahwa perempuan itu lebih bisa merasakan ada yang tidak beres ketika melihat muka-muka bermasalah seperti kamu”

“Maaf mbak. Terlalu cengeng bagi seorang laki-laki untuk menceritakannya”

“IYA! Dan laki-laki seperti kamu juga terlalu SOMBONG untuk mengakui bahwa kamu cengeng padahal siapapun yang melihat akan tahu bahwa matamu berkaca-kaca! Kamu tak cerita juga ga apa-apa bagiku! Yang jelas jika kamu tak bersuara lagi, aku jadi tahu bahwa kamu bukanlah Wipy yang aku tahu selama ini.”

Si Mbak tiba-tiba ketus dan tegas sambil membuka kelopak matanya lebar-lebar.

“Mbak, kamu tahu apa buah dari kejujuran? Kamu tahu bagaimana rasanya buah dari kejujuran?”

Si Mbak hanya terdiam.

“Kenapa diam mbak? Bagaimana rasanya mbak! Ayo di jawab! Apakah pahit! Manis! Asam! Atau asin!”

Si Mbak masih terdiam.

“Kenapa mbak masih terdiam? Ga bisa jawab? Dan aku ga butuh jawabanmu mbak. Apapun rasanya buah kejujuran, entah itu pahit, entah itu manis, apakah itu asam, ataukah itu asin, akan aku memakannya mbak!”

Sekarang ganti Si Mbak yang berkaca-kaca matanya

“Mbak masih diam juga? Apa kurang jelas? Sekali lagi mbak, akan aku memakannya!”

Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut si Mbak

Lantas aku tinggalkan si Mbak begitu saja. Aku rindu bangunan megah di jalan Kaca Piring itu. Begitu sejuk dan damai di dalamnya. Setelah tugas kuliah ini selesai, aku akan menuju kesana…

Bismillah…Ya Allah ampuni aku…Ya Allah maafkan aku…Ya Allah, hanya Engkau yang aku tahu Maha Pengampun dosa….Astaghfirullah

Terima kasih buat si Mbak yang telah membaca raut mukaku.

Adakah yang bersedia memberiku nasehat? Bukan hanya diam seperti si Mbak

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »

Sahur Bareng ala Pondok Muslim

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 1, 2008

Seru banget sahur pertama di bulan Ramadhan 1429 H di kos Pondok Muslim. Beruntung sekali kos-kosan kami yang lumayan jauh dari warung mendapatkan informasi bahwa Warungnya Bu Ning masuih buka dan bersdia menerima pesanan. Jika anda berminat untuk memesan makan sahur di Warung Bu Ning seperti kami, tinggal telepon aja di 021-98256833. Terus terang aja nih, sekalian promosi Warungnya Bu Ning. Emangnya cuman Pak Bondan aja yang bisa mak nyuss. Terus kalau telepon sebelum pukul 21.00 ya, demi menjaga etika sopan santun gitu deh.

Nah, kami menentukan menu tetap yaitu nasi pakai sayur 2 jenis (sayur kuah dan oseng-oseng atau orek) plus gorengan dan sambel. Adapun lauknya kami bisa memilih telur dadar, telur ceplok, telur bulat, sarden, ikan, ayam goreng, dan hati ayam. Tuh kan beragam. Tinggal tulis nomor kamar kos masing-masing disamping pilihan lauk. Waktu sahur tinggal nunggu si tukang piket dateng membawa kecerian. Oiya, kami juga membuat daftar piket mengambil sahur dari Warung Bu Ning. Kalau tadi pagi yang tugas piket Kang Agus #1, besuk pagi Abud #2, nah lusa baru Wipy #5.

Semnetara ini teman-teman mendaulatku sebagai tukang reservasi. Kata mereka cocok kalo ngomong sama Bu Ning. Bahasa Jawanya itu loh pas banget sama obrolannya Bu Ning. Hm…masih seputar menu, kebetulan kos-kosan kami tuh dihuni oleh orang-orang yang mobilitasnya tinggi. Baik mobilitas di kampus, di kantor, atau di alam mimpi. Jadi sangat rawan dengan lupa ga pesan sebelum pukul 21.00. Untuk mengantisipasi keteledoran itu kami membuat menu default. Menu default ini pakai telur dadar. Disebut menu default karena anak kos yang lupa pesan akan dianggap pesan menu default. Hm…ada-ada ajah.

Hasil rekapitulasi pemesan menu berdasarkan jenis lauknya (ya iya lah berdasarkan lauk. Kan nasi, sayur, gorengan dan sambal sama), adalah sebagai berikut:

Telur dadar : 4 orang

Telur Ceplok: 1 orang

Sarden: 9 orang

Ayam goreng: 1 orang

Jadi total pemesan sahur dari Pondok Muslim ada 15 bungkus. Namun apa yang terjadi…Kang Agus #1 tadi pagi lupa tidak menghitung ulang. (biasanya juga ga diitung ulang, lha wong udah percaya banget saa Bu Ning). Lagi pula tadi pas sahur tuh daerah Sarmili lagi mati lampu. Jadinya gelap. Malah menyusahkan kalo diitung ditempat Bu Ning yang sudah berjubel pelanggannya. Dan benar, telur ceplok pesanannya Iyok #8 ga ada. Kasihan sekali dia. Namun setelah mengalami penderitaan panjang karena diledek, dicaci-maki dan dihina dinakan oleh Tegwan #17, akhirnya Tyo #11 dan Prian #14 menyisihkan nasinya untuk Iyok #8. Terus lauknya pakai telur ceplk buatan Papam #12. (sekilas info, si Iyok #8 dan si Papam #12 nggoreng telunya barengan loh…ih so sweet).

Makan bareng…rame bareng…sambil nonton PPT. Ngakak…ngakak apalagi ‘Bang Jack’ tiba-tiba telepon. Jah-jauh dari Surabaya, setelah menikmati penempatan ulang yang menyenangkan, ‘Bang Jack’ yang pernah menghuni kamar #3 Pondok Muslim itu hanya ingin sekedar menyapa keramaian Pondok Muslim dan tentu saja…’Kalila’-nya.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Ramadhan terakhir si Bujang

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 1, 2008

Semalam sepulang dari As Sa’adah aku jalan bareng sama Hasta #16.

“Wah mas Wipy ini Ramadhan terakhirmu ya?”

“Apa maksudnya tu Hast?” jadi deg-degan aku tiba-tiba ia bilang begitu.

“Maksudnya terakhir di statusmu yang akan berakhir ini lho”

“Oalah, kiran apa. Ya semoga Ramadhan tahun depan benar-benar lebih indah ya Hast…he…he…”

“Aku juga pengen mas. Tapi kok mungkin baru bisa dimulai tahun depan ya”

“Lho kenapa harus nunggu tahun depan. Kalo bisa nikah bulan depan, ya nikah aja to”

“Maksudku tuh baru masuk kuliah D4 tahun depan”

“Halah kamu ini bisa aja ngelesnya”

*****

Kemarin pagi juga dibahas masalah yang sama. Malah aku jadi bulan-bulanan teman-teman Pajak STAN 2004 sebelum Futsal dalam rangka Tarhib Ramadhan dimulai.

“Wah denger-denger kamu mau meletakkan jabatan dari Sekjen IJO BOSOK ya Py?

“Insya Allah, alhamdulillah. Iya nih lagi nyari kader yang siap dicaci maki he…he… Kamu mau daftar?”

IJO BOSOK adalah Ikatan JOmblo ndoBOS lan omong thOK. Merupakan kumpulan segelintir oknum berpengaruh yang berstatus Jomblo bin bujang. Hanya nasib saja yang belum membawa mereka bertemu jodoh. Sebenarnya orang-orang di dalamnya sudah sangat siap menikah. Tapi ya itu tadi. Nasib. Makanya mereka dibilang ndoBOS lan omong thOK (banyak bicara dan omong doang) karena teori pernikahannya sudah mature dan tinggal dipraktikkan. Sayangnya belum ada kesempatan.

“Jadinya kapan Py?”

“Tunggu lah, undangannya masih dicetak tuh”

“Ngemeng-ngemeng kamu beruntung dapat akhwat mana Py?

“Eh, bukan beruntung, tapi tu akhwat yang khilaf deh kayaknya”

Belum juga dijawab, eman-teman sudah pada ngakak ga karuan dan tak henti-hentinya memploncoku.

“Wah kamu seneng banget dong Py”

“Iya, Wipy seneng. Akhwatnya yang senep. Kasihan banet tuh akhwat”

Haduuuuhhh….belum sempat ambil nafas udah klenger dihabisin nih

“Eh tapi jangan khawatir Py, insya Allah kalian berdua nanti masuk surga”

“Amiin”

Alhamdulillah, akhirnya ngomong juga

“Iya, Wipy masuk surga karena banyak bersyukur. Nah si akhwat masuk surga juga karena banyak bersabar”

Aaarrrrggghhh…

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 4 Komentar »

Nama cakram kilat-ku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 1, 2008

Kemarin aku dikritik sama sobat dekatku. Sobatku yang satu ini memang kritis banget. Inisialnya “H”. Belakangnya “endra”. Lho?! Gara-garanya aku ngopy file di komputernya pakai flesdis alias cakram kilat.

“Py, kok nama flesdis-mu masih tetep sih? Ga optimis banget!”

“Diganti apa Ndra?”

“Ya jangan tetep ‘kapan NIKAH’. Ganti aja jadi ‘i4WI NIKAH’ gitu lho!”

“Lagian juga udah menghitung hari gitu kok!”

“Iya…iya…optimis deh..”

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | Leave a Comment »