Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Arsip untuk Agustus, 2008

UTS Keuangan Publik

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 28, 2008

membaca makro ekonomi sampai mabuk masih juga ga paham logikanya. ya iyalah, wong bacanya sehari sebelum ujian, kok mau menyantap satu buku penuh!

akhirnya menyerah satu jam sebelum berangkat ujian. alah cemen, gitu aja nyerah!!! katanya optimis? mana buktinya?

tapi ga nyerah diem. coba buka file nota keuangan RAPBN 2009. emangnya nyambung apa?

ya sejam itu aja mencoba mengerti perekonomian Indonesia. pasti ga ngerti, 400 halaman lebih masak dimakan sejam. yang baca buku makro sehari semalam aja ga paham gitu kok.

tapi yakin banget…yakin banget…yakin banget…bisa ngerjain ujian dengan baik. Pasti akan datang pertolongan Allah. Pasti terbantu. pasti bisa. pasti bisa. pasti bisa. iiiihhh…ngarep ya?

alhasil, soal yang keluar adalah…asumsi makro perekonomian Indonesia. hm…agak bingung juga sih. lembaran jawaban isinya seputar Nota Keuangan RAPBN 2009 mulu. kok bisaaaa…..!!!

Hasil ujian? pasrahkan saja. pasti dapat yang paling bagus. pasti. pasti. masih ngomporin buat pesimis ga ya?

heehhh…lha si Pesimis aja kok jadi pesimis gitu? eh…iya ya?

*catatan: tulisan diatas adalah dialog hati antara si Optimis dan si Pesimis. yang tertulis tegak, itu si Optimis. kalo yang tertulis miring, itu si Pesimis.

Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »

Surat Cinta buat Naila

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 28, 2008

Assalamu’alaikum wr.wb.

Pa kabar dik Naila Andini Hanifa? Sehat khan? Hmm…semoga selalu sehat ya, seperti Bunda dan Ayah dik Naila yang selalu sehat, gembira, bersemangat, dan begitu sayang sama dik Naila.

Ya karena itu lah, nanti kalo dik Naila sudah gede, yang patuh sama Bunda dan Ayah ya. Sekarang khan dik Naila sudah bisa merasakan betapa cintanya Bunda dan Ayah kepada dik Naila. Kalo dik Naila sudah bisa menyanyi, coba nyanyi lagu “kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Nah, sambil nyanyi begitu, dik Naila bisa minta tolong Om Fria buat ngiringi pake piano ato Om Fajar pake gitar. Nah nanti Om Supri yang memfoto, trus Om Wirawan yg nge-shoot pake handycam. Hm…seneng khan??

Dik Naila nanti harus pinter mengaji ya. Biar menjadi wanita sholihah seperti Bunda. Minta Bunda aja yang ngajarin ngaji dik Naila. Trus nanti kalo Ayah capek pulang kerja, dik Naila deketin Ayah, trus mengaji disamping Ayah. Pasti Ayah seneng banget, trus ga jadi capek deh, karena mendengar suara dik Naila yg merdu melantunkan ayat-ayat AlQur’an. Dan pastinya bukan cuma Ayah yg seneng, Bunda juga seneng, Oma & Opa juga seneng. Semuanya seneng.

Oiya, ingetin Ayah dan Bunda ya, nanti kalo dik Naila sudah besar, main2 sama Kak Fiqi-nya Om Supri & Kak Putri-nya Om Hernas.

Om Fria juga sudah nyiapin tante buat dik Naila. InsyaAllah nanti 5 Oktober 2008 Om Fria Nikah di Trenggalek. Dik Naila ingetin Ayah kalo sempat pulang ke Trenggalek, jangan lupa mampir ke walimah Om Fria.

Kalo Om Fajar masih pengen kuliah lagi. Jadi belum kepikiran nyariin tante buat dik Naila.

Kalo Om Wirawan….hmm…Ayah dik Naila sudah tahu kok.

Yup, segitu dulu surat cinta buat dik Naila. Semoga lekas gede, pintar dan shalihah. Ups…ingat Surat Luqman ya….

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Salam sayang….

Om Supri, Om Fria, Om Wirawan, Om Fajar

Assalamu’alaikum wr.wb.

cttn: Naila Andini Hanifa, putri pertamanya Mas Wihandy-Mbak Yeni yang lahir pada 26 Mei 2008

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

kok tambah kurus

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 21, 2008

Tadi ketemu adik kelas. “Mas Wipy apa kabar?”. Alhamdulillah baik. “Sekarang sering lari-lari ya setiap sore?”. Hmm…kok tau. “Ya iya lah…kan keliatan. Ada misi apa mas?”. Mission not-impossible. “Tapi sekarang kok tambah kurus mas?”. Masa’ sih?. “Iya, tambah kurus. Liat aja tuh pipinya tambah cekung”.

waduh…ga bisa berkata-kata lagi.

masa’ sih aku tambah kurus? padahal sekarang ada program olah raga teratur. setiap sore. kalopun tertunda ya berseling satu hari. ga lebih lama. porsi olah raga juga standar. 30 menit. aktif bergerak terus. plus tambahan menu khas “Diklat STAPALA” yang konon diracik oleh seorang pelatih pendaki Everest. masalah makan sekarang juga menjadi lebih teratur. tiga kali sehari. Bukan tiga hari sekali. beda dengan dulu yang lebih sering dua kali sehari dan itu pun tidak teratur.

tapi kok tambah kurus katanya?

ada saran ga? tips apa gitu yang bisa gemukin badan dikit gitu. jangan terlalu gemuk. ntar malah ga mobile. ya setidaknya biar tidak dibilang tambah kurus lah.

would you help me? pliiiissss…..

Ditulis dalam Uncategorized | 16 Komentar »

Saksi keajaiban…

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 20, 2008

Seorang kawan dekatku masih belum percaya dengan apa yang aku ceritakan mengenai keajaiban yang aku dapatkan. Hingga akhirnya matanya terbelalak ketika bukti-bukti otentik runtutan kejadian ajaib itu datang. Aku adalah saksi keajaiban yang dianugerahkan Rabb-ku. Sebenarnya aku ingin membagi cerita-cerita keajaiban itu.

Hanya saja aku masih memikirkan bagaimana caranya…

Ada yang mau ngasih saran bagaimana caranya ya? terima kasih banget kalo mo ngasih…

Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar »

Sang Murabbi

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 20, 2008

Hari Selasa kemarin (19 Agustus 2008) benar-benar menjadi hari film bagiku. Pada siang hari aku menonton film favorit Pemberantasan G30S/PKI. Malam harinya aku disuguhi film Sang Murabbi. Adalah Apriyanto Setiawan yang menjadikan malam itu lebih panjang. Bukan sekedar bergadang, tapi mengambil hikmah perjuangan.

Aku tak bisa menggambarkan kekagumanku terhadap perjuangan Ustadz Ahmad Abdullah. Sesosok manusia yang menjadi fokus cerita film itu. Terlalu detil film itu untuk diambil hikmahsnya setiap menit berlalu. Kesederhanaan, bakti kepada ibu, kecintaan terhadap keluarga, dakwah yang dijalankan, adalah fragmen-fragmen yang tak putus untuk diambil pelajaran. Aku berniat untuk menjadikannya koleksi filmku.

Lihat pula sosok sang istri. Bagaimana ia memahami aktivitas sang suami. Bagaimana ia setia menjaga keluarga ketika sang suami tidak di rumah. Bagaimana ia merelakan persediaan bahan makanan yang sudah tipis untuk disedekahkan kepada orang yang lebih membutuhkan. Memang seorang sosok istri idaman. Suami mana yang akan meninggalkan? Hanya maut lah yang bisa memisahkan. Dan itupun hanya sementara. Luar biasa.

Menyesal pemuda yang ga menonton film ini.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Setelah menanti 11 tahun

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 20, 2008

Setelah menanti kurang lebih sebelas tahun, akhirnya aku kemarin bisa menonton kembali Film sejarah Indonesia, Pemberantasan G 30 S/PKI. Terima kasih aku ucapkan untuk mas Fakhrudi Daharianto yang telah meminjamiku film favoritku itu. Seingatku setelah 1997 film itu sudah tidak diputar lagi di TVRI. Perubahan yang sangat mencolok, karena sebelum meledak reformasi film itu diputer setia tanggal 30 September. Rupanya pergeseran platform politik di Indonesia membawa dampak yang begitu massif hingga film-film sejarah pun semakin dikesampingkan dari penyiaran.

Aku prihatin dengan negeri ini. Terus terang selama bulan Agustus tahun ini aku menunggu film-film sejarah perjuangan Indonesia. Tapi aku tak menjumpainya di televisi. Rindu aku dengan flm-film perjuangan negeri ini. Film-film yang membangun semangat juang. Bukan sinetron-sinetron kejar tayang. Film-film yang menyuntikkan pendidikan melalui sinema yang bermutu. Bukan film horor penuh tahayul dan hantu blau.

Kasihan sekali film-film perjuangan itu. Termakan gelombang poitik praktis yang terlalu deras. Itu pun jika tak keberatan untuk disebut kebablasan. Aku semakin tidak mengerti dengan politik di negeri ini. Apalagi ditambah kasus-kasus politisi papan atas yang terjerat korupsi. Seolah-olah politik itu kotor. Seakan-akan politik itu hanya sekedar partai dan kekuasaan.

Padahal menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah, politik itu bersih, politik itu suci, politik itu setu level di bawah kenabian. Ini lah kacamata pandang politik yang lebih bijak. Bukan sebatas kekuasaan menjabat. Tapi lebih memikirkan kemaslahatan umat. Bukan sekedar membesarkan partai. Tapi lebih untuk memajukan negeri. Politik adalah mengelola publik. Memikirkan politik adalah memikirkan masalah umat. Untuk umat, bukan untk kekuasaan.

Kembali ke film G 30 S/PKI. Dulu setiap tahun aku menonton film ini, maka setiap kali mennton itu pula meletup-letup semangat perjuangan. Walau saat itu hanya sebatas impian anak-anak. Dan ketika aku menikmatinya kembali kemarin, letupan-letupan semangat itu masih dapat aku rasakan. Termasuk perjuangan para perempuan. Istri-istri jenderal yang dihasut sebagai Dewan Jenderal. Mungkin kondisiku saat ini yang paling berpengaruh untuk mengetahui bagimana perempuan. Aku tak tahu banyak dengan perempuan. Karena itulah aku berusaha mencari tahu seperti apa makhluk yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok itu.

Coba simak apa yang dilakukan istri Jenderal Nasution ketika pasukan Cakrabirawa mengobrak-abrik rumahnya. Ia menahan pintu kamar dengan tubuhnya padahal dari balik pintu pasukan Cakrabirawa memberondong dengan peluru. Dengan kondisi mempertaruhkan nyawanya, ia masih sempat meminta suaminya, Jenderal Nasution, untuk segera melarikan diri. Dan ketika Jenderal Nasution berhasil melompati pagar rumah, ia setia menjaga dan memeluk buah hatinya tercinta, Ade Irma Suryani, yang tengah tertembak peluru Cakrabirawa. Ini adalah naluri ibu. Demi sang anak, dalam kondisi apapun, ia tetap memeluk dengan penuh kasih sayang. Dengan tangan bersimbah darah anaknya ia berusaha menyelamatkan buah hatinya di tengah ancaman pasukan Cakrabirawa.

Hatiku luluh lantak ketika menyimak dialognya dengan pasukan Cakrabirawa pada saat ia perusaha meraih telepon untuk mencari bantuan. Di depan todongan senjata pasukan Cakrabirawa yang menghentikan tindakannya, ia menjawab pertanyaan pasukan Cakrabirawa dengan tegas, “Pak Nasution pergi ke Bandung. Sudah tiga hari beliau di Bandung. Kalian kesini hanya untuk membunuh anak saya!”. Tangannya masih menyangga tubuh Ade Irma dan berusaha menutup aliran darah yang mengalir. Walaupun tetap saja darah Ade Irma bersimbah ke lantai. Ia tidak bicara lagi dengan pasukan Cakrabirawa. Tapi cukuplah kakinya yang berbicara dengan menunjukkan darah Ade Irma yang bercucuran di lantai di depan pasukan Cakrabirawa.

Seperti inikah ibu idaman anak-anaknya? Seperti inikah istri yang menjadikan suami tak akan berpaling cintanya?

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 4 Komentar »

MERDEKA TANPA CITA-CITA

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 20, 2008

Tulisan ini merupakan naskah asli dari tulisan yang judulnya sama dan dimuat di salah satu produk Media Centre, Pers-nya mahasiswa STAN. Tapi rupanya banyak sekali yang diedit. Wajar saja bagiku. Memang space penerbitannya sempit. Jadi tidak memungkinkan untuk memuat keseluruhan tulisanku ini. Tulisan ini sepenuhnya adalah hasil dari kegundahan dan keprihatinan dengan kondisi pergaulan mahasiswa STAN sekarang. Sekaligus menyeru kepada mahasiswa STAN untuk memperbaiki lingkungan kampusnya. Dan juga siapa saja yang membacanya diharapkan dapat memperoleh manfaat dari tulisan ini. Dari lubuk hati yang terdalam, sebenarnya aku meniatkan tulisan ini sebagai alat dakwah. Entah ini memang alat dakwah atau bukan, wallahu ‘alam…

MERDEKA TANPA CITA-CITA

Oleh: Wirawan Purwa Yuwana[i]

Pemandangan merah putih khas bulan Agustus mulai marak di berbagai tempat. Memang sebentar lagi Indonesia akan memperingati ulang tahun kemerdekaannya yang ke-63. Saat-saat seperti inilah yang tepat bagi seluruh elemen bangsa, termasuk para pemuda, mengingat kembali makna kemerdekaan dan perjuangan Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘merdeka’ diartikan bebas (dari perhambaan, penjajahan dan sebagainya), dapat pula diartikan tidak terikat, tidak tergantung kepada orang atau pihak tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikeahui bahwa merdeka merupakan suatu keluaran karena adanya suatu proses. Adapun proses yang dimaksud adalah perjuangan.

Perjuangan melawan penjajah telah mengalirkan darah pejuang menjadi tumbal kemerdekaan. Kemerdekaan mutlak harus dimiliki bangsa Indonesia. Walaupun sejak tahun 1887 Belanda sudah melakukan politik balas budi dengan melaksanakan progam irigasi, transmigrasi dan edukasi, namun hal itu tidak cukup untuk menebus kemerdekaan Indonesia. Menyerah dalam kubangan politik etis Belanda berarti telah menempatkan harga diri bangsa ini di bawah bayang-bayang penjajah. Oleh karena itulah perjuangan tetap dikobarkan baik yang secara terang-terangan melawan maupun yang bergerak di bawah tanah. Perjuangan itu menunjukkan betapa semangat membara tercermin untuk mewujudkan jaman baru. Seperti kata Soekarno dalam Di Bawah Bendera Revolusi, jaman baru yaitu jaman muda, sudahlah datang sebagai fajar yang terang cuaca.

Sekarang kita bisa merasakan buah perjuangan para pahlawan. Namun bukan merdeka namanya jika kita tidak mempertahankan kemerdekaan ini dengan perjuangan. Siklus perjuangan itu tetap harus berputar. Jika dulu keluaran dari proses perjuangan adalah kemerdekaan, maka sekarang perjuangan merupakan proses untuk mendapatkan keluaran mempertahankan kemerdekaan dan menciptakan kehidupan negara yan lebih baik. Perjuangan memang tidak boleh berhenti. Menghentikan perjuangan berarti sama saja menjemput kematian cita-cita.

Lantas bagaimana seharusnya bentuk perjuangan pemuda sekarang? Pemuda harus menyadari betapa penting perannya pada masa depan bangsa. Suatu bangsa jika pemudanya baik, maka masa depannya pun baik. Namun jika pemuda suatu bangsa hanyalah kumpulan begajulan maka tinggal ditunggu kebinasaan bangsa itu. Kesadaran inilah yang perlu dipahami para pemuda agar senantiasa bersemangat dalam menempa dirinya. Menempa diri sehingga memiliki modal untuk berperan dan bermanfaat bukan sekedar bagi dirinya sendiri, tapi lebih dari itu. Bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, negara dan kehidupan.

Seperti itulah sejatinya perjuangan pemuda. Jadi merdeka tidak disalah artikan sebagai bebas tanpa batas. Fenomena merdeka ayam, yaitu bebas merdeka dan dapat berbuat sekehendak hatinya inilah yang harus diwaspadai para pemuda. Saat ini begitu marak fenomena merdeka ayam disertai berbagai alasan rasionalisasinya. Dalih kebebasan berekspresi sering digunakan untuk mengeksplorasi kebebasan tanpa batas. Alasan demi memancing kreatifitas anak bangsa pun diungkapkan walau banyak bertentangan dengan norma. Justifikasi hak asasi manusia pun dinomorsatukan dalam berpendapat tanpa memandang bahwa orang lain juga memiliki hak asasi. Dan tentu masih banyak rasionalisasi lainnya yang melupakan keluarannya, yaitu perubahan untuk perbaikan.

Sebelum melihat kondisi bangsa yang semakin terpuruk ini, mari kita lihat saja kampus STAN tercinta. Kita introspeksi bersama-sama mengenai kehidupan mahasiswanya. Mahasiswa STAN sekarang sudah mengalami pergeseran norma. Itu pun jika keberatan untuk dikatakan mengalami degradasi moral. Permasalahan ini bukan sekedar wacana, tapi sudah menjadi bukti empiris. Tidak sadarkah mahasiswa STAN sekarang sedang mempelajari mata kuliah baru yang dahulu tidak pernah ada. Sebut saja mata kuliah etika dan budaya nusantara. Seharusnya kita sebagai mahasiswa STAN sadar bahwa munculnya mata kuliah etika itu cukup membuktikan bahwa mahasiswa dan lulusan STAN tidak memiliki etika. Demikian juga adanya mata kuliah budaya nusantara. Cukuplah latar belakang bahwa lulusan STAN cenderung tidak memiliki nilai manfaat di masyarakat setelah lulus dan ditempatkan.

Mahasiswa STAN sekarang tak perlu malu jika dibandingkan dengan mahasiswa STAN jaman dulu. Jika dulu sepasang muda-mudi mahasiswa STAN ketahuan bergandengan tangan akan sangat merasa malu, namun tidak dengan mahasiswa sekarang. Bergandengan tangan sepasang mahasiswa yang berpacaran dimabuk asmara pun menjadi lumrah dan biasa. Tak ada lagi rasa risih jika dilihat orang lain. Yang ada justru cuek dengan apa kata orang. “Emang gue pikirin!”, begitulah kira-kira ungkapannya. Penulis khawatir, muda mudi seperti ini justru akan menjadi musuh dalam selimut ketika sudah ditempatkan di instansi pemerintah. Boro-boro akan mengamalkan ilmu dan mempertahankan idealisme, yang ada mungkin justru berkolaborasi, berpegangan tangan, dan berkolusi dengan koruptor untuk menguras keuangan negara demi kepentingan pribadinya. Kemungkinan masa depan seperti ini bisa terjadi karena sewaktu di kampus tangan-tangan muda-mudi ini sudah terlatih untuk memegang sesuatu yang bukan haknya.

Selanjutnya mari kita lihat pasangan muda-mudi mahasiswa STAN di beberapa kantin. Mereka saling menyuapi layaknya suami istri. Mereka seolah tak peduli dengan orang yang risih melihat kelakuannya. Jika masih berstatus mahasiswa yang belum sah menjadi suami istri sudah berani saling suap seperti ini, lantas bagaimana jika sudah bekerja nanti. Mereka mungkin akan menjadi agen budaya suap di pemerintahan. Mereka yang sudah terlatih disuapi atau menyuapi maka pada suatu saat ketika bekerja nanti sangat mungkin akan mempraktekkan suap dengan berbagi macam bentuk dan triknya. Suap dengan dalih perjamuan tamu pun menjadi biasa. Suap dengan penyediaan fasilitas kenikmatan hotel bintang lima lengkap dengan entertainment-nya pun tak menjadi apa. Hingga gepokan uang tunai pun sudah tak takut lagi untuk menerima.

Kemudian mari kita buka dunia maya. Kita akan menjumpai muda-mudi mahasiswa dengan begitu bangga mendokumentasikan hubungan mesra mereka di profile friendster, wallpaper ponsel atau dekstop komputer. Mereka tak merasa malu memasang gambar yang tampak jelas pipi kanan si perempuan ditempelkan pada pipi kiri si laki-laki. Muda-mudi seperti ini telah menanam benih tidak tahu malu yang nanti akan dibawa ketika bekerja. Yang menjadi pemeriksa pajak tak malu untuk memeras wajib pajak. Yang menjadi bendahara tak malu untuk meminta tips atas uang yang dicairkan instansi lain. Yang bertugas sebagai pelaksana pengadaan barang dan jasa tak malu lagi meminta kickbacks dari rekanan. Yang menjadi auditor tak malu lagi mengakal-akali temuan bersama auditee. Kejadian-kejadian itu sudah dimulai dengan fenomena tak tahu malu yang dilakukan mahasiswa. Entah mereka sadar atau tidak sadar telah melakukan perbuatan yang memalukan.

Fenomena dekadensi moral itu terus berlanjut. Sekarang sudah marak kos-kosan yang mencampur laki-laki dan perempuan. Model pacaran berduaan di dalam satu ruangan kos-kosan pun menjadi kebiasaan. Bahkan tak sedikit informasi yang mengabarkan ada sepasang mahasiswa STAN berciuman. Itu semua baru yang on spot catching. Jika yang kasat mata saja seperti itu, apalagi yang tidak kasat mata. Mungkin mahasiswa STAN malah sudah banyak yang menenggak minuman keras, mengkonsumsi narkoba, fenomena homoseksual, dan berbagai bentuk dekadensi moral lainnya.

Mahasiswa-mahasiswa dengan kebejatannya diatas sungguh tidak menghormati perjuangan pahlawan. Mereka jauh dari cita-cita Soekarno yaitu datangnya jaman muda, jaman yang terang cuaca. Mahasiswa-mahasiswa yang mengalami degradasi moral seperti itu justru akan membuat cuaca bangsa menjadi kelabu. Tanpa masa depan. Dan tanpa cita-cita.

Degradasi moral ini tak boleh dibiarkan. Apakah kita harus menunggu ada kasus hamil diluar nikah terlebih dahulu untuk bergerak memberantas praktek free sex di kalangan mahasiswa STAN? Apakah kita masih harus bersabar hingga ada bencana kematian mahasiswa STAN dikarenakan overdosis narkoba? Apakah kita tetap berdiam diri hingga AIDS datang menggerogoti sebagai dampak fenomena homoseksual? Pertanyaan-pertanyaan itu memang hanya retorika belaka. Tapi jelas hanya manusia waras yang paham bahwa mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Kini saatnya seluruh elemen kampus bergerak melawan arus degradasi moral. Seiring dengan semangat kemerdekaan, perjuangan melawan segala bentuk kebejatan, kehinaan dan dekadensi moral harus dimulai sekarang juga. Jika dibutuhkan infrastruktur untuk menjembatani program menghentikan praktek kehinaan ini, maka mari kita bangun bersama. Lembaga STAN perlu menerbitkan dan mempublikasikan aturan kehidupan mahasiswa STAN. Seluruh organisasi di kampus STAN perlu berkoordinasi dan menyamakan persepsi untuk memperketat pergaulan mahasiswa hingga tidak bebas tanpa batas. Bahkan setiap mahasiswa pun wajib menjadi agen yang mengawasi dan menindak setiap oknum yang melakukan perbuatan menjurus pada pergeseran norma dan penurunan moral. Jangan diam saja. Karena diam membiarkan mahasiswa STAN terkubur dalam degradasi moral, berarti sama saja menghentikan semangat merdeka pada tahun 1945. Maka semakin lama merdeka hanya akan menjadi kenangan dan tanpa cita-cita.


[i] Penulis adalah mahasiswa D IV Akuntansi STAN

Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »

stag…

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 15, 2008

Kemarin mendapat sms dari seorang temen. Kok blog-nya macet alias stag. Posting tulisannya yang lain mana. belum lagi kritik seorang kawan melihat perubahan sensitifitas perilakuku.

STag…

Bukan berarti stag dalam kegitan dan pikiran. tapi entah mengapa pada akhir-akhir ini jari-jari ini berat untuk menari di atas tuts keyboard. aktivitas di depan notebook memang terasa berkurang. dan lebih banyak menumpahkan ekspresi dalam gambar di Corel, atau klasik banget, cuma baca2 file yang ada. ada dipikiran tapi tak mampu menuliskan. bahkan tugas kuliah pun agak bermasalah dalam tulisan. seolah aku hanya ingin membaca dan menikmati keindahan dan ketenangan bangunan utama di jalan kaca piring, Pondok Safari Indah. Bangunan itu kadang tergantikan yang lain, yaitu bangunan utama yang megah dan bisa dijumpai ketika memasuki kampus STAN dari gerbang Ceger. tak bisa memungkiri, banguan2 itu menjembatani ketenangan hati. bersama si kecil yang menemani dan setia walau terkadang hanya ada di dalam saku kemeja atau di dalam tasku.

mungkin benar kata seorang temanku. justru saat2 seperti yang aku alami ini adalah fase terberat. harus melawan invisible enemy untuk mencapai tujuan suci. Tak ada yang bisa menolong kecuali Sang Illahi Rabbi.

Seandainya besuk sudah Ramadhan…

Ditulis dalam Uncategorized | 5 Komentar »

Syawal

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 6, 2008

Ya Rabbi, sungguh indah sekali cara-Mu memberikan ilmu padaku. Beberapa waktu yang lalu aku agak terkejut ketika tiba-tiba ditanya, “Kira-kira kamu kapan menyelenggarakan akad nikah?”. Saat itu aku tidak menyangka bahwa perjalanan ini begitu cepat. Hingga tak menyangka bahwa awal kehidupan ini akan segera dimulai. Ya Rabbi beruntung sekali aku Kau dekatkan dengan orang-orang shalih sehingga bisa membahas pertanyaan yang hingga kini belum bisa aku jawab.

Ya Rabbi, betapa diri ini bergetar ketika membuka lembar demi lembar hikmah yang ditulis orang-orang shalih. Aku menjumpai petunjuk bahwa ‘Aisyah menuturkan, “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan tinggal bersamaku pada bulan Syawal. Lalu adakah diantara isteri Rasulullah SAW yang lebih beruntung di sisi beliau daripada aku.” Selanjutnya pada dijelaskan pula bahwa An-Nawawi rahimullah berkata, “Hadits ini berisi anjuran menikah di bulan Syawal. ‘Aisyah bermaksud, dengan ucapannya ini, untuk menolak tradisi jahiliah dan anggapan mereka bahwa menikah pada bulan Syawal tidak baik. Ini adalah bathil yang tidak memiliki dasar. Mereka meramalkan demikian, karena kata Syawal mengandung arti menanjak dan tinggi…

Ya Rabbi, beruntung sekali aku Kau dekatkan dengan orang-orang shalih yang pemahamannya lebih baik dariku. Suatu ketika aku berdiskusi dengan seorang shalih mengenai hadits ‘Aisyah di atas. Pemahaman tekstual menyatakan bahwa sangat dianjurkan untuk menikah di bulan Syawal sebagaimana yang telah di contohkan Rasulullah dengan ‘Aisyah. Dan para salafus shalih pun sangat menganjurkan untuk mengikuti sunnah Rasul, yaitu menikah di bulan Syawal. Betapa bahagianya aku jika bisa mengikuti teladan para salafus shalih itu. Dari segi sosiologis, di Indonesia terutama, keluarga biasanya berkumpul pada bulan Syawal. Dan tentu akan sangat bahagia jika menyatukan tali silaturahim diantara mereka dalam suatu prosesi walimah. Baik itu dalam pandangan sosiologis atau pun pemahaman tekstual, pernikahan di bulan Syawal sungguh membahagiakan.

Ya Rabbi, di lain kesempatan Kau mempertemukanku dengan orang shalih lainnya untuk berdiskusi masalah yang sama. Ia lebih memandang secara kontekstual sebagaimana tambahan penjelasan dari An-Nawawi. Pernikahan Rasulullah dengan ‘Aisyah merupakan sebuah perjuangan untuk memutus rantai kejahiliyahan. Yaitu kebodohan kaum terdahulu yang melarang menikah pada bulan Syawal. Maka nilai perjuangan itu pun sebenarnya dapat diambil untuk tradisi masyarakat yang masih jahiliyah di Indonesia ini. Misalnya anggapan masyarakat di daerah tertentu bahwa menikah di bulan Suro (Muharram) itu tidak baik. Anggapan ini perlu dipupus dengan pengorbanan menikah pada bulan Muharram sehingga bisa meluruskan pandangan yang salah. Begitu pula hari-hari yang ditetapkan perhitungan para dukun, entah itu Kamis Pahing, Jumat Kliwon, Sabtu Legi, atau hari apa pun yang ditentukan tanpa dasar syar’i. Tradisi jahiliyah itu haru dipupus dengan perjuangan. Dan perjuangan butuh pengorbanan. Sungguh aku yakin bahwa keberkahan itu datang dari Allah dan bukan pada waktu-waktu yang ditetapkan manusia seperti itu.

Ya Rabbi, aku memang tidak bisa memutuskan sendiri kapan akad nikahku akan terjadi. Ya Rabbi, dalam benakku masih begitu kuat terpatri bahwa menikah itu bukan sekedar untuk diriku sendiri dan istriku nanti. Tapi lebih dari itu, kami akan menyatukan dua keluarga besar dalam ikatan pernikahan. Oleh karena itulah musyawarah antar keluarga sangat dibutuhkan untuk menentukan berbagai hal mengenai prosesi pernikahan. Ya Rabbi yang membolak-balikkan hati, ijinkan aku untuk menaati kedua orang tuaku sebagaimana aku taat kepada perintah-Mu. Ya Rabbi, tenangkan hati ini dalam menunggu kepastian hasil musyawarah antar keluarga kami. Apapun hasilnya, aku mohon keridhoan-Mu. Aku Mohon keberkahan dari-Mu. Aku mohon kelancaran dari-Mu. Ya Rabbi, ijinkan aku menikmati kebahagiaan dalam mengikuti sunnah Rasul-Mu. Kapan dan dimana pun aku.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 13 Komentar »

next post…

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 5, 2008

Pengen banget nulis…

tapi hari ini baru nyampe kos…trus langsung kuliah

biyuh…gdebug…langsung dihantam buku sama anak-anak.

banyak kali list to do-nya. OKeh…syapa takut…!!!

trus ketemu adik kelas di jalan. “Mas someday bantu kita mempersiapkan kompre yak?”. OKeh juga…

trus Om Didit sms…”Le, gimana risk based audit-nya?”. Waduh Om, baru mo buka buku

trus STAPALA…persiapan pembahasan kriteria kinerja…

tapi itu semua ga menghapus keinginan untuk menulis tentang SYAWAL…

Ada apa bulan SYAWAL? Tunggu aja deh di post berikutnya…

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Ganti panggilan…

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 4, 2008

Blog-ku, biasa aku memanggilmu bidadariku…

Kini bersiaplah untuk aku panggil lain seperti biasanya

Karena aku akan segera menemukan bidadari dambaan hatiku

Atau kamu ingin dipanggil apa?

Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar »

Ba’ah apaan sih?…Canda 300708

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 2, 2008

Bidadariku, dunia ini kabur dalam pandanganku. Ketika tugas kuliah minta dikebut, kemarin aku malah mendapat problem tambahan. Aku tertidur di kamar Kang Agus #1. Begitu melelahkan setelah pulang dari Senayan mengawasi orang-orang tes CPNS. Dan ketika terbangun aku menjumpai kacamataku patah. Aduh biyung…layar monitor pun kabur. Tulisan di buku terlihat bias. Jadi tambah malas membaca. Padahal aku ga boleh malas membaca. Karena membaca adalah bagian dari mempersiapkan kehidupan. Akhirnya dengan susah payah pun menyempatkan diri untuk meniti lembar demi lembar pengetahuan.

Bidadariku, kamu ingin tahu apa yang aku baca? Sedikit saja ya…sebuah petunjuk di Isyratun nisa’ minal alif ilal yaa. Mengenai sabda Rasulullah, yaa ma’syarasy syabaab, manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj. Fainnahu aghadhdhu lil bashari wa ahshanu lil farji, wa manlam yastathi’ fa’alayhi bish shaum, fainnahu lahu wijaa’. Hadits ini memanggil pemuda sepertiku bidadariku. Dalam buku itu diterjemahkan, “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; sebab berpuasa dapat menekan syahwatnya”.

Terus saja terngiang-ngiang panggilan itu dibenakku. Hingga sering bibir ini bergerak-gerak mengucapkan lafaz-nya berkali-kali. Dan ditengah perjalanan menuju As Sa’adah, aku kepergok Gun-gun#20. “Waduh mas, dari tadi ngucapin qala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang itu terus”. Ya sudah, sekalian aja si Gun-gun#20 ini aku jadikan ajang percobaan. “Gun, ada yang manggil tuh. Kamu ngerasa ga?”. Lantas ku tepuk-tepuk punggungnya, “yaa ma’syarasy syabaab”. Dengan senyum tersungging, ia melirikku. Tak ada kata terucap. Hanya melirik saja seperti di film India. Dan aku lanjutkan, ”manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj”. Rupanya ia mulai bosan,”Aduh mas, dari tadi ituu….terus”.

Sepulang dari As Sa’adah pun masih saja menyebut-nyebut lafaz hadits itu. “Artinya apa sih mas?”, tiba-tiba Prian#14 nyeletuk. Iyap, ini dia, aku dapat satu korban lagi. “Itu panggilan buatmu Yan”. Ia bengong. Ku tunjuk-tunjuk si Prian#14, “yaa ma’syarasy syabaab”. Terlukis tanda tanya kecil di atas kepalanya. ”manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj”. Dan kemudian tanda tanya kecil itu tumbuh besar di atas kepalanya. “A R T I N Y A ?”, pertanyaan keluar dari mulut Prian#14 dengan nada seperti anak SD membaca teks Pancasila…satu…dua…tiga…empat…lima.

Belum juga aku menjawab pertanyaan Prian#14, tiba-tiba Hatfi#13 memanggilku. “Mas, ini nih lihat. Pasti suka deh”. Dalam hati agak bingung juga, apa maksud ustadz-nya Pondok Muslim ini. Ia menunjukkanku tulisan arab gundul di monitor laptopnya. “Waduh Fi, mana bisa aku membacanya. Apalagi mengartikannya”. Dia tertawa terkekeh,”Ini sarah Bulughul Maram, Mas. Kamu dari tadi nyebut-nyebut hadits itu terus. Tahu maksudnya ba’ah ga?”. Dengan polos aku memenggal makna terjemahannya, ”Mampu menikah, Fi”. Dia terkekeh lagi,”Ada yang menarik nih. Disini menurut Imam Shon’ani dalam kitabnya Subulus Salam disebutkan bahwa yang dimaksud ba’ah itu kira-kira sama dengan jima’. Ini coba lihat teksnya. Jadi hadits itu bisa dikatakan manistatho’a minkumul jima’. Nah menarikkan?”. Dalam hati aku bergumam, seandainya para pemuda mengetahui dan memahami petunjuk itu, tentu mereka berbondong-bondong memenuhi panggilan ini.

Waduh, namanya juga kumpulan laki-laki yang haus kasih sayang dan telah terdoktrin untuk menyembunyikan cinta, mendengar topik menarik, langsung melirik. “Artinya apa tadi, Mas?”, Si Prian#14 masih minta penjelasan. Nah, ketika disebutkan terjemahnya, malah semakin tertarik dia. “Nah lho Pam, kamu sudah ba’ah belum?”, aku lempar pertanyaan ke arah Papam#12. “Pasteehh!”, ia mengangkat tangannya tinggi lalu menariknya kebawah. “Kok ga ada tanda-tanda yatazawwaj?”. “Waduh mas, bentar dulu napa. Bidadariku kan baru saja terbang. Sayapku ini belum kuat untuk mengejarnya”. Gun-gun#20 senyum-senyum saja dari tadi sambil berdiri. “Kalo Pak Pres ini sudah mampu belum?”, si Papam#12 me-rebound pertanyaan ke Gun-gun#20. “Ya pastilah”, jawabnya lugas. “Masih kecil gitu sudah mampu?”, tambahan Papam#12 setengah menghina si kecil Gun-gun#20. “Ndak papo Pam, yang penting jadi idola banyak perempuan di kampus kito”, dengan nada Sriwijaya-an si Gun-gun#20 malah membusungkan dada. Lantas kubelokkan pandanganku ke Prian#14,“Kalo kamu Yan, sudah ba’ah belum?”. Melotot dia,”Ya sudah lah mas. Masa ya sudah dong. Bacaannya aja majalah, bukan majadong”. “Buktinya mana?”, seperti dikomando dirigen, Papam#12 dan Hatfi#13 mengucapkan pertanyaan yang sama. “Ya, entar lah. Masa dipaksa sekarang”, kata Prian#14 dengan nada tinggi. “Kalo dipaksa sekarang, jadi kasus Ryan dong!”. Dan tawa pun meledak ditengah diskusi itu.

Tiba-tiba Tegwan#17 tergopoh-gopoh dengan perut buncitnya menghampiri forum yang tengah terbahak-bahak. “Apaan sih? Bahas apaan sih? Ulangi dari awal dwonk”. Waduh Teg, kalo dari awal ya capcay deh…….

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »