Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
Pak Mulyono Ibrahim telah berpulang ke Rahmatullah hari ini. Asma Kronis ketika sidang pleno di DPW PKS. semoga aktivitas tersebut dinilai Allah sebagai jihad. Semoga Allah menganugerahkan surga untuknya. Amin.
Visi dan misimu akan menjadi tugas kami untuk melanjutkannya…
beliau adalah guru ngaji saia semenjak SMA. Terpilih menjadi anggota DPRD Kab Trenggalek dari PKS. tapi belum lama beliau bertugas, Allah sudah memanggilnya.
Pak Mulyono Ibrahim berpulang ke Rahmatullah
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 23, 2009
Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar »
STRATEGI AKSELERASI PERKEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH : BERAWAL DARI IJARAH
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 31, 2009
Jika menilik kaidah fiqih mengambil hikmah dari umumnya lafaz, bukan khususnya sebab (al ibrata bi umumil lafzhi, laa bi khususissabab), maka sangat tepat Al-Hasyr ayat 7 ini dijadikan dasar strategi untuk akselerasi perkembangan perbankan syariah.

¨Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”
Berdasarkan ayat tersebut, suatu perekonomian seharusnya berkembang merata dan tidak hanya dimiliki oleh segelintir orang. Hal ini tercermin pula dalam hadits Rasulullah SAW, Jika saya memiliki emas sebesar gunung Uhud, saya tidak akan suka kecuali setelah tiga hari tidak tersisa satu Dinar pun yang ada pada ku apabila ada orang lain yang berhak menerimanya dariku, kecuali sejumlah yang akan aku pakai untuk membayar utangku”. (HR. Bukhari). Dengan demikian Rasulullah SAW telah memberi contoh bagaimana mempercepat peredaran kekayaan di masyarakat.
Lantas apa korelasinya dengan strategi akselerasi perkembangan perbankan syariah? Pada tulisan ini saya akan memfokuskan pada substansi perhitungan produk ijarah (terutama KPR Syariah). Untuk mejawabnya, terlebih dahulu kita lihat bagaimana keadaan ijarah yang ada saat ini. Setidaknya terdapat dua tipe perhitungan ijarah yang ada saat ini.
- 1. Model Kapitalis
Sebenarnya model ini memiliki pola perhitungan yang sama dengan capital lease/ sewa beli (makanya saya beri nama model kapital-lis), yaitu menggunakan perhitungan future value. Lantas apa yang membedakan capital lease yang konvensional itu dengan ijarah yang sesuai dengan syariah? Maka jawabannya adalah akad. Ibaratnya perbandingan antara zina dan nikah. Keduanya secara biologis sama, namun yg membedakan adalah akad. Karena dengan akad dapat dibedakan mana yang haram dan halal.
Kembali pada perhitungan ijarah model kapitalis. Perhitungan ini dipengaruhi oleh margin yang nilainya dapat dikonversi menjadi bunga pasar. Margin/bunga pasar tersebut sebenarnya merupakan cerminan keuntungan yang diperoleh bank sebagai penyedia dana. Berikut ini adalah ilustrasi angsuran ijarah dengan asumsi harga pokok yang di-ijarah-kan Rp.200.000.000,00 dengan bunga pasar 12% selama 15 tahun.
| bulan ke | Angsuran | pokok | Margin |
|
bulan ke | Angsuran | pokok | margin |
| 1 | 2,400,336 | 400,336 | 2,000,000 |
|
175 | 2,400,336 | 2,261,225 | 139,111 |
| 2 | 2,400,336 | 404,339 | 1,995,997 |
|
176 | 2,400,336 | 2,283,837 | 116,499 |
| 3 | 2,400,336 | 408,383 | 1,991,953 |
|
177 | 2,400,336 | 2,306,676 | 93,660 |
| 4 | 2,400,336 | 412,467 | 1,987,869 |
|
178 | 2,400,336 | 2,329,743 | 70,594 |
| 5 | 2,400,336 | 416,591 | 1,983,745 |
|
179 | 2,400,336 | 2,353,040 | 47,296 |
| : | : | : | : |
|
180 | 2,400,336 | 2,376,570 | 23,766 |
Pada tabel tersebut terlihat bahwa nasabah/lesse itu lebih banyak membayar margin/bunga pasar di bulan-bulan awal. Sedangkan pengakuan pokok sangat kecil dan baru semakin besar mendekati akhir periode KPR. Dapat digambarkan bahwa bentuk margin berupa piramida terbalik. Seandainya lesse ingin melunasi ijarah dalam setelah lima tahun, maka selama lima tahun itu besarnya pokok yang diakui hanya sebesar Rp32,7 juta. Sedangkan margin yang dibayar dan akan menjadi pendapatan bank syariah sebesar Rp111,3 juta. Jadi jika nasabah ingin menyelesaikan perjanjian ijarah harus membayar pokok sebesar Rp167,3 juta.
Pada kenyataannya saat ini, mayoritas bank syariah di Indonesia menggunakan model ini dalam transaksi ijarah (termasuk KPR Syariah). Menurut saya terdapat kelemahan dalam model perhitungan ini, yaitu kemungkinan payback period sangat lama. Mungkin kelemahan ini yang belum disadari oleh kebanyakan bank syariah. Mengapa payback periode menjadi lebih lama? Hal ini dikarenakan pengakuan pokok untuk nasabah/lesse masih sangat kecil untuk awal-awal periode ijarah. Dengan demikian akan terbentuk kecenderungan psikologis lebih baik membayar lebih lama dibandingkan segera melunasi ijarah.
Selanjutnya apa konsekuensi payback period lebih lama? Maka jawabnya kembali pada hikmah Al Hasyr ayat 7 di atas. Peredaran uang menjadi sangat lambat. Dengan kata lain hanya beredar di seputar bank/lessor dan nasabah/lesse.
- 2. Model Konservatif
Model ini masih menggunakan future value untuk menentukan ansuran yang harus dibayar. Hanya saja perbedaannya terletak pada pengakuan amortisasi pokok dan margin. Setelah ditentukan besarnya angsuran yang harus dibayar nasabah setiap bulan, maka dapat diketahui besarnya keuntungan total yang akan diperoleh bank selama periode ijarah. Nilai total keuntungan/margin tersebut kemudian dibagi rata sebesar jumlah bulan selama periode ijarah. Hasil tersebut yang menjadi margin/keuntungan yang dibayarkan nasabah kepada bank setiap bulannya. Dengan demikian akan terlihat amortisasi pokok dan margin menggunakan cara straight line sehingga komposisi angsuran, pokok dan margin yang sama setiap bulannya.
Dengan asumsi pokok ijarah dan bunga pasar yang sama, dapat diketahui model perhitungan sebagai berikut:
| bulan ke | Angsuran | pokok | Margin |
|
bulan ke | Angsuran | Pokok | margin |
| 1 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
|
175 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
| 2 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
|
176 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
| 3 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
|
177 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
| 4 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
|
178 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
| 5 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
|
179 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
| : | : | : | : |
|
180 | 2,400,336 | 1,111,111 | 1,289,225 |
Model ini mencerminkan sikap konservatif bank terhadap pendapatannya. Di satu sisi bank tidak mengambil keuntungan jangka pendek dalam jumlah yang besar sebagaimana dipakai model kapitalis. Di sisi lain bank juga tidak cukup berani mengambil risiko untuk memutar lebih cepat peredaran uangnya. Namun demikian peredaran kekayaan dengan model ini lebih merata dibanding dengan model kapitalis. Hal tersebut tercermin dari jumlah pokok yang telah dilunasi selama lima tahun sebesar Rp66,7 juta dan margin/keuntungan yang diakui sebesar Rp77,4 juta. Sehingga jika nasabah ingin melunasi perjanjian ijarahnya masih harus membayar pokok sebesar Rp133,3 juta.
Hingga saat ini masih sangat sedikit bank-bank syariah di Indonesia yang menggunakan model konservatif ini. Bisa jadi hal ini sangat dipengaruhi oleh keinginan psikologis manajemen bank syariah agar tetap bisa bersaing dengan bank konvensional serta mendapatkan keuntungan cukup pada tingkat kompetisi yang tinggi dalam kredit perumahan.
Kedua model di atas merupakan tipe perhitungan ijarah yang ada saat ini. Sebagaimana landasan dari Al Qur’an dan Hadits yang memberikan hikmah untuk mengedarkan harta lebih cepat, maka bank syariah perlu memperhatikan model perhitungan ijarah lainnya yg memungkinkan percepatan peredaran harta. Berikut ini saya coba menawarkan model perhitungan ijarah yang memungkinkan peredaran harta lebih cepat. Saya menyebutnya sebagai Model Idealis.
Model idealis ini merupakan model perhitungan ‘lawan’ dari model kapitalis. Apabila model kapitalis menggunakan total pokok ijarah untuk menghitung nilai margin, makan model idealis memakai angsuran sebagai dasar perhitungan. Jika amortisasi pokok ijarah dengan model kapitalis dapat digambarkan seperti piramida, maka model idealis ini akan tergambar seperti piramida terbalik. Adapun perhitungan amortisasi pokok ijarah dan marginnya sebagai berikut:
| bulan ke | Angsuran | pokok | Margin |
|
bulan ke | Angsuran | pokok | Margin |
| 1 | 2,400,336 | 2,376,570 | 23,766 |
|
175 | 2,400,336 | 420,757 | 1,979,579 |
| 2 | 2,400,336 | 2,353,040 | 47,296 |
|
176 | 2,400,336 | 416,591 | 1,983,745 |
| 3 | 2,400,336 | 2,329,743 | 70,594 |
|
177 | 2,400,336 | 412,467 | 1,987,869 |
| 4 | 2,400,336 | 2,306,676 | 93,660 |
|
178 | 2,400,336 | 408,383 | 1,991,953 |
| 5 | 2,400,336 | 2,283,837 | 116,499 |
|
179 | 2,400,336 | 404,339 | 1,995,997 |
| : | : | : | : |
|
180 | 2,400,336 | 400,336 | 2,000,000 |
Dari perhitungan diatas akan dapat diketahui bahwa pada awal periode ijarah nasabah telah membayar pokok ijarah lebih besar. Dalam kurun lima tahun, nasaah sudah membayar pokok ijarah sebesar Rp107,9 juta dan margin/keuntungan yang diakui bank sebesar Rp36,1 juta. Dengan demikian pokok ijarah yang harus dilunasi jika nasabah ingin menyelesaikan perjanjian ijarah sebesar Rp92,1 juta. Nilai tersebut lebih kecil daripada sisa pokok ijarah yang harus dilunasi menurut model konservatif yaitu Rp133,3 juta. Bahkan akan jauh lebih kecil dibanding hasil perhitungan model kapitalis yang menuntut nasabah harus membayar sisa pokok ijarah sebesar Rp167,3 juta. Kecuali jika nasabah memutuskan untuk membayar angsuran hingga 15 tahun, maka tidak ada perbedaan total pokok ijarah dan total margin antara model kapitalis, konservatif, maupun idealis. Ketiganya sama-sama menghasilkan totan pokok ijarah senilai Rp200 juta dan total margin sebesar Rp232 juta.
Oleh karena itulah model idealis dapat memicu kemungkinan payback period yang lebih cepat. Hal ini dikarenakan nasabah cenderung untuk mengembalikan pokok ijarah yang nilainya tinggal sedikit. Payback period yang cepat berarti peredaran harta pun semakin cepat. Jika peredaran harta semakin cepat, maka harta tidak hanya berputar pada sedikit orang. Jika harta berputar pada orang banyak, maka kesejahteraan akan semakin merata.
Apabila ditelusuri lebih lanjut, model idealis ini memiliki beberapa kelebihan selain terkait dengan payback period. Model idealis ini dapat meminimalisir efek inflatoir dalam perekonomian. Dengan perhitungan berdasarkan angsuran, maka nilai angsuran yang dibayarkan lebih cepat tidak jauh berbeda dengan nilai pokok ijarah. Dengan kata lain efek kenaikan harga karena pengambilan keuntungan melalui margin tidak berpengaruh sangat signifikan. Lain halnya jika pada awal periode ijarah nasabah harus membayar margin yang lebih besar dulu. Maka efek kenaikan harga akan cepat terasa karena margin besar yang dibayar di awal justru akan menjadi penambah unsur biaya sehingga terjadi cost push inflation.
Kelebihan model idealis lainnya adalah lebih dekat dengan filosofi qardhul hasan (pinjaman lunak), yaitu pinjam satu juta dikembalikan satu juta. Dengan kemungkinan payback period yang cepat dan margin yang dibayarkan selama payback period tersebut lebih rendah, maka nilai akumuasi pokok dan margin yang dibayarkan berdasar model idealis lebih dekat dengan qardh dibandingkan model kapitalis maupun konservatif. Sebagaimana Rasulullah SAW ajarkan, qardh akan membawa keberkahan. Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa: Rasulullah SAW berkata: “Bukan seorang muslim (mereka) yang meminjamkan muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai) shadaqah” Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah SAW berkata: “Aku melihat pada waktu malam di-isra’-kan, pada pintu surga tertulis: Shadaqah dibalas 10 kali lipat dan qardh 18 kali. Aku bertanya: ‘Wahai Jibril mengapa qardh lebih utama dari shadaqah?’ Ia menjawab: ‘Karena peminta-minta sesuatu dan ia punya, sedangkan yang meminjam tidak akan meminjam kecuali karena keperluan,’”
Tulisan ini hanya membahas secara teknis perhitungan ijarah. Namun demikian begitu besar harapan saya agar perbankan syariah semakin berkembang. Bukan sekedar berkembang dalam kuantitas, tapi lebih dari itu. Berkembang dengan semangat idealis menegakkan syariah yang tidak hanya mengekor pada ekonomi konvensional, kapitalis maupun ribawi. Justru semakin menjauhi ekonomi jahiliyah itu dan kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Semoga perbankan syariah kedepan semakin dekat dengan ‘ekonomi Nabi’. Insya Allah. Wallahu ‘alam…
diposting juga di multiply dan kompasiana
Ditulis dalam Finansial | Bertanda: akuntansi, ekonomi, ijarah, keuangan, syariah | 30 Komentar »
risih
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 13, 2009
hampir sepekan saia kembali menjadi roker (rombongan kereta.red). dan kemarin sore (eh…malam ding) adalah titik waktu cerita yang akan tulis disini.
saia pulang malam lagi kemarin. tapi tenang saja, Bojong Express masih setia pada jadualnya. saia turun di Stasiun Depok Lama. lantas pas banget setelah turun, di depan saia berjalan seorang perempuan. iya perempuan deh kaya’nya (lho kok?!). dandanan bajunya full press body (kaya’ mobil colt ajah). bajunya berawal dari atas dan berhenti tidak jauh dari sepuluh senti di atas lututnya. ampun dah. wah…emang waktunya menundukkan pandangan nih. malu lah…secara dulu jadi panitia Dinamika sering maksa mahasiswa baru buat nunduk pas mahasiswi baru lewat.
Jger…! samber bledek…sumpeh deh nunduk. tapi pas nunduk malah ngeliat kakinya yg setengah ngambang mirip kuntilanak. eh ga ngambang2 amat sih…cuma jinjit aja. karena pake high hill (bukan ding…high heel kok) setingga kurang lebih 10 senti. ih…tinggi amat sih. tau ah, namanya juga kira2.
waduh…waduh…berhenti aja deh. karena bingung nyari kegiatan akhirnya tanya penjual perkakas. “Bang harga palu ini berapa ya?”. “enam ribu mas”. trus ngeliat-liat tu palu dengan seksama. “hm…semua palu harganya sama ya bang?”. “enggak mas, yang sebelah sana tuh 20 ribu”. trus diliat lagi palu yg 20 ribu. masih dengan cara saksama tapi tidak dalam tempo yg sesingkat2nya.
Eh…udah jauh tuh perempuan. hm…lumayan bisa melihat jalan di depan tanpa ada gangguan bukit tinggi (high hill? bukan! high heel tau!). jyah…ganti sekarang. rupanya pedagang2 di sepanjang rel stasiun itu juga memperhatikan tu perempuan. biyuh…biyuh…suit-suitan ra karu-karuan. ada juga yg bisikin teman seperjuangan di sampingnya sambil nunjuk2 ke arah tu perempuan. ampuunn….
haduh…kok ga risih ya tu perempuan? saia aja risih.
segera saia keluar dari stasiun tanpa mempedulikan perempuan yg berhenti mau jajan buah2an di tengah suit2an orang2 di dalam stasiun. tak lama kemudian datang tukang ojek saia. weit ngawur…itu istri saia yang setia menjemput saia di stasiun Depok Lama. di sepanjang jalan Kota Kembang menuju rumah, saia menceritakan kisah perempuan itu.
tanggapan istri saia.
“enakan jadi akhwat berjilbab yah”.
“kenapa emang? ga disuitin gitu yak?”.
“ah…paling banter kalo melintas di depan preman-preman gitu, godainnya pake salam. assalamu’alaykum bu haji. gitu!”.
“trus di jawab ga?”.
“ya dijawab aja. wa’alaykumussalam. nah…ntar tuh preman bilang ‘alhamdulillah…salam gue dijawab oeiy!’. gitu!”
“trus?”
“ya…kan malah memancing tu preman untuk mengingat Alloh”
duuh…apa perempuan itu ga risih ya? “tingkat kerisihan orang kan beda2 bi” kata istri saia. ya kalo ada penampakan seperti itu benar2 balik lagi ke yang melihat nih. sumpeh deh…ini dari sisi laki2, terutama pendapat saia. berusaha menundukkan pandangan. iya kalo laki2nya pas bener. kalo pas dapet laki2 yg fujur ancur plus pelaku kriminal, trus terjadi pemerkosaan, apa masih mau nyalahin polisi dengan alasan ga bisa menjaga keamanan? eh…ga nyambung sama polisi ya? ya begitulah intinya. bener kata bang napi deh. kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. dan kesempatan itu berupa perempuan yg dandan menor mobolong2 yang menjadikan rel kereta api sebagai cat walk.
mabok…mabok…!!
diposting juga di http://wipyyuwana.multiply.com/journal/item/79
Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: empati, kisah | 8 Komentar »
Perjalanan Mencari KPR Syariah
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Mei 20, 2009
Mengapa saia mencari KPR Syariah? Mengapa tidak KPR yang umum-umum saja atau konvensional? Maka dengan mudah saia jawab, “Saia tidak ingin gila!”. Kok gila? Ya iya, AlQuran menyatakan seperti itu.
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata, “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba”, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Al Baqarah : 275)
Ada satu lagi selain gila. “Sumpeh deh…saia tidak mau diperangi Allah dan Rasul-Nya”.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kami tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiayai. (Al Baqarah : 278-279)
Ngeri ga sih? Udah gila, trus masih diperangi Allah lagi.
Tapi saia tak mau hanya sekedar mencari bank syariah. Maaf, bukan saia tidak percaya dengan ulama yang menjadi dewan/penasehat syariah suatu bank. Tapi saia harus berhati-hati, bahwa saia mencari bank syariah yang substansinya benar-benar syariah. Kalaupun tidak ada yang benar-benar syariah, saia mencari yang bedanya paling banyak dengan bank konvensional.
Ada beberapa langkah yang saia lakukan dalam memilih bank syariah. Yaitu:
A. Fase Pemahaman Awal
Pada fase ini saia mencari bank syariah yang bukan sekedar nebeng.
Maksudnya saia langsung mengeliminir bank-bank syariah yang pendiriannya nebeng bank konvensional. Kok segitunya ga percaya? Kalo dibilang kejam sih silakan. Akal saia mengajak berpikir bahwa bank syariah yang nebeng bank konvensional itu memiliki setidaknya dua masalah yang membuat saia ragu.
Pertama, pendirian bank syariah itu mendapatkan dana dari bank konvensional. Dananya dari mana? Dari laba ditahan-nya bank konvensional. Laba ditahan tersebut dapat dari mana? Dari bunga riba-nya bank konvensional. STOP. Sampai disini saja.
Kedua, ketika bank syariah dan bank konvensional induknya sama-sama jalan, apakah benar-benar tidak ada transaksi intecompany? Saia belajar di advance accounting mengenai transaksi downstream dan upstream antara anak perusahaan dengan induknya. Dari transaksi itu lantas ada perhitungan profitnya. Waduh…campur aduk antara konvensional dengan syariah. Alasan ini cukup untuk membuat saia berpaling. Ga Syariah Sori Ah!
Lantas bagaimana caranya saia melihat bank syariah itu nebeng bank konvensional atau ga? Mudah saja jawabnya, saia melihat siapa pemegang saham bank syariah tersebut. Kalo ada pemegang kepeilikan bank syariah itu ada bank konvensionalnya, hem…bank syariah itu masuk dalam recycle bin saia.
B. Fase Pengumpulan Informasi dan Analisis Keuangan
Proses transaksi yang syar’i
Ini adalah proes paling ribet yang saia lakukan. Saia harus meyakinkan diri saia sendiri bahwa proses transaksi harus memenuhi syarat-syarat syar’i. Maka saia pun berniat untuk mengenal lebih dekat bank-bank syariah sekaligus produk-produknya. Alhamdulillah, Allah mempermudah jalan saia. Kebetulan bulan Januari kemarin ada Festival Ekonomi Syariah di JCC. Di situlah saia menggali informasi bank-bank syariah. Hampir semua bank syariah yang buka stand saia datangi dan saia ajak diskusi panjang lebar.
Saia sengaja berdiskusi dengan sedikit pemahaman saia mengenai prinsip syariah. Berdasarkan PSAK Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Bank Syariah, bank syariah harus berasaskan pada prinsip syariah, yaitu kemitraan, keadilan, transparansi dan universal. Dalam proses selanjutnya saia sudah cukup meyakini bahwa bank-bank syariah sudah memenuhi prinsip kemitraan dan universal. Hal ini saia simpulkan dari kemauan bank syariah untuk membuka produk KPR syariah yang notabene menjadi implementasi prinsip kemitraan dan universalitas karena pada dasarnya siapa saja boleh mendapatkan produk KPR syariah. Namun untuk prinsip keadilan dan transparansi, saia harus membuktikannya sesuai pengetahuan yang saia miliki. Dalam hal ini manajemen keuangan dan akuntansi.
Selain itu PSAK juga menyebutkan bahwa karakteristik syariah meliputi:
a) Melarang riba
b) Tidak mengenal time value of money
c) Uang sebagai alat tukar, bukan komoditas
d) Tidak boleh spekulatif
e) Tidak boleh dua harga untuk satu barang
f) Tidak boleh dua transaksi dalam satu akad
Pada dasarnya saia sepakat dengan karakteristik-karakteristik tersebut. Jadi, bank-bank syariah yang bermain di sektor derivative dan pasar uang jangan berharap saia sentuh analisisnya. Buang-bang waktu. Bahkan bank-bank syariah seperti ini sudah saia pastikan masuk daftar hitam saia.
Khusus untuk time value of money, saia memiliki pandangan yang lain. Sebelumnya saia beristighfar kepada Allah jika ijtihad saia ini salah. Menurut saia time value of money itu seperti dua mata pedang. Ia bisa menjadi alat atau metode perhitungan transaksi syariah yang begitu adil. Disisi lain bisa menjadi alat pembunuh yang menjadikan transaksi sarat dengan motif kapitalisme. Nah, saia sendiri berusaha sebaik mungkin untuk menggunakan time value of money sebagai bahan analisis yang membawa keadilan.
Dalam tataran praktik, time value of money digunakan untuk menentukan keuntungan yang disepakati oleh penjual (bank) dan pembeli (nasabah). Kesepakatan keuntungan ini diperbolehkan, terutama dalam transaksi murabahah dan ijarah (‘leasing’ syar’i). Untuk membandingkan time value of money yang adil (idealis) dan kapitalis nanti bisa kita lihat pada perhitungan.
Langkah saia berikutnya dalam menilai proses syar’i transaksi KPR syariah adalah sebagai berikut:
1. Nilai margin
Pada umumnya orang-orang melihat nilai margin (rate) yang terkecil yang paling diprioritaskan. Tidak salah juga. Semakin kecil margin, maka semakin kecil angsuran per bulannya. Maka akan lebih menguntungkan nasabah. Dan memang berbagai bank syariah banyak yang bersaing dalam nilai margin ini untuk menggaet nasabah.
Namun pandangan saia lain. Saia tidak sekedar melihat besar kecilnya margin. Tapi saia mencari nilai margin yang tetap dan disepakati di awal. Nilai margin yang lebih besar tapi tetap hingga akhir periode bagi saia tidak masalah daripada marginnya lebih kecil tapi bisa berubah pada periode KPR.
Lho kan semua bank syariah marginnya tetap? Ehem..ternyata survey saia menyatakan lain. Ada juga bank syariah yang menggunakan nilai margin berbeda-beda. Modusnya misalnya, selama dua tahun atau periode tertentu menggunakan nilai margin yang disepakati antara bank dan nasabah. Jika telah lewat masa dua tahun, nasbah akan dipanggil kembali oleh bank untuk menegosiasikan kembali nilai marginnya. Hasilnya margin baru bisa lebih kecil atau lebih besar. Kondisi ini menurut saia merupakan praktik spekulatif dan tidak transparan. Spekulatif karena nasabah hanya mengetahui fakta selama dua tahun, sedangkan masa-masa kredit berikutnya ia tidak tahu. Tidak transparan karena tidak semua nasabah mengetahui dasar perubahan nilai margin. Bisa jadi bank syariah tersebut mengatakan perubahan margin itu menyesuaikan dengan suku bunga Bank Indonesia (SBI). Tapi saia yakin, mayoritas pengambil produk syariah tidak mengerti bagaimana desain SBI dan fluktuasinya.
Tapi kan perubahan marginnya melalui proses negosiasi antara bank syariah dengan nasabah? Benar. Tapi dalam kondisi seperti itu, nasabah relatif memiliki bargaining power yang lemah. Ya iya, wong nasabah sudah terlanjur menggunakan duitnya bank untuk KPR. Coba kita bayangkan seandainya nilai margin menjadi lebih besar. Berarti angsuran nasabah menjadi lebih besar pula. Jika nasabah tidak setuju dengan nilai perubahan margin yang menjadi lebih besar itu bagaimana? Apa bank akan mencabut kembali KPRnya? Atau bank terpaksa setuju dengan margin awal? Jawabannya tidak diketahui sekarang.
Tak ragu lagi saia lantas mengeliminir bank syariah yang nilai marginnya tidak tetap seperti itu. Dalam tulisan ini, saia mengingatkan kepada bank-bank syariah yang memiliki nilai margin tidak tetap itu. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (An Nisaa’ : 29).
Ayat itulah yang seharusnya dipegang erat bank syariah dan nasabah. Jangan dengan cara yang bathil. Jadikan transaksi atas dasar suka sama suka, bukan dipaksa suka. Bank syariah seharusnya tidak perlu khawatir dengan fluktuasi SBI. Toh produk bank syariah bersinggungan dengan sektor riil secara langsung. Jadi underlying asset-nya jelas. Maka sudah saatnya bank syariah pe-de dengan idealisme syariahnya dan tidak mengekor atau menjiplak bank konvensional.
2. Komposisi pokok dan margin
Fase ini membutuhkan ketrampilan dalam hal perhitungan manajemen keuangan. Tapi sebenarnya cukup sederhana kok. Dengan sedikit memahami time value of money, maka bisa dilakukan perhitungan matematisnya. Dalam kasus ini saia contohkan seandainya kredit yang diambil dari bank syariah sebesar Rp140.000.000 dengan angsuran per bulan Rp2.008.611 selama 15 tahun.
Bank syariah mungkin memiliki metode sendiri untuk menghitung margin (rate). Tapi berdasarkan survey saia hasilnya sama dengan perhitungan time value of money. Pada kasus ini maka dihasilkan perhitungan bahwa nilai margin (rate) sebesar 15,5%. Nah, jika sudah mengetahui berapa nilai marginnya, maka saia dapat menganalisis model kreditnya. Setidaknya ada tiga model kredit menurut saia, yaitu:
1) Model Kapitalis
Model ini dihitung dengan time value of money. Skenarionya perhitungan pokok dan margin angsuran didasarkan pada agregat total KPR (dhi Rp140.000.000). itulah sebabnya saia sebut model ini dengan nama model kapitalis. Nasabah sudah bersedia membayar angsuran, tapi komposisi pokok dan margin dihitung berdasarkan agregat total KPR. Itu kan kurang (atau bahkan tidak) adil namanya. Berdasarkan perhitungan saia, model syariah kapitalis itu sbb:
|
bulan ke |
Angsuran |
pokok |
margin |
|
1 |
2,008,611 |
199,043 |
1,809,568 |
|
2 |
2,008,611 |
201,615 |
1,806,996 |
|
3 |
2,008,611 |
204,221 |
1,804,390 |
|
4 |
2,008,611 |
206,861 |
1,801,750 |
|
5 |
2,008,611 |
209,535 |
1,799,076 |
|
: |
: |
: |
: |
|
175 |
2,008,611 |
1,859,648 |
148,963 |
|
176 |
2,008,611 |
1,883,685 |
124,926 |
|
177 |
2,008,611 |
1,908,033 |
100,578 |
|
178 |
2,008,611 |
1,932,695 |
75,916 |
|
179 |
2,008,611 |
1,957,676 |
50,935 |
|
180 |
2,008,611 |
1,982,980 |
25,631 |
Nah lho…kelihatan aslinya kan? Pada bulan-bulan awal, nasabah itu lebih banyak membayar margin. Sedangkan pengakuan pokok sangat kecil dan baru semakin besar mendekati akhir periode KPR. Kelihatan kan kalo bentuk marginnya piramida terbalik. Pada saat ini mayoritas bank syariah di Indonesia menggunakan cara ini. Dan model ini pula yang digunakan oleh (mayoritas) bank konvensional. Astaghfirullah.
Seandainya saia ingin melunasi KPR dalam setelah lima tahun, maka selama lima tahun itu besarnya pokok yang diakui hanya sebesar Rp17,8 juta. Sedangkan margin yang saia bayar dan akan menjadi pendapatanya bank syariah sebesar Rp102,6 juta. HUH !! Ga fair banget menurut saia.
2) Model Idealis
Sebagai tandingan model kapitalis, saia membuat perhitungan model time value of money yang idealis. Oleh karena nasabah sudah setuju untuk membayar angsuran setiap bulan, maka komposisi pokok dan marginnya pun dihitung per bulan. Artinya pada angsuran pertama, nilai marginnya lebih kecil dibanding nilai pokok. Sudah seharusnya seperti ini. Logikanya, angsuran bulan pertama tentu bebannya lebih kecil dibanding dengan bulan berikutnya. Berdasarkan perhitungan saia, model idealis itu tercermin sebagai berikut:
|
bulan ke |
angsuran |
Pokok |
margin |
|
1 |
2,008,611 |
1,982,980 |
25,631 |
|
2 |
2,008,611 |
1,957,676 |
50,935 |
|
3 |
2,008,611 |
1,932,695 |
75,916 |
|
4 |
2,008,611 |
1,908,033 |
100,578 |
|
5 |
2,008,611 |
1,883,685 |
124,926 |
|
: |
: |
: |
: |
|
175 |
2,008,611 |
212,243 |
1,796,368 |
|
176 |
2,008,611 |
209,535 |
1,799,076 |
|
177 |
2,008,611 |
206,861 |
1,801,750 |
|
178 |
2,008,611 |
204,221 |
1,804,390 |
|
179 |
2,008,611 |
201,615 |
1,806,996 |
|
180 |
2,008,611 |
199,043 |
1,809,568 |
Beda banget kan dengan model kapitalis? Dan ini lebih fair dan menguntungkan nasabah. Pada ansuran awal nasabah sudah membayar pokok yang besar. Bahkan dalam jangka waktu lima tahun nasabah dianggap sudah membayar pokok sebesar Rp83,4 juta dan margin yang diberikan kepada bank syariah sebesar Rp37 juta. Maka nasabah akan lebih ringan jika akan melunasi lebih awal. Jika nasabah melunasi lebih awal maka akan menguntungkan bank syariah, karena payback period-nya lebih cepat dibanding model kapitalis tadi.
Sayangnya tidak ada satu pun bank syariah di Indonesia yang menggunakan model idealis ini.
3) Model Konservatif
Jika kedua model sebelumnya menggunakan time value of money untuk menentukan margin dan komposisi pokok-margin, maka model ini hanya menggunakan time value of money untuk menentukan margin saja. Adapun komposisi pokok-margin dihitung dengan cara straight line (garis lurus). Jadi komposisi angsuran, pokok dan margin setiap bulan sama, yaitu:
|
bulan ke |
angsuran |
pokok |
Margin |
|
1 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
|
2 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
|
3 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
|
4 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
|
5 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
|
: |
: |
: |
: |
|
175 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
|
176 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
|
177 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
|
178 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
|
179 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
|
180 |
2,008,611 |
777,778 |
1,230,833 |
Model ini menurut saia mampu menjembatani gap antara model kapitalis dan idealis. Dengan tidak menggunakan konsep full time value of money, maka bank lebih bersifat konservatif terhadap pendapatannya. Artinya bank tidak mengambil keuntungan jangka pendek yang besar (seperti model kapitalis), di sisi lain bank juga tidak berani meminimalisir jumlah margin jangka pendek untuk lebih menarik minat nasabah. Apabila hendak melunasi KPR setelah lima tahun, maka selama lima tahun itu sudah terbayar pokok sebesar Rp46,6 juta dengan margin yang diterima bank sebesar Rp73,8 juta. Masih cukup besar memang. Tapi model ini jauh lebih baik dari pada model kapitalis. Lihat saja selisih pokok yang diakui!
Pada saat saia hunting KPR saia hanya mengetahui satu bank saja yang menggunakan model ini yaitu Bank DKI Syariah.
C. Fase Pengambilan Keputusan dan Konsekuensinya
Berdasarkan pemahaman awal dan analisis keuangan setiap bank syariah, akhirnya bismillahirrahmanirrahim, saia berniat untuk mengambil KPR Syariah di Bank DKI Syariah. Awalnya memang saia mengira Bank DKI Syariah itu termasuk bank syariah yang nebeng bank konvensional. Tapi ternyata pemegang saham Bank DKI Syariah adalah Pemprov DKI Jakarta dan PD Pasar Jaya. Selain itu bank ini menggunakan model komposisi pokok dan margin yang berbeda dengan bank syariah lainnya. Dalam hal ini model konservatif. Jadi bisa saia katakan pilihan saia ini adalah pilihan yang paling banyak bedanya dengan bank konvensional. Bukan sekedar nama syariah dan akad trnasaksi saja yang syariah, tapi struktur modal dan substansi KPR-nya juga berbeda dengan bank konvensional.
Rupanya dengan hanya niat belum cukup untuk menyelesaikan perburuan KPR saia. Ada konsekuensi setelah saia putuskan mengambil KPR dari Bank DKI Syariah. Konsekuensinya adalah credit limit dari bank yang lebih kecil dibanding bank syariah lainnya. Bank DKI Syariah mensyaratkan credit limit KPR yang dibiayai bank sebesar 80% dari harga jual. Dengan kata lain saia harus membayar DP (down payment/duit panjer) 20% dari harga rumah. Pada bank syariah lainnya rata-rata credit limit bisa sampai 90% atau DP sebesar 10% dari harga jual dibayar nasabah terlebih dahulu.
Permasalahan cash flow yang tidak memungkinkan bagi saia pribadi untuk membayar DP sebesar 20% dari harga jual. Belum lagi ditambah biaya dimuka yang cukup besar juga. Biaya dimuka tersebut antara lain untuk biaya administrasi bank, biaya asuransi jiwa dan kebakaran, biaya notaris, biaya balik nama, biaya peningkatan hak dan pajak (BPHTB).
Tapi saia yakin Allah akan memperingan permasalahan saia ini. Apalagi saia sudah berusaha keras agar tidak terjerumus dalam riba dan transaksi yang bathil. Rentetan doa pun saia dan istri saia panjatkan sing dan malam. Tabungan kami benar-benar tidak cukup untuk membayar cash diawal yang begitu besar. Dan benar memang, doa adalah senjatanya orang mukmin. Satu per satu Allah meringankan permasalahan ini. Alhamdulillah IHSG naik sehingga saia bisa menjual investasi saham saia dengan memperoleh sedikit capital gain. Alhamdulillah Allah memberikan rejeki kepada orang tua saia sehingga orang tua saia berkenan memberikan bailout kepada saia. Dan selanjutnya Alhamdulillah, Allah menggerakkan hati pengelola Baitul Maal Wat Tamwil di kampung saia sehingga bersedia memberikan fasilitas Qardhul Hasan (pinjaman lunak, bahkan dalam kasus saia ini sangat lunak) kepada saia. Dengan rentetan bantuan Allah tersebut, akhirnya tidak ada masalah cash flow dalam KPR saia. Mungkin perjuangan pemenuhan cash flow ini akan saia ceritakan lain waktu, isya Allah.
D. Fase Pemenuhan Persyaratan KPR dan Akad
Fase selanjutnya alhamdulillah relatif lebih ringan dibanding fase-fase yang lain. Persyaratan dokumen-dokumen formal yang diminta bank mulai saia kumpulkan. Dari foto saia dan istri, fotokopi KTP, KK, NPWP, SK CPNS, SK PNS, Surat Keterangan Penghasilan, SPPT dan STTS (dokumen Pajak Bumi dan Bangunan) rumah yang saia beli, surat penawaran dari penjual, fotokopi sertipikat dan IMB, hingga kuitansi asli bermaterai pembayaran DP 20% dari harga jual. Namun demikian pikiran saia begitu gundah apakah KPR saia disetujui bank DKI Syariah atau tidak. Maka rentetan doa pun saia panjatkan. Saia yakin keputusan yang saia ambil ini adalah yang terbaik menurut saia. Tapi saia berharap ini yang terbaik pula dari Allah. Dan alhamdulillah, rupanya Bank DKI Syariah menyetujui KPR lebih cepat dari yang saia perkirakan.
Permasalahan selanjutnya adalah menentukan jadual waktu akad yang melibatkan Bank DKI Syariah, saia (sebagai pembeli rumah), dan penjual rumah. Praktis saia menggantungkan lagi pada kesiapan si penjual rumah. Setelah melalui berbagai tahapan permasalahan (yang relatif lebih ringan daripada fase-fase pencarian KPR ini) akhirnya pada hari Rabu, 6 Mei 2009 kemarin saia sudah melakukan akad dengan lancar di Bank DKI Syariah Cabang Margonda.
Alhamdulillah, akhirnya saia menyelesaiakan tugas saia ini. Saia berharap coret-coretan ini dapat berguna bagi pembacanya. Dalam konteks pragmatis (sesuai harapan seorang teman), pengalaman saia ini dapat dijadikan acuan dalam mencari KPR syariah. Namun saia juga memiliki harapan utopis, yaitu perkembangan ekonomi, akuntansi dan perbankan syariah yang benar-benar idealis syar’i. Hingga sebagai umat Islam kita tak ragu lagi untuk menjadi furqon (pembeda) dengan sistem kafir lainnya. Siapa tahu ada pemikir ekonomi syariah atau ulama yang membaca tulisan saia ini lantas terinspirasi. Siapa tahu ada pemilik lembaga keuangan syariah terinspirasi dengan model-model di atas. Siapa tahu praktisi perbankan syariah mulai memperhatikan substansi manajemen keungan yang saia hitung. Sehingga tidak sekedar mencari untung segunung tapi berisiko meningkatnya non performing finance. Tapi juga memperhatikan potensi percepatan payback period sebagai reward dari nasabah atas kepercayaan yang diberikan bank. Saia hanya berharap keberkahan, keridhoan, dan pahala dari Allah saja.
Mohon maaf jika tulisan ini begitu panjang terpampang di blog. Jujur, saia kesulitan merangkum perjalanan saia ini menjadi satu atau dua halaman. Padahal ketika saia diskusikan dengan beberapa ikhwah (antara lain Hendra, Apri, Dino, Abaz, dan ikhwah se-lingkaran) bisa semalaman suntuk. Dan saia pun mengalaminya tidak kurang dari empat bulan.
Alhamdulillah…Alhamdulillah…Alhamdulillah…
Ditulis dalam Finansial | 24 Komentar »
istriku pujaanku
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Maret 30, 2009
hari ini semakin bertambah cinta saia pada istri saia. penambahan yg saia sendiri tidak bisa mengkalkulasikan secara matematis, karena dari hari ke hari cinta itu semakin bertambah dan bertambah.
adalah seorang teman saia yg sangat membutuhkan pertolongan saia. hingga saking terdesaknya dia, ia tidak bisa datang langsung ke rumah. hanya utusannya yg datang ke rumah. sewaktu teman saia itu menghubungi saia, saia sendiri sedang berada di kantor untuk menyelesaikan agenda saia hari ini. praktis, terjadi missing link diantara kami.
maka saia pun berinisiatif untuk minta bantuan istri. karena teman saia pun begitu mendadak pemberitahuannya, maka berimbas pula pada kondisi psikologis istri saia. agak kaget istri saia ketika menerima kabar dari saia. iya…istri saia sedang sibuk2nya di kantor karena pekerjaannya yg diburu deadline. ga ada orang lagi di kantor, begitu katanya.
saia pun mengharap dengan sangat kepada istri untuk bisa segera menyelesaikan tugasnya. lantas segera pulang ke rumah. hingga istri saia masih dalam perjalanan pulang ke rumah pun, teman saia berkali2 menghubungi saia. saia pun yg sedang berada di jalan beberapa kali menghentikan kuda besi saia. harapan kami benar2 berada pada istri saia seorang.
selanjutnya pada suatu kesempatan entah ke berapa saia menelepon istri saia, ternyat istri saia sudah ada di rumah, sedang menyelesaikan permasalahan teman saia. alhamdulillah ya Allah…begitu yg saia ucapkan di sepanjang jalan menuju rumah. Ya Allah…berkahi istri saia sebagaimana keikhlasannya menolong teman saia.
hingga saia pun semakin cinta padanya. karena istri saia telah menolong agama Allah. yaa ayyuhalladziina aamanuu kuunuu ansharallah. Wahai orang2 yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah. dan semakin bangga saia kepada istri saia. iya, dia telah membantu agama Allah. lho kok agama Allah? kan cuma teman saia. disinilah saia merasakan benar bagaimana agama saia, Islam, telah mengatur segalanya secara kaffah. terngiang2 dalam benak, wata’awanu alal birri wattaqwa wala ta’awanu alal itsmi wal udwan. kami merasakan benar perintah untuk menolong sesama dalam hal kebaikan dan taqwa. dengan menolong sesama, maka yg ditolong akan turut merasakan bagaimana Islam yang kaffah ini menjadi berkah baginya. nah itu kan sama saja meninggikan agama.
begitu indahnya Islam yg saia pelajari secara kaffah. iya, Islam itu kaffah. tidak sekedar mempelajari konsepsi tanpa realisasi. bukan pula merealisasikan sesuatu tanpa konsepsi. tapi Islam mengajarkan saia merealisasikan konsepsi yang saia pelajari.
begitulah saia semakin cinta kepada istri saia. bukan sekedar cinta tanpa landasan remeh temeh belaka. tapi didasarkan pada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
istriku pujaanku
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Maret 30, 2009
hari ini semakin bertambah cinta saia pada istri saia. penambahan yg saia sendiri tidak bisa mengkalkulasikan secara matematis, karena dari hari ke hari cinta itu semakin bertambah dan bertambah.
adalah seorang teman saia yg sangat membutuhkan pertolongan saia. hingga saking terdesaknya dia, ia tidak bisa datang langsung ke rumah. hanya utusannya yg datang ke rumah. sewaktu teman saia itu menghubungi saia, saia sendiri sedang berada di kantor untuk menyelesaikan agenda saia hari ini. praktis, terjadi missing link diantara kami.
maka saia pun berinisiatif untuk minta bantuan istri. karena teman saia pun begitu mendadak pemberitahuannya, maka berimbas pula pada kondisi psikologis istri saia. agak kaget istri saia ketika menerima kabar dari saia. iya…istri saia sedang sibuk2nya di kantor karena pekerjaannya yg diburu deadline. ga ada orang lagi di kantor, begitu katanya.
saia pun mengharap dengan sangat kepada istri untuk bisa segera menyelesaikan tugasnya. lantas segera pulang ke rumah. hingga istri saia masih dalam perjalanan pulang ke rumah pun, teman saia berkali2 menghubungi saia. saia pun yg sedang berada di jalan beberapa kali menghentikan kuda besi saia. harapan kami benar2 berada pada istri saia seorang.
selanjutnya pada suatu kesempatan entah ke berapa saia menelepon istri saia, ternyat istri saia sudah ada di rumah, sedang menyelesaikan permasalahan teman saia. alhamdulillah ya Allah…begitu yg saia ucapkan di sepanjang jalan menuju rumah. Ya Allah…berkahi istri saia sebagaimana keikhlasannya menolong teman saia.
hingga saia pun semakin cinta padanya. karena istri saia telah menolong agama Allah. yaa ayyuhalladziina aamanuu kuunuu ansharallah. Wahai orang2 yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah. dan semakin bangga saia kepada istri saia. iya, dia telah membantu agama Allah. lho kok agama Allah? kan cuma teman saia. disinilah saia merasakan benar bagaimana agama saia, Islam, telah mengatur segalanya secara kaffah. terngiang2 dalam benak, wata’awanu alal birri wattaqwa wala ta’awanu alal itsmi wal udwan. kami merasakan benar perintah untuk menolong sesama dalam hal kebaikan dan taqwa. dengan menolong sesama, maka yg ditolong akan turut merasakan bagaimana Islam yang kaffah ini menjadi berkah baginya. nah itu kan sama saja meninggikan agama.
begitu indahnya Islam yg saia pelajari secara kaffah. iya, Islam itu kaffah. tidak sekedar mempelajari konsepsi tanpa realisasi. bukan pula merealisasikan sesuatu tanpa konsepsi. tapi Islam mengajarkan saia merealisasikan konsepsi yang saia pelajari.
begitulah saia semakin cinta kepada istri saia. bukan sekedar cinta tanpa landasan remeh temeh belaka. tapi didasarkan pada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »
Cinta Karena Apa?
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Maret 22, 2009
dalam sebuah talkshow, seorang presenter bertanya kepada sang suami
presenter: “anda dulu mengharap menikah dengan istri anda sekarang ga?”
sang suami: “hm…dulu iya”
presenter: “pernah ada usaha mengungkapkan cinta?”
sang suami: “pernah”
presenter: “diterima?”
sang suami: “ditolak”
presenter: “kenapa?”
sang suami: “katanya ada cinta tertinggi dalam hidupnya”
presenter: “cinta kepada siapa?”
sang suami: “cinta kepada Allah”
presenter: “anda kecewa?”
sang suami: “enggak”
presenter: “anda putus asa?
sang suami: “enggak”
presenter: “apa yang anda rasakan”
sang suami: “aku makin cinta”
presenter: “kaya’ lagu aja”
sang suami: “he…he…he…”
presenter: “cinta karena apa?”
sang istri: “cinta karena ada cinta yang melebihi cinta saya”
tak lama kemudian, si presenter memanggil sang istri
presenter: “anda cinta dengan suami anda?”
sang istri: “iya cinta”
presenter: “dulu sebelum jadi suami anda, anda tahu kalau dia mencintai anda?”
sang istri: “iya”
presenter: “saat itu anda juga cinta?”
sang istri: “enggak”
presenter: “benci?”
sang istri: “iya”
presenter: “sekarang menyesal ga menikahi dia?”
sang istri: “enggak”
presenter: “lantas apa yang menyebabkan anda menerima pinangannya?”
sang istri: “emm…”
presenter: “anda kasihan lantas menerima dia?”
sang istri: “enggak”
presenter: “karena tak ada pilihan lain?”
sang istri: “enggak juga”
presenter: “lantas cinta karena apa?”
sang istri: “karena cinta-Nya datang tepat pada waktunya”
Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: cinta | 4 Komentar »
naksir
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Maret 20, 2009
dari depan kelihatan bahwa pemiliknya memiliki selera keindahan. warnanya kuning keemasan. tembok pagarnya dilhiasi dg ornamen batu. pintu gerbangnya cukup sederhana. jeruji besi kotak warna hitam dengan model sliding, disisi lain ada pintu masuk kecil yg pakai engsel.
tamannya kecil. dihiasi dengan hijau rumput dan sebuah pot yang bertengger perdu kemangi (hm…enak buat lalapan nih). garasi tanpa atap terlihat lebih bersih karena sudah direnovasi. bukan hanya garasi, teras kecilnya pun meniupkan rasa nyaman ketika kongkow-kongkow disitu sambil melihat ke depan yg persis bertatapan dengan si taman kecil. tapi pemandangan menjadi lebih luas, karena depan rumah bukanlah bangunan. melainkan sungai yang DAS-nya ditumbuhi berbagai pohon dan rimbun bambu. hm…terbayang ketika siang hari panas menyengat dan tubuh penuh keringat, tiba2 datang menggelitik angin sepoi-sepoi diiringi gesekan biola bambu dan gemericik tarian air sungai. menjadikan bayangan suasana kembali ke rumah di kampung.
pintunya masih pintu yang lama. sederhana juga. tapi ketika terbuka membuat hati ini terpesona. terlihat tempat yang sangat lapang. karena ruang tamu, ruang keluarga dan dapur di desain tanpa sekat. seolah sepanjang rumah hanya satu ruangan kelas saja. toilet yg lama pun telah di pugar dan dipindahkan di bagian belakang. tak ada yang berubah dengan dua kamar tidurnya. hanya pewarna kuning emas yang menjadikannya serasi.
tak ada sekat permanen antara ruang tamu dengan ruang keluarga. namun jelas didesain pemisahnya berupa ‘gapura’ yang bagian atasnya dibentuk melengkung dan dihiasi ornamen batu. hm…ruang keluarganya juga begitu luas. karena tak terpisahkan dengan dapur kecilnya. sehingga pandangan seluruh lebar rumah seolah menjadi ruang keluarga semua. dapurnya kecl. melingkar siku-siku meja dapur permanen didesain. di sebelah dapur sengaja dibiarkan sekotak lantai tanpa keramik dihiasi bebatuan yg mengesankan kenyamanan. cahaya mentari menerobos tegak lurus menembus atap kaca diatasnya. lantai sekotak kecil itu menjadi taman dalam ruang.
tepat disebelahnya berdiri tempat melepas penat, mengikhlaskan kepergian racun2 kehidupan, membersihkan badan dan menyegarkan tubuh berikut tempat ide liar terlintas. toilet itu berada di pojok belakang rumah.
jujur, saia naksir rumah ini. tapi saia tidak bisa memutuskan sendirian. saia pun juga tidak tahu apakah ini rumah terbaik yang akan Allah berikan. saia hanya yakin dan sebenar2nya yakin. jika rumah itu adalah yang terbaik bagi saia, tentu Allah akan segera memberikannya pada saia. namun bila bukan yang terbaik,saia yakin, Allah akan memberikan yang lebih baik dan terbaik buat saia dan keluarga.
*** slap…!!! ***
tiba-tiba teringat dengan tulisan yang saia tulis waktu mengisi kejenuhan dikala diklat auditor. Jumat, 1 Juli 2005, pas banget sama milad ibu. saat saia menulis itu, umur saia sudah 22 tahun 28 hari 9 jam 4 menit ….detik. saia menuliskan, saia hanyalah laki-laki yang membutuhkan:
1. kendaraan yang bisa dibawa kemana langkah saia pergi
2. istri yang sholehah, yg senantiasa mendampingi saia dikala sengsara maupun gembira, yang mampu mengingatkan saia dari salah dan dosa, yg mampu memberi input pemikiran dan ketenangan, yang jamil untuk menjaga pandangan saia yg lemah, jamil buat saia saja tapi tdk untuk orang lain, yang….yang….yang…
3. rumah yang lapang, nyaman dan menenangkan
Ya Allah…saia mengharapkan yang ketiga sekarang. Saia mohon dengan sangat…mohon dengat sangat…mohon dengan sangat….(*Kiamat sudah Dekat mode: ON)
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
Cari Kontrakan (Rumah) baru
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Maret 19, 2009
setelah mengantar istriku ke kantor pagi ini, terbersit keinginan untuk bergabung dengan sodara2 yg sedang berjuang. hari ini adalah jadual kampanyenya Pendekar Kebenaran Sejati. nah, yg di Depok tuh lokasinya masih di sekitar GDC arah Cibinong. namun apa boleh buat…Allah memberi tugas yg lain…
saia ditelepon pemilik kontrakan saia. berkali2 beliau minta maaf. beliau menceritakan bahwa ada berita gembira bagi keluarganya, namun bisa jadi berita buruk bagi keluarga saia. pemilik kontrakan saia dimutasi ke Jakarta. sebelumnya beliau ditugaskan di Samarinda.
alhamdulillah…begitu saia bilang. dan tak lupa saia ucapkan selamat. berarti saia harus segera cari tempat tinggal baru mulai hari ini. wallahu alam, apakah ini tanda dari Allah akan mengabulkan doa-doa saia untuk segera mendapatkan rumah sendiri.
bismillah…saia harus segera bergerak. packing sebisa mungkin…dan menyusun jadual untuk mencari informasi kontrakan dan rumah dijual lagi. saia yakin…Allah sedang bergerak lebih cepat dari saia untuk menganugerahi saia rumah yang nyaman dan lapang. sama seperti Allah mengabulkan doa-doa saia dalam meminta 3 kebutuhan laki-laki sebagaimana Rasulullah SAW katakan. dan semoga ini adalah awal dari anugerah Allah untuk mengabulkan kebutuhan saia yg ketiga. amiin…
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
Jahe merah…dagang lagi
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Maret 12, 2009
dua pekan ini alhamdulillah, berhasil mendapatkan beberapa customer X-TOGA Jahe Merah. dan X-TOGA Jahe Merah adalah dagangan saia yg paling laku. kemarin pun mendapat SMS pesanan X-TOGA Jahe Merah dari adik kelas. “Mas, pesen jahe merah lagi ya, 1 buah. titipin ke mas Ap*# aja ya”. Alhamdulillah, begitu batin saia. “Insya Allah sabtu ya akh. tiap sabtu ane ke kampus kok”, tak lama saia balas SMSnya.
saia searching manfaat jahe merah di internet. hasilnya banyak. antara lain:
hangatkan badan, peluruh keringat; cegah & obati masuk angin; tingkatkan stamina & kekebalan tubuh; obat influenza, pusing & migrain; obat radang tenggorokan, bronchitis & asthma; perbaiki fungsi pencernaan & lambung; atasi nyeri otot & rematik; perlancar ASI; regenerasi kulit & cegah penuaan; cegah kemandulan & menambah keperkasaan; perkuat daya tahan sperma & mengatasi ejakulasi dini.
mengingat begitu seringnya saia berinteraksi dg situs2 yg menginformasikan manfaat tanaman obat keluarga, saia pun menyusun visi “X-TOGA menjadi minuman kesehatan masyarakat dunia”. hm…bukan hanya masalah kesehatan. tapi ada unsur memerangi upaya Zionis yahudi untuk mengurangi populasi dunia pada 2012 kelak (baca era muslim). juga berambisi untuk menggantikan minuman karbonasi Coca-cola, dkk, yg telah membiayai peluru Israel. Visi yg mengantarkan pada kesehatan masyarakat dan kemaslahatan umat.
tapi saia sadar, mensosialisasikan manfaat itu tidak mudah. pernah saia nongkrong di masjid kantor saia Jumat kemarin. sambil nunggu sholat Jumat, saia gelar koran dan saia jajakan dagangan saia. tak ada yg liat. lantas hanya beberapa anak kecil yg melihat saia jualan apa. baru kemudian ada satu orang bapak2 mendekat. “jualan apa dik?”. ekstrak tanaman obat keluarga pak. “hm…saya tertarik sama jahe merahnya. tapi nanti setelah sholat jumat ya”. Alhamdulillah, ada calon pelanggan nih.
pengurus masjid lantas membacakan laporan keuangan bulanan dan pengumuman. berarti saia harus menyudahi jualan kali itu. saia bergegas masuk ke ruang utama masjid. mendengarkan khutbah, shalat jumat, berdoa, dan shalat sunnah.
tak terasa waktu begitu cepat berlari. ketika saia selesai sholat sunnah, orang2 sudah banyak yg keluar. saia pun segera keluar & membuka kembali dagangan saia. berharap bapak yg tertarik tadi jadi membeli jahe merah. wah…ternyata yg datang lagi2 segerombolan anak2 kecil sambil berlarian di teras masjid. saia masih sabar menunggu kehadiran si bapak. hm…anak2 kecil yg berkerumun didepan tempat saia jualan itu rupanya menyita perhatian orang-orang. lantas ada seorang bapak mendekat. bertanya mengenai produk yg saia jual. saia menjelaskan, hanya fokus kepada si bapak. namun tak saia sadari bahwa ketika saia menjelaskan, semakin banyak orang mengerumuni dagangan saia. dan sejurus kemudian, saia ber-ijab qabul dengan bapak-bapak itu.
memang, rejeki yang Allah berikan itu tak disangka, tak dinyana. tinggal berusaha mencarinya. lantas akan mendatangi pencarinya. Alhamdulillah…semoga rejeki ini berkah.
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Doa-doa Pernikahan
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 22, 2009
Kemarin ngobrol sama adik kelas yang hendak menikah.
“Mas, redaksi ijab qabul bagaimana sih?” Wah, kalo redaksi itu, sudah aku tulis di blog ini di “Lafaz Ijab Qabul”. tapi kali itu aku membahas dengan lebih nyantai. Lantas aku tanya apakah sudah hafal doa-doa pernikahan? We..e..ee.. rupanya dia belum hafal. kemudian memintaku untuk menuliskan dan mengirimkan lewat email. nah, nanggung kalo cuma lewat email, sekalian aja diposting di blog. semoga bermanfaat.
Berikut ini doa-doa dalam rangka pernikahan:
1. Doa pada saat pertama kali mendatangi pengantin perempuan:
Ada hadits dari Rasulullah SAW:
“Apabila salah seorang dari kamu mengawini seorang perempuan atau membeli seorang budak, maka hendaklah ia memegang bagian depan kepalanya (ubun-ubun) dan hendaklah membaca basmalah dan mendoakan keberkahan serta membaca “Allohumma inni as aluka min khoirihaa wa khoiri maa jabaltahaa ‘alaih, wa a’udzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaih” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan dan kebaikan yang telah Engkau takdirkan kepadanya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan dan kejahatan yang telah Engkau takdirkan kepadanya)”
2. Doa setelah shalat sunnah berjamaah dua rakaat
Disunnahkan bagi suami istri yang baru menikah mengerjakan shalat sunnah dua rakaat berjama’ah, berdasarkan hadits Rasulullah SAW:
“Telah datang seorang laki-laki bernama Abu Huraiz, ia berkata, ‘Saya telah mengawini seorang wanita jariyah yang masih muda dan saya khawatir ia akan membangkitkan amarah saya. Maka Abdullah (yang dimaksud adalah Ibnu Mas’ud) menjawab, ‘Kerukunan itu datangnya dari Allah dan kemarahan itu datangnya dari syetan. Ia (syetan) menginginkan kamu membenci apa yang dihalalkan oleh Allah kepadamu. Maka kalau istrimu datang menghampirimu, perintahkan ia shalat dua rakaat dibelakangmu’. Dalam riwayat lain dai Ibnu Mas’ud ditambahkan, katakanlah “Allohumma baariklii fii ahlii, wa baariklahum fiy, Allohummajma’ bainanaa maa jama’ta bikhoir, wa farriq bainanaa ilaa khoir” (Ya Alla, berkan keberkahan kepadaku (anak istriku) dan berikan keberkahan kepada mereka dalam diriku. Ya Allah, persatukan kami selama persatuan itu mengandung kebajikan dan pisahkan kami jika perpisahan itu menuju kebaikan).
3. Doa sebelum jima’
Ketika melakukan hubungan suami istri disunnahkan kepada pasangan suami istri itu membaca doa:
“Bismillah, Allohumma jannibnasy syaithoona, wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa” (Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkan kami dari syetan, dan jauhkanlah syetan dari anugerah yang akan engkau berikan kepada kami)
Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Apabila Allah mentakdirkan keduanya memperoleh anak, maka anak itu tidak akan mendapat kemudharatan dari syetan selamanya.”
Semoga berkah bagi yang membaca, dan mengamalkannya.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Siapkan Pernikahan | Bertanda: nikah, syariah | 1 Komentar »
Dua Strip Merah
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 18, 2009
Kemarin saia berangkat shalat subuh ke musholla Baiturrahman, musholla di RT saia yg baru saja berdiri & alhamdulillah kalau sekedar shalat berjamaah masih bisa diguakan, diselimuti tanda tanya. Pasalnya setelah saia wudhu dan bersiap ke musholla, istri saia masuk kamar mandi lamaaa bangget. dia bilang sih ga apa-apa.
Setelah selesai menikmati suasana subuh di musholla, saia segera kembali ke rumah. kreeeeeeeetttt…pintu saia buka dan tiba2 saya terkejut ada makhluk putih2 berdiri didepan saia. Makhluk itu menggerak2kan kepalanya seolah mencari lubang diujung kain putihnya. DOENG…DENG…DONG…muncullah muka istri saia dari mukena yg sedang ia pakai.
Saia masih terbelalak, namun sebaliknya saia melihat istri saia berseri-seri. ada apa gerangan dirinya? “Mas…mas…let see…I’ll show you something…”, tiba2 tanganku ditariknya. Istriku lantas menunjukkan sebuah batang kecil seperti lidi.
“Lihat, mas”. tanpa kata tanpa tunda, saia pelototi barang sekecil lidi itu. nampak pada batangnya dua strip merah kecil. Alhamdulillah…alhamdulillah…alhamdulillah…istri saia hamil.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah | Bertanda: Anis Dyah Rahmawati, cinta, nikah | 8 Komentar »
Menjual X-TOGA Temulawak
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 12, 2009
Temulawak memiliki khasiat yang sangat berguna bagi kesehatan. Pada 14 Juli 2005 di Yogjakarta dicanangkan Gerakan Nasional Minum Temulawak (GNMT) untuk menstimulus masyarakat agar memiliki kebiasaan pola hidup sehat dengan minum temulawak.
Namun demikian, masih terbatas sarana untuk membiasakan minum temulawak. Oleh karena itu, keluarga saia memproduksi Ekstrak Temulawak siap seduh. Ekstrak Temulawak ini dibuat oleh kakak ipar dan mertua saia sendiri. Bahan-bahannya masih apa adanya berupa rimpang Temulawak dan gula. Tanpa bahan pengawet. Tanpa campuran bahan kimia lainnya.
Adapun khasiat temulawak antara lain:
obat sakit maag
mengatasi sariawan
obat sembelit
mengatasi susah buang air besar
mengobati penyakit eksim
mengobati hepatitis dan penyakit lever (penyakit kuning)
menyembuhkan asma
mengobati penyakit ginjal
mengobati bisul
mencegah/mengobati kolesterol
mengobati batuk
mengatasi bau badan
menambah nafsu makan
menghilangkan nyeri haid
memperbanyak/memperlancar ASI
membersihkan darah
Adapun efek klinis-nya dapat di baca lebih detail disini. [maklum, bahasannya medis banget]
X-TOGA [Ekstrak Tanaman Obat Keluarga] Temulawak siap seduh, saia pasarkan dengan harga Rp.24.000,- per 500 gram. Insya Allah 2,5% dari harga jual itu akan disumbangkan untuk pembangunan Masjid At Taubah di Sektor Gardenia, Grand Depok City, tempat saia tinggal sekarang.
Apabila ada yang berminat, silakan menghibungi Wipy 08128478603 atau via email wirawanpyu@yahoo.co.id.
Selain X-TOGA Temulawak, saia juga menerima pesanan X-TOGA lainnya seperti Jahe, Jahe Merah, Kencur, Kunir Kuning, Kunir Putih, dan TOGA (‘empon-empon’) lainnya.
Semoga bermanfaat…
Ditulis dalam Kesehatan | Bertanda: Kesehatan, Temulawak, X-TOGA | 2 Komentar »
Hikmah Kereta…Pulang ke Trenggalek
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 11, 2009
Nah kalo cerita ini beda dengan perjalanan kembali ke Jakarta. Kami ga jadi naik Bengawan ke Solo karena tempat duduk habis. Akhirnya kami naik Progo ke Lempuyangan, Yogjakarta. Dengan harapan sampai di Lempuyangan, Kereta Api Sri Tanjung jurusan Yogja-Banyuwangi masih keburu. Dan Alhamdulillah benar2 keburu hingga kami bisa sampai Madiun.
Di atas Kereta Progo, saia dan istri terlelap. nyenyak sekali. apalagi istri yang seharian survei. tak ada cerita spesial di Kereta Progo. kecuali tidur pulas.
Turun di Stasiun Lempuyangan, kami langsung menuju loket untuk membeli tiket Sri Tanjung. Information Desk di Stasiun Lempuyangan tak henti-henti mengingatkan kepada penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan ke Solo-Madiun-Banyuwangi agar segera membeli tiket Kereta Sri Tanjung. 17ribu per orang untuk sampai Madiun.
Kami langsung mencari tempat duduk yang kosong di atas Kereta Sri Tanjung. maklum, tiketnya tetulis tiket bebas. maka siapa cepat dia yang dapat. tapi ga khawatir, karena penumpang belum banyak.
Di depan kami ada ibu setengah baya duduk sendirian. “Beruntung mas dapat tiketnya”, tiba2 ia berkata. “Sri Tanjung bidhalipun rak nggih ngrantos Progo dugi to bu? kersanipun pikantuk penumpang” [Sri Tanjung berangkat bukannya nunggu Progo nyampe ya bu? biar dapet penumpang], saia menanggapi. “Enggak mas, biasanya memang berangkat tepat waktu, ya setengah delapan, beruntung ini tadi Progonya ga terlambat”, dengan bahasa Indonesia medhok si ibu menjelaskan.“Ibu badhe tindak pundi?” [ibu mau kemana?], istri saia bertanya. “Saya mau ke Klaten”, masih dengan logat medhok. tak lama kemudian si ibu mengeluarkan dua buah kardus berisi bakpia pathok. lantas dia mengambil beberapa dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. dia kemudia memindahi kardus2 bawaannya. Oh rupanya dia seorang wiraniaga di atas kereta. Hebat ya ibu itu…
Sepeninggal ibu itu, tempat duduknya tiba2 diduduki seorang bapak setengah tua. tadinya ia duduk dibangku sebelah. tapi ia kindah ke bangku depan kami, ya…mungkin mencari tempat yang longgar. Tapi mukanya sayu. terpancar kesedihan mendalam di wajahnya. Saia pun membuka pembicaraan, “Badhe tindak pundi pak?” [mau ke mana pak?]. “Solo”. “Bapak nyambut wonten Solo?”, tanya saia. “Gimana dek?”. ups…kok nadanya seperti logat sunda, begitu batin saia. Saia ulangi pertanyaan saia, “Bapak nyambut wonten Solo?”. “Maaf dek, saya tidak bisa bahasa jawa”. “Oh…maaf…maaf…pak. Bapak bekerja di Solo?”. “Ini dek saia mau cari dagangan, kunyit kuning yang kecil-kecil itu loh”. “Buat jamu ya pak”. “Bukan, buat pewarna tahu. Kan sekarang teh ga boleh pake pewarna buatan yah. suka dicekal petugas kalo tetap pake pewarna buatan”.
“Tapi namanya juga musibah ya dek ya”, tiba2 air mata si bapak menetes. “Bapak dicopet”, iapun berdiri sambil menunjukkan saku celananya yang koyak. “Tadi bapak ketiduran. waktu bangun orang disamping bapak sudah tak ada”. “Terus bapak jadi beli kunyitnya? kembali ke Bandungnya gimana nanti pak”, tanya saia. “Ini nanti bapak berhenti di Purwosari, semoga disana nanti bapak nemu truk yang ke Bandung, biar bapak bisa numpang pulang”. Saia dan istri berpandangan. Masya Allah…kami tak boleh hanya diam tak membantu. “Bapak Bandungnya dimana pak? saia pernah ke Bandung, ke Cicaheum, trus makan bakso di Padasuka, minum yoghurt di Cisangkuy, main juga ke ITB, ke Masjid Salman”, cerita saia untuk sekedar mengalihkan perhatian bapak dari air matanya. “Bapak di Cibaduyut dek. Iya…di Padasuka itu enak baksonya. terkenal sampai kemana-mana. Bapak juga sering main ke Masjid Salman. Aduh dek…adeeemmm rasanya kali masuk masjid itu. anaknya muda-muda, santun-santun, seneeenngg bapak kalo melihat pemuda-pemuda seperti itu. sudah pinter bisa kuliah di ITB, ngajinya rajin pula”. Perbincangan pun berlanjut karena si Bapak begitu semangat menceritakan pengajian dan interaksinya dengan Masjid Salman. Saia dan istri berulang kali berpandangan, banyak juga tsaqofah bapak ini dengan pergerakan dakwah.
Diantara cerita2 si bapak, tiba2 datang pedagang asongan bakpia pathok. seolah begitu kenal dekat dengan si bapak. bapak pedagang asongan ini ‘nggrapyaki’ [ngobrol ramah] dengan si bapak. lantas si bapak pedagang asongan cerita kepada kami, bagaimana ia bertemu si bapak sunda itu di stasiun. hingga akhirnya mereka dekat seperti saudara sendiri.
“Kalo mas naik kereta ke Yogja, tanya saja sama pedagang asongan bakpia, kenal sama pak Toha. pasti banyak mereka yang kenal. wong umur saia ini sudah tujuh puluh tahun dan pekerjaan saia sehari-hari adalah ngasong begini. Rak yo harus banyak bersyukur, dene bapak umure wis ngluwihi Rasulullah….” Tiba-tiba istri saia meremas erat lengan saia. “Lha iya to, Rasulullah itu umurnya 63 tahun. Lha bapak diberi untung 7 tahun, kok ga bersyukur gimana. alhamdulillah dengan ngasong begini dik, bapak bisa menyekolahkan anak bapak. Empat orang sudah sarjana semua. ya untung lagi to, wong bapak dulu cuma medhot [putus] kelas 3 SR [Sekolah Rakyat], tapi anaknya sarjana semua. Orang tua itu merasa untung dik, kalo anaknya melebihi orang tuanya. jangan sampai anaknya sama atau bahkan lebih buruk dibanding bapaknya”. Saia menyimak hikmat pidato Pak Toha, yang menurut saia saat ini jauh lebih indah dibanding janji-janji politisi muda yg hanya mencari kerja dengan magang jadi Caleg. “Alhamdulillah lagi, dengan ngasong begini bapak bisa naik haji pada tahun 2004. trus umrah tahun 2006″. Saia terbelalak dengan cerita Pak Toha. Masya Allah, luar biasa bapak ini.
Setelah cerita tentang dirinya, Pak Toha kembali membuka pembicaraan dengan si Bapak Sunda. “Lha terus nanti kembali ke Bandung naik apa pak?”, tanya Pak Toha. “Cari tumpangan di Pasar Purwosari pak”. “Terus buat makan sudah ada?” sergah Pak Toha. Si Bapak Sunda hanya diam tak menjawab. “Pak Toha lantas mengeluarkan uang 20 ribu kemudian diberikan ke Bapak Sunda. Binar wajahnya kontan berubah, air matanya bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata syukur dan bahagia, “Jazakallahu khairan katsir, ya pak”. Istri saia kembali meremas lengan saia. Saia sendiri merasakan haru biru seperti ditengah samudera. istri saia berbisik, “Mas…Jazakallah khairan katsir, katanya”. iya…saya pun mendengarnya persis seperti itu.
“Pak Toha ini sudah seperti saudara sendiri dek. Hanya saya belum sempat main ke rumah. InsyaAllah saya dan istri main ke rumah pak Toha ya Pak. Dek sebentar lagi sudah Purwosari. Kalo adek main ke Bandung mampir Cibaduyut ya, cari saja pak Cecep. atau tanya saja orang disana Pak Haji Cecep Nikmat, insya Allah semua orang tahu kok”. Masya Allah…bapak sunda ini…pantesan obrolan dengan bapak sunda ini sarat dengan tsaqofah Islam. rupanya Allah telah memberikan hikmah di atas Sri Tanjung ini. Ketika Sri Tanjung memasuki Stasiun Purwosari, Pak Haji Cecep Nikmat bergegas pamitan pada Pak Toha, saia, dan istri. Pertemuan kami begitu mengesankan seolah saia tak rela untuk meninggalkannya. Saia kejar Pak Haji Cecep Nikmat dan saia bisikkan, “Semoga Allah mempertemukan kita kembali pak”. Kembali air mata Pak Haji Cecep Nikmat menetes, sambil berkata “Jazakallahu khairan katsir, ya dek”.
Sepeninggal Pak Haji Cecep Nikmat, saia dan istri masih melanjutkan perbincangan dengan Pak Toha. hingga akhirnya pak Toha memberikan pesan kepada kami, “Kalian ini masih pengantin baru, harus titi gemi [hati-hati dan hemat]. Jangan noleh kemana-mana, sebelum kamu punya satu hal. RUMAH. pokoknya sebelum punya rumah jangan punya keinginan lain. Pak Toha ini orang kuno, tapi ya begini hasilnya”. Saia pun manggut-manggut sepakat, karena saia sepikiran dengan Pak Toha. “Doakan kami ya Pak Toha”. “Iya, Pak Toha ini bisanya ya berpesa dan mendoakan begitu. Tapi itu jangan dianggap sepele. Seperti pedagang asongan begini. jangan disepelekan. bapak ngasong begini bis menyekolahkan anak, menghidupi keluarga tanpa kekurangan, bisa naik haji dan umrah, terus bisa punya kos-kosan yang sekarang banyak disewa mahasiswa. Ngasong itu ‘ngaso nggo mangan’ [istirahat buat makan]. tapi ya jangan menuntut lebih. adanya nasi sama rempeyek, ya dimakan itu saja. nanti makan enaknya di rumah saja, jangan diluar. Orang ngasong itu penyakitnya tiga lho dik. Mendem [mabok], main [judi], dan medok [zina]. Kalo tiga penyakit itu bisa dihindari, terus ditambah titi gemi, insya Allah berhasil”. Saia semakin curiga, bapak ini pasti bukan pedagang asongan biasa.
Dan benar. “Pak Toha ini kerjaannya ya ngasong begini. daripada jalan-jalan saja di rumah ga dapat apa-apa, lebih baik jalan2 di kereta tapi dapat uang belanja to dik? Ya kalo di kereta panggil saja Pak Toha. Walau ngasong begini, tapi kalo di rumah bapak ini sering dipanggil orang2 buat ngisi pengajian. Mereka tahunya Pak Haji Muhammad Toha”. “Masya Allah”, spontan saia dan istri ucapkan. “Ini tadi Pak Kyai Haji to”. “Ya itu kalo di rumah dik. kalo di kereta, panggil saja saya, Pak Toha”.
Ditulis dalam Kemanusiaan | Bertanda: Kemanusiaan, tarbiyah, tsaqofah | 8 Komentar »
Hikmah Kereta…Balik ke Jakarta
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 11, 2009
Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali menikmati udara pagi di Depok yang segar. Yah…tak beda jauh dengan udara pagi di kampung Trenggalek.
Kemarin pagi menjelang siang, saia dan istri sudah kembali di Depok setelah dag dig dug semalaman di KA Brantas. Ekonomi lagi Ekonomi lagi! Lagi-lagi Ekonomi! Ga masalah, toh saudara saia yg sekarang di ostrali menempatkan KA Brantas sebagai angkutan favoritnya, mpe saia bilang dia masinis Brantas (pis yo Mil…hehehe). Kenapa Dag…Dig…Dug…
Rupanya perjalanan menuju Jakarta kali ini Allah memberikan hikmah dengan cara yang berbeda. Beda dengan waktu pulkam ke Trenggalek hari Kamis lalu. Hari Senin yang mendebarkan.
Saia membawa satu keril penuh berisi barang2 dari Trenggalek, ditambah satu kardus di tangan. Adapun istri saia punggungnya dibebani backpack, di tangan kanannya menenteng satu kardus juga, dan tangan kirinya membawa sebesek keripik tempe khas Trenggalek. Ketika Brantas sampai di Stasiun Madiun, kami segera menuju Gerbong 6 dengan nomor tempat duduk 10D dan 10E. Tak banyak bicara, saia naikkan semua barang2 yang berisi oleh2 dan dagangan saia ke ‘kabin’ Brantas. Setelah itu saia duduk dan merasakan kekhawatiran.
Mengapa khawatir? rupanya yang membuat saia khawatir adalah orang yang duduk di depan saia. Bukan bermaksud menjustifikasi atau menduga2 tanpa alasan. Jika di depan anda ada seorang laki2 kurus memakai anting di sebelah telinganya, memakai kalung rantai, menggunakan cincin di ibu jari kirinya, ditangan kanan juga nampak cincin di jari tengahnya, kuku-kukunya terlihat kutek warna biru baik yang masih utuh memenuhi permukaan kukunya atau yang sudah rusak, tubuhnya dibalut jaket buluk lengan panjang dimana lengannya tidak dikancingkan namun dia tarik2 sepnjang jalan untuk menutupi tangannya, lantas salah satu tangannya menggenggam korek gas dan sesekali menggigil dengan nafas yang berat sambil mengusap2 lubang hidungnya,…kira2 apa yang anda pikirkan? menurut anda siapa orang ini sebenarnya?
Di tengah ke khawatiran saia tiba2 laki2 itu bertanya,“Tanah Abang karo Jatinegara iku dhisikan endi?” [Tanah Abang dan Jatinegara duluan mana?]. “Jatinegara mas”, dalam hati saya mengira bahwa laki2 ini belum pernah ke Jakarta. Dia kemudian diam, saia tak berani menatap wajahnya. Istri saia rupanya takut juga, hingga ia semakin mendekatkan dirinya ke tubuh saia. Saia berusaha menenangkan diri, namun kembali khawatir ketika laki2 itu kembali bertanya, “Sakdurunge Tanah Abang lewat Bogor yo?” [Sebelum Tanah Abang lewat Bogor ya?]. “Enggak lewat Bogor mas, lewat Bekasi”. “Mudun Tanah Abang utowo Jatinegara mbayare podho yo?” [Turun Tanah Abang atau Jatinegara bayarnya sama ya?]. “Iya mas”. Saia pun semakin yakin bahwa laki2 ini belum pernah ke Jakarta.
“Panjenengan nyambut damel wonten Jakarta mas?” [Kamu bekerja di Jakarta, mas?], saia berusaha mencairkan suasana sambil berusaha menutupi kekhawatiran saia. “Enggak! Aku nganggur”. Saia diam. hening lama.
“Wonten Jakarta sampun kagungan jujukan, mas?” [Di Jakarta sudah punya tempat yang dituju, mas?]. Saia semakin berani mengorek informasi dari laki2 ga jelas itu. “Wis. Neng nggone kancaku?” [Sudah. Ditempat temanku]. hening lama.
Saia masih dag dig dug ga karuan. apalagi ketika melihat laki2 itu menggigil, dengan nafas berat, meremas-remas korek gas sambil menarik-narik lengan jaketnya untuk menutupi tangannya, lantas mengusap lubang hidung dengan ibu jarinya beberapa kali. Persis dengan orang yang lagi sakaw.
Saia sadar bahwa saia harus tetap waspada. akhirnya merancang rencana jaga diri dengan istri saia. tentu dengan bahasa yg saia dan istri saia ngerti tapi laki2 tu ga ngerti. of course, in english. kami memutuskan untuk berjaga gantian. waktu istri saia tidur, saia yang jaga. dan sebaliknya, waktu saia tidur, istri yang jaga. dan keputusan untuk waspada sepanjang jalan itu semakin bulat setelah saia dengan tidak sengaja melihat salah satu tangan laki2 itu penuh dengan belas luka sayatan. pantesan dari tadi ia berusaha menarik-narik lengan jaketnya untuk menutupi tangannya.
Ditengah jalan ia meminta ijin kepada saia untuk merokok. setengah takut saia bilang, “Monggo mas, tapi yen pas sepure mlaku yo, soale yen pas sepure mandek, beluke rokok ga metu ko gerbong, mesakne bojoku mas” [Silakan mas, tapi kalo pas keretanya jalan ya, sebab kalo pas kereta berhenti, asap rokoknya ga keluar gerbong, kasihan istri saia mas]. Ia pun menghisap rokok dengan nafas berat dan cepat. hingga tak lama kemudian batang rokoknya habis.
Demikian seterusnya di sepanjang jalan, laki-laki itu telah memberikan pelajaran kepada saia dan istri saia, bagaimana caranya waspada disepanjang jalan
Ditulis dalam Kemanusiaan | Bertanda: Kemanusiaan, tarbiyah, tsaqofah | Leave a Comment »
Ga Syariah Sori Ah!
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Februari 5, 2009
Kemarin saia nekat ke Festival Ekonomi Syariah. kenapa kok nekat? karena awalnya motor masih dipakai istri untuk ke kantor, dan baru siang banget mendekati sore saia baru bisa cabut dari Depok menuju Bintaro. ada agenda singkat di sana. hingga sudah pukul 16.30 saia akhirnya nekad untuk ke FES di JCC. padahal malamnya saia ada pertemuan dan janji untuk membekam seorang kawan. tujuan utamanya adalah mencari pembiayaan KPR yang lebih berkah dibanding perbankan konvensional. plus upaya yang begitu hati2 untuk menentukan bank syariahnya. soalnya kemarin BI menemukan ada bank syariah yang bisnis derivatif, padahal produk itu haram. {Kalo saia jadi gubernur BI, bank syariah ini langsung saia bekukan operasinya, karena merusak citra syariah}
Kalo dulu saia pernah menulis dan berpendapat bahwa praktek perbankan syariah itu masih separuh syariah. tapi saia menjadi sangat memaklumi kondisi yang separuh itu. karena dulu para ulama berdebat apakah bunga bank haram atau tidak. hingga akhirnya daripada berdebat terus, mendingan MUI mendirikan bank syariah {Bank Muamalat}. hingga akhirnya waktu terus berjalan, perkembangan bank syariah pun melejit laksana roket yg diluncurkan Hamas ke Israel [laknatullah]. maka MUI pun mengeluarkan fatwa haram terhadap bunga bank. saia pun memahami bahwa akad ijab qabul itu menjadi bagian yang sangat penting dalam transaksi perbankan. juga kebijakan syariah yang tidak bergerak di sektor derivatif. OK…hingga disini saia sepakat. Ga Syariah Sori Ah!!!
terus terang, dengan berkembang pesatnya perbankan syariah, saia begitu bangga. bangga memiliki din yang rahmatallil’alamin. sehingga membawa berkah bagi kehidupan. namun disisi lain saia khawatir, atau lebih tepatnya tidak rela akuntansi dan ekonomi syariah dikotori atau hanya dimanfaatkan oleh oknum2 yg ga syariah untuk memperoleh keuntungan pribadi. dengan kata lain oknum itu hanya mendompleng nama syariah saja, tapi prakteknya ga syariah dan ga mau menyempurnakan sistem syariahnya. sekali lagi, saia memang begitu posesif dengan syariah. ga rela kalo sistem syariah dikotori. kalo pun usaha untuk menegakkan syariah hingga saat ini masih terus berjalan, OK, saia semakin bangga, berarti ada upaya untuk semakin memurnikan syariah. tapi untuk yang oknum tadi….ga rela saia…ga rela syariah saia dikotori. sekali lagi Ga Syariah Sori Ah!
Nah…kemarin saia mengumpulkan informasi mengenai KPR syariah dari berbagai bank syariah yang buka stand di FES. Hampir setiap stand bank syariah saia sambangi. muter2 hingga lutut lunglai. mpe ada SPG yang hafal nama saia dan masih membujuk saia untuk menabung di bank-nya, padahal stand itu sudah saia tinggalkan sejak lama dan bahkan saia sudah beranjak pulang.
Hasil dari informasi yang saia kumpulkan…..
sementara ini saia belum bisa menuliskan disini. karena masih ada dispute antara persepsi, asumsi, dan perhitungan saia dengan praktek di bank2 syariah. saia berencana untuk mempelajari, menghitung2 ulang, dan mengkaitkan informasi yang saia dapat kemarin dengan filosofi syariah. mungkin perhitungan awal saia masih belum tepat. atau beda asumsi. atau kurang pas dalam mengaitkan filosofi syariah dalam perhitungan saia. jadi….saia masih punya PR mengotak-atik Excel lagi, mengingat-ingat manajemen keuangan lagi, dan banyak belajar lagi……Belajar untuk tetap istiqomah ‘Ga Syariah Sori Ah!‘
Wallahu’alam…
Ditulis dalam Finansial | Bertanda: Islam, syariah, tarbiyah | 8 Komentar »
We will not go down in Gaza tonight
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 15, 2009
This evening I still focus my attention in the sadistic Israel through Palestine. More than thousand people dead, or ‘syahid’ I said. And my heart get beat with sadness after find a Song that composed and performed by Michael Heart. This song dedicated to Palestine people. But I think it more appropriate to slap countries around Palestine, United Nation, and Israel itself. Here the lyric:
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Yes…Palestine and Moslem spirits and powers will never die even though our last breath has to be sacrificed through Intifadha. Allahu Akbar…!!!
Ditulis dalam Kemanusiaan, Uncategorized | Bertanda: empati, Islam, Palestina, tsaqofah | 8 Komentar »
Bukti kami khairu ummah
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 8, 2009
Pagi itu, 9 Muharram 1430 H pas banget sama hari Selasa, 6 Januari 2008, berangkat tiga orang penghuni Pondok Muslim ke Kampus STAN. Bukan untuk kuliah, tapi berkumpul mau berangkat ke UI, Depok. Henderi, Apri & Wipy menuju gerbang Bintaro Kampus STAN. Disana sudah menunggu Wayan. Tak lama kemudian datanglah Haris. Lantas orang terakhir yang ditunggu akhirnya datang jua, Puput. Kami berenam adalah dua tim dari STAN yang akan mengikuti lomba perpajakan di UI, Depok. Tim STAN pertama (suer…ini tim yang diunggulkan, karena persiapannya yang lebih matang dibanding tim satunya) terdiri dari formasi mantap: Henderi, Wayan, Puput. Dan Tim STAN kedua, alias tim Bolodupak, iya…bolodupak, karena tim ini terbentuk H-1 dan persiapan masing-masing yang apa adanya, terdiri dari: Apri, Haris, Wipy.
Kita berenam datang terlalu pagi di UI Depok. Acara baru dimulai pukul 08.30, kami sudah tiba pukul 07.00. Entah terlalu bersemangat atau salah jadual, yah…beda tipis lah. Waktu luang itu, alhamdulillah, kami (tepatnya aku) gunakan untuk mengurangi rasa nervous sebelum lomba. Henderi, Apri, Haris, dan saia sendiri menuju musholla di FISIP UI. Kami menunaikan shalat dhuha.
Bagiku sendiri, dhuha kali itu diwarnai penuh harap. Harapan untuk membuktikan sebagai khairu ummah. Umat Terbaik. Selesai salam pun tak terasa doa demi doa aku panjatkan dengan berkali-kali membaca Ali Imran ayat 110. Firman itu benar-benar menjadi motivasi dan petunjuk bagi kami. Hingga tangan ini tak terasa terangkat mengharap “Ya Allah, sungguh janji-Mu adalah benar. wa’dallahi haqqo. Maka ijinkan kami menjadi agen pembuktian. kuntum khairu ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billahi. Aku yakin, Engkau tidak akan menomorduakan ummat ini, Ya Allah. wa’dallahi haqqo, wa’dallahi haqqo, wa’dallahi haqqo”.
Setelah registrasi ulang, tim STAN sudah berkumpul sesuai timnya masing-masing. Aku hanya bisa merasakan nuansa perjuangan bersama timku. Tim STAN A alias Tim Bolodupak. Penyisihan Lomba kami lalui dengan penuh keyakinan. Hingga akhirnya diumumkan, kedua tim STAN lolos masuk ke Semi Final.
Tim Bolodupak berhadapan dengan Tim UI dan Tim Tri Sakti di Semi Final. Tim STAN kejar mengejar nilai dengan Tim UI. Hingga disaat-saat terakhir Tim STAN ketinggalan angka dengan Tim UI. Kekesalan sempat menghinggapi kami karena berbagai masalah materi. Kami merasa terdholimi. Namun hingga detik itu, aku, kami masih yakin wa’dallahi haqqo. Kami yakin tidak akan menjadi nomor dua. Karena Allah menciptakan kami sebagai khairu ummah. Benar. wa’dallahi haqqo. Di moment terakhir, tim UI menjawab pertanyaan…dan…salah. Sehingga Tim Bolodupak pun melenggang ke Final. Masya Allah. Sejurus kemudian meluncur SMS balasan dari Aceh, istriku tercinta, turut memberikan motivasi dan doa. antum khairu ummah, ukhrijat linnaas.
Tak lama kemudian, manajer kami, Hendra Destiawan, muncul dengan berbunga-bunga. Tim STAN dua-duanya lolos ke Final. Alhamdulillah…aku begitu bahagia. Namun kami sadar, kebahagiaan itu tak boleh melenakan kami. Apalagi pengalaman sempat terdholimi. Kami harus mempersiapkan strategi.
Babak Final merupakan pertempuran tiga tim. Tim STAN A (Tim Bolodupak), Tim Untar, dan Tim STAN B. Ketika MC memandu waktu berdoa, aku, kami masih tetap berpegang teguh. kuntum khairu ummah. Babak Final rupanya menjadi ajang pertempuran sengit bagi kedua Tim STAN. Hingga Tim STAN B terus unggul sedari Babak pertama berakhir. Namun, benar, wa’dallahi haqqo. Pada moment menentukan, Apri menjawab pertanyaan bernilai 300. Menjawab dengan runtutan perhitungan, namun belum ketemu berapa angka pastinya. Refleks tak bisa dihentikan, salah satu tangan meraih kalkulator, tangan yang lain memencet-mencet tombolnya, lantas mulut bertanya, “berapa bulan Pri?”. sepersekian detik kemudian, “lima”. dua jari bergerak begitu cepat memencet tombol angka “5″ dan “exe”. “10 juta, Pri”. Dan nilai Tim Bolodupak pun menjadi paling tinggi. wa’dallahi haqqo. kuntum khairu ummah.
Pengumuman pemenang lomba menunjukkan Tim STAN A, Tim STAN B, dan Tim Untar menjadi juara 1, 2, dan 3 secara berurutan.

Untar - STAN B - STAN A
dan inilah formasi Tim STAN A…alias…Tim Bolodupak

Apri - Haris - Wipy
Terima kasih dan selamat juga atas kerjasama dan perjuangan Tim STAN B.

Puput - Wayan - Henderi
Terima kasih juga buat Manajer kami…Hendra Destiawan.

Hendra Destiawan
Ditulis dalam Kuliah, Uncategorized | Bertanda: Islam, khairu ummah, tarbiyah | 4 Komentar »
Saatnya Indonesia bayar hutang dukungan ke Palestina
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 8, 2009
File sejarah ini saia dapatkan dri milist STAPALA. Bang Difai yang meng-up loadnya. dan saia pikir, sejarah ini sangat penting untuk kita ketahui bersama.
*****
Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?
Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.
Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.
Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.
Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.
M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:
“.., pada 6 September 1944 [sic!], Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut- turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.
Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..”
Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.
Dukungan Mengalir Setelah Itu
Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.
Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur- Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.
Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.
Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih – tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.
Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:
“Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”
Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”
Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita..(Ada bukti foto bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti Palestina, dan pemimpin Mesir supaya kita kenal wajah wajah dari tokoh pembela Indonesia ini)
Statement Tokoh dalam buku ini:
Dr. Moh. Hatta
“Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.”
A.H. Nasution
“Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ‘45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.
“Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur.” (HR Bukhari)
*****
Allahu Akbar…!!!
Ditulis dalam Kemanusiaan, Kenegaraan, Uncategorized | Bertanda: empati, Islam, Palestina, sejarah, tsaqofah | 2 Komentar »
lil bit strange
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 4, 2009

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 7 Komentar »
Omong Kosong Amerika dalam Pencegahan Kecurangan Finansial
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Januari 2, 2009
Berita hari ini memberitahukan bahwa Amerika menjadi biang penolakan atas desakan negara-negara Arab agar PBB segera mengeluarkan resolusi perdamaian atas konflik Israel-Palestina. Juru bicara Amerika itu bilang bahwa desakan Negara-negara Arab tidak seimbang, karena mengusulkan melarang Israel meluncurkan roket, tapi tidak melarang Mujahid Hamas di sisi selatan untuk menghentikan peluncuran roket. Perwakilan AS di PBB itu tadi, si Zalmay Khalilzad, membela langkah Israel menyerang Gaza. Katanya “Saya menyesalkan nyawa-nyawa orang tak berdosa melayang. Namun ini karena Hamas melontarkan roket-roketnya”. Dan saya bilang, roket Hamas gundulmu cepot! Itu orang otaknya di bawah alas kaki kali ya. Ga bisa menghitung roket siapa yang melayang. Pendapat Khalizad itu diamini oleh Kedubes Israel. Menurut dia Israel menyerang Palestina karena Hamas menembakkan roket ke Israel.
Ghawzul fikr…!!! Grr…Ga ingat apa kalo Amerika memiliki sederet catatan busuk berupa kecurangan financial.
Hm…kemarin sore sempat ngobrol ga jelas sama Henderi. “Hend, kalo besuk pas munashoroh teriak-teriak ‘hentikan adopsi terhadap FASB’ gimana?”. “Masuk akal sih mas, tapi kayaknya salah tempat deh”. Nah biar ga salah tempat, masalah keuangan Amerika aku tulis aja disini.
***********
Sedari dulu di Amerika itu memang sudah banyak terjadi kecurangan financial. Hingga akhirnya ada lima orgaisasi profesi di Amerika yang gerah dengan kelakuan kecurangan financial. Pada tahun 1985 lima organisasi profesi American Accounting Association (AAA), American Institute of Certified Public Accountants (AICPA), Financial Executives International (FEI), Institute of Management Accountants (IMA), dan The Institute of Internal Auditors (IIA) mendirikan The Committee of Sponsoring Organizations of Treadway Commission (COSO). Tujuannya menciptakan satu suara dalam komunitas bisnis keuangan mengenai isu sehubungan dengan permasalahan kecurangan dalam pelaporan keuangan. Caranya meningkatkan kualitas laporan keuangan sesuai dengan corporate governance, praktik etis, dan pengendalian intern.
Selanjutnya Oktober 1987 COSO menerbitkan Report of the National Commission on Fraudulent Financial Reporting. Tujuan laporan adalah membahas “causal factors that can lead to fraudulent financial reporting” dan mengidentifikasi cara meminimalkan terjadinya fraud tersebut. Kemudian tahun 1992 COSO menyusun dan menerbitkan Internal Control-Integrated Framework. Masih berlanjut pada tahun 1994 Framework tersebut diamandemen sehingga ruang lingkupnya lebih luas, mencakup management report on internal control. Laporan ini memberikan definisi internal control dan pedoman menilai serta memperbaiki internal control system. Pada tahun 1997 COSO menerbitkan laporan dengan judul: “Fraudulent Financial Reporting: 1987-1997-An Analysis of U.S. Public Companies, issued in 1997.” Laporan ini menyajikan analisis atas financial statement fraud pada perusahaan publik. Laporan ini membahas seluruh aspek fraud menyimpulkan temuannya bahwa: 72% dari kasus fraud yang ditelaah, ternyata melibatkan CEO, nilai fraud rata-rata per periode adalah $25 juta dari rata-rata asset $533 juta, fraud dilakukan rata-rata selama 24 bulan.
Dari laporan itu sudah kelihatan bahwa konsepsi pencegahan kecurangan financial di Amerika itu hanya wacana belaka tanpa ada realisasi yang handal. Laporan yang diterbitkan COSO tersebut rupanya justru bukan menjadi bahan evaluasi, tapi justru menjadi tempat belajar melakukan fraud. Masa-masa berikutnya semakin banyak perusahaan Amerika yang berbuat curang.
First Merchant Acceptance Corp pada 28 September 1999 menyajikan lebih rendah kerugian kreditnya. Pada saat yang sama Pepsi-Cola P.R. melaporkan lebih rendah diskon penjualannya. Sebelas hari sejak terompet tahun baru 2000 ditiup diberitakan Infomix Corp mengakui pendapatan yang seharusnya tidak diakui. Empat bulan kemudian Intile Design, Inc diberitakan pada 23 May 2000 melaporkan nilai persediaan lebih rendah untuk mengurangi pajak property. Masih lanjut pada 14 Juni 2000, Cendant Corporation melakukan kecurangan dengan melaporkan lebih rendah cadangan laba dan mencadangkan laba ditahan. Lima belas hari kemudian, Hybrid/Ikon, Inc menyembunyikan transaksi penjualannya. Bulan berikutnya gantian System Software Associates, Inc melakukan kecurangan yang diketahui pada 14 Juli 2000 dengan mengakui pendapatan yang tingkat kepastiannya rendah.
Rupanya bukan hanya COSO yang geram. Kalangan teknologi informasi pun jengah dengan kecurangan financial di Amerika. Hingga pada Juli 2000 lahirlah Control Objectives for Information and related Technology (COBIT) yang menerbitkan COBIT 3rd Edition Framework. Isinya masih seputar pencegahan dan upaya mendeteksi keuangan dan pengendalian intern terkait dengan teknologi informasi.
Seandainya saya menjadi COSO, tentu sudah ‘getem-getem’ melihat berbagai kecurangan tersebut. Dan rupanya memang COSO semakin gerah, hingga pada Januari 2001 COSO membuat proyek berjudul “Enterprise Risk Management: Conceptual Framework.” Proyek ini akan memberikan pedoman untuk mengembangkan struktur manajemen risiko perusahaaan (enterprise-wide risk management structure).
Namun apa yang terjadi justru malah mencengangkan. Pada akhir tahun 2001 muncullah kecurangan financial abad 21. Enron menerbitkan laporan keuangan triwulan ketiga pada 16 Oktober 2001. Dalam laporan itu dinyatakan bahwa laba bersih Enron telah meningkat menjadi $393 juta, meningkat $100 juta dibandingkan periode sebelumnya. Kenneth Lay, CEO Enron, menyebutkan bahwa Enron secara berkesinambungan memberikan prospek yang sangat baik. Ia juga tidak menjelaskan secara rinci tentang pembebanan biaya akuntansi khusus (special accunting charge/expense) sebesar $1 miliar yang sesungguhnya menyebabkan hasil aktual pada periode tersebut menjadi rugi $644 juta. Para analis dan reporter kemudian mencari tahu lebih jauh mengenai beban $1 miliar tersebut, dan ternyata berasal dari transaksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh CFO Enron. Akibatnya, pada 2 Desember 2001, Enron memohon untuk dinyatakan bangkrut.
Kasus Enron ini pun membuar gerah kalangan politisi. Amerika yang terkenal sebagai Negara kaya tentu tak kehilangan pamor. Untuk emnutupi kasus-kasus itu dan menggambarkan kepada masyarakat dunia bahwa Amerika itu indah dan rapi, diundangkanlah Sarbanes-Oxley Act pada 30 Juli 2002. Tapi ingat, undang-undang ini lahir dengan preambule kecurangan financial juga. Pada Juni 2002, WorldCom me-restate laporan keuangan untuk tahun 2001 ($3 Millyar) dan 2002 ($800 juta) dibukukan sebagai asset, padahal seharusnya expense/beban.
Namun apa yang terjadi setelah diundangkannya SOX, pada 11 September 2002 CEO Tyco, Dennis Kozlowski dan CFO-nya Mark Swartz terindikasi melakukan fraud merampok perusahaan senilai $600 juta. Selain itu, Xerox berdasarkan keterangan KPMG telah berbuat culas dengan melakukan penggelembungan pendapatan hingga 6 miliar dollar.
Cerita masih terus berlanjut. Sebagaimana amanat SOX, yang menyatakan pembentukan Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB), PCAOB menyusun beberapa standard audit. Standar yang diterbitkan terakhir kali adalah Auditing Standard No. 5 pada 12 Juni 2007.
Lagi-lagi kecurangan keuangan tak mau berhenti. Pada tahun 2008 justru meledak krisis global karena kredit perumahan atau yang sering disebut subprime mortage. Bukan hanya itu, pada September 2008 jatuhlah perusahaan sekuritas keempat terbesar di Amerika, Lehman Brothers. Kebangkrutan Lehman Brother disebabkan ketidakmampuan melunasi kewajiban sekitar 60 miliar dollar AS. Dan Tahun 2008 ditutup dengan kasus penipuan senilai 50 miliar dollar AS di Wall Street. Pada bulan Desember kemarin mencuat kasus Madoff. Adalah Bernard Madoff, mantan ketua Nasdaq yang menjadi peran utama. Madoff mengumpulkan dana investasi sebesar 17 miliar dollar AS yang kemudian dikelola Madoff Investment Securities. Dana itu dikembangbiakkan menjadi 50 miliar dollar AS. Akan tetapi dana bejibun itu tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Referensi:
Financial Number Game, bukunya Mulford dan Comiskey
Auditing, bukunya Arens
***********
Semakin saya belajar akuntansi dan auditing, yang mayoritas bukunya berkiblat pada Amerika, semakin mengerti saya bahwa Amerika itu negara munafik.
Ditulis dalam Finansial, Kuliah, Uncategorized | Bertanda: akuntansi, audit, ekonomi, fraud, kecurangan, keuangan | 4 Komentar »
Infaq Untuk Palestina
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 31, 2008
Demi saudara kita di Palestina, mari kita infaqkan untuk perjuangan

“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku Tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, niscaya Allah Mengampuni dosa-dosamu dan Memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung”.
QS. Ash-Shaff : 10-12
Ditulis dalam Kemanusiaan, Uncategorized | Bertanda: empati, Islam, Kemanusiaan, Palestina | 2 Komentar »
Dari Cinta hingga Munashoroh Palestina
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 30, 2008
Suatu saat ketika saia baru turun dari Gunung Kencana, bukan dalam rangka “ngasah kasekten” ato memburu si butak dari gua hantu, tapi hanya ingin mendekatkan diri dan belajar langsung dari alam yang Allah ciptakan, tiba-tiba ponselku bergetar hebat. Saking hebatnya dapat meluluh lantakkan sendi-sendi cinta saia. Lha iya…wong yang sms itu pacar saia. Iya…pacar tercinta yang sekarang mendampingi hidup saia dalam suka dan duka. Maklum di atas gunung tidak ada sinyal. Jadinya pas turun trus ketiban sinyal…diberondong SMS bertubi-tubi. Mayoritas dari istri saia. Itu dia yang membuat saia luluh lantak.
Salah satu SMSnya begini “Terbersit hari ini, ketika mas lagi naik gunung, kapan kita bisa naik gunung bersama? Cintamu ini jadi pengen coba
. kapan kita bisa DS bersama, munasharah di HI, Monas, Al-Azhar…pasti seru!!!”
Terus terang saat itu saia speechless. Seolah ingin mempercepat langkah turun gunung. tapi apa daya, istri saia masih di Aceh. Cepat atau lambat saia turun gunung tetap aja ga ngaruh.
Lantas malam, ba’da maghrib ini, dapat SMS dari mas’ul
“Munashoroh Palestina untuk kader, simpatisan, dan warga Jabodetabek, Jumat 2 Januari 2009. Kumpul di Bundaran HI pukul 13.00. Atribut Pendekar Kebenaran Sejati dan Bendera Merah Putih. Infaq “one man one dollar”
Tanpa pikir panjang, saia langsung mem-forward SMS itu ke istri saia. Beberapa detik kemudian ponsel saia teriak ‘Sukarno berkata…aku bukan budak Moskow, bukan pula budak Amerika, aku adalah budak bagi rakyatku sendiri…Bangkit Pemimpin Muda…Untuk Indonesia Sejahtera’. Ada SMS masuk bergambar perempuan anggun dan cantik sekali menyusuri Pantai Loknga, Aceh.
“Ikuuuutt..! Anis mau ikuuutt..!!”
Istri saia pengen banget ikut munashoroh. Tadi sore dia telepon, cintaku itu membaca eramuslim.com dan alikhwan.net sambil menangis tersedu. Tak rela Palestina dibombardir Israel.
Teruntuk Cintaku. Kamu masih di Banda Aceh, Cinta. Kamu masih harus menunggu SK mutasi itu terbit hingga kita bisa tinggal bersama. Kalo sudah di Jakarta, kamu mau ikut munashoroh, ayo aku ada di sampingmu. Kamu pengen ikut dzikir nasional, ayo aku temani. Sekarang kamu masih harus bersabar dulu ya sayang.
Tulisan ini pertama kali diketik diatas keyboar sambil melototin monitor yang nampilin multiplyku.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: empati, Palestina, tarbiyah | 3 Komentar »
Asal usul SITU GINTUNG
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 29, 2008
ini cerita muncul setelah secara iseng aku bertanya via multiply pada Pak AMin Yadi. ga taunya dijawab beneran (beneran iseng maksudnya). tapi bagus loh. begini asal usul Situ Gintung versi Pak Amin Yadi:
Pada zaman dahulu ada aktivis dirampok di dekat sebuah situ (danau).
Aktivis itu ‘terpaksa’ melawan secara fisik, setelah berbagai upaya lisan dan hati tidak berhasil meng-inqilab (membalik persepsi) preman itu.
Singkat cerita tidak sampai 3 jurus 7 preman itu keok semua.
Aktivis itu bilang, “GINi-gini Tarbiyah bUNG!”
Akhirnya 7 preman itu minta liqo dan mereka ber-8 ( D E L A P A N ) dikenal sebagai Pendekar Kebenaran Sejati.
Markaz mereka kemudian dinamai Situ Gini-gini tarbiyah bung yang disingkat…?
Walah…walah…walah…Pak Amin…ada-ada saja
oiya..trus tu aktivis kecapekan hingga tertidur di Situ Gintung.

He…he…he…enggak kok. ini foto pas latihan OlahRaga Arus Deras (ORAD) bersama STAPALA.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: tarbiyah | Leave a Comment »
Ibu Kos pulang dari Haji
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 28, 2008
Dua hari kemarin ibu kos datang dari Baitullah. Para tetangga silaturahim ke rumah. Kos-ku jadi ramai. Padahal teman2 kos banyak yang pulang kampung. Aku sendiri tidak mudik. Tetap saja di kos, terbayang bersama istriku.
Melihat tetangga yang silaturahim dan kedatangan ibu kos, jad teringat waktu shalat idul adha di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Pagi itu langit Banda Aceh menyapa dengan rintik-rintik gerimis. Aku dan istriku nekad untuk jala kaki ke Baiturrahman. Ga jauh kok, hanya 30 menit jaan kaki dari Kampung Keuramat, tempat istriku kos. Hingga Baiturrahman, kami masih kebagian duduk di dalam masjid. Aku malah mendapat shaf kedua. Tak lama kemudian, ruangan masjid penuh. Lihat saja gambarnya.

Yang lebih hebatnya lagi, ketika shalat ID di mulai, hujan semain deras. Namun tidak membuat jamaah surut. mereka rela hujan-hujanan di luar masjid.
Setelah itu, jamaah khidmat menyimak khutbah Idul Adha. Aku meng-upload khutbah yang disampaikan Prof. DR. TGK. H. Nazir Azis, SE, MBA. Ketika ibu kos datang aku membaca lagi khutbah itu dan membayangkan seolah-olah aku mengikuti prosesi haji. Isi khutbah itu ada di bawah post ini.
Setelah selesai rangkaian shalat ID, luar biasa…lautan manusia membanjiri Baiturrahman. Jika melihat mereka, aku yakin, musuh-musuh Islam akan gentar.

Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 2 Komentar »
Khutbah Idul Adha 1429H di Majid Baiturrahman, Banda Aceh
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 28, 2008
IBADAH HAJI SIMBOL KEMENANGAN ORANG MUKMIN[i]
Prof. DR. TGK. H. Nazir Azis, SE, MBA[ii]
Puji dan syukur kita persembahkan ke hadhirat Allah Swt yang telah memberikan kepada kita berupa nikmat Islam, memuliakan kita dengan seruan haji, menjalankan segala syiarnya yang agung sehingga menjadikan kita terpilih menjadi ummat terbaik untuk manusia. Salawat dan salam marilah kita sanjungkan ke pangkuan junjungan ‘alam Nabi Besar Muhammad Saw, keluarga dan sahabatnya sekalian yang telah berkorban demi perjuangan Rasulullah Saw dalam memperbaiki akhlak manusia dan memerangi taghut.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Hadirin Kaum Muslimin Sidang Jamaah Idhul Adha yang Dirahmati Allah SWT
Di pagi yang berbahagia ini, ummat Islam di seluruh pelosok dunia sedang merayakan dan mengagungkan asma Allah Swt. Mereka berduyun-duyun menuju masjid-masjid, surau-surau, ataupun pergi ke tempat-tempat ibadah dengan satu tujuan yaitu mengucakan talbiyah, menyebut asma Allah, mengabdikan diri kepada-Nya, membesarkan Allah sebagai Pencipta, Pelindung, Penyelamat dunia dan akhirat.
Dalam tradisi Islam, hari raya haji disebut juga dengan hari raya qurban. Disebut hari raya qurban, ini tidak terlepas dari sejarah awal dalam sebuah peristiwa besar yang terjadi pada diri Nabi Ibrahim as ketika diperintahkan Allah untuk mengurbankan puteranya Nabi Ismail as. Pada masa Islam, peristiwa ini menjadi bahagian penting untuk diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan kaum muslimin melalui tradisi kurban.
Hakikat dari ibadah haji sesungguhnya pengabdian diri hamba yang direalisasikan dalam bentuk kegiatan penuh dengan simbol-simbol yang sangat protokoler. Tapi, kedalaman maknanya itu juga tergantung pada pribadi-pribdi orang mukmin itu sendiri. Kita akan menangkap makna-makna yang terkandung dalam ibadah haji. Prosesi haji dimulai dari miqat dengan menanggalkan pakaian berjahit dan berganti dengan pakaian ihram. Maka sejak itu pula seorang mukmin harus menanggalkan pakaian kemewahan, simbol-simbol duniawi, pangkat dan jabatan berganti dengan pakaian ketaqwaan berupa kesabaran, ketabahan, keikhlasan, tawadhuk, tunduk, patuh dengan menafikan sifat-sifat sombong dan arogan.
Selesai miqat dan berpakaian ihram, lalu menuju ke Mekkah untuk melakukan tawaf yang dimulai dari garis lurus dengan hajar aswad. Saat akan tawaf kita mengangkat tangan sambil berucap “Allahu Akbar”. Mengangkat tangan sebagai simbol kita berjabat tangan dengan Allah, yang mengisyaratkan bahwa kita berjanji akan mematuhi apa yang telah diperintahkan dan digariskan oleh Allah menyangkut aturan-aturan dalam hidup ini. Ini seperti halnya kita berjabat tangan setelah selesai dari penandatanganan kesepahaman (MoU) dengan pihak lain, yang juga mengisyaratkan bahwa kedua belah pihak akan berjanji dengan sepenuh hati melaksanakan apa yang termuat dalam perjanjian itu. Tapi, mengapa orang-orang yang telah berikrar itu, masih saja melanggar janjinya. Itu berarti ia belum bertawaf.
Ketika tawaf seseorang melingkari Ka’bah dari empat arah sebanyak tujuh kali. Ini bermakna bahwa kaum muslimin dan muslimat dalam mendekati Tuhannya bisa dilakukan dari berbagai arah. Tetapi tetap tidak boleh mengi’tiqadkan/menganggap bahwa Tuhan itu ada di sana. Karena anggapan itu dapat mengancam aqidah seseorang membawa kepada syirik; Allah dalam keyakinan orang-orang muslim tidak mengambil tempat dan bentuk seperti yang terlintas dalam pikiran manusia.
Hadirin yang Dimuliakan Allah SWT
Secara lebih luas tawaf melingkari Ka’bah bersimbolkan hidup dan kehidupan seseorang mukmin tidak boleh keluar dari jalur yang telah ditentukan oleh syariat, kemanapun ia berputar menjalani hidup dan kehidupan ini. Kehidupan itu sendiri adalah silih berganti, ada yang baru hadir dan ada yang berada di tengah perjalanan serta ada pula yang tinggal di ujung kehidupan. Walaupun demikian, yang nampak bagi kita adalah bahwa mereka berada dalam suatu arena yang sama, yakni dalam lingkaran Ka’bah. Bertawaf mengelilingi Ka’bah dari keberagaman suku bangsa, perbedaan warna kulit dengan suasana berdesak-desakan, dapat memberi arti bahwa untuk menggapai tujuan hidup haruslah berani bersaing dengan bangsa-bangsa dan suku-suku. Meskipun harus menjalani hidup dengan persaingan, tapi, tetap saja tidak dibenarkan bermain di luar jalur, apalagi sampai merampas hak-hak orang lain. Tida boleh sedikitpun menyakiti dan mendhalimi orang lain. Jalan hidup ini sesuai aturan main yang telah digariskan Allah Swt. Jangan melanggar garis “hijir Ismail” saat melaksanakan tawaf.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Hadirin yang Dirahmati Allah SWT
Selesai melaksanakan tawaf dilanjutkan dengan sa’i. Sa’i dalam konteks ibadah haji berarti lari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah. Dalam konteks yang lebih luas, sa’i dapat berarti berusaha mencari kehidupan baru. Prosesi ini mengenang kembali usaha keras yang dilakukan ibunda Ismail as, Siti Hajar, saat mencari air untuk kelangsungan hidup puteranya. Dalam menjalani hidup harus dimulai dengan jalan yang bersih dan insya Allah akan memperoleh keberkahan. Ketika Siti Hajar mengakhiri sa’i di bukit Marwah berarti menggambarkan kesejahteraan dan kedamaian. Makna ini dapat dipahami bahwa seorang muslim dalam berusaha haruslah dengan cara-cara yang bersih, halal, tidak menyakiti orang lain, dan jika pun ada persaingan maka persaingan dilakukan dengan sehat, dan jujur sehingga hasil usaha yang diperoleh akan berdampak untuk kesejahteraan dan kedamaian.
Ibadah sa’i juga memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan muslim dalam mencari nafkah, di samping titah Allah untuk menunjukkan kepada ummat muslim bahwa alam semesta ini berjalan sesuai dengan hukum alam (sunnatullah). Ini bermakna meskipun Siti Hajar sudah tahu dan paham benar situasi dan kondisi alam di sekelilingnya, namun ikhtiar sebagai manusiawi tetap ia lakukan sa’I agar memperoleh seteguk air. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak pernah putus asa; terus berjuang sampai menggapai tujuan.
Kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail as, telah mengajarkan ketauhidan kepada kita bahwa ada karunia Allah yang diberikan melalui sebab musabab, dan ada pula yang tidak. Dalam sejarah, diriwayatkan bahwa di tempat yang gersang lagi tandus Nabi Ibrahim as meninggalkan Siti Hajar dan Ismail yang sedang bayi. Ketika Ibrahim hendak bergegas pergi meninggalkan mereka berdua, Hajar bertanya, apakah kami akan engkau ditinggalkan pergi di lembah ini? Hatinya di relung sedih karena harus meninggalkan keluarganya di lembah yag tandus. Nabi Ibrahim as tidak dapat menjawab atas pertanyaan isterinya itu. Lalu Hajar mengulang bertanya, “Kepada siapa engkau titipkan dan tinggalkan kami di lembah ini? Adakah Allah telah memerintahkanmu?”. Ibrahim masih saja diam seribu bahasa, dia belum dapat memberikan jawaban, namun yang terlihat seakan sinar matanya redup dan berkaca-kaca, sesekali ia menatap ke langit. Setelah ia mendapatkan hidayah, barulah ia menjawab pertanyaan isterinya dengan anggukan kepala sebagai isyarat membenarkan bahwa apa yang dilakukan itu adalah perintah Allah Swt. Isyarat itu telah melegakan hati Siti Hajar dan ia menyambutnya dengan penuh keimanan dan ketabahan. Karena Siti Hajar yakin Allah Yang Maha Kuasa lagi Pemurah pasti tidak akan mengabaikan dan meninggalkannya seorang diri.
Gambaran hidup bermitra sedemikian kuat dan besar pengaruhnya terhadap tugas-tugas suami, dengan catatan keimanan tetap harus kokoh agar jangan ada pihak-pihak yang nampaknya membantu, tapi pada hakikatnya menjerumuskan. Inilah hikmah sa’I yang telah disyariatkan kepada kita dalam rangkaian menyelesaikan ritus-ritus ibadah haji. Ada saat-saat harus melakukan usaha maksimal dan ada pula saat-saat kita harus melakukan kepasrahan secara total kepada Allah Swt. Dengan demikian Islam tidak pernah menawarkan jalan pintas, jalan cepat untuk sukses tanpa usaha, apalagi dengan jalan merampas hak-hak orang lain agar kelihatan “wah” di mata manusia, tetapit erburuk di mata Allah Swt. Islam menawarkan cara-cara alamiah, agar mudah ditiru dan bisa dilakukan oleh siapapun.
Allah Swt melalu ritus ini ingin menyempurnakan tahap demi tahap yang harus dilakukan manusia ketika menginginkan sesuatu kesuksesan, sekaligus untuk memberikan pemahaman, pelajaran dan hikmah kepada kita tentang masalah yang alami, yakni apabila kita sudah menempuh berbagai ikhtiar dan ternyata menemui jalan buntu, maka seorang mukmin dilarang untuk berpatah semangat apalagi putus asa karena Allah selalu memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya. Prinsip ini dijelaskan dalam Al Quran dalam surah An-Naml, “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang ang dalam kesulitan apabila ia ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya”. (QS. An-Naml (27):62)
Perhatian dewasa ini, gaya hidup putus asa dianggap bentuk perarian yang mujarrabah, lewat pergi ke tempat-tempat unkar, narkoba, heroin, gantung diri, dan lain-lain ikut telah mewarnai kehiduan masyarakat. Tidakkah kita renungkan dan belajar dari perilaku Siti Hajar bersama anaknya Ismail ketika susahnya mendapat seteguk air? Sedangkan kita hidup ditengah alam dengan lahan yang subur, di tengah-tengah keramaian dan di era transportasi yang tinggal pilih. Apa yang membuat kita harus berputus asa? Jawabannya adalah kita ingin dapat cepat dan ingin lewat jalan pintas. Kita sangat ambisius menguasai alam dengan cara yang salah, lihat saja hutan sudah gundul, penebangan tanpa batas, sehingga menyebabkan banjir, tanah longsor dan berbagai kejadian yang serupa terjadi di mana-mana. Kenapa kita serakah menguasai seluruh sumber kehidupan tanpa peduli yang halal dan haram. Jika demikian, dimana letak makna sa’I dan makna tawaf yang telah diajarkan kepada kita dalam ibadah haji itu.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Hadirin yang Dirahmati Allah SWT
Wukuf di Arafah merupakan ritual haji yang sarat nilai dan tak kalah pentingnya bagi manusia. Arafah secara bahasa berasal dari kata ‘arafa yang berarti mengenali atau mengetahui. Arafah dapat dipahami sebagaimana mengenal pribadi masing-masing mengenai dari mana kita berasal, dan hendak kemana kita akan kembali. Pengenalan terhadap jati diri manusia sangat penting agar perjalanan hidup yang tidak gratis melainkan harus dengan pertanggungjawaban ini dapat terkontrol.
Tanpa pengenalan atas jati diri, seseorang sering kali terjerumus ke dalam sifat-sifat tercela seperti sombong, egois, dan lain-lain. Ketika sifat-sifat itu sirna dari diri manusia maka ia akan menemukan kembali jati dirinya sehingga dengan mudah memahami siapakah Tuhannya. Al Aqqad dalam kitabnya “Manusia dalam Al-Quran” mengemukakan bahwa setiap muslim penting sekali mengenali dirinya. Ia menyatakan “Kanali siapa dirimu”. Amanah ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh baginda Rasulullah Saw bahwa barang siapa yang mengenali dirinya pasti ia akan mengenali siapa Tuhannya.
Training untuk mengenali jati diri lewat media wukuf di Padang Arafah itu harus mampu mengantarkan kita kepada perubahan sikap setiap saat mengenang makna hidup secara hakiki. Seringkali kita sulit mengajak hati untuk berdialog dengan diri, karena tertutupi oleh hawa nafsu dan kemauan hawa nafsu syatainiyah. Akan tetapi semua orang saat wukuf di Arafah kebekuan hawa nafsu iitu bisa mencair dengan karena rahmat Allah SWT. Itu sebabnya kegiatan ritual wukuf di Arafah menjadi rukun haji yang pelaksanaannya tidak bisa diwakilahkan kepada orang lain walaupun seseorang harus ditandu karena sakit atau alasan lainnya. Kecuali itu waktu untuk pelaksanaan wukuf sangat khsus dan terbatas. Artinya tidak bisa orang melaksanakan di sembarang waktu. Ketentuannya sangat jelas kapan ia harus berada disana dan kapan pula harus meninggalkan Arafah. Wukuf dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, mulai ba’da zawal (setelah matahari tergelincir) hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Demikian pentingnya wukuf sampai-sampai Rasul SAW bersabda, “Alhajju Arafah” artinya haji itu adalah arafah.
Dilihat secara historis, wukuf di Padang Arafah merupakan renungan kembali tentang beberapa peristiwa besar yang pernah terjadi antara lain:
1. Bertempat di Jabal Rahmah, Padang Arafah, pertemuan kembai dua manusia pertama yaitu Nabi Adam as dan Siti Hawa yang pernah terpisah dalam waktu yang sangat lama setelah Allah menurunkan mereka berdua dari surga;
2. Mengenang kembali peristiwa Nabi Ibrahim as ketika mendapatkan perintah dari Allah untuk mengorbankan puteranya Ismail as. Saat itu Ismail baru tumbuh remaja dan tumpuan harapan, bagaimana perasaan kedua orang tuanya di satu pihak dan bagaimana harus mentaato perintah Allah di pihak lainnya. Inilah ujian keimanan yang harus dialami oleh Nabi Ibrahim as di Padang Arafah. Suatu ujian yang membuktikan bahwa Allah SWT baginya merupakan satu-satunya Dzat yang telah dipilih dan paling dicintai melebihi yang lain, tidak hanya dengan kata-kata melainkan juga telah dibuktikan dengan perbuatan. Dalam proses akan dilaksanakan perintah itu, Nabi Ibrahim as tidak ingin membuat kejutan psikologis kepada puteranya, melainkan ia mengajak bicara dengan meminta pendapat dan pandangannya tentang keputusan yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Manajemen pengambilan keputusan lewat dialogis ini diabadikan Allah di dalam Al-Quran surah As-Shaffat, 102, “Maka tatkla anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia menjawab : Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat: 102)
3. Mengenang perjalanan Rasulullah SAW ketika saat-saat akhir menerima risalahnya ditandai dengan turunnya wahyu terakhir Surat Al Maidah ayat 3 sebagai isyarat penyempurnaan risalah Islam;
4. Ibadah ritual Arafah adalah gladi resik peristiwa akbar bagi ummat manusia di Padang Mahsyar; hari kebangkitan kembali manusia dari kubur. Itulah sebabnya ritus Arafah begitu penting agar kita dapat mempersiapkan bekal untuk menjalani hidup di akhirat yang sifatnya kekal abadi.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Perenungan yang menjadi esensi ritus wukuf itu diharapkan dapat mengantar manusia menjalani sisa-sisa hidup yang lebih baik dan bermakna. Siapapun akan menyadari bahwa hidup ini sangat singkat, terbatas dan harus secara produktif diisi dengan hal yang baik, yang berkaitan dengan hablumminallah dan hablumminannas. Sesungguhnya apa yang ingin disimbolkan dalam wukuf di Arafah ini adalah peringatan terhadap awal dan akhir dari kehidupan ini.
Peringatan kehidupan awal yang ditandai pertemuan antara Nabi Adam as dan Siti Hawa, sementara kehidupan akhir ditandai dengan wahyu terakhir serta haji pamitan dimana Rasulullah SAW pamit dengan kaum muslimin dan para pengikutnya. Ritual ini sekaligus mengajak ummat manusia untuk merasakan suatu gladi resik, bagaimana seluruh manusia dihamparkan dalam kehidupan setelah mati. Semua manusia yang berwukuf memakai pakaian putih tanpa jahitan, seakan0akan situasi ini mengantarkan kita ke dalam kebangkitan kembali. Oleh karena itu, ritus wukuf adalah proses penyadaran diri tentang akan adanya kehidupan sesudah mati dan kehidupan itu harus berbekal ketaqwaan untuk keabadian.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Hadirin yang Dirahmati Allah SWT
Selesai wukuf di Arafah melanjutkan perjalanan ke Mina dengan terlebih dahulu mabit (singgah) di Musdhalifah utnuk memulihkan kembali kekuatan fisik sambil memungut batu-batu kecil sebagai persiapan melempar jamarah. Lempar jamarah setelah melaksanakan pertobatan di Arafah merupakan manifestasi untuk menyingkirkan syeitan-syeitan penggoda. Lemparan syeitan berulang kali dilakukan, ini menandakan syeitan menjadi musuh manusia di setiap masa. Sikap ini mengingatkan kita untuk kembali merenungkan peristiwa Nabi Ibrahim as dan Ismail as, saat melempar syeitan yang mencoba menggoda mereka berdua agar ingkar terhadap perintah Allah SWT. Sejak hari itu Nabi Ibrahim as telah meninggalkan pesan kepada puteranya dan orang-orang yang hidup setelah mereka bahwa sampai kapanpun syeitan-syeitan itu adalah musuh nyata bagi ummat manusia yang selalu harus diingat, dimusuhi dan diperangi.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Hadirin yang Dirahmati Allah SWT
Di akhir khutbah ini, khatib ingin mengajak kita semua untuk merenungi kembali peristiwa nabiyullah Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail as. Ketika nilai-nilai sejarah itu dapat diambil hikmah dan dimaknai dalam kehidupan masyarakat kita saat ini maka pastilah akan menemukan kedamaian dan ketenteraman diri sehingga akan memberi manfaat dan pengaruh yang besar dalam mengisi pembangunan bangsa.
[i] Disampaikan pada Khutbah Idul Adha pada 10 Dzulhijjah 1429H (8 Desember 2008) di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam
[ii] Direktur Program Magister Manajemen Universitas Syiah Kuala dan Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kualan, Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: Aceh, Baiturrahman, Islam, khutbai idul adha | 12 Komentar »
Pers Munafik
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 27, 2008
Semalam aku membaca running text di salah satu televisi swasta. Bunyinya begini : “Roket nyasar di jalur Gaza, 2 orang mati”
Nah kalo membaca berita itu, masuk akal apa ga ya? Aku berani bilang itu adalah politisir media. Dengan kata lain, PERS MUNAFIK. Coba dipikir dengan akal sehat. Pertama, mana mungkin roket nyasar di Gaza, pemukiman padat penduduk, kok yang mati hanya dua orang. Itu pasti rekayasa Israel. Yang ada justru terjadi pembantaian bangsa Palestina oleh Israel dengan meluncurkan roket pembunuhnya. Kedua, mana mungkin senjata berbahaya seperti roket ditembakkan begitu saja tanpa arah. Ibarat mobil tanpa sopir. Mana isa tu roket jalan sendiri.
Memang kemungkinannya hanya dua: PERS MUNAFIK atau PERS BODOH yang mikirnya pake dengkul.
Padahal kenyataannya:
“Saudara-saudara kita di Gaza dibantai, dibombardir oleh Israel (la’natullahi ‘alaihim), hampir 200 mayat-mayat bergeletakan.”
Kita harus mengutuk kebiadaban ini. Adakan doa Qunut Nazilah untuk keselamatan PALESTINA dan kumpulkan DANA buat mereka. LAWAN ISRAEL…!!!
Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: Palestina, Pers | 4 Komentar »
Karakter rumah muslim
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 26, 2008
Jujur, sungguh berat sangat menahan rasa rindu pada istriku. Tapi kerinduan ini seharusnya tidak membuatku futur. Aku harus bangkit. Aku harus mengisi waktu-waktu kerinduan ini dengan aktivitas yang memberikan kebaikan. Seperti pagi ba’da shubuh ini. Di As Sa’adah, rutin setiap Sabtu pagi, ada ta’lim. Yang mengisi kali ini adalah Ustadz Saman.
Pada kesempatan ini dijelaskan mengenia karakteristik rumah seorang muslim sehubungan dengan syi’ar. Setidaknya ada tiga karakter rumah syi’ar itu:
1. Dihiasi dzikir dan shalawat
Rasulullah pernah mengumpamakan rumah yang dihiasi dzikir dan tanpa hiasan dzikir laksana manusia dengan nyawa dan tanpa nyawa. Masya Allah, jauh sekali bedanya ya…antara hidup dan mati.
2. Tempat melakukan ibadah shalat
Rasulullah juga menuntunkan untuk menjadikan rumah sebagai tempat shalat, sehingga tidak seperti kuburan. Namun perlu diketahui, shalat yang dimaksud adalah shalat sunnah. Adapun shalat wajib itu lebih utama di masjid. Ini sesuai dengan kaidah bahwa ibadah yang wajib itu selayaknya diumumkan, sedangkan yang sunnah disembunyikan. Seperti halnya zakat yang dilakukan secara terbuka sehingga setiap orang bisa mengetahuinya. Lain halnya dengan sedekah. Ibarat tangan kanan member, tangan kiri tidak mengetahui.
3. Membaca Al Quran
Membaca Al Quran di rumah bukan sekedar sebagai sarana syi’ar. Tapi juga memiliki faedah untuk mengusir setan. Karena ketika dibacakan Al Quran maka setan akan kocar-kacir.
Hm…alangkah indahnya rumah seperti itu. Aku mengharapkannya. Dan ingin segera menghiasinya bersama istriku. Membaca Al Ma’tsurat, qiyamullail berdua, dan saling tasmi’ tilawah.
Bismillah…aku akan segera mendapatkannya. Amin.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Leave a Comment »
Kangen Sore
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 26, 2008
Cintaku…
Sore ini aku masih belum beranjak dari depan layar monitor. Aku begitu merindukanmu. Melihat foto-foto kita. Hingga tiba-tiba berhenti ketika foto kita bermain ayunan di Pantai Gapang, Pulau Weh. Saat itu seolah tak ada kesedihan yang tersirat diantara kita. Seolah kebersamaan untuk selamanya. Dan kini suasana itu melayang. Berganti kesedihan karena kerinduan yang mendalam.
Cintaku…tak berhenti harapan-harapan ini mengayuh dayung agar segera sampai pada pulau indah bernama kebersamaan.
Sore ini…aku begitu merindukanmu…

Teruntuk istriku yang tak pernah lekang mengikutkan doa setelah ba’da shalat demi berkumpulnya kami kembali oleh Allah.
Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: Aceh, Anis Dyah Rahmawati | Leave a Comment »
Chat…sendiri
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 26, 2008
Pagi ini aku membuka kotak chattingku. tak kulihat nama istriku aktif disana. aku sangat merindukannya. padahal beberapa menit yang lalu percakapan kami dihentikan oleh kecongkakan pulsa.
Wipy Yuwana: cintaku…
Wipy Yuwana: aku melihat butiran2 daun cinta itu turun di kotak chat ini
Wipy Yuwana: tak ada habisnya
Wipy Yuwana: seperti cintaku padamu sayang
Wipy Yuwana: diam tanpa kata pun aku bisa merasakannya
Wipy Yuwana: begitu indah
Wipy Yuwana: dan terkadang menyiksa jika sadar kau tak dekat ada
Wipy Yuwana: seperti ini kah cinta sayangku
Wipy Yuwana: tak cinta jika tak merasakan tersiksa
Wipy Yuwana: maka cinta dan pahatan2 meyiksa inilah yang menemaniku
Wipy Yuwana: mengingatmu dalam kerinduan
Wipy Yuwana: dalam kesyahduan
Wipy Yuwana: hingga menantikan kebersamaan
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
Sepulang Diklat Lapangan STAPALA 2009
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 23, 2008
Malam ini…telah sampai di Posko STAPALA, 41 orang dari perjuangan di Gunung Kencana.
Mereka disambut slayer merah dalam formasi lingkaran.
Dengan mata tertutup, mereka mendengarkan bisikan mesra dari slayer2 merah.
Masih dalam kegelapan mereka menuju lokasi upacara penutupan, di depan DP
Ketika mereka membuka tutup matanya, tiba2 disambut api unggun yang menyala hebat di depan mata
Upacara penutupan Diklat Lapangan pun dibuka.
Perjuangan masih terus harus dilanjutkan setelah siswa Diklat kembali dikalungkan slayer hijau
“Jalan Kita Masih Panjang…coba kuatkan dirimu…jangan berhenti disini” (Dewa 19’s song)
selanjutnya berbaur menjadi satu…slayer merah dan slayer hijau
dalam rangkaian piring makanan yang memanjang di depan Posko
makan malam bersama…
penuh dengan kenikmatan…
penuh kehangatan…
Selamat datang calon2 saudaraku
Selamat datang calon pemilik SPA 2009
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Udah dapat Dosbing
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 23, 2008
Alhamdulillah…
Udah dapat Dosbing yang bersedia membimbingku nyusun skripsi tentang teori akuntansi.
Dosen yang pernah ngajar aku pas semester matrikulasi itu langsung bersedia. hehehe…tapi ada syaratnya, harus bener2 serius. serius bener.
hhee…hh…jadi semakin tertantang
Bismillahirrahmanirahim…
penelitian ini segera dimulai….
semoga bermanfaat bagiku, bagi istriku, bagi almamaterku, bagi adik kelasku, bagi pembacanya, bagi umat ini…
Amin…
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Outline Skripsi
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 23, 2008
Lagi konsen buat Outline Skripsi
hanya kepikiran bidang Teori Akuntansi
Untuk Judul sih sudah ada tiga kemungkinan
Tapi belum dapat Dosen Pembimbing
Rencananya hari ini mau menemui salah satu dosen yang mengajarku pas masih di semester matrikulasi dulu
Keep moving…keep going…keep thinking…keep writing
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Ga Lolos Tes Bea Siswa S2
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Desember 22, 2008
Akhirnya aku ga lolos beasiswa S2 dari BPK
Jujur…sedih rasanya, tapi mungkin ini adalah tanda agar aku harus fokus pada agenda-agenda penting dalam jangka waktu dekat ini.
seperti kata seniorku…bahwa aku masih harus menata hidup perlahan, tapi pasti.
dan yang pasti…Allah tahu yang terbaik dan akan memberikan yang lebih baik padaku. Amin.
hm…pengen cerita tentang Sabang…trus Aceh pas Idul Adha kemaren…
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Pemuda Islam Pecinta Alam
Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 26, 2008
Bahagianya mereka…
Mengetahui seorang Akhwat berjilbab berhasil mendapatkan juara 2 dunia kompetisi panjat dinding dunia.
Alangkah senangnya mereka…
Melihat para pemuda mencintai alam ciptaan Rabb-nya
Alangkah gembiranya mereka…
Para pemuda yang menjaga staminanya hingga siap untuk jihad kapan dan dimana saja
Alangkah beruntungnya mereka…
Para pemuda yang mendaki gunung, mengarungi jeram, menyusuri gua…tapi tak lupa dengan kebutuhan shalatnya
Tulisan ini dibuat setelah melihat penghargaan kepada 8 pemuda yang menjadi sumber inspirasi.
Setidaknya ada cita-cita bahwa Islam itu dekat dengan alam. Jadi jangan pisahkan alam dari pengelolaan berdasarkan Islam. Siapa bilang pecinta alam jauh dari Islam. Aku akan berteriak tidak. Aku adalah pemuda Islam yang mencintai alam.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 2 Komentar »
Mau Tes Kok tetep Mabit
Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 22, 2008
Semalam aku bertemu teman dekat. Nampak raut mukanya penuh tanda tanya.
“Py, katanya besuk (23 Nov 08.red) kamu mau tes beasiswa S2? Kok sekarang masih sempat-sempatnya mabit disini?”
“Apa kamu tidak mendengarkan tausiyah Ustadz KH Abdul Hasib Hasan Lc tadi? InsyaAllah beasiswa yang aku dapat kan nanti berkah dan dirahmati Allah. Coba bayangkan. Aku selalu berharap dan berdoa. Lantas pada kesempatan malam ini doaku diamini oleh malaikat-malaikat. Ini adalah moment ketika aku mendapatkan doa dari para malaikat karena malam ini aku mengikuti kajian yang didalamnya aku membaca AlQuran, dibacakan AlQuran, berusaha memahami AlQuran, dan mendapatkan tausiyah berupa kajian ayat-ayat AlQuran. Bayangkan, yang mendoakan itu para malaikat. Lantas Allah memberikan rahmat-Nya. Aku yakin. Ini adalah awal dari keberkahan yang aku harapkan itu.”
“Ya…ya…ya…ngerti deh yang tausiyahnya masih hangat-hangat dipikiran. Lha terus persiapan tes-mu gimana?”
“La takhof akhi (jangan kawatir saudaraku.red). Aku sudah merasakan seolah-olah beasiswa S2 itu dalam genggaman tanganku. Persiapan tetap akan aku lakukan. Tapi sekarag waktunya melanjutkan menyimak tausiyah Ustadz KH Abdul Hasib Hasan Lc itu. Yang jelas, aku yakin. Akan segera datang berkah dan rahmat dari Allah. Tak ragu lagi.”
Pembicaraan pun dihentikan. Dan kami kembali menyimak tausiyah di Malam Bina Iman dan Taqwa (mabit) kali ini.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 6 Komentar »
Terbaik
Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 21, 2008
Ya Allah…pagi ini hamba-Mu ini akan meretas perjalanan untuk menambah amunisi jihad
Aku membutuhkannya, aku yakin akan kedatangannya, dan aku merasakan kehadirannya saat ini pula
Engkau tentu tahu apa yang aku harapkan
Engkau tentu tahu isi hati istriku
Engkau tentu tahu harapan orang tuaku
Engkau tentu tahu doa orang-orang disekitarku
Jika jalan ini adalah yang terbaik Ya Allah
maka mudahkanlah, lancarkanlah, ringankanlah, dan kabulkanlah
Namun jika Engkau menakdirkan ini bukan yang terbaik
Aku yakin, Engkau pasti akan memberikan yang lebih baik dan terbaik bagiku, keluargaku, dan umat ini
Amiin….
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 2 Komentar »
Tes Beasiswa S2
Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 21, 2008
Kemarin waktu aku ke kampus Mercu Buana langkahku terhenti setelah ada seseorang memanggil. Rupanya dia adalah salah satu Ketua Jurusan di Univ Mercu Buana.
“Wan, kamu sudah S2 apa belum?”
“belum, bu”
“kamu cepetan S2-nya, biar saya rekomendasikan jadi dosen tetap. lagi butuh tenaga pengajar kayak kamu ni”
“InsyaAllah bu. Saya mau tes beasiswa S2 tanggal 22-23 November besuk”
“Ouw, ya bagus kalo sudah di-planning. ibu khawatir kamu S2-nya nunggu-nunggu. kalo perlu kamu S2-nya disini saja. sambil jalan nanti dosen tetapnya saya urus”
“Wah, terima kasih banyak bu. Doakan saya dapat beasiswa S2 itu ya bu”
“Iya…semoga nanti kamu berhasil dan mendapatkan yang terbaik”
“Amiin”
Tak lama memang pembicaraan itu. karena kami harus segera masuk kelas masing2. kami harus ngajar, bertatap muka dengan mahasiswa. hobby-ku yang aku selalu enjoy melakukannya. alhamdulillah bapak dan ibuku mendukung. dan sekarang aku mendapat dukungan pula dari istriku.
Subhanallah…betapa senangnya sore itu. Memang nikmat yang diberikan Allah itu tak terputus. Dan kini pun aku masih terus berharap untuk mendapatkan yang terbaik untuk meraih beasiswa S2. Bukan cuma untukku. tapi untuk keluargaku. untuk pendidikan di Indonesia. untuk masyarakat. dan untuk kejayaan umat tentunya…
Bismillah…siap-siap menerima beasiswa S2…..
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 3 Komentar »
Blog Baruku
Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 20, 2008
Ada cerita juga dari dunia maya yang lain
Tentu yang cerita masih aku.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »
Curhat Adik Tingkat tentang Munakahat
Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 19, 2008
Sore menjelang maghrib ini ada adik tingkat yang sudah lulus STAN mengirim message padaku:
> Mas mo nanya, persiapan diri untuk nikah apa aja ya??
> Kalo jarak antara khitbah dan ijab qabul rada lama gpp?? tapi sebaiknya disegerakan ya???
Aku jawab begini:
Persiapan yang sebenarnya adalah kesiapan untuk mengucapkan “perjanjian suci (mitsaqan ghalidha)“. Itu butuh ketenangan yang luar biasa.
Kalo cuma persiapan teknis misalnya maharnya apa saja, itu sih gampang. Tinggal tanya aja calon pengantin perempuan mau minta mahar apa. Atau kostum pernikahan, itu bisa dimusyawarahkan.
Yang penting juga adalah usaha untuk meminimalisir perbedaan. Karena perbedaan pada saat-saat menjelang nikah itu bisa menimbulkan keraguan. Keraguan itu datangnya dari setan. Logikanya, kamu mau menikah itu untuk mendapatkan separuh agama. Sedangkan setan tujuannya menjerumuskan manusia. Tentu setan tak akan rela begitu saja manusia menyempurnakan agamanya. So, minimalisir perbedaan dan tetap menjaga emosi biar tetap stabil itu sangat penting.
Sabar. Itu sangat berat. Tapi harus dilakukan. Agar tidak terjerumus ke dalam marital failure. Kalo ada perbedaan, sabar dan musyawarah adalah kuncinya.
Tenang dan perbanyak ibadah. Banyak sekali godaan menjelang pernikahan. Termasuk rasa gelisah yang sebenarnya kita tidak tahu apa penyebab kegelisahan itu. Makanya harus diisi dengan banyak ibadah.
Guys, fase terberat menuju pernikahan adalah diantara khitbah menuju nikah. Semakin dekat insyaAllah semakin membawa berkah dan rahmat. Karena mempersempit time gap itu bisa meminimalisir risiko godaan-godaan yang bisa mengurangi keberkahan pernikahanmu.
So…jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.
——****——
Nah, kira-kira jawabanku itu gimana ya? Ada tanggapan? Mungkin ada yang lebih baik jawabannya? Mohon di-share ya? Terima kasih…
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | 1 Komentar »
Si Kecil & Batu Dagangan
Ditulis oleh pembawacerita di/pada November 10, 2008
Malam ini aku senang sekali. Alhamdulillah aku ditraktir makan teman baikku. Ia sedang merayakan milad-nya yang ke-26. Hm…semoga umurmu yang telah lalu berkah ya kawan. Semoga umurmu ke depan semakin bermanfaat bagi umat. Semoga bidadarimu segera mendekat hingga kamu bisa mendekapnya erat di dalam perjanjian yang kuat. Amin…
Lantas ada pemandangan yang membuat hatiku ini luluh lantak. Aku baru saja makan enak. Ketika aku menuju parkir motor mataku tertuju pada seorang anak. Ia memikul beban berat di pundak. Menjajakan dagangan yang sangat berguna bagi ibu-ibu untuk memasak. Anak seumuran SMP atau bahkan SD itu masih mengais rejeki padahal malam telah beranjak.
Tak tega aku melihatnya. Lemper dan ulekan batu itu masih tinggi membebani pikulannya. Aku datangi dia, dan kuberikan selembar uang. Ketika menyentuh tangannya, pikiranku buyar. Yang tadinya ingin menyapanya, mengajaknya berbicara, bertukar cerita, tapi itu semua menjadi sirna. Lenyap seolah tersapu keringat yang mengembun di tangan kasarnya.
Di sepanjang jalan pulang aku berharap. Adik kecil, semoga Allah memberimu rejeki yang berkah atas segala perjuanganmu. Semoga Allah menghapus dosa-dosamu dan memberikan kebaikan disetiap langkahmu untuk mencari rejeki yang halal bagimu dan keluargamu. Adik kecil, semoga akan semakin banyak orang-orang yang tertampar melihat perjuanganmu. Bagiku, kamu adalah pahlawan untuk keluargamu. Kamu adalah pahlawan yang memperjuangkan kehidupan dari kehalalan. Bagiku, kamu adalah pejuang bangsa. Yang memberikan pelajaran bagi setiap manusia dengan perjalanan nyata.
Adik kecil…kamu jauh lebih layak untuk merayakan hari pahlawan 10 November…
Catatan untuk istriku:
Bunga hatiku, ceritakan kisah-kisah perjuangan adik kecil ini kepada jundi-jundi kita kelak. Agar mereka menjadi generasi yang peka dengan perjuangan.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Leave a Comment »
Memoar Aceh (1)
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 26, 2008
Baru dua pekan kami melangsungkan pernikahan. Seolah baru kemarin walimah di Trenggalek dilangsungkan. Begitu sekejap rasanya ketika kami menangis berdua dalam beberapa kesempatan setelah shalat berjama’ah. Tapi kami harus terpisah jarak. Istriku tercinta harus ke Aceh sedangkan aku di Jakarta.
Begitu cintaku padanya, tak rela melepas kepergiannya sendirian. Walau realisasi transportation cost mengalami over-budget, tapi tak masalah, selama aku bisa memegang tangannya lebih lama. “Just listen my lovely wife, I am here for you honey…when you need a shoulder to cry on, someone to rely on, I am here for you, when you need a someone to hold you, remember I told you, I am here for you (Firehouse)”. Tak kulepas genggaman tanganku hingga mendarat di Aceh. Dan kubiarkan kepalanya bersandar di bahuku hingga suasana Serambi Mekah membangunkan lelapnya.
Ba’da dhuhur hari pertama aku di Aceh hujan turun membasahi kebersamaan kami. Seolah alam menyapa kami berdua untuk tidak keluar rumah. Cukup berdua dan menikmati keberduaan yang penuh berkah. Hingga Asar menggaung indah, kami baru melangkah keluar rumah setelah menunaikan sujud ibadah. Mendapatkan pinjaman sepeda motor dari Bang One berkeliling-keliling Banda Aceh. Menikmati udara sejuk dan sesekali bintik hujan menyapa tubuh kami. Hingga rintik hujan semakin lebat, dan Maghrib pun memanggil. Kami melangkah menuju Baiturrahman. Masjid mewah di pusat kota Banda Aceh. Indah dan megah. Ribuan burung walet berterbangan menghiraukan hujan hanya untuk berdzikir dan menghiasi langit Baiturrahman petang itu.
Hujan kembali mengguyur Banda Aceh selepas maghrib. Kesempatan di dalam masjid megah itu kami manfaatkan untuk mengabadikan keindahannya. Hingga Isya memanggil, hujan masih menguyur mesara bumi Serambi Mekah. Hujan mulai reda ketika shalat Isya rampung. Dan kami pun bergegas memburu makan malam. Sepiring berdua begitu mesra. Walaupun toh akhirnya nambah juga, tapi tetap saja suasana indah dan panggilan lapar menjadikan makan malam itu begitu lezat.
Rintik-rintik hujan masih malu-malu meninggalkan kami. Kami bergegas ke rumah Ujang Hamdani. Saudara seperjuangan di STAN. Kebetulan istrinya akrab dengan istriku. Hhuff…sambil menahan dingin, tubuhku mulai basah. Walau hanya titik-titik gerimis, tapi jika terus menempa tubuhku, akhirnya tebus juga jaketku. Basah kuyup hingga sampai di rumah Ujang. Dan dihangatkan secangkir kopi Ulee Kareng buatan istri Ujang. Begitu nikmat sambil berkelakar. Trima kasih ya Jang….
Malam semakin pekat, dan kami harus segera kembali ke kontrakan Bang One. Dialah yang menyediakan fasilitas mobilitas dan stabilitas selama aku di Banda Aceh. Bang One terima kasih banyak…
Malam itu dingin, sejuk dan indah. Seindah qiyamul lail pertama di tanah sumatera…
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: Aceh, Anis Dyah Rahmawati, Baiturrahman | 7 Komentar »
Memoar Aceh (2)
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 26, 2008
Pagi sejuk hari kedua di Banda Aceh dihiasi dengan keramahan seorang jama’ah masjid yang memboncengku mencari tempat ibadah Shubuh. Waktu terus berlalu dengan tagan istriku yang lekat dalam genggamanku.
Maman, teman mengadu idealisme di kampus STAN dulu, memanggil. Dikerjain abis aku. Ngopi Ulee Kareng hanya dengan hanya kostum celana kolor dan jaket tidur yang melekat di tubuh. Cuci muka saja belum. Tapi ta apa, banyak juga pelanggan kopi yang hanya sarungan. Begitulah kebiasaan orang Aceh, ngopi. Kopinya mungkin hanya secangkir, tapi bahan pembicaraannya segudang. Mulai dari masalah politik, partai lokal, pemerintahan, olah raga, kemasyarakatan, pendidikan, dan segala hal topik lainnya. Aku, Maman, dan Ujang tak bias berlama-lama di kedai kopi itu. Teman-teman ku itu harus segera ke kantor. Dan aku juga harus silaturahmi ke kantor istriku.
Badan Pusat Statistik, Kanwil Banda Aceh. Di gedung itulah istriku memperjuangkan ilmu dan idealismenya. Cerita-ceritanya tentang perjuangannya itu semakin membuatku cinta. Aku merindukanmu istriku. May be my love will come back some day, only heavens know-Rick Price.
Acara silaturahmi itu berlangsung hingga siang hari. Hingga sore harinya sengaja akan kami habiskan untuk jalan-jalan di Banda Aceh. Tentu ditemani dua teman baik kami, Bang One dan Ely. Kami makan siang dengan menu Ayam Tangkap di sebuah restoran di depan tanah yang sedang dibangun gedung BPK Perwakilan Banda Aceh. Hm…maknyuss rasanya.
Sasaran pertama adalah Kapal Apung di Ulee Lheue. Kapal besar itu adalah pembangkit listrik tenaga diesel yang pada mulanya berada di tengah lautan. Namun tsunami telah menyeretnya hingga ke daratan. Begitu besar dan kokoh. Berdasarkan informasi yang aku dapat, hingga saat ini pembangkit listriknya masih beroperasi.
Perjalanan selanjutnya menuju pekuburan masal, masih di Ulee Lheue. Perjalanan ke pekuburan itu menuntut perhatian ekstra. Karena jalan-jalan sedang dibangun sehingga banyak material di sekitarnya. Masih di Ulee Lheuu, kami menuju pelabuhan ferry yang menghubungkan pulau Sumatera dengan Pulau Sabang. Sabang…kota tempat Ely akan bertugas. Dia dimutasi dari Kanwil BPS Banda Aceh. Praktis, ia tidak sekamar lagi dengan istriku. Dialah perempuan yang begitu setia menemani istriku ketika sedih dan senang selama istriku di Banda Aceh. Semoga Ely mendapatkan keberkahan yang berlipat ganda. Trima kasih ya Ely…
Dari Pelabuhan, aku di bawa Bang One ke Masjid Teuku Umar. Masjid yang khas, karena hanya satu di Banda Aceh masjid dengan kubah seperti topi Teuku Umar. Tidak seperti masjid lain yang berkubah bulat. Masjid itu masih sedang direnovasi. Bekas-bekas bencana masih terlihat jelas di area masjid itu. Semoga menjadi masjid yang dimakmurkan oleh masyarakat dan menjadi basis kebangkitan umat.
Sore menjelang. Kini saatnya perjalanan berdua saja. Aku dan istriku. Melihat keindahan Baiturrahman ketika mentari masih bersinar, lantas ke pantai Ujong Batee. Pantai yang gambarnya bersatu dengan puncak Gunung Lawu di undangan pernikahan kami. Hamparan pasir luas itu mementuk ukiran gelomban karena pasirnya tak kuasa menahan hembusan angin. Tapi sang angin tetap tak kuasa menghempaskan bebatuan yang berkumpul kokoh. Semoga jiwa-jiwa kami sekokoh bebatuan itu.
Malam mulai menjelang, dan kami pun segera pulang. Istriku…dengarkan…You are all I need beside me girl; you are all I need to turn my world-White Lion.
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: Aceh, Anis Dyah Rahmawati, cinta, kapal apung, nikah | 1 Komentar »
Memoar Aceh (3)
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 26, 2008
Hari ketiga di Aceh. Hari di saat istriku harus sendiri tanpa kehadiranku disisinya esok pagi. Hari ketika aku harus sendiri tanpa ada bidadari disisi. Siang itu aku akan kembali ke Jakarta. I want to be by your side in everything that you do-Firehouse.
Setelah pamitan ke pegawai di kantor istriku, kami menuju Baiturrahman. Bus menuju bandara parker di sana. Sambil memanfaatkan waktu sebelum bus berangkat, kami kembali mengambil gambar di depan masjid indah itu.
Perjalanan bus Damri ke bandara itu hanya berisi tiga orang. Sopir, aku, dan istriku. Tak lepas tangan bunga cintaku itu kugenggam. When I look into your eyes, I can see how much I love you and make me realize-Firehouse.
Istriku…tabahkan hatimu. Percayalah aku pun selalu rindu. Yakinlah…kita akan segera bersama lagi. Biarlah Rabb yang menyaksikan bulir-bulir air mata kita menetes mengemis kemurahan-Nya. Memohon dengan penuh harap agar kita selalu bersama dalam kebaikan. Seperti doa yang kita ucapkan sehabis shalat sunnah setelah akad nikah. Wahai Alah, satukanlah kami bila hendak Engkau persatukan dalam kebaikan; dan pisahkanlah kami bila hendak Engkau pisahkan dalam kebaikan. Aku yakin istriku…Allah tahu bahwa kita memilih yang pertama. Maka yakinlah perpisahan ini adalah kebaikan yang Allah berikan kepada kita. Hingga kebaikan pula yang akan menyatukan kita dalam kebersamaan. Kebersamaan dalam meniti perjuangan yang tak lekang oleh kecongkakan zaman. Anggaplah perpisahan ini hanyalah sebuah latihan sebagai ghuraba, orang-orang yang berada dalam keterasingan, yang sedang berjuang mengadakan perbaikan di tengah kerusakan manusia.
Rembulan dilangit hatiku. Menyalalah engkau selalu. Temani kemana mesti ku pergi. Mencari tempat kita tuju. (Seismic)
Ditulis dalam Alhamdulillah Menikah, Uncategorized | Bertanda: Aceh, Anis Dyah Rahmawati, Baiturrahman, cinta, Islam | 2 Komentar »
Menikah
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 3, 2008

Maha Suci Allah SWT yang menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Dengan lantunan puji syukur atas anugerah Allah SWT, kami mohon doa restu atas pernikahan kami:
ANIS DYAH RAHMAWATI
dan
WIRAWAN PURWA YUWANA
Akad Nikah: 5 Syawal 1429H/5 Oktober 2008
Walimatul Ursy: 12 Syawal 1429H/12 Oktober 2008, di RT 06, RW 02, Desa Nglongsor, Kec. Tugu, Kab. Trenggalek, Jatim
Atas doa-doa yang diberikan kepada kami, kami ucapkan jazakumullahu khairan katsir.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »
Selamat Idul Fitri 1429H
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Oktober 3, 2008
sebagai admin pembawacerita.wordpress.com, saya mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
Taqabbalallahu minna wa minkum
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Lafaz Ijab Qabul
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008
Ijab Qabul dalam akad nikah itu kata-kata kesepakatan antara kedua pihak yang bersepakat (wali dan mempelai laki-laki). Ijab adalah kalimat yang berisi ajakan dan keinginan untuk menjalin sebuah ikatan pernikahan (biasanya diucapkan wali). Qabul merupakan ungkapan kerelaan dan persetujuan atas ajakan itu (biasanya diucapkan mempelai laki-laki).
Nah yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana sih lafaz alias redaksional ijab dan qabul dalam pernikahanku nanti. Kalo di Fiqih Sunnah (karya Sayyid Sabiq) sih yang penting ijab dan qabul itu menggambarkan kesepakatan untuk menikah (dengan bahasa yang dipahami oleh kedua pihak yang melakukan akad nikah), serta dengan bahasa yang jelas, dengan tujuan untuj menghindari kesalahpahaman.
Hmm…kalimat sakral yang aku tunggu “Wirawan Purwa Yuwana bin Imam Supandi, anda saya nikahkan dengan saudara saya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin Kitab Tafsir Fidzilalil Qur’an, Kitab Fiqih Sunnah dan sebuah cincin, tunai”. Kalo sudah kalimat ijab diucapkan begitu, gimana coba jawabnya?
“Saya terima nikahnya Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat dengan mas kawin yang telah disebutkan di atas tunai”. Ato mau pakai bahasa Arab? “Qabiltu nikaha watzwijaha linasfi bi mahril madzkur haalan” (versi Ayat-Ayat Cinta ditambah ‘ala manhaji kitabillah wa sunnati rasulillah). Ato pakai bahasa Inggris? “I approve the marriage with Anis Dyah Rahmawati binti M. Duryat by bide price that have been mentioned at that very moment”. Apakah harus seperti itu?
Gimana kalo jawabnya singkat, padat dan jelas. Misalnya “Tunai!”, “Siap!”, “Setuju!”, “Baiklah!”, “Na’am”, “Oke!”, “Yes!”, ato “Absolutely!”. Gimana tuh? Ada yang bisa ngasih pendapat ga?
Ah namanya juga masih belajar. Dan masih pertama kali lagi….
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: cinta, ijab qabul, Islam, nikah | 7 Komentar »
Melihat Calon Bidadariku
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 29, 2008
Selama proses menuju pernikahan, baru kemarin aku melihat calon istriku. Memang sudah disarankan oleh Rasulullah untuk melihat calon istri. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Hurairah r.a. mengatakan, “Aku berada di sisi Nabi SAW ketika datang seseorang yang mengabarkan bahwa dia akan menikahi seorang wanita dari kalangan Anshar. Rasulullah berkata, ”Apakah engkau telah melihat wanita yang engkau nikahi?” Dia mengatakan,”Belum”. Maka Rasuullah mengatakan, ”Pergilah engkau dan lihat wanita yang akan engkau nikahi, karena pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu”.
Ada juga hadits yang diriwayatkan Abu Dawud bahwa Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ketika seorang meminang perempuan, jika memungkinkan, hendaknya ia memandang perempuan itu untuk melihat sesuatu yang dapat memotivasi dirinya untuk menikah dengannya”. Jabir berkata, “Ketika aku ingin meminang seorang perempuan dari bani Salmah, aku bersembunyi mengendap-endap untuk dapat melihatnya, sehingga aku menemukan sesuatu yang memotivasiku untuk menikahinya.
(Aku menghela nafas panjang) Hhhhheeehh….rupanya jantung ini serasa lepas dari tempatnya. Ini bukan hiperbolis loh. Cuma melukiskan biar sedikit dramatis gitu. Aku benar-benar ga punya nyali untuk melihatnya scara langsung. Bahkan malah kikuk ga karuan. Ketika bicara padanya aku hanya bisa melempar pandangan ke arah kakaknya. Ga punya nyali aku. Malu. Benar-benar malu menatapnya saat itu. Walau hanya sekilas. Malu banget. (Malu kok cerita-cerita di blog)…[biarin, wong malunya sama calon istri kok, bukan sama pembaca blog]
Setengah bego aku mengetik SMS ba’da shubuh tadi pagi (setelh kemarin sore kaya orang liglung) di Masjid Nur Al-Askar. “Assalamu’alaikum wrwb. Ukhti, ana ada permintaan ke anti. Nanti pas akad, ana harap anti tidak duduk disamping, dibelakang ato disekitar ana yang memungkinkan ana bisa melihat anti. Terserah anti mau ada dimana yang penting ana ga melihat anti sebelum ijab qabul. Pengalaman kemarin, ternyata ana tidak punya cukup hati untuk melihat anti. Khawatir kalo sebelum jab qabul ana melihat anti, malah grogi, deg-degan, bisa mati kata ana ntar. Ya usahakan ana baru bisa melihat anti setelah ijab qabul aja deh. Beda rasanya melihat foto anti & melihat anti secara langsung. Jazakillah”. Tu SMS yg begono panjangnyo lantas aku send ke calon istriku.
Tuh kan keliatan groginya. Waduh…semoga nanti saat ijab qabul tidak segrogi saat melihatnya….Ya Allah, gimme composure when I get married. Amin.
Catatan:
Ana = aku
Anti = kamu (perempuan)
Referensi : Fiqih Sunnah, karya Sayyid Sabiq
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Bertanda: bidadari, ijab qabul, nikah, tarbiyah | 3 Komentar »
Mudik Bertemu Grup Nasyid Issiz
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 19, 2008
Hm…mudik naik Harjay kali ini. Pas ditengah malam bertemu Grup Nasyid Issiz. Ingat ya Issiz, bukan Izzis. Kalo Izzis kan Izzatul Islam. Nah, kalo Issiz itu berasal dari bahasa Jawa, artinya adem. Itu lho kalo lagi panas keringetan terus ada angin berhembus…hm…issiz atawa adem rasanya. Grup nasyid Issiz ini punya nasyid yang nadanya sama dengan “Hai Mujahid Muda”-nya Izzis. Begini
Hai para pemuda yang masih bujangan
Tidakkah kau lihat indahnya pernikahan
Mendapatkan istri untuk menjaga pandangan
Bermanfaat jua pelihara kesucian
Kuatkan tekadmu jangan ragu-ragu
Siapkan dirimu tanpa pernah jemu
Ada bidadari yang cantik serasa di surga
Menunggu dirimu kenapa tak datang jua
Majulah wahai para pemuda
Dalam satu cita raih pernikahan
Singkirkan gundah jangan diam saja
Bidadari cantik segera datang
Setelah Grup Nasyid Issiz itu selesai menyanyikan nasyidnya, fuih…aku tersadar bahwa sekarang sudah sampai Alas Roban.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »
Kemana Masjid di Pemadam Kebakaran Lebak Bulus?
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 19, 2008
Kemarin aku berangkat mudik naik Harjay dari Lebak Bulus. Berangkatnya sih pkl.13.00. Yup, perkiraanku setelah shalat Jumat selesai. Berarti aku harus nyari masjid terdekat dengan Lebak Bulus. Dan tentu tak asing bagiku Masjid di Pemadam Kebakaran depan terminal persis. Memang sih masjidnya di belakang gedung pemadam kebakaran. Tapi cukup nyaman untuk beribadah. Tidak berisik dengan bising kendaraan, cukup luas dan sarana wudhu yang memadai. Maka wajar jika calon penumpang angkutan umum dari Lebak Bulus sering memanfaatkan masjid ini. Termasuk aku yang hampir selalu mampir ke masjid ini kalau ke Lebak Bulus. Tentu saja memilih masjid ini dibanding musholla kecil di pojok terminal.
Namun betapa kagetnya diriku ketika tak menjumpai masjid di belaang gedung Pemadam Kebakaran itu. Bangunan itu telah rata dengan tanah. Ada apa gerangan? Kemana masjid itu? Segera aku tanya kepada petugas yang ada. “Pak, seingat saya dulu ada masjid disini deh. Kok sekarang ga ada pak”. “Iya mas, sudah dibongkar. Kalo mau shalat Jumat ke lantai tiga aja”. Mendadak fokus ke lantai tiga. Carrierku? Daypack notebookku? Ah…dibawa saja.
Aku titi tiap anak tangga menuju lantai tiga. Sampai di lantai dua ada petugas pemadam kebakaran yang menyapa. “Yakin mas kuat sampai lantai tiga? Bawaannya gede banget”. Aku hanya melempar senyum padanya. Lumayan sambil berhenti mengatur nafas. Dalam hati aku berkata, pak-bapak gunung tinggi saja berhasil kudaki, apalagi sekedar gedung tiga lantai. He…he…jadi inget Dompu, adik kelas di STAN yang STAPALA juga. Dia mengkritik perumpamaan ‘asam di gunung garam di laut bertemu di panci’. “Mas, yang lebih romantis dan heroik napa. Masak remeh begitu”. Rupanya salah materi aku waktu menjelaskan perumpamaan itu padanya. Seharusnya aku menjelaskan padanya, demi pernikahan, kegelapan gua kan ku susuri, jeram sungai kan ku arungi, tebing curam kan ku panjati, gunung tinggi kan ku daki. Hm…khas pecinta alam banget.
Balik ke shalat Jumat di Pemadam Kebakaran. Lantai tiga itu adalah ruangan luas seperti auditorium yang baru jadi. Belum finishing bahkan. Dan tentu bisa ditebak, siapa saja yang shalat Jumat disitu. Yup, hanya ingkungan internal pegawai Pemadam Kebakaran (kecuali aku). Padahal dulu sewaktu masjidnya masih ada, tu masjid pasti rame. Bukan hanya pegawai pemadam kebakaran, tapi masyarakat sekitar dan calon penumpang angkutan pun turut shalat Jumat. Aduh, jadi merasa kehilangan suasana itu.
Mari kita doakan saja, semoga akan dibangun masjid yang lebih megah dan nyaman untuk beribadah di situ. Memang ada masjid kecil disamping terminal Lebak Bulus, itupun masih in process pembangunan, tapi kan bising kendaraan ga bisa dipungkiri cukup mengganggu. Sejauh ini memang tempat ibadah (baca: masjid) memang agak susah dijumpai di tempat-tempat umum seperti itu. Halah, semoga pemerintah bisa menyediakan masjid yang representatif di dekat terminal-terminal, pasar-pasar dan tempat umum lainnya. Kalo mengandalkan penduduk sekitar, sepertinya agak susah ya, namanya saja tempat umum.
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
Generasi Pernikahan
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 18, 2008
Rupanya si oknum (yang mau bertanggung jawab) asih belum puas ‘mengacak-acak’ lirik nasyid-nya Shoutul Harokah. Kini ganti Izzatul Islam yang menjadi korban. Lirik nasyid ‘Generasi Harapan’ diotak-atik menjadi ‘Generasi Pernikahan’. Hm…coba dengarkan lagu aslinya. Kemudian turutlah bernyanyi dengan lirik ‘Generasi Pernikahan’. Rasakan sensasinya….
|
Generasi Pernikahan
Dimana dicari akhwat sejati Yang berani menikah diusia dini Dimana jua si ikhwan gagah berani Yang menanti kehadiran sang bidadari
Hati pun gundah ditengah malam Makan tak enak tidur tak tenang Tersiksa dengan cinta terpendam Menikah saja maka kan senang
Mengapa tetap saja kau ragu Hingga resah terus menjadi belenggu Gelisah, berangan dan tersiksa Dan kamu hanya diam tanpa kata-kata
Bangkitlah akhi, jangan berdiam diri Menggapai impian meraih pernikahan Bangkitlah ukhti, ayo bersiap diri Tanpa keraguan menjadi istri dambaan
Wajah mereka kini tak lagi muram Bahagia telah bertemu Hiduplah mereka kini berdua Menjadi pengantin baru
Dimana jua si akhwat sejati Yang berani menikah diusia dini Dimana jua si ikhwan berani Yang siap hidup bersama seorang istri
|
Generasi Harapan
Dimana dicari pemuda kahfi Terasing demi kebenaran hakiki Dimana jiwa pasukan Badar berani Menoreh nama mulia perkasa abadi
Umat melolong digelap kelam Tiada pelita penyinar terang Penunjuk jalan kini membungkam Lalu kapankah fajar kan datang
Mengapa kau patahkan pedangmu Hingga musuh mampu mmbobol bentengmu Menjarah menindas dan menyiksa Dan kita hanya diam sekedar terpana
Bangkitkan negeri lahirkan generasi Pemuda harapan tumbangkan kedhaliman Bangkitkan negeri lahirkan generasi Pemuda harapan tumbangkan kedhaliman
Wajah dunia Islam kini memburam Cerahkan dengan darahmu Panji Islam telah lama terkulai Menanti bangkit kepalmu
Dimana jua pasukan berani Terasing demi kebenaran hakiki Dimana jua pasukan berani Menoreh nama mulia perkasa abadi |
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »
Gelombang Pernikahan
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 18, 2008
Mohon maaf sebesar-besarnya kepada Shoutul Harokah dan para fans-nya. Pada postingan kali ini ada oknum (yang mau bertanggung jawab), karena telah ‘mengorat-arit’ lirik nasyidnya. Judul aslinya sih ‘Gelombang Keadilan’. Nasyid yang nge-beat banget terutama yang versi Album Masih Ada Harapan. Ya gara-gara oknum tersebut lirik nasyid itu menjadi ‘diplesetkan’ menjadi ‘Gelombang Pernikahan’. Begini hasilnya:
|
Gelombang Keadilan
Kan melangkah kaki dengan pasti Menerobos segala onak duri Generasi baru yang telah dinanti Tak takut dicaci tak gentar mati
Bagai gelombang terus menerjang Kutumbangkan segala kedhaliman Dengan tulus ikhlas untuk keadilan Hingga pertiwi gapai sejahtera
Reffrein: Tak kan surut walau selangkah Takkan henti walau sejenak Cita kami hidup mulia Atau syahid mendapat surga
|
Gelombang Pernikahan
Kan melangkah kaki dengan pasti Tuk penuhi panggilan Illahi Generasi baru yang pemberani Tak takut menikah diusia dini
Bagai gelombang terus menerjang Bagai semangat dihati sang bujang Dengan penuh tekad untuk pernikahan Membangun keluarga sejahtera
Reffrein: Takkan surut walau selangkah Merindukan kehidupan indah Cita kami segera menikah Tuk mereguk nikmatnya ibadah |
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »
Wanita Cantik
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 18, 2008
Wanita cantik melukis kekuatan lewat masalah..
Tersenyum saat tertekan,
Tertawa disaat hati menangis,
Tabah saat terhina,
Mempesona karena memaafkan..
Wanita cantik mengasihi tanpa pamrih & bertambah kuat dalam doa & pengharapan..
Pesan ini khusus untuk setiap wanita cantik kepunyaan Allah
NB: Mas, ini buat calon istrinya lho, he2
itu puisi yang bikin adik tingkat di STAN pas dalam kondisi spaneng akibat Komprehensif tertulis hari pertama dan masih harus menghadapi hari keduanya. tu adek tingkat namanya… #d* #n#…lulus tahun ini. IPK sebelum komprehensif tertulis kemarin 3,46. InsyaALlah tanggal 14 Okt di wisuda. sepertinya ni adik tingkatku ingin segera mencari PH. ga sekedar PW yg cuma dibawa ke JCC.
ctt: PH=Pendamping Hidup; PW=Pendamping Wisuda; JCC=Jakarta Konvensyen Senter
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »
Untuk Adik2 Tingkatku
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 17, 2008
Tulisan ini aku tujuan untuk adik2 tingkatku yang hari ini dan besuk menghadapi komprehensif tertulis
Ingat! Kalian adalah umat terbaik
maka janagn biarkan umat ini terpuruk dalam jurang kebodohan dan kenistaan
bangkit dan songsonglah kemenangan umat ini dengan perjuangan kalian
Ingat! turut berjuang atau tidak pun jiwa kalian tetap akan binasa
tinggal kalian pilih yang mana
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Ceramah Pak RT
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 16, 2008
Beberapa malam lalu, Pak RT, Ustadz Adjma Ibnu Udja (hm..katanya sih udah pengen diganti. Bocorannya sih kandidat penggantinya Pak T#sr*p*n) dapat jadual ceramah di As Sa’adah. Benar-benar isi ceramah yang banyak menyindir. Seperti penutup ceramahnya, “Kalo ga menyindir, bukan ceramah namanya”. Seperti aku yang tersindir saat itu. Tiga kali setidaknya beberapa pasang mata melihatku.
Pertama, Ramadhan itu bulan tarbiyah, bulan pendidikan. Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk belajar agama ini. Bukan sekedar belajar sendirian, tapi banyak sekali kesempatan yang mendorong tambahan pengetahuan dan pemahaman. Nah selagi kesempatan emas ini masih ada (kata Sang Murabbi “Selagi apinya masih mareng”) disegerakan saja improvement-nya. Yang tadinya ga bisa shalat, cepatlah belajar shalat. Yang tadinya ga bisa ngaji, segera saja belajar mengaji. Yang ga paham fikih, segera belajar fikih. Yang ga ngerti kehidupan Rasulullah, segera baca sirah nabawiyah. Yang belum menikah, cepetan menikah…setidaknya belajar munakahat. Saat Pak RT bilang begitu, spontan beberapa pasang mata melihatku.
Hm…dari sebelah kiri setidaknya ada GunGun, YanYan, dan segerombolan anak2 ga jelas lainnya. Dari sebelah kanan ada TomTom yang mencari dukungan dari bapak2 disekitarnya. Dari depan ada adik2 kelas sambil mengumbar senyum ga jelas. Dari belakang…ga tahu wong udah barisannya ibu2.
Kedua, Ramadhan adalah bulan peningkatan. Masih ingat kan ayat favorit ketika Ramadhan? Bahkan anak belum baligh pun udah dikit2 hafal dengan ‘ayat kutiba’ itu. Tujuan puasa memang untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Sekali lagi menuju derajat takwa. Dari yang biasa-biasa saja menjadi lebih bertakwa. Dari ulat menjadi kupu-kupu. Dari ga bisa shalat menjadi bisa shalat. Dari ga bisa ngaji jadi bisa ngaji. Dari bujangan menjadi menikah.
Hm…lagi-lagi beberapa pasang mata melihatku. Kali ini termasuk pandangan Pak RT yang berhenti di depan mukaku.
Ketiga, Ramadhan adalah bulan jihad. Jihad itu artinya sungguh-sungguh. Ada hadits yang menyatakan bahwa banyak orang yang puasa hanya dapat lapar dan dahaga. Ya karena puasanya ga sungguh-sungguh. Makanya setelah Ramadhan diharapkan setiap orang memiliki semangat jihad, semangat bersungguh-sungguh alias tidak main-main dalam melakukan kebaikan. Kalo shalat ya yang sungguh-sungguh tuma’ninah, jangan pikirannya melayang ga jelas. Kalo ngaji ya jangan asal-asalan, ngaji yang bener, paling enggak bener tajwid dan makhraj-nya. Begitu juga kalo nyari mantu. Nyari mantu jangan asal-asalan. Cari yang bener2 sholeh. Jangan sekedar ganteng ato kaya. Nah…itu kan banyak anak2 STAN yang baik2 dan sholeh2. Jadiin mantu aja.
Kali ini jama’ah tarawih ga melayangkan pandangnya ke wajah2 muda dan culun punya khas anak STAN. Sedangkan orang disekelilingku malah tambah menjadi2 ngecenginnya. Ah..Pak RT ini mentang2 mantunya lulusan STAN trus promosi begitu. Tapi gapapa juga sih…hayo syapa yang mau sama anak STAN? Hubungi Pak RT.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 3 Komentar »
Biru Laut dan Biru Langit
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 11, 2008
Saat resah bergulung laksana ombak pantai
Pasir Ujong Batee pun berisik mengusik hati
Ketika gundah menapaki gunung tinggi
Biru langit Puncak Lawu pun menjadi saksi
Saat Laut Ujong Batee berwarna biru
Saat Langit Puncak Lawu cerah membiru
Allah menakdirkan dua hati bertemu
Bersatu dalam ikatan suci nan padu
Ikatan bersama menggapai cita
Ikatan bersama menyempurnakan agama
Ikatan bersama menjaga kesucian
Ikatan bersama melanjutkan perjuangan
Dengan penuh tekad
Dengan mengharap berkah dan rahmat
Demi kemanfaatan bagi umat
Kami ikrarkan kehidupan dengan semangat
Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al Qur’an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Syahid di jalan Allah cita kami tertinggi
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 6 Komentar »
0 – 3.265 mdpl
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 11, 2008
Kemarin bertemu seorang adik tingkat. Seperti biasa obrolan ngalor ngidul pun mengalir begitu saja. Hingga akhirnya menyentuh current issue mengenai diriku saat ini. “Kok bisa mas dari puncak gunung bisa mendapatkan bidadari yang ada di pantai?”. Aku hanya tersenyum. “Bayangin coba, dari 0 mdpl (meter di atas permukaan laut) kok kelihatan dari 3.265 mdpl. Bagaimana caranya?”.
Aku tak bisa menjelaskan tanpa dimulai cerita yang sebenarnya. Dan kisah pun aku ceritakan untuknya. Terus terang, pada saat berada di Puncak Gunung Lawu di ketinggian 3.265 mdpl aku memanjatkan doa yang agak panjang. Dan kebetulan teman-teman sesama pendaki saat itu mengamini doaku. Aku pernah menuliskan di blog ini juga. Tapi khusus untuk menikah, ada tambahannya. “Ya Allah, alhamdulillah hari ini aku bisa memandang keindahan yang Kau ciptakan dari puncak ketinggian. Aku bisa melihat hamparan langit biru yang luas. Aku bisa melihat hijau bumi yang indah. Aku bisa memandang gumpalan awan yang menawan. Oleh karena itu ya Allah, tajamkanlah pandanganku untuk menemukan bidadari yang akan Kau anugerahkan dalam hidupku. Aku yakin Kau akan mendatangkan bidadariku dari arah mana saja yang Engkau inginkan. Kau bisa mendatangkan bidadari dari ujung langit. Kau pun mudah memunculkan bidadariku dari dalam laut. Kau bisa memperlihatkan bidadari itu dari perut bumi. Kau bisa menerbangkannya dari arah barat, barat laut, utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, atau pun barat laut. Kau bisa mendatangkan dari mana saja yang Engkau suka. Sekali lagi aku mohon pada-Mu, ya Allah. Siapkan hati ini untuk memandang luas seluas pandanganku di puncak gunung ini. Agar aku bisa segera menemukan bidadariku. Bidadari terbaik yang Kau anugerahkan untukku. Amin”.
Ibarat pepatah ‘asam di gunung garam di laut bertemu di panci’. Tentu ada faktor yang mengakibatkan pertemuan asam dan garam itu. Maka dapat dianalogikan ada faktor asam, garam, panci, dan koki yang mempertemukan keduanya. Faktor asam dan garam dapat diibaratkan sebagai kesiapan perempuan dan laki-laki untuk menikah. Jika salah satu dari keduanya tidak siap menikah, maka asam dan garam itu akan susah bertemu. Selanjutnya adalah faktor panci, yaitu wadah yang mempertemukan asam dan garam. Panci ini diibaratkan sebagai lingkungan di sekitar asam dan garam. Lingkungan sangat berpengaruh dalam menentukan pertemuan itu. Jika lingkungan asam sangat berbeda dengan lingkungan garam, maka akan sulit keduanya bertemu. Alhamdulillah lingkungan asam dan garam ini tidak jauh berbeda. Terutama keduanya yang sama-sama menikmati pergerakan dakwah bersama tarbiyah. Dan terakhir adalah faktor Koki yang mempertemukan asam dan garam. Aku sendiri meyakini bahwa aku dan bidadariku bertemu karena Allah dan nanti akan berpisah karena Allah pula. Oleh karena itu, agar asam dan garam ini bisa bertemu, maka dekatilah Sang Koki. Semakin dekat denga Sang Koki maka semakin mudah pula harapan mempertemukan asam dan garam menjadi kenyataan.
Seperti itulah pendapatku dalam menjawab bagaimana bisa dari 0 – 3.265 mdpl bisa bertemu. Aku sendiri, yang diibaratkan asam di gunung, berniat dan mempersiapkan diri untuk menikah. Aku tak tahu apakah sang garam pun juga melakukannya, karena itu bukan wilayahku. Yang jelas, aku menyiapkan diri, mengkondisikan dan memilih panci yang baik untuk mempertemukan asam dan garam ini, dan mendekat kepada Sang Koki.
Tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Tak ada kebetulan bagi Allah. Jika Allah berkehendak mempertemukan, walau aku di puncak gunung 3.265 mdpl dan bidadariku di ujung pantai 0 mdpl, maka bertemulah asam dan garam atas kehendak-Nya.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »
Kamu ga adil Kak!
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 9, 2008
“Kak,aq pengen ketemu skrg.plis penting bgt ni”.
Tiba-tiba ada SMS masuk. Walau nomor si pengirim SMS itu ga ad di ponbuk HPku, tapi melihat nama di bawah tulisan SMSnya, aku tahu dia adalah mantan mahasiswaku. Sebut saja Bunga, tentu bukan nama sebenarnya. Kebetulan saja aku ada di kampus tempatku mengajar saat itu. Dan mungkin dia tahu aku ada di kampus sekarang. Dulu aku memang menyuruh mahasiswa untuk tidak memanggilku ‘bapak’. Rasanya jadi tua. Lagipula juga belum punya istri. Oleh karena itulah mantan mahasiswaku masih memanggil dengan ‘Kak’. Hm…kalo sekarang, tentu lain.
“Kok tau sy dikampus?OK,qta ktmu,tp dit4 yg rame.di atrium aja.2jam lagi.sy msh mau ngajar”
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
***
Setelah membalas SMS itu, aku kembali ke kelas. Dan tak membuka SMS apapun yg masuk. Belajar jadi pengajar yg profesional. Aku melarang mahasiswa berSMS waktu kuliah, maka aku juga tak akan menyentuh SMS. Aku menyuruh mahasiswa men-silent HPnya selama kuliah, maka aku juga pakai modus diam. Hanya jika menerima telepon saja yang dibolehkan, tapi harus keluar kelas terlebih dahulu. Proses perkuliahan pun berjalan lancar.
***
Aku melihat sesosok perempuan berbaju pink dengan jilbab putih duduk di meja atrium. Itu pasti si Bunga. Aku pun segera mengambil tempat duduk di depannya. Ia tak mendengar salam yang aku ucapkan karena mungkin kupingnya tertutup earphone.
“Eh Kakak. Biasanya salam dulu. Kok tiba-tiba duduk gitu aja.” Benar, ia kemudian melepas earphone-nya
“Gimana kamu mau dengar salam saya kalo kupingmu ga bolong gitu. Ni diulangi lagi, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”
“Jawab salamnya yang bener dong! Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, begitu!”
“Iya…iya…kurang ‘mus’ gitu aja disalahin”
“Udah sekarang ada yang penting apa? Masalah nilai? Kurang nilainya? Tugasnya kebanyakan? Apa?”
“Ih…bukan itu ya. Masak ngomongin kuliah terus. Bosen ah.”
“Ya udah…berarti ga ada yang penting dong. Kalo gitu saya pulang aja”
“Eh…tunggu dulu. Aku mau protes sama Kakak. Aku baca blog kakak. Terutama yang menyembunyikan cinta. Itu kan untuk cowo. Yang untuk cewe kaya aku gimana. Memangnya cowo doang yang bisa jatuh cinta.”
“Lho, bukannya cewe lebih bisa menjaga rahasia hatinya. Kan lebih mudah untuk menyembunyikan cinta bagi cewe.”
“Justru itu yang jadi masalah. Cowo enak bisa memendam cintanya. Kalo cewe yang diincer ternyata jadi sama orang lain, ia bisa milih-milih lagi. Nah kalo cewe? Ga bisa seperti itu, Kak. Kan katanya cewe menang jawaban, sedangkan cowo menang milih. Kalo cowo yang diincer cewe ternyata jadi sama cewe lain, udah ga bisa milih lagi, Kak. Ga adil. Bagi itu sudah eksekusi dua pilihan yang sama-sama menyakitkan seperti yang kamu katakan. Kalo ga menyesal ya cemburu. Padahal tu cewe memendam cinta pada tu cowo. Sakit banget rasanya, Kak. Sakit banget.”
Sebenarnya ingin aku cuek aja dan ga ngasih pendapat apa-apa. Aku pernah baca buku, kalo perempuan curhat itu yang dibutuhkan adalah ia didengarkan. Bukan solusinya bagaimana. Tapi kok ga tega juga aku diamkan ni anak. Heh…jadi inget Dian Sastro pas jadi Cinta, “Kalo lo ngerasain sakit gitu, trus salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?”. Yah, tapi bukan saatnya bercanda deh. Aku hanya butuh materi aja buat bridging. Kalo langsung ditembak pakai Al Bqarah 235 bisa langsung mental ni anak.
“Kamu pernah dengar lagu ‘Selamanya Cinta’?” Dia hanya mengangguk.
“Coba perhatikan lirik reff-nya. Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku. Hingga membuat kau percaya. Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku selamanya. Selamanya.”
“Kamu mudah aja menyanyikan. Nah, anggap aja merasakan makna lirik itu sama mudahnya dengan menyanyikan. Kenyataannya sekarang kamu memang tidak dapat mengungkapkan perasaanmu kan? Tak perlu kamu ungkapkan. Tapi buatlah dia percaya. Namun jangan kamu berikan rasa cintamu seutuhnya selamanya. Karena emang kenyataannya kamu tak bisa mengungkapkan cinta. Apalagi tak ada perjanjian cinta hitam diatas putih diantara kalian. Kamu tahu bagaimana caranya membuat dia percaya?”
“Ga ngerti? Membuat dia percaya tapi tanpa memberikan cinta seutuhnya apa bisa?”
“Hm…kamu hafal lagu ‘Selamanya Cinta’ itu? Kalo hafal, coba nyanyikan. Lirih aja. Biar orang ga ngira kamu ngamen di depanku.” Ia pun menyanyikan lagu ‘Selamanya Cinta’ dari awal.
“Sudah dapat jawabannya belum?” Ia menggelengkan kepala.
“Perhatikan lirik Biar awan pun gelisah daun2 jatuh berguguran. Namun cintamu kasih terbit laksana bintang. Yang bersinar cerah menerangi jiwaku.”
“Ya…pertama akui pada dirimu sendiri bahwa kamu menyukainya. Biarkan cintamu itu berguguran seperti daun. Tapi ga perlu kamu mengumumkan bahwa daun-daun itu jatuh. Sudah ada yang tahu kok kalo daun-daun itu berguguran walau tidak kamu umumkan.”
“Kedua…anggap aja dia juga suka sama kamu. Anggap cintanya terbit laksana bintang. Biar kamu ga capek-capek ngejar cintanya. Ingat ya….ANGGAP. Pura-pura kamu juga dicintainya. Kalo kamu punya anggapan begitu, setidaknya kamu punya daya tawar. Pura-pura dicintainya. Biar kamu tidak dibilang cewe murahan.”
“Ketiga…jadikan cintanya itu memicu semangatmu untuk menjadi lebih baik. Kamu suka cowo yang pinter? Maka jadikan pinter sebagai acuan. Kejarlah acuan itu. Jangan diam saja. Kamu juga harus membuktikan bahwa kamu juga pinter. Kamu suka cowo sehat dan gagah? Maka kamu juga harus sehat dan rajin olah raga. Asal jangan jadi tomboy. Karena kamu perempuan. Kamu suka cowo pinter ngaji? Ya kamu harus bisa ngaji. Pokoknya jadikan kriteria yang kamu tetapkan itu jadi acuanmu sendiri. Ingat, cintanya terbit laksana bintang. Bintang akan tetap dilangit. Kamu tidak akan bisa menggapainya jika tidak beranjak ke langit. Paham?”
“Nah dia kan tetep belum tahu, Kak. Trus kalo dia jadian sama cewe lain gimana?”
“Kamu sudah mengejar kriteria yang kamu tetapkan? Misalnya kamu lihat tu cowo pinter ngaji. Trus kamu sudah ngaji dengan baik. Udah khatam berkali-kali. Tapi dia malah ga melihatmu. Ya berarti kamu berhasil mengejar kriteria yang kamu tetapkan tapi kenyataannya tu cowo ga sesuai dengan kriteriamu itu. Dengan kata lain, kamu memenangkan ‘lomba ngaji’ sama dia. Artinya tu cowo ga pantas buat kamu. Karena kamu akan dapat cowo yang lebih baik dari dia. So, nyantai aja kalee…”
“Nah kalo aku belum berhasil mengejar kriterianya, gimana?”
“Sori ni ya kalo rada jahat…Hm…kalo kondisinya seperti itu, itu kamu yang bermasalah. Masak mendambakan cowo yang pinter ngaji tapi kamu ga bisa ngaji. Ngaca dong, ngaca!”
“Iiiihhhhhhh….Kakak jahat banget sih”
“Eiitt…jangan sentuh saya!”
“Iya…iya…ntar calon istri Kakak marah kalo tahu aku menyentuh Kakak”
“Nah, sudahkan curhatnya? Udah sana segera pulang. Terus ngaji. Terus dibuka Surat Al Baqarah ayat 235. Dibaca juga terjemahnya. Begitulah cara mengejar cinta. Di pendam saja.”
“Kak…boleh tanya lagi ga? Gimana sih rasanya menunggu tanggal pernikahan? Deg-degan ya? Khawatir ini itu ya? Takut kalo ada masalah ya?”
“Halah…ni bocah pengen tau aja. Nanti kalo sudah waktunya kamu menikah, juga bakal merasakan. Sudah sana belajar yang rajin. Ga usah mikirin cowo mulu. Dikejar aja kriterianya. Sekali-kali jadi sok egois gitu lho. Jangan mikir bagaimana caranya punya pacar mulu. Ga usah pacaran lah. Masak kamu belajar akuntansi ga bisa memaknai benefit greater than cost mengenai cinta.”
“Sudah, aku mau pulang. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”
Begitulah obrolan santai sore itu. Mungkin ada yang protes, mana ada dosen deket sama mahasiswanya sampe curhat-curhatan gitu. Nah, ini nih yg jadi masalah. Perlu dipertimbangkan lagi paradigma yang ada bahwa dosen hanya sekedar menyampaikan materi kuliah. Bagiku, dosen bukan hanya berperan seperti itu. Peran pendidikan jauh lebih penting. Materi kuliah itu bisa digeber dengan cepat. Bahkan kalo mau cuek, bodo amat mahasiswa ngerti ato kagak. Yang penting semua sudah disampaikan. Tapi pendidikan untuk membentuk karakter, heh…itu yang butuh waktu tidak sebentar. Pembentukan karakter juga butuh kepercayaan. Dalam hal ini dosen menjadi objek yang dipercayai. Maka jangan salah kalau mahasiswa akan sangat memperhatikan dosennya, baik di dalam atau diluar kelas. Ketika mereka melihat dosennya tetap berjalan diatas rel karakter yang baik, mereka akan mengikutinya. Tapi sekali saja mereka menjumpai penyimpangan pembangunan karakter, hapuslah kepercayaan dan harapan yang mereka kepada si dosen.l
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 3 Komentar »
Buah Kejujuran
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 3, 2008
“Py, kamu tahu kan? Bahwa Allah akan memperlihatkan isi hati seseorang melalui mukanya?”
Tiba-tiba suara perempuan yang aku kenal menusuk lubang pendengaranku pagi ini. Aku masih diam. Menerka-nerka apa yang akan dia katakan berikutnya.
“Ada apa Py? Ada masalah apa? Ada masalah dengan pernikahanmu nanti?”
“Ga apa-apa kok mbak”
“Satu lagi yang harus kamu tahu Py. Bahwa perempuan itu lebih bisa merasakan ada yang tidak beres ketika melihat muka-muka bermasalah seperti kamu”
“Maaf mbak. Terlalu cengeng bagi seorang laki-laki untuk menceritakannya”
“IYA! Dan laki-laki seperti kamu juga terlalu SOMBONG untuk mengakui bahwa kamu cengeng padahal siapapun yang melihat akan tahu bahwa matamu berkaca-kaca! Kamu tak cerita juga ga apa-apa bagiku! Yang jelas jika kamu tak bersuara lagi, aku jadi tahu bahwa kamu bukanlah Wipy yang aku tahu selama ini.”
Si Mbak tiba-tiba ketus dan tegas sambil membuka kelopak matanya lebar-lebar.
“Mbak, kamu tahu apa buah dari kejujuran? Kamu tahu bagaimana rasanya buah dari kejujuran?”
Si Mbak hanya terdiam.
“Kenapa diam mbak? Bagaimana rasanya mbak! Ayo di jawab! Apakah pahit! Manis! Asam! Atau asin!”
Si Mbak masih terdiam.
“Kenapa mbak masih terdiam? Ga bisa jawab? Dan aku ga butuh jawabanmu mbak. Apapun rasanya buah kejujuran, entah itu pahit, entah itu manis, apakah itu asam, ataukah itu asin, akan aku memakannya mbak!”
Sekarang ganti Si Mbak yang berkaca-kaca matanya
“Mbak masih diam juga? Apa kurang jelas? Sekali lagi mbak, akan aku memakannya!”
Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut si Mbak
Lantas aku tinggalkan si Mbak begitu saja. Aku rindu bangunan megah di jalan Kaca Piring itu. Begitu sejuk dan damai di dalamnya. Setelah tugas kuliah ini selesai, aku akan menuju kesana…
Bismillah…Ya Allah ampuni aku…Ya Allah maafkan aku…Ya Allah, hanya Engkau yang aku tahu Maha Pengampun dosa….Astaghfirullah
Terima kasih buat si Mbak yang telah membaca raut mukaku.
Adakah yang bersedia memberiku nasehat? Bukan hanya diam seperti si Mbak
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »
Sahur Bareng ala Pondok Muslim
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 1, 2008
Seru banget sahur pertama di bulan Ramadhan 1429 H di kos Pondok Muslim. Beruntung sekali kos-kosan kami yang lumayan jauh dari warung mendapatkan informasi bahwa Warungnya Bu Ning masuih buka dan bersdia menerima pesanan. Jika anda berminat untuk memesan makan sahur di Warung Bu Ning seperti kami, tinggal telepon aja di 021-98256833. Terus terang aja nih, sekalian promosi Warungnya Bu Ning. Emangnya cuman Pak Bondan aja yang bisa mak nyuss. Terus kalau telepon sebelum pukul 21.00 ya, demi menjaga etika sopan santun gitu deh.
Nah, kami menentukan menu tetap yaitu nasi pakai sayur 2 jenis (sayur kuah dan oseng-oseng atau orek) plus gorengan dan sambel. Adapun lauknya kami bisa memilih telur dadar, telur ceplok, telur bulat, sarden, ikan, ayam goreng, dan hati ayam. Tuh kan beragam. Tinggal tulis nomor kamar kos masing-masing disamping pilihan lauk. Waktu sahur tinggal nunggu si tukang piket dateng membawa kecerian. Oiya, kami juga membuat daftar piket mengambil sahur dari Warung Bu Ning. Kalau tadi pagi yang tugas piket Kang Agus #1, besuk pagi Abud #2, nah lusa baru Wipy #5.
Semnetara ini teman-teman mendaulatku sebagai tukang reservasi. Kata mereka cocok kalo ngomong sama Bu Ning. Bahasa Jawanya itu loh pas banget sama obrolannya Bu Ning. Hm…masih seputar menu, kebetulan kos-kosan kami tuh dihuni oleh orang-orang yang mobilitasnya tinggi. Baik mobilitas di kampus, di kantor, atau di alam mimpi. Jadi sangat rawan dengan lupa ga pesan sebelum pukul 21.00. Untuk mengantisipasi keteledoran itu kami membuat menu default. Menu default ini pakai telur dadar. Disebut menu default karena anak kos yang lupa pesan akan dianggap pesan menu default. Hm…ada-ada ajah.
Hasil rekapitulasi pemesan menu berdasarkan jenis lauknya (ya iya lah berdasarkan lauk. Kan nasi, sayur, gorengan dan sambal sama), adalah sebagai berikut:
Telur dadar : 4 orang
Telur Ceplok: 1 orang
Sarden: 9 orang
Ayam goreng: 1 orang
Jadi total pemesan sahur dari Pondok Muslim ada 15 bungkus. Namun apa yang terjadi…Kang Agus #1 tadi pagi lupa tidak menghitung ulang. (biasanya juga ga diitung ulang, lha wong udah percaya banget saa Bu Ning). Lagi pula tadi pas sahur tuh daerah Sarmili lagi mati lampu. Jadinya gelap. Malah menyusahkan kalo diitung ditempat Bu Ning yang sudah berjubel pelanggannya. Dan benar, telur ceplok pesanannya Iyok #8 ga ada. Kasihan sekali dia. Namun setelah mengalami penderitaan panjang karena diledek, dicaci-maki dan dihina dinakan oleh Tegwan #17, akhirnya Tyo #11 dan Prian #14 menyisihkan nasinya untuk Iyok #8. Terus lauknya pakai telur ceplk buatan Papam #12. (sekilas info, si Iyok #8 dan si Papam #12 nggoreng telunya barengan loh…ih so sweet).
Makan bareng…rame bareng…sambil nonton PPT. Ngakak…ngakak apalagi ‘Bang Jack’ tiba-tiba telepon. Jah-jauh dari Surabaya, setelah menikmati penempatan ulang yang menyenangkan, ‘Bang Jack’ yang pernah menghuni kamar #3 Pondok Muslim itu hanya ingin sekedar menyapa keramaian Pondok Muslim dan tentu saja…’Kalila’-nya.
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Ramadhan terakhir si Bujang
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 1, 2008
Semalam sepulang dari As Sa’adah aku jalan bareng sama Hasta #16.
“Wah mas Wipy ini Ramadhan terakhirmu ya?”
“Apa maksudnya tu Hast?” jadi deg-degan aku tiba-tiba ia bilang begitu.
“Maksudnya terakhir di statusmu yang akan berakhir ini lho”
“Oalah, kiran apa. Ya semoga Ramadhan tahun depan benar-benar lebih indah ya Hast…he…he…”
“Aku juga pengen mas. Tapi kok mungkin baru bisa dimulai tahun depan ya”
“Lho kenapa harus nunggu tahun depan. Kalo bisa nikah bulan depan, ya nikah aja to”
“Maksudku tuh baru masuk kuliah D4 tahun depan”
“Halah kamu ini bisa aja ngelesnya”
*****
Kemarin pagi juga dibahas masalah yang sama. Malah aku jadi bulan-bulanan teman-teman Pajak STAN 2004 sebelum Futsal dalam rangka Tarhib Ramadhan dimulai.
“Wah denger-denger kamu mau meletakkan jabatan dari Sekjen IJO BOSOK ya Py?
“Insya Allah, alhamdulillah. Iya nih lagi nyari kader yang siap dicaci maki he…he… Kamu mau daftar?”
IJO BOSOK adalah Ikatan JOmblo ndoBOS lan omong thOK. Merupakan kumpulan segelintir oknum berpengaruh yang berstatus Jomblo bin bujang. Hanya nasib saja yang belum membawa mereka bertemu jodoh. Sebenarnya orang-orang di dalamnya sudah sangat siap menikah. Tapi ya itu tadi. Nasib. Makanya mereka dibilang ndoBOS lan omong thOK (banyak bicara dan omong doang) karena teori pernikahannya sudah mature dan tinggal dipraktikkan. Sayangnya belum ada kesempatan.
“Jadinya kapan Py?”
“Tunggu lah, undangannya masih dicetak tuh”
“Ngemeng-ngemeng kamu beruntung dapat akhwat mana Py?
“Eh, bukan beruntung, tapi tu akhwat yang khilaf deh kayaknya”
Belum juga dijawab, eman-teman sudah pada ngakak ga karuan dan tak henti-hentinya memploncoku.
“Wah kamu seneng banget dong Py”
“Iya, Wipy seneng. Akhwatnya yang senep. Kasihan banet tuh akhwat”
Haduuuuhhh….belum sempat ambil nafas udah klenger dihabisin nih
“Eh tapi jangan khawatir Py, insya Allah kalian berdua nanti masuk surga”
“Amiin”
Alhamdulillah, akhirnya ngomong juga
“Iya, Wipy masuk surga karena banyak bersyukur. Nah si akhwat masuk surga juga karena banyak bersabar”
Aaarrrrggghhh…
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 4 Komentar »
Nama cakram kilat-ku
Ditulis oleh pembawacerita di/pada September 1, 2008
Kemarin aku dikritik sama sobat dekatku. Sobatku yang satu ini memang kritis banget. Inisialnya “H”. Belakangnya “endra”. Lho?! Gara-garanya aku ngopy file di komputernya pakai flesdis alias cakram kilat.
“Py, kok nama flesdis-mu masih tetep sih? Ga optimis banget!”
“Diganti apa Ndra?”
“Ya jangan tetep ‘kapan NIKAH’. Ganti aja jadi ‘i4WI NIKAH’ gitu lho!”
“Lagian juga udah menghitung hari gitu kok!”
“Iya…iya…optimis deh..”
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | Leave a Comment »
UTS Keuangan Publik
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 28, 2008
membaca makro ekonomi sampai mabuk masih juga ga paham logikanya. ya iyalah, wong bacanya sehari sebelum ujian, kok mau menyantap satu buku penuh!
akhirnya menyerah satu jam sebelum berangkat ujian. alah cemen, gitu aja nyerah!!! katanya optimis? mana buktinya?
tapi ga nyerah diem. coba buka file nota keuangan RAPBN 2009. emangnya nyambung apa?
ya sejam itu aja mencoba mengerti perekonomian Indonesia. pasti ga ngerti, 400 halaman lebih masak dimakan sejam. yang baca buku makro sehari semalam aja ga paham gitu kok.
tapi yakin banget…yakin banget…yakin banget…bisa ngerjain ujian dengan baik. Pasti akan datang pertolongan Allah. Pasti terbantu. pasti bisa. pasti bisa. pasti bisa. iiiihhh…ngarep ya?
alhasil, soal yang keluar adalah…asumsi makro perekonomian Indonesia. hm…agak bingung juga sih. lembaran jawaban isinya seputar Nota Keuangan RAPBN 2009 mulu. kok bisaaaa…..!!!
Hasil ujian? pasrahkan saja. pasti dapat yang paling bagus. pasti. pasti. masih ngomporin buat pesimis ga ya?
heehhh…lha si Pesimis aja kok jadi pesimis gitu? eh…iya ya?
*catatan: tulisan diatas adalah dialog hati antara si Optimis dan si Pesimis. yang tertulis tegak, itu si Optimis. kalo yang tertulis miring, itu si Pesimis.
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
Surat Cinta buat Naila
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 28, 2008
Assalamu’alaikum wr.wb.
Pa kabar dik Naila Andini Hanifa? Sehat khan? Hmm…semoga selalu sehat ya, seperti Bunda dan Ayah dik Naila yang selalu sehat, gembira, bersemangat, dan begitu sayang sama dik Naila.
Ya karena itu lah, nanti kalo dik Naila sudah gede, yang patuh sama Bunda dan Ayah ya. Sekarang khan dik Naila sudah bisa merasakan betapa cintanya Bunda dan Ayah kepada dik Naila. Kalo dik Naila sudah bisa menyanyi, coba nyanyi lagu “kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Nah, sambil nyanyi begitu, dik Naila bisa minta tolong Om Fria buat ngiringi pake piano ato Om Fajar pake gitar. Nah nanti Om Supri yang memfoto, trus Om Wirawan yg nge-shoot pake handycam. Hm…seneng khan??
Dik Naila nanti harus pinter mengaji ya. Biar menjadi wanita sholihah seperti Bunda. Minta Bunda aja yang ngajarin ngaji dik Naila. Trus nanti kalo Ayah capek pulang kerja, dik Naila deketin Ayah, trus mengaji disamping Ayah. Pasti Ayah seneng banget, trus ga jadi capek deh, karena mendengar suara dik Naila yg merdu melantunkan ayat-ayat AlQur’an. Dan pastinya bukan cuma Ayah yg seneng, Bunda juga seneng, Oma & Opa juga seneng. Semuanya seneng.
Oiya, ingetin Ayah dan Bunda ya, nanti kalo dik Naila sudah besar, main2 sama Kak Fiqi-nya Om Supri & Kak Putri-nya Om Hernas.
Om Fria juga sudah nyiapin tante buat dik Naila. InsyaAllah nanti 5 Oktober 2008 Om Fria Nikah di Trenggalek. Dik Naila ingetin Ayah kalo sempat pulang ke Trenggalek, jangan lupa mampir ke walimah Om Fria.
Kalo Om Fajar masih pengen kuliah lagi. Jadi belum kepikiran nyariin tante buat dik Naila.
Kalo Om Wirawan….hmm…Ayah dik Naila sudah tahu kok.
Yup, segitu dulu surat cinta buat dik Naila. Semoga lekas gede, pintar dan shalihah. Ups…ingat Surat Luqman ya….
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Salam sayang….
Om Supri, Om Fria, Om Wirawan, Om Fajar
Assalamu’alaikum wr.wb.
cttn: Naila Andini Hanifa, putri pertamanya Mas Wihandy-Mbak Yeni yang lahir pada 26 Mei 2008
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
kok tambah kurus
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 21, 2008
Tadi ketemu adik kelas. “Mas Wipy apa kabar?”. Alhamdulillah baik. “Sekarang sering lari-lari ya setiap sore?”. Hmm…kok tau. “Ya iya lah…kan keliatan. Ada misi apa mas?”. Mission not-impossible. “Tapi sekarang kok tambah kurus mas?”. Masa’ sih?. “Iya, tambah kurus. Liat aja tuh pipinya tambah cekung”.
waduh…ga bisa berkata-kata lagi.
masa’ sih aku tambah kurus? padahal sekarang ada program olah raga teratur. setiap sore. kalopun tertunda ya berseling satu hari. ga lebih lama. porsi olah raga juga standar. 30 menit. aktif bergerak terus. plus tambahan menu khas “Diklat STAPALA” yang konon diracik oleh seorang pelatih pendaki Everest. masalah makan sekarang juga menjadi lebih teratur. tiga kali sehari. Bukan tiga hari sekali. beda dengan dulu yang lebih sering dua kali sehari dan itu pun tidak teratur.
tapi kok tambah kurus katanya?
ada saran ga? tips apa gitu yang bisa gemukin badan dikit gitu. jangan terlalu gemuk. ntar malah ga mobile. ya setidaknya biar tidak dibilang tambah kurus lah.
would you help me? pliiiissss…..
Ditulis dalam Uncategorized | 16 Komentar »
Saksi keajaiban…
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 20, 2008
Seorang kawan dekatku masih belum percaya dengan apa yang aku ceritakan mengenai keajaiban yang aku dapatkan. Hingga akhirnya matanya terbelalak ketika bukti-bukti otentik runtutan kejadian ajaib itu datang. Aku adalah saksi keajaiban yang dianugerahkan Rabb-ku. Sebenarnya aku ingin membagi cerita-cerita keajaiban itu.
Hanya saja aku masih memikirkan bagaimana caranya…
Ada yang mau ngasih saran bagaimana caranya ya? terima kasih banget kalo mo ngasih…
Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar »
Sang Murabbi
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 20, 2008
Hari Selasa kemarin (19 Agustus 2008) benar-benar menjadi hari film bagiku. Pada siang hari aku menonton film favorit Pemberantasan G30S/PKI. Malam harinya aku disuguhi film Sang Murabbi. Adalah Apriyanto Setiawan yang menjadikan malam itu lebih panjang. Bukan sekedar bergadang, tapi mengambil hikmah perjuangan.
Aku tak bisa menggambarkan kekagumanku terhadap perjuangan Ustadz Ahmad Abdullah. Sesosok manusia yang menjadi fokus cerita film itu. Terlalu detil film itu untuk diambil hikmahsnya setiap menit berlalu. Kesederhanaan, bakti kepada ibu, kecintaan terhadap keluarga, dakwah yang dijalankan, adalah fragmen-fragmen yang tak putus untuk diambil pelajaran. Aku berniat untuk menjadikannya koleksi filmku.
Lihat pula sosok sang istri. Bagaimana ia memahami aktivitas sang suami. Bagaimana ia setia menjaga keluarga ketika sang suami tidak di rumah. Bagaimana ia merelakan persediaan bahan makanan yang sudah tipis untuk disedekahkan kepada orang yang lebih membutuhkan. Memang seorang sosok istri idaman. Suami mana yang akan meninggalkan? Hanya maut lah yang bisa memisahkan. Dan itupun hanya sementara. Luar biasa.
Menyesal pemuda yang ga menonton film ini.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »
Setelah menanti 11 tahun
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 20, 2008
Setelah menanti kurang lebih sebelas tahun, akhirnya aku kemarin bisa menonton kembali Film sejarah Indonesia, Pemberantasan G 30 S/PKI. Terima kasih aku ucapkan untuk mas Fakhrudi Daharianto yang telah meminjamiku film favoritku itu. Seingatku setelah 1997 film itu sudah tidak diputar lagi di TVRI. Perubahan yang sangat mencolok, karena sebelum meledak reformasi film itu diputer setia tanggal 30 September. Rupanya pergeseran platform politik di Indonesia membawa dampak yang begitu massif hingga film-film sejarah pun semakin dikesampingkan dari penyiaran.
Aku prihatin dengan negeri ini. Terus terang selama bulan Agustus tahun ini aku menunggu film-film sejarah perjuangan Indonesia. Tapi aku tak menjumpainya di televisi. Rindu aku dengan flm-film perjuangan negeri ini. Film-film yang membangun semangat juang. Bukan sinetron-sinetron kejar tayang. Film-film yang menyuntikkan pendidikan melalui sinema yang bermutu. Bukan film horor penuh tahayul dan hantu blau.
Kasihan sekali film-film perjuangan itu. Termakan gelombang poitik praktis yang terlalu deras. Itu pun jika tak keberatan untuk disebut kebablasan. Aku semakin tidak mengerti dengan politik di negeri ini. Apalagi ditambah kasus-kasus politisi papan atas yang terjerat korupsi. Seolah-olah politik itu kotor. Seakan-akan politik itu hanya sekedar partai dan kekuasaan.
Padahal menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah, politik itu bersih, politik itu suci, politik itu setu level di bawah kenabian. Ini lah kacamata pandang politik yang lebih bijak. Bukan sebatas kekuasaan menjabat. Tapi lebih memikirkan kemaslahatan umat. Bukan sekedar membesarkan partai. Tapi lebih untuk memajukan negeri. Politik adalah mengelola publik. Memikirkan politik adalah memikirkan masalah umat. Untuk umat, bukan untk kekuasaan.
Kembali ke film G 30 S/PKI. Dulu setiap tahun aku menonton film ini, maka setiap kali mennton itu pula meletup-letup semangat perjuangan. Walau saat itu hanya sebatas impian anak-anak. Dan ketika aku menikmatinya kembali kemarin, letupan-letupan semangat itu masih dapat aku rasakan. Termasuk perjuangan para perempuan. Istri-istri jenderal yang dihasut sebagai Dewan Jenderal. Mungkin kondisiku saat ini yang paling berpengaruh untuk mengetahui bagimana perempuan. Aku tak tahu banyak dengan perempuan. Karena itulah aku berusaha mencari tahu seperti apa makhluk yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok itu.
Coba simak apa yang dilakukan istri Jenderal Nasution ketika pasukan Cakrabirawa mengobrak-abrik rumahnya. Ia menahan pintu kamar dengan tubuhnya padahal dari balik pintu pasukan Cakrabirawa memberondong dengan peluru. Dengan kondisi mempertaruhkan nyawanya, ia masih sempat meminta suaminya, Jenderal Nasution, untuk segera melarikan diri. Dan ketika Jenderal Nasution berhasil melompati pagar rumah, ia setia menjaga dan memeluk buah hatinya tercinta, Ade Irma Suryani, yang tengah tertembak peluru Cakrabirawa. Ini adalah naluri ibu. Demi sang anak, dalam kondisi apapun, ia tetap memeluk dengan penuh kasih sayang. Dengan tangan bersimbah darah anaknya ia berusaha menyelamatkan buah hatinya di tengah ancaman pasukan Cakrabirawa.
Hatiku luluh lantak ketika menyimak dialognya dengan pasukan Cakrabirawa pada saat ia perusaha meraih telepon untuk mencari bantuan. Di depan todongan senjata pasukan Cakrabirawa yang menghentikan tindakannya, ia menjawab pertanyaan pasukan Cakrabirawa dengan tegas, “Pak Nasution pergi ke Bandung. Sudah tiga hari beliau di Bandung. Kalian kesini hanya untuk membunuh anak saya!”. Tangannya masih menyangga tubuh Ade Irma dan berusaha menutup aliran darah yang mengalir. Walaupun tetap saja darah Ade Irma bersimbah ke lantai. Ia tidak bicara lagi dengan pasukan Cakrabirawa. Tapi cukuplah kakinya yang berbicara dengan menunjukkan darah Ade Irma yang bercucuran di lantai di depan pasukan Cakrabirawa.
Seperti inikah ibu idaman anak-anaknya? Seperti inikah istri yang menjadikan suami tak akan berpaling cintanya?
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 4 Komentar »
MERDEKA TANPA CITA-CITA
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 20, 2008
Tulisan ini merupakan naskah asli dari tulisan yang judulnya sama dan dimuat di salah satu produk Media Centre, Pers-nya mahasiswa STAN. Tapi rupanya banyak sekali yang diedit. Wajar saja bagiku. Memang space penerbitannya sempit. Jadi tidak memungkinkan untuk memuat keseluruhan tulisanku ini. Tulisan ini sepenuhnya adalah hasil dari kegundahan dan keprihatinan dengan kondisi pergaulan mahasiswa STAN sekarang. Sekaligus menyeru kepada mahasiswa STAN untuk memperbaiki lingkungan kampusnya. Dan juga siapa saja yang membacanya diharapkan dapat memperoleh manfaat dari tulisan ini. Dari lubuk hati yang terdalam, sebenarnya aku meniatkan tulisan ini sebagai alat dakwah. Entah ini memang alat dakwah atau bukan, wallahu ‘alam…
MERDEKA TANPA CITA-CITA
Oleh: Wirawan Purwa Yuwana[i]
Pemandangan merah putih khas bulan Agustus mulai marak di berbagai tempat. Memang sebentar lagi Indonesia akan memperingati ulang tahun kemerdekaannya yang ke-63. Saat-saat seperti inilah yang tepat bagi seluruh elemen bangsa, termasuk para pemuda, mengingat kembali makna kemerdekaan dan perjuangan Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘merdeka’ diartikan bebas (dari perhambaan, penjajahan dan sebagainya), dapat pula diartikan tidak terikat, tidak tergantung kepada orang atau pihak tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikeahui bahwa merdeka merupakan suatu keluaran karena adanya suatu proses. Adapun proses yang dimaksud adalah perjuangan.
Perjuangan melawan penjajah telah mengalirkan darah pejuang menjadi tumbal kemerdekaan. Kemerdekaan mutlak harus dimiliki bangsa Indonesia. Walaupun sejak tahun 1887 Belanda sudah melakukan politik balas budi dengan melaksanakan progam irigasi, transmigrasi dan edukasi, namun hal itu tidak cukup untuk menebus kemerdekaan Indonesia. Menyerah dalam kubangan politik etis Belanda berarti telah menempatkan harga diri bangsa ini di bawah bayang-bayang penjajah. Oleh karena itulah perjuangan tetap dikobarkan baik yang secara terang-terangan melawan maupun yang bergerak di bawah tanah. Perjuangan itu menunjukkan betapa semangat membara tercermin untuk mewujudkan jaman baru. Seperti kata Soekarno dalam Di Bawah Bendera Revolusi, jaman baru yaitu jaman muda, sudahlah datang sebagai fajar yang terang cuaca.
Sekarang kita bisa merasakan buah perjuangan para pahlawan. Namun bukan merdeka namanya jika kita tidak mempertahankan kemerdekaan ini dengan perjuangan. Siklus perjuangan itu tetap harus berputar. Jika dulu keluaran dari proses perjuangan adalah kemerdekaan, maka sekarang perjuangan merupakan proses untuk mendapatkan keluaran mempertahankan kemerdekaan dan menciptakan kehidupan negara yan lebih baik. Perjuangan memang tidak boleh berhenti. Menghentikan perjuangan berarti sama saja menjemput kematian cita-cita.
Lantas bagaimana seharusnya bentuk perjuangan pemuda sekarang? Pemuda harus menyadari betapa penting perannya pada masa depan bangsa. Suatu bangsa jika pemudanya baik, maka masa depannya pun baik. Namun jika pemuda suatu bangsa hanyalah kumpulan begajulan maka tinggal ditunggu kebinasaan bangsa itu. Kesadaran inilah yang perlu dipahami para pemuda agar senantiasa bersemangat dalam menempa dirinya. Menempa diri sehingga memiliki modal untuk berperan dan bermanfaat bukan sekedar bagi dirinya sendiri, tapi lebih dari itu. Bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, negara dan kehidupan.
Seperti itulah sejatinya perjuangan pemuda. Jadi merdeka tidak disalah artikan sebagai bebas tanpa batas. Fenomena merdeka ayam, yaitu bebas merdeka dan dapat berbuat sekehendak hatinya inilah yang harus diwaspadai para pemuda. Saat ini begitu marak fenomena merdeka ayam disertai berbagai alasan rasionalisasinya. Dalih kebebasan berekspresi sering digunakan untuk mengeksplorasi kebebasan tanpa batas. Alasan demi memancing kreatifitas anak bangsa pun diungkapkan walau banyak bertentangan dengan norma. Justifikasi hak asasi manusia pun dinomorsatukan dalam berpendapat tanpa memandang bahwa orang lain juga memiliki hak asasi. Dan tentu masih banyak rasionalisasi lainnya yang melupakan keluarannya, yaitu perubahan untuk perbaikan.
Sebelum melihat kondisi bangsa yang semakin terpuruk ini, mari kita lihat saja kampus STAN tercinta. Kita introspeksi bersama-sama mengenai kehidupan mahasiswanya. Mahasiswa STAN sekarang sudah mengalami pergeseran norma. Itu pun jika keberatan untuk dikatakan mengalami degradasi moral. Permasalahan ini bukan sekedar wacana, tapi sudah menjadi bukti empiris. Tidak sadarkah mahasiswa STAN sekarang sedang mempelajari mata kuliah baru yang dahulu tidak pernah ada. Sebut saja mata kuliah etika dan budaya nusantara. Seharusnya kita sebagai mahasiswa STAN sadar bahwa munculnya mata kuliah etika itu cukup membuktikan bahwa mahasiswa dan lulusan STAN tidak memiliki etika. Demikian juga adanya mata kuliah budaya nusantara. Cukuplah latar belakang bahwa lulusan STAN cenderung tidak memiliki nilai manfaat di masyarakat setelah lulus dan ditempatkan.
Mahasiswa STAN sekarang tak perlu malu jika dibandingkan dengan mahasiswa STAN jaman dulu. Jika dulu sepasang muda-mudi mahasiswa STAN ketahuan bergandengan tangan akan sangat merasa malu, namun tidak dengan mahasiswa sekarang. Bergandengan tangan sepasang mahasiswa yang berpacaran dimabuk asmara pun menjadi lumrah dan biasa. Tak ada lagi rasa risih jika dilihat orang lain. Yang ada justru cuek dengan apa kata orang. “Emang gue pikirin!”, begitulah kira-kira ungkapannya. Penulis khawatir, muda mudi seperti ini justru akan menjadi musuh dalam selimut ketika sudah ditempatkan di instansi pemerintah. Boro-boro akan mengamalkan ilmu dan mempertahankan idealisme, yang ada mungkin justru berkolaborasi, berpegangan tangan, dan berkolusi dengan koruptor untuk menguras keuangan negara demi kepentingan pribadinya. Kemungkinan masa depan seperti ini bisa terjadi karena sewaktu di kampus tangan-tangan muda-mudi ini sudah terlatih untuk memegang sesuatu yang bukan haknya.
Selanjutnya mari kita lihat pasangan muda-mudi mahasiswa STAN di beberapa kantin. Mereka saling menyuapi layaknya suami istri. Mereka seolah tak peduli dengan orang yang risih melihat kelakuannya. Jika masih berstatus mahasiswa yang belum sah menjadi suami istri sudah berani saling suap seperti ini, lantas bagaimana jika sudah bekerja nanti. Mereka mungkin akan menjadi agen budaya suap di pemerintahan. Mereka yang sudah terlatih disuapi atau menyuapi maka pada suatu saat ketika bekerja nanti sangat mungkin akan mempraktekkan suap dengan berbagi macam bentuk dan triknya. Suap dengan dalih perjamuan tamu pun menjadi biasa. Suap dengan penyediaan fasilitas kenikmatan hotel bintang lima lengkap dengan entertainment-nya pun tak menjadi apa. Hingga gepokan uang tunai pun sudah tak takut lagi untuk menerima.
Kemudian mari kita buka dunia maya. Kita akan menjumpai muda-mudi mahasiswa dengan begitu bangga mendokumentasikan hubungan mesra mereka di profile friendster, wallpaper ponsel atau dekstop komputer. Mereka tak merasa malu memasang gambar yang tampak jelas pipi kanan si perempuan ditempelkan pada pipi kiri si laki-laki. Muda-mudi seperti ini telah menanam benih tidak tahu malu yang nanti akan dibawa ketika bekerja. Yang menjadi pemeriksa pajak tak malu untuk memeras wajib pajak. Yang menjadi bendahara tak malu untuk meminta tips atas uang yang dicairkan instansi lain. Yang bertugas sebagai pelaksana pengadaan barang dan jasa tak malu lagi meminta kickbacks dari rekanan. Yang menjadi auditor tak malu lagi mengakal-akali temuan bersama auditee. Kejadian-kejadian itu sudah dimulai dengan fenomena tak tahu malu yang dilakukan mahasiswa. Entah mereka sadar atau tidak sadar telah melakukan perbuatan yang memalukan.
Fenomena dekadensi moral itu terus berlanjut. Sekarang sudah marak kos-kosan yang mencampur laki-laki dan perempuan. Model pacaran berduaan di dalam satu ruangan kos-kosan pun menjadi kebiasaan. Bahkan tak sedikit informasi yang mengabarkan ada sepasang mahasiswa STAN berciuman. Itu semua baru yang on spot catching. Jika yang kasat mata saja seperti itu, apalagi yang tidak kasat mata. Mungkin mahasiswa STAN malah sudah banyak yang menenggak minuman keras, mengkonsumsi narkoba, fenomena homoseksual, dan berbagai bentuk dekadensi moral lainnya.
Mahasiswa-mahasiswa dengan kebejatannya diatas sungguh tidak menghormati perjuangan pahlawan. Mereka jauh dari cita-cita Soekarno yaitu datangnya jaman muda, jaman yang terang cuaca. Mahasiswa-mahasiswa yang mengalami degradasi moral seperti itu justru akan membuat cuaca bangsa menjadi kelabu. Tanpa masa depan. Dan tanpa cita-cita.
Degradasi moral ini tak boleh dibiarkan. Apakah kita harus menunggu ada kasus hamil diluar nikah terlebih dahulu untuk bergerak memberantas praktek free sex di kalangan mahasiswa STAN? Apakah kita masih harus bersabar hingga ada bencana kematian mahasiswa STAN dikarenakan overdosis narkoba? Apakah kita tetap berdiam diri hingga AIDS datang menggerogoti sebagai dampak fenomena homoseksual? Pertanyaan-pertanyaan itu memang hanya retorika belaka. Tapi jelas hanya manusia waras yang paham bahwa mencegah itu lebih baik daripada mengobati.
Kini saatnya seluruh elemen kampus bergerak melawan arus degradasi moral. Seiring dengan semangat kemerdekaan, perjuangan melawan segala bentuk kebejatan, kehinaan dan dekadensi moral harus dimulai sekarang juga. Jika dibutuhkan infrastruktur untuk menjembatani program menghentikan praktek kehinaan ini, maka mari kita bangun bersama. Lembaga STAN perlu menerbitkan dan mempublikasikan aturan kehidupan mahasiswa STAN. Seluruh organisasi di kampus STAN perlu berkoordinasi dan menyamakan persepsi untuk memperketat pergaulan mahasiswa hingga tidak bebas tanpa batas. Bahkan setiap mahasiswa pun wajib menjadi agen yang mengawasi dan menindak setiap oknum yang melakukan perbuatan menjurus pada pergeseran norma dan penurunan moral. Jangan diam saja. Karena diam membiarkan mahasiswa STAN terkubur dalam degradasi moral, berarti sama saja menghentikan semangat merdeka pada tahun 1945. Maka semakin lama merdeka hanya akan menjadi kenangan dan tanpa cita-cita.
[i] Penulis adalah mahasiswa D IV Akuntansi STAN
Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »
stag…
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 15, 2008
Kemarin mendapat sms dari seorang temen. Kok blog-nya macet alias stag. Posting tulisannya yang lain mana. belum lagi kritik seorang kawan melihat perubahan sensitifitas perilakuku.
STag…
Bukan berarti stag dalam kegitan dan pikiran. tapi entah mengapa pada akhir-akhir ini jari-jari ini berat untuk menari di atas tuts keyboard. aktivitas di depan notebook memang terasa berkurang. dan lebih banyak menumpahkan ekspresi dalam gambar di Corel, atau klasik banget, cuma baca2 file yang ada. ada dipikiran tapi tak mampu menuliskan. bahkan tugas kuliah pun agak bermasalah dalam tulisan. seolah aku hanya ingin membaca dan menikmati keindahan dan ketenangan bangunan utama di jalan kaca piring, Pondok Safari Indah. Bangunan itu kadang tergantikan yang lain, yaitu bangunan utama yang megah dan bisa dijumpai ketika memasuki kampus STAN dari gerbang Ceger. tak bisa memungkiri, banguan2 itu menjembatani ketenangan hati. bersama si kecil yang menemani dan setia walau terkadang hanya ada di dalam saku kemeja atau di dalam tasku.
mungkin benar kata seorang temanku. justru saat2 seperti yang aku alami ini adalah fase terberat. harus melawan invisible enemy untuk mencapai tujuan suci. Tak ada yang bisa menolong kecuali Sang Illahi Rabbi.
Seandainya besuk sudah Ramadhan…
Ditulis dalam Uncategorized | 5 Komentar »
Syawal
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 6, 2008
Ya Rabbi, sungguh indah sekali cara-Mu memberikan ilmu padaku. Beberapa waktu yang lalu aku agak terkejut ketika tiba-tiba ditanya, “Kira-kira kamu kapan menyelenggarakan akad nikah?”. Saat itu aku tidak menyangka bahwa perjalanan ini begitu cepat. Hingga tak menyangka bahwa awal kehidupan ini akan segera dimulai. Ya Rabbi beruntung sekali aku Kau dekatkan dengan orang-orang shalih sehingga bisa membahas pertanyaan yang hingga kini belum bisa aku jawab.
Ya Rabbi, betapa diri ini bergetar ketika membuka lembar demi lembar hikmah yang ditulis orang-orang shalih. Aku menjumpai petunjuk bahwa ‘Aisyah menuturkan, “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan tinggal bersamaku pada bulan Syawal. Lalu adakah diantara isteri Rasulullah SAW yang lebih beruntung di sisi beliau daripada aku.” Selanjutnya pada dijelaskan pula bahwa An-Nawawi rahimullah berkata, “Hadits ini berisi anjuran menikah di bulan Syawal. ‘Aisyah bermaksud, dengan ucapannya ini, untuk menolak tradisi jahiliah dan anggapan mereka bahwa menikah pada bulan Syawal tidak baik. Ini adalah bathil yang tidak memiliki dasar. Mereka meramalkan demikian, karena kata Syawal mengandung arti menanjak dan tinggi…”
Ya Rabbi, beruntung sekali aku Kau dekatkan dengan orang-orang shalih yang pemahamannya lebih baik dariku. Suatu ketika aku berdiskusi dengan seorang shalih mengenai hadits ‘Aisyah di atas. Pemahaman tekstual menyatakan bahwa sangat dianjurkan untuk menikah di bulan Syawal sebagaimana yang telah di contohkan Rasulullah dengan ‘Aisyah. Dan para salafus shalih pun sangat menganjurkan untuk mengikuti sunnah Rasul, yaitu menikah di bulan Syawal. Betapa bahagianya aku jika bisa mengikuti teladan para salafus shalih itu. Dari segi sosiologis, di Indonesia terutama, keluarga biasanya berkumpul pada bulan Syawal. Dan tentu akan sangat bahagia jika menyatukan tali silaturahim diantara mereka dalam suatu prosesi walimah. Baik itu dalam pandangan sosiologis atau pun pemahaman tekstual, pernikahan di bulan Syawal sungguh membahagiakan.
Ya Rabbi, di lain kesempatan Kau mempertemukanku dengan orang shalih lainnya untuk berdiskusi masalah yang sama. Ia lebih memandang secara kontekstual sebagaimana tambahan penjelasan dari An-Nawawi. Pernikahan Rasulullah dengan ‘Aisyah merupakan sebuah perjuangan untuk memutus rantai kejahiliyahan. Yaitu kebodohan kaum terdahulu yang melarang menikah pada bulan Syawal. Maka nilai perjuangan itu pun sebenarnya dapat diambil untuk tradisi masyarakat yang masih jahiliyah di Indonesia ini. Misalnya anggapan masyarakat di daerah tertentu bahwa menikah di bulan Suro (Muharram) itu tidak baik. Anggapan ini perlu dipupus dengan pengorbanan menikah pada bulan Muharram sehingga bisa meluruskan pandangan yang salah. Begitu pula hari-hari yang ditetapkan perhitungan para dukun, entah itu Kamis Pahing, Jumat Kliwon, Sabtu Legi, atau hari apa pun yang ditentukan tanpa dasar syar’i. Tradisi jahiliyah itu haru dipupus dengan perjuangan. Dan perjuangan butuh pengorbanan. Sungguh aku yakin bahwa keberkahan itu datang dari Allah dan bukan pada waktu-waktu yang ditetapkan manusia seperti itu.
Ya Rabbi, aku memang tidak bisa memutuskan sendiri kapan akad nikahku akan terjadi. Ya Rabbi, dalam benakku masih begitu kuat terpatri bahwa menikah itu bukan sekedar untuk diriku sendiri dan istriku nanti. Tapi lebih dari itu, kami akan menyatukan dua keluarga besar dalam ikatan pernikahan. Oleh karena itulah musyawarah antar keluarga sangat dibutuhkan untuk menentukan berbagai hal mengenai prosesi pernikahan. Ya Rabbi yang membolak-balikkan hati, ijinkan aku untuk menaati kedua orang tuaku sebagaimana aku taat kepada perintah-Mu. Ya Rabbi, tenangkan hati ini dalam menunggu kepastian hasil musyawarah antar keluarga kami. Apapun hasilnya, aku mohon keridhoan-Mu. Aku Mohon keberkahan dari-Mu. Aku mohon kelancaran dari-Mu. Ya Rabbi, ijinkan aku menikmati kebahagiaan dalam mengikuti sunnah Rasul-Mu. Kapan dan dimana pun aku.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 13 Komentar »
next post…
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 5, 2008
Pengen banget nulis…
tapi hari ini baru nyampe kos…trus langsung kuliah
biyuh…gdebug…langsung dihantam buku sama anak-anak.
banyak kali list to do-nya. OKeh…syapa takut…!!!
trus ketemu adik kelas di jalan. “Mas someday bantu kita mempersiapkan kompre yak?”. OKeh juga…
trus Om Didit sms…”Le, gimana risk based audit-nya?”. Waduh Om, baru mo buka buku
trus STAPALA…persiapan pembahasan kriteria kinerja…
tapi itu semua ga menghapus keinginan untuk menulis tentang SYAWAL…
Ada apa bulan SYAWAL? Tunggu aja deh di post berikutnya…
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Ganti panggilan…
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 4, 2008
Blog-ku, biasa aku memanggilmu bidadariku…
Kini bersiaplah untuk aku panggil lain seperti biasanya
Karena aku akan segera menemukan bidadari dambaan hatiku
Atau kamu ingin dipanggil apa?
Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar »
Ba’ah apaan sih?…Canda 300708
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Agustus 2, 2008
Bidadariku, dunia ini kabur dalam pandanganku. Ketika tugas kuliah minta dikebut, kemarin aku malah mendapat problem tambahan. Aku tertidur di kamar Kang Agus #1. Begitu melelahkan setelah pulang dari Senayan mengawasi orang-orang tes CPNS. Dan ketika terbangun aku menjumpai kacamataku patah. Aduh biyung…layar monitor pun kabur. Tulisan di buku terlihat bias. Jadi tambah malas membaca. Padahal aku ga boleh malas membaca. Karena membaca adalah bagian dari mempersiapkan kehidupan. Akhirnya dengan susah payah pun menyempatkan diri untuk meniti lembar demi lembar pengetahuan.
Bidadariku, kamu ingin tahu apa yang aku baca? Sedikit saja ya…sebuah petunjuk di Isyratun nisa’ minal alif ilal yaa. Mengenai sabda Rasulullah, yaa ma’syarasy syabaab, manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj. Fainnahu aghadhdhu lil bashari wa ahshanu lil farji, wa manlam yastathi’ fa’alayhi bish shaum, fainnahu lahu wijaa’. Hadits ini memanggil pemuda sepertiku bidadariku. Dalam buku itu diterjemahkan, “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; sebab berpuasa dapat menekan syahwatnya”.
Terus saja terngiang-ngiang panggilan itu dibenakku. Hingga sering bibir ini bergerak-gerak mengucapkan lafaz-nya berkali-kali. Dan ditengah perjalanan menuju As Sa’adah, aku kepergok Gun-gun#20. “Waduh mas, dari tadi ngucapin qala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang itu terus”. Ya sudah, sekalian aja si Gun-gun#20 ini aku jadikan ajang percobaan. “Gun, ada yang manggil tuh. Kamu ngerasa ga?”. Lantas ku tepuk-tepuk punggungnya, “yaa ma’syarasy syabaab”. Dengan senyum tersungging, ia melirikku. Tak ada kata terucap. Hanya melirik saja seperti di film India. Dan aku lanjutkan, ”manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj”. Rupanya ia mulai bosan,”Aduh mas, dari tadi ituu….terus”.
Sepulang dari As Sa’adah pun masih saja menyebut-nyebut lafaz hadits itu. “Artinya apa sih mas?”, tiba-tiba Prian#14 nyeletuk. Iyap, ini dia, aku dapat satu korban lagi. “Itu panggilan buatmu Yan”. Ia bengong. Ku tunjuk-tunjuk si Prian#14, “yaa ma’syarasy syabaab”. Terlukis tanda tanya kecil di atas kepalanya. ”manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj”. Dan kemudian tanda tanya kecil itu tumbuh besar di atas kepalanya. “A R T I N Y A ?”, pertanyaan keluar dari mulut Prian#14 dengan nada seperti anak SD membaca teks Pancasila…satu…dua…tiga…empat…lima.
Belum juga aku menjawab pertanyaan Prian#14, tiba-tiba Hatfi#13 memanggilku. “Mas, ini nih lihat. Pasti suka deh”. Dalam hati agak bingung juga, apa maksud ustadz-nya Pondok Muslim ini. Ia menunjukkanku tulisan arab gundul di monitor laptopnya. “Waduh Fi, mana bisa aku membacanya. Apalagi mengartikannya”. Dia tertawa terkekeh,”Ini sarah Bulughul Maram, Mas. Kamu dari tadi nyebut-nyebut hadits itu terus. Tahu maksudnya ba’ah ga?”. Dengan polos aku memenggal makna terjemahannya, ”Mampu menikah, Fi”. Dia terkekeh lagi,”Ada yang menarik nih. Disini menurut Imam Shon’ani dalam kitabnya Subulus Salam disebutkan bahwa yang dimaksud ba’ah itu kira-kira sama dengan jima’. Ini coba lihat teksnya. Jadi hadits itu bisa dikatakan manistatho’a minkumul jima’. Nah menarikkan?”. Dalam hati aku bergumam, seandainya para pemuda mengetahui dan memahami petunjuk itu, tentu mereka berbondong-bondong memenuhi panggilan ini.
Waduh, namanya juga kumpulan laki-laki yang haus kasih sayang dan telah terdoktrin untuk menyembunyikan cinta, mendengar topik menarik, langsung melirik. “Artinya apa tadi, Mas?”, Si Prian#14 masih minta penjelasan. Nah, ketika disebutkan terjemahnya, malah semakin tertarik dia. “Nah lho Pam, kamu sudah ba’ah belum?”, aku lempar pertanyaan ke arah Papam#12. “Pasteehh!”, ia mengangkat tangannya tinggi lalu menariknya kebawah. “Kok ga ada tanda-tanda yatazawwaj?”. “Waduh mas, bentar dulu napa. Bidadariku kan baru saja terbang. Sayapku ini belum kuat untuk mengejarnya”. Gun-gun#20 senyum-senyum saja dari tadi sambil berdiri. “Kalo Pak Pres ini sudah mampu belum?”, si Papam#12 me-rebound pertanyaan ke Gun-gun#20. “Ya pastilah”, jawabnya lugas. “Masih kecil gitu sudah mampu?”, tambahan Papam#12 setengah menghina si kecil Gun-gun#20. “Ndak papo Pam, yang penting jadi idola banyak perempuan di kampus kito”, dengan nada Sriwijaya-an si Gun-gun#20 malah membusungkan dada. Lantas kubelokkan pandanganku ke Prian#14,“Kalo kamu Yan, sudah ba’ah belum?”. Melotot dia,”Ya sudah lah mas. Masa ya sudah dong. Bacaannya aja majalah, bukan majadong”. “Buktinya mana?”, seperti dikomando dirigen, Papam#12 dan Hatfi#13 mengucapkan pertanyaan yang sama. “Ya, entar lah. Masa dipaksa sekarang”, kata Prian#14 dengan nada tinggi. “Kalo dipaksa sekarang, jadi kasus Ryan dong!”. Dan tawa pun meledak ditengah diskusi itu.
Tiba-tiba Tegwan#17 tergopoh-gopoh dengan perut buncitnya menghampiri forum yang tengah terbahak-bahak. “Apaan sih? Bahas apaan sih? Ulangi dari awal dwonk”. Waduh Teg, kalo dari awal ya capcay deh…….
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | Leave a Comment »
off….
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 29, 2008
Bidadariku, aku off dulu…
mo ngerjain tugas kuliah yang buanyak banget.
lain waktu disambung lagi ceritanya ya…
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
preparation art
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 29, 2008
Memang, adakalanya mempersiapkan diri itu ga selalu sesuai dengan tujuan pribadi kita. Tapi aku yakin Allah tahu kita mempersiapkan diri. Dan Allah tahu kapan kita harus menggunakan apa yang telah kita persiapkan. Dan lebih surprise-nya, waktu yang ditentukan Allah itu datang tanpa kita prediksi sebelumnya. Mungkin ini yang namanya seni mempersiapkan diri. Sama sekali tidak ada kerugian untuk mempersiapkan diri.
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
khawatir tak sempat
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 29, 2008
Bidadariku, waktu terus bergerak dan tak mau melambat. Padahal aku berencana bergerak lagi pada akhir pekan ini. Tapi tugas kuliah kok semakin banyak. Tugas kemarin belum selesai, sekarang sudah ditambah lagi. Sedangkan persiapan ini harus terus berjalan dan tak boleh lalai.
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Diserang Gundah
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 28, 2008
Pagi ini aku ingin berbagi cerita ini untukmu Bidadariku. Cerita mengenai kegundahanku semalaman ini. Rasa was-was dan kekhawatiran yang membombardir pikiranku dalam mempersiapkan kehidupan yang dimulai pagi ini. Gundah, resah, dan gelisah telah menyelimuti tidurku dengan susah. Sebisa mungkin aku memejamkan mata, namun telinga ini seolah mendengar setiap jengkal serangga melangkah. Hingga suatu waktu aku menyerah sebelum fajar datang. Menyerah dengan menatap kata-kata indah penuh hikmah. Dan atas kuasa Allah, aku mendapatkan artileri yang bisa melindungiku dari serangan gundah.
“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”
Beberapa kali aku membaca terjemahan ayat ke 160 surat cinta ketiga dari Rabb-ku. Otak ini memang susah diajak bekerja jika hati ini gundah. Tak segera mengerti apa maksudnya. Sejenak memejamkan mata. Kemudian keluar kamar menerawang langit Jurangmangu yang hitam kelam tanpa bintang. Hingga akhirnya perhatianku tertuju pada dedaunan pohon mangga di depan kos.
Kemarin sore Jurangmangu di guyur hujan deras sedari maghrib hingga isya. Rupanya sisa-sisa air hujan masih terlihat jelas membasahi dedaunan. Di bawah dedaunan itu ada sebuah tabung lengkap dengan lampu penerangan yang dipasang Bapak Kos di tembok gerbang Pondok Muslim. Tujuannya pasti untuk menerangi jalan. Ah, aku tidak peduli sementara itu dengan keluhan PLN mengenai krisis listrik di negeri kaya sungai ini. Aku merasa ada yang aneh dengan tabung lampu itu. Lantas aku mendekat ke arahnya. Semakin dekat dan melihat kaca tabung yang sudah tidak bening lagi. Semakin aku memperhatikannya, aku melihat aliran air di permukaan tabung. Dan tak lama kemudian…tes. Setetes air jatuh dari ujung daun mangga dan meluncur membasahi permukaan tabung. Tetesan air itu mengalir mengikuti gaya tarik bumi. Tidak lama, dan sangat cepat. Namun aku tidak melihat sisa tetesan air itu di ujung alirannya. Segera menguap. Dan terlihat lukisan aliran air baru di tabung lampu.
Bidadariku, sejurus kemudian bekas aliran air itu mengingatkanku pada Umar bin Khatab. Seorang sahabat Rasul yang mengagungkan kebesaran Islam selama masa Khulafaur Rasyidin. Seorang yang dipilih Allah untuk mengabulkan doa Rasul-Nya,”Ya Allah tinggikanlah Islam diantara dua Umar”. Telah dikisahkan bahwa di pipi Umar bin Khatab terlukis aliran air. Itu karena begitu seringnya beliau menangis dalam kekhusyukan qiyamul lail. Betapa tawakkalnya Umar bin Khatab kepada Allah. Dan teringat pula dengan pelajaran yang disampaikan Rasul bahwa “dua mata yang tidak disentuh api neraka, yang menangis karena takut kepada Allah dan yang terjaga di jalan Allah”. Hingga akhirnya ingatan ini semakin mengukuhkan hati. Gundah, khawatir, dan rasa was-was itu adalah penyakit yang dihembuskan setan ke dalam hati manusia. Jika setan itu terbuat dari api, maka harus dipadamkan dengan air. Dengan spontan seolah tak ada pilihan lain, bergegas kaki ini melangkah menuju kran air. Wudhu… wudhu… wudhu… dan hening dalam kenikmatan mengisi sepertiga malam terakhir.
Ketenangan pun menghiasi pagi ini. Dan ternyata, “Maaf ya Dik Wipy, semalam itu saya tidak tahu kalau kamu itu adik kelas SMA dulu. Setelah baca SMSmu baru saya ingat, oalah ini Dik Wipy yang itu to.” Gundah pun terbang melayang diganti obrolan santai dan mengasyikkan.
Ditulis dalam Uncategorized | 7 Komentar »
Alhamdulillah….
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 26, 2008
Alhamdulllah ya Allah…
jalan ini semakin lebar…
jalan ini semakin jelas…
tujuan ini semakin dekat…
maka sampaikan aku pada kesempurnaan Dien-Mu…
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 4 Komentar »
‘Isykariiman aumut syahiidan
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 26, 2008
‘Isykariiman aumut syahiidan
Hidup mulia atau mati syahid
Bidadariku, tidakkah kamu melihatku sekarang? Berdiri kokoh mengenakan jaket hitam seragam MBM dengan tulisan meyakinkan dibagian belakang. ‘Isykariiman aumut syahiidan. Bidadariku, ini lah jalanku. Dan sekarang lihatlah api perjuangan itu membakar hebat hidup ini.
‘Isykariiman aumut syahiidan
Kamu ingat kisah Ka’ab bin Malik, Bidadariku? Ka’ab yang diboikot hidupnya selama 50 hari karena tidak bergabung dengan Rasulullah dan mujahid lainnya di medan jihad. Ka’ab yang menderita karena Rasulullah tidak bergeming ketika dia mengucapkan salam. Ka’ab yang merana karena tak ada tegur sapa baginya pada saat ia ke masjid menunaikan shalat jama’ah. Kesunyian yang ia rasakan ditengah hingar-bingar dakwah masjid saat itu membuatnya malu. Dan ia pun hanya menunaikan shalat di rumah. Lantas rumahnya pun mengalirkan bencana. Istri tercintanya diminta Rasulullah untuk meninggalkannya dan tidak memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Itu lah Ka’ab yang menderita dalam kesendirian ditengah kobaran semangat dakwah dan perjuangan Rasulullah. Ka’ab yang dikucilkan karena tidak segera menyambut panggilan jihad. Ka’ab sebenarna sudah menyiapkan segalanya untuk melangkah ke medan perang. Ka’ab sudah menyiapkan harta dan dirinya. Ka’ab tinggal melangkah menuju medan perang. Namun hanya masalah tidak segera menyambut. Sekali lagi hanya karena tidak responsif. Sehingga Ka’ab tertinggal dari jama’ah jihad Rasulullah. Dan Ka’ab bukan lah sahabat Rasulullah yang remeh temeh. Ditengah hukuman pemboikotan itu, ia di tawari suaka politik oleh Raja Romawi. Bayangkan, ketika tidak ada kawan dan saudara yang bisa diajak bertegur sapa, Ka’ab ditawari jabatan dan suaka politik di negara lain. Namun Ka’ab menolak tawaran itu. Ia lebih memilih Allah dan Rasul-nya serta menikmati hukuman yang ditimpanya. Itulah keteguhan hatinya.
‘Isykariiman aumut syahiidan
Bidadariku, satu lagi kisah sahabat Rasul yang hendak berjuang ke medan jihad. Sahabat itu tidak memiliki apa-apa. Ia tidak memiliki pedang atau pun baju perang. Ia hanya memiliki tubuh. Dan dengan apa yang ia miliki itu saja ia berangkat ke medan perang. Ia membawa panji Islam di tangan kanannya. Di tengah sengit peperangan tangan kanannya di tebas pedang oleh musuh Islam. Biarlah tangan kanan itu lepas, namun panji Islam harus tetap tegak dan jelas. Lantas ia memegang panji Islam dengan tangan kirinya. Tak lama kemudian ganti tangan kirinya itu yang putus tak kuasa menahan pedang terhunus. Ia tidak lagi memiliki kedua tangan yang utuh. Namun semangat menegakkan panji Islam telah membara. Ia merengkuh panji Islam dengan kedua sisa tangannya. Hingga syahid menjemputnya.
‘Isykariiman aumut syahiidan
Ini lah jalan yang aku pilih, Bidadariku. Jalan perjuangan. Jalan jihad. Jalan dakwah. Penuh onak dan duri. Penuh tantangan dan rintangan. Namun tak gentar hati ini demi kejayaan Islam.
‘Isykariiman aumut syahiidan
Sekarang lihatlah umat ini, Bidadariku. Kondisi yang memprihatinkan. Aqidah yang lemah. Lihat saja bagaimana bid’ah, khurafat, dan tahayul merajalela merusak kehidupan bangsa. Bukan hanya tayangan film dan televisi yang memberikan cerita hantu blau dan tak bermutu. Berapa banyak pers mistik yang justru tidak mencerahkan umat. Praktek perdukunan telah menambah kelam kehidupan. Tidak kah kamu lihat kematian Mak Erot yang di ekspos habis-habisan di media, Bidadariku? Tidak kah kamu perhatikan maraknya iklan SMS ramalan perdukunan. Apakah kamu tidak melihat ini adalah ladang jihad, Bidadariku?
‘Isykariiman aumut syahiidan
Bidadariku, tidakkah kamu melihat kebodohan telah merusak pendidikan umat ini? Sudahkah kamu menghitung berapa banyak anak-anak yang putus sekolah karena tidak memiliki biaya? Sudahkan kamu mendapatkan angka statistik berapa pemuda yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena tak mampu membayar uang gedung, uang sumbangan pendidikan, dan pungutan lainnya? Tidakkah kamu melihat bagaimana pemuda-pemuda yang ada dikampus kesulitan memahami mata kuliah dan akhirnya menyerah ditangan Drop Out? Apakah kamu tidak melihat ini adalah ladang dakwah yang luas?
‘Isykariiman aumut syahiidan
Bidadariku, lihatlah akhlak bangsa ini. Jikalau cerminan akhlak bangsa ini adalah para pemimpinnya, maka kamu akan memandang betapa bejat akhlak bangsa ini. Pergilah ke Senayan. Lantas hitung berapa koruptor yang menjelma sebagai pembuat undang-undang. Pergilah keliling Sudirman-Thamrin. Tanyalah penguasa gedung pemerintahan, seberapa banyak kecurangan keuangan yang mereka sembunyikan. Pergilah mengamati pemilihan kepala daerah di negeri ini. Lihat bagaimana mereka menghambur-hamburkan uang demi jabatan sedangkan di tempat lain banyak rakyat yang kelaparan. Atau datanglah ke penjara yang semakin penuh sesak dengan pelaku dosa. Tidakkah kamu berpikir mengenai dampak korupsi, wahai Bidadariku? Jika kamu berpikir zina, kumpul kebo, atau free sex adalah dosa besar, maka bandingkan dengan korupsi. Free sex hanya melibatkan segelintir pelaku. Paling-paling jika pelakunya beruntung, mendapatkan penyakit AIDS biar mereka sadar dan bertaubat kembali ke jalan yang benar. Bandingkan dengan koruptor. Ia tidak hanya harus bertaubat menghadap Rabb Al Izzati. Tapi dosa besarnya harus ditembus dengan meminta maaf kepada seluruh rakyat di negeri ini. Bagaimana caranya, wahai Bidadariku? Aku tak bisa diam tidak segera merespon melihat medan peperangan ini, Bidadariku.
‘Isykariiman aumut syahiidan
Tentu masih banyak bidang bidang dakwah yang menjadi tugas umat Islam. Lihatlah betapa luasnya medan jihad ini. Janganlah kamu memintaku menyebutkan satu per satu. Aku tak kuasa. Lebih baik kamu sekalian menceburkan diri dalam lautan dakwah ini. Lantas jika kamu atau aku sudah meniti satu bidang dakwah apakah kamu atau aku merasa hebat? Meremehkan? Pengkultusan? Serampangan? Egois? Berpecah? Parsial? Asal-asalan? Tidak betanggung jawab? Tidak memiliki dasar? Saling bertentangan? Itulah penyakit umat dalam dakwah. Itulah penyakit yang tidak akan membawa perubahan.
‘Isykariiman aumut syahiidan
Bidadariku, aku tidak ingin seperti Ka’ab bin Malik yang tidak segera merespon panggilan jihad. Aku pun tidak perlu menunggu mendapatkan pedang untuk berperang. Cukup seperti sahabat Rasul yang mengibarkan panji Islam. Ini lah aku adanya dan aku persembahkan untuk perjuangan Islam. Ini jihadku. Ini risikoku. Wahai Bidadariku, jika kamu tidak berani menghadapi risiko jalan jihad ini, maka aku tidak membutuhkanmu. Sekali lagi Bidadariku, jika kamu hanya setengah-setengah dalam meniti jalan dakwah ini, maka aku tak butuh kamu berada di sisi hidupku. Dan camkan Bidadariku, bahkan jikalau tidak ada seorang pun bidadari di dunia ini yang siap menghadapi risiko ini bersamaku, maka bagiku cukup Allah dan Rasul-Nya saja yang menjagaku. Cukup Allah dan Rasul-Nya saja yang mengobarkan api jihad ini di hatiku. Biarlah Allah membeli diri dan hartaku dengan surga. Insya Allah, Allah telah menyediakan 60 bidadari di surga. Allahu Akbar…!!!
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »
Jangan Patah Hati Sobat!
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 25, 2008
Bidadariku, kali ini aku menulis untuk seorang sobat dekatku. Semoga Allah memberinya kesabaran yang melimpah ruah. Bidadadariku, cerita ini berawal dari sebuah SMS yang aku terima kemarin, Kamis, 24 Juli 2008, pukul 18.16, tepat esaat sebelum kakiku melangkah ke As Sa’adah.
“Allahu Akbar!
Jelang pulang kantor ada email masuk!
Akhwat yg sedang berproses denganku memutuskan mundur dr proses ta’aruf tanpa alasan yg jelas.
Ini ta’aruf ke-4ku!
Tertolak lagi
Hayo Wip ke Rinjani saja”
Teruntuk sobatku, SMS yang kamu kirimkan kemarin adalah cerminan Bilal bin Rabah era perjuangan milenium keislaman. Aku akan membagi kisahnya agar kamu dan aku bisa mengambil hikmah perjuangan dan kesabarannya.
Kamu tentu tahu sobatku, bahwa Bilal bin Rabah adalah seorang budak hitam. Namun status sosial dan warna kulitnya tidak menghalangi kemantapan hati untuk menjadi As Sabiqunal Awwalun. Suatu saat Bilal menjatuhkan pilihan hatinya kepada seorang gadis bernama Hind. Bilal tidak menunggu lama untuk melamar gadis impiannya. Keluarga Hind yang tidak mengetahui siapa Bilal lantas melayangkan pertanyaan, “Siapakan Anda? Apa maksud kedatangan Anda?”.
Sobatku, tahukah kamu bagaimana jawaban Bilal? Merinding aku membaca kisahnya, Sobat. Dengan rendah hati Bilal menjawab,”Aku Bilal bin Rabah. Seorang sahabat Rasulullah. Dulu aku orang yang sesat, tetapi Allah telah menuntunku. Dahulu aku seorang budak dari Habasyah, tetapi Allah telah membebaskanku. Kedatanganku kemari ingin melamar seorang gadis berama Hind.” Bilal lantas melanjutkan perkataannya,”Jika lamaranku diterima aku akan katakan Alhamdulillah, tetapi jika lamaranku ditolak, aku akan mengatakan ALLAHU AKBAR!”.
Dan rupanya semangat itu telah menyusup dalam lubuk hati dan aliran darahmu, wahai Sobatku. Kamu telah dengan lantang meneriakkan pekikan jihad, ALLAHU AKBAR! Maka aku ucapkan selamat bagimu karena terbebas dari belenggu nafsu. Aku yakin kamu sepakat dengan itu. Bukan nafsu, tapi perasaan yang wajar dan lumrah bagi manusia. Tentu kau ingat pelajaran yang disampaikan Ali bin Abi Thalib:
jika mencintai seseorang, mencintailah wajar-wajar saja,
sebab kau tak tahu kapan kau balik membencinya,
jika membenci seseorang, membencilah wajar-wajar saja,
sebab kau tak tahu kapan balik membencinya.
Sobatku, merapatlah, aku akan membisikkan sesuatu untukmu. Lirih saja, biar hatiku juga mendengarnya. Sobatku, adalah lumrah dan wajar jika di dalam hatimu tumbuh rasa cinta terhadap gadis yang kamu sangka akan menjadi pasangan perjalananmu. Namun sabarlah wahai Sobatku, jangan terburu-buru. Bisa jadi lamaranmu ditolak gadis itu atau orang tuanya. Tapi yang lebih penting lagi, jangan patah hati bila itu terjadi. Patah hati hanya akan menjerembabkanmu ke dalam jurang keterpurukan. Patah hati tidak memberikan solusi. Patah hati hanya akan mengotori hati.
Sobatku, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu. Lepaskan bebanmu sejenak. Serahkan kepada Rabb Sang Penguasa Kehidupan. Biarkan semesta menunjukkanmu calon bidadari yang menyejukkan hatimu. Dan bersiaplah untuk menjemputnya. Siapkan dirimu untuk menerima kehadirannya. Tak perlu bersusah payah mengejarnya dengan segala daya. Cukup memperbaiki diri yang ada. Lantas biarkan akhwat yang telah menolak lamaranmu hanya memiliki dua pilihan. Pertama, ia menyesal telah menolakmu dan kembali mempertimbangkan untuk menerimamu sebagai pendamping hidupnya. Atau kedua, biarkan dia cemburu karena ada bidadari yang lebih baik telah beruntung memilihmu dengan segala kebaikanmu.
Sobatku, ingat kembali kisah Bilal bin Rabah yang menunggu jawaban dari keluarga Hind. Keluarga Hind menunda memberikan jawaban atas lamaran Bilal. Keluarga Hind mencari infomasi mengenai Bilal kepada Rasulullah. Dan kuncup-kuncup bunga cinta mulai tumbuh ketika Rasulullah memberikan gambaran secara gamblang,”Siapa kalian yang ingin menanyakan kepribadian Bilal? Mengapa kamu memandang rendah kepada seorang bekas budak berkulit hitam legam, padahal Allah menyebutnya sebagai ahli surga?”. Sobatku, kuncup-kuncup cinta itu semakin merekah menyambut Bilal dan Hind menikah. Pernikahan yang bahagia dan keduanya saling mencinta.
Sobatku, biarkan kelebihan diri membumbung tinggi. Tak perlu kau ungkapkan itu. Biarkan saja semesta yang menunjukkannya kepada calon bidadarimu. Cukup mempersiapkan dan memperbaiki diri. Seperti kebaikan Bilal yang dia sendiri tidak mengungkapkan, tapi Rasulullah yang memberi keluarga Hind penjelasan. Seperti ajakanmu mendaki Rinjani. Biarkan rinjani itu tetap tinggi. Dan kita yang mempersiapkan menggapai ketinggiannya. Karena sejatinya bukan Rinjani yang kita taklukkan, tapi diri kita. It is not the mountain we conquer, but ourselves (Sir Edmund Hillary, the first people who reached top of Everest in 1953)
(Lebaran hikmah menemaniku menulis, Untukmu yang akan dan telah menikah [Syaikh Fuad Shalih], Bilal bin Rabah sahabat terkemuka Rasullah [M. Abdul-Rauf], Jejak Sang Petualang [Harry Wijaya dan Christian Wijaya]. Semoga Allah melimpahkan berkah untuk mereka)
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 10 Komentar »
menunggu
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 23, 2008
kemarin aku ngenet menunggu kabar gembira
hari ini aku ngenet menunggu kabar gembira
tapi belum datang jua
tentu lah sabar yang menjadi solusinya
tentu semua terasa bahagia
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »
Sms dari orang tak dikenal
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 15, 2008
Bidadariku, semalam aku mendapatkan sms dari orang yang tak dikenal. Tadi malam aku baru saja selesai membantu beberapa pekerjaan Bapak. Tiba-tiba pada pukul 22:50 HPku berbunyi, ada sms dari nomor +6285731596628. Nomor itu tidak dikenal phone book-ku. Apakah kau tahu ini nomor siapa bidadariku? Bunyi sms-nya seperti ini:
“Mgkn aq slama ini salah menilai, apa pentingnya pernikahan bg laki2 yg bgtu ambisi dg karir krn keegoannya”
Aku agak bingung dengan maksud sms itu. Tanda tanya besar tergambar dalam benakku. Apa maksud pengirim sms itu? Siapakah dia? Lantas aku balas sms itu dengan menanyakan identitasnya dan memberikan penjelasan singkat bahwa menikah untuk mendapatkan separuh agama itu jauh lebih berharga dibandingkan apa yang dia sms-kan.
Beberapa menit berselang, tepat pukul 23:00,pengirim sms misterius itu kembali memberiku pesan singkat.
“itu klu km.tp ktk ambisi karir mjd prioritas,mnkh adlh plengkap sj mgkn bs jd hny renc tnp tau kpn tlaksana.aq lelah,aq hmpir tdk memiliki kata2 lg.”
Membaca sms itu, aku mengira bahwa pengirimnya laki-laki. Dan mungkin ia tidak sependapat denganku. Tak masalah bagitu ia berbeda pendapat. Toh itu adalah pilihannya. Tapi kewajibanku adalah mengingatkan. Itu saja. Dengan harapan dia seorang muslim, aku lantas membalas sms padanya dengan memberi saran agar percaya kepada Muhammad, bahwa kebutuhan laki-laki itu sebenarnya hanya tiga, yaitu: kendaraan yang bisa dibawa kemana saja, rumah yang lapang, dan istri yang shalihah. Aku juga masih menanyakan identitasnya dan menutup sms dengan saran untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sembilan menit kemudian ia mengirim sms padaku.
“itu teori yg mengapung bgny. Tdk slamany laki2 angkuh itu kuat,bs jd sbnarny itu adlh cara traman utk mnyembunyikn kerapuhany,hny laki2 pengecut yg tdk brani mengambil kptsan”
Bidadariku, terus terang aku agak geram saat itu. Aku merasa ada nuansa penghinaan kepada Muhammad. Bahwa teori Muhammad itu hanyalah teori yang mengapung padahal menurutku apa yang disampaikan Muhammad adalah tuntunan agung. Dengan merasakan ganjalan di hati, aku membalas sms itu dengan memberinya beberapa pertanyaan. Lantas apa dasar dia mengambil keputusan? Teori agung Muhammad yang menurutnya mengapung, ataukah keangkuhannya? Siapa pula yang pengecut? Padahal dia menyebut nama saja tidak berani.
Lama dia tidak menjawab pertanyaan di sms-ku. Aku membiarkannya saja sembari menonton J-TV, televisi lokal Jawa Timur yang saat itu sedang menayangkan kampanye para calon gubernur Jawa Timur. Hingga aku tak sadar mataku menutup tak tahan kantuk. Tiba-tiba Hpku berbunyi kembali tepat tiga menit sebelum ganti hari. Ada sms dari si misterius.
“Kptsn apa?rasanya satu2ny kptsn bodohku adlh mntup telinga ktk ada yg mberi saran atas taarufku”
Aku tak membalasnya. Mataku sudah tak tahan untuk diistirahatkan. Namun terbersit kecurigaan bahwa si misterius ini kemungkinan adalah perempuan. Siapakah dia? Aku lebih memilih tidur daripada mencari jawabannya. Pikirku, besuk pagi saja aku telepon dia.
Pagi ini masih tersas dingin seperti hari-hari kemarin. Rutinitas ibadah telah membawa ketenangan hatiku. Teringat aku dengan sms semalam. Dan aku coba menelepon si misterius dengan nomor lain. Agak lama si misterius itu mengangkat HP-nya. Hingga terdengar suara yang tidak jelas dengan nuansa agak bermalas-malas memulai pembicaraan. Benar kecurigaanku. Ternyata dia perempuan. Mungkin ia baru bangun tidur. Suaranya masih serak, tak jelas aku mendengarnya. Aku pun berkali-kali melayangkan pertanyaan padanya. Kira-kira separuh nyawanya belum menyatu. Ia tidak bisa menangkap sepenuhnya pertanyaanku. Tak lama durasi telepon itu. Rupanya ia tersadar bahwa yang meneleponnya adalah orang yang dia sms semalam. Tuuutt…..telepon pun ditutup. Dasar misterius. Lantas aku sms dia
“Asw.Maaf mbak,km siapa?Aq akan brtrimakasih bgt klo mbak brknan mjelaskn mksd sms k aq smalam”
Tak lama kemudia ia membalas sms-ku:
“Tdk penting,yg penting aq sdh blg ke kamu,sdh cukup,tdk perlu telf aku”
Semakin tidak jelas arah komunikasinya. Sekali lagi aku sms. Jika hasilnya tidak positif, sudah tak ada yang perlu dilanjutkan. Lebih banyak kesia-siaannya.
“Maaf aq kira kamu semalam laki2.tnyt prmpuan ya.aq ga ngerti maksud & alasan sms km smlm.klo ga mau ditelp, tlg dijelaskan walau dg sms.trims”
Benar. Bukan balasan positif yang aku dapatkan. Sepotong pengakuan dari sms-nya yang aku masih tidak bisa mengerti apa maksudnya.
“Tdk ada yg perlu djlaskn,smua sdh jelas.
Dl aq tdk pnh bpndpat bgt kpd laki2,tp tnyt msh ada laki2 yg spt itu.
Trmksh sdah mjd tmanku bbagi.hny Allah yg bs mblasnya.”
Bidadariku, apakah kamu tahu apa maksud pengirim sms itu? Apakah itu peringatan bagiku yang tidak segera mengambil keputusan? Padahal menurutku aku sudah mengambil keputusan. Aku hanya butuh jawaban siapakah dan dimanakah kamu wahai bidadariku. Ah, semoga perjalanan kembali ke kampus selama lebih dari 15 jam nanti aku tidak menjumpai hal-hal yang misterius seperti ini.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »
Menjelang Maghrib bersama Mbok Yah
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 15, 2008
Bidadariku, kali ini aku akan menceritakan sesuatu untukmu.
Memang dari dulu tak banyak yang berubah dengan rumah Mboh Yah. Seperti sore kemarin pun pohon-pohon turi yang baru memproduksi sedikit bunga nampak riang menyambut petang. Udara dingin mulai mencubit genit kulit keriput Mbok Yah sebagai ungkapan kegembiraan bahwa mentari sebentar lagi meninggalkan siang. Sepiring umbi rebus menemani perbincangan kami. Aku tak tahu jenis umbi apa itu. Kata Mbok Yah itu umbi katak. Umbi empuk itu begitu lembut di mulut. Tak perlu susah-susah menguyah. Diamkan saja beberapa detik didalam mulut, maka sejurus kemudian kepyar butiran tepungnya yang terasa sedikit manis karena saripatinya mengendap menjadi glukosa.
Begini lah di desa. Tanahnya begitu subur. Tak ribut dengan kampanye anti global warming. Karena disini tanaman menjadi sumber makanan dan pepohonan menjadi bahan papan. Setelah tanaman diambil umbi, buah, atau batangnya sebagai bahan makanan, tanaman itu ditancapkan lagi dan tumbuh berkembang untuk menghasilkan bahan makanan lagi. Maka tak susah mendapatkan berbagai macam tanaman yang bisa dimakan di desa. Benar kata Koes Plus, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Begitu pula dengan pepohonannya. Walau tidak selebat dahulu, tapi menanam pohon kembali sudah menjadi tradisi. Tapi memang tidak dapat dipungkiri, beberapa oknum pencuri kayu hutan yang bekerja seperti kelelawar sering luput dari perhatian. Begini lah desa. Aku suka suasananya.
Aku masih menikmati butiran tepung umbi bercampur beberapa molekul glukosa di dalamnya. Aku dan Mbok Yah larut dalam obrolan dalam bahasa Jawa. “Le, Wan, kamu apa belum berminat punya gendhongan seperti Paklik-mu Yanto itu?”. Tiba-tiba Mbok Yah membuka topik pembicaraan baru.
“Ya pengen lah Mbok”
“Lantas pilihanmu yang seperti apa?”
“Ga ribet kok Mbok, yang penting paham agama”
“Jangan lupa diperhatikan bibit, bobot, bebet-nya yo le”
“Kalo itu bukan tugasku Mbok. Ada orang lain yang menilai ketiga hal itu”
“Lho kok malah dipasrahkan sama orang lain. Ga khawatir salah pilih?”
“Ya enggak lah Mbok. Kan dilihat dulu siapa yang memberikan pilihan. Kalau aku sudah yakin dengan keshalihan atau keshalihahan orang yang memberikan pilihan itu, ya aku percaya.”
“Ya itu kalau keseharian di rumah lho Le. Kalau perempuan itu ada di tempat lain, bagaimana kamu bisa tahu pergaulannya?”
“Ya aku lihat teman-temannya Mbok. Kalau teman-temannya mayoritas baik-baik, insya Allah perempuan itu juga baik”
“He, yo wis kalau begitu. Yang Mbok kuatirkan itu kamu grusa-grusu mencari pasangan. Jangan lupa rembugan sama orang tua yo Le. Kalau Mbok-mu ini sudah ga bisa lagi mencarikan pasangan yang pantas buatmu. Mbok hanya bisa berpesan, sing sabar lan sing longgar. Bersabarlah dalam menjalani usaha mencari pasangan hidupmu. Dan longgarno (lapangkan) hatimu dalam menghadapi perbedaan dan masalah. Semuanya bisa diselesaikan dengan musyawarah kok Le”
Begitulah pesan Mbok Yah. Mbok Yah memang bukan orang tua yang berpendidikan formal. Tapi umurlah yang menjadikan Mbok Yah matang. Pengalaman hidupnya adalah sari pati perjuangan.
Bidadariku, jika kita sudah bertemu nanti, aku ingin mengajakmu ke rumah Mboh Yah. Melihat kesederhanaan dan keindahan berbagi walau hanya beberapa butir padi.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »
Pernikahan Sahabatku Revany Febrianto
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 12, 2008
Bidadariku, setelah aku pulang dari kuburan Mbah Sarji kemarin, aku bersama ibu dan bapak menghadiri walimah Revany Febrianto. Dia adalah sobat karibku semasa SMA. Kebetulan pula ayahnya adalah teman dekat bapakku. Dalam perjalanan menuju tempat walimah, kami menghampiri keluarga lain yang akan menghadiri acara itu pula. Hingga akhirnya mesin kotak bapakku terisi tujuh orang. Bu Nurul Badriyah, Pak Rohmat dan istrinya, Bu Sukartini, ibuku, bapakku, dan aku sendiri.
Disepanjang jalan tak henti-hentinya orang-orang tua itu bercanda. Dan sebagian besar topiknya adalah menyerang keberanianku. “Wan, setelah Revany menikah denger-denger terus kamu. Kapan, Le?”, Bu Rohmat melempar bahan pembicaraan. “InsyaAllah tahun ini Bu”, begitu aku jawab sambil melirik ekspresi bapak yang hanya tersenyum. “Lha calonnya orang mana, Wan?”, Bu Sukartini menimpali. “Rahasia”, enteng saja aku menjawabnya. “Halah Wan, sama mboke dhewe aja kok pakai rahasia-rahasia segala”, Bu Sukartini agak kecewa. “Ya begitu itu lho Bu anak model baru. Pengennya ngasih kejutan. Sama seperti mbaknya. Si Lia (putri bu Nurul) itu juga begitu. Tahu-tahu bilang ada yang ingin kenalan. Tak lama kemudian lamaran”, begitu bu Nurul berkomentar. Memang antara keluargaku dan keluarga Pak Eddy Yusuf (alm) suami bu Nurul Badriyah itu sudah seperti tahu sama tempe. Sama-sama terbuat dari kedelai. Alias tak jauh beda.
Sesampainya di walimah Revany, aku disambut Renu. Adik kandung Revany itu nampak kaget melihat kedatanganku. “Lho, kok kebetulan pulang mas?”. Tentu dalam rangka menghadiri walimah sobat karibku itu aku pulang kampung. Hm…sekalian menyusun agenda bersama orang tua. Ketika naik ke pelaminan, kaget pula ayah dan ibunya Revany. “Biyuh…biyuh…Mas Wirawan to ini tadi. Hayo mas sekarang tinggal nunggu undangan mas Wirawan. Sudah ada calonnya belum?”, seloroh ibunya Revany samil menampar-nampar sayang pipiku. Aku hanya membalas dengan senyuman. “Hiiiihhh…ini bocah tetep aja dari dulu. Sama ibu’e dhewe pakai rahasia-rahasiaan segala”, gemes ibunya Revany melihat ekspresiku hingga tangannya tak tahan nguyek kepalaku. Hingga didepan Revany, “Wis saiki giliranmu!”, dalam pelukannya ia tak banyak membisikkan kata. Aku balas dengan mulut menganga. Dia pu geleng-geleng kepala.
Tak lama kami berada di walimah itu. Setelah menikmati hidangan, rombongan kami segera meninggalkan tempat. Di sepanjang jalan masih saja aku dijadikan bahan ejekan. Yang pemalu lah. Cowok cemen ga pemberani lah. Hingga masih dibilang mbok-mboken. Ah, biarlah apa mereka kata. Yang penting berjalan dan berdoa. Nanti semesta juga akan membantuku. Dan Allah pun menganugerahkan aku bidadari yang sholihah untukku.
Bidadariku, siapa bilang aku tidak ingin segera menikah denganmu!
Bidadariku, aku hanya butuh jawaban siapakah dan dimanakah kamu.
Bidadariku, benar kata Revany, ini giliranku. Aku akan menjemputmu.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 3 Komentar »
13 Juli 2008 Harapan Dini hariku untuk Bidadariku
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 12, 2008
Tahukah kau tengah malam ini aku menyebut-nyebutmu bidadariku? Terbangun dalam kegelisahan. Menunggumu dalam kecemasan. Beruntung keresahan ini tak terbaca oleh adikku yang sedang tidur pulas disampingku. Aku sekarang ada dirumah, bidadariku. Di rumah orang tuaku yang semuanya mengakui bahwa yang paling cantik di rumah adalah ibuku. Mungkin perempuan seperti ibuku mampu merasakan bagaimana kecemasan, harapan dan gundah menyerangku.
Dua hari yang lalu ketika aku sampai di rumah, malam harinya semua anggota keluarga makan malam di luar. Rupanya ibuku sudah mempersiapkan acara itu, bidadariku. “Nanti mampir toko baju dulu”. Begitu ibuku berkata. Aku mengira kedua adikku yang sebentar lagi mulai menyelesaikan liburan sekolahnya akan dibelikan baju seragam. Namun bukan itu maksud ibuku, bidadariku. “Bagaimana bidadarimu akan menghampirimu jika penampilanmu tetap seperti ini!ibu akan membelikan baju untukmu. Biar kamu tidak asal-asalan berpenampilan”. Luluh lantak hati ini, bidadariku. Aku mengaku tak bisa memilih pakaian yang cocok, bahkan untuk diriku sendiri. Asal menutup aurat. Itu saja yang selama ini dalam benakku. Beruntung aku punya ibu yang pandai memilihkanku pakaian. Dan memang selama ini adalah ibuku yang memilihkanku baju.
Nyaris aku tak pernah membeli baju. Beberapa waktu yang lalu ketika ibuku bertanya masalah baju, aku bisa menjawabnya karena aku diberi hadiah baju oleh adik kelasku. Ucapan terima kasih katanya. Mungkin adik kelasku itu juga prihatin bagaimana aku berpenampilan memprihatinkan. Baju itu-itu saja yang aku pakai. Juga pada saat aku mendapatkan hadiah dari teman-temanku setahun yang lalu. Ucapan terima kasih juga kata mereka. Dan mereka sangat terharu ketika aku ceritakan bahwa sehari sebelum mereka datang membawa hadiah aku mendapatkan musibah. Beberapa bajuku diambil orang tanpa ijin. Mungkin orang itu sudah sangat membutuhkan sehingga hanya terpikir pilihan itu.
Pagi kemarin aku hendak memakai baju baru pemberian ibu untuk takziyah. Mbah Sarji tetanggaku dipanggil Allah. Tapi ibu melarang memakai baju baru itu. “Memangnya kamu hanya akan diam dan duduk-duduk saja sambil ngobrol tak jelas di tempat jenazah? Mbah Sarji itu orang miskin, Le. Nanti kamu pasti akan banyak bergerak. Kasihan bajumu kena keringat dan kotor. Pakai kaus ini saja”. Tak banyak bicara aku iyakan saja apa kata ibu. Dan benar keadaannya, bidadariku. Hanya segelintir orang yang takziyah ke rumah Mbah Sarji. Tepat pula apa kata ibuku,sebagian besar mereka hanya duduk-duduk dan ngobrol tak jelas apa yang dibicarakan.
Benar pula apa kata ibuku. Di pagi hari saat mentari sedang semangat menunjukkan kedigdayaannya itu aku bergumul dengan keringat dan debu. Hanya sedikit anak muda yang datang di rumah duka Mbah Sarji. Dan lebih parahnya lagi yang membawa keranda ke kuburan hanya delapan orang. Yang mengantar jenazah Mbah Sarji jauh lebih sedikit dibandingkan semua pelayat yang tak lebih dari lima puluh orang. Di depan keranda adikku mulai resah dengan nisan yang dipanggulnya. Maklum jarak antara rumah Mbah Sarji dengan kuburan menuntut jalan kaki kurang lebih tiga kilo meter. Dan aku masih setia dengan pikulan keranda sebelah kiri belakang bergantian dengan seorang familiku. Tak lebih dari lima belas orang yang mengantarkan jenazah hingga kuburan. Aku heran pada pelayat (atau penduduk yang tidak melayat) yang lain. Apakah mereka tidak menyadari ada pahala sebesar Gunung Uhud disetiap aktivitas mengurusi jenazah?
Belum selesai keherananku dengan pembawa keranda, di kuburan aku dihadapkan pula pada adat kejahiliyahan. Pak Modin men-talkin (istilah dari Bapakku) jenazah yang dikuburkan. Kira-kira perkataan talkin Pak Modin kepada jenazah seperti ini, “Mbah Sarji sebentar lagi mbah akan didatangi malaikat Munkar dan Nakir. Nanti kedua malaikat itu akan menanyakan beberapa hal kepada Mbah Sarji. Jika ditanya siapa Tuhanmu, jawablah Allah. Jika ditanya siapa Rasulmu, jawablah Muhammad SAW. Jika ditanya apa kitabmu, Jawablah AlQur’an. Jika ditanya apa kiblatmu, jawablah ka’bah”. Ketika Pak Modin ‘berkomunikasi’ dengan jenazah Mbah Sarji itu, aku melempar senyum kepada adikku yang jongkok di samping Pak Modin. Hingga dia berbisik, “Kok malah ketawa kenapa mas?”. Enteng saja aku balas,”Orang mati kok diajak ngomong!”. Dia lantas pindah tempat ke belakang sambil menutupi mulutnya menahan tawa.
Begitulah model kejahiliyahan di jaman modern, Bidadariku. Aku harap setelah kau menjadi bagian dari keluargaku, kau pun akan menjadi bagian dari misi dakwah kita. Apapun risikonya. Walaupun itu pahit seperti yang pernah kami rasakan pada saat nenekku meninggal dulu. Kami tak ingin mengotori akidah yang murni ini dengan bid’ah, churafat dan takhayul. Dan keluargaku yang berusaha menunjukkan bagaimana mengurus jenazah sesuai dengan syari’at. Dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan. Tanpa embel-embel menyembelih ternak. Tanpa tambahan adzan dan iqomat di liang lahat. Tanpa talkin-talkinan. Dan reaksi negatif pun mengalir deras. “Keluarga yang aneh karena tidak ikut adat”. Kami pun membiarkan apa kata mereka yang tidak tahu. Justru seperti itulah kami mendakwahkan bagaimana mengurus jenazah yang benar. Sekali-lagi bidadariku, aku berharap kau akan menjadi bagian dari amunisi dakwah kami.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 2 Komentar »
Kafa’ah…kafa’ah…kafa’ah
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 8, 2008
Ya Rabbi, betapa tubuh ini menggigil karena malu. Malu melihat kerendahan diriku. Malam itu tak nyenyak tidurku. Tubuhku lunglai, mataku terpejam, namun pikirku melayang. Adalah kafa’ah yang menumpuk di benakku. Malu aku ya Rabbi. Kubuka kembali halaman 177 buku Isyratun Nisaa’ minal alif ilal yaa’, kubaca kembali, dan maih tetap seperti yang aku baca dahulu kala. Kafa’ah…ya Allah…kafa’ah. Malu aku ya Allah…
Saat aku membaca halaman demi halaman buku itu, aku semakin malu ya Rabbi. Ialah pertimbangan kafa’ah dalam pernikahan, yaitu suami sebanding dengan wanita dalam hal kedudukannya, agamanya, nasabnya, rumahnya dan selainnya. Ya Allah…Engkau menguatkan dalam firman-Mu “wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah bua wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…AnNuur:26”. Beruntung aku bahwa kafa’ah itu bukan syarat sahnya pernikahan. Semoga beruntung pula aku tidak termasuk orang-orang musyrik sehingga berlaku syarat kafa’ah itu demi sahnya pernikahan. Namun setiap kali persoalan kerelaan wanita dan wali perihal kedudukan, nasab dan harta dipermasalahkan, aku tak berkutik dibuatnya. Malu aku ya Allah…
Lantas siapa diriku? Seorang laki-laki yang merasa jauh dari kesetaraan dengan bidadari itu. Seorang yang pengetahuan agamanya tak lebih dari setetes embun di tengah samudra. Seorang yang miskin dan papa yang berusaha untuk bisa berbagi dengan sesama manusia fakir lainnya. Seorang bekas penjaja makanan ringan untuk menyambung ilmunya. Seorang bodoh yang membanting hidupnya untuk menghapus kebodohannya. Seorang yang berlatar belakang penuh kejahiliyahan. Seorang yang hanya memiliki semangat, sabar dan doa. Malu aku ya Allah…
Maka kepada siapa lagi aku bertaubat selain kepada-Mu ya Allah. Taubatku atas segala dosa akibat kebodohanku, kejahilyahanku, kesombonganku, ketergelinciranku, dan dosa-dosa lainnya. Betapa aku berharap Engkau, ya Rabbi, menutupi kesalahan-kesalahanku dan memasukkanku ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Engkau, ya Allah, tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia. Ya Rabbi, sempurnakan bagiku cahayaku dan ampunilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Maka siapa lagi yang akan menutupi semua kesalahan-kesalahanku yang menggunung ini selain Engkau Ya Rabbi. Dengan sepenuh hati aku mohon masukkan aku kedalam golongan orang-orang yang beruntung. Dengan segenap jiwa aku mohon anugerahkan semangat untuk terus memperbaiki diri ini. Betapa menyesalnya aku jika Engkau masukkan aku ke dalam golongan orang yang tidak baik sehingga mendapatkan wanita yang tidak baik pula. Oleh karena itu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang baik.
Malu aku ya Allah…
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »
Doakan aku Bidadariku
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 3, 2008
Rabb, dengan perantara syair pujangga ini, kutundukkan hatiku dihadapan kemuliaan wajah-Mu
“wahai yang mengeluh rindu karena lama tak bertemu
Bersabarlah, siapa tahu esok kau bertemu kekasihmu
Hampirilah dia dengan membawa api kerinduan
Agar memberi petunjuk untuk pertemuan yang menyenangkan”
Rabb, jadikan hari-hariku menjadi jalan mencari syahid sebagaimana sabda Rasul-Mu
“Suwaid bin Sa’id Al Hadatsny diberitahu Ali Mushir dari Abu Yahya Al Qabtat, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas RA, dari Nabi SAW:
Barang siapa jatuh cinta, lalu menyembunyikan cinta, menahan diri, bersabar, lalu meninggal dunia, maka ia mati syahid.”
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 12 Komentar »
Syarat menikah kok aktif di partai
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 2, 2008
Aku mendapat email dari seorang teman. Ia sudah beberapa kali berusaha merintis jalan menuju pernikahan. Namun hingga saat aku menulis selalu mengalami kegagalan. Padahal aku tak melihat kekurangan pada temanku itu. Seorang yang shalih, tinggi badannya, bagus postur tubuhnya dan berkecukupan rejekinya. Tapi memang jika dibanding David Beckham ketampanannya masih jauh, sejauh bola yang ditendang pemain Inggris itu. Atau jika disandingkan dengan kegantengan Keanu Reeves, selisih perbedannya seperti terpisah sepersekian detik dari pergerakan sentinel yang begitu cepat di Matrix. Namun setahuku, berdasarkan beberapa literatur yang aku baca, ketampanan wajah itu bukan hal utama. Ada substitusi atas kelemahan wajah.
Temanku menjelaskan beberapa alasan kegagalan proses ta’arufnya. Mayoritas penjelasan itu adalah tidak sekufu, atau lebih enaknya tidak balance (dalam bahasa akuntansi) persepsi sang ikhwan dan akhwat. Selanjutnya dipicu pula tidak adanya toleransi menyikapi perbedaan itu. Temanku bilang, ia dituntut banyak. Dan ia pun berusaha untuk memenuhi esensi tuntutan itu. Ketika ia membalikkan esensi tuntutan kepada sang akhwat, sang akhwat tidak bisa menjawabnya. Komunikasi terhenti sampai disini.
Sah-sah saja menurutku seorang akhwat menetapkan kriteria calon suaminya. Dan sebaliknya ikhwan bisa menetapkan kriteria calon istri. Tapi menurutku ada hal-hal yang tidak mutlak harus dipenuhi sepenuh-penuhnya. Pasti akan ada negosiasi atau adjustment atas kriteria-kriteria itu. Ya mungkin ini pendapatku sebagai orang yang belajar akuntansi dan audit. Pengaruh asumsi suatu keadaan bisa saja menjadikan perlakuan berbeda pada suatu transaksi atau kejadian ekonomi.
Yang aku tak habis pikir adalah salah satu kriteria yang ditetapkan seorang akhwat bagi temanku itu. Temanku harus aktif di salah satu partai. Aduh, rupanya euforia tidak hanya terjadi karena ada kometisi EURO 2008 atau Perebutan Piala Thomas dan Uber. Tapi juga terkait dengan politik praktis. Bukan aku tidak setuju dengan aktivitas partai atau kegiatan politik. Hanya aneh saja mendengar kriteria seperti itu. Nge-fans sama partai politik tertentu sih silakan saja. Tapi jika menjadikannya sebagai kriteria untuk calon suami, sungguh (kata bang Rhoma)…terlalu.
Mungkin persepsi sang akhwat adalah mengharapkan calon suami yang bermanfaat bagi umat. Jika memang seperti itu, aku sepakat. Namun, aku kira untuk bermanfaat bagi umat tidak sekedar melalui jalan partai politik. Masih banyak cara yang lain untuk menyalurkan nilai manfaat kita untuk umat. Aku sih tidak terpengaruh dengan usaha beberapa politikus yang mulai mencari nama dengan menunjukkan bahwa dirinya bermanfaat bagi umat. Baik itu melalui iklan, sok-sokan menjadi reporter televisi padahal ia tidak memahami profesi jurnalistik dan bidang yang diliputnya, atau pun memasang jargon-jargon dipinggir-pinggir jalan. Tak perlu bagiku terpengaruh dengan politik popularitas seperti itu.
Jangan hanya mengkritik, tapi berikan solusi. Boleh-boleh saja itu diteriakkan disamping telingaku keras-keras. Mungkin yang membaca tulisan ini juga ada yang kupingnya panas. Tak perlu bingung, naik saja kereta api jurusan Tanah Abang-Serpong. Jika ingin bicara statistik, hitung saja berapa orang yang klesotan mencari makan. Atau naik kereta api ekonomi Brantas, Matarmaja atau Bengawan. Jangan kaget jika tengah malam ada ibu-ibu tua yang menawarkan nasi pecel. Atau lihat bagaimana kondisi mahasiswa sekarang. Termasuk yang demo anti kenaikan BBM. Berlaku anarkis, merusak lingkungan, bahkan memamerkan pantatnya di depan kamera. Lantas dimana letak intelektualitas dan gerakan moralitas mahasiswa seperti itu. Atau kapan-kapan ikut aku menjaga ujian tengah atau akhir semester mahasiswa. Lihat bagaimana mereka berbuat curang, mulai dari cara klasik catatan kecil, contek kanan kiri hingga memanfaatkan teknologi. Lihat juga warung-warung di pinggir jalan yang sekarang mengalami penurunan omzet (baca: sepi pengunjung) karena harga gas naik. Alasan klasik pun diutarakan yaitu imbas kenaikan harga gas dunia, padahal mereka sudah berbondong-bondong mengikuti kebijakan konversi minyak tanah. Semoga permainan kebijakan itu bukan salah satu bentuk strategi kemunafikan. Atau butuh ladang yang lain? Lakukan saja sendiri, lihat saja yang paling dekat, jangan-jangan di depan pintu kamar tidur kita sudah ada yang menunggu manfaat yang bisa kita berikan.
Apakah kurang ladang menebar benih manfaat? Padahal kemiskinan semakin memprihatinkan. Kebodohan merajalela. Kemunafikan menjadi penyakit masyarakan yang semakin kronis untuk disembuhkan. Politik praktis saja tidak cukup peka mengatasinya. Itulah sebabnya mengapa aku heran ada syarat menikah kok pakai aktif di partai politik segala. Mana substansinya….
Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar »
28 Juni Dini Hari, Apa kabarmu Bidadariku?
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 1, 2008
Apa kabarmu bidadariku? Tengah malam ini aku tak bisa memejamkan mataku. Bukan karena pertandingan bola EURO 2008. Bukan pula dinginnya suhu Hargo Dalem di Puncak Gunung Lawu yang menusuk-nusuk tulangku. Tapi aku terjaga karena memikirkanmu. Apakah kau masih setia menungguku sebagaimana aku mengharapkan pertemuan kita yang penuh berkah?
Bidadariku, aku sedang berusaha mempersiapkan segalanya untuk pertemuan kita yang penuh berkah. Termasuk usaha untuk sekedar membeli seekor kambing untuk kita. Sebagaimana Rasulullah memberi contoh agar mengadakan walimah walau hanya dengan seekor kambing. Dan alhamdulillah aku bisa menyiapkan untuk keperluan itu. Tapi aku mohon maaf padamu bidadariku.
Bukan maksudku untuk mengesampingkan persiapan itu. Tapi aku memandang ada yang lebih penting. 1 Juli ini ibuku genap berusia 51 tahun. Aku merasa sangat penting untuk memberinya hadiah. Hadiah secantik dan sebaik mungkin untuk ibuku, walau tak seberapa nilainya dibanding kasih sayang yang beliau curahkan untukku. Engkau pasti sudah paham, bidadariku. Betapa Rasulullah mengajarkan untuk memuliakan ibu…ibu…ibu. Aku harap Engkau tidak bersilang pendapat untuk keputusanku ini.
Aku berharap Engkau turut berdoa, semoga sisa waktu yang semakin dekat dengan pertemuan kita yang penuh berkah itu, Allah akan memperlancar persiapan kita. Persiapan segalanya. Dan terima kasihku untukmu bidadariku, yang setia menungguku sebagaimana aku mengharapkan untuk segera menemukanmu.
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 1 Komentar »
Lawu…I’m in Love, edelweis untuk Bidadariku
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juli 1, 2008
Bidadariku, hatiku gundah ketika hendak pulang kampung Kamis 19 Juni 2008 yang lalu. Banyak pikiran yang aku tinggalkan begitu saja di kamar kos nomor 5 Pondok Muslim. Masih banyak target bacaan yang belum dibaca. Masih kepikiran pula mimpi nomor 1, nomor 2, dan nomor 3 yang aku tempel di sterofoam. Juga keinginan mendaki Semeru yang tertunda karena saai ini Semeru berstatus siaga. Rencana pengalihan pendakian ke Arjuno-Welirang pun batal karena beberapa hari yang lalu aku “diistirahatkan” oleh Rabb Yang Maha Kuasa. Dan masih banyak pikiran-pikiran lain. Pulang kampung dengan gundah.
Bidadariku, kusempatkan mampir Posko STAPALA sebelum aku pulang kampung. Karena memang aku ada janji dengan Irwansyah Setya Negara aka Gatot797 untuk menyetorkan aplikasi Sistem Akuntansi STAPALA. Dan benar Bidadariku, hiburan itu datang ketika kulihat papan kegiatan STAPALA. Lawu…I’m in Love. Tertulis jelas akan dilaksanakan 20-22 Juni 2008. Segera kuhubungi Sigit Luhur Pambudi aka Asigeboy828 untuk koordinasi keberangkatan. Alhasil aku berangkat dari Trenggalek dan teman-teman STAPALA berangkat dari Jakarta.
Bidadariku, Sabtu 21 Juni 2008 itu aku awali hari dini sekali. Mungkin kamu sudah tahu apa alasannya. Benar bidadariku. Pertandingan bola Kroasia vs Turki. Yang sebagian besar pengamat berpendapat Kroasia mampu mengalahkan Turki. Tapi hasilnya Turki yang lolos ke Semi Final dengan mengalahkan Kroasia melalui adu pinalti. Bidadariku, ada keajaiban yang harus kita percaya. Seperti pemain Turki yang pantang menyerah hingga keajaiban itu datang. Ketika Klasnic, pemain Kroasia mencetak gol di menit-menit terakhir, Semih Senturk, pemain Turki dengan kepercayaan akan keajaiban ia berhasil membalas pada injury time. Kita pun seharusnya seperti mereka. Percaya akan keajaiban yang dianugerahkan Sang Rabb Al Izzati.
Selesainya pertandingan bola itu, kumulai memanjatkan doa. Untukmu bidadariku. Untuk kita. Juga untuk perjalanan ke Gunung Lawu. Hingga Shubuh pun memanggil dan membawa kakiku melangkah ke Darun Nadwah. Segar sekali udara pagi itu bidadariku. Semoga kita bisa menghirup kesegarannya bersama-sama nanti berdua. Apalagi ditambah diiringi dengan syahdunya Al Ma’tsurat yang terlantun dari bibirmu. Ah itu masih nanti bidadariku. Ketika perbekalan menuju Gunung Lawu sudah selesai aku siapakan, lantas aku sungkem pada Bapak dan Ibu. Memohon doa agar lancar dalam perjalanan, sampai puncak dan selamat sampai di rumah. Dalam hatiku pun berkata, doakan aku pula, bidadariku.
Bidadariku, di sepanjang jalan banyak orang menuju pasar melihatku dengan tas carrier yang lebih besar dari tubuhku menggelayut manja di punggungku. Dan mereka bertanya aku hendak kemana. Ketika aku menjawab hendak mendaki gunung Lawu, sebagian besar mereka berpesan, hati-hati di jalan karena di gunung Lawu banyak hal-hal mistis. Tapi tenang saja bidadariku, aku gigit erat akidah ini dengan gigi gerahamku. Tak akan ku biarkan saja akidahku tergadaikan di gunung Lawu. Dan aku semakin yakin bahwa dengan akidah ini pula Rabb-ku akan mempertemukanku denganmu, bidadariku.
Bidadariku, perjalanan dengan bus pun aku mulai menuju Ponorogo. Selanjutnya disambung menuju Madiun. Diperjalanan menuju Madiun aku bertemu seseorang. Tiba-tiba dia bertanya, “Mau kemana mas? Kok bawa carrier?”. Simpel saja aku jawab hendak ke Gunung Lawu. “Gunung Lawu itu banyak mistisnya lho mas. Memangnya mau ngapain mas ke gunung Lawu?”. Kemudian aku jelaskan bahwa hobby-ku yang mendorong mendaki Gunung Lawu. Lagi pula naik gunung itu nyedhake ati mring Gusti (mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi). Tentu dengan bahasa Jawa notok biar lebih bisa diterima orang itu. “Oh, begitu ya mas. Aku jadi inget waktu masih suka touring dan kebut-kebutan. Sebenarnya waktu ngebut itu hanya satu mas yang aku ingat. Mati. Dan ingatan itulah yang membawaku seolah begitu dekat dengan Sing Makarya Jagad (Sang Pencipta Alam). Tapi ya itu tadi, ingatnya hanya saat mau ngebut saja. Ya sekarang aku heran, mengapa dulu setelah menang balapan kembali minuman keras yang masuk ke mulutku ini. Tapi sekarang alhamdulillah sudah enggak lagi mas. Wah apalagi setelah ketemu sampeyan yang mau naik gunung ini. Bener kata sampeyan mas. Kalau sudah di hutan itu tak ada lagi ciptaan manusia. Adanya hanya ciptaan Sing Makarya Jagad. Matur nuwun (terima kasih) mas. Perjumpaan singkat ini sudah cukup mengingatkan aku untuk tidak macam-macam melawan titah Sing makarya Jagad”. Alhamdulillah, aku ga menyangka bidadariku. Ternyata perjumpaan singkat itu begitu berkesan.
Tak ada yang spesial dalam perjalanan Madiun-Magetan, bidadariku. Memang suasana lagi sepi. Jadi agak kasihan dengan awak bus yang aku naiki. Semoga nanti mereka mendapat penumpang yang banyak sehingga rejeki mereka bisa bermanfaat buat keluarga mereka. Sampai di terminal Magetan, aku harus naik angkot sayur. Duh bidadariku, lama sekali nunggunya. Sopir angkot itu benar-benar menunggu hingga angkotnya penuh. Di dalam angkot itu aku bertemu sebuah keluarga yang berlibur. Sepasang suami istri dengan seorang putra dan seorang putri yang seumuran SD dan satu anak lagi masih digendong ibunya. Indah sekali, bidadariku. Berlibur bersama sekeluarga. Semoga kita kelak bisa bahagia, sejahtera, sakinah, mawaddah wa rahmah, setidaknya seperti gambaran keluarga itu.
Di sepanjang jalan angkot itu sibuk menaik-turunkan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar menjual sayur. Bahkan begitu sabarnya, sopir angkot itu rela untuk menunggu calon penumpangnya padahal si penumpang masih membereskan peralatan dagangnya. Di dalam angkot itu mereka ngerumpi. Topiknya khas ibu-ibu baru pulang dari pasar. Apalagi kalau bukan seputar bumbu dapur. Mereka merasakan benar bagaimana segalanyanya menjadi mahal sekarang. Seru sekali rupanya pembicaraan mereka. Seru seperti perebutan kursi gubernur Jawa Timur. Ada lima pasangan calon, yaitu: Soenaryo-Ali Maschan, Soekarwo-Saiful, Khofifah-Mudjiono, Achmady-Ichsan, Sutjipto-Ridwan. Namun bagi ibu-ibu seperti mereka perebutan jabatan itu tidaklah sepenting asap dapur mereka biar terus mengepul. Mereka hanya butuh ketenangan bekerja dan kesejahteraan hidup, siapapun pemimpinnya.
Aku stag di Sarangan lebih dari 30 menit, bidadariku. Sarangan-Cemoro Sewu tak ada angkot. Akhirnya aku nebeng truk sayur. Jalan menuju Cemoro Sewu berliku-liku seperti cerita hidup sopir dan kenek truk sayur yang aku tumpangi itu. Kami bertiga ngobrol disepanjang perjalanan. Si kenek cerita bahwa dia juga pernah kuliah, tapi hanya bertahan selama tiga semester. Karena waktu kuliah dia tidak bisa disambi dengan aktivitas mengangkut sayuran. Begitu tertusuk hati ini, bidadariku. Di satu sisi aku bisa kuliah gratis selama empat tahun lebih dan bakal lima setengah tahun, di sisi lain ada yang tidak bisa kuliah karena tidak match antara jadual kuliah dengan jadual mencari biaya kuliahnya. Juga sopir truk yang bercerita banyak bagaimana ia selalu dikejar-kejar waktu dalam bekerja. Menjadi sopir truk sayur itu hidupnya di kejar waktu. Mereka harus tiba tepat waktu agar sayur yang akan dijual masih segar. Jika membawa mobil dengan lambat, mereka bakal jualan sampah. Bayangkan saja bagaimana dia menginjak kombinasi gas, rem, kopling dan memindah gear agar bisa melaju cepat selama berkeliling kota-kota tujuan pemasaran sayur. Dari Magetan menuju Surakarta, atau Madiun, Ponorogo, Ngawi, Pacitan, Kediri, hingga Blitar.
Akhirnya aku sampai di Cemoro Sewu, bidadariku. Tak lupa kuucapkan terima kasih kepada sopir truk sayur atas tumpangannya. Masjid Cemoro Sewu adalah tempat yang pertama aku tuju. Kuletakkan carrier dan segera ku ambil air wudhu untuk menunaikan dhuhur. Rupanya sudah satu shaf akhwat di masjid itu menungguku untuk menjadi imam shalat mereka. Setelah mereka membuka mukena, baru tahu aku bahwa mereka adalah pelajar-pelajar SMA yang baru mendaki gunung Lawu. “Wah sudah malas aku kalau disuruh naik gunung begini lagi”. Salah satu dari mereka berpendapat.
Aku masih menunggu teman-teman dari Jakarta tiba sambil makan nasi pecel dan wedang jahe. Rasanya nikmat sekali. Dan sehabis itu aku tertidur di pos pendakian Cemoro Sewu. Hingga tiba-tiba ada sosok berdehem-dehem di depanku. Ah rupanya Sigit baru datang. Dan disampingku membujur Bian yang mungkin sudah agak lama menemaniku tidur. Di Masjid Cemoro Sewu terlihat teman-teman yang lain Daris, Hilman, Nurhaeni, Slamet, Syani, Luat, dan Wisnu. Hanya Syani yang perempuan. Lainnya laki-laki tulen, tidak ada yang banci.
Bidadariku, kami bersepuluh memulai perjalanan pukul 15.30 setelah shalat asar. Beban berat di carrier-ku ditambah jalan menanjak cukup untuk membasahi pakaianku dengan keringat walau baru berjalan beberapa menit. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di Pos 1, Wesen-Wesen. Di Pos itu aku mengeluarkan kue Wajik yang dibawakan Mbok Yah. Hilman tertawa, “Pantesan pak lambat banget. Rupanya dibebani wajik tiga kilo ya. Sini dikurangi saja sambil menambah tenaga”. Hm…lumayan beban carrier-ku berkurang satu kilo.
Tak lama kami istirahat di Pos 1, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2. Jalan masih menanjak. Nafasku tersengal-sengal dan sesekali batuk. Tak terasa hidungku sudah mulai berair akibat udara dingin. Hingga akhirnya kami sampai di Pos 2, Watu Gedhek. Bidadariku, disana kami shalat Maghrib dan Isya. Astaghfirullah, keringat yang membasahi kaosku menjelma menjadi balok es yang menimpa punggungku saat aku rukuk. Sejurus pikiranku teringat sejarah. Masih beruntung terasa seperti balok es. Bibirku pun bergetar hebat saat membaca ayat-ayat Al Qur’an. Bibirku bergetar seperti hatiku bergetar setiap ayat-ayat Al Qur’an dilantunkan. Bidadariku, kau mungkin bisa membayangkan bagaimana jika kotoran yang ditimpakan seperti di punggung Rasulullah SAW. Bagaimana pula jika benar-benar batu besar yang ditimpakan seperti yang dialami Bilal bin Rabah.
Selesai shalat aku mengeluarkan berbagai penghangat. Mulai dari minyak kayu putih yang aku oleskan ke tubuh hingga koyo cabe yang tak terasa hangat walau sudah aku tempelkan di kedua kaki dan punggungku. Kaus tangan, balaclava, dan rain coat pun lengkap membungkus tubuhku. Dingin luar biasa. Setelah perlengkapan lengkap, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, Watu Gede. Medan semakin berat, bidadariku. Hingga di tengah jalan kaki kananku kram. Untung Ada Slamet. Ia meluruskan dan memijit-mijit kakiku. “Kita istirahat sejenak”, begitu kata Daris. “Nyantai aja pak jalannya”, Nurhaeni menambahkan. Bidadariku, rupanya aku, Slamet, Daris, dan Nurhaeni sudah terpisah jauh dari anggota yang lain. Bidadariku, dari kejadian itu kau bisa mengetahui betapa aku sangat tergantung pada orang lain. Wajar jika kau menganggapnya itu adalah kelemahan. Tapi jujur aku padamu, aku selalu berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain.
Setelah sabar dan ikhlas dengan kondisiku saat itu, akhirnya aku dan tiga temanku itu bergabung dengan enam orang anggota lain yang sudah lama menunggu di Watu Gede, Pos 3. Menuju Pos 4, kaki kiriku kram. Masih untung ada Slamet lagi. Malam itu aku benar-benar bersyukur banget karena ada Daris, Nurhaeni dan Slamet. Setelah istirahat sebentar untuk meluruskan kaki, kami melanjutkan perjalanan. Terasa lama sekali dan tidak menjumpai Pos 4. Aku menjadi ragu, jangan-jangan aku salah jalan. Menurut Nurhaeni, aku dan dia masih berada pada jalur pendakian. Saat itu Daris dan Slamet sudah tidak kelihatan dari pandanganku. Berkali-kali aku minta istirahat. Rupanya Nurhaeni kasihan melihatku. Kami berganti carrier. Daypack Nurhaeni terasa ringan sekali. Katanya hanya berisi sleeping bag saja. Dan dia pun bertanya,”Bawa apa aja mas, kok carrier-nya lumayan berat?” Aku memang membawa banyak makanan saat itu, lengkap dengan peralatan masak termasuk nesting dan kompor. Kata Nurhaeni sebenarnya aku tidak perlu membawa peralatan lengkap seperti itu, karena teman-teman sudah membawa peralatan dari kampus. Yang penting makanannya saja. Tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur dibawa.
Kami berjalan lebih santai hingga akhirnya kami melewati bangunan yang tinggal pondasinya. Aku mengira itu adalah Pos 4. Setelah melewati bangunan itu menyusuri jalan datar yang jarang jarang ditumbuhi pohon. Cahaya bulan begitu terang. Cahaya putih senterku kalah terang. Aku tak butuh senterku saat itu. Cukup cahaya bulan saja. Ada awan yang bergumpal-gumpal indah sekali. Seperti lautan kapuk. Jika pernah nonton Doraemon yang membekukan awan, atau film Peterpan yang bemain-main di atas awan. Sangat indah. Benar-benar takjub aku dibuatnya. Allah menunjukkan kuasanya menciptakan dan memperlihatkan bintang-bintang yang begitu banyak di langit Gunung Lawu. Hingga semakin yakin setan pun takut dengan kuasa Rabb-ku melihat begitu banyak bintang-bintang pelempar setan itu di langit.
Bidadariku, ditengah pemandangan indah itu, aku masih merasa belum menjumpai Pos 4. Aku tidak begitu yakin bahwa Pos 4 adalah bangunan pondasi tadi. Namun tak lama aku berjalan, Aku dan Nurhaeni bertemu dengan Bian dan Wisnu. Aku bertanya dimana Daris, Slamet dan teman-teman yang lain. Kata mereka, kami sudah ditunggu lama di Sendang Drajat. Berarti perjalananku dari Pos 3 tidak sadar melewati Pos 4 dan Pos 5. Menurut Bian dan Wisnu, Pos 5 adalah bangunan yang tinggal pondasinya tadi. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan kepuasan hati melihat pemandangan malam yang begitu indah. Hingga kami lengkap sepuluh orang bertemu di Sendang Drajat. Ditempat itu sudah banyak para pendaki lain yang nge-camp.
Tak lama setelah berbasa-basi dengan pendaki lain, kami segera menuju Hargo Dalem. Ditempat itu tinggal seorang perempuan yang akrab dipanggil Mbok Yem. Tepat pukul 22.00 kami sudah berada dalam istana batu Mbok Yem. Persiapan tidur pun dimulai. Kami makan makanan siap makan yang kami bawa. Benar-benar dingin malam itu. Jadi teringat data yang disajikan di pos pendakian Cemoro sewu, bahwa suhu di puncak mencapai 4-5 derajat Celcius. Tak banyak pembicaraan saat itu, kecuali dimana makanan, dimana sleeping bag, dimana akan mendirikan tenda. Semuanya bergerak dalam dingin. Hingga suasana menjadi senyap setelah tidur mengistirahatkan kami. Bidadariku, setiap jam aku terjaga. Dan tiap kali terjaga kuucapkan syukur bahwa aku masih diberi kesempatan hidup. Tidak mati dalam dingin hipotermia. Setidaknya harapan untuk bertemu denganmu dalam suasana penuh berkah itu masih bisa kurasakan.
Pagi hari kuawali dengan Sholat Shubuh berjama’ah dengan Syani. Setelah selesai menjalankan kewajiban aku keluar dari istana batu Mbok Yem. Dan sun rise pun menyambutku indah. Bidadariku, rasa lelah, kram, dingin dan rintangan yang ada sepanjang jalan kemarin seolah terbayar lunas dengan pemandangan pagi itu. Ahad pagi itu seolah Allah telah menuliskan “sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan” di langit timur Gunung Lawu. Hamparan emas menghiasi gumpalan awan. Lantas jauh di langit barat terlihat rembulan manis yang masih enggan untuk menyembunyikan diri dari langit. Bahkan ketika sang mentari dengan wajah bulat penuh menyapa kami rembulan itu ada seolah menyambutnya datang. Setelah puas mengambil gambar, kami menyiapkan makan pagi. Tentu sambil menikmati wajah emas mentari yang bulat tanpa cela seolah mengumbar senyumnya.
Setelah kenyang makan dan puas minum kopi, susu, dan wedang jahe kami menuju puncak Hargo Dumilah. Disepanjang jalur menuju puncak, kami dimanjakan dengan edelweis yang begitu manis. Ada yang berwarna putih, dan ada pula yang berwarna ungu. Indah sekali bidadariku. Dan setelah berjalan setengah jam kami menjumpai tugu kokoh berdiri bertuliskan “PUNCAK LAWU (HARGO DUMILAH) 3265 DPL”. Aku bersujud syukur di ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut itu. Lantas kuucapkan doa, doa yang kupanjatkan pula setiap hari. “Alhamdulillah ya Allah, Kau anugerahi aku IP minimal 3,7, agar aku bisa membuktikan kepada ibuku bahwa menikah itu tidak menghambat proses menuntut ilmu. Alhamdulillah ya Allah, Kau bukakan pintu rejeki lagi untukku, agar ibuku tahu bahwa justru dengan menikah kau akan membuat kaya dengan karunia-Mu. Alhamdulillah ya Allah kau mengijinkanku menikah tahun ini dan menganugerahiku istri yang sholihah, agar aku bisa menjaga pandangan, agar aku bisa menjaga kehormatan, agar aku bisa mengikuti sunnah Rasul yang Kau muliakan, agar aku bisa memenuhi agama yang Kau sempurnakan. Amin.” Bidadariku, dimanapun aku berdoa, aku yakin Allah akan memberikannya, karena Allah sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Dan aku pun berharap kaupun berdoa untuk pertemuan kita yang penuh berkah. Doa yang begitu indah, seindah kumpulan edelweis yang aku persembahkan ceritanya untukmu. Cukup ceritanya saja dan biarkan edelweis itu tetap tumbuh dan senantiasa berdzikir di tempatnya berada.
Setelah puas dengan pemandangan Puncak Hargo Dumilah, kami turun melalui jalur Cemoro Kandang. Beginilah naik gunung bidadariku. Jika kita sudah mencapai puncak, maka tidak ada jalan lain kecuali turun. Semoga aku, kau, orang yang membaca cerita ini, dan para pemimpin yang sudah terlalu lama berkuasa dapat mencerna esensi filosofisnya. Jalur turun melalui Cemoro Kandang memang lebih landai. Tapi itu justru makan waktu lama. Sehingga kami memotong jalur dengan melewati bekas aliran air. Ketika naik dengan mengerahkan segala tenaga, maka pada saat turun ini pun aku merasakan perjuangan berat.
Bidadariku, dalam perjalanan turun itu aku terlepas dari kelompok. Seingatku di depan ada Sigit, aku berusaha mengejarnya, tapi tak kuasa. Dia terlalu jauh. Akibatnya pula, aku terpisah dengan yang dibelakangku, Hilman, Syani dan Wisnu. Dan seperti ini mungkin kita hidup. Tidak bisa sendirian. Pasti membutuhkan orang lain. Seumpama domba yang terpisah dari kelompoknya maka ia sangat rawan diterkam serigala. Aku pun begitu. Tak bisa sendiri dan harus membebaskan diri dari kesendirian. Seperti Rabb-ku yang memberiku sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan, dan sepasang kaki namun hanya memberiku satu hati. Agar aku menemukan pasangan hatiku ditempat lain. Di hatimu bidadariku.
Hingga akhirnya aku beruntung ada sekelompok pendaki. Mereka sekelompok ikhwah muslim. Kita tidak bicara banyak. Suasana hening. Hanya beberapa kata saja yang terucap. Mereka nampak sangat kelelahan. Berkali-kali mereka beristirahat. Jika dilihat dari wajahnya mereka kelihatan lebih tua dari umurku. Aku tak memungkiri kaki ini juga lelah melangkah. Lantas kuistirahatkan mereka. Sampai aku melihat Hilman, Syani, dan Wisnu kembali. Kami pun berjalan kembali. Hingga kami merasa begitu lelah sampai Pos 1 Taman Sari Bawah. Di Pos itu ada sebuah warung bapak setengah baya. Ia menjual beberapa jenis kue dan minuman. Tiba-tiba dia bertanya, ”Hanya istirahat saja disini mas?”. Mendengar pertanyaan itu aku sungguh tak tega, bidadariku. Aku pesan minuman, juga untuk ketiga temanku. Dan menikmati kue yang disajikan. Rupanya bapak pemilik warung itu seharihari hidup di Pos itu. Dan warung kecilnya adalah alat mengais rejeki baginya. Aku kembali bersyukur, Allah telah memberiku pintu rejeki yang mungkin lebih mudah dibanding bapak pemilik warung di Pos Taman Sari Bawah itu.
Akhirnya aku sampai di Pos Pendakian Cemoro Kandang. Terlihat Daris menikmati sisa minuman karbonasi. Juga Bian yang sibuk mengais-ngais roti. Beberrapa teman lainnya tidak terlihat. Ada yang masih shalat Dhuhur dan Asar. Ada pula yang masih mandi. Kuistirahatkan semua tubuhku sejenak. Lantas kutegakkan kembali tiang agamaku sebelum aku meninggalkan Pos Pendakian Gunung Lawu. Sore itu begitu melelahkan. Namun sangat berkesan. Aku, Sigit, dan Bian berpisah dengan teman-teman lainnya. Kami hendak ke rumah Sigit di Ngawi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Sedangkan mereka sebagian besar akan kembali ke Jakarta. Aku, Sigit, dan Bian jalan mencari tumpangan ke Cemoro Sewu. Alhamdulillah dapat tumpangan pick up sampai Sarangan. Roda-roda pun silih berputar hingga sampai di rumah Sigit.
Bidadariku, malam harinya kami dijamu sayur bayam yang sangat lezat buatan ibunya Sigit. Padahal selama naik gunung kemarin aku seolah tidak bisa membedakan rasa makanan. Yang ada hanyalah makan untuk tetap hidup. Masalah rasa, nomor dua. Malam itu segar serat-serat daun bayam seperti membelai sepanjang jalur pencernaanku. Lezat sekali. Dan Senin paginya kami masih dimanjakan ibunya Sigit dengan nasi pecel. Luar biasa nikmat. “Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”. Pagi yang cerah itu menutup perjumpaanku dan Bian, dengan keluarga Sigit. Aku pulang ke Trenggalek. Sedangkan Bian ke Malang. Deg…!! Di terminal Madiun aku dikagetkan seseorang yang memanggilku masuk ke bus jurusan Ponorogo. Kondektur bus itu…adalah orang bertemu orang yang ngobrol denganku kemarin waktu di perjalanan Ponorogo-Madiun. Belum aku menyapa dia sudah berkata,“Wah, alhamdulillah ketemu lagi mas. Gimana pendakiannya? Bagus tenan to Gunung Lawu? Yo wis dinikmati aja perjalanannya. Aku mau ngejar setoran dulu.”
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan, Uncategorized | 2 Komentar »
Cinta tak terungkap
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Juni 4, 2008
Sore lusa kemarin ada seorang teman dekat yang datang ke kosku. Rupanya ia sudah membaca blog-ku tentang “bidadariku, aku menjemputmu”. Ia mengutarakan komentarnya betapa kasihannya aku. Padahal menurutku biasa saja. Aku tak pernah merasa menyesal. Pun juga tak pernah ragu akan kepastian itu. Lantas ia bertanya mengapa aku tidak memilih salah satu dari banyak pilihan. Tak ragu dia menyebutkan satu persatu. “Py, kamu tuh punya banyak pilihan. Lihat saja adik-adik kelasmu di kampus. Banyak sekali mereka. Ada yang tingkat 3, tingkat 2 atau tingkat 1. Tinggal kamu pilih salah satu saja. Aku yakin pasti diantara mereka sudah tahu banyak mengenai sepak terjangmu di kampus. Atau kamu pilih saja mahasiswamu, atau mantan mahasiswamu. Tidak sedikit pula diantara mereka yang cantik-cantik. Yakin lah Py, masa mantan mahasiswamu meragukan Kakak Dosennya sendiri. Atau juga trainee-trainee-mu. Mereka malah sudah mapan, sudah bekerja, tinggal menunggu waktu saja. Kenapa kamu ga berani mengatakan cinta! Lihat juga teman-teman kantormu. Tak sedikit kan pilihan diantara mereka. Kamu itu aneh. Kamu mau disebutin kriteria yang apa lagi? Janganlah terlalu berlebihan menetapkan kriteria, Py.”
Aku hanya tersenyum melihat komentar temanku. Aku kira yang aneh justru dia. Ada setan apa yang hinggap dibenaknya hingga ia bisa melakukan penelitian-penelitian yang ga begitu ilmiah sehingga dia berhasil mengklasifikasikan kriteria-kriteria perempuan disekelilingku. Enteng saja aku menjawabnya. “Aku tidak mau milih sendirian, kawan.” Betapa terkejutnya dia mendengar jawabanku yang singkat, padat, lugas, tegas, namun sedikit tidak ia percayai. Aku melihat raut wajahnya berubah. Seolah ia baru mengenalku. “Py, boleh tanya sedikit ga? Tapi kamu jangan marah ya?”. Oh, tentu saja aku tersenyum. Aku tak bisa marah sama kawanku itu. Baik sekali dia. “Py, kamu normal ga sih?”. Astaga naga, apa maksud pertanyaannya. “Maksudku, kamu pernah punya perasaan mencintai perempuan ga sih?”. Ouw, kalau masalah itu pasti ada kawan. Hanya saja aku tak mau mengungkapkannya. “Goblok!”, entah iblis apa yang mendorongnya menghardikku. “Py, hare gene ga berani katakan cinta! Basi Py! Kamu ternyata pengecut! Muna’ banget sama diri kamu sendiri. Kalau seperti itu menyesal aku mengasihanimu setelah membaca blog-mu kemarin. Ternyata kamu sendiri penakut.” O…O…kenapa jadi dia yang emosi. Begini kawan, aku punya beberapa penjelasan, jangan emosi dulu. Begitu kira-kira aku dingin menanggapinya.
Aku mulai menjelaskan sedikit yang aku tahu kepada temanku. Pernikahan itu memang memiliki banyak tujuan mulia. Ada yang bilang mengikuti sunnah Rasul. Ada juga yang mengatakan untuk menjaga kesucian dan menahan pandangan. Tukang biologi ikut beropini bahwa menikah itu untuk menjaga kelestarian jenis (emang mau punah?). Mereka bilang dengan menikah bisa mengembalikan semangat kepemudaan dan tempat sedekah yang paling enak di dunia. Tukang bisnis bilang kalau menikah itu adalah jalan pintas membuka pintu rejeki. Nah masalahnya aku adalah tukang akuntansi, yang terus terang masih bingung membedakan apakah menikah itu termasuk kategori assets, liabilities, equities, revenues, atau kah expense. Hm…aku kira tidak sekedar itu saja. Ada cita-cita mulia kemasyarakatan disana. Menikah itu menyatukan dua keluarga besar. Memasukkan elemen keluarga lain ke dalam keluarga kita itu tidak mudah. Oleh karena itulah dibutuhkan perhatian untuk mengkondisikan keluarga kita sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, baru go to your own choice.
Aku mengakui masalah mengkondisikan keluarga sendiri ini masih dalam proses yang benyak tantangan. Aku tak mau menyebutnya hambatan, karena menurutku hambatan justru malah menyiutkan visiku. Kawanku baru sadar akan tantangan itu. Dan tiba-tiba ia membanting arah pembicaraan mengenai keluarga. Yah, mungkin sekedar basa-basi dan untuk mencairkan suasana. Dan ternyata perkiraanku tepat. Setelah ia kehabisan bahan basa-basi, ia kembali ke topik permasalahan. “Py, jika kamu pernah mempunyai perasaan suka kepada perempuan, bagaimana kamu mengungkapkannya?”. Jedug! Dag dig dug…dag dig dug…mm…kasih tau ga ya?
Tak ragu aku kemudian menunjuk cermin dibelakang temanku. Aku suruh dia berdiri menghadap cermin. Kemudian aku dikte ia untuk mengatakan cinta. “Dik, aku tidak memungkiri bahwa selama ini aku cinta banget sama kamu.” Lagi-lagi setan katrok meracuni otaknya. “Oh, jadi selama ini kamu suka sama Sidik ya Py?”. Ah…sinting benar temanku itu. Begini saja, aku peragakan dan ia melihat dengan khidmat. Aku tatap cermin di depanku lantas aku mulai bersandiwara. “Wahai bidadariku. Kau adalah bidadari yang mendatangi mimpi-mimpiku. Kau adalah madu manis yang menyelimuti hatiku. Kau adalah bunga mekar yang menghiasi taman cintaku. Bidadariku, lihatlah aku yang terbuai dalam mimpi. Bidadariku, jika kau adalah bidadari mimpiku, maka aku ingin selalu terjaga agar tidak terlena dalam mimpi yang fana.” Dan benar, terbukti temanku itu mengindap penyakit sinting. Ia memberikan applaus kecil, lantas menunjukkan mimik terharu, kemudian mengakhiri aksi sintingnya dengan mengusap mata dengan ujung bajunya lantas memeras-meras kainnya itu seolah-olah air matanya tumpah sebaskom.
Dalam hati aku bergumam, seandainya saja yang didepanku itu bukan cermin, tapi benar-benar bidadariku. Ah betapa indahnya. Ctug! Tiba-tiba jari kecil memukulku lembut, “Goblok banget sih! Kenapa ga ngomong langsung begitu itu sama bidadarimu. Py, katakan cinta Py!”. Ah temanku itu mungkin lupa. Aku ga perlu mengatakan cinta sekarang. Nanti saja kalau sudah resmi jadi istri mau bilang cinta sampai berbusa-busa itu baru sah-sah saja. Sekarang, cukup Tuhan saja yang tahu bahwa aku mencintainya. Mencintai bidadariku. Dan aku bepikir mudah saja menjelaskan prinsip ini kepada temanku. Cukup kubuka notebook, lantas aku klik icon digital qur’an.exe, kemudian aku cari sebuah tulisan Al-Baqarah(2):235. Aku minta ia membacanya dengan nada merdu dan terdengar jelas.
Aku akui kemerduan suara temanku itu mirip-mirip Bang Haji Roma Irama kalo sedang membaca ayat Al-Qur’an. Dia meneruskan membaca terjemahnya, “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. dan Ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. Setelah membaca keseluruhan ayat itu, terlihat kerut dahinya menunjukkan ia berpikir.
Aku kemudian menjelaskan pendapatku mengenai ayat itu kepada temanku. Bagiku sangat wajar jika aku menyebut-nyebut nama perempuan yang aku cintai. Itu memang sudah menjadi fitrah manusia. Menyukai lawan jenis. Apalagi kalau sudah tertarik pada seseorang yang spesifik. Wajar banget jika seorang manusia yang dilanda asmara itu perasaannya melanglang buana sambil menyebut-nyebut nama yang dicintainya. Allah sudah tahu itu. Dan Allah mengetahui benar apa yang aku ucapkan ataupun yang tersembunyi dalam hati. Namun cukup aku pribadi dan Allah saja yang tahu. Tak perlu orang lain atau bahkan perempuan yang aku cintai itu tahu hingga ada kesiapan dan keteguhan hati atau untuk keperluan musyawarah dengan orang yang lebih bijak. Aku tidak perlu mengungkapkan kata cinta itu secara langsung kepada yang bersangkutan sekarang. Lagipula sensasi menyembunyikan cinta itu rasanya indah sekali. Setidaknya aku bisa memanjakan menikmati keindahan sendiri.
Aku tak mau membayangkan kejadian buruk dan memalukan menimpaku. Misalnya saja aku sudah menyebut-nyebut namanya, lantas mengharapkan ia menjadi milikku, kemudian mengatakan cinta padanya padahal tantangan kemasyarakatan belum diselesaikan, lalu si perempuan menjawab, “Maaf ya mas yang ga ganteng tapi cukup membuat cowo ganteng didekatnya minder, baik hati namun agak tidak tahu diri, aku tidak bisa menerima cintamu karena aku lebih mencintai Allah dan Rasul panutanku”. Pasti suasana menjadi mencekam seperti menonton film horor hantu blau di bioskop kumal yang banyak kecoaknya. Apa ga sakit banget rasanya. Sudah terbang tinggi, menikmati pemandangan indah, tapi tak lama kemudian jatuh tersungkur ke bumi, tertimpa tangga lagi. Cukup sudah penderitaan itu. Coba kalau aku sembunyikan perasaan itu. Cukup aku dan Allah saja yang tahu dan mungkin cermin sandiwara yang melihatnya. Setidaknya aku bisa terbang tinggi, melihat pemandangan indah, terus agak lama karena tidak jatuh-jatuh. Berarti bisa meminimalisir risiko kehilangan pemandangan indah lebih cepat. Apalagi jika nanti ketika turun dari terbang tinggi aku bisa menjumpai mimpi itu menjadi kenyataan. Waow…betapa indahnya.
Satu lagi yang bisa memperindah impian. Tentu ini masih menurutku. Aku bisa merasakan sensasi bagaimana denyut jantung berdetak tidak jelas iramanya ketika berhubungan dengan perempuan yang ada perasaan cintaku padanya. Cukup interaksi dengan perkataan atau sindiran yang baik saja. Itu masih boleh dalam koridor ketentuan 2:235 di atas. Nah, untuk menjaga perkataan atau sindiran yang baik ini juga butuh perencanaan. Misalnya, aku menulis draft pertanyaan dan pernyataan yang akan aku utarakan. Persis seperti wartawan yang mempersiapkan diri mewawancarai narasumber. Itu penting banget, jika tidak hati-hati bisa ngomong tidak teratur, meracau kesana kemari, timbul sindrom keringat dingin akut yang tiba-tiba membasahi badan, persendian tubuh menjadi lesu, lemah dan lunglai, proses pencernaan terganggu dengan timbul gejala mulas atau perut terasa melilit-lilit, dan berbagai gejala keanehan biologis serta psikologis lainnya.
Setelah cerita panjang lebar seperti itu, aku baru sadar bahwa terjadi gejala abnormal pada temanku. Ia melongo, dengan mulut terbuka, mata terbelalak dan produksi air liur yang melimpah memenuhi ujung bibirnya. Dan…ups…benar, tumpahlah membasahi bajunya. Kontan aku terpingkal-pingkal melihat kejadian lucu itu. Temanku itu memang aneh. Tapi dia sungguh baik hati. Hanya memang tingkah-tingkahnya yang tak terduga itu terkadang di luar batas kepala manusia.
Entah mimpi apa aku semalam. Perjumpaanku dengan temanku itu seolah-olah sebelas dua belas antara apa yang aku pikirkan dengan apa yang ia lakukan. Baru saja aku mengenang tingkah-tingkah gilanya, tak lama kemudian ia berdiri mengelilingi kamar kos ku yang hanya sembilan meter persegi itu. Padahal dengan memutar bola matanya saja ia bisa menjelajah semua isi kamarku. Langkahnya kemudian terhenti di depan sterofoam yang aku tempel di dinding. Matanya melotot melihat secarik kertas bertuliskan spidol merah. Getting married. Dan benar, tidak wajar tingkahnya. Sudah berdiri tepat didepan objek pandangnya, ditambah memperlebar kelopak matanya seolah-olah bola penglihatan itu hendak tumpah, ia masih mendekatkan wajahnya lebih dekat ke arah tulisan itu. Tangannya mulai gerilya. Dilepasnya pines yang menempelkan kertas bertuliskan getting married. Kemudian ia tersenyum puas seperti baru menemukan harta karun. “Ha…kamu menyembunyikan sesuatu ya”, ucapnya. Belum sempat aku jawab, muncul lagi tingkah anehnya. Menggaruk-garuk kepala seolah bingung dengan makna harta karun yang ia temukan. Lantas membaca harta karunnya itu, “Rabb jika Kau mampu menyatukan satu dua air dalam satu laut, maka aku yakin Kau mampu menyatukan dua hati dalam satu hidup”. Aku tersenyum melihatnya.
“Maksudnya apa Py?”. Ah tidak penting itu kawan. Aku lantas menunjukkan tulisan yang lebih penting dari yang ia baca. Aku memintanya membaca tulisan yang lebih kecil di bawah kalimat yang barusan ia baca. “Barang siapa jauh cinta, lalu menyembunyikan cinta, menahan diri, bersabar, lalu mati, maka ia mati syahid-Al Hadits”. Dahinya berkerut, sepertinya ia berpikir keras. “Itu hadits shahih ga Py?”. Wah, maaf kawan aku bukan ahli hadits. Jika ditanya shahih atau tidaknya susah bagiku untuk menjawabnya. Namun aku sudah mengantisipasi kelemahan itu. Kubuka dompetku kemudian aku cari secarik kertas kecil yang sudah lusuh. Suwaid bin Sa’id Al Hadatsany diberitahu Ali Mushir dari Abu Yahya Al Qabtat, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas ra, dari Nabi SAW. Aku bacakan sanad hadits itu untuknya. Aku menulis hadits itu tulis beberapa tahun yang lalu dan menyembunyikan di dalam dompetku, agar aku bisa membacanya setiap saat jika aku sedang kasmaran. Lalu aku minta temanku untuk menyimpulkan apakah hadits itu shahih apa tidak. Ia hanya terdiam.
Sebelum ia bertindak aneh lagi, aku minta ia duduk di depanku. Kupandang matanya dan aku bertanya padanya mengenai sebuah syair Allah tujuan hidup kami, Muhammad tauladan kami, Al Qur’an penuntun kami, jihad jalan kami, dan syahid di jalan Allah cita kami tertinggi. Kawanku, aku percaya dengan semangat yang diungkapkan syair itu. Dan Tuhanku begitu Maha Pemurah karena telah memberiku jalan pintas untuk mencapai cita-cita tertinggi. Cukup sederhana, menyembunyikan cinta ketika aku sedang dalam kasmaran yang luar biasa. Dan cara yang paling efektif untuk menyembunyikan cinta adalah curhat kepada Tuhan. Aku ungkapkan saja semuanya, dan cukup aku dan Rabb-ku yang tahu. Ketika aku merasa dekat dengan Rabb-ku melebihi kedekatan urat leherku, maka firman-Nya pada 2:235 di atas menjadi tuntunan yang menunjukkanku jalan kebenaran dan sebagai pemantik semangat yang menggelora melebihi gejolak asmara yang aku rasakan. Lebih dari itu, Muhammad pun sebagai tauladan telah memberi petunjuk teknis mengelola asmara pemuda seperti aku. Aku lakukan sesuai urutan prosedurnya, yaitu jatuh cinta, menyembunyikan, menahan, dan sabar. Dan bukankah perang yang paling besar di muka bumi ini adalah perang melawan nafsu pribadi? Maka tinggal menunggu waktu saja, jika sewaktu-waktu aku mati dalam kondisi kasmaran seperti itu, maka syahid telah menantiku. Aku menyebutnya sebagai the power of unexpressed love. Kekuatan cinta yang tak terungkap. Cukup sederhana, mudah, tepat sasaran, dan tidak diragukan.
Kali ini aku tidak melihat ekspresi abnormal pada temanku. Aku hanya melihatnya menunduk lesu. Mungkin dia sedang memikirkan apa yang telah aku katakan. Dia memang terbiasa diam agak lama jika memikirkan sesuatu. Hanya saja ekspresi berpikir dia kali ini agak janggal. Hingga tiba-tiba aku sadar setelah melihat…astaga air liurnya kembali tumpah. Kurang ajar benar. Jadi aku bicara sampai berbusa-busa tadi hanya menjadi dongeng pengantar tidur saja. Hwaa…….
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 2 Komentar »
Bidadariku, aku menjemputmu
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Mei 31, 2008
Sepulang dari As Sa’adah pagi ini, aku berniat untuk ke MBM setengah jam lagi. Namun tak dapat ku pungkiri betapa kantuk itu menyerangku begitu dahsyatnya. Kurebahkan diriku, kupasang headphone-ku, kunyalakan media player, dan sepersekian saat pun aku terlelap hingga tak sadar apa yang kudengar. Tiba-tiba aku terbangun dan angka di pojok kanan bawah monitorku menunjukkan 7:33. Artinya terlambat parah satu jam dan mungkin acara di MBM sudah selesai. Menyesal aku memasang headphone yang menutup telingaku hingga membawaku terlelap begitu dahsyat selama satu setengah jam.
Akhirnya aku raba-raba si touchpad, mencari-cari MP3 apa yang aku dengarkan pagi itu. Bodohnya lagi, aku masih belum sadar benar apa yang aku dengarkan. Ternyata sebuah nasyid. Nasyid yang lama tidak aku dengarkan. Aku putar ulang nasyid itu. Sekali aku dengarkan, terasa jantungku berdetak tak normal. Dan ku dengarkan lagi Epicentrum berdendang…
Bila yakin telah tiba teguh di dalam jiwa
Kesabaran menjadi bunga
Sementara waktu berlalu penantian tak berarti sia-sia
Saat perjalanan adalah pencarian diri
Ya seperti itulah yang aku rasakan saat ini. Aku menantikan suatu fase besar dalam hidupku. Aku adalah laki-laki yang tiga hari lagi memasuki gerbang dua puluh lima. Angka dua puluh lima yang selalu muncul dalam benakku. Dua puluh lima ketika Muhammad memasuki fase besar hidupnya. Dan itu yang aku harapkan. Memasuki fase besar seperti Muhammad. Aku menantikan fase itu, mempersiapkan diri untuk menghadapinya, dan yakin, benar-benar yakin, akan menghadapinya tahun ini. Getting married. Aku menuliskan dan menempelkan di sterofoam. Aku juga mensetting tulisan itu di wallpaper HPku. Aku tuliskan pula di diary STAPALA. Aku beri tahu teman-teman kosku. Aku juga memberi tahu beberapa teman di D4. Macam-macam tanggapan mereka. Ada yang mengamini. Ada pula yang tertawa. Ada yang balik bertanya, “Calonnya siapa mas?”. Tak ragu aku menjawab, “Kalau sekarang ya aku jawab belum ada la. Masa aku jawab belum ada dong. Fauzi aja Badila, bukan Badidong”. Dan tentu saja yang bertanya itu tertawa ngakak lantas nyeletuk. “Mas…mas, kamu tu aneh, wong belum ada calonnya kok mau nikah!”.
Laksana Zulaikha jalani hari, sabar menanti Yusuf sang tambatan hati
Di penantian mencari diri, memohonkan ampunan, dipertemukan
Aku memang tak setampan Yusuf. Hm…jadi ingat kata Agus Ringgo, Gue emang ga ganteng, tapi cowo ganteng deket gue, Minder!. Ya wajar jika tidak ada wanita secantik Zulaikha yang terpesona padaku. Tapi kalau diberi yang secantik Zulaikha masa menolaknya. Tapi bukan itu kebutuhan utamanya. Tentu aku masih ingat benar bahwa kebutuhan laki-laki itu sebenarnya hanya tiga, kendaraan yang bisa dibawa kemana-mana, rumah yang lapang, dan istri yang shalihah. Aku sudah punya salah satu diantaranya, yaitu kendaraan. Sebenarnya aku juga pengen beli rumah bulan depan. Tapi aku bingung, nanti kalau aku punya rumah bulan depan, masa hanya sendirian di rumah. Lagipula duitnya sekarang juga ga ada. Oleh karena itulah aku harus punya teman serumah dulu, yaitu pemenuhan kebutuhan ketiga. Istri yang shalihah. Itulah kriteria utamanya. Kalaupun nanti Allah menganugerahi aku istri yang lebih dari shalihah, tentu saja alhamdulillah. Misalnya ia juga cantik, ya alhamdulillah, setidaknya aku bisa berlama-lama melihat waah istriku yang cantik itu nantinya. Atau ia juga pintar, ya Alhamdulillah, setidaknya aku ga perlu fotokopi buku-buku tebal. Ga papa juga jika ia pintar masak, setidaknya aku ga mengulangi kebodohan menggoreng kacang sampai gosong yang hingga kini masih terpampang jelas di atas rak bukuku karena tak tega aku melihat lidahku meringis merasakan pahitnya. Yakin saja lah, pasti akan dipertemukan.
Segera kan ku jemput engkau bidadari
Bila tiba waktu ku temukan aku
Ya Illahi robbi, terus ku mencari diri sepenuh hati
Teguhkan lah ku dilangkah ini, di pencarian hakikat diri
Dan izinkan ku jemput bidadari
Tuk bersama menuju-Mu mengisi hari
Ya Allah…kepada siapa lagi aku memohon selain kepada-Mu. Engkau mematangkan kehidupan Muhammad mulai umur 25 tahun, maka aku memohon sepenuhnya pada-Mu, matangkan pula hidupku mulai tahun ini. Ya Allah…kepada siapa lagi aku meminta selain kepada-Mu. Aku tidak ingin mataku ini disiksa di neraka karena aku tak mampu menjaganya. Aku juga tidak ingin kehormatanku terjajah terhina tanpa terjaga hingga tak pantas bagiku dihadapan siapa saja, termasuk dihadapan-Mu. Aku juga tidak ingin hidup dibawah setengah agama-Mu. Entah apa jadinya aku jika memenuhi separuh agama saja tidak bisa, padahal Engkau menciptakan agama ini sempurna. Ya Tuhan…hanya pada-Mu lah aku memelas, pertemukan aku dengan bidadariku, agar aku bisa menjaga kehormatanku, agar aku bisa mengikuti sunnah Rasul-Mu, agar aku bisa menyempurnakan agamaku.
Ya Allah…sujud demi sujud, doa demi doa kulayangkan pada-Mu. Apakah Engkau akan membiarkan aku menghadap menuju-Mu sendiri? Aku yakin Engkau tidak akan membiarkan aku sendiri karena Engkau menciptakan manusia berpasang-pasangan. Ya Allah, tunjukkan aku jalan menuju kesempurnaan. Aku yakin Engkau tidak akan membiarkan aku meniti jalan yang Engkau murkai atau pun jalan yang sesat. Ya Allah, Engkau tentu melihat aku merasakan jalan yang penuh onak dan duri menghiasi titianku menjemput bidadariku. Maka jadikan aku menikmati jalan ini sebagaimana aku meniti tanjakan Ciremai. Ya Allah, mantapkan langkah ini, teguhkan hati ini, karena aku akan segera menjemput bidadari. Ya Rabbi, ampunilah aku karena meminta pada-Mu untuk menghantarkan bidadariku padaku entah bagaimanapun cara-Mu. Ya Rabbi, ridhoi aku menjemput bidadariku sebagaimana aku rela dengan Engkau sebagai Tuhanku.
Kini yakin telah tiba, teguh di dalam jiwa
Kesabaran adalah permata
Dan waktu berlalu, penantian tak berarti sia-sia
Saat perjalanan adalah pencarian diri
Tak pernah aku merasakan optimisme luar biasa seperti sekarang. Ujian kuliah sudah kulalui separuh jalan dengan keyakinan keberhasilan luar biasa. Kebahagiaan yang tak terputus atas rejeki dari Allah yang mengalir terus. Keyakinan tiada tara menerbangkanku menuju langit kesempurnaan. Bidadariku ada disana. Dan aku harus terbang menjemputnya. Bidadariku, aku tak akan membiarkan engkau sendiri menemuiku. Aku akan menjemputmu. Bidadariku, tak kubiarkan engkau merasakan hidup tanpa kesempurnaan. Aku akan mengisi kehidupanmu hingga kita bisa meraih kesempurnaan itu berdua. Bidadariku, yakinlah padaku sebagaimana engkau melihat aku yang begitu yakin bisa menjemputmu. Bidadariku, bersiaplah untuk mengisi relung hatiku sebagaimana aku bersiap mengisi relung hatimu.
Laksana Adam dan Hawa, turun ke bumi terpisah jarak waktu
Di penantian mencari diri, memohonkan ampunan, dipertemukan
Rabb, lagi-lagi aku memohon pada-Mu demi bidadariku. Rabb, lihatlah bidadariku sedang bersujud pada-Mu. Ia berdoa agar bisa menemukan aku. Apakah Engkau akan membiarkan begitu saja ia terbuai dalam sujudnya? Aku yakin Engkau Yang Maha Memberi akan mengabulkan permintaanya untuk bertemu denganku. Ya Rabb, lihatlah bidadariku menangis menumpahkan air mata kerinduannya padaku. Apakah Engkau akan membiarkan air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang lembut? Aku yakin Engkau akan mengalirkan air mata kebahagian padanya dengan mempertemukan kami berdua. Ya Rabb, lihatlah bidadariku bersedih menunggu kedatanganku. Apakah Engkau akan membiarkan kami terpisah jarak dan waktu? Aku yakin Engkau akan mengganti kesedihannya dengan kesenangan dan keberkahan ketika kami berdua Engkau pertemukan.
Bidadari telah menyentuh hati, teduhkan nurani,
Bidadari telah menyapa jiwa, memberikan makna
Bidadariku, lihatlah Allah sedang mengantarkanmu padaku, dan tunggulah, aku menjemputmu.
taxwipy@yahoo.com
also enjoy at http://wipy.blogs.friendster.com/my_blog/
Ditulis dalam Siapkan Pernikahan | 2 Komentar »
Tadinya mo dikasi Media Centre, tapi dah keburu naik cetak
Ditulis oleh pembawacerita di/pada Mei 19, 2008
MOMENTUM KEBANGKITAN BANGSA STAN
Oleh: Wirawan Purwa Yuwana[i]
Pendahuluan
Seratus tahun kebangkitan nasional diekspos besar-besaran di media massa. Semangat sejarah 1908-2008 itu disuntikkan di Istora Senayan kepada para pebulu tangkis Indonesia untuk meraih piala Thomas dan Uber walau akhirnya gagal diraih keduanya. Namun demikian perjuangan mereka patut diacungi jempol. Peringatan peristiwa yang dipicu lahirnya Boedi Oetomo itu pula yang digunakan para pejabat Negara untuk membangkitkan semangat rakyatnya untuk berkarya. Tokoh-tokoh bangsa banyak berbicara kepada konstituennya dengan semangat kebangkitan dalam benaknya. Beberapa kelompok pemuda juga memperingati kebangkitan nasional dengan berbagai cara, ada yang melakukan long-march, konvoi keliling daerah seperti yang dilakukan almarhum Sophan Sopiaan, ada pula yang menggelar diskusi demi menciptakan pikiran-pikiran kritis dan bermanfaat. Juga rakyat yang memanfaatkan momentum kebangkitan nasional dengan menolak kenaikan bahan bakar minyak. Hampir setiap elemen bangsa ini membakar kembali semangat yang disulut pemuda generasi 1908.
Lantas bagaimana kebangkitan bangsa STAN? Pertanyaan ini agak sulit dijawab. Hingga tengah bulan kebangkitan ini nyaris tidak ada dengung kebangkitan bangsa. Bahkan cenderung banyak permasalahan di dalam perguruan tinggi kedinasan paling terkenal senusantara ini. Dan agak ganjil karena seolah-olah tidak ada upaya untuk mengidentifikasi masalah serta membahasnya untuk mencari solusi yang sesuai. Yang ada justru saling menunggu ketidakpastian, menjanjikan mimpi bersyarat “jika ini jika itu”, atau bahkan tenggelam dalam dunia materialisme dan hedonisme.
Kampus ini seperti menjadi buta sejarah. Sejarah seolah-olah hanya menjadi masa lalu yang jauh dari konteks kekinian. Bahkan jika perlu sejarah dibuang ke tempat sampah. Padahal sebagaimana orang bijak katakan, jangan melupakan sejarah ketika hendak mengambil keputusan saat ini. Sebagai mahasiswa yang mempelajari akuntansi pun akan sangat paham bahwa peristiwa historis masa lalu, dalam hal ini peristiwa keuangan, akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan melalui sarana laporan keuangan.
Mahasiswa STAN
Banyak yang memprotes jika mahasiswa dulu dan sekarang dibanding-bandingkan dengan alasan kenyataan situasi dulu dan sekarang sangat berbeda. Tidak masalah memang berbeda pendapat seperti ini. Namun perlu diketahui bahwa akuntansi saja memiliki karakteristik kualitatif comparability, ekonomi juga menggunakan asumsi ceteris paribus. Oleh karena itulah hendaknya tidak perlu bersilang pendapat mengenai hal itu.
Beberapa teman satu angkatan dengan penulis pada saat menempuh Diploma III STAN berpendapat bahwa mahasiswa STAN dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Ketika seorang mahasiswa yang melintas di depannya dengan ransel terlihat berat, berjalan cepat dan menundukkan wajahnya ia berpendapat bahwa tipikal mahasiswa seperti itu yang membawanya bernostalgia dengan STAN masa lalu. Mahasiswa STAN yang dahulu begitu terlihat begitu berat memperjuangkan eksistensi hidupnya. Hingga yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana agar ia bisa hidup dua bulan kedepan, tidak di-DO, dan bisa melaksanakan kegiatan keahasiswaan dengan sukses dan lancar.
Sekarang lihat saja mahasiswa STAN yang nongkrong dibeberapa tempat bersama teman-temannya. Ngobrol ngalor-ngidul tidak jelas apa yang dibicarakan seolah-olah mereka sudah meraih masa depan. Ada juga sepasang mahasiswa-mahasiswi STAN yang bergandengan tangan berjalan berdua tanpa merasa berdosa, atau yang diwarung saling menyuapi layaknya suami istri, atau yang menyusuri kegelapan malam kampus STAN sambil bermesraan. Perhatikan juga berapa orang yang memanfaatkan waktu untuk belajar di perpustakaan. Nyaris tidak ada perubahan kuantitas. Padahal jumlah mahasiswa STAN sekarang jauh lebih besar dibandingkan dahulu. Hal ini dapat dikatakan bahwa prosentase minat mahasiswa STAN terhadap perpustakaan menurun. Maka jangan salahkan lembaga yang tidak memperbaharui literatur di perpustakaan karena sia-sia saja membeli buku tapi tidak dibaca. Juga jangan salahkan kondisi perpustakaan yang seperti museum, tidak berkembang dan hanya satu lantai karena sejarah perpustakaan STAN tidak pernah mencatat terjadinya overload pengunjung perpustakaan.
Sudah sering majalah kampus mem-blow up dekadensi moral mahasiswa STAN. Keluhan tokoh-tokoh masyarakat sekitar STAN yang mengatakan bahwa mahasiswa STAN tidak ramah lagi. Juga pendapat beberapa dosen yang mengatakan bahwa menjelaskan materi kuliah kepada mahasiswa sekarang relatif lebih susah dibandingkan mahasiswa dahulu. Pun opini kakak kelas yan termasuk lulusan terbaik D IV Akuntansi tahun lalu yang menyatakan bahwa tidak ada gurat perjuangan lagi di wajah mahasiswa STAN.
BLU STAN
STAN sudah menjadi Badan Layanan Umum saat ini. Berbagai janji-janji kemajuan STAN setelah menjadi BLU. Ingin membangun gedung baru. Juga standar setiap kelas yang ada AC dan proyektornya. Pun fasilitas broadband untuk internet gratis. Atau memperbanyak koleksi literatur perpustakaan. Segala usaha akan dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kapabilitas lulusan STAN. Dan segala janji-janji lain yang membumbungkan impian mahasiswa untuk memiliki kampus yang bagus. Janji-janji ini yang perlu dicatat dan diawasi secara ketat oleh mahasiswa. Jangan sampai mahasiswa tidak bisa mendeteksi satu kesalahan pun yang dilakukan oleh pengelolan BLU STAN. Jadi mahasiswa tidak hanya berpangku tangan atau bahkan menutup mata jika terjadi distorsi pencapaian STAN menjadi lebih baik.
Coba kita lihat kembali buku-buku yang kita pinjam dari STAN. Setiap pemegang buku penulis yakin bisa mengetahui kualitas buku yang dipinjamnya. Mahasiswa tentu bisa menilai apakah buku itu memiliki kualitas produk asli atau produk bajakan atau bahkan dibeli dipasar loak. Dari permasalahan buku ini saja bisa memperluas ke aspek yang lain. Mahasiswa bisa bermain-main dengan logikanya mengenai anggaran pengadaan buku literatur. Mahasiswa bisa mengestimasi berapa selisih harga jika buku literatur itu dibeli langsung dari penerbit atau distributor resminya dengan harga buku jika dibeli dari Kwitang atau Pasar Senen. Mahasiswa juga bisa mengetahui siapa yang bertangung jawab atas pengadaan buku. Dengan demikian mahasiswa pun bisa langsung mengaplikasikan ilmu audit yang ia dapatkan pada proses perkuliahan untuk mengawal cita-cita STAN menjadi lebih baik.
Selanjutnya mari kita lihat tower yang menjulang disamping Gedung L. Dahulu keberadaan tower itu untuk fasilitas internet murah di kampus. Tapi sekarang tidak terdengar lagi untuk apa kegunaan tower tersebut. Jika pertanyaan mengenai tower ini dilanjutkan, maka akan timbul keingintahuan apakah tidak ada sinyal internet pada tower itu saat ini. Jika tidak ada maka keberadaan tower itu seperti mati suri. Namun jika ada sinyal internet, maka perlu dipertanyakan siapa yang menggunakannya. Pada kenyataannya mahasiswa tidak pernah mencicipi fasilitas itu sekarang. Lantas jika ada sinyal dijual kemana sinyal itu. Pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban yang panjang lebar.
Bukan hanya masalah fasilitas belaka. Masalah dosen pun masih sangat kental di kampus STAN. Masih banyak dosen-dosen yang masih mempunyai paradigma pasal satu dan pasal dua. Pasal satu menyatakan bahwa dosen selalu benar. Jika dosen salah maka kembali pada pasal satu. Sebagai contoh lain perhatikan saja dosen yang mangkir atau menentukan waktu kuliah baik secara pribadi ataupun melalui negosiasi dengan mahasiswa terlebih dahulu. Berbagai alasan menjadi justifikasi. Ada yang melaksanakan tugas ke luar kota, tiba-tiba dipanggil mendadak oleh menteri, rapat dengan pejabat eselon, dan sederet alasan lain dikemukakan. Efek negatif jadual kuliah yang tidak well-planned pun dikesampingkan. Kebutuhan mahasiswa untuk mengembangkan diri dengan tidak hanya semata-mata kuliah di kampus pun ditelantarkan. Dengan kondisi ini paradigma belajar hanya melalui kuliah di kampus justru semakin mengkerdilkan wacana mahasiswa.
Selain permasalahan internal kampus BLU demi kebaikan STAN pun harus mampu mempertahankan persepsi masyarakat bahwa ujian saringan masuk STAN itu masih sangat dijamin bersih tanpa manipulasi “pintu belakang” atau “pintu samping”. Seorang dosen bercerita bahwa ada orang tua mantan mahasiswa STAN yang menuntut karena tidak menerima kenyataan bahwa anaknya di DO. Usut punya usut mantan mahasiswa STAN itu masuk melalui jalur belakang dengan membayar sejumlah uang. Namun ketika ditanya siapa oknum yang menerima uang itu, orang tua mantan mahasiswa tersebut tidak mengaku. Cerita itu menurut hemat penulis telah melukai kebersihan citra STAN sekaligus menunjukkan adanya indikasi ketidakwajaran dalam tubuh STAN. Ditengah maraknya joki pendidikan, seharusnya STAN bisa membuktikan kemurnian ujian saringan masuknya. Karena kemurnian ini pulalah yang menutup coreng pendidikan Indonesia.
Penutup
Setidaknya coreng moreng kampus STAN diatas indikasinya baru diketahui dipermukaan saja. Dibutuhkan keberanian untuk mengungkapkannya serta meluruskan kebenarannya. Tidak salah pendapat Menteri Keuangan yang menyatakan bahwa jika ingin melihat kondisi bobroknya departemen keuangan maka lihatlah miniaturnya, yaitu Kampus STAN.
Kini dengan momentum seratus tahun kebangkitan nasional ini sudah sepatutnya bagi setiap elemen kampus STAN baik pegawai, instansi, mahasiswa, alumni, maupun masyarakat sekitarnya bersama-sama mewujudkan cita-cita menjadikan STAN yang berkembang lebih baik. Dengan momentum ini mari kita sudahi segala kebobrokan, keculasan, dan keburukannya. Langkah-langkah nyata dan revolusioner sangat dibutuhkan. Tentu saja agar kedepan mahasiswa STAN dan lulusannya tidak berjalan dengan muka yang bopeng sebelah.
[i] Penulis adalah Mahasiswa Semester 8 Akuntansi
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
Obrolan Kereta Api Ekonomi antar Propinsi
Ditulis oleh pembawacerita di/pada April 22, 2008
Suatu ketika saya di sms seorang yang saya hormati dan saya kenang. Beliau bertanya kenapa saya masih suka naik Kereta Api Ekonomi pada saat pulang kampung ke Trenggalek. Pada mulanya saya menjawab begitu simpel, karena saya tidak punya uang untuk beli tiket bus eksekutif atau KA Eksekutif. Lantas beliau bertanya lagi, kepaa tidak lewat Juanda saja. Hm…pertanyaan itu lebih mudah dijawab. Karena bus dan kereta api antar propinsi tidak lewat Juanda.Ya begitu lah risiko punya kampung yang jauh dari bandara. Kalaupun Jakarta-Surabaya bisa ditempuh selama 1 jam, tapi tetap saja Surabaya-Trenggalek butuh waktu 5-6 jam. Perjalanan yang melelahkan.
Tapi berada di KA Ekonomi seperti Brantas (Jakarta-Kediri), Matarmaja(Jakarta-Malang) atau Bengawan (Jakarta-Solo), yang notabene sangat panas dan seringkali berdesakan, saya mendapatkan banyak hal. Saya dipaksa untuk menikmati suasana kereta yang amburadul. Seperti kata teman saya, KA Ekonomi yang sering kamu naiki itu ibarat pasar. Semuanya dijual disitu. Ada berbagai jenis masakan seperti, nasi pecel, rames, ayam goreng, spagheti Cirebon (baca: mie rebus). Juga dijual berbagai jenis minuman, mulai dari kopi, susu, teh, minuman suplemen, minuman cereal, yang panas, yang dingin, yang hangat, sampai bir pun ada yang jual. Belum lagi mainan anak-anak yang dijajakan sepanjang jalan. Kalau anda hendak membeli mainan pasti banyak pilihan ketika berada di kereta ekonomi. Kemudian setelah anda sampai di sekitar Batang-Pekalongan, pasti anda akan menemui Ramayana pindah ke kereta. Anda bisa mendapatkan berbagai jenis pakaian. Untuk anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, yang batik, yang polos, atau berbagai motif, semua ada di sana. Kadang ada juga yang jualan binatang piaraan seperti hamster, marmut, atau kelinci. Ah…mungkin kalau kereta ekonomi itu ruangannya lebih lebar, banyak yang memanfaatkan untuk jualan rajakaya (istilah jawa untuk binatang ternak seperti kambing, sapi, kerbau, dsb).
Sebenarnya lebih dari itu menikmati perjalanan diatas rel dalam KA Ekonomi. Saya dapat menimba pengalaman disana. Berinteraksi dengan berbagai jenis kepribadian manusia. Juga pengetahuan yang sebenarnya bukan lapangan pikiran saya. Seperti saat saya berbagi dengan tukang foto kopi. Dia banyak bercerita sambil menikmati Dji Sam Soe-nya. Buruh foto kopi itu berat kerjanya. Jadual kerjanya tidak pasti. Kalau sepi dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam sepuluh jam diantaranya buat nonton tivi, tidur, main gitar, catur, atau membersihkan mesin foto kopi, laminating, dan peralatan kantor lainnya. Tapi kalau lagi lembur, dari jam 6 pagi sampai jam 6 pagi dua hari berikutnya baru bisa memejamkan mata dengan tenang. Dan bekerja seperti itu upahnya tidak seberapa.
Sewaktu saya tanya kenapa tidak mencari pekerjaan yang lain saja. Buruh foto kopi itu menjawab, “Saya bangga kok mas”. Dia bangga karena hampir setiap hari dia “menentukan” masa depan orang lain. “Lihat saja mas waktu saya memfoto kopi surat lamaran kerja. Seandainya surat lamaran kerja itu saya fotokopi hitam semua, apa yang nglamar kerja bakal diterima?”. Ya iya lah mas, tapi anda akan kehilangan pelanggan dari situ, begitu saya tambahkan. “Ya bukan cuma itu mas. Saya pernah diminta laminating ijazah. Pelanggan saya itu sudah bawa plastik laminating sendiri dari rumah. Jadi saya tinggal melaminating saja. Nah, saat itu mesin laminatingnya tiba-tiba macet. Hingga saya panik ketika mencium bau asap. Ijazah itu terbakar mas.” Dalam hati saya berkata, kalo saya yang minta laminating itu, pasti tukang fotokopi itu saya tempeleng. Tukang foto kopi itu melanjutkan ceritanya,”Wah…saat itu rasanya seperti mau pingsan mas. Keringet saya sak grontol-grontol (sebesar jagung rebus). Untung bos saya ngerti mas. Ya akhirnya dia yang bilang, plastik laminating yang dibawa pelanggan tadi sudah ga layak untuk laminating.”
Itu tadi kalau cerita laminating. Lantas bagaimana dengan foto kopi itu sendiri. “Foto kopi itu juga susah lho mas. Kita kan harus mengatur skala foto kopi biar hasilnya pas dengan kertas. Mas sendiri pasti juga sering foto kopi diperkecil atau diperbesar kan? Nah, mengira-ngira biar pas itu ya lumayan butuh pengalaman lho mas.” Hm…memang benar, pengalaman adalah guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan. “Mas, pernah ga foto kopi bolak balik?”. “Pernah”, begitu saya jawab, sambil mengingat-ingat memfotokopi berkas pas di kantor dulu. “Ga sulit kan mas?”, tanya saya lebih lanjut. “Memangnya mas sudah pernah memfotokopi bolak balik berapa banyak?”. Alih-alih menjawab pertanyaan saya, tukang foto kopi itu malah balik bertanya kepada saya. “Ga banyak kok mas, hanya beberapa lembar”. “Ya ga sulit mas kalo cuma segitu. Coba mas memfoto kopi buku ukuran folio,terus diperkecil, bolak-balik, rangkap sepuluh saja.” Sampai di sini saya ga bisa jawab, hanya bergumam, repot amat sih….lantas saya mohon ijin padanya untuk tidur.
Selain tukang foto kopi yang duduk disamping saya, tepat di depan saya ada tukang roti. Waktu saya tanya, pasar jualan rotinya dimana dia lantas memulai cerita. Penjual roti itu setiap hari bangun jam 2 pagi untuk membuat roti. Lantas setelah Shubuh dia mulai menjajakan rotinya hingga siang. Siang harinya ia belanja kebutuhan bahan roti. Sampai di rumah, ia langsung mempersiapkan alat-alat membuat roti. Sebelum tidur kadang ia terpikir betapa susahnya mencari uang dari menjual roti. Susah untuk mendapatkan untung yang besar. Hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saya menanyainya lebih lanjut, apakah selain menjajakan sendiri ia juga menitipkan dagangannya ke warung-warung. Ia bilang sudah mencobanya. Tapi risikonya besar. Pernah ia menitipkan roti dagangannya, empat hari kemudian warungnya didatangi, rotinya habis tapi tidak menyetorkan uang. Katanya rotinya basi. Dia bialng ga mungkin rotinya basi tiga hari, karena rotinya bisa bertahan 4-5 hari tanpa pengawet. Sejak saat itu ia sudah tidak menitipkan lagi dagangannya. Rugi dan ribet katanya. Ribet karena harus memikirkan dagangannya di warung yang dititipi.
Saat seperti ini, saya yakin dia butuh tempat untuk konsultasi. Tapi tidak mungkin baginya untuk mendatangkan financial planner yang sudah terbukti sukses. Atau menunggu acara bisnis yang ditayangkan di televisi pun sempertinya tidak ada waktu baginya (dan mungkin tidak ada televisi). Saya sendiri tidak menuntut dimana Menteri Usaha Kecil dan Menengah, atau pejabat badan pelatihan tenaga kerja. Cukup saya sendiri berusaha memberi saran dengan harapan berguna. Berpikir untuk menyesuaikan teori yang didapatkan di kampus, dibumbui dengan sedikit kebohongan dan bahasan yang luwes untuk menyampaikan financial plan kepada si tukang roti.
Saya yakin tukang roti itu tidak pernah belajar Manajemen Keuangan, jadi wajar jika tidak tahu postulat risk and return trade off. Ia pun juga tidak pernah belajar akuntansi, jadi wajar jika tidak tahu bagaimana bussiness entity concepts untuk memisahkan harta pribadinya dengan harta jualan rotinya. Dan saya yakin, orang-orang seperti itu hanya bisa percaya jika sudah ada pengalaman yang terbukti berhasil, oleh karena itu lah saya harus mengarang cerita-cerita sukses jualan yang tentu saja bukan pengalaman betulan.
“Mas, menitipkan dagangan roti itu seperti meletakkan dagangan di pinggir jalan. Pengawasannya harus ketat”, begitu lanjut ceritanya. Dan ini lah saat ayng tepat untuk memasukkan landasan berpikir. “Benar mas. Kita hanya punya modal kepercayaan dan kesabaran dalam hidup ini. dagangan itu pasti akan diambil orang jika tidak diawasi. Makanya kita harus sabar mengawasi dagangan kita. Nah, selain itu kita juga harus memberi kepercayaan kepada warung yang kita titipi. Biar kita bisa menitipkan dagangan dan bisa mendapatkan untung”. Ia hanya manggut-manggut mendengarkan. “Kalau mas tidak memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk menjual dagangan mas, ya jadinya seperti sekarang ini. Mas hanya bisa menjual sendiri. Repot dan hasilnya sedikit”. Lantas dia bertanya,”Mas punya pengalaman jualan roti toh? Kok sepertinya paham dengan cara saya jualan”. “Loh, ibu saya itu guru yang nyambi jualan roti mas”, saya mulai menelusupkan jurus-jurus gombal. “Dulu ibu saya itu hanya bisa membuat roti ban. Itu lho, roti yang bentuknya bundar, empuk, tengahnya bolong, terus menyajikannya diiris-iris terlebih dahulu. Ibu saya itu tadinya hanya menjual di depan halaman. Ternyata banyak yang minat. Bahkan kalau ada orang hajatan, ada yang menyarankan ibu untuk memberi oleh-oleh roti saja, bukan beras dan gula seperti kebiasaan orang jawa. Nah, dari situ ibu saya sering mendapatkan order roti waktu ada orang yang punya hajat. Sekarang coba mas pikir. Ibu saya itu tadi hanya percaya dengan omongan orang lain lho. Hanya nuruti kalau ke tempat orang hajatan, bawa oleh-oleh roti”.
“Setelah kita percaya pada warung, lha terus untuk menghindari bisar warungnya ga ngemplang ndak bayar gimana caranya mas?”. Ah…mas-nya ini belum tahu betapa dokumen sumber berupa nota konsinyasi itu menjadi sangat penting dalam akuntansi. “Ya mudah saja mas. Waktu menitipkan dagangan roti, mas tulis aja diatas kertas berapa jumlah, jenis, dan harga rotinya. Ini bukan berarti mengurangi kepercayaan yang mas berikan pada warung. Mas anggap aja sebagai formalitas begitu. Tapi ini jadi penting lho mas, apalagi pada saat menagih uangnya. Jadi mas punya bukti, berapa roti yang dititipkan, rotinya apa saja, dan harganya berapa”. Hingga percakapan ini, mas tukang roti itu kelihatan berpikir terus. Dahinya mengkerut, tatapan matanya menerawang udara, dan mulutnya tak henti-henti menghirup Gudang Garam Surya lantas menghembuskan asapnya ke udara seolah menghempaskan beban hidupnya. Saya sendiri berusaha turut hanyut dalam suasana tukang roti. Melihat kepulan asap rokok yang terbang dan lak lama kemudian menghilang. Semoga teori buat tukan roti itu tidak seperti asap rokok yang dia hirup.
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Menanti Kepastian Audit Pajak
Ditulis oleh pembawacerita di/pada April 6, 2008
Oleh Wirawan Purwa Yuwana
Ibarat seorang ayah berdebar-debar menanti kelahiran anaknya, maka demikian pula dengan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan (DJP) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) saat ini. Kedua instansi ini sedang dag-dig-dug menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) sehubungan dengan judicial review Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
Permasalahan itu dipicu oleh adanya silang pendapat antara DJP dengan BPK sehubungan dengan ketentuan pengecualian rahasia Wajib Pajak (WP) yang dapat dibuka kepada lembaga negara atau instansi pemerintah yang berwenang melakukan pemeriksaan dibidang keuangan negara. DJP berpendapat bahwa rahasia tersebut adalah hak warga negara yang harus dilindungi. Oleh karena itu lah hak WP tersebut diakomodir dalam UU KUP. Kalau pun ada pihak lain yang berkepentingan dengan pembukaan rahasia WP harus dengan ijin Menteri Keuangan. Menteri Keuangan sendiri berpendapat bahwa pemerintah hanya menjalankan amanat konstitusi yaitu menjaga kerahasiaan WP. Adapun untuk mengaudit pajak, pintu tetap terbuka bagi BPK asal sesuai dengan prosedur. (Kompas, Kamis, 28 Februari 2008)
Sebagai badan yang menjalankan amanat Undang-undang Dasar untuk memeriksa pengelolaan dan tangung jawab keuangan Negara secara bebas dan mandiri, BPK mempunyai pandangan yang berbeda. Mekanisme permintaan ijin tersebut dipandang BPK telah membatasi kewenangannya untuk melakukan audit di bidang keuangan negara yang termasuk di dalamnya audit pajak. Atas dasar itu pula BPK memberikan opini disclaimer terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). Opini itu mungkin dapat mengganggu kredibilitas pemerintah.
Silang pendapat antar kedua instansi tersebut semakin meruncing. Hingga puncaknya BPK mengajukan uji materi (judicial review) ke MK. Perkara tersebut diregistrasi dengan Nomor 3/PUU-VI/2008 (Majalah Berita Pajak, 15 Februari 2008). Sampai dengan saat ini MK masih melakukan pembahasan perkara tersebut. Menanggapi langkah yang dilakukan BPK tersebut, DJP lantas menghentikan proses pembahasan nota kesepahaman (MoU) yang sedang dibahas dengan BPK.
Sebenarnya perselisihan itu tidak perlu terjadi jika kedua belah pihak dapat saling memahami. BPK perlu memahami bahwa tugas DJP dalam mengumpulkan penerimaan pajak harus memperhatikan hak-hak WP sebagai warga negara. Diantaranya adalah melindungi rahasia perpajakan WP. Hal ini sangat penting untuk menjaga kondusivitas lingkungan usaha. Tanpa lingkungan usaha yang baik maka akan sangat sulit mencapai target penerimaan pajak yang diisyaratkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Demikian pula DJP juga perlu memahami tugas BPK dalam mengaudit keuangan negara. Oleh karena itu BPK perlu mendapatkan keleluasaan untuk menjalankan tugas konstitusionalnya.
Hal yang perlu dilakukan antar kedua instansi tersebut adalah menyamakan persepsi. BPK perlu membentuk persepsi bahwa rahasia pajak adalah hak WP sebagai warga negara. Jadi rahasia tersebut bukan dipandang sebagai penghalang untuk mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang transparan dan akuntabel. Demikian juga DJP perlu membentuk persepsi bahwa audit yang dilakukan BPK bersifat peer-review. Artinya BPK tidak akan turun langsung mengaudit WP. BPK hanya akan me-review apakah kinerja dan pemeriksaan yang telah dilakukan petugas pajak sudah sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.
Selain itu perlu ditingkatkan kepercayaan antar lembaga, dalam hal ini DJP dengan BPK. BPK harus meningkatkan kepercayaannya kepada petugas pajak bahwa mereka telah bekerja dengan sebaik mungkin dan telah menghindari bentuk-bentuk korupsi dan kolusi dengan WP. Jadi audit yang dilakukan BPK tidak atas dasar prasangka negatif belaka, namun lebih didasarkan pada upaya perbaikan kinerja aparat pajak dan penciptaan pengelolaan keuangan negara yang akuntabel. Kepercayaan juga perlu dimiliki oleh DJP bahwa BPK tidak akan membocorkan rahasia WP. BPK hanya akan melaporkan hasil pemeriksaannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagaimana diamanatkan UU Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Kalau pun terdapat instansi lain yang menghendaki informasi dari BPK, maka perlu dilakukan koordinasi antara lembaga perwakilan, BPK dan Pemerintah.
Adapun prosedur teknis yang tak kalah penting harus diperhatikan kedua instansi adalah melakukan koordinasi intensif. Koordinasi yang perlu dilakukan adalah koordinasi kelembagaan oleh Ketua BPK dan Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Keuangan. Hal ini menjadi penting agar pelaksanaan tugas teknis oleh auditor BPK maupun aparat pajak tetap berjalan lancar dan sesuai prosedur. Selain itu perlu pula dilakukan koordinasi teknis oleh auditor BPK dengan petugas pajak untuk menghindari perbedaan penafsiran. Koordinasi ini dapat dilakukan melalui diskusi atas temuan BPK sebelum dilaporkan ke lembaga perwakilan. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam interaksi antara petugas pajak dan auditor BPK akan timbul berbagai perbedaan. Oleh karena itu perlu ditekankan bahwa auditor BPK bukan orang yang mencari-cari kesalahan, akan tetapi merupakan pihak independen yang akan menentukan tingkat kesesuaian antara hasil kinerja petugas pajak dengan peraturan yang berlaku. Dan aparat pajak pun bukan orang yang menyembunyikan kesalahan, namun mereka adalah pejuang-pejuang yang berusaha keras untuk memenuhi target penerimaan pajak demi menciptakan anggaran negara yang mandiri. Dengan diskusi ini diharapkan akan tumbuh kepercayaan baik secara kelembagaan maupun antara petugas pajak dan auditor BPK.
Upaya untuk memperoleh kesepahaman sebagaimana dideskripsikan di atas hendaknya terus dijalin oleh DJP dan BPK sambil menanti kepastian dari MK. Karena pada dasarnya kedua lembaga ini dibentuk untuk tidak saling bermusuhan. Dengan kesepahaman ini diharapkan tidak ada lagi perselisihan antar lembaga dan tidak pula ada pandangan kesewenang-wenangan. BPK dapat mengaudit pajak tanpa kesewenangan terhadap petugas pajak dan menjaga amanat petugas pajak untuk tidak membocorkan rahasia WP. Begitu juga DJP tanpa kesewenangan terhadap WP dapat membantu pelaksanaan tugas konstitusional BPK. Kombinasi keduanya ini tentu akan mampu mewujudkan kerjasama pengelolaan keuangan negara yang transparan dan akuntabel demi mencapai Indonesia yang lebih baik.
Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »
Hello world!
Ditulis oleh pembawacerita di/pada April 6, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »







