Pembawacerita’s Weblog

“Bermanfaat bagi umat sepanjang hayat” semoga tulisan2 disini membantu mewujudkan visi itu

Arsip untuk Mei, 2008

Bidadariku, aku menjemputmu

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Mei 31, 2008

Sepulang dari As Sa’adah pagi ini, aku berniat untuk ke MBM setengah jam lagi. Namun tak dapat ku pungkiri betapa kantuk itu menyerangku begitu dahsyatnya. Kurebahkan diriku, kupasang headphone-ku, kunyalakan media player, dan sepersekian saat pun aku terlelap hingga tak sadar apa yang kudengar. Tiba-tiba aku terbangun dan angka di pojok kanan bawah monitorku menunjukkan 7:33. Artinya terlambat parah satu jam dan mungkin acara di MBM sudah selesai. Menyesal aku memasang headphone yang menutup telingaku hingga membawaku terlelap begitu dahsyat selama satu setengah jam.

Akhirnya aku raba-raba si touchpad, mencari-cari MP3 apa yang aku dengarkan pagi itu. Bodohnya lagi, aku masih belum sadar benar apa yang aku dengarkan. Ternyata sebuah nasyid. Nasyid yang lama tidak aku dengarkan. Aku putar ulang nasyid itu. Sekali aku dengarkan, terasa jantungku berdetak tak normal. Dan ku dengarkan lagi Epicentrum berdendang…

Bila yakin telah tiba teguh di dalam jiwa
Kesabaran menjadi bunga
Sementara waktu berlalu penantian tak berarti sia-sia
Saat perjalanan adalah pencarian diri

Ya seperti itulah yang aku rasakan saat ini. Aku menantikan suatu fase besar dalam hidupku. Aku adalah laki-laki yang tiga hari lagi memasuki gerbang dua puluh lima. Angka dua puluh lima yang selalu muncul dalam benakku. Dua puluh lima ketika Muhammad memasuki fase besar hidupnya. Dan itu yang aku harapkan. Memasuki fase besar seperti Muhammad. Aku menantikan fase itu, mempersiapkan diri untuk menghadapinya, dan yakin, benar-benar yakin, akan menghadapinya tahun ini. Getting married. Aku menuliskan dan menempelkan di sterofoam. Aku juga mensetting tulisan itu di wallpaper HPku. Aku tuliskan pula di diary STAPALA. Aku beri tahu teman-teman kosku. Aku juga memberi tahu beberapa teman di D4. Macam-macam tanggapan mereka. Ada yang mengamini. Ada pula yang tertawa. Ada yang balik bertanya, “Calonnya siapa mas?”. Tak ragu aku menjawab, “Kalau sekarang ya aku jawab belum ada la. Masa aku jawab belum ada dong. Fauzi aja Badila, bukan Badidong”. Dan tentu saja yang bertanya itu tertawa ngakak lantas nyeletuk. “Mas…mas, kamu tu aneh, wong belum ada calonnya kok mau nikah!”.

Laksana Zulaikha jalani hari, sabar menanti Yusuf sang tambatan hati
Di penantian mencari diri, memohonkan ampunan, dipertemukan

Aku memang tak setampan Yusuf. Hm…jadi ingat kata Agus Ringgo, Gue emang ga ganteng, tapi cowo ganteng deket gue, Minder!. Ya wajar jika tidak ada wanita secantik Zulaikha yang terpesona padaku. Tapi kalau diberi yang secantik Zulaikha masa menolaknya. Tapi bukan itu kebutuhan utamanya. Tentu aku masih ingat benar bahwa kebutuhan laki-laki itu sebenarnya hanya tiga, kendaraan yang bisa dibawa kemana-mana, rumah yang lapang, dan istri yang shalihah. Aku sudah punya salah satu diantaranya, yaitu kendaraan. Sebenarnya aku juga pengen beli rumah bulan depan. Tapi aku bingung, nanti kalau aku punya rumah bulan depan, masa hanya sendirian di rumah. Lagipula duitnya sekarang juga ga ada. Oleh karena itulah aku harus punya teman serumah dulu, yaitu pemenuhan kebutuhan ketiga. Istri yang shalihah. Itulah kriteria utamanya. Kalaupun nanti Allah menganugerahi aku istri yang lebih dari shalihah, tentu saja alhamdulillah. Misalnya ia juga cantik, ya alhamdulillah, setidaknya aku bisa berlama-lama melihat waah istriku yang cantik itu nantinya. Atau ia juga pintar, ya Alhamdulillah, setidaknya aku ga perlu fotokopi buku-buku tebal. Ga papa juga jika ia pintar masak, setidaknya aku ga mengulangi kebodohan menggoreng kacang sampai gosong yang hingga kini masih terpampang jelas di atas rak bukuku karena tak tega aku melihat lidahku meringis merasakan pahitnya. Yakin saja lah, pasti akan dipertemukan.

Segera kan ku jemput engkau bidadari
Bila tiba waktu ku temukan aku
Ya Illahi robbi, terus ku mencari diri sepenuh hati
Teguhkan lah ku dilangkah ini, di pencarian hakikat diri
Dan izinkan ku jemput bidadari
Tuk bersama menuju-Mu mengisi hari

Ya Allah…kepada siapa lagi aku memohon selain kepada-Mu. Engkau mematangkan kehidupan Muhammad mulai umur 25 tahun, maka aku memohon sepenuhnya pada-Mu, matangkan pula hidupku mulai tahun ini. Ya Allah…kepada siapa lagi aku meminta selain kepada-Mu. Aku tidak ingin mataku ini disiksa di neraka karena aku tak mampu menjaganya. Aku juga tidak ingin kehormatanku terjajah terhina tanpa terjaga hingga tak pantas bagiku dihadapan siapa saja, termasuk dihadapan-Mu. Aku juga tidak ingin hidup dibawah setengah agama-Mu. Entah apa jadinya aku jika memenuhi separuh agama saja tidak bisa, padahal Engkau menciptakan agama ini sempurna. Ya Tuhan…hanya pada-Mu lah aku memelas, pertemukan aku dengan bidadariku, agar aku bisa menjaga kehormatanku, agar aku bisa mengikuti sunnah Rasul-Mu, agar aku bisa menyempurnakan agamaku.

Ya Allah…sujud demi sujud, doa demi doa kulayangkan pada-Mu. Apakah Engkau akan membiarkan aku menghadap menuju-Mu sendiri? Aku yakin Engkau tidak akan membiarkan aku sendiri karena Engkau menciptakan manusia berpasang-pasangan. Ya Allah, tunjukkan aku jalan menuju kesempurnaan. Aku yakin Engkau tidak akan membiarkan aku meniti jalan yang Engkau murkai atau pun jalan yang sesat. Ya Allah, Engkau tentu melihat aku merasakan jalan yang penuh onak dan duri menghiasi titianku menjemput bidadariku. Maka jadikan aku menikmati jalan ini sebagaimana aku meniti tanjakan Ciremai. Ya Allah, mantapkan langkah ini, teguhkan hati ini, karena aku akan segera menjemput bidadari. Ya Rabbi, ampunilah aku karena meminta pada-Mu untuk menghantarkan bidadariku padaku entah bagaimanapun cara-Mu. Ya Rabbi, ridhoi aku menjemput bidadariku sebagaimana aku rela dengan Engkau sebagai Tuhanku.

Kini yakin telah tiba, teguh di dalam jiwa
Kesabaran adalah permata
Dan waktu berlalu, penantian tak berarti sia-sia
Saat perjalanan adalah pencarian diri

Tak pernah aku merasakan optimisme luar biasa seperti sekarang. Ujian kuliah sudah kulalui separuh jalan dengan keyakinan keberhasilan luar biasa. Kebahagiaan yang tak terputus atas rejeki dari Allah yang mengalir terus. Keyakinan tiada tara menerbangkanku menuju langit kesempurnaan. Bidadariku ada disana. Dan aku harus terbang menjemputnya. Bidadariku, aku tak akan membiarkan engkau sendiri menemuiku. Aku akan menjemputmu. Bidadariku, tak kubiarkan engkau merasakan hidup tanpa kesempurnaan. Aku akan mengisi kehidupanmu hingga kita bisa meraih kesempurnaan itu berdua. Bidadariku, yakinlah padaku sebagaimana engkau melihat aku yang begitu yakin bisa menjemputmu. Bidadariku, bersiaplah untuk mengisi relung hatiku sebagaimana aku bersiap mengisi relung hatimu.

Laksana Adam dan Hawa, turun ke bumi terpisah jarak waktu
Di penantian mencari diri, memohonkan ampunan, dipertemukan

Rabb, lagi-lagi aku memohon pada-Mu demi bidadariku. Rabb, lihatlah bidadariku sedang bersujud pada-Mu. Ia berdoa agar bisa menemukan aku. Apakah Engkau akan membiarkan begitu saja ia terbuai dalam sujudnya? Aku yakin Engkau Yang Maha Memberi akan mengabulkan permintaanya untuk bertemu denganku. Ya Rabb, lihatlah bidadariku menangis menumpahkan air mata kerinduannya padaku. Apakah Engkau akan membiarkan air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang lembut? Aku yakin Engkau akan mengalirkan air mata kebahagian padanya dengan mempertemukan kami berdua. Ya Rabb, lihatlah bidadariku bersedih menunggu kedatanganku. Apakah Engkau akan membiarkan kami terpisah jarak dan waktu? Aku yakin Engkau akan mengganti kesedihannya dengan kesenangan dan keberkahan ketika kami berdua Engkau pertemukan.

Bidadari telah menyentuh hati, teduhkan nurani,
Bidadari telah menyapa jiwa, memberikan makna

Bidadariku, lihatlah Allah sedang mengantarkanmu padaku, dan tunggulah, aku menjemputmu.

taxwipy@yahoo.com
also enjoy at http://wipy.blogs.friendster.com/my_blog/

Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 2 Komentar »

Tadinya mo dikasi Media Centre, tapi dah keburu naik cetak

Ditulis oleh pembawacerita di/pada Mei 19, 2008

MOMENTUM KEBANGKITAN BANGSA STAN

Oleh: Wirawan Purwa Yuwana[i]

Pendahuluan

Seratus tahun kebangkitan nasional diekspos besar-besaran di media massa. Semangat sejarah 1908-2008 itu disuntikkan di Istora Senayan kepada para pebulu tangkis Indonesia untuk meraih piala Thomas dan Uber walau akhirnya gagal diraih keduanya. Namun demikian perjuangan mereka patut diacungi jempol. Peringatan peristiwa yang dipicu lahirnya Boedi Oetomo itu pula yang digunakan para pejabat Negara untuk membangkitkan semangat rakyatnya untuk berkarya. Tokoh-tokoh bangsa banyak berbicara kepada konstituennya dengan semangat kebangkitan dalam benaknya. Beberapa kelompok pemuda juga memperingati kebangkitan nasional dengan berbagai cara, ada yang melakukan long-march, konvoi keliling daerah seperti yang dilakukan almarhum Sophan Sopiaan, ada pula yang menggelar diskusi demi menciptakan pikiran-pikiran kritis dan bermanfaat. Juga rakyat yang memanfaatkan momentum kebangkitan nasional dengan menolak kenaikan bahan bakar minyak. Hampir setiap elemen bangsa ini membakar kembali semangat yang disulut pemuda generasi 1908.

Lantas bagaimana kebangkitan bangsa STAN? Pertanyaan ini agak sulit dijawab. Hingga tengah bulan kebangkitan ini nyaris tidak ada dengung kebangkitan bangsa. Bahkan cenderung banyak permasalahan di dalam perguruan tinggi kedinasan paling terkenal senusantara ini. Dan agak ganjil karena seolah-olah tidak ada upaya untuk mengidentifikasi masalah serta membahasnya untuk mencari solusi yang sesuai. Yang ada justru saling menunggu ketidakpastian, menjanjikan mimpi bersyarat “jika ini jika itu”, atau bahkan tenggelam dalam dunia materialisme dan hedonisme.

Kampus ini seperti menjadi buta sejarah. Sejarah seolah-olah hanya menjadi masa lalu yang jauh dari konteks kekinian. Bahkan jika perlu sejarah dibuang ke tempat sampah. Padahal sebagaimana orang bijak katakan, jangan melupakan sejarah ketika hendak mengambil keputusan saat ini. Sebagai mahasiswa yang mempelajari akuntansi pun akan sangat paham bahwa peristiwa historis masa lalu, dalam hal ini peristiwa keuangan, akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan melalui sarana laporan keuangan.

Mahasiswa STAN

Banyak yang memprotes jika mahasiswa dulu dan sekarang dibanding-bandingkan dengan alasan kenyataan situasi dulu dan sekarang sangat berbeda. Tidak masalah memang berbeda pendapat seperti ini. Namun perlu diketahui bahwa akuntansi saja memiliki karakteristik kualitatif comparability, ekonomi juga menggunakan asumsi ceteris paribus. Oleh karena itulah hendaknya tidak perlu bersilang pendapat mengenai hal itu.

Beberapa teman satu angkatan dengan penulis pada saat menempuh Diploma III STAN berpendapat bahwa mahasiswa STAN dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Ketika seorang mahasiswa yang melintas di depannya dengan ransel terlihat berat, berjalan cepat dan menundukkan wajahnya ia berpendapat bahwa tipikal mahasiswa seperti itu yang membawanya bernostalgia dengan STAN masa lalu. Mahasiswa STAN yang dahulu begitu terlihat begitu berat memperjuangkan eksistensi hidupnya. Hingga yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana agar ia bisa hidup dua bulan kedepan, tidak di-DO, dan bisa melaksanakan kegiatan keahasiswaan dengan sukses dan lancar.

Sekarang lihat saja mahasiswa STAN yang nongkrong dibeberapa tempat bersama teman-temannya. Ngobrol ngalor-ngidul tidak jelas apa yang dibicarakan seolah-olah mereka sudah meraih masa depan. Ada juga sepasang mahasiswa-mahasiswi STAN yang bergandengan tangan berjalan berdua tanpa merasa berdosa, atau yang diwarung saling menyuapi layaknya suami istri, atau yang menyusuri kegelapan malam kampus STAN sambil bermesraan. Perhatikan juga berapa orang yang memanfaatkan waktu untuk belajar di perpustakaan. Nyaris tidak ada perubahan kuantitas. Padahal jumlah mahasiswa STAN sekarang jauh lebih besar dibandingkan dahulu. Hal ini dapat dikatakan bahwa prosentase minat mahasiswa STAN terhadap perpustakaan menurun. Maka jangan salahkan lembaga yang tidak memperbaharui literatur di perpustakaan karena sia-sia saja membeli buku tapi tidak dibaca. Juga jangan salahkan kondisi perpustakaan yang seperti museum, tidak berkembang dan hanya satu lantai karena sejarah perpustakaan STAN tidak pernah mencatat terjadinya overload pengunjung perpustakaan.

Sudah sering majalah kampus mem-blow up dekadensi moral mahasiswa STAN. Keluhan tokoh-tokoh masyarakat sekitar STAN yang mengatakan bahwa mahasiswa STAN tidak ramah lagi. Juga pendapat beberapa dosen yang mengatakan bahwa menjelaskan materi kuliah kepada mahasiswa sekarang relatif lebih susah dibandingkan mahasiswa dahulu. Pun opini kakak kelas yan termasuk lulusan terbaik D IV Akuntansi tahun lalu yang menyatakan bahwa tidak ada gurat perjuangan lagi di wajah mahasiswa STAN.

BLU STAN

STAN sudah menjadi Badan Layanan Umum saat ini. Berbagai janji-janji kemajuan STAN setelah menjadi BLU. Ingin membangun gedung baru. Juga standar setiap kelas yang ada AC dan proyektornya. Pun fasilitas broadband untuk internet gratis. Atau memperbanyak koleksi literatur perpustakaan. Segala usaha akan dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kapabilitas lulusan STAN. Dan segala janji-janji lain yang membumbungkan impian mahasiswa untuk memiliki kampus yang bagus. Janji-janji ini yang perlu dicatat dan diawasi secara ketat oleh mahasiswa. Jangan sampai mahasiswa tidak bisa mendeteksi satu kesalahan pun yang dilakukan oleh pengelolan BLU STAN. Jadi mahasiswa tidak hanya berpangku tangan atau bahkan menutup mata jika terjadi distorsi pencapaian STAN menjadi lebih baik.

Coba kita lihat kembali buku-buku yang kita pinjam dari STAN. Setiap pemegang buku penulis yakin bisa mengetahui kualitas buku yang dipinjamnya. Mahasiswa tentu bisa menilai apakah buku itu memiliki kualitas produk asli atau produk bajakan atau bahkan dibeli dipasar loak. Dari permasalahan buku ini saja bisa memperluas ke aspek yang lain. Mahasiswa bisa bermain-main dengan logikanya mengenai anggaran pengadaan buku literatur. Mahasiswa bisa mengestimasi berapa selisih harga jika buku literatur itu dibeli langsung dari penerbit atau distributor resminya dengan harga buku jika dibeli dari Kwitang atau Pasar Senen. Mahasiswa juga bisa mengetahui siapa yang bertangung jawab atas pengadaan buku. Dengan demikian mahasiswa pun bisa langsung mengaplikasikan ilmu audit yang ia dapatkan pada proses perkuliahan untuk mengawal cita-cita STAN menjadi lebih baik.

Selanjutnya mari kita lihat tower yang menjulang disamping Gedung L. Dahulu keberadaan tower itu untuk fasilitas internet murah di kampus. Tapi sekarang tidak terdengar lagi untuk apa kegunaan tower tersebut. Jika pertanyaan mengenai tower ini dilanjutkan, maka akan timbul keingintahuan apakah tidak ada sinyal internet pada tower itu saat ini. Jika tidak ada maka keberadaan tower itu seperti mati suri. Namun jika ada sinyal internet, maka perlu dipertanyakan siapa yang menggunakannya. Pada kenyataannya mahasiswa tidak pernah mencicipi fasilitas itu sekarang. Lantas jika ada sinyal dijual kemana sinyal itu. Pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban yang panjang lebar.

Bukan hanya masalah fasilitas belaka. Masalah dosen pun masih sangat kental di kampus STAN. Masih banyak dosen-dosen yang masih mempunyai paradigma pasal satu dan pasal dua. Pasal satu menyatakan bahwa dosen selalu benar. Jika dosen salah maka kembali pada pasal satu. Sebagai contoh lain perhatikan saja dosen yang mangkir atau menentukan waktu kuliah baik secara pribadi ataupun melalui negosiasi dengan mahasiswa terlebih dahulu. Berbagai alasan menjadi justifikasi. Ada yang melaksanakan tugas ke luar kota, tiba-tiba dipanggil mendadak oleh menteri, rapat dengan pejabat eselon, dan sederet alasan lain dikemukakan. Efek negatif jadual kuliah yang tidak well-planned pun dikesampingkan. Kebutuhan mahasiswa untuk mengembangkan diri dengan tidak hanya semata-mata kuliah di kampus pun ditelantarkan. Dengan kondisi ini paradigma belajar hanya melalui kuliah di kampus justru semakin mengkerdilkan wacana mahasiswa.

Selain permasalahan internal kampus BLU demi kebaikan STAN pun harus mampu mempertahankan persepsi masyarakat bahwa ujian saringan masuk STAN itu masih sangat dijamin bersih tanpa manipulasi “pintu belakang” atau “pintu samping”. Seorang dosen bercerita bahwa ada orang tua mantan mahasiswa STAN yang menuntut karena tidak menerima kenyataan bahwa anaknya di DO. Usut punya usut mantan mahasiswa STAN itu masuk melalui jalur belakang dengan membayar sejumlah uang. Namun ketika ditanya siapa oknum yang menerima uang itu, orang tua mantan mahasiswa tersebut tidak mengaku. Cerita itu menurut hemat penulis telah melukai kebersihan citra STAN sekaligus menunjukkan adanya indikasi ketidakwajaran dalam tubuh STAN. Ditengah maraknya joki pendidikan, seharusnya STAN bisa membuktikan kemurnian ujian saringan masuknya. Karena kemurnian ini pulalah yang menutup coreng pendidikan Indonesia.

Penutup

Setidaknya coreng moreng kampus STAN diatas indikasinya baru diketahui dipermukaan saja. Dibutuhkan keberanian untuk mengungkapkannya serta meluruskan kebenarannya. Tidak salah pendapat Menteri Keuangan yang menyatakan bahwa jika ingin melihat kondisi bobroknya departemen keuangan maka lihatlah miniaturnya, yaitu Kampus STAN.

Kini dengan momentum seratus tahun kebangkitan nasional ini sudah sepatutnya bagi setiap elemen kampus STAN baik pegawai, instansi, mahasiswa, alumni, maupun masyarakat sekitarnya bersama-sama mewujudkan cita-cita menjadikan STAN yang berkembang lebih baik. Dengan momentum ini mari kita sudahi segala kebobrokan, keculasan, dan keburukannya. Langkah-langkah nyata dan revolusioner sangat dibutuhkan. Tentu saja agar kedepan mahasiswa STAN dan lulusannya tidak berjalan dengan muka yang bopeng sebelah.


[i] Penulis adalah Mahasiswa Semester 8 Akuntansi

Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »