Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Arsip untuk Juli, 2008

off….

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 29, 2008

Bidadariku, aku off dulu…

mo ngerjain tugas kuliah yang buanyak banget.

lain waktu disambung lagi ceritanya ya…

Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »

preparation art

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 29, 2008

Memang, adakalanya mempersiapkan diri itu ga selalu sesuai dengan tujuan pribadi kita. Tapi aku yakin Allah tahu kita mempersiapkan diri. Dan Allah tahu kapan kita harus menggunakan apa yang telah kita persiapkan. Dan lebih surprise-nya, waktu yang ditentukan Allah itu datang tanpa kita prediksi sebelumnya. Mungkin ini yang namanya seni mempersiapkan diri. Sama sekali tidak ada kerugian untuk mempersiapkan diri.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

khawatir tak sempat

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 29, 2008

Bidadariku, waktu terus bergerak dan tak mau melambat. Padahal aku berencana bergerak lagi pada akhir pekan ini. Tapi tugas kuliah kok semakin banyak. Tugas kemarin belum selesai, sekarang sudah ditambah lagi. Sedangkan persiapan ini harus terus berjalan dan tak boleh lalai.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Diserang Gundah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 28, 2008

Pagi ini aku ingin berbagi cerita ini untukmu Bidadariku. Cerita mengenai kegundahanku semalaman ini. Rasa was-was dan kekhawatiran yang membombardir pikiranku dalam mempersiapkan kehidupan yang dimulai pagi ini. Gundah, resah, dan gelisah telah menyelimuti tidurku dengan susah. Sebisa mungkin aku memejamkan mata, namun telinga ini seolah mendengar setiap jengkal serangga melangkah. Hingga suatu waktu aku menyerah sebelum fajar datang. Menyerah dengan menatap kata-kata indah penuh hikmah. Dan atas kuasa Allah, aku mendapatkan artileri yang bisa melindungiku dari serangan gundah.

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

Beberapa kali aku membaca terjemahan ayat ke 160 surat cinta ketiga dari Rabb-ku. Otak ini memang susah diajak bekerja jika hati ini gundah. Tak segera mengerti apa maksudnya. Sejenak memejamkan mata. Kemudian keluar kamar menerawang langit Jurangmangu yang hitam kelam tanpa bintang. Hingga akhirnya perhatianku tertuju pada dedaunan pohon mangga di depan kos.

Kemarin sore Jurangmangu di guyur hujan deras sedari maghrib hingga isya. Rupanya sisa-sisa air hujan masih terlihat jelas membasahi dedaunan. Di bawah dedaunan itu ada sebuah tabung lengkap dengan lampu penerangan yang dipasang Bapak Kos di tembok gerbang Pondok Muslim. Tujuannya pasti untuk menerangi jalan. Ah, aku tidak peduli sementara itu dengan keluhan PLN mengenai krisis listrik di negeri kaya sungai ini. Aku merasa ada yang aneh dengan tabung lampu itu. Lantas aku mendekat ke arahnya. Semakin dekat dan melihat kaca tabung yang sudah tidak bening lagi. Semakin aku memperhatikannya, aku melihat aliran air di permukaan tabung. Dan tak lama kemudian…tes. Setetes air jatuh dari ujung daun mangga dan meluncur membasahi permukaan tabung. Tetesan air itu mengalir mengikuti gaya tarik bumi. Tidak lama, dan sangat cepat. Namun aku tidak melihat sisa tetesan air itu di ujung alirannya. Segera menguap. Dan terlihat lukisan aliran air baru di tabung lampu.

Bidadariku, sejurus kemudian bekas aliran air itu mengingatkanku pada Umar bin Khatab. Seorang sahabat Rasul yang mengagungkan kebesaran Islam selama masa Khulafaur Rasyidin. Seorang yang dipilih Allah untuk mengabulkan doa Rasul-Nya,”Ya Allah tinggikanlah Islam diantara dua Umar”. Telah dikisahkan bahwa di pipi Umar bin Khatab terlukis aliran air. Itu karena begitu seringnya beliau menangis dalam kekhusyukan qiyamul lail. Betapa tawakkalnya Umar bin Khatab kepada Allah. Dan teringat pula dengan pelajaran yang disampaikan Rasul bahwa “dua mata yang tidak disentuh api neraka, yang menangis karena takut kepada Allah dan yang terjaga di jalan Allah”. Hingga akhirnya ingatan ini semakin mengukuhkan hati. Gundah, khawatir, dan rasa was-was itu adalah penyakit yang dihembuskan setan ke dalam hati manusia. Jika setan itu terbuat dari api, maka harus dipadamkan dengan air. Dengan spontan seolah tak ada pilihan lain, bergegas kaki ini melangkah menuju kran air. Wudhu… wudhu… wudhu… dan hening dalam kenikmatan mengisi sepertiga malam terakhir.

Ketenangan pun menghiasi pagi ini. Dan ternyata, “Maaf ya Dik Wipy, semalam itu saya tidak tahu kalau kamu itu adik kelas SMA dulu. Setelah baca SMSmu baru saya ingat, oalah ini Dik Wipy yang itu to.” Gundah pun terbang melayang diganti obrolan santai dan mengasyikkan.

Ditulis dalam Uncategorized | 7 Komentar »

Alhamdulillah….

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 26, 2008

Alhamdulllah ya Allah…

jalan ini semakin lebar…

jalan ini semakin jelas…

tujuan ini semakin dekat…

maka sampaikan aku pada kesempurnaan Dien-Mu…

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 4 Komentar »

‘Isykariiman aumut syahiidan

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 26, 2008

‘Isykariiman aumut syahiidan

Hidup mulia atau mati syahid

Bidadariku, tidakkah kamu melihatku sekarang? Berdiri kokoh mengenakan jaket hitam seragam MBM dengan tulisan meyakinkan dibagian belakang. ‘Isykariiman aumut syahiidan. Bidadariku, ini lah jalanku. Dan sekarang lihatlah api perjuangan itu membakar hebat hidup ini.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Kamu ingat kisah Ka’ab bin Malik, Bidadariku? Ka’ab yang diboikot hidupnya selama 50 hari karena tidak bergabung dengan Rasulullah dan mujahid lainnya di medan jihad. Ka’ab yang menderita karena Rasulullah tidak bergeming ketika dia mengucapkan salam. Ka’ab yang merana karena tak ada tegur sapa baginya pada saat ia ke masjid menunaikan shalat jama’ah. Kesunyian yang ia rasakan ditengah hingar-bingar dakwah masjid saat itu membuatnya malu. Dan ia pun hanya menunaikan shalat di rumah. Lantas rumahnya pun mengalirkan bencana. Istri tercintanya diminta Rasulullah untuk meninggalkannya dan tidak memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Itu lah Ka’ab yang menderita dalam kesendirian ditengah kobaran semangat dakwah dan perjuangan Rasulullah. Ka’ab yang dikucilkan karena tidak segera menyambut panggilan jihad. Ka’ab sebenarna sudah menyiapkan segalanya untuk melangkah ke medan perang. Ka’ab sudah menyiapkan harta dan dirinya. Ka’ab tinggal melangkah menuju medan perang. Namun hanya masalah tidak segera menyambut. Sekali lagi hanya karena tidak responsif. Sehingga Ka’ab tertinggal dari jama’ah jihad Rasulullah. Dan Ka’ab bukan lah sahabat Rasulullah yang remeh temeh. Ditengah hukuman pemboikotan itu, ia di tawari suaka politik oleh Raja Romawi. Bayangkan, ketika tidak ada kawan dan saudara yang bisa diajak bertegur sapa, Ka’ab ditawari jabatan dan suaka politik di negara lain. Namun Ka’ab menolak tawaran itu. Ia lebih memilih Allah dan Rasul-nya serta menikmati hukuman yang ditimpanya. Itulah keteguhan hatinya.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Bidadariku, satu lagi kisah sahabat Rasul yang hendak berjuang ke medan jihad. Sahabat itu tidak memiliki apa-apa. Ia tidak memiliki pedang atau pun baju perang. Ia hanya memiliki tubuh. Dan dengan apa yang ia miliki itu saja ia berangkat ke medan perang. Ia membawa panji Islam di tangan kanannya. Di tengah sengit peperangan tangan kanannya di tebas pedang oleh musuh Islam. Biarlah tangan kanan itu lepas, namun panji Islam harus tetap tegak dan jelas. Lantas ia memegang panji Islam dengan tangan kirinya. Tak lama kemudian ganti tangan kirinya itu yang putus tak kuasa menahan pedang terhunus. Ia tidak lagi memiliki kedua tangan yang utuh. Namun semangat menegakkan panji Islam telah membara. Ia merengkuh panji Islam dengan kedua sisa tangannya. Hingga syahid menjemputnya.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Ini lah jalan yang aku pilih, Bidadariku. Jalan perjuangan. Jalan jihad. Jalan dakwah. Penuh onak dan duri. Penuh tantangan dan rintangan. Namun tak gentar hati ini demi kejayaan Islam.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Sekarang lihatlah umat ini, Bidadariku. Kondisi yang memprihatinkan. Aqidah yang lemah. Lihat saja bagaimana bid’ah, khurafat, dan tahayul merajalela merusak kehidupan bangsa. Bukan hanya tayangan film dan televisi yang memberikan cerita hantu blau dan tak bermutu. Berapa banyak pers mistik yang justru tidak mencerahkan umat. Praktek perdukunan telah menambah kelam kehidupan. Tidak kah kamu lihat kematian Mak Erot yang di ekspos habis-habisan di media, Bidadariku? Tidak kah kamu perhatikan maraknya iklan SMS ramalan perdukunan. Apakah kamu tidak melihat ini adalah ladang jihad, Bidadariku?

‘Isykariiman aumut syahiidan

Bidadariku, tidakkah kamu melihat kebodohan telah merusak pendidikan umat ini? Sudahkah kamu menghitung berapa banyak anak-anak yang putus sekolah karena tidak memiliki biaya? Sudahkan kamu mendapatkan angka statistik berapa pemuda yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena tak mampu membayar uang gedung, uang sumbangan pendidikan, dan pungutan lainnya? Tidakkah kamu melihat bagaimana pemuda-pemuda yang ada dikampus kesulitan memahami mata kuliah dan akhirnya menyerah ditangan Drop Out? Apakah kamu tidak melihat ini adalah ladang dakwah yang luas?

‘Isykariiman aumut syahiidan

Bidadariku, lihatlah akhlak bangsa ini. Jikalau cerminan akhlak bangsa ini adalah para pemimpinnya, maka kamu akan memandang betapa bejat akhlak bangsa ini. Pergilah ke Senayan. Lantas hitung berapa koruptor yang menjelma sebagai pembuat undang-undang. Pergilah keliling Sudirman-Thamrin. Tanyalah penguasa gedung pemerintahan, seberapa banyak kecurangan keuangan yang mereka sembunyikan. Pergilah mengamati pemilihan kepala daerah di negeri ini. Lihat bagaimana mereka menghambur-hamburkan uang demi jabatan sedangkan di tempat lain banyak rakyat yang kelaparan. Atau datanglah ke penjara yang semakin penuh sesak dengan pelaku dosa. Tidakkah kamu berpikir mengenai dampak korupsi, wahai Bidadariku? Jika kamu berpikir zina, kumpul kebo, atau free sex adalah dosa besar, maka bandingkan dengan korupsi. Free sex hanya melibatkan segelintir pelaku. Paling-paling jika pelakunya beruntung, mendapatkan penyakit AIDS biar mereka sadar dan bertaubat kembali ke jalan yang benar. Bandingkan dengan koruptor. Ia tidak hanya harus bertaubat menghadap Rabb Al Izzati. Tapi dosa besarnya harus ditembus dengan meminta maaf kepada seluruh rakyat di negeri ini. Bagaimana caranya, wahai Bidadariku? Aku tak bisa diam tidak segera merespon melihat medan peperangan ini, Bidadariku.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Tentu masih banyak bidang bidang dakwah yang menjadi tugas umat Islam. Lihatlah betapa luasnya medan jihad ini. Janganlah kamu memintaku menyebutkan satu per satu. Aku tak kuasa. Lebih baik kamu sekalian menceburkan diri dalam lautan dakwah ini. Lantas jika kamu atau aku sudah meniti satu bidang dakwah apakah kamu atau aku merasa hebat? Meremehkan? Pengkultusan? Serampangan? Egois? Berpecah? Parsial? Asal-asalan? Tidak betanggung jawab? Tidak memiliki dasar? Saling bertentangan? Itulah penyakit umat dalam dakwah. Itulah penyakit yang tidak akan membawa perubahan.

‘Isykariiman aumut syahiidan

Bidadariku, aku tidak ingin seperti Ka’ab bin Malik yang tidak segera merespon panggilan jihad. Aku pun tidak perlu menunggu mendapatkan pedang untuk berperang. Cukup seperti sahabat Rasul yang mengibarkan panji Islam. Ini lah aku adanya dan aku persembahkan untuk perjuangan Islam. Ini jihadku. Ini risikoku. Wahai Bidadariku, jika kamu tidak berani menghadapi risiko jalan jihad ini, maka aku tidak membutuhkanmu. Sekali lagi Bidadariku, jika kamu hanya setengah-setengah dalam meniti jalan dakwah ini, maka aku tak butuh kamu berada di sisi hidupku. Dan camkan Bidadariku, bahkan jikalau tidak ada seorang pun bidadari di dunia ini yang siap menghadapi risiko ini bersamaku, maka bagiku cukup Allah dan Rasul-Nya saja yang menjagaku. Cukup Allah dan Rasul-Nya saja yang mengobarkan api jihad ini di hatiku. Biarlah Allah membeli diri dan hartaku dengan surga. Insya Allah, Allah telah menyediakan 60 bidadari di surga. Allahu Akbar…!!!

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Jangan Patah Hati Sobat!

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 25, 2008

Bidadariku, kali ini aku menulis untuk seorang sobat dekatku. Semoga Allah memberinya kesabaran yang melimpah ruah. Bidadadariku, cerita ini berawal dari sebuah SMS yang aku terima kemarin, Kamis, 24 Juli 2008, pukul 18.16, tepat esaat sebelum kakiku melangkah ke As Sa’adah.

“Allahu Akbar!

Jelang pulang kantor ada email masuk!

Akhwat yg sedang berproses denganku memutuskan mundur dr proses ta’aruf tanpa alasan yg jelas.

Ini ta’aruf ke-4ku!

Tertolak lagi

Hayo Wip ke Rinjani saja”

Teruntuk sobatku, SMS yang kamu kirimkan kemarin adalah cerminan Bilal bin Rabah era perjuangan milenium keislaman. Aku akan membagi kisahnya agar kamu dan aku bisa mengambil hikmah perjuangan dan kesabarannya.

Kamu tentu tahu sobatku, bahwa Bilal bin Rabah adalah seorang budak hitam. Namun status sosial dan warna kulitnya tidak menghalangi kemantapan hati untuk menjadi As Sabiqunal Awwalun. Suatu saat Bilal menjatuhkan pilihan hatinya kepada seorang gadis bernama Hind. Bilal tidak menunggu lama untuk melamar gadis impiannya. Keluarga Hind yang tidak mengetahui siapa Bilal lantas melayangkan pertanyaan, “Siapakan Anda? Apa maksud kedatangan Anda?”.

Sobatku, tahukah kamu bagaimana jawaban Bilal? Merinding aku membaca kisahnya, Sobat. Dengan rendah hati Bilal menjawab,”Aku Bilal bin Rabah. Seorang sahabat Rasulullah. Dulu aku orang yang sesat, tetapi Allah telah menuntunku. Dahulu aku seorang budak dari Habasyah, tetapi Allah telah membebaskanku. Kedatanganku kemari ingin melamar seorang gadis berama Hind.” Bilal lantas melanjutkan perkataannya,”Jika lamaranku diterima aku akan katakan Alhamdulillah, tetapi jika lamaranku ditolak, aku akan mengatakan ALLAHU AKBAR!”.

Dan rupanya semangat itu telah menyusup dalam lubuk hati dan aliran darahmu, wahai Sobatku. Kamu telah dengan lantang meneriakkan pekikan jihad, ALLAHU AKBAR! Maka aku ucapkan selamat bagimu karena terbebas dari belenggu nafsu. Aku yakin kamu sepakat dengan itu. Bukan nafsu, tapi perasaan yang wajar dan lumrah bagi manusia. Tentu kau ingat pelajaran yang disampaikan Ali bin Abi Thalib:

jika mencintai seseorang, mencintailah wajar-wajar saja,

sebab kau tak tahu kapan kau balik membencinya,

jika membenci seseorang, membencilah wajar-wajar saja,

sebab kau tak tahu kapan balik membencinya.

Sobatku, merapatlah, aku akan membisikkan sesuatu untukmu. Lirih saja, biar hatiku juga mendengarnya. Sobatku, adalah lumrah dan wajar jika di dalam hatimu tumbuh rasa cinta terhadap gadis yang kamu sangka akan menjadi pasangan perjalananmu. Namun sabarlah wahai Sobatku, jangan terburu-buru. Bisa jadi lamaranmu ditolak gadis itu atau orang tuanya. Tapi yang lebih penting lagi, jangan patah hati bila itu terjadi. Patah hati hanya akan menjerembabkanmu ke dalam jurang keterpurukan. Patah hati tidak memberikan solusi. Patah hati hanya akan mengotori hati.

Sobatku, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu. Lepaskan bebanmu sejenak. Serahkan kepada Rabb Sang Penguasa Kehidupan. Biarkan semesta menunjukkanmu calon bidadari yang menyejukkan hatimu. Dan bersiaplah untuk menjemputnya. Siapkan dirimu untuk menerima kehadirannya. Tak perlu bersusah payah mengejarnya dengan segala daya. Cukup memperbaiki diri yang ada. Lantas biarkan akhwat yang telah menolak lamaranmu hanya memiliki dua pilihan. Pertama, ia menyesal telah menolakmu dan kembali mempertimbangkan untuk menerimamu sebagai pendamping hidupnya. Atau kedua, biarkan dia cemburu karena ada bidadari yang lebih baik telah beruntung memilihmu dengan segala kebaikanmu.

Sobatku, ingat kembali kisah Bilal bin Rabah yang menunggu jawaban dari keluarga Hind. Keluarga Hind menunda memberikan jawaban atas lamaran Bilal. Keluarga Hind mencari infomasi mengenai Bilal kepada Rasulullah. Dan kuncup-kuncup bunga cinta mulai tumbuh ketika Rasulullah memberikan gambaran secara gamblang,”Siapa kalian yang ingin menanyakan kepribadian Bilal? Mengapa kamu memandang rendah kepada seorang bekas budak berkulit hitam legam, padahal Allah menyebutnya sebagai ahli surga?”. Sobatku, kuncup-kuncup cinta itu semakin merekah menyambut Bilal dan Hind menikah. Pernikahan yang bahagia dan keduanya saling mencinta.

Sobatku, biarkan kelebihan diri membumbung tinggi. Tak perlu kau ungkapkan itu. Biarkan saja semesta yang menunjukkannya kepada calon bidadarimu. Cukup mempersiapkan dan memperbaiki diri. Seperti kebaikan Bilal yang dia sendiri tidak mengungkapkan, tapi Rasulullah yang memberi keluarga Hind penjelasan. Seperti ajakanmu mendaki Rinjani. Biarkan rinjani itu tetap tinggi. Dan kita yang mempersiapkan menggapai ketinggiannya. Karena sejatinya bukan Rinjani yang kita taklukkan, tapi diri kita. It is not the mountain we conquer, but ourselves (Sir Edmund Hillary, the first people who reached top of Everest in 1953)

(Lebaran hikmah menemaniku menulis, Untukmu yang akan dan telah menikah [Syaikh Fuad Shalih], Bilal bin Rabah sahabat terkemuka Rasullah [M. Abdul-Rauf], Jejak Sang Petualang [Harry Wijaya dan Christian Wijaya]. Semoga Allah melimpahkan berkah untuk mereka)

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 10 Komentar »

menunggu

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 23, 2008

kemarin aku ngenet menunggu kabar gembira

hari ini aku ngenet menunggu kabar gembira

tapi belum datang jua

tentu lah sabar yang menjadi solusinya

tentu semua terasa bahagia

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »

Sms dari orang tak dikenal

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 15, 2008

Bidadariku, semalam aku mendapatkan sms dari orang yang tak dikenal. Tadi malam aku baru saja selesai membantu beberapa pekerjaan Bapak. Tiba-tiba pada pukul 22:50 HPku berbunyi, ada sms dari nomor +6285731596628. Nomor itu tidak dikenal phone book-ku. Apakah kau tahu ini nomor siapa bidadariku? Bunyi sms-nya seperti ini:

“Mgkn aq slama ini salah menilai, apa pentingnya pernikahan bg laki2 yg bgtu ambisi dg karir krn keegoannya”

Aku agak bingung dengan maksud sms itu. Tanda tanya besar tergambar dalam benakku. Apa maksud pengirim sms itu? Siapakah dia? Lantas aku balas sms itu dengan menanyakan identitasnya dan memberikan penjelasan singkat bahwa menikah untuk mendapatkan separuh agama itu jauh lebih berharga dibandingkan apa yang dia sms-kan.

Beberapa menit berselang, tepat pukul 23:00,pengirim sms misterius itu kembali memberiku pesan singkat.

“itu klu km.tp ktk ambisi karir mjd prioritas,mnkh adlh plengkap sj mgkn bs jd hny renc tnp tau kpn tlaksana.aq lelah,aq hmpir tdk memiliki kata2 lg.”

Membaca sms itu, aku mengira bahwa pengirimnya laki-laki. Dan mungkin ia tidak sependapat denganku. Tak masalah bagitu ia berbeda pendapat. Toh itu adalah pilihannya. Tapi kewajibanku adalah mengingatkan. Itu saja. Dengan harapan dia seorang muslim, aku lantas membalas sms padanya dengan memberi saran agar percaya kepada Muhammad, bahwa kebutuhan laki-laki itu sebenarnya hanya tiga, yaitu: kendaraan yang bisa dibawa kemana saja, rumah yang lapang, dan istri yang shalihah. Aku juga masih menanyakan identitasnya dan menutup sms dengan saran untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sembilan menit kemudian ia mengirim sms padaku.

“itu teori yg mengapung bgny. Tdk slamany laki2 angkuh itu kuat,bs jd sbnarny itu adlh cara traman utk mnyembunyikn kerapuhany,hny laki2 pengecut yg tdk brani mengambil kptsan”

Bidadariku, terus terang aku agak geram saat itu. Aku merasa ada nuansa penghinaan kepada Muhammad. Bahwa teori Muhammad itu hanyalah teori yang mengapung padahal menurutku apa yang disampaikan Muhammad adalah tuntunan agung. Dengan merasakan ganjalan di hati, aku membalas sms itu dengan memberinya beberapa pertanyaan. Lantas apa dasar dia mengambil keputusan? Teori agung Muhammad yang menurutnya mengapung, ataukah keangkuhannya? Siapa pula yang pengecut? Padahal dia menyebut nama saja tidak berani.

Lama dia tidak menjawab pertanyaan di sms-ku. Aku membiarkannya saja sembari menonton J-TV, televisi lokal Jawa Timur yang saat itu sedang menayangkan kampanye para calon gubernur Jawa Timur. Hingga aku tak sadar mataku menutup tak tahan kantuk. Tiba-tiba Hpku berbunyi kembali tepat tiga menit sebelum ganti hari. Ada sms dari si misterius.

“Kptsn apa?rasanya satu2ny kptsn bodohku adlh mntup telinga ktk ada yg mberi saran atas taarufku”

Aku tak membalasnya. Mataku sudah tak tahan untuk diistirahatkan. Namun terbersit kecurigaan bahwa si misterius ini kemungkinan adalah perempuan. Siapakah dia? Aku lebih memilih tidur daripada mencari jawabannya. Pikirku, besuk pagi saja aku telepon dia.

Pagi ini masih tersas dingin seperti hari-hari kemarin. Rutinitas ibadah telah membawa ketenangan hatiku. Teringat aku dengan sms semalam. Dan aku coba menelepon si misterius dengan nomor lain. Agak lama si misterius itu mengangkat HP-nya. Hingga terdengar suara yang tidak jelas dengan nuansa agak bermalas-malas memulai pembicaraan. Benar kecurigaanku. Ternyata dia perempuan. Mungkin ia baru bangun tidur. Suaranya masih serak, tak jelas aku mendengarnya. Aku pun berkali-kali melayangkan pertanyaan padanya. Kira-kira separuh nyawanya belum menyatu. Ia tidak bisa menangkap sepenuhnya pertanyaanku. Tak lama durasi telepon itu. Rupanya ia tersadar bahwa yang meneleponnya adalah orang yang dia sms semalam. Tuuutt…..telepon pun ditutup. Dasar misterius. Lantas aku sms dia

“Asw.Maaf mbak,km siapa?Aq akan brtrimakasih bgt klo mbak brknan mjelaskn mksd sms k aq smalam”

Tak lama kemudia ia membalas sms-ku:

“Tdk penting,yg penting aq sdh blg ke kamu,sdh cukup,tdk perlu telf aku”

Semakin tidak jelas arah komunikasinya. Sekali lagi aku sms. Jika hasilnya tidak positif, sudah tak ada yang perlu dilanjutkan. Lebih banyak kesia-siaannya.

“Maaf aq kira kamu semalam laki2.tnyt prmpuan ya.aq ga ngerti maksud & alasan sms km smlm.klo ga mau ditelp, tlg dijelaskan walau dg sms.trims”

Benar. Bukan balasan positif yang aku dapatkan. Sepotong pengakuan dari sms-nya yang aku masih tidak bisa mengerti apa maksudnya.

“Tdk ada yg perlu djlaskn,smua sdh jelas.

Dl aq tdk pnh bpndpat bgt kpd laki2,tp tnyt msh ada laki2 yg spt itu.

Trmksh sdah mjd tmanku bbagi.hny Allah yg bs mblasnya.”

Bidadariku, apakah kamu tahu apa maksud pengirim sms itu? Apakah itu peringatan bagiku yang tidak segera mengambil keputusan? Padahal menurutku aku sudah mengambil keputusan. Aku hanya butuh jawaban siapakah dan dimanakah kamu wahai bidadariku. Ah, semoga perjalanan kembali ke kampus selama lebih dari 15 jam nanti aku tidak menjumpai hal-hal yang misterius seperti ini.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Menjelang Maghrib bersama Mbok Yah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 15, 2008

Bidadariku, kali ini aku akan menceritakan sesuatu untukmu.

Memang dari dulu tak banyak yang berubah dengan rumah Mboh Yah. Seperti sore kemarin pun pohon-pohon turi yang baru memproduksi sedikit bunga nampak riang menyambut petang. Udara dingin mulai mencubit genit kulit keriput Mbok Yah sebagai ungkapan kegembiraan bahwa mentari sebentar lagi meninggalkan siang. Sepiring umbi rebus menemani perbincangan kami. Aku tak tahu jenis umbi apa itu. Kata Mbok Yah itu umbi katak. Umbi empuk itu begitu lembut di mulut. Tak perlu susah-susah menguyah. Diamkan saja beberapa detik didalam mulut, maka sejurus kemudian kepyar butiran tepungnya yang terasa sedikit manis karena saripatinya mengendap menjadi glukosa.

Begini lah di desa. Tanahnya begitu subur. Tak ribut dengan kampanye anti global warming. Karena disini tanaman menjadi sumber makanan dan pepohonan menjadi bahan papan. Setelah tanaman diambil umbi, buah, atau batangnya sebagai bahan makanan, tanaman itu ditancapkan lagi dan tumbuh berkembang untuk menghasilkan bahan makanan lagi. Maka tak susah mendapatkan berbagai macam tanaman yang bisa dimakan di desa. Benar kata Koes Plus, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Begitu pula dengan pepohonannya. Walau tidak selebat dahulu, tapi menanam pohon kembali sudah menjadi tradisi. Tapi memang tidak dapat dipungkiri, beberapa oknum pencuri kayu hutan yang bekerja seperti kelelawar sering luput dari perhatian. Begini lah desa. Aku suka suasananya.

Aku masih menikmati butiran tepung umbi bercampur beberapa molekul glukosa di dalamnya. Aku dan Mbok Yah larut dalam obrolan dalam bahasa Jawa. “Le, Wan, kamu apa belum berminat punya gendhongan seperti Paklik-mu Yanto itu?”. Tiba-tiba Mbok Yah membuka topik pembicaraan baru.

“Ya pengen lah Mbok”

“Lantas pilihanmu yang seperti apa?”

“Ga ribet kok Mbok, yang penting paham agama”

“Jangan lupa diperhatikan bibit, bobot, bebet-nya yo le”

“Kalo itu bukan tugasku Mbok. Ada orang lain yang menilai ketiga hal itu”

“Lho kok malah dipasrahkan sama orang lain. Ga khawatir salah pilih?”

“Ya enggak lah Mbok. Kan dilihat dulu siapa yang memberikan pilihan. Kalau aku sudah yakin dengan keshalihan atau keshalihahan orang yang memberikan pilihan itu, ya aku percaya.”

“Ya itu kalau keseharian di rumah lho Le. Kalau perempuan itu ada di tempat lain, bagaimana kamu bisa tahu pergaulannya?”

“Ya aku lihat teman-temannya Mbok. Kalau teman-temannya mayoritas baik-baik, insya Allah perempuan itu juga baik”

“He, yo wis kalau begitu. Yang Mbok kuatirkan itu kamu grusa-grusu mencari pasangan. Jangan lupa rembugan sama orang tua yo Le. Kalau Mbok-mu ini sudah ga bisa lagi mencarikan pasangan yang pantas buatmu. Mbok hanya bisa berpesan, sing sabar lan sing longgar. Bersabarlah dalam menjalani usaha mencari pasangan hidupmu. Dan longgarno (lapangkan) hatimu dalam menghadapi perbedaan dan masalah. Semuanya bisa diselesaikan dengan musyawarah kok Le”

Begitulah pesan Mbok Yah. Mbok Yah memang bukan orang tua yang berpendidikan formal. Tapi umurlah yang menjadikan Mbok Yah matang. Pengalaman hidupnya adalah sari pati perjuangan.

Bidadariku, jika kita sudah bertemu nanti, aku ingin mengajakmu ke rumah Mboh Yah. Melihat kesederhanaan dan keindahan berbagi walau hanya beberapa butir padi.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »

Pernikahan Sahabatku Revany Febrianto

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 12, 2008

Bidadariku, setelah aku pulang dari kuburan Mbah Sarji kemarin, aku bersama ibu dan bapak menghadiri walimah Revany Febrianto. Dia adalah sobat karibku semasa SMA. Kebetulan pula ayahnya adalah teman dekat bapakku. Dalam perjalanan menuju tempat walimah, kami menghampiri keluarga lain yang akan menghadiri acara itu pula. Hingga akhirnya mesin kotak bapakku terisi tujuh orang. Bu Nurul Badriyah, Pak Rohmat dan istrinya, Bu Sukartini, ibuku, bapakku, dan aku sendiri.

Disepanjang jalan tak henti-hentinya orang-orang tua itu bercanda. Dan sebagian besar topiknya adalah menyerang keberanianku. “Wan, setelah Revany menikah denger-denger terus kamu. Kapan, Le?”, Bu Rohmat melempar bahan pembicaraan. “InsyaAllah tahun ini Bu”, begitu aku jawab sambil melirik ekspresi bapak yang hanya tersenyum. “Lha calonnya orang mana, Wan?”, Bu Sukartini menimpali. “Rahasia”, enteng saja aku menjawabnya. “Halah Wan, sama mboke dhewe aja kok pakai rahasia-rahasia segala”, Bu Sukartini agak kecewa. “Ya begitu itu lho Bu anak model baru. Pengennya ngasih kejutan. Sama seperti mbaknya. Si Lia (putri bu Nurul) itu juga begitu. Tahu-tahu bilang ada yang ingin kenalan. Tak lama kemudian lamaran”, begitu bu Nurul berkomentar. Memang antara keluargaku dan keluarga Pak Eddy Yusuf (alm) suami bu Nurul Badriyah itu sudah seperti tahu sama tempe. Sama-sama terbuat dari kedelai. Alias tak jauh beda.

Sesampainya di walimah Revany, aku disambut Renu. Adik kandung Revany itu nampak kaget melihat kedatanganku. “Lho, kok kebetulan pulang mas?”. Tentu dalam rangka menghadiri walimah sobat karibku itu aku pulang kampung. Hm…sekalian menyusun agenda bersama orang tua. Ketika naik ke pelaminan, kaget pula ayah dan ibunya Revany. “Biyuh…biyuh…Mas Wirawan to ini tadi. Hayo mas sekarang tinggal nunggu undangan mas Wirawan. Sudah ada calonnya belum?”, seloroh ibunya Revany samil menampar-nampar sayang pipiku. Aku hanya membalas dengan senyuman. “Hiiiihhh…ini bocah tetep aja dari dulu. Sama ibu’e dhewe pakai rahasia-rahasiaan segala”, gemes ibunya Revany melihat ekspresiku hingga tangannya tak tahan nguyek kepalaku. Hingga didepan Revany, “Wis saiki giliranmu!”, dalam pelukannya ia tak banyak membisikkan kata. Aku balas dengan mulut menganga. Dia pu geleng-geleng kepala.

Tak lama kami berada di walimah itu. Setelah menikmati hidangan, rombongan kami segera meninggalkan tempat. Di sepanjang jalan masih saja aku dijadikan bahan ejekan. Yang pemalu lah. Cowok cemen ga pemberani lah. Hingga masih dibilang mbok-mboken. Ah, biarlah apa mereka kata. Yang penting berjalan dan berdoa. Nanti semesta juga akan membantuku. Dan Allah pun menganugerahkan aku bidadari yang sholihah untukku.

Bidadariku, siapa bilang aku tidak ingin segera menikah denganmu!

Bidadariku, aku hanya butuh jawaban siapakah dan dimanakah kamu.

Bidadariku, benar kata Revany, ini giliranku. Aku akan menjemputmu.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 3 Komentar »

13 Juli 2008 Harapan Dini hariku untuk Bidadariku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 12, 2008

Tahukah kau tengah malam ini aku menyebut-nyebutmu bidadariku? Terbangun dalam kegelisahan. Menunggumu dalam kecemasan. Beruntung keresahan ini tak terbaca oleh adikku yang sedang tidur pulas disampingku. Aku sekarang ada dirumah, bidadariku. Di rumah orang tuaku yang semuanya mengakui bahwa yang paling cantik di rumah adalah ibuku. Mungkin perempuan seperti ibuku mampu merasakan bagaimana kecemasan, harapan dan gundah menyerangku.

Dua hari yang lalu ketika aku sampai di rumah, malam harinya semua anggota keluarga makan malam di luar. Rupanya ibuku sudah mempersiapkan acara itu, bidadariku. “Nanti mampir toko baju dulu”. Begitu ibuku berkata. Aku mengira kedua adikku yang sebentar lagi mulai menyelesaikan liburan sekolahnya akan dibelikan baju seragam. Namun bukan itu maksud ibuku, bidadariku. “Bagaimana bidadarimu akan menghampirimu jika penampilanmu tetap seperti ini!ibu akan membelikan baju untukmu. Biar kamu tidak asal-asalan berpenampilan”. Luluh lantak hati ini, bidadariku. Aku mengaku tak bisa memilih pakaian yang cocok, bahkan untuk diriku sendiri. Asal menutup aurat. Itu saja yang selama ini dalam benakku. Beruntung aku punya ibu yang pandai memilihkanku pakaian. Dan memang selama ini adalah ibuku yang memilihkanku baju.

Nyaris aku tak pernah membeli baju. Beberapa waktu yang lalu ketika ibuku bertanya masalah baju, aku bisa menjawabnya karena aku diberi hadiah baju oleh adik kelasku. Ucapan terima kasih katanya. Mungkin adik kelasku itu juga prihatin bagaimana aku berpenampilan memprihatinkan. Baju itu-itu saja yang aku pakai. Juga pada saat aku mendapatkan hadiah dari teman-temanku setahun yang lalu. Ucapan terima kasih juga kata mereka. Dan mereka sangat terharu ketika aku ceritakan bahwa sehari sebelum mereka datang membawa hadiah aku mendapatkan musibah. Beberapa bajuku diambil orang tanpa ijin. Mungkin orang itu sudah sangat membutuhkan sehingga hanya terpikir pilihan itu.

Pagi kemarin aku hendak memakai baju baru pemberian ibu untuk takziyah. Mbah Sarji tetanggaku dipanggil Allah. Tapi ibu melarang memakai baju baru itu. “Memangnya kamu hanya akan diam dan duduk-duduk saja sambil ngobrol tak jelas di tempat jenazah? Mbah Sarji itu orang miskin, Le. Nanti kamu pasti akan banyak bergerak. Kasihan bajumu kena keringat dan kotor. Pakai kaus ini saja”. Tak banyak bicara aku iyakan saja apa kata ibu. Dan benar keadaannya, bidadariku. Hanya segelintir orang yang takziyah ke rumah Mbah Sarji. Tepat pula apa kata ibuku,sebagian besar mereka hanya duduk-duduk dan ngobrol tak jelas apa yang dibicarakan.

Benar pula apa kata ibuku. Di pagi hari saat mentari sedang semangat menunjukkan kedigdayaannya itu aku bergumul dengan keringat dan debu. Hanya sedikit anak muda yang datang di rumah duka Mbah Sarji. Dan lebih parahnya lagi yang membawa keranda ke kuburan hanya delapan orang. Yang mengantar jenazah Mbah Sarji jauh lebih sedikit dibandingkan semua pelayat yang tak lebih dari lima puluh orang. Di depan keranda adikku mulai resah dengan nisan yang dipanggulnya. Maklum jarak antara rumah Mbah Sarji dengan kuburan menuntut jalan kaki kurang lebih tiga kilo meter. Dan aku masih setia dengan pikulan keranda sebelah kiri belakang bergantian dengan seorang familiku. Tak lebih dari lima belas orang yang mengantarkan jenazah hingga kuburan. Aku heran pada pelayat (atau penduduk yang tidak melayat) yang lain. Apakah mereka tidak menyadari ada pahala sebesar Gunung Uhud disetiap aktivitas mengurusi jenazah?

Belum selesai keherananku dengan pembawa keranda, di kuburan aku dihadapkan pula pada adat kejahiliyahan. Pak Modin men-talkin (istilah dari Bapakku) jenazah yang dikuburkan. Kira-kira perkataan talkin Pak Modin kepada jenazah seperti ini, “Mbah Sarji sebentar lagi mbah akan didatangi malaikat Munkar dan Nakir. Nanti kedua malaikat itu akan menanyakan beberapa hal kepada Mbah Sarji. Jika ditanya siapa Tuhanmu, jawablah Allah. Jika ditanya siapa Rasulmu, jawablah Muhammad SAW. Jika ditanya apa kitabmu, Jawablah AlQur’an. Jika ditanya apa kiblatmu, jawablah ka’bah”. Ketika Pak Modin ‘berkomunikasi’ dengan jenazah Mbah Sarji itu, aku melempar senyum kepada adikku yang jongkok di samping Pak Modin. Hingga dia berbisik, “Kok malah ketawa kenapa mas?”. Enteng saja aku balas,”Orang mati kok diajak ngomong!”. Dia lantas pindah tempat ke belakang sambil menutupi mulutnya menahan tawa.

Begitulah model kejahiliyahan di jaman modern, Bidadariku. Aku harap setelah kau menjadi bagian dari keluargaku, kau pun akan menjadi bagian dari misi dakwah kita. Apapun risikonya. Walaupun itu pahit seperti yang pernah kami rasakan pada saat nenekku meninggal dulu. Kami tak ingin mengotori akidah yang murni ini dengan bid’ah, churafat dan takhayul. Dan keluargaku yang berusaha menunjukkan bagaimana mengurus jenazah sesuai dengan syari’at. Dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan. Tanpa embel-embel menyembelih ternak. Tanpa tambahan adzan dan iqomat di liang lahat. Tanpa talkin-talkinan. Dan reaksi negatif pun mengalir deras. “Keluarga yang aneh karena tidak ikut adat”. Kami pun membiarkan apa kata mereka yang tidak tahu. Justru seperti itulah kami mendakwahkan bagaimana mengurus jenazah yang benar. Sekali-lagi bidadariku, aku berharap kau akan menjadi bagian dari amunisi dakwah kami.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 2 Komentar »

Kafa’ah…kafa’ah…kafa’ah

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 8, 2008

Ya Rabbi, betapa tubuh ini menggigil karena malu. Malu melihat kerendahan diriku. Malam itu tak nyenyak tidurku. Tubuhku lunglai, mataku terpejam, namun pikirku melayang. Adalah kafa’ah yang menumpuk di benakku. Malu aku ya Rabbi. Kubuka kembali halaman 177 buku Isyratun Nisaa’ minal alif ilal yaa’, kubaca kembali, dan maih tetap seperti yang aku baca dahulu kala. Kafa’ah…ya Allah…kafa’ah. Malu aku ya Allah…

Saat aku membaca halaman demi halaman buku itu, aku semakin malu ya Rabbi. Ialah pertimbangan kafa’ah dalam pernikahan, yaitu suami sebanding dengan wanita dalam hal kedudukannya, agamanya, nasabnya, rumahnya dan selainnya. Ya Allah…Engkau menguatkan dalam firman-Mu “wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah bua wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…AnNuur:26”. Beruntung aku bahwa kafa’ah itu bukan syarat sahnya pernikahan. Semoga beruntung pula aku tidak termasuk orang-orang musyrik sehingga berlaku syarat kafa’ah itu demi sahnya pernikahan. Namun setiap kali persoalan kerelaan wanita dan wali perihal kedudukan, nasab dan harta dipermasalahkan, aku tak berkutik dibuatnya. Malu aku ya Allah…

Lantas siapa diriku? Seorang laki-laki yang merasa jauh dari kesetaraan dengan bidadari itu. Seorang yang pengetahuan agamanya tak lebih dari setetes embun di tengah samudra. Seorang yang miskin dan papa yang berusaha untuk bisa berbagi dengan sesama manusia fakir lainnya. Seorang bekas penjaja makanan ringan untuk menyambung ilmunya. Seorang bodoh yang membanting hidupnya untuk menghapus kebodohannya. Seorang yang berlatar belakang penuh kejahiliyahan. Seorang yang hanya memiliki semangat, sabar dan doa. Malu aku ya Allah…

Maka kepada siapa lagi aku bertaubat selain kepada-Mu ya Allah. Taubatku atas segala dosa akibat kebodohanku, kejahilyahanku, kesombonganku, ketergelinciranku, dan dosa-dosa lainnya. Betapa aku berharap Engkau, ya Rabbi, menutupi kesalahan-kesalahanku dan memasukkanku ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Engkau, ya Allah, tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia. Ya Rabbi, sempurnakan bagiku cahayaku dan ampunilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Maka siapa lagi yang akan menutupi semua kesalahan-kesalahanku yang menggunung ini selain Engkau Ya Rabbi. Dengan sepenuh hati aku mohon masukkan aku kedalam golongan orang-orang yang beruntung. Dengan segenap jiwa aku mohon anugerahkan semangat untuk terus memperbaiki diri ini. Betapa menyesalnya aku jika Engkau masukkan aku ke dalam golongan orang yang tidak baik sehingga mendapatkan wanita yang tidak baik pula. Oleh karena itu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang baik.

Malu aku ya Allah…

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »

Doakan aku Bidadariku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 3, 2008

Rabb, dengan perantara syair pujangga ini, kutundukkan hatiku dihadapan kemuliaan wajah-Mu

“wahai yang mengeluh rindu karena lama tak bertemu

Bersabarlah, siapa tahu esok kau bertemu kekasihmu

Hampirilah dia dengan membawa api kerinduan

Agar memberi petunjuk untuk pertemuan yang menyenangkan”

Rabb, jadikan hari-hariku menjadi jalan mencari syahid sebagaimana sabda Rasul-Mu

“Suwaid bin Sa’id Al Hadatsny diberitahu Ali Mushir dari Abu Yahya Al Qabtat, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas RA, dari Nabi SAW:

Barang siapa jatuh cinta, lalu menyembunyikan cinta, menahan diri, bersabar, lalu meninggal dunia, maka ia mati syahid.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 12 Komentar »

Syarat menikah kok aktif di partai

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 2, 2008

Aku mendapat email dari seorang teman. Ia sudah beberapa kali berusaha merintis jalan menuju pernikahan. Namun hingga saat aku menulis selalu mengalami kegagalan. Padahal aku tak melihat kekurangan pada temanku itu. Seorang yang shalih, tinggi badannya, bagus postur tubuhnya dan berkecukupan rejekinya. Tapi memang jika dibanding David Beckham ketampanannya masih jauh, sejauh bola yang ditendang pemain Inggris itu. Atau jika disandingkan dengan kegantengan Keanu Reeves, selisih perbedannya seperti terpisah sepersekian detik dari pergerakan sentinel yang begitu cepat di Matrix. Namun setahuku, berdasarkan beberapa literatur yang aku baca, ketampanan wajah itu bukan hal utama. Ada substitusi atas kelemahan wajah.

Temanku menjelaskan beberapa alasan kegagalan proses ta’arufnya. Mayoritas penjelasan itu adalah tidak sekufu, atau lebih enaknya tidak balance (dalam bahasa akuntansi) persepsi sang ikhwan dan akhwat. Selanjutnya dipicu pula tidak adanya toleransi menyikapi perbedaan itu. Temanku bilang, ia dituntut banyak. Dan ia pun berusaha untuk memenuhi esensi tuntutan itu. Ketika ia membalikkan esensi tuntutan kepada sang akhwat, sang akhwat tidak bisa menjawabnya. Komunikasi terhenti sampai disini.

Sah-sah saja menurutku seorang akhwat menetapkan kriteria calon suaminya. Dan sebaliknya ikhwan bisa menetapkan kriteria calon istri. Tapi menurutku ada hal-hal yang tidak mutlak harus dipenuhi sepenuh-penuhnya. Pasti akan ada negosiasi atau adjustment atas kriteria-kriteria itu. Ya mungkin ini pendapatku sebagai orang yang belajar akuntansi dan audit. Pengaruh asumsi suatu keadaan bisa saja menjadikan perlakuan berbeda pada suatu transaksi atau kejadian ekonomi.

Yang aku tak habis pikir adalah salah satu kriteria yang ditetapkan seorang akhwat bagi temanku itu. Temanku harus aktif di salah satu partai. Aduh, rupanya euforia tidak hanya terjadi karena ada kometisi EURO 2008 atau Perebutan Piala Thomas dan Uber. Tapi juga terkait dengan politik praktis. Bukan aku tidak setuju dengan aktivitas partai atau kegiatan politik. Hanya aneh saja mendengar kriteria seperti itu. Nge-fans sama partai politik tertentu sih silakan saja. Tapi jika menjadikannya sebagai kriteria untuk calon suami, sungguh (kata bang Rhoma)…terlalu.

Mungkin persepsi sang akhwat adalah mengharapkan calon suami yang bermanfaat bagi umat. Jika memang seperti itu, aku sepakat. Namun, aku kira untuk bermanfaat bagi umat tidak sekedar melalui jalan partai politik. Masih banyak cara yang lain untuk menyalurkan nilai manfaat kita untuk umat. Aku sih tidak terpengaruh dengan usaha beberapa politikus yang mulai mencari nama dengan menunjukkan bahwa dirinya bermanfaat bagi umat. Baik itu melalui iklan, sok-sokan menjadi reporter televisi padahal ia tidak memahami profesi jurnalistik dan bidang yang diliputnya, atau pun memasang jargon-jargon dipinggir-pinggir jalan. Tak perlu bagiku terpengaruh dengan politik popularitas seperti itu.

Jangan hanya mengkritik, tapi berikan solusi. Boleh-boleh saja itu diteriakkan disamping telingaku keras-keras. Mungkin yang membaca tulisan ini juga ada yang kupingnya panas. Tak perlu bingung, naik saja kereta api jurusan Tanah Abang-Serpong. Jika ingin bicara statistik, hitung saja berapa orang yang klesotan mencari makan. Atau naik kereta api ekonomi Brantas, Matarmaja atau Bengawan. Jangan kaget jika tengah malam ada ibu-ibu tua yang menawarkan nasi pecel. Atau lihat bagaimana kondisi mahasiswa sekarang. Termasuk yang demo anti kenaikan BBM. Berlaku anarkis, merusak lingkungan, bahkan memamerkan pantatnya di depan kamera. Lantas dimana letak intelektualitas dan gerakan moralitas mahasiswa seperti itu. Atau kapan-kapan ikut aku menjaga ujian tengah atau akhir semester mahasiswa. Lihat bagaimana mereka berbuat curang, mulai dari cara klasik catatan kecil, contek kanan kiri hingga memanfaatkan teknologi. Lihat juga warung-warung di pinggir jalan yang sekarang mengalami penurunan omzet (baca: sepi pengunjung) karena harga gas naik. Alasan klasik pun diutarakan yaitu imbas kenaikan harga gas dunia, padahal mereka sudah berbondong-bondong mengikuti kebijakan konversi minyak tanah. Semoga permainan kebijakan itu bukan salah satu bentuk strategi kemunafikan. Atau butuh ladang yang lain? Lakukan saja sendiri, lihat saja yang paling dekat, jangan-jangan di depan pintu kamar tidur kita sudah ada yang menunggu manfaat yang bisa kita berikan.

Apakah kurang ladang menebar benih manfaat? Padahal kemiskinan semakin memprihatinkan. Kebodohan merajalela. Kemunafikan menjadi penyakit masyarakan yang semakin kronis untuk disembuhkan. Politik praktis saja tidak cukup peka mengatasinya. Itulah sebabnya mengapa aku heran ada syarat menikah kok pakai aktif di partai politik segala. Mana substansinya….

Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar »

28 Juni Dini Hari, Apa kabarmu Bidadariku?

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 1, 2008

Apa kabarmu bidadariku? Tengah malam ini aku tak bisa memejamkan mataku. Bukan karena pertandingan bola EURO 2008. Bukan pula dinginnya suhu Hargo Dalem di Puncak Gunung Lawu yang menusuk-nusuk tulangku. Tapi aku terjaga karena memikirkanmu. Apakah kau masih setia menungguku sebagaimana aku mengharapkan pertemuan kita yang penuh berkah?

Bidadariku, aku sedang berusaha mempersiapkan segalanya untuk pertemuan kita yang penuh berkah. Termasuk usaha untuk sekedar membeli seekor kambing untuk kita. Sebagaimana Rasulullah memberi contoh agar mengadakan walimah walau hanya dengan seekor kambing. Dan alhamdulillah aku bisa menyiapkan untuk keperluan itu. Tapi aku mohon maaf padamu bidadariku.

Bukan maksudku untuk mengesampingkan persiapan itu. Tapi aku memandang ada yang lebih penting. 1 Juli ini ibuku genap berusia 51 tahun. Aku merasa sangat penting untuk memberinya hadiah. Hadiah secantik dan sebaik mungkin untuk ibuku, walau tak seberapa nilainya dibanding kasih sayang yang beliau curahkan untukku. Engkau pasti sudah paham, bidadariku. Betapa Rasulullah mengajarkan untuk memuliakan ibu…ibu…ibu. Aku harap Engkau tidak bersilang pendapat untuk keputusanku ini.

Aku berharap Engkau turut berdoa, semoga sisa waktu yang semakin dekat dengan pertemuan kita yang penuh berkah itu, Allah akan memperlancar persiapan kita. Persiapan segalanya. Dan terima kasihku untukmu bidadariku, yang setia menungguku sebagaimana aku mengharapkan untuk segera menemukanmu.

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »

Lawu…I’m in Love, edelweis untuk Bidadariku

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 1, 2008

Bidadariku, hatiku gundah ketika hendak pulang kampung Kamis 19 Juni 2008 yang lalu. Banyak pikiran yang aku tinggalkan begitu saja di kamar kos nomor 5 Pondok Muslim. Masih banyak target bacaan yang belum dibaca. Masih kepikiran pula mimpi nomor 1, nomor 2, dan nomor 3 yang aku tempel di sterofoam. Juga keinginan mendaki Semeru yang tertunda karena saai ini Semeru berstatus siaga. Rencana pengalihan pendakian ke Arjuno-Welirang pun batal karena beberapa hari yang lalu aku “diistirahatkan” oleh Rabb Yang Maha Kuasa. Dan masih banyak pikiran-pikiran lain. Pulang kampung dengan gundah.

Bidadariku, kusempatkan mampir Posko STAPALA sebelum aku pulang kampung. Karena memang aku ada janji dengan Irwansyah Setya Negara aka Gatot797 untuk menyetorkan aplikasi Sistem Akuntansi STAPALA. Dan benar Bidadariku, hiburan itu datang ketika kulihat papan kegiatan STAPALA. Lawu…I’m in Love. Tertulis jelas akan dilaksanakan 20-22 Juni 2008. Segera kuhubungi Sigit Luhur Pambudi aka Asigeboy828 untuk koordinasi keberangkatan. Alhasil aku berangkat dari Trenggalek dan teman-teman STAPALA berangkat dari Jakarta.

Bidadariku, Sabtu 21 Juni 2008 itu aku awali hari dini sekali. Mungkin kamu sudah tahu apa alasannya. Benar bidadariku. Pertandingan bola Kroasia vs Turki. Yang sebagian besar pengamat berpendapat Kroasia mampu mengalahkan Turki. Tapi hasilnya Turki yang lolos ke Semi Final dengan mengalahkan Kroasia melalui adu pinalti. Bidadariku, ada keajaiban yang harus kita percaya. Seperti pemain Turki yang pantang menyerah hingga keajaiban itu datang. Ketika Klasnic, pemain Kroasia mencetak gol di menit-menit terakhir, Semih Senturk, pemain Turki dengan kepercayaan akan keajaiban ia berhasil membalas pada injury time. Kita pun seharusnya seperti mereka. Percaya akan keajaiban yang dianugerahkan Sang Rabb Al Izzati.

Selesainya pertandingan bola itu, kumulai memanjatkan doa. Untukmu bidadariku. Untuk kita. Juga untuk perjalanan ke Gunung Lawu. Hingga Shubuh pun memanggil dan membawa kakiku melangkah ke Darun Nadwah. Segar sekali udara pagi itu bidadariku. Semoga kita bisa menghirup kesegarannya bersama-sama nanti berdua. Apalagi ditambah diiringi dengan syahdunya Al Ma’tsurat yang terlantun dari bibirmu. Ah itu masih nanti bidadariku. Ketika perbekalan menuju Gunung Lawu sudah selesai aku siapakan, lantas aku sungkem pada Bapak dan Ibu. Memohon doa agar lancar dalam perjalanan, sampai puncak dan selamat sampai di rumah. Dalam hatiku pun berkata, doakan aku pula, bidadariku.

Bidadariku, di sepanjang jalan banyak orang menuju pasar melihatku dengan tas carrier yang lebih besar dari tubuhku menggelayut manja di punggungku. Dan mereka bertanya aku hendak kemana. Ketika aku menjawab hendak mendaki gunung Lawu, sebagian besar mereka berpesan, hati-hati di jalan karena di gunung Lawu banyak hal-hal mistis. Tapi tenang saja bidadariku, aku gigit erat akidah ini dengan gigi gerahamku. Tak akan ku biarkan saja akidahku tergadaikan di gunung Lawu. Dan aku semakin yakin bahwa dengan akidah ini pula Rabb-ku akan mempertemukanku denganmu, bidadariku.

Bidadariku, perjalanan dengan bus pun aku mulai menuju Ponorogo. Selanjutnya disambung menuju Madiun. Diperjalanan menuju Madiun aku bertemu seseorang. Tiba-tiba dia bertanya, “Mau kemana mas? Kok bawa carrier?”. Simpel saja aku jawab hendak ke Gunung Lawu. “Gunung Lawu itu banyak mistisnya lho mas. Memangnya mau ngapain mas ke gunung Lawu?”. Kemudian aku jelaskan bahwa hobby-ku yang mendorong mendaki Gunung Lawu. Lagi pula naik gunung itu nyedhake ati mring Gusti (mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi). Tentu dengan bahasa Jawa notok biar lebih bisa diterima orang itu. “Oh, begitu ya mas. Aku jadi inget waktu masih suka touring dan kebut-kebutan. Sebenarnya waktu ngebut itu hanya satu mas yang aku ingat. Mati. Dan ingatan itulah yang membawaku seolah begitu dekat dengan Sing Makarya Jagad (Sang Pencipta Alam). Tapi ya itu tadi, ingatnya hanya saat mau ngebut saja. Ya sekarang aku heran, mengapa dulu setelah menang balapan kembali minuman keras yang masuk ke mulutku ini. Tapi sekarang alhamdulillah sudah enggak lagi mas. Wah apalagi setelah ketemu sampeyan yang mau naik gunung ini. Bener kata sampeyan mas. Kalau sudah di hutan itu tak ada lagi ciptaan manusia. Adanya hanya ciptaan Sing Makarya Jagad. Matur nuwun (terima kasih) mas. Perjumpaan singkat ini sudah cukup mengingatkan aku untuk tidak macam-macam melawan titah Sing makarya Jagad”. Alhamdulillah, aku ga menyangka bidadariku. Ternyata perjumpaan singkat itu begitu berkesan.

Tak ada yang spesial dalam perjalanan Madiun-Magetan, bidadariku. Memang suasana lagi sepi. Jadi agak kasihan dengan awak bus yang aku naiki. Semoga nanti mereka mendapat penumpang yang banyak sehingga rejeki mereka bisa bermanfaat buat keluarga mereka. Sampai di terminal Magetan, aku harus naik angkot sayur. Duh bidadariku, lama sekali nunggunya. Sopir angkot itu benar-benar menunggu hingga angkotnya penuh. Di dalam angkot itu aku bertemu sebuah keluarga yang berlibur. Sepasang suami istri dengan seorang putra dan seorang putri yang seumuran SD dan satu anak lagi masih digendong ibunya. Indah sekali, bidadariku. Berlibur bersama sekeluarga. Semoga kita kelak bisa bahagia, sejahtera, sakinah, mawaddah wa rahmah, setidaknya seperti gambaran keluarga itu.

Di sepanjang jalan angkot itu sibuk menaik-turunkan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar menjual sayur. Bahkan begitu sabarnya, sopir angkot itu rela untuk menunggu calon penumpangnya padahal si penumpang masih membereskan peralatan dagangnya. Di dalam angkot itu mereka ngerumpi. Topiknya khas ibu-ibu baru pulang dari pasar. Apalagi kalau bukan seputar bumbu dapur. Mereka merasakan benar bagaimana segalanyanya menjadi mahal sekarang. Seru sekali rupanya pembicaraan mereka. Seru seperti perebutan kursi gubernur Jawa Timur. Ada lima pasangan calon, yaitu: Soenaryo-Ali Maschan, Soekarwo-Saiful, Khofifah-Mudjiono, Achmady-Ichsan, Sutjipto-Ridwan. Namun bagi ibu-ibu seperti mereka perebutan jabatan itu tidaklah sepenting asap dapur mereka biar terus mengepul. Mereka hanya butuh ketenangan bekerja dan kesejahteraan hidup, siapapun pemimpinnya.

Aku stag di Sarangan lebih dari 30 menit, bidadariku. Sarangan-Cemoro Sewu tak ada angkot. Akhirnya aku nebeng truk sayur. Jalan menuju Cemoro Sewu berliku-liku seperti cerita hidup sopir dan kenek truk sayur yang aku tumpangi itu. Kami bertiga ngobrol disepanjang perjalanan. Si kenek cerita bahwa dia juga pernah kuliah, tapi hanya bertahan selama tiga semester. Karena waktu kuliah dia tidak bisa disambi dengan aktivitas mengangkut sayuran. Begitu tertusuk hati ini, bidadariku. Di satu sisi aku bisa kuliah gratis selama empat tahun lebih dan bakal lima setengah tahun, di sisi lain ada yang tidak bisa kuliah karena tidak match antara jadual kuliah dengan jadual mencari biaya kuliahnya. Juga sopir truk yang bercerita banyak bagaimana ia selalu dikejar-kejar waktu dalam bekerja. Menjadi sopir truk sayur itu hidupnya di kejar waktu. Mereka harus tiba tepat waktu agar sayur yang akan dijual masih segar. Jika membawa mobil dengan lambat, mereka bakal jualan sampah. Bayangkan saja bagaimana dia menginjak kombinasi gas, rem, kopling dan memindah gear agar bisa melaju cepat selama berkeliling kota-kota tujuan pemasaran sayur. Dari Magetan menuju Surakarta, atau Madiun, Ponorogo, Ngawi, Pacitan, Kediri, hingga Blitar.

Akhirnya aku sampai di Cemoro Sewu, bidadariku. Tak lupa kuucapkan terima kasih kepada sopir truk sayur atas tumpangannya. Masjid Cemoro Sewu adalah tempat yang pertama aku tuju. Kuletakkan carrier dan segera ku ambil air wudhu untuk menunaikan dhuhur. Rupanya sudah satu shaf akhwat di masjid itu menungguku untuk menjadi imam shalat mereka. Setelah mereka membuka mukena, baru tahu aku bahwa mereka adalah pelajar-pelajar SMA yang baru mendaki gunung Lawu. “Wah sudah malas aku kalau disuruh naik gunung begini lagi”. Salah satu dari mereka berpendapat.

Aku masih menunggu teman-teman dari Jakarta tiba sambil makan nasi pecel dan wedang jahe. Rasanya nikmat sekali. Dan sehabis itu aku tertidur di pos pendakian Cemoro Sewu. Hingga tiba-tiba ada sosok berdehem-dehem di depanku. Ah rupanya Sigit baru datang. Dan disampingku membujur Bian yang mungkin sudah agak lama menemaniku tidur. Di Masjid Cemoro Sewu terlihat teman-teman yang lain Daris, Hilman, Nurhaeni, Slamet, Syani, Luat, dan Wisnu. Hanya Syani yang perempuan. Lainnya laki-laki tulen, tidak ada yang banci.

Bidadariku, kami bersepuluh memulai perjalanan pukul 15.30 setelah shalat asar. Beban berat di carrier-ku ditambah jalan menanjak cukup untuk membasahi pakaianku dengan keringat walau baru berjalan beberapa menit. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di Pos 1, Wesen-Wesen. Di Pos itu aku mengeluarkan kue Wajik yang dibawakan Mbok Yah. Hilman tertawa, “Pantesan pak lambat banget. Rupanya dibebani wajik tiga kilo ya. Sini dikurangi saja sambil menambah tenaga”. Hm…lumayan beban carrier-ku berkurang satu kilo.

Tak lama kami istirahat di Pos 1, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2. Jalan masih menanjak. Nafasku tersengal-sengal dan sesekali batuk. Tak terasa hidungku sudah mulai berair akibat udara dingin. Hingga akhirnya kami sampai di Pos 2, Watu Gedhek. Bidadariku, disana kami shalat Maghrib dan Isya. Astaghfirullah, keringat yang membasahi kaosku menjelma menjadi balok es yang menimpa punggungku saat aku rukuk. Sejurus pikiranku teringat sejarah. Masih beruntung terasa seperti balok es. Bibirku pun bergetar hebat saat membaca ayat-ayat Al Qur’an. Bibirku bergetar seperti hatiku bergetar setiap ayat-ayat Al Qur’an dilantunkan. Bidadariku, kau mungkin bisa membayangkan bagaimana jika kotoran yang ditimpakan seperti di punggung Rasulullah SAW. Bagaimana pula jika benar-benar batu besar yang ditimpakan seperti yang dialami Bilal bin Rabah.

Selesai shalat aku mengeluarkan berbagai penghangat. Mulai dari minyak kayu putih yang aku oleskan ke tubuh hingga koyo cabe yang tak terasa hangat walau sudah aku tempelkan di kedua kaki dan punggungku. Kaus tangan, balaclava, dan rain coat pun lengkap membungkus tubuhku. Dingin luar biasa. Setelah perlengkapan lengkap, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, Watu Gede. Medan semakin berat, bidadariku. Hingga di tengah jalan kaki kananku kram. Untung Ada Slamet. Ia meluruskan dan memijit-mijit kakiku. “Kita istirahat sejenak”, begitu kata Daris. “Nyantai aja pak jalannya”, Nurhaeni menambahkan. Bidadariku, rupanya aku, Slamet, Daris, dan Nurhaeni sudah terpisah jauh dari anggota yang lain. Bidadariku, dari kejadian itu kau bisa mengetahui betapa aku sangat tergantung pada orang lain. Wajar jika kau menganggapnya itu adalah kelemahan. Tapi jujur aku padamu, aku selalu berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain.

Setelah sabar dan ikhlas dengan kondisiku saat itu, akhirnya aku dan tiga temanku itu bergabung dengan enam orang anggota lain yang sudah lama menunggu di Watu Gede, Pos 3. Menuju Pos 4, kaki kiriku kram. Masih untung ada Slamet lagi. Malam itu aku benar-benar bersyukur banget karena ada Daris, Nurhaeni dan Slamet. Setelah istirahat sebentar untuk meluruskan kaki, kami melanjutkan perjalanan. Terasa lama sekali dan tidak menjumpai Pos 4. Aku menjadi ragu, jangan-jangan aku salah jalan. Menurut Nurhaeni, aku dan dia masih berada pada jalur pendakian. Saat itu Daris dan Slamet sudah tidak kelihatan dari pandanganku. Berkali-kali aku minta istirahat. Rupanya Nurhaeni kasihan melihatku. Kami berganti carrier. Daypack Nurhaeni terasa ringan sekali. Katanya hanya berisi sleeping bag saja. Dan dia pun bertanya,”Bawa apa aja mas, kok carrier-nya lumayan berat?” Aku memang membawa banyak makanan saat itu, lengkap dengan peralatan masak termasuk nesting dan kompor. Kata Nurhaeni sebenarnya aku tidak perlu membawa peralatan lengkap seperti itu, karena teman-teman sudah membawa peralatan dari kampus. Yang penting makanannya saja. Tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur dibawa.

Kami berjalan lebih santai hingga akhirnya kami melewati bangunan yang tinggal pondasinya. Aku mengira itu adalah Pos 4. Setelah melewati bangunan itu menyusuri jalan datar yang jarang jarang ditumbuhi pohon. Cahaya bulan begitu terang. Cahaya putih senterku kalah terang. Aku tak butuh senterku saat itu. Cukup cahaya bulan saja. Ada awan yang bergumpal-gumpal indah sekali. Seperti lautan kapuk. Jika pernah nonton Doraemon yang membekukan awan, atau film Peterpan yang bemain-main di atas awan. Sangat indah. Benar-benar takjub aku dibuatnya. Allah menunjukkan kuasanya menciptakan dan memperlihatkan bintang-bintang yang begitu banyak di langit Gunung Lawu. Hingga semakin yakin setan pun takut dengan kuasa Rabb-ku melihat begitu banyak bintang-bintang pelempar setan itu di langit.

Bidadariku, ditengah pemandangan indah itu, aku masih merasa belum menjumpai Pos 4. Aku tidak begitu yakin bahwa Pos 4 adalah bangunan pondasi tadi. Namun tak lama aku berjalan, Aku dan Nurhaeni bertemu dengan Bian dan Wisnu. Aku bertanya dimana Daris, Slamet dan teman-teman yang lain. Kata mereka, kami sudah ditunggu lama di Sendang Drajat. Berarti perjalananku dari Pos 3 tidak sadar melewati Pos 4 dan Pos 5. Menurut Bian dan Wisnu, Pos 5 adalah bangunan yang tinggal pondasinya tadi. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan kepuasan hati melihat pemandangan malam yang begitu indah. Hingga kami lengkap sepuluh orang bertemu di Sendang Drajat. Ditempat itu sudah banyak para pendaki lain yang nge-camp.

Tak lama setelah berbasa-basi dengan pendaki lain, kami segera menuju Hargo Dalem. Ditempat itu tinggal seorang perempuan yang akrab dipanggil Mbok Yem. Tepat pukul 22.00 kami sudah berada dalam istana batu Mbok Yem. Persiapan tidur pun dimulai. Kami makan makanan siap makan yang kami bawa. Benar-benar dingin malam itu. Jadi teringat data yang disajikan di pos pendakian Cemoro sewu, bahwa suhu di puncak mencapai 4-5 derajat Celcius. Tak banyak pembicaraan saat itu, kecuali dimana makanan, dimana sleeping bag, dimana akan mendirikan tenda. Semuanya bergerak dalam dingin. Hingga suasana menjadi senyap setelah tidur mengistirahatkan kami. Bidadariku, setiap jam aku terjaga. Dan tiap kali terjaga kuucapkan syukur bahwa aku masih diberi kesempatan hidup. Tidak mati dalam dingin hipotermia. Setidaknya harapan untuk bertemu denganmu dalam suasana penuh berkah itu masih bisa kurasakan.

Pagi hari kuawali dengan Sholat Shubuh berjama’ah dengan Syani. Setelah selesai menjalankan kewajiban aku keluar dari istana batu Mbok Yem. Dan sun rise pun menyambutku indah. Bidadariku, rasa lelah, kram, dingin dan rintangan yang ada sepanjang jalan kemarin seolah terbayar lunas dengan pemandangan pagi itu. Ahad pagi itu seolah Allah telah menuliskan “sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan” di langit timur Gunung Lawu. Hamparan emas menghiasi gumpalan awan. Lantas jauh di langit barat terlihat rembulan manis yang masih enggan untuk menyembunyikan diri dari langit. Bahkan ketika sang mentari dengan wajah bulat penuh menyapa kami rembulan itu ada seolah menyambutnya datang. Setelah puas mengambil gambar, kami menyiapkan makan pagi. Tentu sambil menikmati wajah emas mentari yang bulat tanpa cela seolah mengumbar senyumnya.

Setelah kenyang makan dan puas minum kopi, susu, dan wedang jahe kami menuju puncak Hargo Dumilah. Disepanjang jalur menuju puncak, kami dimanjakan dengan edelweis yang begitu manis. Ada yang berwarna putih, dan ada pula yang berwarna ungu. Indah sekali bidadariku. Dan setelah berjalan setengah jam kami menjumpai tugu kokoh berdiri bertuliskan “PUNCAK LAWU (HARGO DUMILAH) 3265 DPL”. Aku bersujud syukur di ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut itu. Lantas kuucapkan doa, doa yang kupanjatkan pula setiap hari. “Alhamdulillah ya Allah, Kau anugerahi aku IP minimal 3,7, agar aku bisa membuktikan kepada ibuku bahwa menikah itu tidak menghambat proses menuntut ilmu. Alhamdulillah ya Allah, Kau bukakan pintu rejeki lagi untukku, agar ibuku tahu bahwa justru dengan menikah kau akan membuat kaya dengan karunia-Mu. Alhamdulillah ya Allah kau mengijinkanku menikah tahun ini dan menganugerahiku istri yang sholihah, agar aku bisa menjaga pandangan, agar aku bisa menjaga kehormatan, agar aku bisa mengikuti sunnah Rasul yang Kau muliakan, agar aku bisa memenuhi agama yang Kau sempurnakan. Amin.” Bidadariku, dimanapun aku berdoa, aku yakin Allah akan memberikannya, karena Allah sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Dan aku pun berharap kaupun berdoa untuk pertemuan kita yang penuh berkah. Doa yang begitu indah, seindah kumpulan edelweis yang aku persembahkan ceritanya untukmu. Cukup ceritanya saja dan biarkan edelweis itu tetap tumbuh dan senantiasa berdzikir di tempatnya berada.

Setelah puas dengan pemandangan Puncak Hargo Dumilah, kami turun melalui jalur Cemoro Kandang. Beginilah naik gunung bidadariku. Jika kita sudah mencapai puncak, maka tidak ada jalan lain kecuali turun. Semoga aku, kau, orang yang membaca cerita ini, dan para pemimpin yang sudah terlalu lama berkuasa dapat mencerna esensi filosofisnya. Jalur turun melalui Cemoro Kandang memang lebih landai. Tapi itu justru makan waktu lama. Sehingga kami memotong jalur dengan melewati bekas aliran air. Ketika naik dengan mengerahkan segala tenaga, maka pada saat turun ini pun aku merasakan perjuangan berat.

Bidadariku, dalam perjalanan turun itu aku terlepas dari kelompok. Seingatku di depan ada Sigit, aku berusaha mengejarnya, tapi tak kuasa. Dia terlalu jauh. Akibatnya pula, aku terpisah dengan yang dibelakangku, Hilman, Syani dan Wisnu. Dan seperti ini mungkin kita hidup. Tidak bisa sendirian. Pasti membutuhkan orang lain. Seumpama domba yang terpisah dari kelompoknya maka ia sangat rawan diterkam serigala. Aku pun begitu. Tak bisa sendiri dan harus membebaskan diri dari kesendirian. Seperti Rabb-ku yang memberiku sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan, dan sepasang kaki namun hanya memberiku satu hati. Agar aku menemukan pasangan hatiku ditempat lain. Di hatimu bidadariku.

Hingga akhirnya aku beruntung ada sekelompok pendaki. Mereka sekelompok ikhwah muslim. Kita tidak bicara banyak. Suasana hening. Hanya beberapa kata saja yang terucap. Mereka nampak sangat kelelahan. Berkali-kali mereka beristirahat. Jika dilihat dari wajahnya mereka kelihatan lebih tua dari umurku. Aku tak memungkiri kaki ini juga lelah melangkah. Lantas kuistirahatkan mereka. Sampai aku melihat Hilman, Syani, dan Wisnu kembali. Kami pun berjalan kembali. Hingga kami merasa begitu lelah sampai Pos 1 Taman Sari Bawah. Di Pos itu ada sebuah warung bapak setengah baya. Ia menjual beberapa jenis kue dan minuman. Tiba-tiba dia bertanya, ”Hanya istirahat saja disini mas?”. Mendengar pertanyaan itu aku sungguh tak tega, bidadariku. Aku pesan minuman, juga untuk ketiga temanku. Dan menikmati kue yang disajikan. Rupanya bapak pemilik warung itu seharihari hidup di Pos itu. Dan warung kecilnya adalah alat mengais rejeki baginya. Aku kembali bersyukur, Allah telah memberiku pintu rejeki yang mungkin lebih mudah dibanding bapak pemilik warung di Pos Taman Sari Bawah itu.

Akhirnya aku sampai di Pos Pendakian Cemoro Kandang. Terlihat Daris menikmati sisa minuman karbonasi. Juga Bian yang sibuk mengais-ngais roti. Beberrapa teman lainnya tidak terlihat. Ada yang masih shalat Dhuhur dan Asar. Ada pula yang masih mandi. Kuistirahatkan semua tubuhku sejenak. Lantas kutegakkan kembali tiang agamaku sebelum aku meninggalkan Pos Pendakian Gunung Lawu. Sore itu begitu melelahkan. Namun sangat berkesan. Aku, Sigit, dan Bian berpisah dengan teman-teman lainnya. Kami hendak ke rumah Sigit di Ngawi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Sedangkan mereka sebagian besar akan kembali ke Jakarta. Aku, Sigit, dan Bian jalan mencari tumpangan ke Cemoro Sewu. Alhamdulillah dapat tumpangan pick up sampai Sarangan. Roda-roda pun silih berputar hingga sampai di rumah Sigit.

Bidadariku, malam harinya kami dijamu sayur bayam yang sangat lezat buatan ibunya Sigit. Padahal selama naik gunung kemarin aku seolah tidak bisa membedakan rasa makanan. Yang ada hanyalah makan untuk tetap hidup. Masalah rasa, nomor dua. Malam itu segar serat-serat daun bayam seperti membelai sepanjang jalur pencernaanku. Lezat sekali. Dan Senin paginya kami masih dimanjakan ibunya Sigit dengan nasi pecel. Luar biasa nikmat. “Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”. Pagi yang cerah itu menutup perjumpaanku dan Bian, dengan keluarga Sigit. Aku pulang ke Trenggalek. Sedangkan Bian ke Malang. Deg…!! Di terminal Madiun aku dikagetkan seseorang yang memanggilku masuk ke bus jurusan Ponorogo. Kondektur bus itu…adalah orang bertemu orang yang ngobrol denganku kemarin waktu di perjalanan Ponorogo-Madiun. Belum aku menyapa dia sudah berkata,“Wah, alhamdulillah ketemu lagi mas. Gimana pendakiannya? Bagus tenan to Gunung Lawu? Yo wis dinikmati aja perjalanannya. Aku mau ngejar setoran dulu.”

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »