Bidadariku, hatiku gundah ketika hendak pulang kampung Kamis 19 Juni 2008 yang lalu. Banyak pikiran yang aku tinggalkan begitu saja di kamar kos nomor 5 Pondok Muslim. Masih banyak target bacaan yang belum dibaca. Masih kepikiran pula mimpi nomor 1, nomor 2, dan nomor 3 yang aku tempel di sterofoam. Juga keinginan mendaki Semeru yang tertunda karena saai ini Semeru berstatus siaga. Rencana pengalihan pendakian ke Arjuno-Welirang pun batal karena beberapa hari yang lalu aku “diistirahatkan” oleh Rabb Yang Maha Kuasa. Dan masih banyak pikiran-pikiran lain. Pulang kampung dengan gundah.
Bidadariku, kusempatkan mampir Posko STAPALA sebelum aku pulang kampung. Karena memang aku ada janji dengan Irwansyah Setya Negara aka Gatot797 untuk menyetorkan aplikasi Sistem Akuntansi STAPALA. Dan benar Bidadariku, hiburan itu datang ketika kulihat papan kegiatan STAPALA. Lawu…I’m in Love. Tertulis jelas akan dilaksanakan 20-22 Juni 2008. Segera kuhubungi Sigit Luhur Pambudi aka Asigeboy828 untuk koordinasi keberangkatan. Alhasil aku berangkat dari Trenggalek dan teman-teman STAPALA berangkat dari Jakarta.
Bidadariku, Sabtu 21 Juni 2008 itu aku awali hari dini sekali. Mungkin kamu sudah tahu apa alasannya. Benar bidadariku. Pertandingan bola Kroasia vs Turki. Yang sebagian besar pengamat berpendapat Kroasia mampu mengalahkan Turki. Tapi hasilnya Turki yang lolos ke Semi Final dengan mengalahkan Kroasia melalui adu pinalti. Bidadariku, ada keajaiban yang harus kita percaya. Seperti pemain Turki yang pantang menyerah hingga keajaiban itu datang. Ketika Klasnic, pemain Kroasia mencetak gol di menit-menit terakhir, Semih Senturk, pemain Turki dengan kepercayaan akan keajaiban ia berhasil membalas pada injury time. Kita pun seharusnya seperti mereka. Percaya akan keajaiban yang dianugerahkan Sang Rabb Al Izzati.
Selesainya pertandingan bola itu, kumulai memanjatkan doa. Untukmu bidadariku. Untuk kita. Juga untuk perjalanan ke Gunung Lawu. Hingga Shubuh pun memanggil dan membawa kakiku melangkah ke Darun Nadwah. Segar sekali udara pagi itu bidadariku. Semoga kita bisa menghirup kesegarannya bersama-sama nanti berdua. Apalagi ditambah diiringi dengan syahdunya Al Ma’tsurat yang terlantun dari bibirmu. Ah itu masih nanti bidadariku. Ketika perbekalan menuju Gunung Lawu sudah selesai aku siapakan, lantas aku sungkem pada Bapak dan Ibu. Memohon doa agar lancar dalam perjalanan, sampai puncak dan selamat sampai di rumah. Dalam hatiku pun berkata, doakan aku pula, bidadariku.
Bidadariku, di sepanjang jalan banyak orang menuju pasar melihatku dengan tas carrier yang lebih besar dari tubuhku menggelayut manja di punggungku. Dan mereka bertanya aku hendak kemana. Ketika aku menjawab hendak mendaki gunung Lawu, sebagian besar mereka berpesan, hati-hati di jalan karena di gunung Lawu banyak hal-hal mistis. Tapi tenang saja bidadariku, aku gigit erat akidah ini dengan gigi gerahamku. Tak akan ku biarkan saja akidahku tergadaikan di gunung Lawu. Dan aku semakin yakin bahwa dengan akidah ini pula Rabb-ku akan mempertemukanku denganmu, bidadariku.
Bidadariku, perjalanan dengan bus pun aku mulai menuju Ponorogo. Selanjutnya disambung menuju Madiun. Diperjalanan menuju Madiun aku bertemu seseorang. Tiba-tiba dia bertanya, “Mau kemana mas? Kok bawa carrier?”. Simpel saja aku jawab hendak ke Gunung Lawu. “Gunung Lawu itu banyak mistisnya lho mas. Memangnya mau ngapain mas ke gunung Lawu?”. Kemudian aku jelaskan bahwa hobby-ku yang mendorong mendaki Gunung Lawu. Lagi pula naik gunung itu nyedhake ati mring Gusti (mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi). Tentu dengan bahasa Jawa notok biar lebih bisa diterima orang itu. “Oh, begitu ya mas. Aku jadi inget waktu masih suka touring dan kebut-kebutan. Sebenarnya waktu ngebut itu hanya satu mas yang aku ingat. Mati. Dan ingatan itulah yang membawaku seolah begitu dekat dengan Sing Makarya Jagad (Sang Pencipta Alam). Tapi ya itu tadi, ingatnya hanya saat mau ngebut saja. Ya sekarang aku heran, mengapa dulu setelah menang balapan kembali minuman keras yang masuk ke mulutku ini. Tapi sekarang alhamdulillah sudah enggak lagi mas. Wah apalagi setelah ketemu sampeyan yang mau naik gunung ini. Bener kata sampeyan mas. Kalau sudah di hutan itu tak ada lagi ciptaan manusia. Adanya hanya ciptaan Sing Makarya Jagad. Matur nuwun (terima kasih) mas. Perjumpaan singkat ini sudah cukup mengingatkan aku untuk tidak macam-macam melawan titah Sing makarya Jagad”. Alhamdulillah, aku ga menyangka bidadariku. Ternyata perjumpaan singkat itu begitu berkesan.
Tak ada yang spesial dalam perjalanan Madiun-Magetan, bidadariku. Memang suasana lagi sepi. Jadi agak kasihan dengan awak bus yang aku naiki. Semoga nanti mereka mendapat penumpang yang banyak sehingga rejeki mereka bisa bermanfaat buat keluarga mereka. Sampai di terminal Magetan, aku harus naik angkot sayur. Duh bidadariku, lama sekali nunggunya. Sopir angkot itu benar-benar menunggu hingga angkotnya penuh. Di dalam angkot itu aku bertemu sebuah keluarga yang berlibur. Sepasang suami istri dengan seorang putra dan seorang putri yang seumuran SD dan satu anak lagi masih digendong ibunya. Indah sekali, bidadariku. Berlibur bersama sekeluarga. Semoga kita kelak bisa bahagia, sejahtera, sakinah, mawaddah wa rahmah, setidaknya seperti gambaran keluarga itu.
Di sepanjang jalan angkot itu sibuk menaik-turunkan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar menjual sayur. Bahkan begitu sabarnya, sopir angkot itu rela untuk menunggu calon penumpangnya padahal si penumpang masih membereskan peralatan dagangnya. Di dalam angkot itu mereka ngerumpi. Topiknya khas ibu-ibu baru pulang dari pasar. Apalagi kalau bukan seputar bumbu dapur. Mereka merasakan benar bagaimana segalanyanya menjadi mahal sekarang. Seru sekali rupanya pembicaraan mereka. Seru seperti perebutan kursi gubernur Jawa Timur. Ada lima pasangan calon, yaitu: Soenaryo-Ali Maschan, Soekarwo-Saiful, Khofifah-Mudjiono, Achmady-Ichsan, Sutjipto-Ridwan. Namun bagi ibu-ibu seperti mereka perebutan jabatan itu tidaklah sepenting asap dapur mereka biar terus mengepul. Mereka hanya butuh ketenangan bekerja dan kesejahteraan hidup, siapapun pemimpinnya.
Aku stag di Sarangan lebih dari 30 menit, bidadariku. Sarangan-Cemoro Sewu tak ada angkot. Akhirnya aku nebeng truk sayur. Jalan menuju Cemoro Sewu berliku-liku seperti cerita hidup sopir dan kenek truk sayur yang aku tumpangi itu. Kami bertiga ngobrol disepanjang perjalanan. Si kenek cerita bahwa dia juga pernah kuliah, tapi hanya bertahan selama tiga semester. Karena waktu kuliah dia tidak bisa disambi dengan aktivitas mengangkut sayuran. Begitu tertusuk hati ini, bidadariku. Di satu sisi aku bisa kuliah gratis selama empat tahun lebih dan bakal lima setengah tahun, di sisi lain ada yang tidak bisa kuliah karena tidak match antara jadual kuliah dengan jadual mencari biaya kuliahnya. Juga sopir truk yang bercerita banyak bagaimana ia selalu dikejar-kejar waktu dalam bekerja. Menjadi sopir truk sayur itu hidupnya di kejar waktu. Mereka harus tiba tepat waktu agar sayur yang akan dijual masih segar. Jika membawa mobil dengan lambat, mereka bakal jualan sampah. Bayangkan saja bagaimana dia menginjak kombinasi gas, rem, kopling dan memindah gear agar bisa melaju cepat selama berkeliling kota-kota tujuan pemasaran sayur. Dari Magetan menuju Surakarta, atau Madiun, Ponorogo, Ngawi, Pacitan, Kediri, hingga Blitar.
Akhirnya aku sampai di Cemoro Sewu, bidadariku. Tak lupa kuucapkan terima kasih kepada sopir truk sayur atas tumpangannya. Masjid Cemoro Sewu adalah tempat yang pertama aku tuju. Kuletakkan carrier dan segera ku ambil air wudhu untuk menunaikan dhuhur. Rupanya sudah satu shaf akhwat di masjid itu menungguku untuk menjadi imam shalat mereka. Setelah mereka membuka mukena, baru tahu aku bahwa mereka adalah pelajar-pelajar SMA yang baru mendaki gunung Lawu. “Wah sudah malas aku kalau disuruh naik gunung begini lagi”. Salah satu dari mereka berpendapat.
Aku masih menunggu teman-teman dari Jakarta tiba sambil makan nasi pecel dan wedang jahe. Rasanya nikmat sekali. Dan sehabis itu aku tertidur di pos pendakian Cemoro Sewu. Hingga tiba-tiba ada sosok berdehem-dehem di depanku. Ah rupanya Sigit baru datang. Dan disampingku membujur Bian yang mungkin sudah agak lama menemaniku tidur. Di Masjid Cemoro Sewu terlihat teman-teman yang lain Daris, Hilman, Nurhaeni, Slamet, Syani, Luat, dan Wisnu. Hanya Syani yang perempuan. Lainnya laki-laki tulen, tidak ada yang banci.
Bidadariku, kami bersepuluh memulai perjalanan pukul 15.30 setelah shalat asar. Beban berat di carrier-ku ditambah jalan menanjak cukup untuk membasahi pakaianku dengan keringat walau baru berjalan beberapa menit. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di Pos 1, Wesen-Wesen. Di Pos itu aku mengeluarkan kue Wajik yang dibawakan Mbok Yah. Hilman tertawa, “Pantesan pak lambat banget. Rupanya dibebani wajik tiga kilo ya. Sini dikurangi saja sambil menambah tenaga”. Hm…lumayan beban carrier-ku berkurang satu kilo.
Tak lama kami istirahat di Pos 1, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2. Jalan masih menanjak. Nafasku tersengal-sengal dan sesekali batuk. Tak terasa hidungku sudah mulai berair akibat udara dingin. Hingga akhirnya kami sampai di Pos 2, Watu Gedhek. Bidadariku, disana kami shalat Maghrib dan Isya. Astaghfirullah, keringat yang membasahi kaosku menjelma menjadi balok es yang menimpa punggungku saat aku rukuk. Sejurus pikiranku teringat sejarah. Masih beruntung terasa seperti balok es. Bibirku pun bergetar hebat saat membaca ayat-ayat Al Qur’an. Bibirku bergetar seperti hatiku bergetar setiap ayat-ayat Al Qur’an dilantunkan. Bidadariku, kau mungkin bisa membayangkan bagaimana jika kotoran yang ditimpakan seperti di punggung Rasulullah SAW. Bagaimana pula jika benar-benar batu besar yang ditimpakan seperti yang dialami Bilal bin Rabah.
Selesai shalat aku mengeluarkan berbagai penghangat. Mulai dari minyak kayu putih yang aku oleskan ke tubuh hingga koyo cabe yang tak terasa hangat walau sudah aku tempelkan di kedua kaki dan punggungku. Kaus tangan, balaclava, dan rain coat pun lengkap membungkus tubuhku. Dingin luar biasa. Setelah perlengkapan lengkap, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, Watu Gede. Medan semakin berat, bidadariku. Hingga di tengah jalan kaki kananku kram. Untung Ada Slamet. Ia meluruskan dan memijit-mijit kakiku. “Kita istirahat sejenak”, begitu kata Daris. “Nyantai aja pak jalannya”, Nurhaeni menambahkan. Bidadariku, rupanya aku, Slamet, Daris, dan Nurhaeni sudah terpisah jauh dari anggota yang lain. Bidadariku, dari kejadian itu kau bisa mengetahui betapa aku sangat tergantung pada orang lain. Wajar jika kau menganggapnya itu adalah kelemahan. Tapi jujur aku padamu, aku selalu berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain.
Setelah sabar dan ikhlas dengan kondisiku saat itu, akhirnya aku dan tiga temanku itu bergabung dengan en